IMG-LOGO
Nasional
RUU PESANTREN

Tentang RUU Pesantren, Ketum PBNU: Jangan Ada Celah yang Rugikan Pesantren

Jumat 25 Januari 2019 20:45 WIB
Bagikan:
Tentang RUU Pesantren, Ketum PBNU: Jangan Ada Celah yang Rugikan Pesantren
KH Said Aqil Siroj (Ketum PBNU)
Jakarta, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj mengingatkan agar Rancangan Undang-Undang Pesantren dikaji dengan sungguh-sungguh sehingga tidak berdampak negatif pada pesantren.

"Jangan sampai ada celah yang mengakibatkan (negatif atau merugikan) kepada pesantren," kata Kiai Said pada Forum Group Discussion (FGD) tentang Rancangan Undang-Undang Pesantren di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (25/1).

Apalagi, sambung Kiai Said, tokoh-tokoh NU sebelumnya, seperti KH Bisri Syansuri dan KH Abdurrahman Wahid menolak intervensi negara seperti masuknya Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) ke pesantren.

"Artinya (penolakan mereka itu untuk) menjaga kemandirian, orisinilitas pesantren," ucap kiai yang juga Pengasuh Pesantren Luhur Ats-Tsaqafah Jakarta Selatan ini.

Bagi Kiai Said, aktivitas pesantren, seperti dakwah, keilmuan, dan pemberdayaan terhadap masyarakat dapat berjalan walau pun tidak ada dukungan anggaran dari pemerintah.

"Pesantren gak pernah dapat raskin, gak pernah dapat BOS, tapi jalan, berwibawa, eksis, disegani orang," jelasnya.

Ia tidak menafikan tentang adanya manfaat positif untuk pesantren. Namun dirinya mengaku masih khawatir RUU Pesantren justru merugikan lembaga pendidikan pertama di Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu, ia menegaskan agar RUU tersebut dianalisis kembali.

"Monggo, tapi harus dianalisis, sebab (nanti) tanggung jawab," ucapnya.

Hadir pada FGD ini Ketua PBNU Hanief Saha Ghafur, Wasekjen PBNU H Masduki Baidlowi, H Andi Najmi Fuadi, dan Sultonul Huda, Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma'ahid Islamiyah (PP-RMI) PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin, Direktur SAS Institute M Imdadun Rahmat, Ketua LP Ma'arif NU Pusat H Arifin Junaidi, Direktur Pendidikan Diniyah Kemenag Ahmad Zayadi. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Jumat 25 Januari 2019 21:30 WIB
RUU PESANTREN
Jokowi Tak Ingin RUU Pesantren Kurangi Kemandirian Pesantren
Jokowi Tak Ingin RUU Pesantren Kurangi Kemandirian Pesantren
Pembahasan RUU Pesantren di kantor PBNU

Jakarta, NU Online
Presiden Joko Widodo tidak menginginkan Rancangan Undang-Undang Pesantren yang saat ini sedang dalam proses pembahasan berpretensi mengurangi kemandirian pesantren. Pemerintah tidak akan melakukan intervensi terhadap institusi kebudayaan dan pendidikan masyarakat yang asli Indonesia dan sudah ada jauh sebelum era kemerdekaan ini.

“Presiden berharap, apapun isinya RUU ini tidak mengurangi kemandirian pesantren. Ini yang disampaikan kepada kami, juga kepada Pak Muldoko (Kepala Staf Kepresidenan),” kata H Abdul Ghafarrozin, Staf Khusus Presiden, dalam pembahasan RUU Pesantren di kantor PBNU Jakarta, Jum’at (25/1).

Lebih jauh Ghafarrozin yang juga Ketua Rabithah Maahid Islamiyah (RMI) PBNU ini mengatakan, beberapa pimpinan NU terdahulu menolak intervensi negara ke dalam institusi pesantren. Karena itu regulasi yang dibuat terkait keberadaan pesantren tidak perlu memberikan kewenangan kepada negara untuk masuk lebih jauh ke dalam pesantren.

“Pesantren bukan subordinasi negara. Hubungan pesantren dengan negara adalah hubungan partnership (kemitraan). Jadi RUU Pesantren harus menyatakan adanya hubungan mutualisme negara dan pesantren,” tambahnya.

RUU Pesantren justru diharapkan akan menguatkan fungsi pesantren sebagai subsistem pendidikan nasional yang khas, pusat dakwah yang persuasif dan toleran, dan pusat pemberdayaan masyarakat. Negara tidak perlu mengintervensi pesantren, tetapi justru merekognisi dan mendorong pesantren sebagai subyek aktif dalam proses pembangunan.

RUU Pesantren yang merupakan RUU Inisiatif DPR ini sebelumnya bernama RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Dalam prosesnya RUU ini hanya menjadi RUU Pesantren saja, terutama karena keberatan dari elemen non-muslim yang tidak ingin lembaga pendidikan informal mereka disamakan dengan pesantren atau diatur lebih lanjut oleh pemerintah.

Pembahasan RUU Pesantren ini dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ahmad Zayadi, Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif H Arifin Junaidi, dan sejumlah pengurus harian, lembaga dan perwakilan badan otonom NU yang membidangi urusan pendidikan. (A. Khoirul Anam/Muhammad Faizin)

Jumat 25 Januari 2019 20:16 WIB
2000 Polwan Berjilbab Amankan Harlah Muslimat NU di GBK
2000 Polwan Berjilbab Amankan Harlah Muslimat NU di GBK
Ketum Muslimat Hj Khofifah Indar Parawansa
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan pihak keamanan yaitu polisi terkait Harlah Muslimat NU yang akan digelar di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Ahad 27 Januari. Menurut dia, kepolisian sangat mendukung kegiatan yang akan dihadiri lebih dari 100 ribu Muslimat dari berbagai daerah itu.

“Ada 2000 Polwan berjilbab yang akan mengamankan acara ini,” katanya pada konferensi pers di GBK, Jumat (25/1) sore. 

Terpisah, Ketua Muslimat NU Hj Mursyidah Thahir mengatakan, Harlah yang akan dihadiri Presiden Joko Widodo tersebut juga akan mendapat pengamanan dari Satpol PP DKI Jakarta, pendekar Pagar Nusa, serta Banser. 

Pagar Nusa menyatakan siap mengamankan kegiatan ibu-ibu yang datang dari berbagai daerah tersebut.

“Kita sudah terbiasa dalam tugas-tugas menjaga keamananan seperti GBK,” kata Edi Junaedi, salah seorang Pengurus Pusat Pagar Nusa.

Berikut Rangkaian Acara Harlah Muslimat NU ke-73

Acara Iftitah

00.00 - 02.30 WIB
Jamaah tiba di GBK

02.30 - 04.20
Shalat Tahajud, Sholat Hajat, Istighotsah dan Tahlil  (KH Asep Saifuddin Chalim, Ketua Umum PP Pergunu)

04.20 - 04.45
Sholat Shubuh Berjamaah

04.45 - 05.45
1000 Khotmil Quran Rekor Dunia Muri

05.45 - 06.30
Sarapan dan Perform El Kiswah Gambus

06.30 - 06.45
Perform 999 Tarian Sufi Rekor Dunia dari Pondok Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran, Magetan, Jawa Timur featuring Habib Anis Syahab Jakarta dan Majelis Sholawat Baitul Mustofa YPM Sidoarjo (Lagu: Shalawat Gundul Pacul/Sholawat Sunan Kalijogo)

Acara Utama

06.45 - 07.00
Persiapan penyambutan Presiden RI H Joko Widodo

07.00 : 
Presiden RI tiba di GBK disambut Shalawat Tolaal Badru oleh Tompi

07.00 - 07.05
Menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya oleh Paduan Suara PC Muslimat NU Jombang. Dirijen Addie MS

07.05 - 07.10
Pembukaan (MC Hj Nur Cita Qomariah)

07.10 - 07.20
Doa Khotmil Quran 

07.20 - 07.25
Pembacaan Ayat Suci Al-Quran oleh Hj Maryati Maralie, Qariah terbaik MTQ Nasional 2005

07.25 - 07.35
Pembacaan Mahalul Qiyam oleh Habib Anis Syahab dan Majelis Sholawat Baitul Mustofa

07.35 - 07.45
Menyanyikan Lagu Mars Muslimat NU dan Syubbanul Wathon oleh Paduan Suara PC Muslimat NU Jombang

07.45 - 07.55
Laporan Ketua Panitia (Hj Yenny Wahid)

07.55 - 08. 15
Sambutan Ketua Umum PP Muslimat NU (Hj Khofifah Indar Parawansa).

08.15 - 08.30
Persembahan 999 Tarian Sufi dari PP Sabilil Muttaqin Takeran Magetan Jatim bersama Habib Anis Syahab dengan lagu Deen Assalam  dan Assalaamualaik 

08.30 - 08.50
Sambutan sekaligus taushiyah  Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj

08.50 - 09.10
Pengarahan Presiden Republik Indonesia H Joko Widodo.

09.10 - 09.20
Persembahan Lagu Hymne Muslimat NU, Mars Banser dan Tanah Airku (Paduan Suara MNU Jombang)

09.20 - 09.30
Doa oleh Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.

(Abdullah Alawi)

Jumat 25 Januari 2019 18:30 WIB
Terbuka untuk Umum, Harlah Muslimat NU di GBK Bersih Politik
Terbuka untuk Umum, Harlah Muslimat NU di GBK Bersih Politik
Jakarta, NU Online 
Harlah ke-73 Muslimat NU yang akan diselenggarakan di Gelora Bung Karno, Jakarta, bersih dari kepentingan politik, apalagi dukung-mendukung pasangan capres dan cawapres. 

Hal itu dikemukakan Ketua Panitia Harlah Muslimat NU ke-73, Yenny Wahid saat konferensi pers di ruangan pers Gelora Bung Karno, Jumat (25/1), sore.  

“Ini acara ormas keagamaan. Jadi tidak ada unsur politik di dalamnya. Kalaupun ada, politik kebangsaan,” tegas putri Gus Dur ini. 

Artinya, menurut Yenny, Muslimat NU mendoakan agar bangsa Indonesia selamat dari segala macam cobaan. 

“Tidak ada unsur politik praktis di dalamnya,” tegasnya lagi. 

Lebih lanjut ia mengatakan, kegiatan tersebut terbuka untuk semua kalangan. Syaratnya memiliki ketulusan untuk memajukan bangsa. Serta memiliki pandangan selaras dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama'ah.

"Kita dengan tangan terbuka, semua warga masyarakat yang punya ideologi keagamaan punya aqidah keagamaan yang sama dengan kita, ciri yang sama yaitu Ahlussunah wal Jama'ah,” pungkasnya. 

Harlah Muslimat NU Ke-73 akan berlangsung Ahad dini hari dimulai pukul 02.30 sampai dengan selasai. Kegiatan tersebut akan dihadiri sekitar 100 ribu Muslimat NU dari berbagai daerah. (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG