IMG-LOGO
Fragmen

Perempuan Asal Sunda Ini yang Pertama Kali Berpidato di Muktamar NU

Sabtu 26 Januari 2019 16:0 WIB
Bagikan:
Perempuan Asal Sunda Ini yang Pertama Kali Berpidato di Muktamar NU
Pada tahun 1946 ibu-ibu di kalangan Nahdlatul Ulama yang didorong para kiai mendirikan organisasi, Muslimat. Nyai Djuaesih adalah ketuanya pada periode 1950-1952. Meski menjadi sosok perintis Muslimat NU, ia tak begitu menonjol sebagai organisator. Dia lebih populer sebagai mubalighah dalam kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat.

Meski demikian, ia memiliki reputasi yang tak dimiliki banyak perempuan NU karena dialah perempuan pertama yang naik ke mimbar resmi organisasi NU, tepatnya dalam forum persidangan Muktamar ke13 NU di Menes, Banten tahun 1938. Disusul kemudian Nyai Siti Syarah, tokoh perempuan NU dari Menes.  

Berikut ini laporan Berita Nahdlatoel Oelama No 6 tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941, hal.4/86

“Kemudian dari pada itu, tampillah ke muka, Ny Djunaesih, voorzitter (ketua) Muslimat NU Bandung yang telah memerlukan datang di kongres ini, berhubung kecintaan dan tertarik beliau kepadanya.


Dengan panjang lebar menerangkan akan asas dan tujuan dari NU adalah suatu perkumpulan yang sengaja mendidik umat Islam ke jurusan agamanya dengan seluas-luasnya. Di dalam agama Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik tentang soal-soal yang berkenaan dengan agamanya, bahkan kaum perempuan juga harus mendapat didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntunan agama, sebagaimana lakinya. Inilah natinya yang akan dapat membawa keamanan dunia dan akhirat.” 


Djuaesih lahir pada Juni 1901 di Sukabumi. Ia tidak mengikuti pendidikan formal dan hanya belajar kepada orang tuanya R.O. Abbas dan R. Omara S yang membekalinya dengan ilmu agama. 

Djuaesih memiliki kemampuan alamiah sebagai mubalighah dan cukup terkenal di Jawa Barat. la sering memberikan ceramah agama bagi ibu-ibu di berbagai pelosok Jawa Barat seperti di Pandeglang, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, dan Bekasi. 

Persentuhannya dengan NU muncul setelah menikah dengan Danuatmadja alias H. Bustomi, seorang pengurus NU Jawa Barat. Dalam berbagai acara organisasi ia menyertai suaminya. Ia pun merasa bahwa NU perlu mengorganisasi para perempuannya agar bisa ikut bersama-sama berdakwah.

Djuaesih mempunyai sumbangan besar dalam gerakan perempuan di lingkungan NU dengan gagasannya mendirikan organisasi khusus bagi kaum hawa di lingkungan NU. 

Menurutnya, NU mempunyai kewajiban untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam, dan itu bukan hanya tanggung jawab kaum pria. Karena itu, ia mengusulkan agar perempuan NU dapat menjadl anggota dan aktif serta memiliki wadah organisasi sendiri. 

Dalam forum Muktamar NU di Menes tersebut, sebagaimana dilukiskan Mahbib Khoiron yang mengutip "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU), Djuaesih menyatakan, 

”Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita juga wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kaum wanita yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama mesti bangkit...." 

Meskipun menjadi salah satu perintis organisasi perempuan NU, ia tidak menduduki jabatan tertentu pada kepengurusan pertama Muslimat NU Jawa Barat. Baru pada periode 1950-1952 Djuaesih menjabat sebagai ketua. 

"Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit." (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 26 Januari 2019 21:15 WIB
NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
Dalam sejarah NU, Gelora Bung Karno (GBK) mendapat tempat sendiri. Karena melalui lapangan tersebutlah NU mampu menunjukkan kebesarannya. Beberapa kali NU mengadakan kegiatan akbar di lapangan yang didirikan Presiden Soekarno tersebut, yaitu 1966, 1992, 2008, dan 2011.

Untuk pertama kalinya, NU menggunakan GBK pada harlah ke-40 yang digelar pada 31 Januari 1966. Saat itu NU dipimpin duet KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Idham Chalid. Keduanya berpidato di hadapan ratusan ribu warga NU. Presiden Soekarno juga turut berpidato. 

Hajatan besar itu didesain seniman besar yang aktif di Lesbumi NU yaitu Djamaluddin Malik (ayah Camelia Malik), Usmar Ismail (tokoh perfilman nasional) dan Asrul Sani. 

Harlah saat itu, bangsa Indonesia masih dalam keadaan luka setelah peristiwa Gerakan 1 Oktober empat bulan sebelumnya. Tuntutan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai ke akar-akarnya masih sangat kencang digelorakan masyarakat. Kemudian tuntutan itu juga mengarah kepada Presiden Soekarno. 

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara pada buku Api Sejarah 2, harlah NU tersebut mengubah wajah Jakarta yang semula merah dengan gambar palu arit sebab setahun sebelumnya, Partai Komunis Indonesia menyelenggarakan peringatan hari ulang tahunnya, yaitu 23 Mei 1965. 

Kemudian, masih menurut Ahmad Mansur,  saat NU menggunakan GBK, Jakarta menjadi samudera hijau. 

Menurut Abdul Mun’im DZ, setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Lalu, pada masa akhir Orde Baru, NU menggelar Rapat Akbar di Parkir Timur Senayan, 1 Maret 1992. Saat itu NU dipimpin KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sementara Rais Aamnya KH Moh. Ilyas Ruhiat yang ditetapkan di Munas NU Bandar Lampung, 21-25 JANUARI 1992. Kiai asal Cipasung itu menggantikan KH Ali Yafie yang mengundurkan diri setelah ditetapkan jadi Rais Aam karena wafatnya KH Ahmad Shiddiq pada 1991.  

Menurut sejarawan Iip D. Yahya, dari 2 juta yang direncanakan hadir, hanya sekitar 500 ribu yang dapat berkumpul. Hal itu karena pemerintah Soeharto setengah hati dan cenderung menghambat. Padahal acara itu jelas, "Ikrar Kesetiaan Warga NU pada Pancasila dan UUD 1945". 

Masih menurut Iip, butir kedua Ikrar kesetiaan itu menegaskan, "Kami yakin, bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final negara kami. Karenanya, kami teguhkan tekad kami untuk membangun dan mempertahankan derap dan langkah pembangunan bangsa kami."

Saat itu, NU seolah sendirian mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Bahkan pemerintah yang punya program P4, penuh dengan curiga. Tetapi NU di bawah kepemimpinan KH Moh. Ilyas Ruhiat dan KH Abdurrahman Wahid, terus maju ke muka dengan segala konsekuensi.

Untuk ketiga kalinya, NU menggelar hajatan besar di GBK pada 2008. Saat itu NU dipimpin KH Ahmad Hasyim Muzadi (Ketua Umum) dan KH Ahmad Sahal Mahfudh (Rais Aam). Saat itu, NU menargetkan 300 ribu massa untuk melaksanakan istighotsah bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. 

Terakhir, pada 17 Juli 2011 NU menggelar Rapat Akbar dalam rangka harlah ke-85 di GBK. Saat itu NU dipimpin Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Rais Aam KH Ahmad Sahal Mahfudh yang diikuti kurang lebih 120 ribu warga NU. Sebelum harlah, NU membicarakan ekonomi, radikalisme agama, dan masalah-masalah kebangsaaan lain. (Abdullah Alawi)

Sabtu 26 Januari 2019 21:0 WIB
KH Hasyim Asy’ari, Sang Pemilik Sanad Kitab Shahih Bukhari dan Muslim
KH Hasyim Asy’ari, Sang Pemilik Sanad Kitab Shahih Bukhari dan Muslim
KH Hasyim Asy'ari (Dok. istimewa)
Pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asy’ari dijelaskan dalam buku Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, Kebangsaan (Zuhairi Misrawi, 2010) merupakan pemilik sanad Kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa KH Hasyim Asy’ari telah hafal ribuan hadits yang diperoleh dari guru-gurunya dengan sanad keilmuan yang jelas. Geneologi atau sanad sebuah kitab tidak bisa diijazahkan kepada seseorang tidak menguasai dan memahami kitab tersebut melalui sistem pengajaran dari guru-guru pemegang sanad itu.

Kepakarannya di bidang hadits juga diakui oleh gurunya sendiri di Nusantara, KH Cholil Bangkalan. Bahkan Mbah Cholil tidak segan-segan berguru tentang ilmu hadits kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Menurut riwayat, saat mengajar ngaji kitab hadits, Kiai Hasyim Asy’ari belakangan baru tahu bahwa di tengah barisan santrinya terdapat Mbah Cholil sedang ikut mengaji.

Setelah pengajian kitab hadits tersebut selesai, seluruh santri beranjak, begitu juga dengan Mbah Cholil Bangkalan. Pemandangan bersahaja dan tawadhu terlihat, yakni ketika Mbah Cholil hendak meraih sandalnya. Namun, Kiai Hasyim Asy’ari berhasil mendahului untuk meraih sandal gurunya tersebut. Kemudian, ia memakaikannya pada kedua telapak kaki Mbah Cholil Bangkalan.

Perihal Kiai Hasyim Asy’ari yang telah hafal ribuan hadits ini ditegaskan oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (2019). Bahkan menurut Kiai Ubaidullah, kealiman Kiai Hasyim Asy’ari mendekati tingakatan seorang mujtahid.

Mujtahid dapat dikatakan ialah orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur'an dan Hadits.

Meskipun hafal ribuan hadits dan kealimannya mendekati level mujtahid, Kiai Hasyim Asy’ari masih memberikan ruang musyawarah dengan kiai-kiai di Jawa dan Madura seperti misalnya saat mencetuskan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 dalam rangka melawan agresi militer Belanda II.

Kiai Ubdaidullah pun tidak bisa membayangkan, Mbah Hasyim Asy'ari rahimahullah yang hafal beribu-ribu hadits, kealimannya mendekati mujtahid, tetapi untuk mengumumkan Resolusi Jihad yang telah beliau tulis masih mengundang ulama se-Jawa dan Madura. Hal ini merupakan teladan dan bentuk sikap tawadhu’ karena konteks perjuangan saat itu membutuhkan gagasan, pikiran, dan perjuangan seluruh elemen bangsa.

Keilmuan ayah KH Wahid Hasyim tersebut justru berbanding terbalik dengan sebagian orang, baik pada zaman Kiai Hasyim Asy’ari hidup hingga zaman sekarang yang dengan mudahnya menuduh syirik, sesat, bid’ah, dan kafir terhadap sebuah amalan ibadah. Padahal, mereka hanya membaca hadits terjemahan, bahkan mereka tidak segan-segan mengobral fatwa dengan hanya bermodal hafal beberapa hadits.

Terkait sanad kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dipegang oleh KH Hasyim Asy’ari ini, Ahmad Nur Kholis (2017) dalam artikel Sanad Kitab Shahih Bukhari KH Hasyim Asy'ari dan Sanad Kitab Shahih Muslim KH Hasyim Asy'ari berhasil mengungkap urutan sanad tersebut dari kitab Kitab Kifayatul Mustafid lima 'ala minal Asanid karya Syekh Mahfudh Termas, salah seorang guru Kiai Hasyim Asy’ari. Berikut urutan sanad yang dimaksud:

Sanad Kitab Shahih Bukhari

Sanad Kitab Shahih Bukhari, dari KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Syekh Mahfud Termas sampai kepada penulis hadits, yakni Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang terdiri dari jalur pertama dan kedua:

Jalur pertama:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Muhammad Ad-Dafri
9. Dari Syaikh Salim bin Abdillah Al-Bashri
10. Dari ayahnya: Abdillah bin Salim Al-Bashri
11. Dari Syaikh Muhammad bin Alaudin Al-Babili
12. Dari Syaikh Salim bin Muhammad As-Sanhuri
13. Dari Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaytho
14. Dari Syaikh Al-Islam Zakariya bin Muhammad Al-Anshari
15. Dari Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani
16. Dari Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi
17. Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib Al-Hajar
18. Dari Husain bin Mubarak Az-Zabidi Al-Hambali
19. Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa As-Sijzi
20. Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud Ad-Dawudi
21. Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Srakhsi
22. Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-Firabri
23. Dari Penyusunnya (orang yang menghimpun hadits), yakni: Al-Imam Al-Hafid Al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari

Jalur kedua:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfudz Termas
3. Dari Sayyid Husain Al-Habsyi
4. Dari Ayahnya Muhammad Husain Al-Habsyi
5. Dari Umar bin Abdul Karim Al-Attar
6. Dari Sayyid Ali bin Abdil Bar Al-Wina’i
7. Dari Abdil Qadir bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi
8. Dari Muhammad bin Abdillah Al-Idirsi
9. Dari Al-Quthb Muhammad bin Alauddin An-Nahruwali
10. Dari ayahnya
11. Dari Abil Futuh Ahmad bin Abdillah At-Thawusi
12. Dari Baba Yusuf Al-Hirawi
13. Dari Muhammad bin Syadzikhat Al-Farghani
14. Dai Abi Luqman Yahya bin Ammar Al-Khuttalani
15. Dari Muhammad bin Yusuf Al-Farbary
16. Dari Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Sanad Kitab Shahih Muslim

Berikut ini adalah sanad kitab Shahih Muslim ini dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada penulis kitab:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Ahmad bin Abdil Fattah Al-Malawi
9. Dari Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurdi
10. Dari Syaikh Ahmad Muhammad Al-Qasyasyi
11. Dari Syaikh As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli
12. Dari Syaikh Zain Zakariya Muhammad Al-Anshari 
13. Dari Syaikh Abdirrahim bin Al-Furath
14. Dari Syaikh Mahmud bin Khalafiyah Ad-Dimasyqi
15. Dari Al-Hafidh Abdil Mu’min bin Khalaf Ad-Dimyati
16. Dari Syaikh ABil Hasan Al-Muayyad bin Muhammad at-Thusi
17. Dari Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Fadhil Al-Farawi
18. Dari Syaikh Abdil Ghafir bin Muhammad Al-Farisi 
19. Dari Syaikh Abi Ahmad Muhammad Al-Juludi
20. Dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan An-Naisaburi
21. Dari Imam Al-Hafidh Abil Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (penyusun)

(Fathoni)
Jumat 25 Januari 2019 6:0 WIB
HARLAH KE-73 MUSLIMAT NU
Muslimat NU dan Kekerasan Pemilu 1971 (2)
Muslimat NU dan Kekerasan Pemilu 1971 (2)
Kekerasan Pemilu 1971
Usep Romli HM menceritakan bagaimana situasi mencekam menjelang Pemilu 1971. Menurutnya, perang urat syaraf telah terjadi jauh sebelum masa kampanye. Perang slogan antara pendukung sembilan parpol dan pendukung Golkar kerap muncul secara terbuka di spanduk hingga bisik-bisik sesama masyarakat.

Parpol diklaim sebagai produk Orla dengan dosa sospol “yang menjerumuskan Indonesia ke jurang kebangkrutan mulai dari krisis ekonomi, keamanan, politik, hingga peristiwa “G-30-S/PKI”. Hanya Golkar yang ‘suci bersih’ yang akan sanggup membawa kesejahteraan dan pembangunan.”

Slogan “Parpol No, Pembangunan Yes” bertebaran di seantero Tanah Air. Semua aparat diturunkan ke lapangan untuk mencegah rakyat mendukung parpol, dan menekan mereka untuk mendukung Golkar.

“Bentrokan fisik terjadi di mana-mana. Banyak santri dan kiai pendukung NU ditangkap, dianiaya, bahkan dibunuh,” tulis Usep.


Usep menambahkan bahwa rezim Orba berusaha sekuat tenaga melemahkan kekuatan NU dengan upaya memisahkan para kiai dari umatnya, terutama di daerah-daerah. Orba tak sungkan melakukan kekerasan: menangkap para kiai dan santri, ditahan empat lima hari di kantor Koramil atau Kodim, disodori formulir pernyataan mendukung pemerintah Orde Baru dengan cara mencoblos tanda gambar “beringin” pada pemilu nanti, dan lain-lain.

Catatan Usep atas Teror di Pemilu 1971 bukan mengada-ada. Majalah berita mingguan Tempo pada 17 April 1971 mencatat kegeraman elit Partai NU atas kekerasan dan intimidasi yang dilakukan oleh Sekber Golkar.

Kliping Majalah Tempo di bawah kepala Nahdhatul Golkar dari Kwitang s/d Jombang yang saya dapat dari pengurus LTNNU Jawa Barat Iip D Yahya pada 17 Januari 2019 lalu menyebutkan bahwa beberapa hari terakhir orang-orang NU mengeluarkan statmen yang “pahit dan keras” seperti PNI sebelumnya.

“Apa pun jang menimpa diri saja, saja akan tetap berbitjara sekarang,” kata Sekjen Partai NU KH Yusuf Hasyim di hadapan sejumlah pemuda di Gedung Balai Budaya, yang dikutip Tempo pada 17 April 1971.

Yang dibicarakan oleh KH Yusuf Hasyim atau biasa dipanggil Pak Ud itu tidak lain terkait Sekber Golkar dalam kaitannya dengan intimidasi yang lazim disebut “ekses atau tekanan politik”. Ia menyebutkan bahwa korban ekses politik itu bukan hanya santri dan kiai, tetapi juga aktivis Muslimat NU. “Antara lain tentang seorang wanita NU landjut usia jang distroom listrik.”

Pak Ud tampak serius membahas ekses dan tekanan politik kelompok Golkar yang disebutnya dengan samara “golongan X”. Meski sebagian pemuda yang mendengarkannya tertawa saat itu, ia menceritakan paksaan dan tekanan penguasa lokal terhadap para simpatisan partainya untuk mengalihkan dukungan mereka untuk Pohon Beringin.

“Kalau rakjat melawan, masih bisa ditembaki. Tapi kalau mereka djadi apatis? Tak ada peraturan jang bisa menindak orang jang manggut-manggut sadja tapi sebenarnja tidak mau berbuat apa-apa,” kata Pak Ud seperti dilansir Tempo pada 17 April 1971.

Ia mengingatkan pemerintah Orba saat itu agar sedikit bersyukur atas partisipasi masyarakat dalam pemilu. Mereka tidak Golput saja layak dihargai. Jangan lagi mereka diberikan beban tambahan. Golput atau apatis terhadap pemilu belum menjadi tren seperti gaya sebagian anak muda zaman sekarang.

“Sampai sekarang dan mungkin djuga nanti, memang ada laporan tentang orang jang ditembak hanja karena manggut-manggut. Agaknja di situlah masih terletak harapan Jusuf Hasjim: dalam laut memang dapat diduga, tapi dalam hati siapa tahu ada tanda gambar NU? Maka udjar tokoh partai dan bekas tentara itu: ‘Kami belum berbitjara tentang kekalahan,’” tulis Tempo halaman 5, edisi 17 April 1971.

Partai NU saat itu cukup optimis pada Pemilu 1971. Kekuatan partai NU didukung oleh kiai berpengaruh yaitu Ketum PBNU KH Idham Chalid, Ketua PBNU Subhan ZE, Ketua DPR-GR KH Ahmad Syaikhu, Menag KH Ahmad Dahlan, Pengurus harian PBNU KH Saifuddin Zuhri, Rais Aam PBNU KH Wahab Chasbullah, Wakil Rais Aam PBNU KH Bisri Syansuri, KH Ali Maksum (Krapyak Yogyakarta), KH Anwar Musaddad (Garut), KH Ilyas Ruhiat (Tasikmalaya), KH Anis Fu’ad (Banten), KH Hasyim Adnan (Jakarta), KH Abdurrazaq Makmun (Betawi), dan banyak kiai lainnya.

Berkat pengaruh kiai karismatik dan dukungan para simpatisan partai NU yang cukup solid baik dari kalangan nahdliyin maupun perempuan NU, NU berhasil meraih suara terbanyak kedua setelah Sekber Golkar pada Pemilu 1971.

“Kata KH Idham Chalid, Ketua Umum PBNU, kemenangan 58 kursi betul-betul rahmat karunia Allah SWT. ‘Bayangkan, kita disuruh bertanding tinju sambil kedua tangan diikat. Dikeroyok pula,’ ujar Pak Idham pada sebuah acara ‘training centre’ GP Ansor Jawa Barat di Bogor (1972),” tulis Usep Romli HM dalam artikelnya Teror Orba di Pemilu 1971 yang diturunkan NU Online pada 31 Maret 2014. (selesai…) (Alhafiz K)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG