IMG-LOGO
Daerah

Buku Pelajaran SD Kelas V Ini Kaburkan Karakter Berjuang NU

Selasa 5 Februari 2019 15:30 WIB
Bagikan:
Buku Pelajaran SD Kelas V Ini Kaburkan Karakter Berjuang NU
Cover Buku Peristiwa Dalam Kehidupan (Ist.)

Jakarta, NU Online
Menanggapi materi dalam buku pelajaran tematik terpadu kurikulum 2013 kelas V SD/MI dengan judul Peristiwa Dalam Kehidupan (Tema 7) halaman 45 yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI 2017, Katib Syuriyah PCNU Jombang Ahmad Samsul Rijal menilai pendeskripsian atau penggambaran model perjuangan kelompok, khususnya NU seperti dalam buku tersebut tidaklah tepat.

"(Pendeskripsiannya) bahkan cenderung merendahkan NU dari sudut pandang model perjuangan kelompok pada saat ini. Penggunaan sudut pandang atau terminologi saat ini (radikal) untuk menilai NU dengan model perjuangan masa lalu tidak seperti yang dideskripsikan dalam buku tersebut," terangnya kepada NU Online melalui sambungan telepon, Selasa (5/2).

Bahkan deskripsi seperti itu menurutnya merupakan bentuk "pengaburan" karakter berjuang NU (ulama, thariqah dan pesantren) atau menyamakannya dengan kelompok lain sebagaimana tulisan dalam buku tersebut.

Deskripsi ini lanjutnya, bisa berdampak negatif, dalam sudut pandang saat ini (dengan menggunakan istilah radikal), bahwa seolah membenarkan model radikalisme yang digunakan kelompok lain saat ini karena seolah NU juga pernah melakukan hal yang sama.

"Deskripsi itu menguatkan dugaan bahwa penulis adalah orang, tim atau kelompok yang tidak memahami karakteristik perjuangan NU. Atau sengaja ingin menyamakan NU dengan PKI atau lainnya. Penulis adalah orang dengan karakter pejorative (merendahkan) terhadap NU, serta sedang mencari pembenaran terhadap perjuangan radikal saat ini," terangnya.

Bila demikian, maka penulis adalah bagian dari kelompok radikal yang saat ini berkembang di Indonesia.


Foto: Katib Syuriyah PCNU Jombang, Jatim, Ahmad Samsul Rijal

Respon Kiai Rijal ini berdasarkan laporan seorang guru yang juga kader NU di Kebonagung, Ploso, Jombang yang disampaikan melalui pengurus MWC NU Ploso Jombang. Guru tersebut melihat dan membaca buku pelajaran kelas V SD/MI tersebut dan mencurigai ada deskripsi tidak wajar mengenai NU.

Dalam buku tersebut tertulis demikian:

Masa Awal Radikal (tahun 1920-1927-an). Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka menggunakan asas nonkoperatif/tidak mau bekerja sama. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Kiai Rijal mengajak masyarakat khususnya warga NU untuk berhati-hati dengan tulisan tersebut karena bila dibaca, dipahami hingga tertanam dalam memori pembaca maka akan terjadi hal-hal negatif.

Pertama, memunculkan keragu-raguan (tasykik). Menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan jiwa terhadap sesuatu yang telah diyakini yakni keragu-raguan dan pendangkalan jiwa generasi NU terhadap jam’iyyah dan jama’ahnya.

Kedua, pemburukan (tasywih). Menghilangkan kebanggaan terhadap NU dengan menggambarkan hal-hal yang saat ini dinilai buruk (radikal), terbelakang dan lain-lain dan menyamakan kata radikal terhadap NU.

Ketiga, Pencampuradukan (tadzwiib). Mencampuradukkan atau melarutkan perbedaan seolah menjadi sama antara karakteristik perlawanan NU terhadap penjajah dengan istilah radikal sebagai gerakan fundamentalis atau purifikasi terhadap sistem mainstream (pemerintah).   

Oleh karenanya Kiai Rijal berharap Kemendikbud RI dapat meneliti kembali dan melakukan revisi serta tabayyun (klarifikasi) dengan NU agar mendapatkan gambaran dan deskripsi yang jelas jika akan menggambarkan periodesasi pergolakan nasional pada saat itu yakni 1920-1927-an, khususnya mengenai NU.

"Terlebih NU berdiri ditahun 1926, sehingga pergolakan nasional yang dimotori oleh kiai, thariqah dan pesantren dapat dideskripsikan dengan tepat dan benar," tambahnya.

Kiai Rijal mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama yang di dalamnya adalah para kiai, pesantren dan thariqah adalah komunitas nusantara yang sejak abad 15 hingga 20 merupakan pejuang peradaban sekaligus pejuang melawan penjajah dan kolonialisme.

"Sejarah membuktikan itu (perjuangan NU) sejak Kesultanan Demak, Ternate, Tidore, Diponegoro hingga Resolusi Jihad yang memicu perang Surabaya 10 Nopember serta perang setelahnya. Setiap perang fisik yang dimotori oleh ulama atau kiai, thariqah dan pesantren bersambung mengilhami serta dilanjutkan oleh generasi berikutnya," terangnya.

Dengan demikian secara prinsip Jam'iyyah NU tidak pernah dijajah karena selalu melakukan perlawanan dan berjuang terhadap penindasan. (Muhammad Faizin)
Tags:
Bagikan:
Selasa 5 Februari 2019 22:30 WIB
Cara Nahdliyin Pandeglang Perkuat Konsolidasi dan Ideologi
Cara Nahdliyin Pandeglang Perkuat Konsolidasi dan Ideologi
Pandeglang, NU Online
Keluarga Besar Nahdlatul Ulama Kabupaten Pandeglang menggelar pertemuan di Ruangan Radio Krakatau Labuan-Kabupaten Pandeglang-Banten, Selasa (5/2). Kegiatan dilakukan dalam rangka konsolidasi gerakan NU di Kabupaten Pandeglang agar tidak surut dalam menanamkan nilai nilai Ahslusunnah Waljamaah di masyarakat. 

Hadir pada kegiatan tersebut, perwakilan dari Pengurus Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Pandeglang, Pengurus Pejuang Islam Nusantara (PIN) Banten, Aliansi Mahasiswa Siliwangi (AMS), Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Pengurus Majlis Wakil Cabang (MWC) terdekat. Antara lain, Aziz Nurdin, Kiai Sirojudin, Nurjanah, Kiai Olieh Koen, Kiai Arfan Bahrudin, Lukman Hakim, Nyi Mas Dyan Gayatri, Kiai Wadil, Ajid Awwal, Ade Bideng, dan sejumlah warga Nahdlyin Carita. 

Pertemuan yang difasilitasi Radio Krakatau dan Ketua Ansor Pandeglang itu diinisiasi Ketua PIN Banten, KH Azis Nurdin. Pada forum tersebut dibahas sejumlah persoalan yang tengah menyelimuti masyarakat Pandeglang. Misalnya massifnya gerakan Islam transnaasional yang membuat resah kalangan Nahdlyin.

"Beranjak dari itu inisiatif berkumpul ini mencoba mencari formulasi gerakan ke depan,” kata Ketua Ansor Kabupaten Pandeglang, Lukman Hakim kepada NU Online.

Ia menuturkan maksud dari pertemuan itu juga untuk memperkuat peran NU di masyarakat sehingga seluruh pemahama Islam yang diaanut Nahdlatul Ulama dimaknai secara utuh oleh masyarakat. Menurutnya, setelah pertemuan akan ada tindak lanjut nyata agar tidak ada paham ekstrem yang menyelimuti warga Pandeglang. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)

Selasa 5 Februari 2019 22:6 WIB
Warga Terharu Dapat Santunan Hasil dari Kaleng Sedekah UPZISNU
Warga Terharu Dapat Santunan Hasil dari Kaleng Sedekah UPZISNU
Jombang, NU Online
Unit Pengumpul Zakat Infaq dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) Desa Kepatihan, Kecamatan/Kabupaten Jombang, Jawa Timur menyantuni warganya dari dusun ke dusun.

Santunan atau bantuan diberikan kepada sejumlah warga dari hasil pengelolaan keleng sedekah. Kali ini beberapa petugas UPZISNU Kepatihan memberikan bantuan kepada salah satu warganya yang meninggal dunia. Bantuan diberikan di kediamannya di Jl. WR Supratman, gang 4, RW 6, dan diterima keluarganya, Selasa (5/2).

"Kita memberikan antunan duka kepada almarhum Bapak Siswantono yang meninggal kemarin tanggal 4 Februari kemarin," kata Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Kepatihan, H Muhammad Manshur.

Santunan yang berupa uang sebesar Rp 500 ribu dan 10 kardus air meneral itu menurutnya cukup mendapat perhatian warga. Bahkan warga yang bersangkutan terharu kala mendengar santunan yang diterima bersumber dari kaleng sedekah.

"Beliau, kluarga duka sangat terharu sekali karena merasa ada yang memperhatikan dan beliau sangat mendukung sekali dengan program keleng sedekah tersrbut," ucapnya.

Ia menjelaskan, warga yang berada di kawasan Jalan WR Supratman itu belum mengenal terhadap program keleng sedekah yang selama ini dikelola UPZISNU Kepatihan. Pasalnya, petugas UPZISNU memang belum sosialisasi. Meski demikian, H Manshur menilai, program kaleng sedakah nantinya akan diterima warga dengan baik, melihat tanggapan keluarga duka yang sangat positif.

"Di daerah tersebut belum terjamah kaleng sama sekali, dan rencana baru sosialisasi tanggal 10 Februari mendatang, namun saat mendengar model pengelolaan keleng, beliau sangat antusias," ujar dia. (Syamsul Arifin/Fathoni)
Selasa 5 Februari 2019 21:0 WIB
Ratusan Banser Sidoarjo Dikerahkan Bantu Korban Angin Puting Beliung
Ratusan Banser Sidoarjo Dikerahkan Bantu Korban Angin Puting Beliung
Banser dan Denwatser Sidoarjo
Sidoarjo, NU Online
Bencana angin puting beliung yang terjadi di Kecamatan Buduran dan Sedati Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, beberapa waktu lalu menggerakkan Pimpinan Cabang GP Ansor dan Banser Sidoarjo mengambil langkah cepat membantu para korban.

Memanfaatkan momen libur, mereka langsung turun ke lokasi guna membantu perbaikan dan mengevakuasi puing-puing bangunan yang porak poranda.

Dari pantauan NU Online di lokasi, tak hanya Banser laki-laki yang diturunkan ke lokasi bencana. Banser perempuan atau Detasemen Wanita Banser (Denwatser) juga semangat dan antusias membantu perbaikan. Mereka ikut menurunkan sejumlah genting dan mengangkat puing-puing bangunan menggunakan gerobak kecil.

Menurut Ketua GP Ansor Cabang Sidoarjo H. Rizza Ali Faizin, ada sekitar 120 lebih Banser yang bergerak ke daerah terdampak. Mereka bersama warga membantu memperbaiki fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan beberapa rumah warga.

“Kami sangat mengapresiasi langkah Ansor, Banser Kecamatan Buduran, Sedati, dan sekitarnya yang tanggap bencana dan langsung membantu warga di lokasi bencana. Ini salah satu wujud kepedulian Ansor, Banser, dan LAZISNU untuk masyarakat," katanya Rizza yang juga ikut berjibaku bersama anggota lainnya, Selasa (5/2).

Rizza menjelaskan, dari data yang diambil dari Satkoryon Banser Kecamatan Buduran dan Sedati, terdapat 8 fasilitas pendidikan dan tempat ibadah yang mengalami kerusakan. Oleh sebab itu, secara bergiliran Banser Sidoarjo akan membantu proses pembangunan hingga selesai.

"Seperti di MI Sawohan ini, kami terjunkan puluhan personil hari ini untuk memperbaiki atap sekolah yang rusak," jelasnya.

Perbaikan yang dilakukan Banser, sudah dimulai sejak Ahad (3/2) lalu. Untuk sementara, hingga hari ini pihaknya bersama LAZISNU Cabang Sidoarjo telah melakukan bedah rumah sebanyak 3 buah, merehab 7 rumah, dan 2 sekolah. Beberapa mushala dan TPQ yang terdampak juga telah menerima bantuan. (Moh Kholidun/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG