IMG-LOGO
Pustaka

Pemikiran Abu Yusuf soal Ekonomi Negara dalam Kitab Al-Kharaj

Sabtu 26 Januari 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Pemikiran Abu Yusuf soal Ekonomi Negara dalam Kitab Al-Kharaj
Nama lengkapnya adalah Abû Yûsuf Ya’qûb ibn Ibrâhîm ibn Habîb ibn Khunais ibn Sa’ad al-Anshârî al-Jalbi al-Kûfî al-Baghdâdî. Beliau lahir di Kûfah, sebuah kota di Irak pada tahun 731 M (113 H) dan wafat pada tahun 798 M (182 H) dalam usia 63 tahun. Nisbah al-Anshâri diperoleh karena ibunya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kaum Anshâr, Madînah. Bapaknya sendiri berasal dari kabilah Bujailah. 

Abû Yûsuf al-Kûfi (w. 182 H) berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh kembang di Kûfah, yang pada masanya merupakan pusat peradaban Islam sehingga banyak cendekiawan Muslim yang berkumpul di sana, salah satunya adalah Imam Abû Hanîfah (w. 148 H) dan Abû Yûsuf (w. 182 H) sendiri tercatat sebagai salah satu santrinya. Ditilik dari tahun kelahiran, Abû Yûsuf hidup di masa peralihan kekuasaan dari Daulah Bani Umayyah ke Daulah Bani Abbasiyah. Sekilas gambaran suasana Kûfah di masa Abû Yûsuf, di era Bani Umayyah, Kûfah merupakan tempat yang sering dipergunakan untuk debat oleh para intelektual Muslim melawan intelektual yang berasal dari Yunâni dan Româwi. Sampai di sini maka bisa dibayangkan, bahwa Kûfah memang sudah berkembang tradisi intelektual dan tradisi pemikiran Muslim kala itu. 

Perjalanan rihlah ilmiah yang pernah dilakukannya antara lain adalah ia berguru kepada Imam Abû Hanîfah selama kurang lebih 17 tahun. Guru beliau yang lain adalah Abu Muhammad ‘Athâ Ibn al-Saib Al-Kûfi, Sulaimân bin Mahram Al-A’mâsy, Hisyâm Ibn Urwah, Muhammad Ibn Abd al-Rahmân Ibn Abî Lailâ, Muhammad Ibn Ishâq Ibn Yassâr Ibn Jabbâr, dan Al-Hajjâj bin Arthâh. Abû Yusuf juga dicatat pernah berguru kepada Imam Mâlik bin Anas (w. 179 H). 

Beberapa karya Abû Yûsuf yang terkenal antara lain antara lain adalah kitab al-Atsâr. Kitab ini syarat dengan paradigma fiqih mazhab Hanâfi, termasuk pemikiran dari Abû Yûsuf sendiri. Kitab ini sekaligus menunjukkan supremasi beliau sebagai seorang yang pantas menyandang qâdli al-qudlât (hakim agung) pada masa Daulah Abbasiyah. Karya lainnya adalah Ikhtilâf Abî Hanîfah wa Ibn Lailâ yang berisikan kitab muqâran (perbandingan pendapat) antara Abû Hanîfah dan Abû Lailâ, yang keduanya sama-sama merupakan guru dari Abû Yûsuf. Kitab Al-Radd ‘ala Siyâr al-Auza’î, berisikan sebuah narasi yang berisi bantahan atas pendapat al-Auzâ’i yang saat itu, al-Auzâ’i adalah seorang qâdlî di Syam (Siria). Adab al-Qadlî berisikan narasi tata krama seorang qâdli, menyerupai kitab adab berfatwanya Imam al-Nawâwi dari kalangan Syafî’iyah.

Sementara itu kitab al-Kharrâj menjelaskan tentang hukum perpajakan dan cukai dan ditulis atas permintaan langsung dari Khalîfah Harûn al-Râsyîd, sebagai kitab pedoman dalam menghimpun pemasukan dan pendapatan negara yang berasal dari kharrâj, ‘usyr dan jizyah. Kitab ini sekaligus merupakan kitab panduan tata kelola keuangan negara yang pertama sebelum Yahya Ibn Adam Al-Qurasyi (w. 203 H) menulis kitab dengan judul yang sama. Kitab al-Jawâmi’ merupakan kitab yang berisi perdebatan tentang kedudukan ra’yu dan rasio (‘aql) dalam penggalian hukum Islam. Asal-asalnya kitab ini merupakan surat yang ditulis dan ditujukan langsung kepada Yahya ibn Khâlid al-Barmâki, Perdana Menteri dari Khalifah Harun al-Râsyîd. 

Karena Abû Yûsuf terkenal sebagai ahli tata kelola keuangan negara, maka dalam kesempatan ini, pembahasan kita spesifikkan ke al-Kharrâj sebagai salah satu kitab karyanya. Di tangan penulis, kitab al-Kharrâj diterbitkan tahun 1979 oleh peneribit Dâr al-Ma’rifah, Beirut, Libanon. Kitab ini tersusun setebal 244 halaman lengkap dengan daftar isi dan indeks kitab. 

Kitab al-Kharrâj merupakan jawaban dari beberapa masalah yang diajukan oleh Khalifah Harûn al-Rasyîd dan beberapa di antaranya adalah masalah yang dibuat sendiri oleh Abû Yûsuf. Di awal muqaddimahnya, Abû Yûsuf menegaskan:

أن أمير الزمنين أيده الله تعالى سألني أن اضع كتابا جامعا يعمل به في جباية الخراج العشور والصدقات والجوالي وغير ذلك مما يجب عليه النظر فيه والعمل به وإنما أراد بذلك رفع الظلم عن رعيته والصلاح لأمرهم

Artinya: “Sesungguhnya Amirul Mukminin - semoga Allah SWT meneguhkannya – telah memintaku untuk menyusun sebuah kitab kumpulan pedoman aplikatif penerapan al-kharaj, al’usyur, shadaqat, jawâli dan semacamnya, yang memuat hal-hal yang wajib untuk diperhatikan dan terapkan. Khalifah menghendaki penyusunan ini guna menghindari tindakan al-dhulm terhadap rakyatnya dan mengupayakan reformasi terhadap urusan mereka.” (Abû Yûsuf, Kitab Al-Kharrâj li al-Qâdli Abû Yûsuf Ya’qûb ibn Ibrâhîm Shâhib al-Imâm Abî Hanîfah, Beirut: Dâr al-Ma’rifah li al-Thabâ’ah wa al-Nasyr, 1979: 3)

Dasar yang dipergunakan untuk berargumen oleh penulisnya adalah sintesa antara ‘aqlî (rasio) dan naqli (wahyu) yang sekaligus menunjukkan perbedaaannya dengan al-Kharrâj yang ditulis oleh Ibn Adam. Ibn Adam hanya memanfaatkan dalil naqli guna mengulas pendapatnya dengan metode tautsiq (penguatan/dokumentasi) terhadap riwayat-riwayat hadits, pendapat sahabat dan tabi’in. Mungkin disebabkan karena saat itu, metode kritik hadits belum berkembang, maka Ibn Adam tidak melakukan kritik sanad dan matannya. Tapi karyanya menjadi bagian dari perbendaharaan kekayaan intelektual Muslim. 

Metode Ibn Adam ini tidak dipergunakan oleh Abû Yûsuf. Beliau lebih memilih upaya merasionalisasikan i’lal al-hadits sehingga hadits-hadits yang dinukil oleh Abû Yûsuf sedikit banyak sudah mendapatkan koreksi dan kritik sehingga al-Kharrâj merupakan kitab hasil seleksi data. A’mâlu al-shahâbi (praktik sahabat) mendapatkan bagian tersendiri dari data yang dipergunakan oleh Abû Yûsuf, jadi seolah bahwa kitab al-Kharrâj ini adalah buah dari hasil studi kasus. 

Menurut pengertian leksikal, sebenarnya al-Kharrâj memiliki arti pajak tanah yang dipungut dari wilayah yang dikuasai oleh Islam. Namun, dalam praktiknya, menurut Abû Yûsuf al-Kharrâj memiliki dua dimensi makna, pertama dipandang sebagai al-amwâl al-‘âmmah (keuangan publik) dan al-amwâl al-khâshah (keuangan khusus). Sumber keuangan publik bagi pemerintahan meliputi: ghanimah, fai’, al-kharaj, al-jizyah, ‘usyr al-tijârah dan shadaqah. Adapun sumber keuangan khusus, dapat diketahui saat beliau mengupas soal sewa tanah atau kompensasi pemanfaatan tanah negara oleh asing. Menilik dua dimensi ini, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan al-Kharrâj menurut Abû Yûsuf adalah kurang lebih sama dengan istilah pajak penghasilan saat ini (common taxation). Kedua dimensi ini merupakan sumber finansial negara. 

Di dalam kitab ini, Abû Yûsuf menjelaskan bahwa sumber perekonomian negara juga bisa diperoleh melalui: (1) pengelolaan sumber daya alam (tanah dan air) dan (2) peningkatan efektivitas lapangan kerja dan penyediaan tenaga kerja. Swakelola sumber daya alam dimaksimalkan melalui pembukaan lahan pertanian, dan pemanfaatan tanah. Sementara untuk meningkatkan efektivitasnya, perlu diupayakan pembuatan sistem irigasi pertanian. 

Persoalan masyarakat kecil kurang mendapat perhatian dari Abû Yûsuf. Sumber penghasilan negara lebih mengedepankan pada jalinan relasi produktif antara umat Islam dengan kaum dzimmi dalam dâr al-islâm atau relasi produktif antara umat Islam dengan komunitas non Muslim dalam dâr al-harb. Untuk penghasilan dari relasi level pertama, diperoleh dari al-kharaj dan jizyah. Sementara penghasilan dari akibat relasi level kedua, diperoleh dari ghanîmah. Cukai ditetapkan oleh pemerintah terhadap para pedagang kâfir harbî (orang kafir yang memerangi umat Islam) yang membawa barang dagangannya ke negara Islam. Sementara itu, umat Islam hanya berkewajiban mengeluarkan zakat sebagai bagian dari membangun solidaritas antara sesama Muslim. 

Menurut Abû Yûsuf, ada tiga pemegang hak kuasa atas diri kaum Muslim di Dâr al-Islâm, antara lain: rakyat, pemimpin (imam) dan lembaga-lembaga negara atau lembaga pemerintahan, seperti Hizb al-jaisy (Departemen Angkatan Bersenjata), Dawâwîn (Para Dewan). Setiap departemen memiliki tugas dan peran masing-masing yang sudah ditetapkan. Job diskripsi secara umum mencakup penetapan rasio jizyah yang boleh diterima, pengelolaan harta ghanîmah dalam perbendaharaan negara, penetapan gaji dan tunjangan bagi khalifah dan seluruh perangkatnya, penetapan hak guna tanah dan hak guna bangunan, membuat saluran irigasi dan reboisasi tanah. 

Konsep kepemilikan dalam negara sudah dibagi menjadi beberapa macam, mencakup banyak aspek di antaranya: kepemilikan permodalan yang juga diatur oleh negara (istighlâl), kepemilikan aktual, kepemilikan individu, kepemilikan khusus terhadap barang bergerak, kepemilikan umum dan kepemilikan bersama. Semua jenis kepemilikan ini bersifat tidak permanen. 

Ada tiga relasi elemen yang mendapat perhatian serius oleh Abû Yûsuf agar semua sistem negara tersebut dapat berjalan dengan baik. Ketiga faktor ini harus saling bekerjasama dalam menjaga dan mewujudkan tujuan negara, yaitu agama (religi), ekonomi dan militer. Tiga faktor ini merupakan penopang kuat atau lemahnya suatu negara. 


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan saat ini menjabat sebagai Tim Peneliti dan Pengkaji Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU JATIM dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim

Tags:
Bagikan:
Jumat 25 Januari 2019 18:25 WIB
Menjawab Persoalan Fiqih Sehari-hari
Menjawab Persoalan Fiqih Sehari-hari
Buku Tanya Jawab Fikih Sehari-hari merupakan kumpulan artikel keislaman yang dimuat di rubrik Bahtsul Masail NU Online, sejenis rubrik konsultasi hukum Islam yang diasuh secara konsisten oleh salah satunya KH Mahbub Maafi sepanjang 2013-2018.

Artikel di rubrik ini merupakan jawaban penulis keislaman atas pertanyaan yang masuk ke email Redaksi NU Online.

Kumpulan artikel keislaman ini memuat persoalan fiqih keseharian yang kerap muncul dan sedang aktual di kalangan masyarakat awam. Pertanyaan yang berkaitan dengan masalah keseharian tidak selalu mudah dan dapat segera dirumuskan jawabannya.

Karya ini tidak lahir dari ruang kosong. Konteks sosial hampir selalu melatarbelakangi kumpulan artikel ini. Semua pertanyaan yang masuk ke email redaksi merupakan problem riil yang dihadapi masyarakat yang berkenaan dengan urusan shalat, puasa, haji, zakat, perkawinan, perempuan, anak, seksual, muamalah, hingga soal tradisi.

Persoalan keseharian sering kali menyita waktu tim penulis keislaman NU Online untuk memikirkan gambaran persoalan secara utuh. Dari pemahaman atas persoalan itu, penulis kemudian merumuskan jawabannya.

Artikel keislaman yang dimuat di NU Online–apalagi soal hukum Islam–memiliki bobot “intelektualitas” tersendiri dibanding artikel keislaman yang dimuat di media cetak atau portal keislaman lainnya. Artikel keislaman yang dimuat di NU Online memikul dua tuntutan sekaligus.

Selain tuntutan untuk menjawab pertanyaan masyarakat awam dengan bahasa sederhana, penulis artikel ini juga dituntut untuk memenuhi standar wacana keislaman yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama, terutama terkait sumber-sumber rujukan yang otoritatif (al-kutubul muktabarah).

Hal ini bisa dimaklumi karena NU Online merupakan situs resmi NU yang mewakili organisasi sehingga penulisnya memiliki tanggung jawab “akademik” yang berlaku di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Karena disajikan untuk masyarakat awam, penulis artikel keislaman NU Online dituntut untuk menggunakan teknik penulisan yang sederhana guna mudah dipahami oleh kalangan awam. Meski demikian, artikel pada rubrik Bahtsul Masail NU Online juga dituntut tetap menjaga standar “akademik” karena ia menjadi konsumsi para kiai dan santri di lingkungan NU.

Sejumlah pengasuh rubrik Bahtsul Masail NU Online kerap kali berdiskusi untuk menjawab persoalan yang masuk ke meja redaksi. Mereka kerap kali membutuhkan waktu lebih dari sepekan untuk menjawab sebuah persoalan dalam rangka memenuhi dua tuntutan meski “hanya” menjawab persoalan fikih keseharian yang sering kali mengandung problematika yang kompleks.

Sebut saja soal membaca Al-Qur'an via hape ketika shalat, bersolek saat ngabuburit, zakat profesi, menikahi janda, hamil di luar nikah, sterilisasi kandungan, nafkah anak di luar nikah, oral seks, dan masalah aktual lainnya.

Buku ini perlu dibaca. Buku ini cukup "lengkap" memuat persoalan-persoalan aktual keseharian ditinjau dari sudut padang fiqih. Buku ini disajikan dengan bahasa dan logika pemaparan yang sistematis sehingga jelas "bunyi" hukumnya di akhir sebagai simpulan.

Jawaban fiqih atas persoalan keseharian ini juga disajikan dengan mempertimbangkan hukum positif yang berlaku di Indonesia baik UU, PP, dan regulasi turunan lainnya di samping pertimbangan fiqhiyyahnya.

Peresensi adalah Alhafiz Kurniawan, pemerhati masalah keislaman.

Identitas Buku:
Judul buku: Tanya Jawab Fiqih Sehari-hari.
Penulis     : KH Mahbub Ma’afi Ramdan.
Editor       : Trian Lesmana.
Penerbit   : Qafila (PT Grasindo) atas kerja sama dengan NU Online.
Cetakan I : 2018.
Tebal        : 290 Halaman.
Jumat 25 Januari 2019 10:0 WIB
Bergantung kepada Allah, Kunci Kebahagiaan Hidup
Bergantung kepada Allah, Kunci Kebahagiaan Hidup
Martin Seligman seorang Profesor Psikologi Keluarga Zellerbach di Departemen Psikologi Universitas Pennsylvania, Amerika Serikat pernah berkata seperti ini, “Kurangnya kebahagiaan membuat individu terlihat murung dan seperti mengucilkan diri dari lingkungan sekitar.” Kemudian ia melanjutkan, “Ketika murung, individu menjadi gampang curiga, suka menyendiri, dan defensif, berfokus pada kebutuhan diri sendiri, padahal mementingkan diri sendiri lebih merupakan karakteristik kesedihan daripada kebahagiaan.”

Untuk mengatasi hal itu, Martin Seligman menjelaskan bahwa diantara bahaya ketidak bahagiaan adalah seseorang akan merasa tidak tenang dalam menjalani kehidupan sehingga merasa tak berharga, merasa tak mampu melakukan apapun, baik bagi sendiri apalgi untuk orang lain. Perasaan seperti ini tentu saja bisa menghampiri siapapun, bahakan kepada seseorang yang terlihat selalu ceria.

Meskipun demikian, pada dasarnya setiap manusia memiliki tujuan yang sama dalam menjalani hidup ini. Tujuan hidup tersebut adalah untuk memperoleh kebahagiaan. Di balik perilaku manusia yang berbeda-beda antara manusia satu dengan yang lainnya, bukankah tujuan dari itu semua adalah demi mencapai kebahagiaan?

Agaknya, dengan latar belakang seperti itulah buku best seller Timur Tengah yang telah diterjemahkan ke dalam 20 Bahasa berjudul Liannaka Allah karya Ali bin Jabir al-Faifi ini ditulis. Ia berkeyakinan bahwa kebergantungan hati kepada Allah, pengetahuan tentang-Nya, perasaan selalu diawasi oleh-Nya, perasaan cinta kepada-Nya, perasaan takut kepada-Nya, dan pengharapan kepada-Nya, selain merupakan kunci kebahagiaan di akhirat, juga merupakan kunci kebahagiaan di dunia. 

Untuk menelusuri kebenaran argumen yang dibangun oleh pengajar di Departmen Syariah dan Bahasa Arab di Sekolah Tinggi Program Bersama “Kulliyah al-Barnamij al-Musytarakah” di Muhalah, Arab Saudi ini, dalam al-Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 22 tercatat jelas bahwa“orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram”.

Setidaknya ada persamaan antara argumen yang dibangun oleh Ali bin Jabir dengan Ayat al-Qur’an di atas, kesamaan itu adalah “Kunci kebahagiaan yang sejati adalah dengan mengingat Allah.” 

Masih dalam kajian tentang kebahagiaan, Dadang Hawari seorang psikiater terkenal di Indonesia pernah melakukan penelitian dan menghasilkan kesimpulan bahwa“ditinjau dari sudut pandang kesehatan jiwa, doa dan dzikir mengandung unsur psikoteraupetik yang mendalam. Terapi psikoreligius tidak kalah pentingnya dengan psikoterapi dan psikiatrik, karena mengandung kekuatan spiritual atau kerohanian yang dapat memunculkan Rasa percaya diri dan optimisme.”

Hal ini diperkuat oleh Robert Frager, seorang psikolog sosial Amerika, pendiri Institute of Transpersonal Psychology, sekarang disebut Universitas Sofia, di Palo Alto, California, “dzikir juga berfungsi sebagai pembersih atau pensuci kotoran-kotoran hati seperti marah, dendam atau bermusuhan, dan mampu menguatkan hati seseorang sehingga tidak mudah tegang, takut, dan juga gelisa.” Menurutnya Dengan demikian, efek psikologis dari banyak berdzikir akan mampu mengikis perasaan-perasaan negatif yang dimiliki oleh individu.

Dalam buku yang diterbitkan oleh Mukjizat Books ini, terdapat satu kutipan yang menghentak “Masa-masa kedukaan, kegundahan, dan kesusahan akan benar-benar berakhir jika seorang hamba selalu mengarahkan kompas perhatiannya kepada Dzat yang tidak menciptakannya melainkan untuk beribadah kepada-Nya.”

Buku yang memiliki ketebalan 310 halaman ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Roland Gunawan. Upaya penerjemahan ini patut diapresiasi, mengingat pada tahun-tahun ini banyak orang mendadak menyukai film humor, hal ini terbukti dari penjualan tiket film di bioskop terbanyak pada ahir tahun 2018 adalah film-film yang bergenre humor dan ringan.Apakah ini pertanda bahwa masyarakat kita butuh hiburan karena mengalami stres dan kegundahan hatinya? Wallahu a’lam. 

Buku ini, sangat cocok untuk para calon anggota eksekutif maupun legislatif yang sedang mempersiapkan diri di medan laga perpolitikan Indonesia.Sebab harapan terkadang tak selalui sesuai dengan kenyataan. Seseorang harus selalu siap kalah di medan pertempuran apapun, termasuk dalam pertempuran besar melawan harapan-harapannya sendiri, apabila harapan itu tak sampai, hati akan menjadi sangat rapuh dan gunda.

Selain itu buku ini sangat pas pula dimiliki oleh mereka yang sedang konsen melakukan penyembuhan bathin, dari berbagai kalangan terutama bagi mereka yang sedang sakit fisik, buku ini dapat dibaca sambil berbaring di ranjangnya, dapat dibaca oleh orang yang putus cinta sambil mengenang masa indah ketika bersama kekasihnya, dapat dibaca oleh orang yang sedih disertai cucuran air matanya, dapat dibaca oleh orang yang miskin sembari menikmati kesusahannya.

Penulis buku ini berusaha keras menjadikan buku ini mudah dipahami oleh siapa saja, bahkan oleh seseorang yang benar-benar terpuruk dan tak mempunyai selera lagi membaca ayat-ayat Al-Qur’an. Hal itu ia jelaskan sendiri dalam pengantarnya, “dengan kalimat-kalimat di buku ini, saya ingin menepuk pundak orang-orang yang dirundung kesusahan, dan mengurangi rasa sakit yang mendera kepalanya. Dengan huruf-huruf di dalam buku ini, saya ingin menghapus air mata dan memadamkan kobaran duka.”

Tersayat luka apakah hati dan pikiran manusia jika tak lagi merasakan indahnya mencintai Allah? Padahal Allah adalah Asy-Syafiy, Maha Penyembuh, menyembuhkan kita dengan sebab, dia menyembuhkan kita sebab kita ini amat lemah. Bagaimanakah menenangkan dan mengosongkan hati dari selain Allah? Biarkanlah menjadi alasan mengapa Anda harus membaca buku ini. 


Peresensi adalah Ali Adhim, penikmat dan penulis buku yang nyantri di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah Yogyakarta

Identitas Buku 
Judul Buku: Liannaka Allah (Karena Engkau adalah Allah)
Penulis: Ali bin Jabir al-Faifi
Penerbit: Mukjizat Books
Cetakan: Pertama, November 2018
Tebal Buku: 310 halaman
ISBN: 978-602-5508-561
Rabu 16 Januari 2019 20:30 WIB
Mengenal Kitab Ushul Fiqh ‘Al-Mustashfa’ Karya Imam al-Ghazali
Mengenal Kitab Ushul Fiqh ‘Al-Mustashfa’  Karya Imam al-Ghazali
Al-Ghazali bernama lengkap Abû Hâmid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thûsî al-Syâfi’î. Ia lahir di Thûs pada tahun 450 H dan wafat serta dikebumikan di kota yang sama  pada tahun 505 H, pada kisaran usia 52-55 tahun. (As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah: 6/191).

Ada dua riwayat yang menyebutkan penisbatan beliau dengan al-Ghazalî. Pertama, disebabkan karena ayah Imam al-Ghazali adalah seorang pemintal bulu kambing. Pemintal dalam istilah Mu’jamu al-Arab disebut Ghazala. Ahli pintal dikenal dengan istilah Ghazâl. Jadi, nisbat al-Ghazâlî seolah menunjuk pada keahlian sang ayah sebagai juru pintal. Ibnu Imad menjelaskan ini dalam kitabnya Syadzarâtu al-Dzahab fi Akhbâri Man Dzahab, juz 6 halaman 19. Riwayat kedua menghubungkan nisbah al-Ghazâlî dengan desa tempat al-Ghazali dilahirkan yaitu Ghazâlah, sebuah kota yang menjadi bandar dari kota Thûs, yang berada di wilayah Khurasân, Persia (Iran). 

Pendidikan al-Ghazali diawali dengan berguru di kepada seorang sufi besar di masanya, yaitu Ahmad bin Muhammad al-Razikânî. Berikutnya, ia masuk ke sebuah ribath yang diasuh oleh Syeikh Yusuf Al-Nasaj. Setelah tamat, kemudian ia melakukan rihlah ilmiahnya yang diawali ke kota al-Jurjân, lalu berguru kepada Abu Nashr al-Ismâ’ily. Beberapa kitab hadits yang sempat dipelajarinya adalah sebagai berikut:

1. Shahih Bukhâri, dipelajari dari Abû Sahl Muhammad ibn Abd allâh al-Hafsh dan Abû al-Fatyân Umar al-Ruasâi. Khusus dari ulama’ terakhir, ia juga mempelajari Shahih Muslim
2. Sunan Abu Dawud dari al-Hâkim Abû Fath al-Hâkimî
3. Maulid Nabi dari Abû Abdillah Muhammad ibn Muhammad al-Khawwâni

Di usia 20 tahun ia pergi dari al-Thûs menuju ke pusat kota Nisabûr, yang saat itu menjadi kota ilmu pengetahuan yang masyhur hingga hancurnya oleh tentara Mongol di Tahun 1256 M. Di kota ini ia masuk di Universitas Nidhâmiyah, dan berguru kepada Abu al-Ma’âlî al-Juwaini (Imam Haramain) sampai beliau wafat kurang lebih tahun 478 H (1084 H). Di al-Nidhâmiyah inilah, kemudian al-Ghazali diangkat sebagai guru besar madrasah itu, yaitu pada tahun 1090 M/482 H dan berlangsung selama 6 tahun. Tahun 488 H, beliau memutuskan kembali ke tanah kelahirannya yaitu al-Thûs lalu mendirikan sebuah khanaqah (semacam tempat tajrîbah/latihan bagi para sufi yang ingin mempelajari dzikir dan olah batin). Seluruh perjalanan ini, terangkum dengan baik di dalam kitabnya yang berjudul al-Munqîdz min al-Dlalâl. (Al-Ghazali, Al-Munqidz Min al-Dhalal, Kairo: Dar al-Nasr Li Taba’ah 1968, 75).

Baca juga:
Akhlak Para Ulama-Mahaguru Madrasah Nidhamiyah
Menengok Isi Kitab Ushul Fiqh 'al-Burhan' Karya Imam Haramain
Al-Ghazali dalam perjalanan intelektualnya, dikenal sebagai sosok ulama terkemuka yang menguasai berbagai bidang keilmuan termasuk ilmu kalam, filsafat, sastra, manthiq, fiqih, ushul fiqih, hadits, bahkan seorang teolog. Karena daya ingatnya yang kuat dan mampu berdialog dengan baik, maka ia mendapatkan gelar sebagai hujjatu al-islâm oleh para tokoh di zamannya, sebagai bentuk penghargaan atas perannya yang besar dalam mewarnai pemikiran umat Islam kala itu. Al-Isnawi dalam kitab Thabaqat-nya sebagaimana dikutip oleh Ibnu Imad menggambarkan sosok al-Ghazali sebagai berikut:

الغزّالي إمام باسمه تنشرح الصدور، وتحيا النفوس، وبرسمه تفتخر المحابر وتهتزّ الطّروس، وبسماعه تخشع الأصوات وتخضع الرؤوس ولد بطوس، سنة خمسين وأربعمائة، وكان والده يغزل الصّوف ويبيعه في حانوته

Artinya: “Al-Ghazzali adalah seorang imam yang dengan namanya dada menjadi lapang, jiwa menjadi hidup, tinta-tinta menjadi berbangga ketika menulis namanya, kertas-kertas terguncang mendengar namanya, suara-suara akan jadi khusyuk dan kepala-kepala akan tertunduk. Beliau dilahirkan di Thus tahun 450 H. Ayahnya menenun bulu dan menjualnya di tokonya.”  (Ibnu Imad, Syadzarâtu al-Dzahab fi Akhbâri Man Dzahab, Beirut: Dâr al-Kutub al-Islamiyah, tt.: Juz 6 halaman 19)

Al-Ghazali memiliki banyak karya tulis. Beberapa karya yang menjadi masterpiece-nya dan terkenal di Indonesia adalah kitab Ihyâ Ulûm al-Dîn. Ada juga karya yang lain, dan turut terkenal dan diajarkan di pesantren-{pesantren nusantara antara lain Bidâyat al-Hidâyah, Minhâj al-‘Abidîn, al-Munqîdz min al-Dlalâl dan al-Wasîth dan al-Wajîz. Di dalam ushul al-fiqh, al-Ghazali memiliki sejumlah karangan antara lain al-Mustashfa, al-Mankhul, al-Ma’lul fi ikhtilifayah, Tahdzîb al-Ushûl, dan Shifâu al-Ghalil. Sebenarnya masih banyak kitab karya yang lain, namun dari kesekian kitab itu masih agak jarang ditemui di dunia pesantren selain empat kitab yang telah disebutkan di atas. 

Untuk mengetahui pemikiran maqâshid dari al-Ghazali, maka kitab rujukan yang paling disarankan adalah kitab al-Mustashfa. Kitab ini disusun kurang lebih 900 halaman. Di dalam kitab ini, Al-Ghazali seolah menunjukkan kapasitasnya sebagai ahli dalam bidang ushul al-fiqh. Penting diketahui bahwa al-Ghazali merupakan sosok pemikir dan tasawuf yang bermadzhab al-Syâfi’i. Oleh karena itu, disarankan bagi para pembaca yang menginginkan untuk mendalami kitab ini, agar membingkaikan diri terlebih dahulu dengan pagar madzhab ini sehingga dapat menyerap apa yang dimaksudkan oleh al-Ghazali di dalam kitabnya. 

Kandungan Kitab al-Mustashfa

Kitab al-Mustashfa karya Imam al-Ghazali menjadi bukti kualitas dan kapabilitas sang pengarang di bidang fiqih. Di bagian akhir kitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazâli menyebutkan bahwa kitab tersebut selesai ditulis pada tahun 503 H. Berbekal informasi ini dan bersandarkan pada publikasi ilmiah bahwa kitab tersebut ditulis selama tiga tahun, maka dapat disimpulkan bahwa beliau memulai proyek risetnya ini kurang lebih pada tahun 499 H. 

Pada tahun 499 H, al-Ghazâlî mendapat permintaan dari para mahasiswanya di Universitas Nidhâm al-Mulk agar menulis sebuah kitab pegangan (semacam diktat) tentang metode penggalian hukum Islam. Berbekal permintaan inilah, lalu dijawab oleh al-Ghazâli dengan menghadirkan kitab al-Mustashfa min 'Ilm al-Ushûl. Jika menilik dari tahun akhir penulisan, maka kurang lebihnya al-Mustashfa adalah kitab akhir dari karya beliau. Kitabnya ditulis dalam kondisi alam pemikiran yang sudah benar-benar matang (Louay Safi, The Foundation of Knowledge; A Comaparative Study in Islamic and Western Methods of Inquiry, Selangor: IIUM dan IIIT, 1996, hal: 8-9).

Baca juga:
Mengenal Kitab-kitab Fiqih Perbandingan Mazhab
Detik-detik Wafatnya Imam Al-Ghazali
Melihat dari judul kitabnya “al-Mustashfa” yang berarti upaya menuju kondisi shafiyun (bersih), maka seolah kitab ini menggambarkan akhir perjalanan hidup beliau yang sempat menyatakan diri keluar dari Universitas Nidhâm al-Mulk untuk berkonsentrasi pada dunia ketasawufan. Dan apabila melihat bahwa kitab ini disandarkan pada satu disiplin ilmu ushûl al-fiqh, maka seolah kitab ini beliau hadirkan sebagai wujud metode menempuh jalan pemurnian hati melalui pola penggalian hukum fiqih. Dan sebagaimana pernah beliau sampaikan bahwa maqâshid syarîah pada dasarnya adalah upaya mencapai kesejahteraan (sabîli al-ibtida’), maka yang dimaksud oleh beliau sebagai kesejahteraan olehnya adalah tidak jauh amat dari nama salah satu judul kitabnya yaitu upaya mendapatkan kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat (sa’âdah fi al-dunya wa sa’âdah fi al-âkhirat). Hal ini tertuang sebagaimana isi dari kitab Kimiyâu al-Sa’âdah li al-Ghazâli.

Kitab al-Mustashfa disusun dengan penggunaan gaya bahasa yang imbang antara sulit dan mudah. Sistematika penyusunan kitabnya juga unik, karena terkesan rapi dan penyelidikan isi yang cermat. Isi kitab seolah membawa daya tarik tersendiri kepada pembacanya untuk terus-menerus membaca, bahkan jauh dari kesan membosankan, meskipun uraiannya panjang. Pantaslah kiranya kalau al-Juwaini menjuluki Imam al-Ghazali sebagai al-bahru maghrûq (samudera yang menenggelamkan). Pembaca karyanya tidak terasa seperti terhipnotis atas uraiannya sehingga sulit untuk mencari titik lemahnya. Istilah zaman sekarang adalah “diam-diam menghanyutkan”. Itulah kiranya padanan julukan dari al-Juwaini ini kepada al-Ghazâli. 

Jika umumnya para penulis ushul fiqh memulai bahasannya mengenai bahasa hukum dan premis-premis kebahasaan dalam penalaran hukum, lalu dilanjutkan dengan kajian dilâlatu al-ahkâm (dalil-dalil hukum), ikhtilâf dan ittifâq di dalam hukum, ijtihad dan mujtahid serta syarat mujtahid, lalu taqlid dan diakhiri dengan metode tarjîhât al-ahkâm, namun semua itu tidak dengan al-Ghazâli dalam kitab al-Mustashfa ini. Kitab al-Mustashfa diorganisasikan dalam apa yang disebut dengan istilah “quthub.” Al-Ghazali mendefinisikan quthub sendiri sebagai sesuatu yang memuat substansi yang dituju (والأقطاب هي المشتملة على لباب المقصود). 

Kurang lebih ada 4 quthub dalam al-Mustashfa. Mungkin maksud pengorganisasian ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa semua materi yang dikaji dalam tiap-tiap quthub-nya adalah berhubungan erat antara satu sama lain membentuk suatu kesatuan bahasan dalam satu ide sentral yang menjadi topik utama kajiannya. 

Lantas apa sebenarnya tujuan utama beliau dalam membagi kajian ushul fiqih menjadi 4 quthub ini? Asumsi dasar penulis kemungkinan hal itu ditujukan untuk menjawab empat dasar pertanyaan dasar ushul fiqih, antara lain:

1) Apakah hukum syar’i itu?
2) Di mana hukum syar’i itu ditemukan atau apa sumber hukum syar’i itu?
3) Bagaimana cara (metode) menemukan hukum dari sumber hukum syar’i?
4) Siapa yang berwenang melakukan penemuan hukum syar’i dari sumber-sumber hukum tersebut?

Keempat pertanyaan inilah yang menyebabkan bahasan al-Mustashfa dibagi menjadi 4 quthub. Dengan berbekal pertanyaan ini, maka seolah al-Mustashfa memang hadir tidak lepas dari setting sosial al-Ghazâli sendiri yang sangat panjang dan bahkan sempat menggambarkan dunia eskatisme yang pernah beliau alami saat beliau memutuskan berhenti dari mengajar di Universitas Nidhâm al-Mulk untuk menekuni dunia tashawuf dan tazkiyâtu al-nafs (pembersihan jiwa).

Pada bagian awal muqaddimah kitab, al-Ghazâli membaginya menjadi tiga sub-pembahasan. Di sub pertama, ia menjelaskan latar belakang dan motif mengapa ia menulis kitab ini (hal. 8-10). Sub kedua, ia membahas mengenai apa itu usul fiqih, kedudukannya dalam struktur ilmu-ilmu keislaman, sistematika dan ruang lingkup kajian ushul fiqh (hal. 11-18). Di bagian sub ketiga, al-Ghazâli membahas mengenai logika Yunani. Di bagian sub ketiga ini, beliau menjelaskan banyak hal tentang logika dengan sangat menarik hingga mencapai kurang lebih 40 halaman tersendiri (hal. 19-68).

Quthub pertama al-Mustashfa membahas tentang hukum syar’i. Di bagian ini, ia membagi kajian menjadi empat pokok bahasan utama. Pokok bahasan pertama, membahas mengenai hakikat hukum itu sendiri sebagai khithab syar’î (sapaan Ilahi) yang ditujukan kepada perbuatan subjek hukum (mukallaf). Tanpa adanya khithab syar’i, maka tidak ada hukum (hal. 68-80). 

Pada pokok bahasan pertama, al-Ghazâli membahas mengenai pembagian hukum. Pembahasan ini diawali dengan sebuah diskusi pendahuluan mengenai hukum wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Pembahasan dilanjutkan dengan membahas 15 masalah yang keseluruhannya membicarakan mengenai korelasi dari kelima hukum dengan lafadh amar (perintah) dan nahî (larangan) (hal. 80-100).

Pada pokok bahasan ketiga, ia membahas mengenai ‘anâshir al-ahkâm yang di dalam istilah al-Ghazâli disebut arkân al-hukm yang memuat materi hukum itu sendiri. Menurut al-Ghazâli, hukum itu memiliki beberapa rukun, antara lain adalah adanya al-hâkim (pembuat hukum), subjek hukum (al-mahkûm ‘alaih) dan objek hukum (al-mahkûm fîh). Pembahasan arkânu al-hukm ini dibahas sampai 11 lembar (hal. 100-111). Berikutnya, di pokok bahasan keempat, al-Ghazâli mengajukan sebuah diskusi tentang dialektika sebab-sebab hukum dan hubungan hukum dengan sebab-sebab tersebut. Imam al-Ghazâli mengistilahkannya dengan sebutan hukum wadl’i (hal. 111-118).

Pembahasan dari al-Mustashfa ini sangat menarik untuk dicermati. Cakupannya luas, dan insyaallah dalam beberapa edisi tulisan mendatang, kita akan berkonsentrasi pada kitab ini untuk menggali maqâshid al-Ghazâli, mengingat Indonesia pada khususnya, dan Nusantara pada umumnya, banyak yang menggunakan karya beliau sebagai bagian dari kurikulum yang diajarkan di setiap pesantren. Bagaimana sikap beliau dengan manhâj iqtishâd-nya (metode “tengah-tengah”), mungkin akan banyak mewarnai tulisan-tulisan mendatang. Wallâhu a’lam.


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG