Innalillahi Telah Wafat KH Ali Samman, Santri Dokumentator dari Zaman Old

Innalillahi Telah Wafat KH Ali Samman, Santri Dokumentator dari Zaman Old
null
null
Jakarta, NU Online
Innalillahi wa inna ilaihi rajiun, KH Muhammad Ali Samman telah wafat di RSUD Koja, Jakarta Utara pada 23.30, Jumat (25/1) malam. KH Muhammad Ali Samman merupakan Pimpinan Perguruan Islam Manhalun Nasyi‘in, Karang Anyar, Sawah Besar, Jakarta Pusat. Ia menghembuskan nafas terakhir pada usia 78 tahun.

Kabar ini datang dari Sekretaris RMI NU DKI Jakarta Ustadz Rakhmad Zailani Kiki. Menurutnya, Kiai Ali Samman merupakan penerus sanad keilmuan banyak ulama Betawi di antaranya Muallim KH M. Syafi’i Hadzami dalam ilmu fiqih dan KH Abdul Hanan Said dalam ilmu tajwid.

“Satu hal yang beliau tekankan terus kepada saya adalah menjaga shalat,” kata Ustadz Kiki di Jakarta, Sabtu (26/1) pagi.

Kiai Ali Samman adalah orang yang istiqamah dalam menuntut ilmu. Meski terpaut jarak, ia menyempatkan diri untuk menuntut ilmu pada Ahad pagi jelang siang di kediaman gurunya, Muallim KH M. Syafi’i Hadzami, di bilangan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Aktivitas ini dijalankannya sejak muda hingga gurunya wafat pada awal Mei 2006. Ia adalah seorang muqri, santri (terpercaya) pembaca kitab yang dipelajari di pengajian sebelum sang guru membaca ulang dan menjelaskannya.

Almarhum termasuk santri yang terbilang melek dokumentasi. Ia dengan sadar merekam pembacaan dan penjelasan KHM Syafi’i Hadzami atas dua kitab yang dipelajari di pengajian tersebut. Ia juga pengamal Tarekat Qadiriyah dan Naqsyabandiyah.

Kitab pertama yang dibaca secara tetap setiap pekannya adalah Tafsir Al-Khazin yang menggantikan Tafsir Al-Munir karya Syekh Nawawi Banten yang telah dikhatamkan. Sementara kitab kedua yang dibaca secara bergantian setiap pekannya adalah Nailul Authar, Al-Hikam, Al-Ahkamus Shulthaniyyah, dan Adabud Dunia wad Din.

Ia juga berjasa besar dalam melakukan alih wahana pengajian gurunya (KH M. Syafi’i Hadzami) dalam bentuk rekaman siaran radio menjadi tulisan yang kemudian dikenal masyarakat dengan Buku Taudhihul Adillah, (jilid I terbit pada 1971) yang kemudian terbit menjadi 7 jilid.

Taudhihul Adillah adalah kitab yang memuat 100 pertanyaan berbagai persoalan dari masyarakat dan fatwa keagamaan yang disiarkan di Radio Cenderawasih, Jakarta. Kitab Taudhihul Adillah terus keluar hingga berjumlah 7 jilid.

Kitab Taudhihul Adillah hampir sama dengan Kitab Ahkamul Fuqaha (kumpulan putusan keagamaan yang berisi tanya-jawab dalam forum muktamar, munas, dan konbes NU sejak 1926 M hingga kini) dari segi referensi kitab dan sistematikanya yang menjadi rujukan masyarakat pada umumnya perihal keagamaan.

Semoga Allah menerima segala amal dan ibadah Kiai Ali Samman. (Alhafiz K)
BNI Mobile