IMG-LOGO
Fragmen

Kalau Ibu Muslimat Ini Pulang ke Jombang, NU akan Menjadi Organisasi Lokal

Ahad 27 Januari 2019 9:50 WIB
Bagikan:
Kalau Ibu Muslimat Ini Pulang ke Jombang, NU akan Menjadi Organisasi Lokal
Nyai Sholihah Wahid Hasyim (ist)
Kalimat di atas mungkin agak berlebihan. Namun ini sekaligus kritik terhadap model penulisan sejarah konvensional yang cenderung menceritakan zaman dengan latar belakang riwayat hidup para pemimpin besarnya, yang itu kebanyakan adalah laki-laki.

Ini tentang Ibu Nyai Sholihah, putri KH Bisri Syansuri dan menantu dari KH Hasyim Asy’ari. Namun bukan soal keturunan orang besar itu yang akan diceritakan, tapi soal ketangguhannya. Di NU, siapa keturunan siapa itu penting, tapi mengandalkan balung gede saja tidak cukup.

Ketika suaminya, KH Wahid Hasyim, meninggal dunia dalam satu kecelakaan di Cimahi pada 1953, ia mempunyai  lima orang anak yang masih kecil-kecil, ditambah satu lagi yang masih berada di kandungan.

Tak tega, KH Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali ke Jombang, agar Gus Dur dan adik-adiknya juga bisa dirawat bersama keluarga. Tapi Nyai Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di Jakarta.

Ia juga tidak menikah lagi. Dalam tradisi pesantren ketika itu, sudah lumrah jika istri kiai (yang suaminya meninggal), ia akan segera menikah (dinikahkan) lagi dengan santri senior/kiai lain. Kenapa tidak menikah lagi? Kira-kira ini juga bukan sosok Wahid Hasyim suaminya yang tak tergantikan, tapi ada urusan yang belum kelar, yang komunikasinya akan “terputus” kalau ia menikah lagi dengan lelaki lain.

Wahid Hasyim meninggal dalam usia yang sangat muda. Tapi ketika itu ia sudah memegang banyak sekali urusan. Kalau kita membaca sejarah kemerdekaan Indonesia dan perumusan Undang-Undang Dasar 1945, di situ pasti selalu ada nama Wahid Hasyim.

Kiai Wahid Hasyim berperan penting, bukan saja sebagai pimpinan NU, tapi juga sebagai konsolidator pergerakan NU ke Ibu Jakarta, dan konsolidasi ini harus dilanjutkan. Nyai Sholihah mengambil peran ini.

Rumahnya di Martaman menjadi tempat pertemuannya dengan para tokoh pergerakan nasional, teman-teman seperjuangan suaminya. Rumah ini juga menjadi tempat rapat-rapat penting NU terkait peristiwa-peristiwa penting nasional.

Posisi rumah ini juga berdekatan dengan rumah tokoh-tokoh penting, tidak perlu disebutkan di sini. Rumah ini sekarang menjadi kantor Wahid Institute (Wahid Foundation), dan harus saya sebutkan berada tepat berhadapan dengan kampus A UNUSIA Jakarta.

Rumah ini juga menjadi tempat persinggahan ayahnya, KH Bisri Syansuri, ketika menjadi Rais Aam NU. Gus Dur bercerita, waktu yang diperlukan untuk mengantar kakeknya ke kantor PBNU hanya sepuluh menit. Ketika itu, para pengurus NU sudah terbiasa telat, tapi kakeknya selalu datang tepat waktu.

Dari rumah itu, Nyai Sholihah juga yang mengajarkan para kader Muslimat merintis panti asuhan, rumah bersalin, majelis taklim, dan lembaga-lembaga pendidikan.

Lalu bagaimana Nyai Sholihah menghidupi keenam anaknya? Ia berjualan beras. “Saya bisa mendapat keuntungan Rp2,50 alias seringgit tiap kuintalnya,” ujarnya. Tidak hanya beras, ia juga sempat mencoba menjadi makelar mobil dan pemasok material bangunan. (A. Khoirul Anam)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 26 Januari 2019 21:15 WIB
NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
Dalam sejarah NU, Gelora Bung Karno (GBK) mendapat tempat sendiri. Karena melalui lapangan tersebutlah NU mampu menunjukkan kebesarannya. Beberapa kali NU mengadakan kegiatan akbar di lapangan yang didirikan Presiden Soekarno tersebut, yaitu 1966, 1992, 2008, dan 2011.

Untuk pertama kalinya, NU menggunakan GBK pada harlah ke-40 yang digelar pada 31 Januari 1966. Saat itu NU dipimpin duet KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Idham Chalid. Keduanya berpidato di hadapan ratusan ribu warga NU. Presiden Soekarno juga turut berpidato. 

Hajatan besar itu didesain seniman besar yang aktif di Lesbumi NU yaitu Djamaluddin Malik (ayah Camelia Malik), Usmar Ismail (tokoh perfilman nasional) dan Asrul Sani. 

Harlah saat itu, bangsa Indonesia masih dalam keadaan luka setelah peristiwa Gerakan 1 Oktober empat bulan sebelumnya. Tuntutan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai ke akar-akarnya masih sangat kencang digelorakan masyarakat. Kemudian tuntutan itu juga mengarah kepada Presiden Soekarno. 

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara pada buku Api Sejarah 2, harlah NU tersebut mengubah wajah Jakarta yang semula merah dengan gambar palu arit sebab setahun sebelumnya, Partai Komunis Indonesia menyelenggarakan peringatan hari ulang tahunnya, yaitu 23 Mei 1965. 

Kemudian, masih menurut Ahmad Mansur,  saat NU menggunakan GBK, Jakarta menjadi samudera hijau. 

Menurut Abdul Mun’im DZ, setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Lalu, pada masa akhir Orde Baru, NU menggelar Rapat Akbar di Parkir Timur Senayan, 1 Maret 1992. Saat itu NU dipimpin KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sementara Rais Aamnya KH Moh. Ilyas Ruhiat yang ditetapkan di Munas NU Bandar Lampung, 21-25 JANUARI 1992. Kiai asal Cipasung itu menggantikan KH Ali Yafie yang mengundurkan diri setelah ditetapkan jadi Rais Aam karena wafatnya KH Ahmad Shiddiq pada 1991.  

Menurut sejarawan Iip D. Yahya, dari 2 juta yang direncanakan hadir, hanya sekitar 500 ribu yang dapat berkumpul. Hal itu karena pemerintah Soeharto setengah hati dan cenderung menghambat. Padahal acara itu jelas, "Ikrar Kesetiaan Warga NU pada Pancasila dan UUD 1945". 

Masih menurut Iip, butir kedua Ikrar kesetiaan itu menegaskan, "Kami yakin, bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final negara kami. Karenanya, kami teguhkan tekad kami untuk membangun dan mempertahankan derap dan langkah pembangunan bangsa kami."

Saat itu, NU seolah sendirian mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Bahkan pemerintah yang punya program P4, penuh dengan curiga. Tetapi NU di bawah kepemimpinan KH Moh. Ilyas Ruhiat dan KH Abdurrahman Wahid, terus maju ke muka dengan segala konsekuensi.

Untuk ketiga kalinya, NU menggelar hajatan besar di GBK pada 2008. Saat itu NU dipimpin KH Ahmad Hasyim Muzadi (Ketua Umum) dan KH Ahmad Sahal Mahfudh (Rais Aam). Saat itu, NU menargetkan 300 ribu massa untuk melaksanakan istighotsah bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. 

Terakhir, pada 17 Juli 2011 NU menggelar Rapat Akbar dalam rangka harlah ke-85 di GBK. Saat itu NU dipimpin Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Rais Aam KH Ahmad Sahal Mahfudh yang diikuti kurang lebih 120 ribu warga NU. Sebelum harlah, NU membicarakan ekonomi, radikalisme agama, dan masalah-masalah kebangsaaan lain. (Abdullah Alawi)

Sabtu 26 Januari 2019 21:0 WIB
KH Hasyim Asy’ari, Sang Pemilik Sanad Kitab Shahih Bukhari dan Muslim
KH Hasyim Asy’ari, Sang Pemilik Sanad Kitab Shahih Bukhari dan Muslim
KH Hasyim Asy'ari (Dok. istimewa)
Pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asy’ari dijelaskan dalam buku Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, Kebangsaan (Zuhairi Misrawi, 2010) merupakan pemilik sanad Kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa KH Hasyim Asy’ari telah hafal ribuan hadits yang diperoleh dari guru-gurunya dengan sanad keilmuan yang jelas. Geneologi atau sanad sebuah kitab tidak bisa diijazahkan kepada seseorang tidak menguasai dan memahami kitab tersebut melalui sistem pengajaran dari guru-guru pemegang sanad itu.

Kepakarannya di bidang hadits juga diakui oleh gurunya sendiri di Nusantara, KH Cholil Bangkalan. Bahkan Mbah Cholil tidak segan-segan berguru tentang ilmu hadits kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Menurut riwayat, saat mengajar ngaji kitab hadits, Kiai Hasyim Asy’ari belakangan baru tahu bahwa di tengah barisan santrinya terdapat Mbah Cholil sedang ikut mengaji.

Setelah pengajian kitab hadits tersebut selesai, seluruh santri beranjak, begitu juga dengan Mbah Cholil Bangkalan. Pemandangan bersahaja dan tawadhu terlihat, yakni ketika Mbah Cholil hendak meraih sandalnya. Namun, Kiai Hasyim Asy’ari berhasil mendahului untuk meraih sandal gurunya tersebut. Kemudian, ia memakaikannya pada kedua telapak kaki Mbah Cholil Bangkalan.

Perihal Kiai Hasyim Asy’ari yang telah hafal ribuan hadits ini ditegaskan oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (2019). Bahkan menurut Kiai Ubaidullah, kealiman Kiai Hasyim Asy’ari mendekati tingakatan seorang mujtahid.

Mujtahid dapat dikatakan ialah orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur'an dan Hadits.

Meskipun hafal ribuan hadits dan kealimannya mendekati level mujtahid, Kiai Hasyim Asy’ari masih memberikan ruang musyawarah dengan kiai-kiai di Jawa dan Madura seperti misalnya saat mencetuskan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 dalam rangka melawan agresi militer Belanda II.

Kiai Ubdaidullah pun tidak bisa membayangkan, Mbah Hasyim Asy'ari rahimahullah yang hafal beribu-ribu hadits, kealimannya mendekati mujtahid, tetapi untuk mengumumkan Resolusi Jihad yang telah beliau tulis masih mengundang ulama se-Jawa dan Madura. Hal ini merupakan teladan dan bentuk sikap tawadhu’ karena konteks perjuangan saat itu membutuhkan gagasan, pikiran, dan perjuangan seluruh elemen bangsa.

Keilmuan ayah KH Wahid Hasyim tersebut justru berbanding terbalik dengan sebagian orang, baik pada zaman Kiai Hasyim Asy’ari hidup hingga zaman sekarang yang dengan mudahnya menuduh syirik, sesat, bid’ah, dan kafir terhadap sebuah amalan ibadah. Padahal, mereka hanya membaca hadits terjemahan, bahkan mereka tidak segan-segan mengobral fatwa dengan hanya bermodal hafal beberapa hadits.

Terkait sanad kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dipegang oleh KH Hasyim Asy’ari ini, Ahmad Nur Kholis (2017) dalam artikel Sanad Kitab Shahih Bukhari KH Hasyim Asy'ari dan Sanad Kitab Shahih Muslim KH Hasyim Asy'ari berhasil mengungkap urutan sanad tersebut dari kitab Kitab Kifayatul Mustafid lima 'ala minal Asanid karya Syekh Mahfudh Termas, salah seorang guru Kiai Hasyim Asy’ari. Berikut urutan sanad yang dimaksud:

Sanad Kitab Shahih Bukhari

Sanad Kitab Shahih Bukhari, dari KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Syekh Mahfud Termas sampai kepada penulis hadits, yakni Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang terdiri dari jalur pertama dan kedua:

Jalur pertama:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Muhammad Ad-Dafri
9. Dari Syaikh Salim bin Abdillah Al-Bashri
10. Dari ayahnya: Abdillah bin Salim Al-Bashri
11. Dari Syaikh Muhammad bin Alaudin Al-Babili
12. Dari Syaikh Salim bin Muhammad As-Sanhuri
13. Dari Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaytho
14. Dari Syaikh Al-Islam Zakariya bin Muhammad Al-Anshari
15. Dari Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani
16. Dari Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi
17. Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib Al-Hajar
18. Dari Husain bin Mubarak Az-Zabidi Al-Hambali
19. Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa As-Sijzi
20. Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud Ad-Dawudi
21. Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Srakhsi
22. Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-Firabri
23. Dari Penyusunnya (orang yang menghimpun hadits), yakni: Al-Imam Al-Hafid Al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari

Jalur kedua:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfudz Termas
3. Dari Sayyid Husain Al-Habsyi
4. Dari Ayahnya Muhammad Husain Al-Habsyi
5. Dari Umar bin Abdul Karim Al-Attar
6. Dari Sayyid Ali bin Abdil Bar Al-Wina’i
7. Dari Abdil Qadir bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi
8. Dari Muhammad bin Abdillah Al-Idirsi
9. Dari Al-Quthb Muhammad bin Alauddin An-Nahruwali
10. Dari ayahnya
11. Dari Abil Futuh Ahmad bin Abdillah At-Thawusi
12. Dari Baba Yusuf Al-Hirawi
13. Dari Muhammad bin Syadzikhat Al-Farghani
14. Dai Abi Luqman Yahya bin Ammar Al-Khuttalani
15. Dari Muhammad bin Yusuf Al-Farbary
16. Dari Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Sanad Kitab Shahih Muslim

Berikut ini adalah sanad kitab Shahih Muslim ini dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada penulis kitab:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Ahmad bin Abdil Fattah Al-Malawi
9. Dari Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurdi
10. Dari Syaikh Ahmad Muhammad Al-Qasyasyi
11. Dari Syaikh As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli
12. Dari Syaikh Zain Zakariya Muhammad Al-Anshari 
13. Dari Syaikh Abdirrahim bin Al-Furath
14. Dari Syaikh Mahmud bin Khalafiyah Ad-Dimasyqi
15. Dari Al-Hafidh Abdil Mu’min bin Khalaf Ad-Dimyati
16. Dari Syaikh ABil Hasan Al-Muayyad bin Muhammad at-Thusi
17. Dari Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Fadhil Al-Farawi
18. Dari Syaikh Abdil Ghafir bin Muhammad Al-Farisi 
19. Dari Syaikh Abi Ahmad Muhammad Al-Juludi
20. Dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan An-Naisaburi
21. Dari Imam Al-Hafidh Abil Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (penyusun)

(Fathoni)
Sabtu 26 Januari 2019 16:0 WIB
Perempuan Asal Sunda Ini yang Pertama Kali Berpidato di Muktamar NU
Perempuan Asal Sunda Ini yang Pertama Kali Berpidato di Muktamar NU
Pada tahun 1946 ibu-ibu di kalangan Nahdlatul Ulama yang didorong para kiai mendirikan organisasi, Muslimat. Nyai Djuaesih adalah ketuanya pada periode 1950-1952. Meski menjadi sosok perintis Muslimat NU, ia tak begitu menonjol sebagai organisator. Dia lebih populer sebagai mubalighah dalam kepengurusan Muslimat NU Jawa Barat.

Meski demikian, ia memiliki reputasi yang tak dimiliki banyak perempuan NU karena dialah perempuan pertama yang naik ke mimbar resmi organisasi NU, tepatnya dalam forum persidangan Muktamar ke13 NU di Menes, Banten tahun 1938. Disusul kemudian Nyai Siti Syarah, tokoh perempuan NU dari Menes.  

Berikut ini laporan Berita Nahdlatoel Oelama No 6 tahun ke-10 edisi 19 Januari 1941, hal.4/86

“Kemudian dari pada itu, tampillah ke muka, Ny Djunaesih, voorzitter (ketua) Muslimat NU Bandung yang telah memerlukan datang di kongres ini, berhubung kecintaan dan tertarik beliau kepadanya.


Dengan panjang lebar menerangkan akan asas dan tujuan dari NU adalah suatu perkumpulan yang sengaja mendidik umat Islam ke jurusan agamanya dengan seluas-luasnya. Di dalam agama Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik tentang soal-soal yang berkenaan dengan agamanya, bahkan kaum perempuan juga harus mendapat didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntunan agama, sebagaimana lakinya. Inilah natinya yang akan dapat membawa keamanan dunia dan akhirat.” 


Djuaesih lahir pada Juni 1901 di Sukabumi. Ia tidak mengikuti pendidikan formal dan hanya belajar kepada orang tuanya R.O. Abbas dan R. Omara S yang membekalinya dengan ilmu agama. 

Djuaesih memiliki kemampuan alamiah sebagai mubalighah dan cukup terkenal di Jawa Barat. la sering memberikan ceramah agama bagi ibu-ibu di berbagai pelosok Jawa Barat seperti di Pandeglang, Tasikmalaya, Sukabumi, Ciamis, dan Bekasi. 

Persentuhannya dengan NU muncul setelah menikah dengan Danuatmadja alias H. Bustomi, seorang pengurus NU Jawa Barat. Dalam berbagai acara organisasi ia menyertai suaminya. Ia pun merasa bahwa NU perlu mengorganisasi para perempuannya agar bisa ikut bersama-sama berdakwah.

Djuaesih mempunyai sumbangan besar dalam gerakan perempuan di lingkungan NU dengan gagasannya mendirikan organisasi khusus bagi kaum hawa di lingkungan NU. 

Menurutnya, NU mempunyai kewajiban untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam, dan itu bukan hanya tanggung jawab kaum pria. Karena itu, ia mengusulkan agar perempuan NU dapat menjadl anggota dan aktif serta memiliki wadah organisasi sendiri. 

Dalam forum Muktamar NU di Menes tersebut, sebagaimana dilukiskan Mahbib Khoiron yang mengutip "50 Tahun Muslimat NU, Berkhidmat untuk Agama, Negara & Bangsa", 1996 (Jakarta: PP Muslimat NU), Djuaesih menyatakan, 

”Di dalam agama Islam, bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita juga wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kaum wanita yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama mesti bangkit...." 

Meskipun menjadi salah satu perintis organisasi perempuan NU, ia tidak menduduki jabatan tertentu pada kepengurusan pertama Muslimat NU Jawa Barat. Baru pada periode 1950-1952 Djuaesih menjabat sebagai ketua. 

"Di dalam Islam bukan saja kaum laki-laki yang harus dididik mengenai pengetahuan agama dan pengetahuan lain. Kaum wanita pun wajib mendapatkan didikan yang selaras dengan kehendak dan tuntutan agama. Karena itu, kami wanita yang tergabung dalam NU mesti bangkit." (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG