IMG-LOGO
Opini

Mengapa Cendekiawan Muslim Tak Pernah Disebut dalam Ilmu Ekonomi Modern?

Sabtu 26 Januari 2019 20:0 WIB
Bagikan:
Mengapa Cendekiawan Muslim Tak Pernah Disebut dalam Ilmu Ekonomi Modern?
Ilustrasi (via thomereview.com)
Oleh Muhammad Syamsudin

Charles Darwin merupakan penemu dan pengasas teori evolusi dan tampil dengan karya besarnya “The Origin of Species”. Teori ini dibangun pada Abad XIX, tepatnya pada tahun 1859 M. John Baptis Lamarck menggagas “teori seleksi alam” sebagai alternatif lain dari menjelaskan fakta evolusi. Kesamaan dari muara kedua teori ini terletak pada kemampuan makhluk hidup dalam melakukan adaptasi terhadap pengaruh alam sehingga ia bisa lestari atau tidak. Yang sulit diterima adalah bahwa dari kedua teori ini tidak mampu menjelaskan terjadinya missing link (“lompatan” kesinambungan galur) yang mengakibatkan terjadinya perubahan genetik sehingga berakibat pada perubahan penampilan makhluk hidup. 

Missing link ini dibiarkan begitu saja oleh Darwin dan Lamarck berdiri tanpa penjelasan sehingga kemudian berakibat pada kesalahan-kesalahan pemahaman mengenai kedua konsep evolusi itu oleh para pembacanya di kemudian hari. Pemahaman yang salah merupakan bentuk lain dari penyimpangan dari asal-usul teori yang rupanya hanya mampu dijelaskan oleh George Mendel dengan teori hereditas dan genetikanya. Sementara di dunia lain, muncul statemen baru yang benar-benar tidak berpangkal pada sajian teori evolusi. Mereka mengatakan bahwa manusia berasal dari primata yang berubah bentuk. Padahal ini sama sekali tidak dijelaskan dalam buku karya Robert Charles Darwin yang merupakan pengasas teori evolusi itu sendiri. 

Missing link antara bangunan teori ilmu ekonomi Muslim yang diadopsi Barat sejak generasi St Thomas Aquinas dan Adam Smith serta tidak dijelaskan itu, tampaknya juga berpola sama dengan teori evolusi Darwin. Statemen Schumpeterian yang berjudul “The Great Gap” yang mendakwa bahwa peletak dasar ekonomi modern adalah pada Aquinas dan Adam Smith, membawa imbas besar pada banyak aspek kesalahan dalam memahami teori ekonomi Muslim dan Barat. Penyimpangan awal terjadi dengan ditandai munculnya anggapan bahwa kiblat ekonomi modern adalah Barat. Muslim merupakan individu yang lahir dan mendominasi negara dunia ketiga dengan tatanan ekonomi yang terkerdilkan dan tersubordinasikan karena teori ekonomi cendekiawan mereka dianggap sebagai teori klasik dan tak layak pakai. Padahal, fondasi dasar ekonomi itu justru ada pada Muslim, dan bukan pada Barat. (Schumpeter, J. Aloys, History of Economic Analysis, New York: Oxford University Press, 1954: 187)

Cita rasa yang menggambarkan dominasi ekonomi modern Barat seolah tampak terus-menerus dipupuk dan diiklankan sebagai bagian keunggulan peradaban dan dibilang modern. Jika kita cermati dengan baik, sebenarnya justru bangunan ekonomi mereka teralienasi dari nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban. Munculnya kolonialisme, dan maraknya monopoli dagang, serta gencarnya perang dagang dewasa ini merupakan bagian dari bukti penyimpangan itu, yaitu sebagai akibat pemisahan teori ekonomi dari akar nilai-nilai yang menjadi ruh dasarnya. 

Gelombang sekularisasi ilmu ekonomi oleh Barat, yang asalnya adalah dengan orientasi memisahkan sains dari doktrin gereja, dipukulratakan ke Islam juga melalui gelombang sekulerisasi ilmu ekonomi dari nilai-nilai dan ajaran Islam. Mereka tidak melihat bahwa ilmu ekonomi mereka asalnya diadopsi dari Islam. Memukul rata Islam dalam gelombang sekulerisasi, adalah ibarat mencabut ilmu ekonomi itu sendiri dari basis awal pemikirannya. Mungkin, itu semua adalah imbas dari adanya Perang Salib di abad pertengahan kala itu sehingga berujung pada penghilangan jejak-jejak Islam dari teori mereka, termasuk tidak dicatutnya tokoh cendekiawan Muslim yang menjadi rujukannya. (Karl Pribram, A History of Economic Reasoning, Baltimore and Lord: John Hopkins University Press, 1983: 3-4)

Baca juga:
Persinggungan Islam, Renaisance, dan Sekularisasi Dunia Barat
Merkantilisme: Fakta Perbedaan Barat dan Muslim Memandang Pasar
Upaya mencari titik temu dan menyambung jalur terputus bangunan ekonomi saat ini tidaklah semata hanya berpangkal agar Islam diakui atau semata hanya mencari relasi filsafat Yunani dalam mempengaruhi keilmuan di dunia Islam saja. Untuk alasan pencarian relasi filsafat Yunani dengan keilmuan dunia Islam ini pada dasarnya hanyalah sebuah pengalihan isu semata disebabkan sarjana-sarjana Barat terpaksa harus mengakui kontribusi Islam terhadap peradaban mereka. Penerjemahan besar-besaran karya Yunani pada Abad Pertengahan yang disambung pengakuan penemuan teori ekonomi yang baru oleh sarjanawan skolastik, membuktikan bahwa persinggungan antara Muslim dan Barat saat itu adalah lewat karya-karya besar para sarjana Muslim yang telah terlebih dahulu mapan dengan fondasi keilmuan ekonomi yang mereka miliki. Jadi, apabila dipetakan, maka persinggungan itu sebenarnya memuat tiga elemen dasar, yaitu “filsafat Yunani”, “pemikiran Muslim” dan “sarjana skolastik.” Perubahan orientasi ilmu ekonomi selanjutnya berubah di tangan sarjana skolastik. (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 82-83)

Dengan begitu, apakah itu berarti bahwa teori ekonomi Muslim saat itu asalnya dari filsafat Yunani? Mari kita cermati! Di akhir periode risâlah Rasûlillah shallallahu ‘alaihi wasallam, pada peristiwa Haji Wada’, beliau berwasiat kepada para sahabat sekaligus umatnya agar senantiasa berpegang teguh pada Kitâbullâh dan Sunnah Rasul-Nya. Wasiat ini dipegang teguh oleh para sahabat dan para tabi’in yang hidup setelahnya. Isi wasiat ini berlaku umum, yakni tidak hanya dalam urusan ibadah, melainkan juga dalam urusan muâmalah berupa aktivitas sosial dan ekonomi. 

Sepeninggal Rasulullah SAW (w. 632 H), beliau telah meninggalkan sebuah tatanan ekonomi yang mapan berbasis pasar. Tatanan ini bertahan terus sejak mangkatnya beliau, hingga akhir periode Daulah Dinasti Banî Umayyah (718 M). Selama periode ini, pemikiran ekonomi sudah mulai berkembang dengan tetap mengacu pada nash (konsep dasar Islam). Pada masa Rasulullah, format pasar masih dalam bentuk sederhana. Pada masa Dinasti Umayyah, konsep pasar sudah mulai menjadi topik perhatian pemerintah. Saudara pembaca bisa membaca kembali bagaimana Abû Yûsuf menyusun sebuah kitab yang diberi judul al-KharrajKitab ini merupakan kitab dasar keuangan publik dan pengaturan kas perbendaharaan negara. 

Pada periode sebelum dan masa Abu Yusuf, muncul ulama-ulama mazhab dan aliran kalam. Para ulama aliran kalam inilah yang berperan besar dalam mengadopsi logika Yunani ke dalam Islam. Konsepsi logika itu tidak menghapus ajaran (nasakh) Islam, melainkan mempengaruhi cara berpikir dalam menggali hukum lewat nash dan perbedaan pendapat sehingga ditemukan sintesa hukum. Prinsip penggunaan logika berfikir Yunani sehingga berujung pada dihasilkannya sintesa hukum, lalu melembaga menjadi susunan bangunan ilmu tentang tata cara menolak dan menggali hukum inilah peran dari filsafat Yunani. Hasil pengadopsian itu kemudian muncul menjadi disiplin ilmu yang mewarnai keilmuan Islam, seperti lahirnya ilmu kalam, manthiq, balaghah, musthalâhu al-hadits, ushul fiqih, metode takhrij (kritik sanad), dan lain sebagainya. Sumber hukum yang dipegang oleh para ulama adalah tetap nash al-Qurân dan al-Sunnah. Akan tetapi metode ijtihadnya, memakai disiplin ilmu yang dihasilkan dari percaturan logika Yunani. Inilah poin krusialnya. (Ghazanfar, Scholastic Economics and Arab Scholars: The Great Gap Thesis Reconsidered, dalam Ghazanfar, S.M. Medieval Islamic Economic Thought: Filling The Great Gap in Europeann Economics, New York: RoutledgeCurzon, 2003: 76)

Sampai di sini, maka khazanah keilmuan dalam Islam adalah berdiri sendiri sebagai yang genuine berasal dari sumber Islam itu sendiri, karena filsafat Yunani tidak memiliki konsep ekonomi. Jika ilmu itu sudah menjadi fakultas tersendiri, lalu kemudian baru terjadi persinggungan antara Barat dengan Islam, lalu keluar statemen dari Schumpeterian bahwa Aquinas dan Adam Smith adalah babak baru pendiri teori ekonomi modern, maka sudah pasti tesis yang disampaikan Schumpeterian ini harus ditolak. Pendapat Schumpeterian adalah sudah pasti merupakan bagian dari upaya membentuk apa yang dinamakan missing link tersebut dan dapat berakibat pada penyimpangan yang besar-besaran dunia Barat terhadap hasil yang dicapai lewat ilmu ekonomi. 

Pernahkah Anda mendengar istilah “Perang dan Ekonomi adalah ibarat dua keping mata uang yang tak terpisah”. Perang dapat menciptakan pasar. Negara yang hancur akan berlomba memperbaiki negaranya yang sudah pasti harus memakai jasa mereka yang menjadi produsen perang. Jadi, apabila hal ini sekarang terjadi di Timur Tengah, maka apa kira-kira motif besar dari perang tersebut? Apa kira-kira motif besar Amerika Serikat dan sekutunya getol melancarkan peperangan terhadap Timur Tengah? Benarkah semata dengan alasan memerangi terorisme? Jawabnya adalah: sudah pasti, dengan perang mereka mencari keuntungan pasar. Berupa apa?


Penulis adalah Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean, Jatim dan Peneliti Bidang Ekonomi Syariah-Aswaja NU Center PWNU Jatim
Tags:
Bagikan:
Jumat 25 Januari 2019 8:45 WIB
Hoaks dan Kesehatan Mental Politisi
Hoaks dan Kesehatan Mental Politisi
Oleh Ahmad Kholas Syihab

Politik pada hakekatnya adalah siasat atau arena perebutan kekuasaan untuk membangun bangsa yang berperadaban tinggi, bukan hanya sekedar siasat dan perebutan pacar yang bisa dilakukan sembarangan. Politik juga bukan seperti ajang pencarian bakat yang muncul sesaat dalam sebuah lomba atau pertandingan. Menang menjadi juara, terkenal lalu hilang ditelan ganasnya zaman.

Fenomena perpolitikan kita, tampak tidak bernilai kebangsaan, karena kita sudah terlanjur enjoy menikmati lelucon dalam perlombaan tersebut. Peserta lomba politik, dengan membawa supporter bayaran dengan gaya jagoan, mereka bersorak, mengejek lawan politik dengan ujaran kebencian dan tidak segan-segan menyebarkan hoaks.

Bahkan dengan dalih menghalalkan segala cara, rela menggadaikan agama sebagai bahan untuk mempecundangi lawannya agar jatuh tersungkur. Hal yang semestinya haram bisa dihalalkan, demi kemenangan. Inilah yang terjadi dalam perpolitikan kebangsaan kita. Padahal, politik itu sejatinya suci dan sakral, untuk membangun kenegaraan yang bermartabat.

Menurut Aristoteles manusia adalah makhluk politik (zoon politicon) artinya makhluk berpolitik untuk mencapai kesempurnaan dalam masyarakat atau negara. Politik dalam arti yang sebenarnya adalah seni untuk menguasai dan memaksa siapapun untuk mengikuti. Harusnya, proses ini dinikmati sebagai sebuah kompetisi yang mendewasakan diri dan mengandung edukasi, bukan malah sebagai ajang adu gengsi dengan janji-janji bahkan provokasi.

Politisi dan Hoaks

Gelanggang politik semestinya adalah adu aspirasi, yang muncul sebagai bentuk implementasi dari ideologi dalam kehidupan berdemokrasi. Kecenderungan ke arah itu, telah hilang dari kancah permainan politik di negeri Indonesia ini. Yang kita temukan hanya perebutan kursi tanpa mengindahkan komepetensi diri dan tanpa mempedulikan konstitusi yang hakiki tentang keindonesiaan.

Menurut KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), partai politik (parpol) di Indonesia sendiri, ungkapnya, juga jarang yang memiliki politisi yang bermartabat dan berkeindonesiaan. Gus Mus menyebut politisi-politisi yang duduk di legislatif jarang ada yang benar-benar berpikir tentang Indonesia. Mereka hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya masing-masing (Harian Suara Merdeka, 21/11/2018)

Daam pencalonan legislatif atau  pemain-pemain politik yang tidak mempunyai kompetensi kenegaraan ikut berlaga, untuk memperoleh pendukung mereka rela menebar informasi melalui berbagai aplikasi yang dikemas berita-berita bohong (hoaks) lewat media sosial (medsos), melalui Facebook, WhatsApp, Instagram, Twitter, dan sejenisnya. 

Celakanya, orang-orang yang menjadi pendudkung atau pihak yang menerima informasi itu menyebarkan lagi tanpa mengecek kebenaran yang pasti, padahal informasi itu hoaks. Orang-orang (pendukung politisi) yang terlibat penyebaran hoaks, terbagi dalam dua tipe.

Pertama, bangga sebagai orang pertama yang ikut menyebarkan informasi baru. Kedua, merasakan informasi yang dia terima sesuai dengan isi hatinya, atau harapannnya. Orang-orang yang terlibat penyebaran hoaks tersebut bisa membahayakan kehidupan. Dalam bahasa psikologi orang tersebut termasuk bisa dikategorikan mengidap sakit jiwa.

Sakit jiwa yang dimaksud adalah mengidap penyakit mythomania dimana seseorang akan mempercayai kebohongan yang dibuatnya seolah nyata dan tidak sadar bahwa sebenarnya seseorang tersebut telah berbohong dan menceritakan khayalannya yang ada dalam kepalanya.

Mythomania bisa dijabarkan sebagai kondisi dimana seseorang ingin sekali mendapatkan perhatian besar dari orang lain, namun, karena keinginan yang sangat kuat ini, anda pun rela untuk menceritakan sebuah cerita bohong agar dipercaya dan diperhatikan oleh orang lain. Umumnya orang yang mengalami mythomania cenderung kehidupannya didominasi oleh banyak faktor kegagalan. Misalnya kegagalan dalam berkeluarga. Juga kegagalan dalam berteman, percintaan dan pendidikan. 

Persoalan pekerjaan juga bisa memicu seseorang mencoba mengelak dari berbagai masalah ini, sehingga menjadi pembohong sebagai bentuk pelarian diri dari apa yang ia alami selama ini. Dengan membuat orang lain percaya dengan kebohongannya, Ia merasa lebih mudah untuk lari dari semua masalah.

Mengobati penderita mythomania tentu harus menyadari diri-sendiri bahwa kebohongan-kebohongan yang dilakukan adalah sesuatu yang buruk karena justru bisa membuat masalah yang lebih besar ke depannya, misalnya terjerat masalah hukum. Untuk itu, harus disadari bahwa kebohongan yang dilakukan itu adalah sebuah penyakit jiwa.

Seperti kita ketahui atau bahkan mengalami sendiri, pengguna medsos cenderung berinteraksi dengan orang yang memiliki ketertarikan yang sama dengan diri sendiri. Dikaji dari studi kelas sosial, gelembung medsos tersebut mencerminkan gelembung offline sehari-hari.

Kelompok masyarakat seperti yang disebutkan Simeon Yates tersebut kembali ke model lama, juga bertumpu pada opini pemimpin mereka yang memiliki pengaruh di jejaring sosial. Kabar bohong yang beredar di medsos, menjadi besar ketika diambil oleh situs atau pihak terkemuka yang memiliki banyak pengikut.

Kecepatan dan sifat medsos yang mudah dibagikan (shareability), berperan dalam penyebaran berita. Sebagaimana ditekankan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, menjadi sulit membedakan mana yang palsu dari fakta, dan sudah banyak bukti serta butuh perjuangan untuk menghadapi ini.

Saat ini informasi hoaks dijadikan alat untuk menyerang lawan politik, dengan tujuan untuk mencapai kekuasaan. Hal itu tentu saja menjadi tidak sehat, karena ingin mencapai kekuasaan dengan berbohong.

  
Penulis adalah Wakil Sekretaris PC GP Ansor Kabupaten Jepara dan Mahasiswa Magister Psikologi Profesi UII Yogyakarta
Kamis 24 Januari 2019 21:30 WIB
Merkantilisme: Fakta Perbedaan Barat dan Muslim Memandang Pasar
Merkantilisme: Fakta Perbedaan Barat dan Muslim Memandang Pasar
Ilustrasi (via fee.org)
Oleh Muhammad Syamsudin

Sarjana skolastik terdiri atas sarjana yang mengabdi pada gereja. Tugasnya mengadopsi semua pemikiran cendekiawan Muslim saat lalu menterjemahkannya menurut perspektif rohaniawan gereja dan dipergunakan untuk mempertahankan eksistensi gereja akibat gelombang sekulerisasi di dunia Barat yang mulai meninggalkan gereja dan ajaran ruhaninya. Kemunculan sarjana skolastik ini bukannya tanpa alasan, melainkan karena faktor hegemoni gereja yang berlaku ke semua relung termasuk wilayah sains yang dalam beberapa hal fatwa ruhaniawan gereja saat itu banyak bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Coba memori kita kembali diputar pada apa yang pernah dialami oleh Copernicus dan Galileo pra gelombang renaissance! Itulah bagian dari latar belakang munculnya sarjana skolastik dan gelombang sekularisasi.

Sudah bukan rahasia lagi betapa besar kontribusi cendekiawan Muslim pengaruhnya terhadap alam pemikiran ekonomi sarjana skolastik Barat. Hal ini sekaligus menunjukkan titik terang dominasi Islam terhadap perkembangan pemikiran ekonomi di awal Abad Pertengahan (middle age). Besarnya dominasi Islam dalam ilmu pengetahuan khususnya ekonomi secara tidak langsung telah menisbahkan bahwa negeri Muslim adalah sebuah negeri dengan kekuatan super power di Abad Pertengahan sehingga banyak memberi warna pada ornamen kebudayaan dan peradaban. 

Menyandang status super power bukan berarti tidak memiliki tantangan. Justru karena gelar ini maka timbul reaksi bagi pihak yang merasa berseteru (Barat) untuk menunjukkan perilaku kontra produktif. Mungkin, gambarannya adalah hampir sama dengan kondisi abad kini, di mana Cina merupakan kekuatan baru super power. Kekuatan ini mau tidak mau mengundang reaksi seteru bagi negara yang merasa terancam oleh pengaruhnya. Ya siapa lagi kalau bukan negara yang sudah mendaku diri sebagai kekuatan adidaya dengan ditopang kekuatan super power angkatan bersenjatanya. Kira-kira seperti itulah reaksi yang ditunjukkan terhadap dunia Muslim di abad pertengahan. 

Dalam rangka merespons terhadap kemajuan bidang ekonomi negeri Muslim, Barat memberi respons dengan memunculkan paradigma baru dalam memandang pasar. Di kalangan Muslim, pasar dan perdagangan keduanya memiliki basis pemikiran bahwa antara kedua pihak yang bertransaksi harus saling menerima keuntungan. Pembeli dan penjual harus sama-sama mendapat manfaat, dan bahkan konsep kemanfaatan ini menjadi bagian dari syarat sahnya perdagangan. 

Coba Anda buka kembali definisi jual beli pada kitab fiqih Anda! Anda buka bab yang menjelaskan syarat sah jual beli! Syarat sahnya perdagangan (transaksi) adalah barang yang dijual harus suci, bermanfaat, diketahui kadar, jenis dan ukurannya dan transaksi harus dibangun saling ridha antara kedua pelakunya. Fondasi dasar ini rupa-rupanya tidak ditemui pada konsep pemikiran ekonomi Barat, meskipun ilmu ekonomi yang diadopsi adalah berasal dari cendekiawan Muslim. Mengapa konsepnya bisa berubah setelah jatuh ke tangan sarjana skolastik? Ada beberapa hipotesis terkait hal ini. 

Pertama, sejak awal para sarjana skolastik sudah memiliki orientasi bahwa mereka harus mempertahankan dominasi gereja dan berusaha mereduksi pengaruh peradaban pendatang yang dibawa oleh para sarjana Muslim. Kedua, sebagai langkah yang dirasa tepat oleh mereka guna mereduksi pengaruh tersebut maka harus menempuh jalan merekonstruksi bahasa simbol ilmu pengetahuan itu sendiri. Misalnya, jika jual beli dalam dunia Muslim didefinisikan sebagai “akad pertukaran barang antara dua pelaku transaksi sehingga terjadi perpindahan kepemilikan,” maka jual beli di tangan sarjana skolastik diredifinisikan sebagai “perang dagang.” (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 82)

Mari kita flashback pada catatan sejarah bangsa kita khususnya dan Nusantara pada umumnya! Ketika pedagang Barat datang ke bumi Nusantara pada abad ke-14 pascaekspedisi Vasco Da Gama, mereka membawa misi Gold, Gospel and Glory yang kemudian diterjemahkan oleh ahli sejarah kita sebagai misi Kejayaan, Kemakmuran dan Misi Suci. Praktik dari misi mereka ini adalah dalam langkah untuk kejayaan; mereka harus berani dan bisa menguasai sumber daya (imperialisme dan kolonialisme). Sumber daya yang terpenting bagi mereka adalah “bahan baku yang murah”, “jalur perdagangan yang singkat dan vital” serta “angkatan bersenjata”. Mungkin saudara pembaca akan bertanya, apa hubungannya dengan “angkatan bersenjata”? 

Bagaimanapun juga, untuk menguasai sumber daya serta mengamankan jalur perdagangan agar tidak dimasuki oleh pihak lain, maka mereka harus memiliki angkatan bersenjata yang bersedia menjaganya. Pihak lain yang masuk ke jalur perdagangan yang dikuasai harus membayar pajak kapal dan barang. Dengan pajak, mereka mendapat pemasukan keuangan bagi negara. Jadi, jelas bukan hubungan ketiga elemen “bahan baku”, “jalur perdagangan” dan “angkatan bersenjata tersebut” di atas? Itulah perdagangan menurut definisi mereka setelah awalnya mendapatkan definisi yang beradab dari Islam. Sudah pasti, konsep agama mereka sebenarnya juga tidak menerima akan hal ini. Namun, seiring gelombang sekulerisme yang juga besar, para pedagang Barat ini menempatkan ajaran ruhani pada posisi sinegok dan gereja saja sehingga tidak mengatur relung peradaban manusia yang dibangun. (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 83)

Sekali sebagai catatan utama kita, adalah bahwa definisi “perdagangan” telah mengalami dekonstruksi di tangan sarjana skolastik. Definisi perdagangan berubah dari transaksi saling-menguntungkan dan terhindar dari penipuan berubah menjadi “upaya untuk menguasai suatu sumber daya dan konsumen.” Di tangan sarjana skolastik ini, “perdagangan” bukan semata kegiatan mencari keuntungan, melainkan juga bagian dari strategi penguasaan melalui usaha “perang dagang”. Mazhab ekonomi sarjana yang memiliki paham ini dalam teori ekonomi kontemporer konvensional dikenal dengan istilah mazhab “merkantilis”. Terjadinya dimulai abad ke-14. Silakan membandingkannya dengan ekspedisi Vasco Da Gama yang datang ke Indonesia pada tahun 1425 M. Apa kira-kira relevansinya ekspedisi tersebut dan kaitannya dengan perang dagang? Agar hal ini tidak hanya sekedar sebagai asumsi, maka perlu kiranya dihadirkan bukti ilmiah. Mari kita tengok dan sajikan data sejarah bangsa kita!

Awal Abad ke-15, datang ekspedisi Portugis ke Nusantara. Mereka datang dengan misi dagang namun membawa tentara perang untuk menaklukkan daerah yang dipandang potensial menanamkan pengaruh mereka. Mereka datang dan menguasai Goa (Makassar) yang diawali dengan perseteruan dengan Sultan Hasanudin. Di Malaka, pada tahun yang sama mereka menaklukkan Kerajaan Samudera Pasai dan mendapat perlawanan dari Sultan Malik al-Saleh. Baik Goa dan Malaka, keduanya berhasil dikuasai oleh Portugis di bawah pimpinan Gubernur Portugis saat itu, yaitu Alfonso de Abuquerque pada tahun 1511 M. Yang memantik pemikiran kita, adalah mengapa mereka harus bersusah payah menguasai Goa dan Selat Malaka? Ternyata ada kronologi sejarahnya yang ada kaitannya dengan jalur perdagangan.

Sebagaimana diketahui bahwa Selat Makassar dan Selat Malaka, keduanya sudah lama menjadi jalur perdagangan yang ramai sejak Abad Pertengahan. Kedua jalur ini banyak dikuasai dan menjadi jalur dagang yang utama bagi Dinasti Mamluk yang berkedudukan di Mesir. Para saudagar dari dinasti ini, umumnya mendapatkan bahan baku rempah-rempah dan sutera adalah dari Nusantara. Rempah-rempah biasanya lantas di jual ke Venice. Sebagian lagi di bawa ke Mekah dan Kairo. Menguasai Selat Malaka dan Selat Makassar oleh Portugis, dianggap dapat memutus jalur singkat perdagangan pedagang Muslim sehingga memaksanya harus melewati Samudera Hindia yang ganas dan ombaknya yang besar serta perjalanan yang menjadi dua kali lipat jauhnya sehingga dapat berakibat meningkatnya biaya produksi dan sekaligus tujuan melemahkan kekuatan tentara Muslim saat perang salib diakibatkan pasokan sumber daya mereka menjadi berkurang. Jadi, wajarlah kemudian, apabila tentara Muslim pada abad ke-14 saat itu menderita banyak kekalahan dalam peperangan m
ereka, bahkan diusir dari Spanyol. (Islahi, Contributions of Muslim Scholars to Economic Thought and Analysis (11 - 905 After Hijriah /632-1500 A.D), Jeddah: Islamic Economic Research Centre King Abdul Aziz University, 2004: 83)

Kasus pendangkalan Selat Malaka membawa imbas pada ramainya para pedagang melewati Selat Banten. Belanda di bawah pimpinan ekspedisi Cornelis de Hotman memandang posisi jalur strategis itu sehingga kemudian datang kembali ke Nusantara dengan membawa angkatan perang yang besar untuk menguasai Jayakarta / Batavia (sekarang Jakarta) lewat VOC (Verenidging Ost Compagnie), yang oleh para pejuang kemudian disingkat menjadi Kompeni. VOC awalnya berdiri dengan misi dagang dan sebagai kantor dagang. Lama-lama mereka berusaha menanamkan pengaruhnya dan berusaha menguasai Selat Banten yang kemudian mendapat perlawanan keras dari Sultan Agung Hanyakrakusuma dari Mataram sehingga timbul Perang Batavia dengan akhir kekalahan yang memaksa Sultan Agung harus mengakui dominasi Belanda di Batavia. 

Paham merkantilis dengan topik besar “perang dagang”-nya adalah bukti upaya Barat menanamkan pengaruhnya sebagai akibat perlawanan terhadap pengaruh budaya Arab-Islam. Ujung awalnya adalah berada di tangan sarjana skolastik yang berusaha mendefinisikan ilmu pengetahuan yang awalnya bercita rasa Muslim (dengan basis saling menguntungkan) menjadi bercita rasa perang, meski berkamuflase sebagai perang dagang. Wallâhu a’lam bish shawab.


Penulis adalah Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean, JATIM dan Peneliti Bidang Ekonomi Syariah-Aswaja NU Center PWNU Jatim. 

Kamis 24 Januari 2019 13:31 WIB
Menampar Hoaks dengan Hizib Nashar
Menampar Hoaks dengan Hizib Nashar
Oleh Vevi Alfi Maghfiroh

“Tantangan bangsa Indonesia saat ini adalah persatuan, dan menjadi tugas kita bersama untuk berperang melawan hoaks dan ujaran kebencian”. Begitulah kalimat-kalimat anjuran yang selalu digemakan untuk memberantas hoaks dan anjuran kebencian. Secara tidak langsung inilah tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini, terutama pada tahun politik dengan berbagai kepentingan.

Namun hoaks yang merajalela ini seharusnya tidak ditanggapi dengan hoaks lagi untuk saling menjatuhkan. Hal ini karena orang yang telah menyebar hoaks berarti mereka telah melakukan penghianatan kepada bangsa dan negara.

Mereka mengajari bangsa untuk berakhlak buruk. Oleh karena itu hoaks tidak boleh dibalas dengan hoaks lagi. Dengan demikian kita tidak ikut serta mempertontonkan akhlak buruk kepada bangsa dan negara. Lantas bagaimana memberantasnya?

Dalam beberapa forum, KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh pondok pesantren Amanatul Ummah sekaligus ketua umum Pergunu mengatakan bahwa hoaks cukup diklarifikasi dan dibacakan hizib nashar.

Salah satu hizib yang mengandung karomah tingkat tinggi dan paling hebat energi spiritualnya. Hizib ini ditulis oleh Syekh Abu Hassan as-Syadzily sekitar 800 tahun yang lalu, yang ditulis pada saat ia terjun dalam peperangan melawan tentara salib. 

Kehebatan hizib nashar ini sudah banyak diketahui di kalangan masyarakat, khususnya kalangan pondok pesantren. Beberapa manfaat kehebatannya antara lain menangkal sihir, mengobati segala macam penyakit medis dan nonmedis, memberikan kewibawaan pada diri si pembaca, menghilangkan rasa takut, meningkatkan kepercayaan diri, memberikan pagar pelindung pada diri dan kediaman si pembaca, dan mengabulkan hajat yang belum terlaksana.

Pembacaan hizib nashar juga mampu menampar hoax dengan sendirinya akan berbalik pada pelakunya. Oleh karena itu Kiai Asep selalu mengijazahkan kepada seluruh hadirin dan jama’ah untuk mengamalkannya. Adapun syair yang tak lupa beliau bacakan dalam setiap forum berbunyi, “Biarkanlah dia, yang menyakitimu, janganlah kau balas kekejian itu, karena segera ia akan terbalaskan, dengan sendirinya berlaku pembalasan.” 

Adapun mahar yang harus dilaksanakan sebelum mengamalkan hizib ini adalah puasa satu minggu yang dimulai pada hari selasa dan berakhir pada hari senin. Pada saat berpuasa tersebut dianjurkan untuk membaca sebanyak-banyaknya hizib tersebut dengan diawali tawasul (pengiriman al-Fatihah) kepada Syekh Abu Hasan as-Syadzily.

Dengan pembacaan hizib yang dilakukan oleh masyarakat, terutama Nahdliyin (warga NU) dimaksudkan agar yang menyebarkan hoaks akan segera menghentikannya. Dan jika  tetap melakukannya, maka ia akan tertampar dengan hoaksnya sendiri.

Hal ini bertujuan untuk membersihkan, melindungi, dan menjaga Indonesia. Jangan biarkan orang berani melakukan dan menyebarkan hoaks, karena ia akan tertampar dengan hoaksnya sendiri. Sehingga persatuan, kesatuan, dan cita-cita Indonesia menjadi negara yang damai tercapai.


Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, saat ini sedang menempuh Program Pascasarjana di IAIN Syekh Nurjati Cirebon jurusan Hukum Keluarga Islam.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG