::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Buku Pelajaran SD Kelas V Ini Kaburkan Karakter Berjuang NU

Selasa, 05 Februari 2019 15:30 Daerah

Bagikan

Buku Pelajaran SD Kelas V Ini Kaburkan Karakter Berjuang NU
Cover Buku Peristiwa Dalam Kehidupan (Ist.)

Jakarta, NU Online
Menanggapi materi dalam buku pelajaran tematik terpadu kurikulum 2013 kelas V SD/MI dengan judul Peristiwa Dalam Kehidupan (Tema 7) halaman 45 yang diterbitkan oleh Kemendikbud RI 2017, Katib Syuriyah PCNU Jombang Ahmad Samsul Rijal menilai pendeskripsian atau penggambaran model perjuangan kelompok, khususnya NU seperti dalam buku tersebut tidaklah tepat.

"(Pendeskripsiannya) bahkan cenderung merendahkan NU dari sudut pandang model perjuangan kelompok pada saat ini. Penggunaan sudut pandang atau terminologi saat ini (radikal) untuk menilai NU dengan model perjuangan masa lalu tidak seperti yang dideskripsikan dalam buku tersebut," terangnya kepada NU Online melalui sambungan telepon, Selasa (5/2).

Bahkan deskripsi seperti itu menurutnya merupakan bentuk "pengaburan" karakter berjuang NU (ulama, thariqah dan pesantren) atau menyamakannya dengan kelompok lain sebagaimana tulisan dalam buku tersebut.

Deskripsi ini lanjutnya, bisa berdampak negatif, dalam sudut pandang saat ini (dengan menggunakan istilah radikal), bahwa seolah membenarkan model radikalisme yang digunakan kelompok lain saat ini karena seolah NU juga pernah melakukan hal yang sama.

"Deskripsi itu menguatkan dugaan bahwa penulis adalah orang, tim atau kelompok yang tidak memahami karakteristik perjuangan NU. Atau sengaja ingin menyamakan NU dengan PKI atau lainnya. Penulis adalah orang dengan karakter pejorative (merendahkan) terhadap NU, serta sedang mencari pembenaran terhadap perjuangan radikal saat ini," terangnya.

Bila demikian, maka penulis adalah bagian dari kelompok radikal yang saat ini berkembang di Indonesia.


Foto: Katib Syuriyah PCNU Jombang, Jatim, Ahmad Samsul Rijal

Respon Kiai Rijal ini berdasarkan laporan seorang guru yang juga kader NU di Kebonagung, Ploso, Jombang yang disampaikan melalui pengurus MWC NU Ploso Jombang. Guru tersebut melihat dan membaca buku pelajaran kelas V SD/MI tersebut dan mencurigai ada deskripsi tidak wajar mengenai NU.

Dalam buku tersebut tertulis demikian:

Masa Awal Radikal (tahun 1920-1927-an). Perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajah pada abad ke-20 disebut masa radikal karena pergerakan-pergerakan nasional pada masa ini bersifat radikal/keras terhadap pemerintah Hindia Belanda. Mereka menggunakan asas nonkoperatif/tidak mau bekerja sama. Organisasi-organisasi yang bersifat radikal adalah Perhimpunan Indonesia (PI), Partai Komunis Indonesia (PKI), Nahdlatul Ulama (NU), Partai Nasionalis Indonesia (PNI).

Kiai Rijal mengajak masyarakat khususnya warga NU untuk berhati-hati dengan tulisan tersebut karena bila dibaca, dipahami hingga tertanam dalam memori pembaca maka akan terjadi hal-hal negatif.

Pertama, memunculkan keragu-raguan (tasykik). Menimbulkan keragu-raguan dan pendangkalan jiwa terhadap sesuatu yang telah diyakini yakni keragu-raguan dan pendangkalan jiwa generasi NU terhadap jam’iyyah dan jama’ahnya.

Kedua, pemburukan (tasywih). Menghilangkan kebanggaan terhadap NU dengan menggambarkan hal-hal yang saat ini dinilai buruk (radikal), terbelakang dan lain-lain dan menyamakan kata radikal terhadap NU.

Ketiga, Pencampuradukan (tadzwiib). Mencampuradukkan atau melarutkan perbedaan seolah menjadi sama antara karakteristik perlawanan NU terhadap penjajah dengan istilah radikal sebagai gerakan fundamentalis atau purifikasi terhadap sistem mainstream (pemerintah).   

Oleh karenanya Kiai Rijal berharap Kemendikbud RI dapat meneliti kembali dan melakukan revisi serta tabayyun (klarifikasi) dengan NU agar mendapatkan gambaran dan deskripsi yang jelas jika akan menggambarkan periodesasi pergolakan nasional pada saat itu yakni 1920-1927-an, khususnya mengenai NU.

"Terlebih NU berdiri ditahun 1926, sehingga pergolakan nasional yang dimotori oleh kiai, thariqah dan pesantren dapat dideskripsikan dengan tepat dan benar," tambahnya.

Kiai Rijal mengingatkan bahwa Nahdlatul Ulama yang di dalamnya adalah para kiai, pesantren dan thariqah adalah komunitas nusantara yang sejak abad 15 hingga 20 merupakan pejuang peradaban sekaligus pejuang melawan penjajah dan kolonialisme.

"Sejarah membuktikan itu (perjuangan NU) sejak Kesultanan Demak, Ternate, Tidore, Diponegoro hingga Resolusi Jihad yang memicu perang Surabaya 10 Nopember serta perang setelahnya. Setiap perang fisik yang dimotori oleh ulama atau kiai, thariqah dan pesantren bersambung mengilhami serta dilanjutkan oleh generasi berikutnya," terangnya.

Dengan demikian secara prinsip Jam'iyyah NU tidak pernah dijajah karena selalu melakukan perlawanan dan berjuang terhadap penindasan. (Muhammad Faizin)