IMG-LOGO
Wawancara

NU Sekarang Bisa Berperan Lebih Banyak

Ahad 3 Februari 2019 18:0 WIB
Bagikan:
NU Sekarang Bisa Berperan Lebih Banyak
Prof Muhammad Machasin
Nahdlatul Ulama telah genap berusia 93 tahun. Tujuh tahun lagi, organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari ini bakal berusia satu abad. Era Reformasi yang sudah berlangsung 20 tahun membuat demokrasi Indonesia terus berkembang. Lebih terbukanya akses dan kebebasan bersuara di tengah publik memberikan peluang dan tantangan tersendiri bagi NU. Terlebih dengan adanya media sosial, orang-orang semakin lebih mudah menyuarakan pelbagai hal.

Tahun 2019 yang menjadi perhelatan akbar politik Indonesia dengan adanya Pemilu juga memberi warna lain. Orang-orang dengan berbagai latar belakang organisasi dan ideologi berebut untuk dapat mengambil peran di tengah bangsa yang multiragam ini. Tak terkecuali Nahdliyin.

Kontributor NU Online Syakir NF berhasil menemui Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof Muhammad Machasin saat Konsolidasi Organisasi Jelang Satu Abad NU yang digelar di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, pada Kamis (31/1).

Bagaimana Prof Machasin melihat NU saat ini?

NU karena jumlah anggotanya yang banyak dalam sistem demokrasi ini menjadi seksi untuk dimanfaatkan suaranya. Tetapi, NU juga tidak mudah ditarik-tarik. Dibandingkan zaman Orde Lama dan Orde Baru, NU jauh lebih berperan sekarang. Dulu berperan, tetapi karena suasana sosial, politik, dan budayanya membuat NU belum bisa berperan besar. Tetapi beberapa tokoh NU berperan besar, ada Kiai Wahab, Kiai Saifuddin Zuhri dan lain-lain.

Kenapa sekarang bisa berperan lebih besar?

Sekarang NU sudah banyak orang yang terpelajar. Mereka mempunyai skill menangani hal-hal di luar agama. Maka sekarang, NU lebih berpotensi untuk bisa berbuat lebih besar untuk kepentingan bangsa.

Memang masih terserak-serak. Kadang-kadang terdengar pikiran yang berbeda, omongan yang miring, ya itu dinamika saja karena NU kan lebih banyak orang yang amal ibadahnya mirip-mirip. Kalau kita lihat orang-orangnya, kita bisa lebih memberikan harapan.

Lalu apa tantangan NU saat ini?

Tantangan yang pokok menurut saya adalah pembinaan ke dalam. Ke luar, orang akan mencari. Tapi ke dalam, apa yang membuat kita ini NU. Ini sebetulnya yang perlu ditanya. Sebagian orang mungkin sudah tahu seperti memperkuat wasathiyah dan sebagainya. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Di dalam NU, ada yang melihat ke-NU-annya itu dari ibadah, seperti qunut, tarawih 20 rakaat. Saya kira itu sudah tidak cukup lagi untuk mengatakan siapa orang NU.

Mestinya bagaimana, Prof?

Mungkin perlu dirumuskan dengan baik. NU dalam beragama itu cukup lentur. Tidak mudah mengatakan bid'ah, haram, bisa toleran terhadap orang yang berbeda, percaya pada proses, tidak mengatakan ini salah dan seterusnya. Walaupun ada orang NU yang tipenya berbeda, mengatakan ini salah dan sebagainya. Tapi umumnya orang NU itu adalah moderat di dalam beragama. Ini yang perlu dirumuskan lebih baik karena moderasi itu berkembang, tergantung suasananya. Di tempat yang banyak sekali beribadah, mungkin moderasinya berubah. Mungkin di tempat lain yang pilihannya pada pluralistik mungkin berbeda lagi.

Apa harapan Prof terhadap NU ke depan?

Sulit rasanya mengatakan harapan karena saya juga terlibat di dalamnya. Tapi ya seharusnya NU bisa berperan lebih banyak. Bagaimana NU bisa memegang kembali peran penyampai Islam kepada masyarakat banyak. Jangan sampai NU terlalu pinggir. Kita harus berebut ke tengah dan menyampaikan pesan ke-NU-an.
Tags:
Bagikan:
Jumat 1 Februari 2019 15:15 WIB
HARLAH KE-93 NU
Kiai Said Aqil Siroj: NU Organisasi Wahyu dan Akal
Kiai Said Aqil Siroj: NU Organisasi Wahyu dan Akal
NU didirikan para kiai pesantren di Surabaya pada 31 Januari 1926 M sebagai respon atas situasi yang berkembang di dunia internasional dan lokal. Terutama respon terhadap situasi cara beragama yang antimazhab dan penghakiman bid'ah pada tradisi yang baik yang berkembang di masyarakat serta respon atas penjajahan Belanda. 

Para kiai tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan terhadap kelompok yang membid'ahkannya serta melawan penjajahan Belanda. Namun, pergerakan mereka tidak terorganisasi secara rapi dan serentak. Atas dasar itulah mereka menamakan organisasinya nahdlatul berasal dari kata nahdlah sebagai kebangkitan yang berkelanjutan. Mereka tidak menapikan dan merasa terputus dari pergerakan kiai sebelumnya, melainkan melanjutkan. Dan kebangkitan tersebut tidak hanya sesaat, tapi berkelanjutan. Sementara kata ulama, adalah bentuk yang mendeskripsikan kalangan mereka sendiri yaitu para kiai yang merupakan para ahli waris nabi dari sanad yang jelas dan tersambung.  

Tahun ini NU memasuki usia 93 tahun. Tidak banyak organisasi yang bisa bertahan hampir seratus tahun yang mampu mempertahankan prinsip dan cita-cita para pendirinya. Bahkan NU terus berkembang melewati berbagai macam rezim dengan situasi zaman yang berbeda. Bahkan NU pernah berganti status dari organisasi keagamaan murni menjadi partai politik. Lalu kembali ke khittahnya, sebagai organisasi keagamaan yang mengembangkan pemberdayaan ekonomi, intelektualitas, pendidikan, bahkan kesehatan. 

Lalu bagaimana gambaran umum organisasi ini saat ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (29/1). Berikut petikannya:

Pak Kiai bisa refleksi harlah ke-93 NU?
Banyak sekali yang sudah kita hasilkan, banyak juga yang belum kita hasilkan. Pada periode kepengurusan saya sudah 31 perguruan tinggi, 6 rumah sakit di bawah NU, adanya Hari Santri, adanya tema Islam Nusantara yang sudah mendunia yang mana saya berpidato di luar negeri tentang Islam Nusantara di Amerika dua kali, di Hong Kong, Taiwan, China, Korea Selatan, Jepang, Mesir saya sampaikan Islam Nusantara. Di Hong Kong seusai ceramah dua orang masuk Islam. Di Jepang 16. 

Apa sebetulnya yang membuat NU bisa bertahan 93 dan terus bekembang? 

Karena moderat. Moderat itu pasti akan langgeng. Tidak eksklusif. Moderat itu artinya mampu menggabungkan antara agama dan wahyu dan akal, antara wahyu dan budaya, antara wahyu dan tradisi, antara wahyu dan kehidupan kita sehari-hari, moderat namanya. Kalau wahyu saja, jumud minimal. Kalau akal saja, budaya saja nanti, akan kering, sekuler, liberal, liar, atau abangan. 

Bisa disebutkan kontribusi NU untuk bangsa? 

Sangat banyak sekali. Sudah tidak ragu, dalam empat pilar dari pusat sampai ranting, sampai kiai-kiai kampung semuanya NKRI, semuanya pancasilais. Semuanya mengajak; kita kiai NU, kiai pesantren, kiai ranting, kiai mushala, semua, sudah paham itu semua. Walaupun tidak bisa menjabarkan apa itu nasionalisme, apa itu Pancasila, tapi semua punya kekuatan prinsip bahwa Indonesia, Pancasila Undang-Undang Dasar 45, sudah final. Kiai kampung pun semua begitu, walaupun kalau menjelaskan tidak mengerti. 

NU juga mengambil peran-peran internasional mulai dari saat didirikan dengan membentuk Komite Hijaz, dilanjutkan  Gus Dur dan dilanjutkan Pak Kiai? 

Globalisasi sekarang sudah memasuki era 4.0. Itu sudah ketinggalan tuh karena sekarang Jepang sudah 5.0 karena memasukan central humanity. Kemanusiaan masuk dalam teknologi. Itu kan artinya kembali ke agama. Kembali ke NU, ke wisdom. Kalau ada agama mesti ada wisdomnya. Kehidupan ini ada wisdom. Jadi nilainya agama. Dalam kehidupan harus ada wisdom. Central humanity itu kembali ke agama. Kemarin 4.0 seakan-seakan meninggalkan hal spiritual, murni teknologi sebagai puncaknya. 5.0 sekarang di Jepang sudah mulai. Teknologi sudah mentok, maka harus ada central humanity. Moral juga masuk itu ya.

Posisi NU untuk berperan di kancah internasional itu bagaimana? 

Bisa. Kita mampu. Kita mempunyai kapital sosial yang sangat besar. Kita bisa mengikuti perkembangan zaman. Tidak akan ketinggalan karena kita moderat. Nah, di situ, pentingnya moderat. Kalau kita berhenti pada satu titik jumud, apalagi radikal ekstrem itu tidak akan berkembang.

NU memiliki cabang istimewa di banyak negara. Untuk membantu NU peran internasional NU, apa yang bisa dilakukan mereka?

Kita harus mampu berdialog, berlogika, kita harus membantu menyampaikan alasan-alasan yang rasional mengajak orang lain, minimal memahami NU. Minimal. Syukur-syukur didukung, atau memeluk, atau NU, di dunia internasional. PCI-PCI harus menjadi duta luar biasa untuk menyampaikan Islam Nusantara. 

NU kan organisasi ulama, berarti organisasi yang mengedepankan intelektualitas. Ada seorang tokoh yang mengatakan NU akan panen kaum intelektual dalam jumlah banyak. Apa saat ini sudah kelihatan?

Sekarang ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, red) sekarang mengumpulkan 714 profesor doktor. Kalau tidak profesor sampai 15000, doktor saja, belum profesor. 

Ketika dulu masih baru merdeka, kiai-kiai NU masih sangat anti apa pun yang berbau Belanda, bahasanya, agamanya, kebudayaannya, ilmunya; nah ini salah nih. Ilmunya pun yang datang dari Eropa waktu itu, kiai-kiai NU menolak karena rata-rata kiai itu pernah disakiti, ada yang dibunuh bahkan oleh penjajah. Di situlah sikap nonkoperasi kiai-kiai. Sekarang mulai terbuka, generasi sudah berganti dan jauh dari kesan negatif dari penjajah, maka pintu sudah terbuka, kebutuhan kita dituntut untuk menguasai teknologi. 

Ayah saya itu, satu kata pun bahasa Belanda, tak mengerti, satu kata saja, bukan tak mengerti, enggak ingin mengerti, makan dalam bahasa Belanda pun tidak mengerti, saking bencinya. Bayangkan waktu itu, orang Kristen sudah ada yang doktor itu. Bapaknya Marsilam Simanjuntak itu sudah doktor masih zaman Belanda. Ayah saya anti-Belanda. Satu kata bahasa Belanda tak ingin tahu. Enggak mau tahu. Benci budayanya, pakaian, celananya, dasi, benci, sampai haram hukumnya. 

Berarti NU bisa melakukan percepatan? 

Nah, iya, ya. Waktu Gus DUr presiden saja mencari teknokrat itu masih sangat-sangat susah. Sekarang alhamdulillah 

Selasa 29 Januari 2019 23:15 WIB
Kiai Manan: Koperasi Masjid Terinspirasi Wasiat Sunan Gunung Jati
Kiai Manan: Koperasi Masjid Terinspirasi Wasiat Sunan Gunung Jati
Ketua PBNU KH Abdul Manan A. Ghani
Masjid merupakan tempat paling vital bagi umat Islam. Selain sebagai tempat beribadah, dari masjidlah Islam membangun peradaban, pusat pendidikan, menyusun strategi politik, bahkan perekonomian. Namun saat ini, terutama dalam hal perekonomian, seolah terpisah dari masjid. Seolah-olah masjid hanya berfungsi sebagai tempat tempat beribadah dan berdoa. 

Ketua PBNU yang menangani bidang dakwah dan masjid, KH Abdul Manan A. Ghani merupakan salah seorang yang memiliki konsentrasi terhadap pengembangan bidang masjid. Ia pernah menangani Lembaga Takmir Masjid PBNU selama satu periode. Pada masa dai relatif berhasil membangun persepsi warga NU bahwa masjid bukan hanya tempat beribadah, tapi juga pergerakan ekonomi. Dari 2010 hingga 2015 ia berkampanye tujuh aksi masjid. 

Hal yang mendasari gagasan Kiai Manan itu tiada lain dari sejarah Islam Indonesia. Menurut dia, ketika Islam masuk di Nusantara yang dibawa para ulama, aulia, mereka mendesain masjid menjadi dua ruang. Ada ruang dalam atau ruangan inti yang berfungsi untuk shalat, munajat, i’tikaf, wiridan, zikiran. Kedua, ada ruangan di luar yang terdiri samping kanan dan samping kiri, serta ruangan depan. Ruangan kedua inilah yang bisa digunakan untuk aktivitas membangun pergerakan ekonomi. 
 
Menurut Kiai Manan, ketika ekonomi terbangun dari masjid, maka wasiat Sunan Gunung Jati Syekh Syarif Hidayatullah akan terpenuhi sekaligus. Ia kemudian mengusulkan untuk membentuk Koperasi Masjid Nusantara. 

Untuk mengetahui gagasannya, Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarainya, di Gedung PBNU awal Januari ini. Berikut petikannya:

Apa latar belakang Koperasi Masjid Nusantara?

Masjid itu, pusat pemberdayaan umat. Pusat umat Islam membangun peradaban sejak awalnya. Itu seperti itu. Kemudian masjid ketika Islam masuk di Nusantara ini dibawa para ulama, aulia, kemudian desain masjid itu ada dua. Ada ruang masjid untuk hablum minallah dan ruang hablum minan nas. Makanya ruangan dalam, ruangan inti untuk shalat, munajat, i’tikaf, tahiyatul masjid, wiridan, zikiran, di dalam. Yang di luar itu ada ruangan hablum minan nas. 

Ruangan ini ada samping kanan dan samping kiri, dan depan. Dari dulu ketika kita kecil, masjid desa, isinya seperti itu. Itu masjid gaya wali seperti masjid Sunan Gunung Jati, Masjid Sang Cipta Rasa dibangun di Cirebon, itu ruangan yang inti malah kecil, yang besar itu malah yang di luar, kanan, kiri, depan. 

Itulah, masjid didesain ada yang untuk hubungan dengan Allah, dan untuk hablum minan nas, hubungan dengan manusia. 

Sunan Gunung Jati sendiri berwasiat, ingsun titip tajug lan fakir miskin. Saya titip masjid dan fakir miskin. Artinya apa, saya titip makmurkan masjid dan makmurkan yang masih miskin. Itu lho. Berdayakan yang miskin. Itu yang terngiang-ngiang ketika saya diamanati sebagai Ketua Lembaga Takmir Masjid PBNU wasiat Sunan Gunung Jati, tajug dan fakir masjid. Karena itu, kita gerakkan. 

Di dalam Al-Qur’an satu ada ayat memakmurkan masjid, dan memakmurkan bumi. 

Jadi, di dalam Al-Qur’an, ayat menyuruh memakmurkan itu terkait dengan masjid dan bumi? 

Ada ayat: 

… إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya, 
Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain Allah, maka merekalah yang termasuk golongan orang-orang yang selalu mendapat petunjuk (dari Allah Ta’ala)” (QS At-Taubah: 18).

Ada ayat 
هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَٱسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا

"Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya." (Hud: 61)

Nah, memakmurkan bumi kan harus dengan ekonomi, pembangunan, infrastruktur. Kalau tak ada infrastruktur, tak makmur. Jadi salah kalau orang tidak membutuhkan infrastruktur. Makmurnya bumi dengan infrastruktur. Kalau tak ada jalan, mana ada kemakmuran di situ. Infrastruktur itu perintah Allah, 

Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya

Siapa yang tak butuh infrastruktur? Ada lapangan pesawat terbang, jalan tol, jalan tembus, ada pasar, itu infrastruktur. 

Tadi dua pesan Sunan Gunung Jati, bagaimana?

Ya, berawal dari dua amanat Sunan Gunung Jati, ingsun titip tajug lan fakir miskin. 

Nah, memakmurkan masjid dalam konteks zaman Sunan Gunung Jati dengan sekarang kan berbeda. Bagaimana kalau dengan sekarang? 

Aplikasinya, jamaah masjid itu kan ada yang kaya ada yang miskin. Makanya di LTM PBNU memaysarakatkan Gismas (Gerakan Infak Sedekah Masjid, red.) itu untuk memakmurkan masjid dan jamaahnya, dan masyarakatnya. Apa, mengisi kencleng di rumah-rumah, bikin jimpitan di rumah-rumah, kaleng yang setiap hari diisi oleh rumah di sekitar masjid yang recehan. Kalau satu masjid 300 kaleng, maka, kalau seribu satu rumah, berapa sebulan, bisa 9 juta. Itu untuk marbot, guru ngaji, makmur enggak masjidnya? Makmur. Di masjid daerah saya, dipraktikkan. Itu udah jalan 100 kaleng, 6 juta sebulan, 100 jamaah. 

Berjalan berapa tahun?

3 atau 4 tahun, sejak saya jadi pengurus LTM.

Resep sosialisasi bagaimana? 

Datang saja ke masjid saya. Yang sudah berjalan di Tenjo, Bogor, di Indramayu, di Brebes itu ada satu masjid yang tiap bulan 26 juta lho. 

Itu resepnya apa? 

Istiqomah, rahasianya di pengelolaan, ujung-ujungnya di manajemen, transparan. Transparansi dilakukan tiap Jumat, di Brebes itu di Desa Sawojajar, udah 26 juta sebulan. Ada yang 10 juta, ada yang 16 juta, macam-macam. Itu distribusinya macam-macam, untuk marbot, imam rawatib, guru ngaji, untuk santunan kematian, beli air mineral, santunan yatim piatu setahun sekali, yang satu lagi untuk pegel, pengusaha golongan ekonomi lemah. 

Lalu bagaimana dengan koperasi Nusantara?   

Ya beda, nanti ke depan berharap kita ini gerai-gerai masjid. Ada Komasnu, Kopi Masjid Nusantara, kita ngopi di situ. Kita sediakan kopi bid’ah, ada kopi jahe, hehe…



Selasa 1 Januari 2019 7:0 WIB
Peneliti Jepang: Islam Nusantara Tetap Islam Asli
Peneliti Jepang: Islam Nusantara Tetap Islam Asli
Islam Nusantara yang menjadi tema muktamar NU ke-33 di Jombang Jawa Timur pada 2015 seperti tak sepi dibicarakan banyak orang. Ada yang menolak, tak sedikit pula yang menerima. Bagi PBNU yang menolak itu karena salah paham karena sebenarnya tidak ada perbedaan ajaran Islam Nusantara dengan Islam Ahlussunah wal Jamaah atau Islam rahmatan lil alamin. 

Dalam berbagai kesempatan, KH Ma'ruf Amin saat menjadi Rais Aam PBNU mengatakan bahwa Islam Nusantara adalah Ahlussunah wal Jamaah. Hanya mengganti kulitnya saja. Tidak ada yang berubah dari ajarannya. Tidak ada yang berbeda dari cara beribadahnya. 

Ternyata Islam Nusantara menjadi perhatian dari peneliti asing. Salah satunya dari Jepang yaitu Hisanori Kato yang bisa berbahasa Indonesia. Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai profesor di Faculty of Policy Studies di Chuo University saat berkunjung ke PBNU, Kamis (27/12). Berikut Petikannya: 

Menurut Anda bagaimana Islam Nusantara itu? 

Saya bukan seorang yang menilai, tapi saya ingin observasi.

Bagaimana hasil observasinya? 

Judul paper saya, Religion and Locality, agama dan lokalitas. Minat saya adalah bagaimana agama yang ajaran asli itu masih bisa tetap asli di tempat lain pada zaman lain. Contohnya kalau agama Buddha di India dan di Jepang. Bagaimana pengaruh lokalitasnya apakah ada pengaruh dalam ajaran kalau waktunya berbeda, tempat berbeda, makna agama berbeda, berubah atau tidak. Itu pertanyaan saya. Kalau begitu, saya punya ide, saya punya teori religion dan organism, walaupun agama sendiri itu tetap ada ajaran yang sesungguhnya di akar, tetapi di dalam agama Islam ada beberapa pembagian yang dipengaruhi oleh kondisi sosial, kondisi politik, ekonomi, apa saja. 

Karena itu, kelihatannya berbeda, tetapi masih tetap Islam. Itu observasi saya. Di dalam Islam Nusantara, keaslian Islam tidak hilang, melainkan keaslian Islam sangat ditekankan. Ada banyak orang yang menjelaskan hubungan Wali Songo dan Nabi Muhammad. Itu asli. Tetapi kadang-kadang agama di dalam teori saya, Islam dan organism atau religion and organism; agama sebagai organism itu bisa terjadi kelihatannya sedikit berbeda seperti tahlilan itu. Tapi itu masih tetap. Tapi kelihatannya, itu tidak terjadi di Arab Saudi. Orang salasfis di sini tidak mau kan. 

Dengan tahlilan, keaslian Islamnya masih terjaga? 

Iya, kalau menurut saya. Karena ajaran agama Islam sesungguhnya ada itu misalnya memelihara perdamaian, menghormati manusia itu kan tetap sama. 

Kenapa Islam Nusantara menjadi perdebatan dan ditolak kalangan salafis? 

Di dalam agama, menurut saya, ada dua kelompok, ada dua aliran. Yang satu adalah mungkin saya sebutkan itu sebagai masyarakat Islam yang ideological. Tapi ini adalah masyarakat yang pada zaman Nabi Muhammad. Ada banyak orang yang ingin mengembalikan kehidupan seperti yang dulu seperti sama. Tapi mereka belum berhasil. Mereka berjuang membuat masyarakat yang lalu pada zaman Nabi Muhammad. Itu yang berkaitan dengan teologi, literalis, apa saja yang ditulis di dalam Al-Qur’an atau hadits itu mereka sangat taat, sangat ingin dipelihara. 

Pada saat yang sama ada kelompok lain yang saya sebut muslim society atau masyarakat Muslim. Muslim adalah manusia. Manusia itu fleksibel, mereka mudah dipengaruhi oleh kondisi sosial. Saya kira, Gus Dur adalah seorang yang dari masyarakat Muslim society atau masyarakat Muslim. Tetapi di dalam Islam secara utuh, di sini ada bagian masyarakat Islam di sini juga masyarakat Muslim, dua-duanya tetap masih ada di dalam Islam yang secara utuh. Dua bagian itu bukannya terpisah seratus persen. Tidak. 

Tapi kalau dari sudut pandang saya dari sudut sosial antropologis, ada dua kelompok itu sangat alami karena agama secara utuh itu biasa, ada di mana-mana, itu terjadi. 

Kelompok yang ingin menerapkan ajaran sama persis di zaman Rasulullah itu bagaimana dalam pandangan sosial antropologis? 

Itu fenomena biasa. Ada dimana-mana. Di Jepang juga ada orang yang seperti orang fundamentalis di sini. Di Jepang, ayah punya anak perempuan harus kembali sebelum jam sembilan. Banyak itu. Mereka seperti itu, sangat ingin seperti masa lalu. Seratus tahun lalu, perempuan seperti itu. Masih banyak. Dalam apa saja ada. Karena itu, menurut saya, dua-duanya alami bagi saya, dari sudut pandang sosial antropologi. 

Bagaimana kalau yang satu menyalahkan yang lain? 

Bagaimana? 

Misalnya satu kelompok menyalahkan kelompok Muslim yang melakukan tahlilan? 

Tidak bisa memutuskan seperti itu. Saya tidak tahu karena saya bukan orang yang bisa memutuskan semuanya. Fenomena-fenomena seperti itu dalam kajian saya adalah alami. Kalau saya diminta menjelaskan agama Islam secara utuh saya akan menjelaskan seperti itu. 

Seorang teroris itu, bukan representasi dari masyarakat Islam karena sangat didasari oleh pemikiran pribadi itu. Tapi kalau bagian dasar itu, yang benar itu, asli ajaran Islam, tidak membolehkan aksi terorism karena itu mereka, yang terorism itu, bukannya dari masyarakat Islam. 

Dari hasil penelitian Anda tentang Islam Nusantara, itu apa kesimpulannya atau paling tidak definisinya? 

Islam Nusantara adalah fenomena agama yang sangat alami dan Islam Nusantara adalah ide yang sangat penting untuk memelihara kebaikan Islam juga. Tapi Islam Nusantara pada saat yang sama masih mungkin dipengaruhi oleh politik juga. Islam Nusantara adalah fenomena yang bisa membantu kerukunan di Indonesia atau mungkin di dunia. Kalau saya rasa begitu kalau saya harus berikan definisi.  

Kenapa sampai mendeskripsikan Islam Nusantara untuk Indonesia dan dunia?

Karena sesedikitnya dalam Islam Nusantara Anda menekankan kepentingan kebudayaan lokal. Karena kalau Anda salafis atau orang yang apa saja, seperti fundamentalis Buddha, Kristen, mungkin agak lebih tertutup terhadap apa yang berkaitan dengan perilaku sosial. Tapi kalau orang-orang yang menerima Islam Nusantara agak lebih terbuka terhadap kebudayaan lokal. Karena itu saya kasih judul paper saya, Islam Religion and Locality. 

Menurut Anda, gagasan Islam Nusantara turut serta untuk mendamaikan dunia, aktor-aktor pengusungnya harus bagaimana? 

Mungkin yang harus menyampaikan asli pemikiran Islam Nusantara, harus menyampaikan kepada orang lain, termasuk non-Muslim karena ada banyak salah paham mengenai Islam di luar umat Islam. Karena itu, Anda harus memberi tahu bahwa ada banyak orang yang sangat menghargai kebudayaan lokal, fleksibilitas juga. 

Apakah Anda mengetahui pakar lain yang berkomentar tentang Islam Nusantara?

Mungkin ada, tapi saya tidak tahu. Tapi banyak orang, Indonesianis yang berminat melihat ini dari sudut pandang politik misalnya, tetapi saya melihatnya dari sudut pandang sosial antropologi. 

Banyak itu dari mana? 

Ada banyak. 

Dari mana saja? 

Iya, saya kira. Mungkin ada banyak orang. Mungkin mereka melihat  Islam Nusantara, iya, karena saya tidak melihat Islam Nusantara itu dari sudut benar yang lain terbalik, saya tidak, tapi saya melihat fenomena. Tapi banyak orang di luar Islam cenderung berpikir menekankan ini yang benar. Banyak orang yang bilang bahwa Islam Nusantara, Islam yang benar, good Islam. Tapi saya tidak bilang begitu. Islam Nusantara itu bagus untuk moderate Islam dan sebagainya. Tapi itu fenomena umat Islam secara utuh. 

Setahu saya sikap orang-orang yang mengakui Islam Nusantara begitu jelas terhadap kelompok minoritas terhadap LGBT, Ahmadiyah, Syiah dan sebagainya. Belum ada deklarasi secara resmi. Bagi saya belum jelas. Bagi saya ada perbedaan pendapat-pendapatnya antara ulama-ulama itu tentang minoritas karena ada toleransi di dalam Islam Nusantara. Toleransi kepada kebudayaan lokal itu yes, sangat toleran. Tapi toleransi terhadap untuk minoritasnya, menurut saya, kurang jelas. Ada perdebatan mungkin. Ulama-ulama mungkin beda-beda kan. Kalau saya tidak salah, Pak Ma’ruf ini dulu mengeluarkan fatwa LGBT dari MUI. 

Ada usul untuk pengembangan Islam Nusantara ke depan? 

Terserah. Saya tidak tahu.    


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG