IMG-LOGO
Fragmen

Al-Khairiyah Saksi Bisu Masa Perkembangan NU

Selasa 5 Februari 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Al-Khairiyah Saksi Bisu Masa Perkembangan NU
Madrasah Al-Khairiyah pada 1930
Siapa sangka gedung Sekolah Dasar Islam (SDI) Al-Khairiyah yang terletak di Jalan Kapten Ilyas, No. 47, Banyuwangi itu menyimpan sejarah penting. Di gedung tersebut, 85 tahun lalu, menjadi saksi bisu fase penting bagi Nahdlatul Ulama (NU). Sebuah fase yang menandai dari masa pertumbuhan ke perkembangan.

Dalam buku "Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama" karya Choirul Anam disebutkan fase perkembangan NU bermula saat pelaksanaan Muktamar ke-IX NU di Banyuwangi pada 21-26 April 1934. Ada sejumlah penanda yang ditiliknya. Salah satunya adalah untuk pertama kalinya peserta muktamar (muktamirin) duduk di kursi. Tak lagi lesehan sebagaimana pada pelaksanaan muktamar-muktamar sebelumnya. Pada saat itu pula, untuk pertama kalinya, rapat tanfidziyah dan syuriyah terpisah. (Surabaya: Duta Aksara Mulia, 2010: 93-95)

Penanda tersebut, dalam riset yang dilakukan oleh Komunitas Pegon, terjadi di SDI Al-Khairiyah. Pada saat itu, gedung tersebut dikenal sebagai Madrasah Al-Khairiyah. Ini merupakan salah satu madrasah tertua di Banyuwangi. Diperkirakan madrasah tersebut dibangun pada awal abad 20.

Konon, madrasah tersebut, pertama kali berdiri di Kelurahan Lateng dengan bentuk angkringan sederhana. Pengelolanya adalah kalangan Ahlussunah wal Jama'ah (Aswaja), baik dari kalangan Arab maupun pribumi. Hal ini, besar kemungkinan, sebagai respon atas munculnya sekolah-sekolah kolonial ataupun sekolah agama yang berhaluan Wahabi yang mulai bermunculan di Banyuwangi.

Madrasah Al-Khairiyah dibangun cukup megah dengan model art deco yang populer di masa kolonial. Kemegahan bangunannya terekam dalam Swara Nahdlatoel Oelama Nomor 7 Tahun ke-II Rajab 1348. Dalam majalah resmi NU tersebut, memuat berita kunjungan pengurus PBNU ke Madrasah Al-Khairiyah.

Pengurus PBNU yang datang ke Banyuwangi pada 16 Januari 1930 itu, dibuat takjub. Saat itu, ada tiga orang pengurus NU yang datang. Antara lain KH. Abdul Wahab Hasbullah, KH. Bisri Syansuri, dan KH. Mas Alwi Abdul Aziz. Nama yang terakhir, merupakan redaktur di Swara Nahdlatoel Oelama (S.N.O).

Atas nama redaksi majalah resmi Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama/ HBNO (istilah PBNU waktu itu), Kiai Mas Alwi menulis demikian:

"Kita muji syukur alhamdulillah ala wujudanil Madrasah al-Khairiyah Banyuwangi. Qulnaa: muta'ajuban maa akbaruhaa wa maa ahsana hay'atuhaa."

Pengurus pusat tersebut bersyukur sekaligus takjub dengan gedung madrasah. Baik karena besarnya bangunan, maupun karena keindahan arsitekturnya.

Masih merujuk pada pemberitaan di SNO di atas, bangunan madrasah tersebut terdiri dari sepuluh kelas untuk belajar mengajar. Juga terdapat 20 kamar untuk asrama bagi pelajar yang berasal dari luar daerah. Serta dilengkapi dengan dua ruang pertemuan. Satu ruang untuk menerima tamu dan satu ruang lain untuk istirahat para guru maupun digunakan untuk menggelar rapat-rapat.

Di penghujung tulisan, Kiai Mas Alwi juga menulis demikian:

"Dene sampurnane wahu madrasah, kita mboten badhe hamanjingaken cariyos."

Kurang lebih artinya adalah karena sempurnanya madrasah ini, kita (HBNO) tidak akan memberikan masukan (saran). Hal ini menandakan betapa majunya madrasah tersebut dibandingkan dengan madrasah-madrasah lainnya di luar Banyuwangi.

Tak seperti saat ini yang halamannya tak seberapa luas. Kala itu, halaman Madrasah Al-Khairiyah cukup luas. Dalam 'De Indische Courant' - sebuah surat kabar berbahasa Belanda yang terbit di Nusantara - tertanggal 12 Desember 1933, memberitakan bahwa di halaman madrasah tersebut mampu menampung hingga 2.000 pengunjung.

Saat itu, diadakan open baar (rapat umum) guna mensosialisasikan pelaksanaan Muktamar NU beberapa bulan mendatang. Rapat yang dihadiri oleh KH Wahab Chasbullah tersebut diikuti juga oleh sejumlah pejabat. Baik dari unsur pemerintah, kepolisian, penegak hukum, penghulu, dan sejumlah kiai dari seantero Banyuwangi.

Kebesaran Madrasah Al-Khairiyah pada dekade 30-an tersebut, terbukti dalam sebuah foto yang masih tersimpan di sekolah tersebut. Ratusan murid dan dewan guru berfoto bersama pada 1930. Gedung madrasah yang megah menjadi latar belakangnya. Dari proyeksi foto itu, halaman yang sangat luas juga bisa terlihat. Tak heran, jika tempat tersebut menjadi salah satu venue muktamar selain di Masjid Jami' Banyuwangi dan di Pesantren Lateng yang jaraknya tak terlampau jauh itu. (Ayung Notonegoro)

Tulisan ini salah satu yang terpilih dari pada lomba #NU93Berkhidmah


Tags:
Bagikan:
Jumat 1 Februari 2019 18:0 WIB
Arti Lambang NU
Arti Lambang NU
null
Lambang NU merupakan hasil istikharah Kiai Ridwan Abdullah. Ia adalah seorang kiai yang alim, tapi memiliki kelebihan yang lain, yaitu terampil melukis. Ia hanya diberi waktu satu setengah bulan untuk menyelesaikan tugasnya itu. Ternyata dengan waktu yang ditentukan itu, dia tak mampu membuatnya. Ia tidak mendapatkan inspirasi yang sesuai dengan keyakinan hati. 

Berikut deskripsi lambang NU sebagaimana dijelaskan dalam Antologi Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah NU

1. Bola dunia adalah tempat manusia berasal dan tinggal. Hal ini sesuai dengan surat Thaha ayat 55. 

2. Tali atau tambang yang mengelilingi bola dunia. Ini artinya adalah lambang ukhuwah, atau persaudaraan. Ini berdasarkan ayat 103 dalam surat Ali Imran.

3. Peta Indonesia terlihat. Meskipun NU menggunakan lambang bola dunia, tapi yang tampak di permukaan adalah peta Indonesia. Ini melambangkan NU didirikan di Indonesia, berjuang di Indonesia.

4. Dua simpul ikatan di bagian bawah melambangkan hubungan vertikal dengan Allah dan hubungan horizontal dengan sesama umat manusia. 

5. Untaian tampar tambang yang berjumlah 99 melambangkan nama-nama terpuji bagi Allah (Asmaul Husna) yang berjumlah 99. 

6. Lima bintang di atas bola dunia. Bintang yang berada di tengah berukuran besar dibanding empat yang lainnya. Bintang paling besar itu melambangkan Rasulullah, sementara yang empat melambangkan sahabatnya yang mendapat julukan Khulafaur Rasyidin yakni Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. 

7. Empat bintang di bawah bola dunia melambangkan empat imam mazhab Ahlussunah wal Jamaah yaitu Imam Maliki, Imam Syafi'i, Imam Hanafi, dan Imam Hanbali. 

8. Jumlah bintang secara keseluruhan ada sembilan. Ini bermakna Wali Songo (sembilan ulama penyebar Islam).

9. Tulisan Nahdlatul Ulama dalam huruf Arab melintang di tengah bumi untuk menunjukkan nama organisasi tersebut, Nahdlatul Ulama, kebangkitan para ulama. 

Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar mengatakan, huruf dladl pada tulisan Nahdlatul Ulama itu berukuran panjang, melintasi bola dunia. Hal ini melambangkan, NU akan mendldadlkan dunia. Dladl bisa dimaknakan kepada hadits yang mengatakan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang paling pasih dalam mengucapkan huruf dladl.  

10. Warna dasar lambang adalah hijau sebagai lambang kesuburan.

11. Tulisan berwarna putih sebagai lambang kesucian. 

Kiai Ridwan Abdullah adalah santrinya Syaikhona Cholil Bangkalan, sebagaimana umumnya para kiai pendiri NU yang lain. Ia merupakan kiai yang total dalam berorganisasi. Buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliyah, dan Uswah NU menggambar sosoknya demikian: 

Sejak terjun dalam organisasi Kiai Ridwan terpaksa mengurangi kesibukannya mengurus ekonomi. DUlu ia punya toko kain di Jalan Kramat Gantung sekaligus tailor. Toko itu kemudian diserahkan kepada adiknya. 
Rumah milik mertuanya di Bubutan juga diserahkan untuk kepentingan NU. Lantai bawah untuk percetakan NU, sedangkan lantai atas dipakai untuk sekretariat dan ruang pertemuan.
Setiap ada anak mau berangkat mondok dan sowan kepadanya, selain diberi nasihat dan wejangan, juga tidak ketinggalan diberikan uang saku untuk bekal. Padahal dia sendiri sesungguhnya jarang punya uang banyak. 
(Abdullah Alawi)

Kamis 31 Januari 2019 13:15 WIB
HARLAH KE-93 NU
Lambang NU Hasil Istikharah Kiai, Para Habib Pun Menghormatinya
Lambang NU Hasil Istikharah Kiai, Para Habib Pun Menghormatinya
Setelah NU didirikan oleh para kiai di Surabaya pada 31 Januari 1926, organisasi ini sebagaimana umumnya, membutuhkan lambang. KH Abdul Wahab Hasbullah menunjuk KH Ridwan Abdullah untuk mendesaiannya.  

KH Ridwan Abdullah adalah seorang kiai yang alim, tapi dia memiliki kelebihan dibanding kiai-kiai lain, yaitu terampil melukis. Tak banyak kesempatan untuk mendesain lambang itu. Ia hanya diberi waktu satu setengah bulan untuk menyelesaikan tugasnya itu. Ternyata, dia tak mampu membuatnya. Ia tidak mendapatkan inspirasi yang sesuai dengan keyakinan hati. Jalan yang ditempuh kemudian adalah melakukan shalat istikharah, meminta petunjuk Allah. 

Setelah beristikharah, lambang NU pun ditemukannya, yaitu bola dunia yang diikat sebuah tali yang memiliki untaian tampar 99 orang, lima bintang di atas bumi, empat bintang di bawahnya. Sedangkan tulisan Nahdlatul Ulama yang menggunakan huruf Arab yang membentang melebihi bola dunia, dan Latin adalah tambahan dari Kiai Ridwan sendiri.  

Kiai yang Total Berorganisasi
Kiai Ridwan Abdullah adalah santrinya Syaikhona Cholil Bangkalan, sebagaimana umumnya para kiai pendiri NU yang lain. Ia merupakan kiai yang total dalam berorganisasi. Buku Antologi Sejarah, Istilah, Amaliyah, dan Uswah NU menggambar sosoknya demikian: 

Sejak terjun dalam organisasi Kiai Ridwan terpaksa mengurangi kesibukannya mengurus ekonomi. DUlu ia punya toko kain di Jalan Kramat Gantung sekaligus tailor. Toko itu kemudian diserahkan kepada adiknya. 

Rumah milik mertuanya di Bubutan juga diserahkan untuk kepentingan NU. Lantai bawah untuk percetakan NU, sedangkan lantai atas dipakai untuk sekretariat dan ruang pertemuan.

Setiap ada anak mau berangkat mondok dan sowan kepadanya, selain diberi nasihat dan wejangan, juga tidak ketinggalan diberikan uang saku untuk bekal. Padahal dia sendiri sesungguhnya jarang punya uang banyak. 


Habib Ali Kwitang Pun Hormati Lambang NU
Habib Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi (1870-1968), akrab disebut Habib Ali Kwitang, adalah ulama’ besar di Jakarta yang sangat akrab dengan para kiai NU. Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahwa NU masuk Betawi ya melalui Habib Ali Kwitang. Hal itu bisa dilihat jejaknya karena habib tersebut beberapa kali turut menghadiri muktamar NU, misalnya pada tahun 1932 dan 1933.

Alhafiz Kurniawan pada tulisannya yang dimuat di NU Online, menyebutkan, semasa hayatnya, Hadratusysyaikh KH Hasyim Asy’ari juga sangat akrab dengan Habib Ali Kwitang.Bahkan, Kiai Hasyim berpesan kepada keluarga dan santrinya untuk selalu sowan kepada Habib Ali Kwitang setiap kali datang di Jakarta.

Pada suatu musyawarah, para kiai dan habaib diundang di Kantor PBNU. Selain Habib Ali Kwitang, hadir juga Al-Habib Ali bin Husein Al-Athas atau Habib Ali Bungur, Al-Habib Muhammad bin Ali Al-Athas. Pada pertemuan itu, ada seorang santri bernama Abdullah yang saat itu sangat senang melayani para habaib dan kiai. Ia mengantarkan makanan dan minuman yang sudah disediakan, termasuk kepada Habib Ali Kwitang.

Ketika bersimpuh di hadapan Habib Ali, Abdullah menurunkan nampan kaleng bermotif warna-warni bersisi makanan dan minuman. Habib Ali Kwitang meminta Abdullah untuk mengangkat nampan itu. Ternyata ia melihat lambang NU di pantat nampan.

“Jangan kalian berani-berani membuat jatuh perkumpulan ini dengan meletakkannya di bawah.”

Mendengar nasehat yang sangat tegas ini, KH Idham Chalid menyimaknya dengan penuh khidmah, apalagi itu adalah nasehat sosok ayah angkat dan ulama’ besar yang sangat dihormati. Para kiai dan habaib juga menyaksikan penuh dengan penuh takzim atas apa yang disampaikan Habib Ali. KH Idham Kholid segera bergerak cepat berkoordinasi kepada para santri untuk segera memakai nampan yang biasa, tanpa ada lambang NU. Wujud takzim dan sam’an watha’atan dengan dawuh seorang ulama.

Para ulama dan habaib yang menyaksikan itu langsung paham dengan lambang NU. Itu bukan lambang biasa, hasil istikharah KH Ridwan Abdullah yang sudah direstui KH Hasyim Asy’ari. (Abdullah Alawi)

Rabu 30 Januari 2019 12:7 WIB
Pesan Ya Jabbar Ya Qahhar di Balik Lahirnya NU
Pesan Ya Jabbar Ya Qahhar di Balik Lahirnya NU
Tepat pada 31 Januri 2019, Nahdlatul Ulama berusia 93 tahun dalam itungan tahun masehi. Sedangkan pada bulan Rajab 1440 yang akan mendatang, NU menginjak umur 96 tahun. Selama hampir satu abad tersebut, NU sejak awal kelahirannya hingga sekarang telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap kehidupan beragama di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Semakin teguhnya organisasi para santri dan kiai di tengah terpaan berbagai macam tuduhan negatif dan upaya deligitimasi (penggembosan) tidak lepas dari peran para pendiri NU. KH Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, dan kiai-kiai lain memberikan pemikiran dan teladan berarti bagi warga NU untuk selalu melangkah di tengah perubahan zaman.

Tegaknya Nahdliyin (warga NU) dalam menjaga marwah atau kehormatan organisasi tidak lepas dari tirakat para pendiri. Sepelik apapun persoalan bangsa atau problem yang menimpa NU secara langsung, Nahdliyin tidak lepas dari upaya batin, baik melakukan istighotsah, tahlil, dzikir, wirid, membaca shalawat nariyah, membaca hizib nashar, dan lain-lain.

Hal itu sangat terkait dengan lahirnya NU yang telah melalui upaya lahir dan batin. Bahkan, KH Hasyim Asy’ari mengonformasi atau mengabarkan langsung bahwa para telah mendapat ridha Allah SWT untuk mendirikan jam’iyah (organisasi). Riwayat ini dijelaskan ketika Kiai Hasyim Asy’ari berinteraksi murid yang menjadi utusannya, KH As’ad Syamsul Arifin untuk memberikan pesan-pesan kepada guru Kiai Hasyim Asy’ari di Madura, KH Cholil Bangkalan (1820-1923).

Dalam proses lahirnya NU, Kiai Hasyim Asy’ari melakukan semacam ‘korespondensi’ dengan Kiai Cholil Bangkalan lewat santri As’ad Syamsul Arifin. Setelah melalui beberapa kali perjalanan dari Tebuireng ke Bangkalan, Madura, Kiai Hasyim Asy’ari mendapat petunjuk tongkat dari tasbih yang diberikan Kiai Cholil kepada santri As’ad Syamsul Arifin.

Setelah petujuk kedua berupa tasbih diberikan As’ad ke Kiai Hasyim Asy’ari, beliau bertanya kepada As’ad: “Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan?” Kontan As’ad hanya menjawab: “Ya Jabbar, Ya Qahhar”, dua Asmaul Husna tarsebut diulang oleh As’ad hingga 3 kali sesuai pesan sang guru. Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata, “Allah SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah”. (Choirul Anam, Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Awalnya, KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Kiai Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, di antaranya posisi Kiai Hasyim saat itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia (Jawa). Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Sehingga ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari istikharah Mbah Hasyim dikisahkan oleh KH Raden As’ad Syamsul Arifin (1897-1990), Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Asembagus, Situbondo. Mbah As’ad mengungkapkan, petunjuk hasil dari istikharah Mbah Hasyim justru tidak jatuh ditangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh KH Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Mbah As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Mbah As’ad sebagai penghubung atau wasilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. (Choirul Anam, 2010: 72)

Hal ini merupakan bentuk komitmen dan ta’dzim santri kepada gurunya apalagi terkait persoalan-persoalan penting dan strategis. Ditambah tidak mudahnya bolak-balik dari Bangkalan ke Tebuireng di tengah situasi penjajahan saat itu.

Petunjuk pertama, pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thaha ayat 17-23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa AS sebagai berikut:

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَىٰ (17) قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَىٰ غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَىٰ (18) قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَىٰ (19) فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَىٰ (20) قَالَ خُذْهَا وَلَا تَخَفْ ۖ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الْأُولَىٰ (21) وَاضْمُمْ يَدَكَ إِلَىٰ جَنَاحِكَ تَخْرُجْ بَيْضَاءَ مِنْ غَيْرِ سُوءٍ آيَةً أُخْرَىٰ (22) لِنُرِيَكَ مِنْ آيَاتِنَا الْكُبْرَى

Artinya:
"Apakah itu yang di tangan kananmu, hai Musa? Berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, hai Musa!" Lalu dilemparkannyalah tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacat, sebagai mukjizat yang lain (pula), untuk Kami perlihatkan kepadamu sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar."

Petunjuk kedua, kali ini akhir tahun 1925 santri As’ad kembali diutus Mbah Cholil untuk mengantarkan seuntai tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna (Ya Jabbar, Ya Qahhar. Berarti menyebut nama Tuhan Yang Maha Perkasa) ke tempat yang sama dan ditujukan kepada orang sama yaitu Mbah Hasyim.

Setibanya di Tebuireng, santri As’ad menyampaikan tasbih yang dikalungkannya dan mempersilakan Mbah Hasyim untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad. Bukan bermaksud As’ad tidak ingin mengambilkannya untuk Mbah Hasyim, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim. Sebab itu, tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan As’ad sepanjang perjalanan dari Bangkalan ke Tebuireng. Wallahu’alam. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG