IMG-LOGO
Esai

Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional

Rabu 6 Februari 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Foto: SoksiNews
Oleh Muhammad Azam Multazam

Pasar tradisional merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai macam kasta. Dari pedagang yang kaya sampai pedagang yang tidak kaya. Begitupun dengan pembelinya. Mereka berbaur menjadi satu. Guyub rukun antar pedagang dengan pedagang, pedagang dengan pembeli, pembeli dengan pembeli.

Kehidupan antar pedagang di pasar tradisional yang katanya rawan perselisihan dan kebencian ternyata hanya fiktif belaka. Nyatanya, mereka hidup berdampingan dengan penuh canda tawa, tak jarang mereka saling tolong menolong sesama pedagang. Meskipun secara ilmu pasar, mereka bersaingan dalam berdagang.

Seperti contoh pedagang yang ada di depan toko Ibu saya, Mbah Narti dan Mbah Lasmi, mereka berdua merupakan pedagang bumbu dapur yang berdampingan. Dan dalam kesehariannya mereka berdua hidup penuh cinta dalam kehidupan pasar. Keduanya tidak ada sikap saling membenci meskipun dagangan mereka secara bisnis adalah pesaing.

Iya betul. Mereka adalah bersaing. Tetapi bersaing dengan sportif. Tidak pernah mereka menebar fitnah untuk menjatuhkan pesaingnya. Seperti halnya membisiki pembeli dengan memberikan informasi dengan dibumbui fitnah yang beraroma kebencian.

“Heh.. Heh.. Yuk, tak kandani, ojo tuku lombok nang gone Yu Lasmi. Lomboke ora pedes. Bedo karo nang gonku, lomboke pedes, apik-apik.”

Strategi seperti itu ternyata nihil dalam kehidupan antarpedagang pasar tradisional. Di antara mereka tidak pernah ada niatan untuk membuat pesaingnya sepi pembeli, lalu gulung tikar dengan cara menyebar hoaks dan fitnah. Sama sekali tidak pernah. Karena di hati dan otak mereka berdua diisi dengan sikap toleransi, saling menghargai.

Mereka berdua tidak berambisi mengejar dunia dengan menjatuhkan kawannya, menghalalkan berbagai macam cara untuk menjadi terlaris. Mereka berdua tidak terlalu egois, nyatanya mereka berdua saling membantu. Dan pemandangan yang ciamik ini tidak hanya pada di pedagang bumbu dapur saja, namun pemandangan luar biasa ini mendominasi isi kehidupan pasar tradisional.

Selain itu, pemandangan yang menakjubkan yang ada di pasar tradisional adalah dari kalangan kaya dan tidak kaya berbaur menjadi satu cinta. Tidak ada diskriminasi di antara mereka. Mereka saling menyapa, bersalaman. Dari Bu Carik, Bu Lurah, Bu Guru, Bu Nyai, Pembantu rumah tangga, bakul ompreng, bakul ikan, bakul sayur mereka saling menyapa. 

Kehidupan harmonis inilah yang perlu dijadikan ibrah dan ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, di dalamnya ada sebuah ajaran tasamuh, tawassuth dan tawazun. Sebuah ajaran yang diwariskan oleh para Ulama yang alim dan sanad ilmunya sampai dengan Rasulullah SAW. Ajaran yang menjadi ikon Ahlussunah wal Jamaah, khususnya di Nahdlatul Ulama.

Oh iya, dirgahayu Nahdlatul Ulama yang ke 93. Tetap jaya dalam berkhidmah untuk NKRI dan semoga semakin berkah.


Bagikan:
Ahad 3 Februari 2019 18:30 WIB
Belajar Ber-NU ala Kiai Masbuhin Faqih
Belajar Ber-NU ala Kiai Masbuhin Faqih
KH Masbuhin Faqih (kanan) bersama KH Miftahul Achyar (kiri)
Oleh Abdul Rouf Hanif

KH Masbuhin Faqih merupakan salah satu kiai kharismatik di Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin tersebut merupakan sosok kiai yang masyhur dengan laku tawadhu-nya. Saya bersyukur dapat menimba ilmu secara langsung kepada beliau serta mencecap keberkahan ilmu di pesantren yang didoakan oleh Almaghfurlah Kiai Utsman Al-Ishaqi sebagai sumbernya orang yang shalih.

Di usianya yang semakin uzur tak mengurangi semangatnya sedikit pun untuk istiqomah mengajar ngaji pada santri-santri beliau yang jumlahnya ribuan. Santri-santri beliau pun tersebar di seantero Indonesia. Ragam profesi dari Pejabat negara, petani, guru, pengusaha dll semuanya ada, namun satu hal yang sama yakni semuanya menjadi warga Nahdliyin baik struktural maupun kultural. Beliau selalu mewanti-wanti pada para santri dan alumni agar jangan sampai meninggalkan ajaran Ahlussunnah wal jama'ah An-nahdliyah. Sebab aqidah merupakan sumber keselamatan duniawi dan ukhrowi.

Ketakdiman beliau pada guru-gurunya begitu luar biasa yang menjadikan santrinya sangat ta'dim pada beliau.Diceritakan semasa beliau nyantri di Langitan, tak pernah sekalipun berani lewat di depan rumah kiai Abdul Hadi Zahid sebagai wujud ta'dzim pada kiai. Sampai hari ini pun, jika haul masayikh, Langitan beliau tak pernah mau duduk di panggung sebagai tamu agung. Beliau selalu memilih duduk di bawah bersama para santri dan alumni yang lain.

Khidmatnya pada kiai dan habaib juga luar biasa, beliau selalu meletakkan akhlaqul karimah lebih tinggi derajatnya ketimbang ilmu pengetahuan. Saat Yaman dilanda konflik, Habib Baharun selaku rektor menawarkan pada pesantren di Indonesia yang siap menampung mahasiswa universitas Al-Ahqof untuk dipindahkan belajar di pesantrennya. Sang Kiai dengan senang hati bersedia menampung dan menerima tawaran dari Habib Baharun. Sungguh kecintaannya pada ahlul bait begitu luar biasa, terlebih negara Yaman merupakan negara para wali sembilan yang jasanya dalam islamisasi dan meletakkan pondasi Aswaja di nusantara sangat besar.

Kini di usia ke-71, beliau masih dengan ikhlas berkhidmat pada Nahdlatul Ulama dengan menjadi syuriah PCNU Kabupaten Gresik. Kecintaannya pada Ahlussunnah sebagai akidah dan Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah tidak bisa diragukan lagi.

Pada satu kesempatan saat saya sowan, beliau berpesan, "Jangan Sampai meninggalkan Ahlussunnah wal jamaah, bila ingin dikumpulkan denganku dan para ulama di akhirat kelak." Pesan tersebut yang membuat saya dan keluarga sampai hari ini tetap bangga dan berkhidmat pada Nahdlatul Ulama. Sebab NU bagi saya bukan sekedar akidah, manhaj, tarekat dan siyasah  melainkan wasilah gandolan  kepada para alim ulama, para sahabat hingga rasulullah Saw.

Seperti halnya Sang Kiai yang selalu takdim dan menurut pada guru-gurunya, demi amanah Maha Guru saya berikrar hingga anak cucu akan setia berkhidmat di Nahdlatul Ulama baik secara jamaah maupun jamiyah. Selamat harlah NU, 93 tahun mengabdi untuk agama dan bangsa.

Tabik.

Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus, Lampung.
Rabu 30 Januari 2019 5:0 WIB
Kiai Ali Musthafa, Cermin Kebijaksanaan Bermasyarakat
Kiai Ali Musthafa, Cermin Kebijaksanaan Bermasyarakat
Kiai Ali di mushalanya
Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Adalah Kiai Ali bin Kiai Mushafa, seorang kiai kampung di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Kiai Ali adalah putra Kiai Mushtafa. Seorang kiai mangku mushala kecil di kampungnya. 

Penulis jika sedang pulang kampung dari Malang ke Pamekasan, saya sering mengunjungi Kiai Ali karena lingkungan rumahnya adalah tempat saya sering bermain semasa kecil bersama-sama dengan teman-teman. Biasanya saat saya berkunjung, sering terlihat Kiai Ali duduk menyendiri di mihrab mushala itu. kadang terlihat sambil pegang tasbih, terkadang sedang shalat, dan terkadang pula hanya duduk termenung atau sedang membaca Al-Qur’an.

Kiai Ali adalah seorang kiai alumnus Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Pancoran Kadur Pamekasan. Ia termasuk santri generasi pertama pesantren itu. Hal ini karena selama ia mondok di pertengahan tahun 1960-an Kiai Ali adalah murid Kiai Jamaluddin Rahbini, pendiri pesantren itu.

Kontroversi di Kalangan Ustadz Muda
Dalam masa hidupnya, Kiai Ali merupakan sosok yang kontroversial, utamanya di kalangan ustadz-ustadz muda yang baru keluar dari pesantren ketika itu. Banyak hal dari Kiai Ali yang mungkin dinilai para ‘ustadz muda’ itu sebagai tindakan nyeleneh dari kebiasaan kiai pada umumnya. Bahkan sering saya mendengar atau bahkan melihat sendiri perdebatan antara kiai Ali dengan para ustadz muda itu. Tema-tema perdebatannya bermacam-macam, tapi seringnya adalah masalah bagaimana seharusnya sikap hidup di masyarakat.

Pernah juga Kiai Ali ditentang ramai-ramai oleh para ustadz karena Kiai Ali selalu menjelaskan masalah keutamaan ‘setiap malam’ dari malam bulan Ramadhan sebagaimana dalam Kitab Durratun Nasihin. Kiai Ali ditentang ramai-ramai para ustadz karena dinilai memfatwakan sesuatu dari hadits yang lemah. Beliau juga ditentang karena ungkapan: “kalau waktu sahur, hendaknya kamu bangun meskipun kamu tak mau shalat subuh.”

Memang salah salah satu kebiasaan Kiai Ali adalah memberikan pengumuman melalui pengeras suara di mushalanya kepada masyarakat mengenai keutamaan setiap malam pada bulan Ramadhan.

“Keutamaan, dan pahala malam pertama di bulan Ramadhan, orang yang melaksanakan Shalat Tarawih di malam pertama ini ia akan diampuni semua dosanya dan menjadi suci layaknya bayi baru lahir.” Demikianlah kira-kira pengumumannya. Jika ada yang salah, itu adalah kesalahan saya dalam mengutip perkataan Kiai Ali.

Demikian pula ketika waktu sahur, ia memberikan pengumuman pula lewat pengeras suara di Isinya kurang lebih demikian:

“Sahur…. Sahur saudara-saudara sahur….!!! Bangun semuanya bangun…!!!, bagi semua yang hendak puasa bangun dan sahurlah kalian! Meskipun kalian ndak mau puasa besok bangun dan sahurlah ndak apa-apa. Meskipun kalian tak mau Shalat Subuh, sahur dan bangunlah,” katanya dengan lantang.

Pernyataan-pernyataan seperti itu, utamanya pernyataan yang terakhir sontak mendatangkan kontroversi yang menyebabkan Kiai Ali harus menghadapi perdebatan kiai yang lain utamanya para ustadz muda. Pernah juga bahkan seorang ustadz muda yang baru lulus dari pesantren mendatangi mushalanya dan berdiskusi. Bahkan ia pernah pula dinyatakan sebagai ‘terjatuh pada kekafiran’ oleh para ustadz muda itu.

Dalam menghadapi kritik dan itu, penulis melihat sendiri bahwa Kiai Ali tidak pernah gentar sedikit pun menghadapinya. Ia tetap saja menjalankan apa yang diyakininya. Bahkan sering terlihat bahwa ia duduk berdekatan dengan ustadz yang menentangnya dalam suatu undangan acara hajatan masyarakat.

Kitab Kuning sebagai kitab andalan
Bertahun-tahun belajar di pesantren, Kiai Ali ternyata telah belajar kepada banyak guru dan ustadz di pesantrennya. Gurunya yang utama adalah Kiai Jamaluddin Rahbini, sang pendiri pesantren, juga ia pernah belajar kepada putra-putra Kiai Jamaluddin, kepada para ustadz di sana. 

Ia mengaku guru kepada semua yang pernah mengajarinya dan bahkan meskipun secara usia beberapa tahun di bawahnya.

Adalah suatu yang mengherankan bahwa selama bertahun-tahun belajar di pesantren ia mengaku hanya mengaji beberapa kitab saja. Kitab tersebut adalah: Ibnu Aqil sebagai ilmu alat, Tafsir Jalalain, Riyadhus Shalihin, Fathul Qarib dan Durratun Nasihin. 

Ia menjelaskan bahwa hanya kelima kitab itulah yang di dalaminya selama belajar di pesantren. Namun mengenai kitab-kitab tersebut ia mengaku telah belajar kepada banyak kiai dan banyak ustadz di pesantrennya.

“Selama saya mondok, saya hanya mengaji Jalalain, Riyadus Shalihin, Fathul Qarib dan Ibnu Aqil saja juga Durratun Nashihin.” Tuturnya kepada penulis saat ditemui di mushalanya.

Jadi demikianlah, mengaji hanya beberapa kitab, akan tetapi didalami selama beberapa tahun dan mendapatkan penjelasan dari berbagai guru. Ini bagi penulis adalah suatu hal yang luar biasa. Ini pulalah yang dalam pandangan penulis menyebabkan ia menjadi radikal dalam moderatisme. Radikal dalam arti bahwa ia memahami dan menghayati secara mendalam kitab-kitab tersebut. Moderat dalam arti ia luwes dalam menghadapi masyarakat awam.

“Nak, kalau kamu mengaji Durratun Nasihin, imbangilah juga dengan mengaji Riyadhus Shalihin,” katanya dalam perbincangan pribadi dengan penulis di mushala-nya sekitar setahun yang lalu.

Dalam hal mengenai fatwa dari hadits yang lemah di Riyadhus Shalihin, sempat juga penulis tanyakan kepada beliau dalam suatu kesempatan. Juga mengenai keharusan bangun sahur meskipun tak shalat subuh. Ia menjawab:

Ndak apa-apa mereka menentang, karena mereka tak paham, maka dari itu tak berani melakukannya. (fatwa dengan Durratun Nasihin, red.).” Katanya

“Kalau mereka yang sudah alim, maka apa yang saya kutip dari Durratun Nasihin ndak perlu. Tapi bagaimana dengan mereka yang awam, yang untuk melaksanakan puasa saja sulit? Setidaknya dengan saya beritahu pahala mereka jadi semangat tarawih,” tambahnya.

“Masalah bangun sahur meskipun tak mau puasa dan shalat subuh, setidaknya kalau ia mau bangun untuk makan sahur selama 30 hari bulan puasa ia sudah latihan membiasakan diri bangun waktu subuh. Untuk supaya mereka mau shalat subuh bisa kita lanjutkan mauidlah hasanah. Yang penting terbiasa bangun subuh dulu,” jelasnya lagi.

Jadi, tampaknya Kiai Ali sudah memperhatikan bagaimana kondisi masyarakat sekitarnya. Ia dalam pergaulannya yang dekat dengan mereka sangatlah mengerti dan memahami berbagai aspek kehidupan para tetangganya itu.

Berkhidmah kepada Masyarakat
Di satu sisi ia sering mendapatkan penentangan dari para ustadz muda, di sisi lain Kiai Ali sering mendapatkan kunjungan dari masyarakat awam di kediaman atau mushalanya. Berbagai macam hal diadukan masyarakat kepadanya, mulai dari keperluan berobat, masalah keluarga sampai dengan masalah konsultasi usaha. 

Bahkan kiai Ali mengizinkan pula mushalanya untuk dijadikan tempat penampungan hasil panen pertanian masyarakat. Pada musim tembakau, bisa saja mushala yang tadinya dibuat shalat lima waktu itu lalu disulap sebagai gudang penyimpanan sementara tembakau mereka. Malam harinya, halaman mushalanya dapat giliran sebagai tempat merajang tembakau-tembakau itu. dengan secara tak langsung maka dapat dikatakan mushala kecil tersebut telah menjadi pusat kegiatan agama, sosial dan ekonomi masyarakat.

Bagi Kiai Ali, janganlah bertanya masalah hukumnya dulu, masyarakat ini memerlukan dakwah yang dibingkai bentuk santun dan mengayomi. Mereka belum mengerti dan harus perlahan untuk diberi pengertian.

Kai Ali sangat peduli akan masyarakat kecil. Ia tak segan-segan langsung mendatangi masyarakat yang membutuhkan sesibuk apa pun dia. Rata-rata yang ia layani adalah masyarakat kecil dan miskin di desanya.

“Kiai, itu anak saya di rumah disengat ular waktu cari kayu di tegalan. Kakinya bengkak,” kata seorang perempuan dengan tergesa-gesa suatu ketika saat kiai Ali sedang asik berbincang dengan penulis.

“Baik kalau begitu saya akan segera ke sana,” kata Kiai Ali langsung. Ia pun memutus perbincangan dengan saya dan segera bergegas.

Demikianlah Kiai Ali ia menjadi pengayom masyarakat. Penampilannya pun tak tampak sebagai Kiai. Kehidupannya sederhana. Baju yang ia pakai seringnya lusuh dan mangkak. Rupanya ia berpakaian sebagaimana masyarakat kecil yang sering mengunjunginya berpakaian. Namun siapa yang menyangka bahwa ia pengamal tarekat Naqsyabandiyah. Siapa yang menyangka pula bahwa ia pengikut setia dan aktivis Partai Nahdlatul Ulama di tahun 1971 (setidaknya untuk tingkat desa) mengikuti gurunya yang juga aktivis NU di tingkat Kabupaten Pamekasan.

Sekitar dua tahun yang lalu. Setelah hari Raya Idul Fitri, terdengar kabar bahwa ia telah wafat berpulang ke rahmatullah. Ia wafat setelah selama beberapa bulan lamanya sakit pada bagian lambungnya.

Banyak masyarakat melayat ketika kewafatannya. Mereka merasa kehilangan. Bahkan para ustadz muda yang dulu menentangnya (dan sekarang sudah semakin tua) juga ikut tahlil selama 7 (tujuh) hari kewafatannya.

Teruntuk, Kiai Ali bin Kiai Mushafa, Al-Fatihah….


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Malang

Jumat 25 Januari 2019 0:55 WIB
Hoaks Bencana yang Mengintip Saat Musibah Berlangsung
Hoaks Bencana yang Mengintip Saat Musibah Berlangsung
Ahmad Rozali

Pepatah lama 'sudah jatuh tertimpa tangga' sedang dialami oleh korban banjir di Sulawesi Selatan. Pada hari ketiga pascabanjir, saat mereka sedang berupaya menenangkan diri dari keterpurukannya akibat bencana banjir, mereka dikagetkan kabar palsu tentang akan adanya banjir susulan.

Tentu saja, kabar hoaks ini sangat meresahkan dan membuat panik mereka yang baru saja selamat dari banjir yang menenggelamkan sejumlah kawasan di Sulsel. Ani, seorang teman di loasi mengatakan, kabar tersebut membuat warga ketakutan dan berhamburan. "Warga masih panik karena tadi sore ada berita hoaks air akan meluap lagi. Jadi banyak kecelakaan di jalan karena lalu lintas padat," kata Ani, Kamis (24/1). 

Informasi hoaks semacam ini pasti sangat meresahkan. Saya bisa membayangkan betapa mengerikannya hoaks tentang bencana yang disebarkan di kawasan yang baru saja tertimpa bencana. Kejadian seperti ini pernah saya alami sendiri di pada tahun 2006 silam di Yogyakarta saat Kota Pudak ini baru saja dilanda gempa dengan kekuatan 5.9 skala richter. Beberapa jam setelah gempa berlangsung, tiba-tiba warga dikagetkan kembali dengan kabar hoaks akan adanya tsunami. Warga yang sedang kelelahan dan tidak terpikirkan untuk mengonfirmasi kabar tersebut seketika berlarian ke segala arah mencari tempat aman. 

Rekaman wajah-wajah warga berlarian ketakutan masih sangat jelas teringat. Kala itu, persimpangan jalan seperti di kampus UIN Yogyakarta menjadi tempat tubrukan sejumlah kendaraan. Jalan solo sepanjang kampus UIN, Gramedia hingga pertigaan jembatan layang Janti dipenuhi orang yang berlarian mencari perlindungan. Sangat mengerikan.

Jika diperhatikan dengan seksama saat bencana sedang berlansung, kerap kali hoaks mengenai bencana serupa bermunculan. Hoaks banjir juga beredar di Bogor beberapa waktu lalu. Hoaks itu menunggangi maraknya informasi di berbagai media mengenai banjir di Sulsel. Hoaks jenis misleading ini berupa unggahan suara Walikota Bogor Bima Arya yang mengingatkan agar warga Bogor dan Jakarta mewaspadai tingginya debit air di bendungan Katulampa yang berpotensi menjadi banjir.

Padahal informasi ini merupakan rekaman tahun 2018 lalu ketika ketinggian air di bendungan Katulampa mencapai 240 sentimeter dengan status siaga satu. 

Jika merujuk pada data yang dikeluarkan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo), hoaks mengenai bencana alam, merupakan salah satu dari 11 kategori hoaks yang kerap disebarkan melalui media sosial. Jenis hoaks lain yang kerap disebarkan adalah hoaks jenis politik, agama dan kesehatan. Berdasarkan data yang sama, jumlah hoaks yang menyebar di masyarakat setiap hari mencapai kurang lebih tiga buah. Dikabarkan angka hoaks terus bertambah setiap tahun sejak tahun 2014 silam.

Berita hoaks pada dasarnya memiliki ciri khas yang bisa diidentifikasi secara kasat mata. Akan tetapi tanpa berpikir kritis, berita hoaks kerap lolos dari identifikasi pengguna media sosial atau chattinng platform. Untuk memudahkan, terdapat beberapa ciri khas berita hoaks yang umum bisa ditemukan, antara lain; 1. Diawali kata-kata sugestif dan heboh, 2. Kerap mencatut nama tokoh-tokoh atau lembaga terkenal, 3. Terdengar tidak masuk akal, sehingga kerap disertai dengan hasil penelitian palsu, 4. Biasanya hanya beredar melalui pesan-pesan singkat atau situs-situs yang tidak jelas kepemilikannya, tidak muncul di media-media arus utama, 5. Biasanya menggunakan huruf kapital dan tanda seru. 

Konten demikian dapat diantisipasi dengan dua cara sederhana; memeriksa kredibilitas website yang memuat konten tersebut dan Melakukan cross check pada platform terpercaya.

Redaktur NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG