IMG-LOGO
Opini
CATATAN HARLAH MUSLIMAT NU (6-HABIS)

Militansi dan Dedikasi Tiada Henti

Senin 4 Februari 2019 12:45 WIB
Bagikan:
Militansi dan Dedikasi Tiada Henti
Harlah ke-73 Muslimat NU di GBK
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Miltansi adalah keteguhan dan keuletan dalam berjuang dengan menghadapi berbagai kesulitan, tantangan dan cobaan. Militansi bisa menumbuhkan dedikasi yaitu pengabdian yang tulus dengan keyakinan penuh sehingga rela berkorban apa saja demi mencapai cita-cita mulia secara bersama-sama.

Sikap militan yang penuh dedikasi ini tampak nyata dalam acara Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 27 Januari 2019 lalu. Hal ini terlihat dari ketegukan ibu-ibu bahkan nenek-nenek sepuh yang datang ke Jakarta, menempuh perjalanan panjang dari pelosok desa. Ada di antara mereka yang baru kali ini ke Jakarta dan ini merupakan perjalanan terjauh sepanjang hidup mereka. Ada yang seumur hidup belum pernah keluar dari daerah, paling jauh perjalanan mereka hanya ke pusat ibu kota Kabupaten, itupun frekuensinya tak lebih hitungan jari tangan.

Dalam pengamatan penulis, persiapan acara ini memang sangat mepet. Hanya ada waktu efektif kurang dari empat minggu untuk konsolidasi, kordinasi dan sosialisasi ke seluruh wilayah se Indonesia. Pendeknya waktu persiapan ternyata bukan menjadi hambatan bagi para pengurus dan anggota Muslimat NU. Berbagai keterbatasan yang ada justru menjadi bara api yang membakar semangat yang menggerakkan militansi dan dedikasi hingga melahirkan energi yang dahsyat. Energi ini menjebol berbagai hambatan dan kesulitan yang ada.

Yang mengharukan, para jamaah ini mempersiapkan sendiri bekal berangkat ke Jakarta. Penulis sempat berbincang dan bertanya pada beberapa ibu mengenai sumber perbekalan. Mereka menyatakan ada yang mengambil uang tabungan, meminta kepada anak, mengumpulkan upah kerja selama beberapa hari, bahkan ada yang menjual sebagian ternak piaraan untuk bekal ke Jakarta. Untuk menghemat, mereka membawa bekal makanan di perjalanan yang dimasak dari rumah.

Miltansi dan dedikasi ini tidak hanya ditunjukkan oleh para jamaah tetapi juga para Pengurus Muslimat NU di seluruh tingkatan. Para pengurus Wilayah dan Cabang bergerilnya menggerakkan pengurus Anak Cabang, Ranting sampai Anak Ranting untuk pengerahan massa dan menyiapkan transportasi.

Pengurus pusat, dibawah arahan dan kordinasi Ketum, Khofifah Indar Parawansa dan Mbak Yenny Abdurrahman Wahid, sebagai sebagai Ketua Panitia, melakukan kordinasi tehnis dan adminstratif dengan pihak lain (pemerintah, aparat kemanan, pimpinan instansi dan lembaga serta pihak lain yang terkait). Koordinasi ini dilakukan secara intens siang malam.

Yang mengagumkan, kegiatan ini benar-benar terkelola dengan management dan adminsitrasi yang baik. Hal ini dibuktikan dengan terdatanya jumlah peserta secara baik dan valid hampir seluruh jamaah dari daerah. Pendataan ini tidak hanya jumlah dan nomor bus dari masing-masing daerah, bahkan lokasi parkir bus semua terdata dengan baik. Jumlah jamaah yang tencatat panitia ada 102.455 orang dengan menggunakan 2.020 unit bus. Jumlah ini di luar tamu undangan dan massa yang datang secara spontan dengan membawa kendaraan sendiri.

Validitas data ini penting untuk menghindari terjadinya klaim bombastis yang tidak masuk akal karena tanpa data dan fakta yang jelas. Di sini Muslimat NU memberikan pendidikan pada publik agar tidak mudah percaya pada kalim bombastis tanpa fakta. Selain itu juga menjadi peringatan pada elit agar tidak mudah membuat klaim bomastis tanpa fakta pendukung yang valid yang bisa dilihat buktinya secara nyata.

Sikap main klaim dengan mengabaikan akal sehat itu merupakan pembodohan massal. Sekedar perbandingan, jika hanya seratus ribu lebih massa saja dibutuhkan jumlah bus dan tempat parkir yang sedemikian luas, bagaimana jika jumlah massa dikalim sampai jutaan. Berapa jumlah bus yang mengangkut massa dan dimana parkirnya?

Event harlah Muslimat NU di GBK ini juga menjadi momentum bangkitnya militansi dan dedikasi seluruh pengurus dan warga NU baik kepada jam'iyyah maupun bengsa dan negara. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan seluruh neven NU; mulai badan otomom sampai lajnah dan lembaga. Di lapangan bisa dilihat bagaimana Banser bekerja tak kenal lelah membantu, membimbing dan mengamankan para jamaah. Para santri pesantren terlibat aktif menjadi pasukan kebersihan, Ansor, Fatayat, IPNU, IPPNU dan lainnya bergerak bahu membahu mensukseskan acara.

Tidak hanya pada level internal NU, event ini juga bisa membangkitkan militansi dan dedikasi seluruh komponen bangsa (pemerintah, aparat, pengusaha, komunitas dan kaum profesional) kepada bangsa dan negaranya. Di lapangan bisa dilihat para aparat dan petugas bersiap sejak H-1, bahkan saat dini hari mereka tetap bertugas membantu jamaah dan mempersiapkan kebutuhan acara meski di tengah guyuran hujan.

Apa yang terjadi menunjukkan bahwa dedikasi dan loyalitas warga NU kepada organisasi, para kiai dan NKRI belum padam terkikis zaman. Militansi dan dedikasi ini juga tumbuh di kalangan masyarakat. Militansi dan dedikasi ini menyimpan potensi energi yang dahsyat yang bisa diaktulisasikan dan digerakkan.

Energi yang sangat besar ini akan berbahaya jika hanya dipergunakan untuk kepentingan politis sempit dan sesaat. Penggunaan energi militansi dan dedikasi yang tidak pada tempatnya bisa mengancam eksistensi bangsa dan negara serta bisa memadamkan energi militansi dan dedikasi.

Sebaliknya jika energi ini digunakan untuk kepentingan bangsa, negara, dan agama demi terwujudkanya kemaslahatan umat secara lebih luas, maka akan bedampak pada terjadinya penguatan bangsa dan negara. Sepanjang perjalanan NU, para pengurus yang dimbimbing oleg para ulama selalu menggunakan energi ini secara tepat untuk kepetingan agama, bangsa dan negara.

Tugas menggunakan energi ini secara tepat dan akurat untuk kepentingan yang besar dan mulia merupakan tantangan pengrus NU saat ini. Saya yakin Pengurus NU saat ini akan menggunakan energi militansi dan dedikasi warga sesuai tugas kesejarahan yang pernah terjadi, karena inilah cara terbaik menjaga agar militansi dan dedikasi warga NU tidak berhenti. (Tamat)


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Tags:
Bagikan:
Ahad 3 Februari 2019 8:58 WIB
CATATAN HARLAH MUSLIMAT NU (5)
Meningkatkan Soliditas, Memperkuat Solidaritas
Meningkatkan Soliditas, Memperkuat Solidaritas
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Pagi sudah mulai beranjak menuju siang, namun suasana tetap sejuk dan teduh karena mendung tetap bergelayut di atas stadion Utama GBK. Matahari seolah enggan mengganggu suasana sejuk yang ditebarkan oleh ibu-ibu Muslimat NU, sehingga merelakan sinarnya yang panas terhalang  mendung. Setelah mengguyur sejak dini hari,  Mendung yang ada di seputaran GBK pagi itu sepertinya juga berusaha menahan diri agar tidak turun supaya tidak  mengganggu kekhusukan ibu-ibu Muslimat yang sedang berdoa untuk bangsanya.

Setelah duo Srikandi NU; Mbak Yenny dan Bu Khofifah menyampaikan sambutan, giliran berikutnya adalah tausiyah dari Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj. Dalam tausiyahnya kiai mengingatkan pentingnya meningkatkan peran warga NU dalam segala sektor lehidupan berbangsa dan bernegara; bidang ekonomi, hukum, sosial budaya dan politik. Peningkatan peran NU ini dimaksudkan untuk menjaga keutuhan bangsa dan merawat keberagaman sebagai aktualisasi dan realisasi Islam rahmatan lil 'alamin ala manhaji Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah.

Hal ini penting dilakukan karena saat ini sudah berkembang ideologi dan faham keagamaan yang selalu menyalahkan semua hal yang ada di negeri ini. Tidak hanya bentuk dan dasar negara bahkan praktek ibadah yang sudah berlangsung berabad abad dinegri ini semua dianggap salah. NKRI thoghut, Pancasila kafir, yasinan, tahlilan, dzikir, istighotsah semua salah. Faham menyalahkan seperti ini sudah masuk di seluruh sektor kehidupan bangsa ini. Mulai sekolah, kampus, majlis taklim, masjid bahkan sudah masuk dalam lingkungan birokrasi dan aparatur negara.

Menghadapi situasi seperti ini Kiai Said mengingatkan agar kader-kader NU masuk dan menempati posisi strategis di setiap sektor, terutama politik. Ini penting dilakukan untuk menghambat gerakan kaum yang selalu menyalahkan karena menggap semua yang ada di negeri ini salah. 

Sedangkan NU selama ini tidak pernah menyalahkan praktek ibadah orang lain yang berbeda. NU tak pernah menyalahkan apalagi monolak bentuk negara NKRI dan dasar negara Pancasila. Bahkan secara tegas NU menyatakan akan membela dan mempertahankan NKRI dan Pancasila, ini tercermin dalam slogan "NKRI dan Pancasila harga mati". 

Atas kenyataan ini, secara tegas Kiai Said menyatakan bahwa Departemen agama, imam masjid-masjid, KUA semua harus dipegang NU, selain NU semua salah. Dengan konteks dan alur logika yang ada, jelas pernyataan kyai Said merupakan upaya membangun counter  terhadap gerakan yang selalu menyalahkan dan menganggap semua salah. 

Pernyataan Kiai Said juga bisa dipahami, pemikiran dan sikap keagamaan NU yang moderat, toleran dan tidak mudah menyalahkan itu harus mewarnai para khatib, pengelola masjid, pejabat du KUA, Kemenag dan beberapa posisi strategis lainnya agar semua yang ada tidak dianggap salah.

Jika dicermati lebih dalam, pernyataan Kiai Said itu juga merupakan respon negara yang selama ini mengabaikan peran NU. Selama Orde Baru peran NU dimarginalkan. Jangankan untuk menempati posisi strategis, untuk sekadar menjadi pegawai rendahan saja warga NU dipersulit. Hal ini juga terjadi pada era reformasi, meskipun pada era ini mulai ada peningkatan peran NU di bidang politik.

Pengabaian terhadap NU ini berdampak pada masuknya gerakan dan pemikiran keagamaan yang menyalahkan semua hal ke dalam seluruh aspek lehidupan bangsa terutama dalam aspek keagamaan. Untuk itu Kiai Said mengingatkan agar kader maupun pemikiran ala NU bisa berperan lebih besar untuk menggantikan pemkiran yang menggap semua salah.

Selain itu, pernyataan tersebut juga dimaksudkan untuk meningaktkan soliditas dan solidaritas sekaligus upaya menjaga spirit perjuangan warga nahdliyyin dalam menjaga NKRI. Ketika bangsa ini sudah di kepung oleh fitnah, hoaks, caci maki dan saling menyalahkan, di sini Kiai Said membakar spirit perjuangan warga NU untuk melawan semua itu dengan cara mengambil peran strategis secara maksimal. Karena dalam kondisi demikian pemikiran NU lah yang paling sesuai untuk menjawab  berbagai persoalan tersebut.

Pernyataan Kiai Said ini mendapat apresiasi dari Presiden Jokowi saat memberikan sambutan pengarahan. Menurut presiden Di tahun politik seperti sekarang rawan terjadi perpecahan antar kelompok karena perbedaan pilihan. Untuk itu presiden mengingatkan agar tetap menjaga persaudaraan dan kerukunan meski terjadi perbedaan pilihan. Dalam konteks ini presiden berpesan kepada muslimat NU agar berperan aktif menjaga persatuan dan merawat persaudaraan. Presiden tidak ingin karena berbeda, masyarakat Indonesia tidak lagi saling bersaudara.

Untuk itu presiden mendukung langkah Muslimat NU yang bertekad melawan hoaks, fitnah dan ghibah. Hal ini menuntut peran maksimal dari NU. Dalam upaya merawat dan menjaga Indonesia secara tegas presiden menyatakan: "Indonesia merupakan negara yang penuh dengan keberagaman. Jokowi meminta Muslimat NU untuk saling menghargai perbedaan itu".

Setelah sambutan presiden rangkaian acara ditutup dengan doa yang disampaikan oleh Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar. Selesai doa suasana GBK berubah menjadi lautan manusia. Beginilah cara NU menanamkan solidaritas dan memperkuat soliditas warganya untuk menunjukkan kesetiaan pada negara dan agamanya. (Bersambung)


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Jumat 1 Februari 2019 21:22 WIB
HARLAH KE-93 NU
Jejak-jejak Kultural Perjuangan NU
Jejak-jejak Kultural Perjuangan NU
Oleh Zastrouw Al-Ngatawi

Tulisan ini tidak bermaksud memebesar-besarkan peran NU dalam proses berbangsa dan bernegara, tapi sekadar memaparkan apa yang dilakukan NU dalam menjaga keutuhan bangsa sekaligus mencerdaskan kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara. Ada beberapa jejak kultural yang sangat strategis yang dilakukan NU dalam konteks ini. Selain perannya dalam mendirikan NKRI, perjuangan fisik merebut dan mempertahankan kemerdekaan sampai memepertahankan Pancasila sebagai dasar negara NU juga berperan membangun budaya toleran dan sikap pluralis.

Dalam konteks kekinian, upaya NU menjaga keberagaman dan keutuhan bangsa dibuktikan melalui penerimaan demokrasi, pluralisme dan toleransi dengan memberikan posisi dan hak yang sama setiap warga negara di depan hukum. Semua ini diyakini oleh warga NU sebagai cerminan nilai dan ajaran Islam.

Di bawah kepemimpinan Gus Dur demokrasi, pluralisme dan toleransi dijalankan secara nyata dan konsekuen. Hal ini dibuktikan dengan pembelaan NU pada hak-hak minoritas yang dilanggar dan diabaikan. Berlaku tegas terhadap umat Islam yang melakukan pelanggaran terhadap konstitusi dan ideologi negara, sekali pun hal itu dilakukan atas nama syariat dan agama. Melalui NU, Gus Dur benar-benar ingin menunjukkan keunggulan dan kemuliaan ajaran Islam dengan menebar kebaikan pada sesama dan konsisten pada perjanjian yang sudah disepakati bersama yaitu Pancasila.

Dalam konteks ini Gus Dur ingin membuktikan bahwa rahmatan lil 'alamin itu bukan sekadar slogan tapi harus harus terwujud dalam laku hidup. Inilah yang membuat Gus Dur bisa berhubungan baik dengan non-muslim, blusukan di tempat-tempat ibadah umat lain. Bahkan Gus Dur memerintahkan Banser untuk menjaga gereja. Dengan cara ini umat lain juga bisa menerima keberadaan umat Islam secara senang dan bahagia tanpa rasa takit dan tertekan. Sehingga hubungan persaudaraan yang tulus antara sesama warga bangsa bisa tercipta sekalipun beda agama dan keyakinan.

Untuk melakukan hal ini bukanlah pekerjaan mudah karena Gus Dur dan NU pada umumnya mendapat tantangan bahkan hinaan dan caci maki dari kelompok Islam lainnya. Masih terngiang hingga saat ini bagaimana Gus Dur dituduh sebagai antek Zionis, agen Israel, kiai liberal dan sebagainya. Tudingan yang tidak kalah nista juga diberikan pada NU dan neven-nevennya, mislnya dituduh disusupi kaum liberal, antek kafir, centheng gereja dan sejenisnya.

NU juga dianggap membela orang kafir, karena bersikap keras pada sesama muslim tapi bersikap lunak dan bermesraan dengan orang kafir. Yang lebih menyakitkan para kiai sepuh yang jadi panutan warga NU difitnah dan dicaci dengan bahasa kasar dan keji. Hampir setiap hari warga NU dikafir-kafirkan, ibadahnya dianggap sesat dan berbagai bid'ah. Tapi semua itu dihadapi dengan sabar dan tabah oleh para kiai dan warga NU.

Sekarang ini, jejak perjuangan NU telah membuahkan hasil. Dulu orang-orang dan kelompok yang menuduh NU liberal karena menyebar kebaikan di gereja, sekarang mereka sudah mengikuti jejak NU. Tidak tanggung-tanggung bahkan mereka sudah mengundang orang nonmuslim masuk ke dalam masjid dan menjadikannya sebagai penceramah dan ustadz. Padahal sebelumnya hal ini merupakan sesuatu yang tabu dan sangat terlarang, sebagaimana yang terjadi pada kasus Ahok yang dilarang masuk mesjid karena nonmuslim, meski untuk menjalankan tugas negara.

Kelompok yang mengaku anti-liberal ini sekarang juga sudah menerima pemikiran liberal dengan penuh suka cita. Bahkan menjadi pembela yang sangat gigih kepada orang yang berani menyatakan bahwa kitab suci adalah fiksi. Sudah bisa menerima pemikiran bahwa demokrasi untuk orang yang rasional sedangkan agama untuk orang irrasional. Ini merupakan perubahan sikap yang luar biasa. Bahkan NU sekali pun masih memperdebatkan pemikiran tersebut.

Demkian juga pada hal-hal yang lain misalnya mereka sudah mau berkumpul dengan saudara sebangsa para keturunan PKI. Mereka tidak lagi menganggap para keturunan dan eks anggota tapol itu sebagai musuh tetapi teman dalam memperjuangkan kepentingan politik bersama. Meski tidak terucap secara eksplisit namun secara implisit mereka telah mengakui kesamaan hak para eks PKI dan keturunannya. Suatu kemajuan sikap yang perlu disyukuri.

Apa yang terjadi menunjukkan jejak perjuangan NU telah berhasil diikuti oleh umat Islam Indonesia lainnya. Hanya saja persoalannya adalah perubahan sikap tersebut terjadi karena tumbuhnya kesadaran berbangsa sebagaimana yang terjadi pada warga NU atau sekadar basa-basi karena demi keuntungan politik. Dengan kata lain penerimaan pada nonmuslim, pemikiran liberal, keturunan dan eks PKI itu karena semata kalkulasi politik atau karena dorongan semangat kebangsaan yang tulus.

Jika perubahan sikap ini karena semata kepentingan politik, maka tugas NU mendidik bangsa ini masih berat. Karena jejak-jejak perjuangan NU untuk mentransformasi pemahaman ajaran Islam dan mengaktualisasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara belum terlaksana dengan baik di luar warga NU. Ini merupakan agenda kebangsaan NU yang serius. Ke depan NU perlu mentransformasikan pemahaman keislaman yang paralel dengan kebangsaan yang sudah tertanam kokok di kalangan warga kepada umat lain di luar NU

Agenda berikutnya yang tidak kalah penting adalah merumuskan strategi dakwah yang efektif dan akurat agar pemahaman keagamaan NU bisa diterima oleh umat Islam di luar NU, terutama generasi milenial. Sebagaimana yang terjadi saat ini banyak generasi muda Islam Indonesia yang terpapar pemahaman keagamaan yang tidak sesuai dengan konteks sosiologis kultural bangsa Indonesia sehingga rawan menimbulkan konflik dan perpecahan. Sementara pemahaman keislaman ala manhaji Alussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyyah yang sesuai dengan konteks keindonesiaan justru kurang dipahami oleh generasi muda. Ini merupakan agenda penting NU pada usianya yang ke 93 tahun.

Agenda lain yang tidak kalah penting adalah menata sistem perekonomian yang bisa meningkatkan taraf kesejahteraan warga NU. Sebenarnya NU memiliki kapital sosial dan kultural yang melimpah yang bisa dikonversi menjadi kapital ekonomi (Boudieu, 1986). Proses konversi ini harus dilakukan secara sistemik agar hasilnya bisa dinikmati warga secara keseluruhan tidak hanya dinikmati oleh segelintir elit.

Inilah beberapa tantangan NU ke depan yang harus dijawab dengan merumuskan agenda kerja yang efektif, strategis dan fungsional. Dengan cara ini jejak-jejak kultural perjuangan NU akan semakin jelas terlihat dan terasakan. Dirgahayu NU...!!!


Penulis adalah pegiat budaya, dosen Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta
Jumat 1 Februari 2019 17:30 WIB
Tantangan (Ber)NU di Era Medsos
Tantangan (Ber)NU di Era Medsos
Oleh Wasid

Perjalanan Nahdlatul Ulama (NU) sudah menapaki usia 93 tahun dan akan memasuki era  satu abad. Sebagai organisasi, tilikan atas pergerakan sejarah NU dengan rentang waktu yang sangat panjang telah mengalami fase-fase penting dan berliku, yang tidak luput dari kontestasi gagasan ideologis hingga konfrontasi fisik. Sebab nyatanya, gagasan tidak berarti apa-apa jika tidak dipertahankan dengan segala tumpah darah sebagai jalan jihad untuk membumikan dasar-dasar Ahllussunnah wal Jamaah (Aswaja) dalam konteks beragama dan berbangsa.

Bisa dilihat sejenak, bagaimana para ulama atau kiai pesantren yang berhaluan Aswaja menyatukan gagasan, sekaligus dengan aksi nyatanya melalui pembentukan Komite Hijaz. Faktanya, pembentukan komite ini bukan tanpa dasar, untuk tidak mengatakan tiba-tiba lahir, melainkan terencana dengan baik sebagai media perlawanan terhadap semua pihak yang tidak mau menghargai perbedaan. Tepatnya perlawanan terhadap rezim Saudi-Wahabi yang tidak menghargai perbedaan pendapat, yakni rezim yang telah menyalahkan semua paham dan praktik-praktik keagamaan Islam Sunni (Aswaja), khususnya. Tidak sedikit situs-situs Islam yang sangat berharga dan disakralkan di kalangan penganut Islam Sunni dihancurkan dengan dalil bid’ah dan syirik.   

Dari Komite Hijaz ini kemudian para pendiri NU mulai memiliki kesadaran akan pentingnya berorganisasi. Kesadaran yang tidak disikapi dengan grusa-grusu, butuh waktu dan petunjuk langsung dari Sang-Khaliq, Allah SWT melalui berbagai istikharah agar proses mendirikan organisasi, bukan sekadar ajang kebanggaan. Tapi betul-betul dalam rangka meneguhkan Islam Aswaja dan berharap mendapat ridha-Nya. Itulah gaya hidup dari para kiai pesantren yang layak diteruskan dalam setiap mengambil keputusan penting; gaya hidup yang mampu mensinergikan gerakan rasional-empirik di satu sisi, dan gerakan spiritual sebagai penyangga keberhasilan di sisi yang berbeda. 

Oleh karenanya, membaca sejarah jamiyah akan teringat bagaimana peran spiritual Syaikhana Kholil Bangkalan dengan sejumlah isyarat simboliknya; tasbih dan tongkat, sekalipun yang bersangkutan tidak sampai menyaksikan berdirinya NU sebab meninggal satu tahun sebelum jamiyah ini lahir. Warisan simbolik dari Syaikhana Kholil adalah kekuatan spiritual bersinergi dalam kesatuan komando yang dialamatkan kepada Hadratussyaikh KH M Hasyim Asy’ari dengan wasilah KH As’ad Syamsul ‘Arifin. Kalimat yang teringat adalah ungkapan ya Jabbar, ya Qahhar.

Sistem komando bersenyawa dengan kekuatan spiritual yang kemudian menempatkan posisi Kiai M Hasyim Asy’ari sangat strategis dan menentukan dalam proses lahir dan perkembangan NU hingga berkah sampai saat ini. Bersama kiai-kiai lainnya, sebut saja di antaranya KH Abd Wahab Hasbullah Jombang, KH Bisri Syansuri Jombang, KH. Ahmad Dahlan Ahyad Kebondalem Surabaya, KH Muntaha Bangkalan (menantu Syaikhana Kholil Bangkalan) KH Asnawi Kudus, KH Ridwan Abdullah Surabaya, KH Mas Alwi ibn Abdul Aziz Surabaya, KH Nawawi Sidogiri, KH Faqih Maskumambang, KH Ma'shum Lasem, KH Nahrawi Thahir Surabaya, KH Hasan Dipo Surabaya, KH Ridwan Semarang, dan lainnya. Hadratussyaikh Kiai Hasyim menginisasi berbagai kegiatan baik dalam konteks wacana hingga aksi untuk membumikan prinsip-prinsip Aswaja NU, sekaligus memperjuangkan kemerdekaan NKRI. 

Pada momentum harlah ke-93 NU yakni 31 Januari 2019, satu hal yang menurut penulis penting untuk direnungkan dan semestinya ditegaskan kembali apalagi di era merebaknya media sosial atau Medsos adalah menggelorakan kembali semangat perlawanan NU. Perlawanan itu harus dalam satu komando sebagai mana diwariskan para pendiri, baik ketika meneguhkan Islam atau meneguhkan NKRI. 

Satu komando itu penting, agar setiap gagasan mampu tereksekusi dengan baik dari satu titik menyebar ke titik pergerakan lainnya. Bukannya para pendiri NU itu tidak ada perbedaan. Mereka menyadari betul bahwa perbedaan jangan menjadi sebab terpecah belah dalam organisasi dan perjuangan, sehingga semua hormat kepada komando Hadratussyaikh Kiai Hasyim.   

NU di Era Medsos
Dalam sejarah NU, meminjam konsep Adonis al-tsawabith wa al-mutaghayirat, setiap generasi memiliki sejarahnya masing-masing dalam merespons fenomena keumatan dan kebangsaan, yang kemudian disebut sebagai yang berubah (al-mutaghayirat). Tapi, ada pula yang tidak boleh berubah atau sebagai al-tsawabit, yaitu semangat nilai perjuangan Aswaja dengan pewajahan aksinya yang mengedepankan moderasi, berkeadilan, dan toleran dalam beramar ma’ruf nahi munkar.  

Karenanya, tantangan ber-NU di era Medsos harus memperhatikan yang tetap (al-tsawabit) dan yang berubah (al-mutaghayirat). Pastinya, gerakan yang dilakukan harus memiliki pondasi yang matang dan kuat dalam rangka meneruskan spirit perlawanan yang diwariskan oleh para pendiri NU. Jamiyah ini lahir untuk bergerak bangkit (al-nahdlah) bukan diam karena perubahan tidak datang dari langit. Tapi harus diciptakan dan digerakan dengan serius. Ini yang kemudian oleh para generasi awal NU berani mempertaruhkan harta hingga nyawa.
   
Apa yang harus dilakukan saat ini? Pertama, berpijak dengan yang tetap (al-tsawabit). Keterbukaan informasi yang gencar di medsos telah menyebabkan pertarungan ideologis dilakukan secara terbuka. Menariknya, jika dulu hanya terjadi antar para tokoh saling berdebat secara terbuka hingga melalui tulisan. Tapi hari ini, semua orang yang tidak suka dengan NU atau tidak suka dengan kepemimpinan tertentu di NU dengan “seenaknya” melakukan kritik. Bahkan kritik itu sampai pada upaya menghina hanya karena perbedaan pendapat dan pilihan politik. Lebih parah lagi, mereka yang tidak memiliki keilmuan yang matang, hanya berdasar pada suka dan tidak suka ikut berkomentar tanpa merasa bersalah dengan hanya mengandalkan kiriman di Medsos dan cukup dengan menyalin, tanpa koreksi apalagi melakukan klarifikasi.

Dalam konteks ini, kader NU tidak boleh diam, apalagi acuh. Pasalnya, di satu pihak, ada proses perusakan akidah dan amaliah di lingkungan NU dengan alasan bid’ah, syirik dan khurafat sebagaimana dilakukan kelompok Wahabi-salafi dan sejenisnya. Di pihak yang berbeda, ada proses delegitimasi kepemimpinan di NU dari alasan hanya ketidak samaan pendapat hingga memang tidak senang, sehingga ada usaha agar NU dijauhi anggota atau jamaahnya. Karena itu, kader NU milenial khususnya, harus keluar kandang untuk melakukan perlawanan opini di dunia maya agar jamiyah ini makin kuat. Sebab hancurnya NU diyakini menjadi jalan hancurnya NKRI. 

Kedua, berpijak dengan yang hal berubah (al-mutaghayirat). Maksudnya, pada konteks gerakan yang dilakukan di NU harus mulai memanfaatkan Medsos di semua lini dari ranting hingga pusat. Prinsipnya, yang lama dipertahankan, tapi yang baru harus digunakan (al-muhafadhah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdu bi al-jadid al-ashlah). Kegiatan rutin amaliah NU dari yasinan, manaqiban, shalawat dan sebagainya di mushalla, langgar, surau, rumah, hingga masjid layak dijaga sebagai bentuk silaturrahim antarnahdliyin, sekaligus penguatan ideologi Aswaja.

Tapi, lebih dari itu, bagaimana seluruh kegiatan yang dilakukan dari ranting hingga pusat dikuatkan dakwahnya melalui media yang marak berkembang di medsos dengan memanfaatkan gawai. Misalnya, setiap kegiatan disebarkan melaui youtobe, facebook, twitter, whatsapp, instagram dan lainnya. Jejaring antargrup bergerak dengan kesadaran bersama untuk melawan agar Medsos jauh dari ujaran kebencian dan hoaks untuk menghancurkan umat, khususnya NU dan bangsa.

Apa yang akan kita lakukan? Melawan atau diam saja sambil menantikan kehancuran NU? Pastinya kita memilih untuk melawan, sebab kehadiran NU semenjak 1926 adalah warisan para kiai sehingga kita sebagai santri dapat bersikap arif menjaga nilai keislaman dengan lokalitas. Bahkan merawat dan menjaga nilai kebangsaan yang menjadi warisan para kiai. 

Akhirnya, spirit perlawanan satu komando yang diteladankan para pendiri NU harus terus digerakkan sesuai era kekinian. Pastinya, perlawanan yang mengedepankan moderasi, toleransi dan beradilan dalam bingkai Aswaja al-Nahdliyah sehingga dalam konteks melawan di Medsos berhasi menjauhkan ujaran kebencian dan hoaks, lebih-lebih kepada NU dan narasi opini yang akan merusak sendi berbangsa.

Semoga  NU terus jaya dan kadernya terus "melek" terhadap realitas terkini agar mampu bergerak strategis dalam meneguhkan Aswaja dan NKRI. Satu komando, jayalah NU dan jayalah NKRI. Selamat harlah ke-93 NU. 

Penulis adalah dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya, dan Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) Jawa Timur.



IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG