IMG-LOGO
Humor

Musibah Bos Partai dan Doa Kiai

Rabu 30 Januari 2019 7:0 WIB
Bagikan:
Musibah Bos Partai dan Doa Kiai
Ilustrasi humor (via istimewa)
Belakangan ini lembaga anti-rasuah atau anti-korupsi gencar melakukan penangkapan terhadap para politisi dan pejabat yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Hal tersebut membuat salah satu bos partai di sebuah kota mendadak was-was bahkan kerap tidak bisa tidur karena diduga terlibat korupsi.

Hingga suatu malam, bos partai tersebut mengutus salah satu kadernya untuk sowan kepada seorang kiai pesantren di sebuah desa.

Sang kiai agak terheran malam sudah larut ada seorang tamu yang menghampirinya.

“Sampeyan dari mana, kok malam-malam ke pondok?” tanya sang kiai.

“Saya dari kota, Yai,” jawab utusan itu.

“Ada perlu apa jauh-jauh ke desa ini?”

“Minta didoakan Yai, untuk bos partai saya yang lagi kena musibah.”

“Musibah apa?” kiai tanya lagi.

“Diduga terlibat korupsi Yai,” jawab sang utusan bos partai.

“Loh, minta doa saja kok jauh banget. Apa di kota sampeyan sudah tidak ada sekelas kiai yang mau mendoakan si bos?”

“Bukan begitu Yai,” sergah si utusan.

“Lalu?” desak sang kiai.

“Habisnya, sulit cari kiai yang belum menerima sumbangan dari bos saya, jadi khawatir doanya kurang mempan,” seloroh si utusan. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Senin 28 Januari 2019 15:0 WIB
Protes Pembela Agama Allah di Akhirat
Protes Pembela Agama Allah di Akhirat
Ilustrasi humor
Alkisah di akhirat ada seseorang Muslim yang protes kepada malaikat karena dilarang masuk surga. Padahal ketika hidup di dunia, dia semangat sekali dalam nahi munkar, di antaranya melakukan sweeping di arena perjudian, pelacuran, serta mengusir orang kafir, dan menolak pembangunan tempat ibadah umat agama lain.

Kontan komplain tersebut ditanggapi diplomatis oleh malaikat. Bahwa yang dilakukannya itu sebenarnya mengikuti nafsu setan.

“Bagaimana mungkin saya tidak masuk surga, padahal saya di dunia selalu membela agama Allah, men-sweeping perjudian, pelacuran, mengusir orang kafir, menghalangi pembangunan tempat ibadah yang bukan agama saya, meneror musuh-musuh Allah, dan jihad-jihad lainnya. Kan ada catatannya semua,” ujar panjang lebar orang tersebut.

“Justru itu semua yang membuat Anda ditolak masuk surga,” sergah malaikat.

“Loh, kok bisa?”

“Karena Anda sesungguhnya mengikuti setan,” tegas malaikat.

Orang itu tambah tidak paham. “Logikanya gimana, Kat?”

Malaikat berkata, “Kalau Allah mau semua itu tidak ada, kan mudah. Allah tidak usah ciptakan saja, kan beres. Jadi Anda sebetulnya mematuhi godaan setan untuk menentang kehendak-Nya dengan aksi-aksi yang Anda anggap hebat itu.”

Orang tersebut akhirnya sadar, sebelum diperintah untuk nahi mungkar (mencegah kemungkaran), terlebih dahulu harus melaksanakan amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan). (Ahmad) 


*) Disarikan dari buku "Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita" (Muhammad AS Hikam, 2013)
Rabu 23 Januari 2019 15:0 WIB
Pilpres di Madura
Pilpres di Madura
Ilustrasi humor (via istimewa)
Di sebuah desa di Madura, Jawa Timur mendapat perlakuan istimewa dari salah satu pasangan calon presiden dan calon wakil presiden menjelang pemilihan umum.

Desa tersebut cukup tertinggal sehingga mendapat perhatian penuh capres dan cawapres itu dalam hal pengadaan fasilitas dan pembangunan lainnya.

Namun, setelah diadakan pemungutan suara sekaligus perhitungan suara, capres dan cawapres tersebut kalah suara dibanding lawannya.

Maka dipanggillah salah seorang tim sukses (T) desa tersebut oleh partai (P).

P: “Gimana sampeyan, kok tidak berhasil membuat capres-cawapres kita menang.”

T: “Saya juga heran pak, makanya saya panggil tokoh masyarakat desa (M) ini yang dulu jadi saksi.”

Selang beberapa saat, tokoh masyarakat yang dimaksud langsung datang memenuhi panggilan tim sukses tersebut.

P: “Gimana pak, masak desa ini sudah dibangun habis-habisan tapi capres-cawapres kita gak menang?”

M: “Pak, mereka itu kan tidak nyoblos capres-cawapres yang kita dukung cuma 5 menit, alias waktu coblosan saja, selebihnya kita dukung terus.” (Fathoni)
Rabu 16 Januari 2019 12:30 WIB
Gus Dur dan Teks Pidato
Gus Dur dan Teks Pidato
Saat itu, warga di sebuah desa berbondong-bondong menuju ke sebuah tempat yang dijadikan warga desa untuk mendirikan lumbung padi.

Lumbung yang dibangun atas swadaya, kerja keras, dan gotong royong warga desa tersebut menjelang diresmikan oleh kepala desa (kades).

Gus Dur pernah berkisah soal cerita ini. Singkatnya, hari peresmian lumbung padi tersebut sudah tiba. Pak Kades dipersilakan memberikan sambutan. Ibu Kades setia di sampingnya.

Hari masih pagi tapi hujan sudah mulai mengguyur wilayah desa tersebut. Pak Kades membuka secarik kertas membacakan pidatonya yang sudah disiapkan oleh seorang staf setianya.

Pak Kades mengawali pidatonya, "Bapak ibu yang kami hormati, pada pagi yang cerah ini, marilah.... " (Fathoni)


*) Disarikan dari cerita A. Khoirul Anam (santri Gus Dur) di akun facebooknya
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG