IMG-LOGO
Opini

Meluruskan Salah Tafsir atas Pidato Kiai Said di GBK

Selasa 29 Januari 2019 13:30 WIB
Bagikan:
Meluruskan Salah Tafsir atas Pidato Kiai Said di GBK
Ahmad Rozali

Maksud dalam pidato Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siraj yang tidak dipahami secara sempurna oleh sejumlah awak media menyebabkan sebagian masyarakat jatuh pada kesalahpahaman setelah membaca berita ‘penggalan’ tersebut.

Pidato yang awalnya bertujuan baik dengan membangkitkan semangat warga NU agar berpartisipasi lebih dalam kegiatan sosial keagamaan, diinterpretasi dan ditulis secara tidak sempurna dan menghasilkan misinformasi massal di kalangan masyarakat Indonesia. 

Untuk memahami konteks pidato tersebut ada baiknya kita menelaah tafsiran Prof KH Muhammad Machasin, mantan Direktur Jendral Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama tentang hal itu. Intinya, menurut profesor Sejarah Kebudayaan Islam ini, apa yang dikatakan oleh Kiai Said pada warga NU umumnya adalah ajakan agar warga NU tidak mengabaikan kesalahan praktik keagamaan yang diketahuinya. 

Melalui pidatonya Kiai Said meminta agar warag NU proaktif ambil bagian di ruang publik agar amaliah yang biasa dilakukan oleh Nahdliyin tidak disalahkan sebagai bid’ah. “Pesan (itu adalah) wanti-wanti Ketum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siraj, dalam pidato Harlah Muslimat itu sebenarnya sangat jelas: Hai warga Nahdliyyin, rebutlah posisi kunci dalam bidang keagamaan. Kalau tidak, kalian akan menyesal nanti kalau posisi itu dipegang orang lain yang akan menyalah-nyalahkan semua dari amaliah kita,” katanya Selasa (29/1).

Menurutnya, ajakan Kiai Said pada ‘anggotanya’ adalah kewajaran, sebagaiamana ajakan pimpinan organisasi pada umumnya terhadap anggotanya. Ajakan ini juga sejalan dengan semangat sebuah hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Darda’, seorang sahabat Nabi, yang dikutip Hadratusy Syaikh KH. Hasyim Asy’ari di dalam Khittah 1926:

 إذا ظهرت الفتن أو البدع وسب أصحابي، فليظهر العالم علمه، فمن لم يفعل ذلك فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ 

Yang artinya: Jika fitnah dan bid’ah bermunculan, dan sahabat-sahabatku dicaci maki, maka hendaklah orang yang tahu tampil ke muka dengan pengetahuannya. Barang siapa tidak melakukan hal itu, maka akan tertimpa kutukan Allah, para malaikat dan semua manusia. 

“Jadi, melawan fitnah, hoaks, caci-maki kepada orang baik-baik itu adalah tugas keagamaan. Warga NU yang mempunyai ilmu, tidak boleh tinggal diam. Ketika keadaan baik-baik, mereka tidak boleh menonjolkan diri, tetapi ketika banyak hoaks berseliweran, mereka harus … wajib … tidak boleh tidak tampil untuk mengambil panggung,” tegasnya.

Etika menulis berita

Selain tafsiran, hal lain yang krusial yang perlu dipertanyakan adalah kemampuan si penulis berita dalam menangkap pesan narasumber dan cara menuliskannya dalam kaidah jurnalistik yang sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 

Pertanyaan ini perlu diajukan kepada sejumlah wartawan yang menulis dan menyebarluaskan berita sepotong yang ‘keluar dari konteks’ yang diinginkan si narasumber. Sebab alih-alih menyampaikan informasi yang benar, ketidakmampuan memahami konteks secara utuh tersebut menjadikan pesan yang ditulis kontradiktif terhadap pesan yang hendak disampaikan oleh narasumber. 

Dalam keadaan informasi yang tidak pasti kebenarannya seperti itu, seorang jurnalis dituntut mengonfirmasi kembali informasi yang didapatkan pada narasumber mengenai maksud dari statemennya. Hal ini perlu dilakukan agar jurnalis tidak menyalahi prinsip jurnalistik ‘dalam menyampaikan sebuah pesan apa adanya, bukan dengan informasi yang tidak diinginkan si narasumber’. 

Dalam konteks saat seorang wartawan ragu dengan informasi yang disampaikannya, dia harus mengonfirmasi pada sumber berita dengan bertanya ‘apakan yang bapak atau ibu maksudkan begini?’. Tanpa itu, wartawan dan tulisannya akan terjebak pada persepsi yang sebenarnya tidak berasal dari si narasumber yang bersangkutan.

Dalam kasus saat Kiai Said berbicara di hadapan muslimat itu, terdapat dua hal yang harus diperhatikan wartawan yang menulis berita: pertama pidato Kiai Said sempat terhenti karena tepuk tangan hadirin. Saat pidato terhenti dan ditulis dalam berita, seolah-olah Kiai Said sedang mengecilkan organisasi lain selain NU dengan mengatakan ‘kalau (jabatan-jabatan tersebut seperti KUA, Khatib dan Imam Masjid) dipegang selain NU salah semua’.

Padahal yang sebenarnya, pidato Kiai Said waktu itu sempat terhenti karena hadirin keburu ‘memotong’ dengan tepuk tangan. Sementara dalam lanjutannya, kiai Said menjelaskan bahwa yang dimaksud salah adalah nanti amalan NU disalahkan dan dibid’ahkan. 

Seharusnya keseluruhan konteks tidak boleh lepas dari tulisan jurnalis tersebut. Apalagi, di saat menyampaikan pidatonya, Kiai Said kerap menggunakan istilah berbahasa Arab yang bisa jadi tidak familiar bagi telinga awam yang tidak mendalami agama Islam, khusunya ilmu alat seperti Bahasa Arab, Ilmu Nahwu, Shorrof, Mantiq dan Balaghah. 

Yang kedua, kuat dugaan wartawan ini sedang menggunakan nilai berita atau news value usang dalam kaidah jurnalistik; ‘Bad News is A Good News’, yang sudah tidak relevan lagi terhadap kondisi Indonesia saat ini. Karena memiliki semangat ini, dia memilih untuk mengabaikan konteks di atas karena ia tahu bahwa dengan mengangkat sisi jelek atau ‘bad’ dari sebuah berita, akan lebih berpotensi menarik perhatian banyak pembaca atau ‘viral’. 

Dan prediksinya benar. Sejak diangkat, isu ini menjadi bola salju di media dan kalangan masyarakat melalui media sosial. Sejumlah media mencoba ‘menggorengnya’ dengan meminta klarifikasi dari berbagai tokoh, baik dari ormas selain NU, partai politik, hingga dari kalangan tokoh NU sendiri seperti KH Solahuddin Wahid atau Gus Sholah. Tujuannya tak lebih dari sekedar mendapat perhatian lebih banyak dari penonton atau pembaca, walaupun dengan bertumpu pada ‘berita sempalan’ yang tidak sesuai dengan ‘maksud’ narasumbernya.

Padahal, news value ‘Bad News Is A Good News’ tersebut adalah semangat usang yang saat ini sudah tidak pernah diajarkan lagi di dunia jurnalistik. Karena jenis nilai berita ini hanya akan melahirkan keburukan di kalangan pembaca, dan umumnya saat ini hanya digunakan oleh media pemburu popularitas melalui klik atau dalam istilah kerennya disebut dengan ‘click bait’.  Kelompok media ini masih menggunakan strategi ini secara rajin dengan mengabaikan manfaat berita tersebut pada orang banyak.

Walau begitu, media online seperti detik.com yang termasuk paling awal memberitakan hal tersebut telah mengakui kesalahan dalam menangkap konteksnya dan mengubah judul beritanya. Ia juga memberi keterangan dalam berita yang judulnya telah disesuaikan dengan konteks yang lebih sesuai. 

“Judul berita awal artikel ini adalah 'Said Aqil: Imam Masjid-Menag Harus dari NU, Selain NU Salah Semua', diganti menjadi 'Said Aqil: Imam Masjid, Khatib, KUA Harus dari NU, Selain NU Salah Semua'. Redaksi melakukan pengubahan judul berita setelah menyadari konteks bahwa penyebutan Menteri Agama oleh Said Aqil dalam pernyataan tersebut sebagai bentuk sapaan, tidak termasuk pihak yang harus berasal dari NU,” tulis detik.com mengakhiri beritanya https://news.detik.com/berita/4402308/said-aqil-imam-masjid-khatib-kua-harus-dari-nu-selain-nu-salah-semua.

Untuk lebih tepatnya silahkan dibaca potongan pidato Kiai Said di bawah ini yang sempat terpotong yang sebagian menggunakan Bahasa Arab:

Supaya apakah keren wasahatan? Agar litakunu syuhada alan nas, agar berperan di tengah-tengah masyarakat; syuhada itu berperan. Peran apa? Terus tanya terus? Peran apa? Syuhudan diniyyan, peran agama. Harus kita pegang imam masjid, khatib-khatib, KUA-KUA, Pak Menteri agama (menyapa Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin), harus dari NU, kalau dipegang selain NU salah semua (terhenti, tepuk tangan) nanti banyak bid’ah. Nanti kalau selain NU, ini bid’ah ini, tari-tari sufi bid’ah nanti . 


Redaktur NU Online

Bagikan:
Selasa 29 Januari 2019 16:0 WIB
Komunitas Hijabers dan Ragam Masalahnya
Komunitas Hijabers dan Ragam Masalahnya
(Foto: @community wix.com)
“Trend selalu berawal dari adat.” Demikian seorang ustadz di sebuah forum kajian memberikan keterangan tentang pengejawantahan makna kaidah ‘Al-‘âdatu muhakkamah” yang makna asli sebenarnya adalah “Adat kebiasaan bisa dijadikan sebagai sebuah hukum.”

Korelasi antara adat dan nilai budaya menyatu membentuk sebuah nilai tradisi sebagai risiko. Risiko tersebut adalah makhluk yang bernama trend.

Demikianlah trend variasi hijab terbentuk akibat budaya berhijab masyarakat mulai terbangun. Berkumpulnya para penyuka variasi hijab dalam suatu wahana tertentu, membentuk sebuah komunitas yang disebut hijabers. Berangkat dari komunitas ini, dihasilkan banyak informasi seputar permasalahan hijabers dan berikut informasi perkembangan budaya hijab.

Komunitas hijabers sebenarnya sudah lama eksis, khususnya di media-media sosial seperti, facebook dan instagram. Realitanya memang komunitas ini menjamur di era media sosial.

Apakah tidak ada manfaat? Tentu ada banyak manfaat dari keberadaan komunitas ini, meskipun sebagian pihak masih mengelompokkannya sebagai wahana ngerumpi saja. Poin pentingnya, komunitas hadir guna mempopulerkan budaya hijab.

Sebuah hasil riset yang dimuat di sebuah jurnal ilmiah Universitas Hamka dan ditulis oleh Khusni Lathifah dengan judul Hijabers di Era Informasi, memberitahukan bahwa popularitas hijab dan hijabers  adalah bisa dipengaruhi oleh banyak faktor.

Dari kesekian faktor itu, tiga faktor yang dirasa penting untuk disampaikan di era informasi ini, adalah:

1. Faktor Tekanan Informasi
Disadari atau tidak, tekanan informasi telah berdampak besar ke semakin merebaknya komunitas hijabers dan tentu trend hijab. Tekanan informasi umumnya datang dari media sosial dan media informasi publik, seperti televisi, majalah dan internet.

Dari sini, para desaigner busana jeli membaca peluang. Lalu didesainlah sejumlah variasi hijab guna memenuhi hajat kaum perempuan untuk tetap bisa tampil modis di hadapan publik, namun tidak keluar dari batas-batas norma syariat.

2. Model Teladan Endorser
Kedudukan ini dipegang oleh para artis, sehingga seolah mereka menjadi figur bahwa ternyata setelah berjilbab, dunia keartisannya tetap tidak ditinggalkan dan ia tetap bisa tampil memikat. Jadilah mereka endorser bagi para perancang busana muslimah sehingga secara material mendapat keuntungan.

Peran lain, ia menjadi bak juru dakwah yang mengkampanyekan hijab. Mereka seolah-olah berkata, “Hai kaumku, hijab tidak menghilangkan kecantikamu! Lihatlah diriku, tetap bisa tampil memikat dan tidak kalah eksis dibanding artis yang lain yang tidak berhijab. Ayo kita budayakan hijab!”

3. Merebaknya Tutorial Hijab dan Youtubers
Seringnya para artis hijabers tampil di hadapan publik dengan ragam hijab yang dipergunakannya membikin para penggemarnya berusaha untuk mencari-cari tahu informasi tutorial berhijab. Dengan ditopang oleh kemajuan teknologi berupa saluran informasi whatsapp grup, terjadi akumulasi para hijabers berbagai penjuru belahan dunia, berkumpul dan nimbrung di satu grup, yaitu hijabers.

Akhirnya terjadilah saling tukar informasi. Dari sini lahir tutorial hijab yang asalnya hanya dikhususkan untuk sesama anggota grup, lalu lama-lama merambah ke terbentuknya kreatifitas guna mendesaign hijab sendiri.

Sebagaimana telah disampaikan, bahwa tidak hanya berhenti di whatsapp grup, di Instagram, facebook, dan komunitas youtubers, ada sebuah komunitas tersendiri dari hijabers.

Beberapa di antaranya ada yang mencoba menawarkan hijab yang dilabelinya sebagai istilah hijab syar’i dengan ditopang sejumlah dalil yang dibikin untuk menguatkan brand yang dibawanya. Pakaian yang ditawarkannya juga dilabelinya sebagai pakaian syar’i. Sementara di lain pihak, ada komunitas hijabers dengan pakaian yang modis namun tidak meninggalkan sisi kesopanan. 

Kaum perempuan senantiasa identik dengan dunia fashion dan kosmetik bahkan seolah tidak mungkin lepas dari keduanya. Bagaimana mau lepas, sementara ada sebuah hadits yang berbunyi, “Sebaik-baik istri adalah mereka yang apabila engkau melihatnya, maka ia membahagiakanmu.”

Kelihatannya hadits ini tidak menyinggung soal kecantikan secara jelas, namun makna di balik itu merupakan anjuran bagi kaum perempuan memperhatikan penampilannya, khususnya di hadapan keluarga dan suaminya. Peran untuk tampil cantik dan membahagiakan inilah yang hendak dijawab oleh hijabers. 

Dengan munculnya komunitas hijabers, pertukaran informasi menjadi tidak hanya terbatas pada persoalan-persoalan khusus fashion saja. Ada persoalan berkaitan dengan masalah perawatan rambut perempuan berhijab. Dari masalah rambut ini, diciptakan produk khusus shampoo atau conditioner bagi perempuan hijabers.

Beragam produk diciptakan memang dengan tujuan memenuhi kebutuhan konsumennya. Kebutuhan ini tentu karena berawal dari keinginan mengatasi masalah hijabers. Tentu masalah juga selalu dikaitkan dengan budaya keseharian hijabers.

Misalnya, kebutuhan kaum hijabers mengatasi bau apak rambut, rambut sering ketombean karena seringnya memakai hijab dalam kondisi rambut basah. Bagaimana tidak dipakai dalam kondisi basah, sementara kaum hawa harus mengenakan hijabnya selepas wudhu, yang minimal sehari semalam adalah lima kali? Ini menjadi satu titik persoalan yang bisa dengan mudah diadopsi dari grup hijabers ini.

Ada masalah lain berupa rambut kadang kala berubah warna menjadi merah disebabkan ia terbalut terus menerus oleh jilbab tanpa ada kesempatan menghirup udara bebas. Belum lagi produk guna mengatasi masalah efek rambut rontok atau rambut bercabang karena faktor hijab ini. Semua ini juga dapat dengan mudah disurvai dan diadopsi oleh kalangan produsen produk guna mengembangkan produk perusahaan yang dihasilkannya. 

Beragam masalah ini kini telah banyak terjawab. Jika anda pergi ke sebuah swalayan, lalu anda mencari produk yang khusus diperuntukkan bagi perempuan hijabers, wah...Anda akan menemukan seabrek produk itu. Makanya, tidak heran bila kemudian banyak wanita muslimah yang kini condong dan lebih memilih berhijab, karena berhijab selain menambah kecantikan, sudah tersedia produk yang bisa mengatasi masalah rambut yang menjadi mahkota kaum perempuan. 

So....Mau tunggu kapan lagi untuk berhijab? Mari berhijab! Berhijab tidaklah menghilangkan kecantikanmu dan menghilangkan pesona rambutmu, namun ia mengatur kapan saatnya keindahan mahkota rambutmu itu layak dipertontonkan. Tentu saja, ke suami atau keluarga yang Anda cintai. Jika Anda adalah termasuk salah satu dari hijabers sejati, pasti Anda akan ingat dengan lagu ini:

Berkibar jilbabmu.. Di setiap waktu
Di sepanjang jalan kulihat kamu
Dengan jilbabmu meredam nafsu
Busanamu menyejukkan kalbu
Pesona jilbabmu anggun di wajahmu
Sekilas senyummu menambah ayu..
Karena jilbabmu aku terpaku
Cermin takwa iman di dadamu


Oleh Tim Penulis–Forum Kajian Fikih Kewanitaan dan Gender PP Hasan Jufri Putri–Pulau Bawean, Jawa Timur. forum ini dipimpin oleh Ustadz Muhammad Syamsudin.
Ahad 27 Januari 2019 22:40 WIB
HARLAH KE-73 MUSLIMAT NU
Di Balik 'Serangan' terhadap Harlah Muslimat NU di GBK
Di Balik 'Serangan' terhadap Harlah Muslimat NU di GBK
Ahmad Rozali

Hampir dalam setiap kegiatan besar yang digelar keluarga besar Nahdlatul Ulama, kerap ada 'serangan' dalam berbagai bentuk termasuk ‘pelintiran-pelintiran’ yang dibuat oleh beberapa orang yang kemudian menjadi viral melalui media sosial hingga portal berita. Serangan pelintiran seperti ini skalanya berbeda-beda, ada yang besar ada yang kecil tergantung dari kemungkinan ‘menggorengnya’.

Barangkali masih segar dalam ingatan kita saat orang tidak dikenal mengibarkan bendera Hizbut Tahrir Indonesia dalam acara Hari Santri, 22 Oktober 2018 lalu. Kala itu, sejumlah anggota Banser terprovokasi dan membakar bendera tersebut. 

‘Umpan’ termakan sempurna, dan benar saja, kejadian yang memang didesain untuk memojokkan NU itu berbuntut panjang. Fitnah bahwa Banser NU membakar ‘bendera tauhid’ dimainkan di media sosial, dilanjut media online, koran dan televisi, maka jadilah berita nasional tentang pembakaran bendera. 

Kini, permainan serupa juga dimainkan. Pemainnya sebuah akun facebook bernama An Nisa. Akun ini mengunggah foto sejumlah barang yang masih berserakan di lantai dan belum dirapihkan pada kegiatan Muslimat NU di Stadion Gelora Bung Karno. Dalam foto tersebut, akun ini menulis keterangan yang tidak hanya ingin meng-highlight ‘sampah di mana-mana’ tapi juga melemparkan tuduhan yang tidak sopan bagi Muslimat NU. “Acara pagi ini di GBK sampah everywhere (di mana-mana). Ngeri liat sampah ketemu sampah. Pantesan tidak ada yang bersih fikirannya,” tulis akun ini, Ahad (27/1).




Tentu tuduhan ini subjektif dan tidak benar. Sebab saat menyelenggarakan kegiatan Harlah ke 73, kepanitiaan acara Muslimat NU di bawah pimpinan Yenny Wahid ini telah menyiapkan berbagai persiapan mulai sebelum, saat acara berlangsung hingga selepas acara selesai, termasuk dengan menyiapkan tim relawan petugas kebersihan dari pemuda-pemudi NU, di antaranya santri Pondok Pesantren Assiddiqiyah, Jakarta. 

Faktanya puluhan santri berpakaian putih hitam ini tampak sudah aktif mengerjakan tugasnya sejak Ahad (27/1) dini hari. Dengan menggunakan sarung tangan, mereka membawa kantong plastik besar berwarna hitam, mereka telah ditempatkan secara sistematis di berbagai sudut stadion untuk memunguti sampah-sampah yang tercecer di area Harlah di GBK. 



“Anak-anak muda yang memungut sampah itu sudah ngambilin sampah sejak sekitar pukul satu malam (Ahad 01.00 WIB dini hari),” kata Arasiyah, seorang peserta Harlah Muslimat NU asal Gresik. 

Serangan akun buzzer

Sekitar 10 jam setelah akun An Nisa ini melemparkan tuduhan melalui postingannya, sebanyak 800 lebih akun membagikan kembali postingan tersebut. Namun berdasarkan penelusuran secara seksama, akun tersebut tidak seperti akun milik pribadi tapi lebih merupakan akun yang dibuat dan dikendalikan untuk kepentingan tertentu atau lebih familiar disebut dengan akun buzzer. 

Indikasinya ada beberapa: Pertama, akun tersebut menggunakan foto profil pasangan capres-cawapres tertentu. Kedua, dalam postingannya akun yang terdaftar pada tahun 2011 sebagian besar hanya membagikan berita atau konten dengan jenis tertentu yang identik, misalnya tentang aktivitas pasangan capres-cawapres, isu Palestina, gerakan 212, konten tanda pagar #2019GantiPresiden, poster Muslim Cyber Army dan isu sejenis. Berdasarkan pengalaman Penulis, ciri-ciri akun media sosial semacam ini bukanlah akun milik pribadi, namun akun tanpa nama (anonymous) yang dibuat untuk kepentingan tertentu.

Tentu akun ini bukan satu-satunya yang ‘diciptakan dan bertugas’ seperti itu. Dalam kasus Muslim Cyber Army yang terungkap tahun lalu, terdapat ribuan akun serupa yang diciptakan, dikembangbiakkan dan dijadikan alat untuk menciptakan isu tertentu di kalangan masyarakat Indonesia.  

Namun tak jarang akun seperti ini berhasil mempengaruhi masyarakat luas. Ross Tapsell, peneliti Media Indonesia dari The Australia National University Australia dalam analisanya menyebut, tingginya peminat media di luar media mainstream diakibatkan oleh kekecewaan masyarakat pada media mainstream yang terlibat begitu dalam pada politik praktis dalam pemilu 2014. Kepercayaan masyarakat yang menurun melahirkan celah yang diisi oleh ‘media alternatif’ sebagai sumber informasi. 

Sayangnya masyakat tidak banyak yang memiliki kemampuan literasi yang cukup untuk bisa membedakan antara konten atau media yang memiliki kredibilitas redaksi yang sesuai dengan kaidah jurnalistik atau yang abal-abal. Dari fenomena demikian, lahirlah konten pelintiran dan konten lain yang memiliki tujuan tertentu termasuk konten hoaks.  

Maraknya berita hoaks dan pelintiran informasi direkam oleh Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo). Menurut Anita Wahid, salah satu petinggi Mafindo yang juga merupakan putri ketiga Gus Dur, maraknya konten hoaks di Indonesia relatif dimulai tahun 2014 saat Indonesia sedang menjalani Pilpres. Sejak saat itu konten hoaks begitu banyak di media sosial, media online dan platform chatting. Menurut temuannya konten terbanyak adalah konten agama dan politik. Saat ini, rata-rata terdapat tiga konten semacam ini yang diproduksi dan disebarkan setiap hari. 

Jadi tidak mengagetkan jika ada konten hoaks dan pelintiran yang dibuat dan disebarkan sedemikian rupa seperti yang dibuat oleh akun An Nisa ini. Serangan ini adalah contoh nyata akan banyaknya buzzer di media sosial dan media online yang selalu siap menyerang siapapun yang tidak mereka sukai, termasuk kegiatan semulia Harlah Muslimat NU ke-73 yang berisi doa bersama untuk keselamatan bangsa. 

Redaktur NU Online
Ahad 27 Januari 2019 12:50 WIB
Kiprah Cemerlang Muslimat NU di Usia 73 Tahun
Kiprah Cemerlang Muslimat NU di Usia 73 Tahun
Harlah ke-73 Muslimat NU di GBK
Oleh Fathoni Ahmad

Muslimat NU, siapa yang tidak mengenal organisasi perempuan NU yang digawangi emak-emak atau ibu-ibu ini. Perjuangan, jasa, dan kiprahnya yang cemerlang diakui dari zaman ke zaman. Organisasi perempuan terbesar di Indonesia ini terus bertranformasi sesuai perubahan zaman dengan program-program nyata.

Pada Ahad (27/1), Muslimat NU menggelar peringatan Harlah ke-73 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) Jakarta. Tak kurang dari 120.000 warga Muslimat NU dari 34 provinsi berduyun-duyun menyemut ke Jakarta.

Mereka memenuhi jalanan-jalanan ibu kota dengan mengenakan batik kebanggaan berwarna hijau. Stadion kebanggaan Timnas Indonesia itu pun seketika berwarna hijau. Bukan karena rumput stadion, tetapi karena menggebyarnya ibu-ibu Muslimat yang memenuhi sudut dan tribun stadion GBK.

Perhelatan meriah yang berhasil memecahkan beberapa rekor dunia MURI itu bukan mobilisasi massa tanpa faedah. Menggaungkan tema Khidmah Muslimat NU Jaga Aswaja Teguhkan Bangsa diwujudkan para ibu Muslimat dengan bermuhasabah dan bermunajat, shalat tahajud, shalat hajat, dzikir, shalawat, dan beristighostah berjamaah di keheningan malam.

Bahkan, mereka tidak beranjak dan bergeser selangkah pun ketika hujan mengguyur stadion. Jamaah Muslimat NU tetap khusyu memanjatkan doa untuk keselamatan bangsa dan negara.

Ketua Panitia Harlah ke-73 Muslimat NU Hj Yenny Wahid mengungkapkan bahwa kegiatan Harlah ke-73 ini tidak hanya dilakukan secara meriah di Jakarta, tetapi juga dilakukan serentak di daerah-daerah karena dibarengi dengan doa untuk keselamatan bangsa tersebut.

“Kegiatan ini diikuti serentak oleh jutaan anggota Muslimat NU, baik secara fisik maupun yang berada di daerahnya masing-masing, bersama-sama bermunajat meminta kepada Allah SWT untuk keselamatan bangsa,” kata Yenny Wahid di sela-sela persiapan Harlah di GBK.

Saat ini jumlah anggota Muslimat NU diperkirakan sekitar 32.000.000 orang. Jumlah tersebut berasal dari jamaah yang tersebar di 34 pimpinan wilayah (PW), 524 pimpinan cabang (PC), 2.295 pimpinan anak cabang (PAC), dan 26.000 pimpinan ranting (PR).

Jumlah tersebut termasuk jamaah yang tersebar di luar negeri dalam wadah Pengurus Cabang Istimewa (PCI). Saat ini PCI Muslimat NU terbentuk di antaranya di Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Arab Saudi, Sudan, Belanda, dan Inggris.

Tidak mau hanya berbangga dengan jumlah atau kuantitas, Muslimat NU sejak awal berdirinya mempunyai komitmen untuk berkhidmah di tengah masyarakat. Wujud komitmen tersebut, saat ini Muslimat NU telah memiliki pelbagai macam layanan masyarakat di bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.

Beragam kegiatan yang selama ini dilakukan Muslimat NU adalah kepribadian, sosial, kesehatan, dakwah, ekonomi dan koperasi, litbang, tenaga kerja, pemberdayaan, layanan kesehatan keluarga, dan lain-lain.

Sejumlah layanan tersebut terwadahi dalam yayasan-yayasan. Yayasan yang dikelola antara lain Yayasan Kesejateraan Muslimat NU (YKMNU), Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPMNU), Yayasan Haji Muslimat NU (YHMNU), serta Himpunan Daiyah dan Majelis Taklim Muslimat NU (Hidmat MNU).

Dalam memberikan pelbagai layanan di masyarakat, saat ini Muslimat NU di seluruh wilayah mengelola aset pendidikan, kesehatan, maupun koperasi.

Di bidang pendidikan, Muslimat NU memiliki lebih dari 16.000 Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), mengelola Raudatul Athfal (RA) dan Taman Kanak-kanak (TK) lebih 9.800, dan lebih 6.400 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Di bidang kesehatan, Muslimat NU mengelola satu-satunya Klinik Hemodialisis yang sudah mengantongi ISO, Rumah Sakit Ibu dan Anak di Jombang berstandar nasional serta rumah sakit umum yang dikelola secara profesional.

Di bidang pemberdayaan ekonomi, Muslimat juga mengelola Induk Koperasi Annisa. Saat ini jumlahnya 143 koperasi yang berbadan hukum.

Muslimat NU juga memperkuat layanan sosial melalui 144 panti asuhan yang dikelolanya untuk merawat anak-anak terlantar. Juga untuk merawat lansia dengan membuka panti lansia berbasis pesantren.

Pada momen Harlah ke-70 di Stadion Gajayana Malang, Jawa Timur pada 2016 lalu, Muslimat NU dengan gagah berani membentuk Laskar Anti-Narkoba. Laskar ini tersebar di 34 provinisi yang dipimpin oleh seorang komandan laskar. Sosialisasi bahaya narkoba dilakukan pada setiap kegiatan dan forum-forum pengajian.

Dalam setiap kesempatan, Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa menekankan perubahan zaman yang saat ini berjalan dengan cepat. Dakwah tidak hanya cukup dilakukan di panggung dan mimbar, tetapi juga melalui internet, dunia maya.

Khofifah menyebutnya Dakwah bil IT yang juga harus dilengkapi dengan Dakwah bil Mal dan Dakwah bil Hal. Sebab itu, ibu-ibu Muslimat NU sekarang juga harus memahami dan menguasai teknologi informasi dan media sosial sebagai basis dakwah di era digital.


Penulis adalah warga NU kelahiran Brebes, Jawa Tengah; meliput kegiatan Muslimat NU sejak 2014
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG