IMG-LOGO
Opini
HARLAH KE-93 NU

Jejak-jejak Kultural Perjuangan NU

Jumat 1 Februari 2019 21:22 WIB
Bagikan:
Jejak-jejak Kultural Perjuangan NU
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Tulisan ini tidak bermaksud memebesar-besarkan peran NU dalam proses berbangsa dan bernegara, tapi sekadar memaparkan apa yang dilakukan NU dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus mencerdaskan kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Ada beberapa jejak kultural yang sangat strategis yang dilakukan NU dalam konteks ini. Selain perannya dalam mendirikan NKRI, perjuangan fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan sampai memepertahankan Pancasila sebagai dasar negara NU juga berperan membangun budaya toleran dan sikap pluralis.

Dalam konteks kekinian, upaya NU menjaga keberagaman dan keutuhan bangsa dibuktikan melalui penerimaan demokrasi, pluralisme dan toleransi dengan memberikan posisi dan hak yang sama setiap warga negara di depan hukum. Semua ini diyakini oleh warga NU sebagai cerminan nilai dan ajaran Islam.

Di bawah kepemimpinan Gus Dur demokrasi, pluralisme dan toleransi dijalankan secara nyata dan konsekuen. Hal ini dibuktikan dengan pembelaan NU pada hak-hak minoritas yang dilanggar dan diabaikan. Berlaku tegas terhadap umat Islam yang melakukan pelanggaran terhadap konstitusi dan ideologi negara, sekali pun hal itu dilakukan atas nama syariat dan agama. Melalui NU, Gus Dur benar-benar ingin menunjukkan keunggulan dan kemuliaan ajaran Islam dengan menebar kebaikan pada sesama dan konsisten pada perjanjian yang sudah disepakati bersama yaitu Pancasila.

Dalam konteks ini Gus Dur ingin membuktikan bahwa rahmatan lil 'alamin itu bukan sekadar slogan tapi harus harus terwujud dalam laku hidup. Inilah yang membuat Gus Dur bisa berhubungan baik dengan non-muslim, blusukan di tempat-tempat ibadah umat lain. Bahkan Gus Dur memerintahkan Banser untuk menjaga gereja. Dengan cara ini umat lain juga bisa menerima keberadaan umat Islam secara senang dan bahagia tanpa rasa takit dan tertekan. Sehingga hubungan persaudaraan yang tulus antara sesama warga bangsa bisa tercipta sekalipun beda agama dan keyakinan.

Untuk melakukan hal ini bukanlah pekerjaan mudah karena Gus Dur dan NU pada umumnya mendapat tantangan bahkan hinaan dan caci maki dari kelompok Islam lainnya. Masih terngiang hingga saat ini bagaimana Gus Dur dituduh sebagai antek Zionis, agen Israel, kiai liberal dan sebagainya. Tudingan yang tidak kalah nista juga diberikan pada NU dan neven-nevennya, mislnya dituduh disusupi kaum liberal, antek kafir, centheng gereja dan sejenisnya.

NU juga dianggap membela orang kafir, karena bersikap keras pada sesama muslim tapi bersikap lunak dan bermesraan dengan orang kafir. Yang lebih menyakitkan para kiai sepuh yang jadi panutan warga NU difitnah dan dicaci dengan bahasa kasar dan keji. Hampir setiap hari warga NU dikafir-kafirkan, ibadahnya dianggap sesat dan berbagai bid'ah. Tapi semua itu dihadapi dengan sabar dan tabah oleh para kiai dan warga NU.

Sekarang ini, jejak perjuangan NU telah membuahkan hasil. Dulu orang-orang dan kelompok yang menuduh NU liberal karena menyebar kebaikan di gereja, sekarang mereka sudah mengikuti jejak NU. Tidak tanggung-tanggung bahkan mereka sudah mengundang orang nonmuslim masuk ke dalam masjid dan menjadikannya sebagai penceramah dan ustadz. Padahal sebelumnya hal ini merupakan sesuatu yang tabu dan sangat terlarang, sebagaimana yang terjadi pada kasus Ahok yang dilarang masuk mesjid karena nonmuslim, meski untuk menjalankan tugas negara.

Kelompok yang mengaku anti-liberal ini sekarang juga sudah menerima pemikiran liberal dengan penuh suka cita. Bahkan menjadi pembela yang sangat gigih kepada orang yang berani menyatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Sudah bisa menerima pemikiran bahwa demokrasi untuk orang yang rasional sedangkan agama untuk orang irrasional. Ini merupakan perubahan sikap yang luar biasa. Bahkan NU sekali pun masih memperdebatkan pemikiran tersebut.

Demkian juga pada hal-hal yang lain misalnya mereka sudah mau berkumpul dengan saudara sebangsa para keturunan PKI. Mereka tidak lagi menganggap para keturunan dan eks anggota tapol itu sebagai musuh tetapi teman dalam memperjuangkan kepentingan politik bersama. Meski tidak terucap secara eksplisit namun secara implisit mereka telah mengakui kesamaan hak para eks PKI dan keturunannya. Suatu kemajuan sikap yang perlu disyukuri.

Apa yang terjadi menunjukkan jejak perjuangan NU telah berhasil diikuti oleh umat Islam Indonesia lainnya. Hanya saja persoalannya adalah perubahan sikap tersebut terjadi karena tumbuhnya kesadaran berbangsa sebagaimana yang terjadi pada warga NU atau sekadar basa-basi karena demi keuntungan politik. Dengan kata lain penerimaan pada nonmuslim, pemikiran liberal, keturunan dan eks PKI itu karena semata kalkulasi politik atau karena dorongan semangat kebangsaan yang tulus.

Jika perubahan sikap ini karena semata kepentingan politik, maka tugas NU mendidik bangsa ini masih berat. Karena jejak-jejak perjuangan NU untuk mentransformasi pemahaman ajaran Islam dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara belum terlaksana dengan baik di luar warga NU. Ini merupakan agenda kebangsaan NU yang serius. Ke depan NU perlu mentransformasikan pemahaman keislaman yang paralel dengan kebangsaan yang sudah tertanam kokok di kalangan warga kepada umat lain di luar NU

Agenda berikutnya yang tidak kalah penting adalah merumuskan strategi dakwah yang efektif dan akurat agar pemahaman keagamaan NU bisa diterima oleh umat Islam di luar NU, terutama generasi milenial. Sebagaimana yang terjadi saat ini banyak generasi muda Islam Indonesia yang terpapar pemahaman keagamaan yang tidak sesuai dengan konteks sosiologis kultural bangsa Indonesia sehingga rawan menimbulkan konflik dan perpecahan. Sementara pemahaman keislaman ala manhaji Alussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyyah yang sesuai dengan konteks keindonesiaan justru kurang dipahami oleh generasi muda. Ini merupakan agenda penting NU pada usianya yang ke 93 tahun.

Agenda lain yang tidak kalah penting adalah menata sistem perekonomian yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan warga NU. Sebenarnya NU memiliki kapital sosial dan kultural yang melimpah yang bisa dikonversi menjadi kapital ekonomi (Boudieu, 1986). Proses konversi ini harus dilakukan secara sistemik agar hasilnya bisa dinikmati warga secara keseluruhan tidak hanya dinikmati oleh segelintir elit.

Inilah beberapa tantangan NU ke depan yang harus dijawab dengan merumuskan agenda kerja yang efektif, strategis dan fungsional. Dengan cara ini jejak-jejak kultural perjuangan NU akan semakin jelas terlihat dan terasakan. Dirgahayu NU...!!!


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Tags:
Bagikan:
Jumat 1 Februari 2019 17:30 WIB
Tantangan (Ber)NU di Era Medsos
Tantangan (Ber)NU di Era Medsos
Oleh Wasid

Perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) sudah menapaki usia 93 tahun dan akan memasuki era  satu abad. Sebagai organisasi, tilikan atas pergerakan sejarah NU dengan rentang waktu yang sangat panjang telah mengalami fase-fase penting dan berliku, yang tidak luput dari kontestasi gagasan ideologis hingga konfrontasi fisik. Sebab nyatanya, gagasan tidak berarti apa-apa jika tidak dipertahankan dengan segala tumpah darah sebagai jalan jihad untuk membumikan dasar-dasar Ahllussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam konteks beragama dan berbangsa.

Bisa dilihat sejenak, bagaimana para ulama atau kiai pesantren yang berhaluan Aswaja menyatukan gagasan, sekaligus dengan aksi nyatanya melalui pembentukan Komite Hijaz. Faktanya, pembentukan komite ini bukan tanpa dasar, untuk tidak mengatakan tiba-tiba lahir, melainkan terencana dengan baik sebagai media perlawanan terhadap semua pihak yang tidak mau menghargai perbedaan. Tepatnya perlawanan terhadap rezim Saudi-Wahabi yang tidak menghargai perbedaan pendapat, yakni rezim yang telah menyalahkan semua paham dan praktik-praktik keagamaan Islam Sunni (Aswaja), khususnya. Tidak sedikit situs-situs Islam yang sangat berharga dan disakralkan di kalangan penganut Islam Sunni dihancurkan dengan dalil bid’ah dan syirik.   

Dari Komite Hijaz ini kemudian para pendiri NU mulai memiliki kesadaran akan pentingnya berorganisasi. Kesadaran yang tidak disikapi dengan grusa-grusu, butuh waktu dan petunjuk langsung dari Sang-Khaliq, Allah SWT melalui berbagai istikharah agar proses mendirikan organisasi, bukan sekadar ajang kebanggaan. Tapi betul-betul dalam rangka meneguhkan Islam Aswaja dan berharap mendapat ridha-Nya. Itulah gaya hidup dari para kiai pesantren yang layak diteruskan dalam setiap mengambil keputusan penting; gaya hidup yang mampu mensinergikan gerakan rasional-empirik di satu sisi, dan gerakan spiritual sebagai penyangga keberhasilan di sisi yang berbeda. 

Oleh karenanya, membaca sejarah jamiyah akan teringat bagaimana peran spiritual Syaikhana Kholil Bangkalan dengan sejumlah isyarat simboliknya; tasbih dan tongkat, sekalipun yang bersangkutan tidak sampai menyaksikan berdirinya NU sebab meninggal satu tahun sebelum jamiyah ini lahir. Warisan simbolik dari Syaikhana Kholil adalah kekuatan spiritual bersinergi dalam kesatuan komando yang dialamatkan kepada Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dengan wasilah KH As’ad Syamsul ‘Arifin. Kalimat yang teringat adalah ungkapan ya Jabbar, ya Qahhar.

Sistem komando bersenyawa dengan kekuatan spiritual yang kemudian menempatkan posisi Kiai M Hasyim Asy’ari sangat strategis dan menentukan dalam proses lahir dan perkembangan NU hingga berkah sampai saat ini. Bersama kiai-kiai lainnya, sebut saja di antaranya KH Abd Wahab Hasbullah Jombang, KH Bisri Syansuri Jombang, KH. Ahmad Dahlan Ahyad Kebondalem Surabaya, KH Muntaha Bangkalan (menantu Syaikhana Kholil Bangkalan) KH Asnawi Kudus, KH Ridwan Abdullah Surabaya, KH Mas Alwi ibn Abdul Aziz Surabaya, KH Nawawi Sidogiri, KH Faqih Maskumambang, KH Ma'shum Lasem, KH Nahrawi Thahir Surabaya, KH Hasan Dipo Surabaya, KH Ridwan Semarang, dan lainnya. Hadratussyaikh Kiai Hasyim menginisasi berbagai kegiatan baik dalam konteks wacana hingga aksi untuk membumikan prinsip-prinsip Aswaja NU, sekaligus memperjuangkan kemerdekaan NKRI. 

Pada momentum harlah ke-93 NU yakni 31 Januari 2019, satu hal yang menurut penulis penting untuk direnungkan dan semestinya ditegaskan kembali apalagi di era merebaknya media sosial atau Medsos adalah menggelorakan kembali semangat perlawanan NU. Perlawanan itu harus dalam satu komando sebagai mana diwariskan para pendiri, baik ketika meneguhkan Islam atau meneguhkan NKRI. 

Satu komando itu penting, agar setiap gagasan mampu tereksekusi dengan baik dari satu titik menyebar ke titik pergerakan lainnya. Bukannya para pendiri NU itu tidak ada perbedaan. Mereka menyadari betul bahwa perbedaan jangan menjadi sebab terpecah belah dalam organisasi dan perjuangan, sehingga semua hormat kepada komando Hadratussyaikh Kiai Hasyim.   

NU di Era Medsos
Dalam sejarah NU, meminjam konsep Adonis al-tsawabith wa al-mutaghayirat, setiap generasi memiliki sejarahnya masing-masing dalam merespons fenomena keumatan dan kebangsaan, yang kemudian disebut sebagai yang berubah (al-mutaghayirat). Tapi, ada pula yang tidak boleh berubah atau sebagai al-tsawabit, yaitu semangat nilai perjuangan Aswaja dengan pewajahan aksinya yang mengedepankan moderasi, berkeadilan, dan toleran dalam beramar ma’ruf nahi munkar.  

Karenanya, tantangan ber-NU di era Medsos harus memperhatikan yang tetap (al-tsawabit) dan yang berubah (al-mutaghayirat). Pastinya, gerakan yang dilakukan harus memiliki pondasi yang matang dan kuat dalam rangka meneruskan spirit perlawanan yang diwariskan oleh para pendiri NU. Jamiyah ini lahir untuk bergerak bangkit (al-nahdlah) bukan diam karena perubahan tidak datang dari langit. Tapi harus diciptakan dan digerakan dengan serius. Ini yang kemudian oleh para generasi awal NU berani mempertaruhkan harta hingga nyawa.
   
Apa yang harus dilakukan saat ini? Pertama, berpijak dengan yang tetap (al-tsawabit). Keterbukaan informasi yang gencar di medsos telah menyebabkan pertarungan ideologis dilakukan secara terbuka. Menariknya, jika dulu hanya terjadi antar para tokoh saling berdebat secara terbuka hingga melalui tulisan. Tapi hari ini, semua orang yang tidak suka dengan NU atau tidak suka dengan kepemimpinan tertentu di NU dengan “seenaknya” melakukan kritik. Bahkan kritik itu sampai pada upaya menghina hanya karena perbedaan pendapat dan pilihan politik. Lebih parah lagi, mereka yang tidak memiliki keilmuan yang matang, hanya berdasar pada suka dan tidak suka ikut berkomentar tanpa merasa bersalah dengan hanya mengandalkan kiriman di Medsos dan cukup dengan menyalin, tanpa koreksi apalagi melakukan klarifikasi.

Dalam konteks ini, kader NU tidak boleh diam, apalagi acuh. Pasalnya, di satu pihak, ada proses perusakan akidah dan amaliah di lingkungan NU dengan alasan bid’ah, syirik dan khurafat sebagaimana dilakukan kelompok Wahabi-salafi dan sejenisnya. Di pihak yang berbeda, ada proses delegitimasi kepemimpinan di NU dari alasan hanya ketidak samaan pendapat hingga memang tidak senang, sehingga ada usaha agar NU dijauhi anggota atau jamaahnya. Karena itu, kader NU milenial khususnya, harus keluar kandang untuk melakukan perlawanan opini di dunia maya agar jamiyah ini makin kuat. Sebab hancurnya NU diyakini menjadi jalan hancurnya NKRI. 

Kedua, berpijak dengan yang hal berubah (al-mutaghayirat). Maksudnya, pada konteks gerakan yang dilakukan di NU harus mulai memanfaatkan Medsos di semua lini dari ranting hingga pusat. Prinsipnya, yang lama dipertahankan, tapi yang baru harus digunakan (al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah). Kegiatan rutin amaliah NU dari yasinan, manaqiban, shalawat dan sebagainya di mushalla, langgar, surau, rumah, hingga masjid layak dijaga sebagai bentuk silaturrahim antarnahdliyin, sekaligus penguatan ideologi Aswaja.

Tapi, lebih dari itu, bagaimana seluruh kegiatan yang dilakukan dari ranting hingga pusat dikuatkan dakwahnya melalui media yang marak berkembang di medsos dengan memanfaatkan gawai. Misalnya, setiap kegiatan disebarkan melaui youtobe, facebook, twitter, whatsapp, instagram dan lainnya. Jejaring antargrup bergerak dengan kesadaran bersama untuk melawan agar Medsos jauh dari ujaran kebencian dan hoaks untuk menghancurkan umat, khususnya NU dan bangsa.

Apa yang akan kita lakukan? Melawan atau diam saja sambil menantikan kehancuran NU? Pastinya kita memilih untuk melawan, sebab kehadiran NU semenjak 1926 adalah warisan para kiai sehingga kita sebagai santri dapat bersikap arif menjaga nilai keislaman dengan lokalitas. Bahkan merawat dan menjaga nilai kebangsaan yang menjadi warisan para kiai. 

Akhirnya, spirit perlawanan satu komando yang diteladankan para pendiri NU harus terus digerakkan sesuai era kekinian. Pastinya, perlawanan yang mengedepankan moderasi, toleransi dan beradilan dalam bingkai Aswaja al-Nahdliyah sehingga dalam konteks melawan di Medsos berhasi menjauhkan ujaran kebencian dan hoaks, lebih-lebih kepada NU dan narasi opini yang akan merusak sendi berbangsa.

Semoga  NU terus jaya dan kadernya terus "melek" terhadap realitas terkini agar mampu bergerak strategis dalam meneguhkan Aswaja dan NKRI. Satu komando, jayalah NU dan jayalah NKRI. Selamat harlah ke-93 NU. 

Penulis adalah dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.



Jumat 1 Februari 2019 5:30 WIB
CATATAN HARLAH MUSLIMAT NU (4)
Resolusi Damai Duo Srikandi NU yang Menyejukkan
Resolusi Damai Duo Srikandi NU yang Menyejukkan
Yenny Wahid dan Khofifah (ist)
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Stadion Utama Gelora Bung Karno sudah mulai penuh. Tribun atas, bawah, dan lapangan dipadati jamaah Muslimat NU. Bahkan sampai meluber ke luar stadion. Sekitar jam 06.00 WIB sound panggung sudah berfungsi. Alunan shalawat terus dikumandangkan para jamaah dipandu para pengisi acara.

Sekitar pukul 07.08 WIB, Presiden RI Joko Widodo memasuki stadion GBK disambut dengan lantunan shalawat Thalaal Badru yang dibawakan oleh Tompi, Cici Faramida, Hadad Alwi. Seperti biasa, presiden yang tak berjarak dengan rakyat ini menyalami para jamaah di sepanjang perjalanan menuju panggung. Sampai di panggung langsung dikumandangkan lagu Indonesia Raya. Setelah itu dilantunkan pembacaan ayat suci al Qur'an. Mendung yang menggelayut menambah suasana menjadi teduh dan sejuk.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa khatmil qur'an oleh seorang ulama dari Mesir. Kemudian dilanjutkan dengan sholawat Mahallul Qiyam yang dipimpin oleh Habib Anis Syahab diikuti seluruh jamaah. Suasana yang teduh itu menjadi bertambah syahdu. Beberapa jamaah terlihat meneteskan air mata haru saat dikumandangkan syair "marhaban ya Nural Aini, marhaban Jaddal Husaini". Semua jamaah berdiri seolah menyambut kehadiran Rasul di majlis. Gemuruh lantunan sholawat itu masuk menembus hati, menjadi energi damai di tengah kemeriahan suasana.

Masih dalam keadaan berdiri, selesai melantunkan shalawat Mahallul Qiyam, seluruh jamaah langsung menyanyikan mars Muslimat NU dan mars Syubbanul Wathan. Jiwa nasionalis yang patriotik para jamaah kembali menyala saat menyanyikan lagu karya mbah Wahab Chasbullah.

Syubbanul Wathon adalah lagu yang diciptakan Mbah Wahab untuk membangkitkan jiwa nasionalisme bangsa Indonesia, khususnya para santri. Syairnya dibuat dalam bahasa Arab untuk mengelabuhi pemerintah kolonial Belanda. Karena tidak paham bahasa Arab, Belanda mengira itu lagu qasidah biasa, sehingga bebas dinyanyikan para santri. Setelah merdeka lagu tersebut baru diberi syair dalam bahasa Indonesia.

Ketika Mbah Wahab mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan tahun 1916 dan beliau menjadi salah satu guru (Choirul Anam, 2010) para murid yang akan mulai belajar diharuskan menyanyi lagu Syubbanul Wathan. Melalui lagu ini para santri ditanamkan rasa cinta tanah air dan semangat nasionalisme.

Beginilah cara para kiai menanamkan spirit nasionalisme pada para santri, sehingga pesantren menjadi pusat gerakan kebangsaan sekaligus sebagai lembaga pendidikan alternatif terhadap sistem pendidikan yang dielenggarakan kolonial, sebagimana diakui oleh ki Hajar Dewantoro dan Dr. Soetomo (Ahmad Baso; 2013). Dan hal ini terbukti, sampai sekarang seriap lagu ini dinyanyikan tumbuh gelora nasionalisme di hati, seperti yang terjadi di GBK pagi itu.

Acara dilanjutkan dengan laporan Ketua Panitia yang disampaikan oleh mbak Yeni Abdurrahman Wahid. Dalam sambutannya mbak Yeni menyampaikan perjuangan ibu-ibu Muslimat NU dari pelosok desa sampai kota menuju stadion GBK. Kisah tentang heroisme dan patriotisme kaum ibu membela agama dan bangsanya melalui Muslimat NU.

Menurut Mbak Yenny salah satu kekuatan kaum ibu adalah doa. Menurut mbak Yeni perempuan identik dengan doa. Hari-harinya kerap diisi doa bagi anak, suami dan keluarga. "Hari ini Indonesia beruntung karena perempuan Muslimat NU berkenan meminjamkan energi spiritual mereka, berdoa bagi keselamatan bangsa dan negara" demikian tegas mbak Yeni yang membuat hati para jamaah bergetar.

Selain itu mbak Yeni juga menyanyatakan pentingnya menjaga dan menyebarkan manhaj Ahlussunah Wal Jamaah an Nahdliyyah dengan nilai-nilai tasammuh (toleran), tawassuth (moderat), tawazzun (seimbang) dan i'tidal (konsisten) sebagai artikulasi dari tugas kenabian mewujudkan Islam yang damai, toleran dan penuh rahmat. Neneguhkan aswaja berarti menguatkan bangsa bahkan menguatkan dunia. Dengan tegas mbah Yeni menyatakan: "Muslimat NU memiliki peran penting dalam meneguhkan Aswaja an-Nahdliyah, aku bangga jadi Muslimat NU"

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Ketua Umum Muslimat NU, ibu Khofifah Indar Parawansa. Di hadapan presiden dan jamaah Khofifah menyampaikan bahwa perjalanan panjang ibu-ibu Muslimat NU menuju GBK menjadi lebih cepat dan mudah berkat pembangunan infrastruktur jalan yang dibangun pemerintah. Perjuangan Muslimat memang masih berat tapi menjadi semakin mudah dengan tersedianya infrastruktur yang lebih memadai. Menurut Khofifah perjuangan berat Muslimat NU saat ini adalah melawan fitnah, caci maki, ujaran kebencian dan hoaks (berita bohong).

Berbagai fitnah dan hoaks yang beredar bebas di media sosial saat ini bisa merusak persaudaraan yang mengancam keutuhan bangsa. Untuk itu Muslimat NU bertekad melawan berbagai macam bentuk hoaks dan fitnah. Tekad ini kemudian diwujudkan dalam bentuk deklarasi anti hoaks yang diikuti oleh seluruh anggota Muslimat NU yang hadir di GBK.

Deklarasi yang terdiri dari empat point itu diantaranya berisi tekad Muslimat NU, Menolak hoaks, fitnah, dan ghibah yang dapat memicu perselisihan dan perpecahan bangsa. Kedua, Muslimat NU bertekad tidak akan membuat dan menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian, fitnah, dan gibah; ketiga Muslimat NU akan membudayakan menyaring sebelum menyebar informasi yang diterima; keempat selalu berfikir positif untuk menguatkan ukhuwah dan persatuan bangsa.

Sembutan duo Srikandi NU itu seperti resolusi damai yang menggetarkan hati dan menyejukkan jiwa siapa saja yang mendengarnya. Di tengan keretakan bangsa, seruan itu seperti benang perajut yang menyatukan serpihan hati yang retak. Kedua srikandi NU itu sepertinya tengah menjahid Negeri ini dengan benang Aswaja an-Nahdliyah. Semoga bangsa ini bisa kembali utuh dan tentram, tak ada yang merobek-robek lagi hanya karena perbedaan pemikiran dan kepentingan. (bersambung)


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Kamis 31 Januari 2019 21:50 WIB
CATATAN HARLAH MUSLIMAT NU (3)
Bahagia dalam Keberagaman
Bahagia dalam Keberagaman
Harlah ke-73 Muslimat NU di GBK
Zastrouw Al-Ngatawi

Karena sound system dimatikan, panitia kesulitan mengarahkan massa yang makin banyak berdatangan. Padahal mereka perlu petunjuk menuju tribun sesuai zona masing-masing, apalagi dalam susana lantai licin dan banyak orang-orang sepuh dari daerah yang belum mengenali medan Stadion Gelora Bung Karno.

Menghadapi situasi demikian, mas Fariz (suami Mbak Yennny Wahid), mas Dani Pete dan beberapa orang berupaya mencari alternatif atas arahan Mbak Yennny sebagai keterangan Panitia. Untunglah mas Dani Pete cukup mengenal seluk beluk GBK sehingga dengan cepat menemukan sound system GBK sebagai alternatif. Secara spontan, mas Fariz memerintahkan saya menjadi petugas dadakan mengendalikan dan mengarahkan massa menggunakan sound system GBK.

Dari ruang sound system saya dapat melihat suasana lapangan secara bebas. Posisi ruang ini memang sangat strategis kerena didesign untuk mengendalikan massa. Semua sudut lapangan terlihat jelas dari ruangan ini. Melalui sound system GBK saya bisa mengarahkan jamaah dan mengajak mereka shalawatan. Acara shalat Subuh, dzikir, khatmil Qur'an dan doa akhirnya dilakukan menggunakan sound system GBK

Setelah selesai shalat Subuh, tiba-tiba suasana stadion berubah dari gelombang putih kembali menjadi hijau. Suara dzikir, doa dan diteruskan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an kembali bergema menembus udara dingin pagi dan rintik hujan yang sudah mulai reda. Para petugas kembali bekerja menata panggung dan sound system yang habis kena hujan. Ribuan santri Pesantren Asshiddiqiyah yang menjadi 'pasukan semut' (tim sapu bersih sampah) mulai belerja memunguti sampah di lapangan. Kekompakan, gotong royong dan suasana kebersamaan terlihat jelas dalam momen ini.

Mbak Yenny sebagai Ketua Panitia sibuk memberikan arahan para petugas lapangan. Bahkan beliau naik ke ruang operator sound system di lantai atas GBK untuk memantau situasi dan memberikan arahan. Sedangkan ibu Khofifah Indar ParawaNgsa sebagai Ketua Umum Muslimat NU, mempersiapkan kedatangan para tamu undangan. Suatu kerja sama yang padu dan kompak dari para Srikandi NU.

Setelah shalat subuh masih turun gerimis namun sound system panggung sudah berfungsi. Gerimis berhenti total bersamaan dengan hadirnya ibu Sinta Nuriyah Andurrahman Wahid di Arena GBK. Para tamu undangan VVIP dan VIP mulai berdatangan. Massa jamaah juga terus mengalir memasuki pintu stadion memenuhi tribun atas.

Di antara kerumunan massa, tampak melenggang dengan santai serombongan biarawari Katholik di atas karpet merah depan panggung utama. Wajahnya sangat ceria, tak menampakkan raut ketakutan atau tekanan. Mereka tersenyum ramah dan bertegur sapa secara akrab dan hangat dengan para jamaah lain.

Kemudian mencari tempat duduk di antara jamaah. Selain rombongan biarawati, hadir juga para tokoh agama lain. Para seniman dan budayawan juga hadir. Bimbim dan Ivan Slank ikut shalat subuh berjamaah dan dzikir. Tompi, Addie MS, Cici Faramida, Hadad Alwi semua hadir. Suatu keadaan yang sangat menarik dan penuh makna.

Apa yang terjadi mencermikan komitmen NU dalam merawat keberagaman menjaga NKRI. Para ulama dan kiai NU tahu betul hujjah keagamaan dan ketentuan syariat untuk melakukan hubungan sosial dalam masyarakat yang beragam. Beliau-beliau tahu betul mana yang ritual ibadah yang tidak bisa dicampur dan dimasuki agama lain, dan mana aspek kultural sosial sebagai momentum untuk merajut keberagaman dan kebersamaan yang bisa dilakukan bersama orang lain. Inilah yang menyebabkan NU selalu menciptakan ruang-ruang publik yang bisa mempertemukan berbagai perbedaan melalui berbagai momentum kultural.

Bagi NU, hidup rukun, damai dan tentram adalah hal penting dalam kehidupan. Karena dalam suasana yang damai dan tenteram ummat Islam bisa menjalankan syariat Islam dengan baik. Dengan kata lain, ketenteraman dan kedamaian menjadi washilah dalam menjakankan syariah Islam. Inilah yang menyebabkan NU memandang kelompok lain sebagai saudara sehingga melahirkan konsep ukhuwah wathoniyah dan ukhuwah basyariyah.

Di mata NU orang yang beda agama tetap dianggap sebagai saudara sebangsa jika mereka warga bangsa Indobesia. Mereka tak pernah dianggap musuh yang harus dimusuhi, dicaci maki dan dikafir-kafirkan. Ada cara yang lebih beradab dan lebih berakhlak sehingga tidak menyakitkan hati orang lain untuk menyikapi perbedaan.

Cara pandang inilah yang membuat NU selalu bisa berbagi bahagia dengan orang lain yang berbeda tanpa harus kehilangan prinsip dan akidah. NU menjaga akidah dengan cara berbagi bahagia pada sesama bukan dengan cara intimidasi dan provokasi yang membuat orang lain ketakutan sehingga harus bikin statemen pura-pura mendukung dan hadir dalam suatu acara meski diundang sevara resmi. Dalam rangka berbagi bahagia inilah Muslimat NU mengundang saudara sebangsa untuk hadir ke GBK merayakan ulang tahunnya yang ke-73.

Inilah cara warga NU menjalankan ajaran agamanya, berbagi bahagia pada sesama. Bukan dengan menebar ketakutan pada orang lain yang sebenarnya cermin ketakutannya sendiri pada orang lain. Dan peringatan Harlah Musliman NU ke-73 di GBK pada Ahad, 27 Januari 2019 adalah momentum bahagia bersama dalam keberagaman. Beragamah yang enak tapi jangan seenaknya. (Bersambung) 


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG