IMG-LOGO
Fragmen

Pesan Ya Jabbar Ya Qahhar di Balik Lahirnya NU

Rabu 30 Januari 2019 12:7 WIB
Bagikan:
Pesan Ya Jabbar Ya Qahhar di Balik Lahirnya NU
Tepat pada 31 Januri 2019, Nahdlatul Ulama berusia 93 tahun dalam itungan tahun masehi. Sedangkan pada bulan Rajab 1440 yang akan mendatang, NU menginjak umur 96 tahun. Selama hampir satu abad tersebut, NU sejak awal kelahirannya hingga sekarang telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap kehidupan beragama di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Semakin teguhnya organisasi para santri dan kiai di tengah terpaan berbagai macam tuduhan negatif dan upaya deligitimasi (penggembosan) tidak lepas dari peran para pendiri NU. KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan kiai-kiai lain memberikan pemikiran dan teladan berarti bagi warga NU untuk selalu melangkah di tengah perubahan zaman.

Tegaknya Nahdliyin (warga NU) dalam menjaga marwah atau kehormatan organisasi tidak lepas dari tirakat para pendiri. Sepelik apapun persoalan bangsa atau problem yang menimpa NU secara langsung, Nahdliyin tidak lepas dari upaya batin, baik melakukan istighotsah, tahlil, dzikir, wirid, membaca shalawat nariyah, membaca hizib nashar, dan lain-lain.

Hal itu sangat terkait dengan lahirnya NU yang telah melalui upaya lahir dan batin. Bahkan, KH Hasyim Asy’ari mengonformasi atau mengabarkan langsung bahwa para telah mendapat ridha Allah SWT untuk mendirikan jam’iyah (organisasi). Riwayat ini dijelaskan ketika Kiai Hasyim Asy’ari berinteraksi murid yang menjadi utusannya, KH As’ad Syamsul Arifin untuk memberikan pesan-pesan kepada guru Kiai Hasyim Asy’ari di Madura, KH Cholil Bangkalan (1820-1923).

Dalam proses lahirnya NU, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan semacam ‘korespondensi’ dengan Kiai Cholil Bangkalan lewat santri As’ad Syamsul Arifin. Setelah melalui beberapa kali perjalanan dari Tebuireng ke Bangkalan, Madura, Kiai Hasyim Asy’ari mendapat petunjuk tongkat dari tasbih yang diberikan Kiai Cholil kepada santri As’ad Syamsul Arifin.

Setelah petujuk kedua berupa tasbih diberikan As’ad ke Kiai Hasyim Asy’ari, beliau bertanya kepada As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” Kontan As’ad hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, dua Asmaul Husna tarsebut diulang oleh As’ad hingga 3 kali sesuai pesan sang guru. Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Awalnya, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Kiai Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Sehingga ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Mbah Hasyim dikisahkan oleh KH Raden As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo. Mbah As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Mbah Hasyim justru tidak jatuh ditangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Mbah As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Mbah As’ad sebagai penghubung atau wasilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. (Choirul Anam, 2010: 72)

Hal ini merupakan bentuk komitmen dan ta’dzim santri kepada gurunya apalagi terkait persoalan-persoalan penting dan strategis. Ditambah tidak mudahnya bolak-balik dari Bangkalan ke Tebuireng di tengah situasi penjajahan saat itu.

Petunjuk pertama, pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa AS sebagai berikut:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ (21) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ (22) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

Artinya:
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar."

Petunjuk kedua, kali ini akhir tahun 1925 santri As’ad kembali diutus Mbah Cholil untuk mengantarkan seuntai tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna (Ya Jabbar, Ya Qahhar. Berarti menyebut nama Tuhan Yang Maha Perkasa) ke tempat yang sama dan ditujukan kepada orang sama yaitu Mbah Hasyim.

Setibanya di Tebuireng, santri As’ad menyampaikan tasbih yang dikalungkannya dan mempersilakan Mbah Hasyim untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad. Bukan bermaksud As’ad tidak ingin mengambilkannya untuk Mbah Hasyim, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. Sebab itu, tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan As’ad sepanjang perjalanan dari Bangkalan ke Tebuireng. Wallahu’alam. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Ahad 27 Januari 2019 9:50 WIB
Kalau Ibu Muslimat Ini Pulang ke Jombang, NU akan Menjadi Organisasi Lokal
Kalau Ibu Muslimat Ini Pulang ke Jombang, NU akan Menjadi Organisasi Lokal
Nyai Sholihah Wahid Hasyim (ist)
Kalimat di atas mungkin agak berlebihan. Namun ini sekaligus kritik terhadap model penulisan sejarah konvensional yang cenderung menceritakan zaman dengan latar belakang riwayat hidup para pemimpin besarnya, yang itu kebanyakan adalah laki-laki.

Ini tentang Ibu Nyai Sholihah, putri KH Bisri Syansuri dan menantu dari KH Hasyim Asy’ari. Namun bukan soal keturunan orang besar itu yang akan diceritakan, tapi soal ketangguhannya. Di NU, siapa keturunan siapa itu penting, tapi mengandalkan balung gede saja tidak cukup.

Ketika suaminya, KH Wahid Hasyim, meninggal dunia dalam satu kecelakaan di Cimahi pada 1953, ia mempunyai  lima orang anak yang masih kecil-kecil, ditambah satu lagi yang masih berada di kandungan.

Tak tega, KH Bisri Sjansuri meminta puterinya itu kembali ke Jombang, agar Gus Dur dan adik-adiknya juga bisa dirawat bersama keluarga. Tapi Nyai Sholihah menolak, dia bertekad membesarkan buah hatinya sendirian di Jakarta.

Ia juga tidak menikah lagi. Dalam tradisi pesantren ketika itu, sudah lumrah jika istri kiai (yang suaminya meninggal), ia akan segera menikah (dinikahkan) lagi dengan santri senior/kiai lain. Kenapa tidak menikah lagi? Kira-kira ini juga bukan sosok Wahid Hasyim suaminya yang tak tergantikan, tapi ada urusan yang belum kelar, yang komunikasinya akan “terputus” kalau ia menikah lagi dengan lelaki lain.

Wahid Hasyim meninggal dalam usia yang sangat muda. Tapi ketika itu ia sudah memegang banyak sekali urusan. Kalau kita membaca sejarah kemerdekaan Indonesia dan perumusan Undang-Undang Dasar 1945, di situ pasti selalu ada nama Wahid Hasyim.

Kiai Wahid Hasyim berperan penting, bukan saja sebagai pimpinan NU, tapi juga sebagai konsolidator pergerakan NU ke Ibu Jakarta, dan konsolidasi ini harus dilanjutkan. Nyai Sholihah mengambil peran ini.

Rumahnya di Martaman menjadi tempat pertemuannya dengan para tokoh pergerakan nasional, teman-teman seperjuangan suaminya. Rumah ini juga menjadi tempat rapat-rapat penting NU terkait peristiwa-peristiwa penting nasional.

Posisi rumah ini juga berdekatan dengan rumah tokoh-tokoh penting, tidak perlu disebutkan di sini. Rumah ini sekarang menjadi kantor Wahid Institute (Wahid Foundation), dan harus saya sebutkan berada tepat berhadapan dengan kampus A UNUSIA Jakarta.

Rumah ini juga menjadi tempat persinggahan ayahnya, KH Bisri Syansuri, ketika menjadi Rais Aam NU. Gus Dur bercerita, waktu yang diperlukan untuk mengantar kakeknya ke kantor PBNU hanya sepuluh menit. Ketika itu, para pengurus NU sudah terbiasa telat, tapi kakeknya selalu datang tepat waktu.

Dari rumah itu, Nyai Sholihah juga yang mengajarkan para kader Muslimat merintis panti asuhan, rumah bersalin, majelis taklim, dan lembaga-lembaga pendidikan.

Lalu bagaimana Nyai Sholihah menghidupi keenam anaknya? Ia berjualan beras. “Saya bisa mendapat keuntungan Rp2,50 alias seringgit tiap kuintalnya,” ujarnya. Tidak hanya beras, ia juga sempat mencoba menjadi makelar mobil dan pemasok material bangunan. (A. Khoirul Anam)
Sabtu 26 Januari 2019 21:15 WIB
NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
NU dan Gelora Bung Karno dari Masa ke Masa
Dalam sejarah NU, Gelora Bung Karno (GBK) mendapat tempat sendiri. Karena melalui lapangan tersebutlah NU mampu menunjukkan kebesarannya. Beberapa kali NU mengadakan kegiatan akbar di lapangan yang didirikan Presiden Soekarno tersebut, yaitu 1966, 1992, 2008, dan 2011.

Untuk pertama kalinya, NU menggunakan GBK pada harlah ke-40 yang digelar pada 31 Januari 1966. Saat itu NU dipimpin duet KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Idham Chalid. Keduanya berpidato di hadapan ratusan ribu warga NU. Presiden Soekarno juga turut berpidato. 

Hajatan besar itu didesain seniman besar yang aktif di Lesbumi NU yaitu Djamaluddin Malik (ayah Camelia Malik), Usmar Ismail (tokoh perfilman nasional) dan Asrul Sani. 

Harlah saat itu, bangsa Indonesia masih dalam keadaan luka setelah peristiwa Gerakan 1 Oktober empat bulan sebelumnya. Tuntutan bubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI) sampai ke akar-akarnya masih sangat kencang digelorakan masyarakat. Kemudian tuntutan itu juga mengarah kepada Presiden Soekarno. 

Menurut Ahmad Mansur Suryanegara pada buku Api Sejarah 2, harlah NU tersebut mengubah wajah Jakarta yang semula merah dengan gambar palu arit sebab setahun sebelumnya, Partai Komunis Indonesia menyelenggarakan peringatan hari ulang tahunnya, yaitu 23 Mei 1965. 

Kemudian, masih menurut Ahmad Mansur,  saat NU menggunakan GBK, Jakarta menjadi samudera hijau. 

Menurut Abdul Mun’im DZ, setelah peristiwa G30S-PKI, tidak ada lagi kekuatan besar yang mampu mengomando rakyat, tetapi NU bisa. Saat itu NU menjadi stabilisator keamanan negara paling utama, bersama tentara, karena PKI sudah tidak berdaya, PNI sudah tercerai berai, sementara Masyumi sudah lama mati.

Lalu, pada masa akhir Orde Baru, NU menggelar Rapat Akbar di Parkir Timur Senayan, 1 Maret 1992. Saat itu NU dipimpin KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Sementara Rais Aamnya KH Moh. Ilyas Ruhiat yang ditetapkan di Munas NU Bandar Lampung, 21-25 JANUARI 1992. Kiai asal Cipasung itu menggantikan KH Ali Yafie yang mengundurkan diri setelah ditetapkan jadi Rais Aam karena wafatnya KH Ahmad Shiddiq pada 1991.  

Menurut sejarawan Iip D. Yahya, dari 2 juta yang direncanakan hadir, hanya sekitar 500 ribu yang dapat berkumpul. Hal itu karena pemerintah Soeharto setengah hati dan cenderung menghambat. Padahal acara itu jelas, "Ikrar Kesetiaan Warga NU pada Pancasila dan UUD 1945". 

Masih menurut Iip, butir kedua Ikrar kesetiaan itu menegaskan, "Kami yakin, bahwa Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 adalah bentuk final negara kami. Karenanya, kami teguhkan tekad kami untuk membangun dan mempertahankan derap dan langkah pembangunan bangsa kami."

Saat itu, NU seolah sendirian mempertahankan Pancasila dan UUD 1945. Bahkan pemerintah yang punya program P4, penuh dengan curiga. Tetapi NU di bawah kepemimpinan KH Moh. Ilyas Ruhiat dan KH Abdurrahman Wahid, terus maju ke muka dengan segala konsekuensi.

Untuk ketiga kalinya, NU menggelar hajatan besar di GBK pada 2008. Saat itu NU dipimpin KH Ahmad Hasyim Muzadi (Ketua Umum) dan KH Ahmad Sahal Mahfudh (Rais Aam). Saat itu, NU menargetkan 300 ribu massa untuk melaksanakan istighotsah bersama untuk keselamatan bangsa dan negara. 

Terakhir, pada 17 Juli 2011 NU menggelar Rapat Akbar dalam rangka harlah ke-85 di GBK. Saat itu NU dipimpin Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Rais Aam KH Ahmad Sahal Mahfudh yang diikuti kurang lebih 120 ribu warga NU. Sebelum harlah, NU membicarakan ekonomi, radikalisme agama, dan masalah-masalah kebangsaaan lain. (Abdullah Alawi)

Sabtu 26 Januari 2019 21:0 WIB
KH Hasyim Asy’ari, Sang Pemilik Sanad Kitab Shahih Bukhari dan Muslim
KH Hasyim Asy’ari, Sang Pemilik Sanad Kitab Shahih Bukhari dan Muslim
KH Hasyim Asy'ari (Dok. istimewa)
Pendiri Nahdlatul Ulama KH Muhammad Hasyim Asy’ari dijelaskan dalam buku Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, Kebangsaan (Zuhairi Misrawi, 2010) merupakan pemilik sanad Kitab Hadits Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Hal ini menunjukkan bahwa KH Hasyim Asy’ari telah hafal ribuan hadits yang diperoleh dari guru-gurunya dengan sanad keilmuan yang jelas. Geneologi atau sanad sebuah kitab tidak bisa diijazahkan kepada seseorang tidak menguasai dan memahami kitab tersebut melalui sistem pengajaran dari guru-guru pemegang sanad itu.

Kepakarannya di bidang hadits juga diakui oleh gurunya sendiri di Nusantara, KH Cholil Bangkalan. Bahkan Mbah Cholil tidak segan-segan berguru tentang ilmu hadits kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Menurut riwayat, saat mengajar ngaji kitab hadits, Kiai Hasyim Asy’ari belakangan baru tahu bahwa di tengah barisan santrinya terdapat Mbah Cholil sedang ikut mengaji.

Setelah pengajian kitab hadits tersebut selesai, seluruh santri beranjak, begitu juga dengan Mbah Cholil Bangkalan. Pemandangan bersahaja dan tawadhu terlihat, yakni ketika Mbah Cholil hendak meraih sandalnya. Namun, Kiai Hasyim Asy’ari berhasil mendahului untuk meraih sandal gurunya tersebut. Kemudian, ia memakaikannya pada kedua telapak kaki Mbah Cholil Bangkalan.

Perihal Kiai Hasyim Asy’ari yang telah hafal ribuan hadits ini ditegaskan oleh Rais Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah KH Ubaidullah Shodaqoh (2019). Bahkan menurut Kiai Ubaidullah, kealiman Kiai Hasyim Asy’ari mendekati tingakatan seorang mujtahid.

Mujtahid dapat dikatakan ialah orang yang -dengan ilmunya yang tinggi dan lengkap- telah mampu menggali dan menyimpulkan hukum-hukum Islam dari sumber-sumbernya yang asli seperti Al-Qur'an dan Hadits.

Meskipun hafal ribuan hadits dan kealimannya mendekati level mujtahid, Kiai Hasyim Asy’ari masih memberikan ruang musyawarah dengan kiai-kiai di Jawa dan Madura seperti misalnya saat mencetuskan Fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 dalam rangka melawan agresi militer Belanda II.

Kiai Ubdaidullah pun tidak bisa membayangkan, Mbah Hasyim Asy'ari rahimahullah yang hafal beribu-ribu hadits, kealimannya mendekati mujtahid, tetapi untuk mengumumkan Resolusi Jihad yang telah beliau tulis masih mengundang ulama se-Jawa dan Madura. Hal ini merupakan teladan dan bentuk sikap tawadhu’ karena konteks perjuangan saat itu membutuhkan gagasan, pikiran, dan perjuangan seluruh elemen bangsa.

Keilmuan ayah KH Wahid Hasyim tersebut justru berbanding terbalik dengan sebagian orang, baik pada zaman Kiai Hasyim Asy’ari hidup hingga zaman sekarang yang dengan mudahnya menuduh syirik, sesat, bid’ah, dan kafir terhadap sebuah amalan ibadah. Padahal, mereka hanya membaca hadits terjemahan, bahkan mereka tidak segan-segan mengobral fatwa dengan hanya bermodal hafal beberapa hadits.

Terkait sanad kitab Shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang dipegang oleh KH Hasyim Asy’ari ini, Ahmad Nur Kholis (2017) dalam artikel Sanad Kitab Shahih Bukhari KH Hasyim Asy'ari dan Sanad Kitab Shahih Muslim KH Hasyim Asy'ari berhasil mengungkap urutan sanad tersebut dari kitab Kitab Kifayatul Mustafid lima 'ala minal Asanid karya Syekh Mahfudh Termas, salah seorang guru Kiai Hasyim Asy’ari. Berikut urutan sanad yang dimaksud:

Sanad Kitab Shahih Bukhari

Sanad Kitab Shahih Bukhari, dari KH Hasyim Asy’ari melalui jalur Syekh Mahfud Termas sampai kepada penulis hadits, yakni Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail Al-Bukhari yang terdiri dari jalur pertama dan kedua:

Jalur pertama:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Muhammad Ad-Dafri
9. Dari Syaikh Salim bin Abdillah Al-Bashri
10. Dari ayahnya: Abdillah bin Salim Al-Bashri
11. Dari Syaikh Muhammad bin Alaudin Al-Babili
12. Dari Syaikh Salim bin Muhammad As-Sanhuri
13. Dari Najm Muhammad bin Ahmad Al-Ghaytho
14. Dari Syaikh Al-Islam Zakariya bin Muhammad Al-Anshari
15. Dari Al-Hafidh Ahmad bin Ali bin Hajar Al-Asqalani
16. Dari Ibrahim bin Ahmad At-Tanukhi
17. Dari Abil Abbas Ahmad bin Thalib Al-Hajar
18. Dari Husain bin Mubarak Az-Zabidi Al-Hambali
19. Dari Abil Waqt Abdil Awwal bin Isa As-Sijzi
20. Dari Abil Hasan Abdul Rahman bin Mudzaffar bin Dawud Ad-Dawudi
21. Dari Abi Muhammad Abdullah bin Ahmad As-Srakhsi
22. Dari Abi Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Mathar Al-Firabri
23. Dari Penyusunnya (orang yang menghimpun hadits), yakni: Al-Imam Al-Hafid Al-Hujjah Abi Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim Al-Bukhari

Jalur kedua:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfudz Termas
3. Dari Sayyid Husain Al-Habsyi
4. Dari Ayahnya Muhammad Husain Al-Habsyi
5. Dari Umar bin Abdul Karim Al-Attar
6. Dari Sayyid Ali bin Abdil Bar Al-Wina’i
7. Dari Abdil Qadir bin Ahmad bin Muhammad Al-Andalusi
8. Dari Muhammad bin Abdillah Al-Idirsi
9. Dari Al-Quthb Muhammad bin Alauddin An-Nahruwali
10. Dari ayahnya
11. Dari Abil Futuh Ahmad bin Abdillah At-Thawusi
12. Dari Baba Yusuf Al-Hirawi
13. Dari Muhammad bin Syadzikhat Al-Farghani
14. Dai Abi Luqman Yahya bin Ammar Al-Khuttalani
15. Dari Muhammad bin Yusuf Al-Farbary
16. Dari Imam Muhammad bin Ismail Al-Bukhari

Sanad Kitab Shahih Muslim

Berikut ini adalah sanad kitab Shahih Muslim ini dari KH Hasyim Asy’ari sampai pada penulis kitab:

1. KH Hasyim Asy’ari
2. Dari Syaikh Mahfud Termas. 
3. Dari Syaikh Muhammad Abu Bakar Syatha Al-Makki. 
4. Dari Sayyid Ahmad Zaini Dahlan
5. Dari Syaikh Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi
6. Dari Syaikh Muhammad bin Ali As-Syinwani
7. Dari Syaikh Isa bin Ahmad Al-Barawi
8. Dari Syaikh Ahmad bin Abdil Fattah Al-Malawi
9. Dari Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurdi
10. Dari Syaikh Ahmad Muhammad Al-Qasyasyi
11. Dari Syaikh As-Syams Muhammad bin Ahmad Ar-Ramli
12. Dari Syaikh Zain Zakariya Muhammad Al-Anshari 
13. Dari Syaikh Abdirrahim bin Al-Furath
14. Dari Syaikh Mahmud bin Khalafiyah Ad-Dimasyqi
15. Dari Al-Hafidh Abdil Mu’min bin Khalaf Ad-Dimyati
16. Dari Syaikh ABil Hasan Al-Muayyad bin Muhammad at-Thusi
17. Dari Syaikh Abi Abdillah Muhammad bin Fadhil Al-Farawi
18. Dari Syaikh Abdil Ghafir bin Muhammad Al-Farisi 
19. Dari Syaikh Abi Ahmad Muhammad Al-Juludi
20. Dari Syaikh Ibrahim bin Muhammad bin Sufyan An-Naisaburi
21. Dari Imam Al-Hafidh Abil Husain Muslim bin Hajjaj bin Muslim Al-Qusyairi An-Naisaburi (penyusun)

(Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG