IMG-LOGO
Nasional

Doa Pertama yang Diajarkan Allah

Rabu 6 Februari 2019 22:45 WIB
Bagikan:
Doa Pertama yang Diajarkan Allah
Jakarta, NU Online
Al-Fatihah merupakan urutan surat pertama di dalam kitab suci Al-Qur’an. Di dalam surat yang disebut sebagai ummul kitab tersebut, terdapat doa pertama yang diajarkan Allah SWT dalam Al-Qur’an.

Hal itu diungkapkan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat KH M. Luqman Hakim. Doa tersebut terkait dengan memohon petunjuk jalan lurus yang dibahasakan sebagai shirathal mustaqim.

“Doa pertama yang diajarkan Allah di Surat Al-Fatihah adalah, Tunjukkan kami Shirathal Mustaqim,” ujar Kiai 
Luqman dikutip NU Online, Rabu (6/2) lewat twitternya.

Lebih lanjut, Direktur Sufi Center Jakarta itu merinci maksud doa shirathal mustaqim, yaitu jalan lurus menuju Allah, jalan istiqomah, jalan para Nabi, Wali, orang-orang shaleh, serta jalan berlimpah nikmat-Nya.

“Nikmat kita dilahirkan di dunia dan nikmat dilimpahi Islam, Iman, Ihsan,” imbuhnya.

Kiai Luqman juga mencatat, shirathal mustaqim sebagai jembatan yang harus dilalui manusia secara hakikat bukan hanya ada di akhirat, tetapi juga ada di dunia.

Menurutnya, saat ini di dunia, manusia sedang melintasi shirathal mustaqim. Jalan yang dipilih manusia akan mengantarkannya untuk mendapat nikmat atau sebaliknya, neraka.

Neraka di dunia yang berada di bawah jembatan shirathal mustaqim menurut penulis buku Jalan Ma'rifat ini ialah neraka caci maki, jilatan api fitnah, dendam, jahanam kemungkaran, dan kegelapan kekufuran.

“Sekarang, di dunia ini, kita sedang melintasi shirathal mustaqim. Di bawah ada neraka caci maki, jilatan api fitnah, dendam, jahanam kemungkaran, bahkan kegelapan kekufuran,” jelas Kiai Luqman. (Fathoni)
Bagikan:
Rabu 6 Februari 2019 22:30 WIB
TWEET GUS ALI
Resep Gus Ali agar Tak Jadi Orang yang Mudah Panik
Resep Gus Ali agar Tak Jadi Orang yang Mudah Panik
KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali)
Jakarta, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo, Jawa Timur KH Agoes Ali Masyhuri (Gus Ali) menegaskan bahwa manusia membutuhkan Allah SWT karena Dia satu-satunya tempat bergantung.

Menurutnya, manusia harus banyak-banyak bergantung kepada Allah agar menjadi orang yang tidak gampang bingung dan tidak mudah panik.

“Bergantunglah kepada Allah agar menjadi orang yang tidak gampang bingung dan tidak mudah panik,” tegas Gus Ali seperti dilihat NU Online, Rabu (6/2) lewat twitternya.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa dalam melaksanakan perintah Allah, sangat diperlukan kesadaran total dan kesopanan kepada sang Pencipta Kehidupan.

Selain berdzikir, Gus Ali menerangkan bahwa kesopanan terhadap Allah bisa dilakukan dengan mengheningkan batin dan melepaskan diri dari sifat lalai. Kelalaian ini bisa dilakukan dengan menghadirkan hati bersama Allah.

“Kesopanan tertinggi terhadap Allah adalah berzikir, mengheningkan batin , dan melepaskan diri dari kelalaian dengan jalan menghadirkan hati bersama Allah,” tuturnya. 

Dalam penjelasan lain, Gus Ali menekankan bahwa segala yang ada di sisi Allah tidak akan didapat dengan maksiat kepada-Nya.

“Ketahuilah kemurahan Allah mendahului semua permintaan kita, dan Rahmat-Nya meliputi semua situasi yang kita ketahui dan yang tidak kita ketahui,” ungkapnya. (Fathoni)
Rabu 6 Februari 2019 21:0 WIB
Kongres Pertama, Ma’had Aly Didorong Manfaatkan Teknologi Informasi
Kongres Pertama, Ma’had Aly Didorong Manfaatkan Teknologi Informasi
Kongres 1 Mahasantri Ma'had Aly di Jombang, Jatim
Jombang, NU Online
Mahasantri Ma'had Aly Se-Indonesia mengadakan kongres untuk yang pertama kalinya. Kegiatan ini berlangsung pada Rabu hingga Kamis (6-7/2) dan bertempat di Ma’had Aly Hasyim Asy’ari Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur.

Kegiatan ini dihadiri oleh para delegasi yang berasal dari 36 ma’had aly se Indonesia. Total ada sekitar 30 ma’had aly yang mengirimkan delegasinya pada kegiatan ini.

Ketua Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (Amali), KH Abdul Djalal saat membuka Kongres I Mahasantri Ma’had Aly se-Indonesia pada Rabu (6/2) berharap agar mahasantri dapat menjadi insan yang kreatif dengan cara melihat sesuatu secara utuh dan bekerja dengan totalitas intelektual dan spiritual.

“Karya apabila disentuh dengan totalitas maka akan menjadi sebuah mahakarya. Mahasantri ma'had alay adalah santri yang penuh kreatifitas yang kaya oleh karya. Kita jadi insan ma'had aly, kita jadi insan yang kreatif,” ujarnya.

KH Abdul Hakim Mahfudz yang merupakan Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng mengajak ma’had aly untuk memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat. 

Menurutnya, dengan hal ini bisa menangkal informasi yang bertentangan dengan ideologi pesantren dan bangsa. “Dengan adanya Dewan Senat dan Dewan Eksekutif Mahasantri (Dema) baik di Ma'had Aly Hasyim Asy'ari maupun di ma'had aly lainnya, diharapkan akan lebih mengeratkan kembali komunikasi antar mahasantri, dewan mudir dan muhadhir,” jelas Gus Kikin pnggilan akrabnya.

Dikatakan, kita harus bersama-sama memanfaatkan kemajuan teknologi informasi yang semakin pesat dan juga bersama-sama menangkal informasi yang sering bertentangan dengan ideologi pesantren dan bangsa Indonesia.

Kongres akan dilaksanakan hingga esok hari, Kamis (7/2) dengan agenda diantaranya ziarah kubur, ta'aruf antar seluruh delegasi, sidang Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Dema Amali, pemilihan ketua Dema Amali serta pembahasan mengenai langkah-langkah Dema Amali ke depan. (Hanan/Muiz)
Rabu 6 Februari 2019 18:45 WIB
LP Ma’arif PBNU Protes ke Kemendikbud Terkait Buku Ajar Sebut ‘NU Radikal’
LP Ma’arif PBNU Protes ke Kemendikbud Terkait Buku Ajar Sebut ‘NU Radikal’
Pertemuan LP Maarif PBNU dan Kemendikbud (Foto: Ist.)

Jakarta, NU Online
Lembaga Pendidikan Ma’arif Pengurus Besar Nadlatul Ulama (LP Ma’arif PBNU) menemui pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaaan (Kemendikbud) di Gedung Kemendikbud, Jakarta, Rabu (6/1). Pertemuan tersebut membahas tentang polemik buku ajar MI/SD yang memuat materi NU termasuk dalam organisasi radikal.

“Rapat LP Ma'arif NU PBNU dengan jajaran Kemendikbud, Rabu 6 Februari, jam 14.00-16.00 membahas protes keras buku ajar yang mencatumkan NU termasuk organisasi radikal,” kata Ketua LP Ma’arif PBNU H Arifin Junaidi kepada NU Online melalui sambungan telepon, Rabu (6/1).

Menurut Arifin, penyebutan NU sebagai organisasi radikal berpotensi menimbulkan disintegrasi bangsa. Padahal, sambungnya, pelajaran sejarah seharusnya bisa menumbuhsuburkan nasionalisme.

Atas protes tersebut, LP Ma’arif PBNU melayangkan tiga tuntutan kepada Kemendikbud, yang semuanya dipenuhi oleh Kemendikbud.

Alhamdulillah semua (tiga) tuntutan LP Ma'arif NU dipenuhi,” ucapnya.

Pertama, menarik buku tersebut dari peredaran dan menghentikan pencetakannya baik buku untuk murid maupun guru. Kedua, materi buku tersebut direvisi dengan melibatkan LP Ma'arif PBNU. Ketiga, dilakukan mitigasi untuk mencegah penulisan buku yang tidak sesuai fakta dan mendiskreditkan NU, dengan melibatkan LP Ma'arif PBNU.

Selain Arifin, pertemuan tersebut diikuti Wasekjen PBNU H Masduki Baedowi dan sejumlah pengurus LP Ma’arif PBNU. Sementara dari pihak Kemendikbud diikuti Sekjen Kemendikbud Didik Suhardi dan sejumlah pejabat Kemendikbud yang lain. (Husni Sahal/Muhammad Faizin)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG