IMG-LOGO
Esai

Mengenal Karya Tulis Ulama Betawi

Kamis 7 Februari 2019 10:0 WIB
Bagikan:
Mengenal Karya Tulis Ulama Betawi
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Hari Rabu malam, 30 Januari 2019, bertempat di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, saya menjadi narasumber Studium General Islam di Nusantara dengan tema Menguak Khazanah Ulama Betawi yang diselenggarakan oleh Ma`had Ali Sa`iidusshiddiqiyah Jakarta.

Pada kesempatan tersebut saya menjelaskan bahwa khazanah ulama Betawi dalam bentuk karya tulis cukup banyak. Dari hasil kegiatan saya menjadi asisten peneliti dan narasumber kegiatan Inventarisasi Karya Ulama di Lembaga Keagamaan di DKI Jakarta pada tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI  untuk membantu kegiatan penelitian dua orang peneliti, yaitu Nur Rahmah dan Puji Astuti, terhimpun 160 karya yang merupakan buah karya intelektual 26 ulama Betawi yang hidup di abad ke-19 dan ke-20 M.

Kecenderungan karyai ntelektual tersebut berada pada bidang fiqih. Sedangkan yang masih belum terhimpun masih banyak, seperti karya Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi, yang berjumlah ratusan.

Bagi saya, jumlah ratusan karya ulama Betawi ini, khususnya yang diterbitkan pada masa prakemerdekaan, menimbulkan kekaguman tersendiri buat saya. Sebab sensus pada tahun 1930  (Lance Castles, 2007) menunjukkan bahwa wilayah Jakarta merupakan salah satu wilayah terbelakang dalam pendidikan umum. Prosentasi melek-huruf di Batavia (11,9%) merupakan angka yang rendah bagi daerah perkotaan. Sebagai contoh bandingkan dengan Bandung, yaitu 23,6%.

Selain itu, mereka yang melek huruf hampir bisa dipastikan bukan orang Betawi. Jadi, karya-karya ulama Betawi yang banyak diterbitkan pada masa itu hadir di tengah-tengah masyarakat Betawi yang kebanyakan masih buta huruf. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama Betawi untuk mengajarkan karya-karyanya di tengah-tengah masyarakat.

Karya tulis ulama Betawi tidak hanya didominasi oleh ulama pria, tetapi juga oleh ulama perempuan. Untuk ulama perempuan Betawi, terdapat nama Ustadzah Khadijah Jamali yang memiliki karya tulis berjudul Al-Mawaa`iz Al-`Usfuriyah dan Wirid dan Tahlil. Lalu Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir, putri dari KH Thohir Rohili, pendiri Perguruan Ath-Thahiriyah, telah menghasilkan 27 karya tulis di bidang akhlak, fiqih, tauhid dan ulumul Qur`an yang ditulis dalam bahasa Arab saja atau bahasa Arab dengan bahasa Indonesianya.

Sepanjang yang saya ketahui, Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir adalah ulama perempuan Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini. Disusul kemudian  dengan Ustadzah Hj Tutty Alawiyah.

Ustadzah Hj Tutty Alawiyah adalah putri dari KH Abdullah Syafi`ie, ulama Betawi yang dijuluki singa podium dan pendiri Perguruan Asy-Syafi`iyyah, dikenal sebagai mubalighah kondang.

Ia juga dikenal sebagai pendiri dan Ketua Umum Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era Presiden Soeharto dan Presiden BJ Habibie. Namun tidak banyak yang tahu jika ia juga seorang ulama Betawi perempuan yang produktif menulis.

Ada 16 karyanya yang berhasil diinventarisasi di bidang fiqih, akhlak, sejarah, aqidah, ulumul Qur`an dan dakwah yang ditulis dalam bahasa Arab, Indonesia dan Arab-Indonesia. 

Jika Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir adalah ulama perempuan Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini, maka Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi, adalah ulama laki-laki Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini yang saya ketahui.

Data yang saya dapatkan menyebutkan bahwa karya Habib Utsman bin Yahya (lahir di daerah Pekojan,Tambora, Jakarta Barat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H/1822 M dan wafat Ahad, 19 Januari 1914 dikuburkan di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur) berjumlah 116 buah. Ada pula yang menyebutkan sebanyak 114 buah.

Habib Ali Yahya, mantan Wapemred Majalah Al-Kisah, menyebutkan kepada saya bahwa karya Habib Utsman bin Yahya ada sekira 150-an buah dan ia memiliki daftarnya. Sedangkan salah seorang ulama yang masih menyimpan hampir semua karya tulis Habib Utsman bin Yahya adalah KH Tubagus Ahmad Bakri yang akrab dipanggil Mama Sempur Plered karena tinggal di daerah Sempur, Plered, Purwakarta.

Karya tulis-karya tulis Habib Utsman bin Yahya masih dibaca dan dijadikan rujukan oleh umat Islam sampai hari ini, bukan hanya di Indonesia, bahkan di berbagai negara di Asia Tenggara. Dua karyanya yang masih populer di masyarakat adalah Irsyaadul Anaam, Adabul Insaan dan Sifat Dua Puluh.

Untuk sebaran karya tulis ulama Betawi yang sampai ke luar Indonesia, selain karya tulis Habib Utsman bin Yahya, juga karya tulis dari Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami penulis Kitab Safinatun Najah Fi Ma Yajibu `ala Abdi li Maulah (Perahu Keselamatan di dalam Mempelajari Kewajiban Seorang Hamba kepada Tuhannya).

Selain itu, ada pula Guru Manshur Jembatan Lima dengan karya di bidang ilmu falak yang berjudul Sullamun Nayrain. Kitab falak ini banyak digunakan bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara. 

Ada pula Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi, yang karyanya bahkan telah mendunia, yaitu yang berjudul Al-Imamus Syafi`i fi Madzabihil Qadim wal Jadid. Karya tulisnya ini, menurut Prof Syakh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar Universitas Al-Azhar Kairo, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat. Karya ini membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi`i.

Di samping itu, analisisnya pun sangat tajam, mendalam, terpercaya, detail, dan komprehensif. Bahkan, tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa karya tulis ini adalah satu-satunya karya ilmiah yang paling sempurna yang pernah ada di zaman sekarang ini yang membahas tentang Imam Syafi`i.

Sedangkan menurut KH Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriyah PBNU dan pengurus MUI Pusat, menyatakan bahwa tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi`i di dunia Islam yang selengkap karya ini.

Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi`i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya. Luar biasanya, kitab ini dikarang oleh orang Indonesia, seorang ulama Betawi, yang dengan kitabnya tersebut ia memperoleh gelar doktor perbandingan mazhab dari Universitas Al-Azhar, Kairo.

Karya tulis Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi ini telah diterjemahkan oleh Jakarta Islamic Centre dan diterbitkan bersama penerbit Hikmah pada tahun 2008 dengan judul  Ensiklopedia Imam Syafi`i. Selain dijadikan bacaan dan referensi akademik, karya tulis ini juga dijadikan kitab kajian di Majelis Al-Bahtsi Wat Tahqiq As-Salam sejak tahun 1993.

Ulama Betawi lain yang memiliki banyak karya tulis adalah KH Muhammad Ali Al-Hamidi Matraman. Semasa hidupnya (lahir 20 September 1909 dan wafat 22 Agustus 1985), KH Muhammad Ali Alhamidi merupakan penulis produktif. Beberapa karya tulisnya adalah Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Hidayatullah, Islam dan Perkawinan, Manasik Haji, Ruhul Mimbar dan lain sebagainya.

Hampir semua karyanya diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung, terkecuali di antaranya kitab Ruhal-Mimbar. Kitab ini dia tulis sendiri dengan tulisan tangan, kemudian dia cetak sendiri (karena punya alat cetak stensil sendiri) dan dijahit sendiri serta dipasarkan sendiri dengan jumlah yang sangat terbatas.

Sampai hari ini, Kitab Ruhal-Mimbar (ditulis dalam aksara Arab Melayu sebanyak 10 jlid) belum dicetak ulang oleh penerbit lain. Kendati ia disinyalir berpaham Persis atau sepaham dengan Persis, tetapi banyak juga para ustadz dan ulama Betawi yang berpaham NU menjadikan kitab Ruhul Mimbar dan karya-karyanya yang lain sebagai bahan referensi untuk berkhutbah. Bahkan karya-karyanya beredar hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Karenanya, Abuya KH Saifuddin Amsir, mengutip pernyataan Muallim Ramli yang tinggal di Gang Murtadho, menyatakan bahwa teks-teks khutbah Jumat yang ditulis KH Muhammad Ali Alhamidi sesuai dengan Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah tetapi orang yang menulisnya tidak (berpaham Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah).

Ulama Betawi yang juga memiliki banyak karya tulis adalah Syekh KH Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary (lahir 10 November 1924 dan wafat 31 Januari 2003). Karya kitab dan risalahnya ada 34 buah, bahkan diperkirakan lebih dari itu. Kitab karangannya yang terkenal adalah Mishbahuz Zhulam syarah Bulughil Maram yang penulisannya dibantu oleh KH Mahfudz Asirun dan dipelajari di beberapa pesantren, halaqah dan majelis taklim di Jakarta maupun di luar Jakarta.

Selain itu, ulama Betawi yang juga memiliki banyak karya tulis adalah Mu`allim KH M Syafi`i Hadzami (lahir 31 Januari 1931 dan wafat 7 Mei 2006). Ia adalah seorang allamah, pakar di bidang fiqih.

Ia memilki karya tulisdi bidang qira`at, ushul fiqih, dan fiqih di mana karya-karyanya diakui kualitasnya sampai ke negeri tetangga. Paling tidak, ada delapan karya tulisnya, yaitu Taudhihul Adillah (7 jilid), Sullamul `Arsy fi Qira`atil Warsy, Qiyas Adalah Hujjah Syar`iyyah, Qabliyah Jum`at, Shalat Tarawih, Ujalah Fidyah Shalat, Mathmahur Ruba fi Ma`rifatir Riba, dan Al-Hujajul Bayyinah.


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU dan Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre.
Bagikan:
Rabu 6 Februari 2019 4:0 WIB
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Foto: SoksiNews
Oleh Muhammad Azam Multazam

Pasar tradisional merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai macam kasta. Dari pedagang yang kaya sampai pedagang yang tidak kaya. Begitupun dengan pembelinya. Mereka berbaur menjadi satu. Guyub rukun antar pedagang dengan pedagang, pedagang dengan pembeli, pembeli dengan pembeli.

Kehidupan antar pedagang di pasar tradisional yang katanya rawan perselisihan dan kebencian ternyata hanya fiktif belaka. Nyatanya, mereka hidup berdampingan dengan penuh canda tawa, tak jarang mereka saling tolong menolong sesama pedagang. Meskipun secara ilmu pasar, mereka bersaingan dalam berdagang.

Seperti contoh pedagang yang ada di depan toko Ibu saya, Mbah Narti dan Mbah Lasmi, mereka berdua merupakan pedagang bumbu dapur yang berdampingan. Dan dalam kesehariannya mereka berdua hidup penuh cinta dalam kehidupan pasar. Keduanya tidak ada sikap saling membenci meskipun dagangan mereka secara bisnis adalah pesaing.

Iya betul. Mereka adalah bersaing. Tetapi bersaing dengan sportif. Tidak pernah mereka menebar fitnah untuk menjatuhkan pesaingnya. Seperti halnya membisiki pembeli dengan memberikan informasi dengan dibumbui fitnah yang beraroma kebencian.

“Heh.. Heh.. Yuk, tak kandani, ojo tuku lombok nang gone Yu Lasmi. Lomboke ora pedes. Bedo karo nang gonku, lomboke pedes, apik-apik.”

Strategi seperti itu ternyata nihil dalam kehidupan antarpedagang pasar tradisional. Di antara mereka tidak pernah ada niatan untuk membuat pesaingnya sepi pembeli, lalu gulung tikar dengan cara menyebar hoaks dan fitnah. Sama sekali tidak pernah. Karena di hati dan otak mereka berdua diisi dengan sikap toleransi, saling menghargai.

Mereka berdua tidak berambisi mengejar dunia dengan menjatuhkan kawannya, menghalalkan berbagai macam cara untuk menjadi terlaris. Mereka berdua tidak terlalu egois, nyatanya mereka berdua saling membantu. Dan pemandangan yang ciamik ini tidak hanya pada di pedagang bumbu dapur saja, namun pemandangan luar biasa ini mendominasi isi kehidupan pasar tradisional.

Selain itu, pemandangan yang menakjubkan yang ada di pasar tradisional adalah dari kalangan kaya dan tidak kaya berbaur menjadi satu cinta. Tidak ada diskriminasi di antara mereka. Mereka saling menyapa, bersalaman. Dari Bu Carik, Bu Lurah, Bu Guru, Bu Nyai, Pembantu rumah tangga, bakul ompreng, bakul ikan, bakul sayur mereka saling menyapa. 

Kehidupan harmonis inilah yang perlu dijadikan ibrah dan ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, di dalamnya ada sebuah ajaran tasamuh, tawassuth dan tawazun. Sebuah ajaran yang diwariskan oleh para Ulama yang alim dan sanad ilmunya sampai dengan Rasulullah SAW. Ajaran yang menjadi ikon Ahlussunah wal Jamaah, khususnya di Nahdlatul Ulama.

Oh iya, dirgahayu Nahdlatul Ulama yang ke 93. Tetap jaya dalam berkhidmah untuk NKRI dan semoga semakin berkah.


Ahad 3 Februari 2019 18:30 WIB
Belajar Ber-NU ala Kiai Masbuhin Faqih
Belajar Ber-NU ala Kiai Masbuhin Faqih
KH Masbuhin Faqih (kanan) bersama KH Miftahul Achyar (kiri)
Oleh Abdul Rouf Hanif

KH Masbuhin Faqih merupakan salah satu kiai kharismatik di Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin tersebut merupakan sosok kiai yang masyhur dengan laku tawadhu-nya. Saya bersyukur dapat menimba ilmu secara langsung kepada beliau serta mencecap keberkahan ilmu di pesantren yang didoakan oleh Almaghfurlah Kiai Utsman Al-Ishaqi sebagai sumbernya orang yang shalih.

Di usianya yang semakin uzur tak mengurangi semangatnya sedikit pun untuk istiqomah mengajar ngaji pada santri-santri beliau yang jumlahnya ribuan. Santri-santri beliau pun tersebar di seantero Indonesia. Ragam profesi dari Pejabat negara, petani, guru, pengusaha dll semuanya ada, namun satu hal yang sama yakni semuanya menjadi warga Nahdliyin baik struktural maupun kultural. Beliau selalu mewanti-wanti pada para santri dan alumni agar jangan sampai meninggalkan ajaran Ahlussunnah wal jama'ah An-nahdliyah. Sebab aqidah merupakan sumber keselamatan duniawi dan ukhrowi.

Ketakdiman beliau pada guru-gurunya begitu luar biasa yang menjadikan santrinya sangat ta'dim pada beliau.Diceritakan semasa beliau nyantri di Langitan, tak pernah sekalipun berani lewat di depan rumah kiai Abdul Hadi Zahid sebagai wujud ta'dzim pada kiai. Sampai hari ini pun, jika haul masayikh, Langitan beliau tak pernah mau duduk di panggung sebagai tamu agung. Beliau selalu memilih duduk di bawah bersama para santri dan alumni yang lain.

Khidmatnya pada kiai dan habaib juga luar biasa, beliau selalu meletakkan akhlaqul karimah lebih tinggi derajatnya ketimbang ilmu pengetahuan. Saat Yaman dilanda konflik, Habib Baharun selaku rektor menawarkan pada pesantren di Indonesia yang siap menampung mahasiswa universitas Al-Ahqof untuk dipindahkan belajar di pesantrennya. Sang Kiai dengan senang hati bersedia menampung dan menerima tawaran dari Habib Baharun. Sungguh kecintaannya pada ahlul bait begitu luar biasa, terlebih negara Yaman merupakan negara para wali sembilan yang jasanya dalam islamisasi dan meletakkan pondasi Aswaja di nusantara sangat besar.

Kini di usia ke-71, beliau masih dengan ikhlas berkhidmat pada Nahdlatul Ulama dengan menjadi syuriah PCNU Kabupaten Gresik. Kecintaannya pada Ahlussunnah sebagai akidah dan Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah tidak bisa diragukan lagi.

Pada satu kesempatan saat saya sowan, beliau berpesan, "Jangan Sampai meninggalkan Ahlussunnah wal jamaah, bila ingin dikumpulkan denganku dan para ulama di akhirat kelak." Pesan tersebut yang membuat saya dan keluarga sampai hari ini tetap bangga dan berkhidmat pada Nahdlatul Ulama. Sebab NU bagi saya bukan sekedar akidah, manhaj, tarekat dan siyasah  melainkan wasilah gandolan  kepada para alim ulama, para sahabat hingga rasulullah Saw.

Seperti halnya Sang Kiai yang selalu takdim dan menurut pada guru-gurunya, demi amanah Maha Guru saya berikrar hingga anak cucu akan setia berkhidmat di Nahdlatul Ulama baik secara jamaah maupun jamiyah. Selamat harlah NU, 93 tahun mengabdi untuk agama dan bangsa.

Tabik.

Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus, Lampung.
Rabu 30 Januari 2019 5:0 WIB
Kiai Ali Musthafa, Cermin Kebijaksanaan Bermasyarakat
Kiai Ali Musthafa, Cermin Kebijaksanaan Bermasyarakat
Kiai Ali di mushalanya
Oleh R. Ahmad Nur Kholis

Adalah Kiai Ali bin Kiai Mushafa, seorang kiai kampung di Desa Bandungan Kecamatan Pakong Kabupaten Pamekasan. Kiai Ali adalah putra Kiai Mushtafa. Seorang kiai mangku mushala kecil di kampungnya. 

Penulis jika sedang pulang kampung dari Malang ke Pamekasan, saya sering mengunjungi Kiai Ali karena lingkungan rumahnya adalah tempat saya sering bermain semasa kecil bersama-sama dengan teman-teman. Biasanya saat saya berkunjung, sering terlihat Kiai Ali duduk menyendiri di mihrab mushala itu. kadang terlihat sambil pegang tasbih, terkadang sedang shalat, dan terkadang pula hanya duduk termenung atau sedang membaca Al-Qur’an.

Kiai Ali adalah seorang kiai alumnus Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin Pancoran Kadur Pamekasan. Ia termasuk santri generasi pertama pesantren itu. Hal ini karena selama ia mondok di pertengahan tahun 1960-an Kiai Ali adalah murid Kiai Jamaluddin Rahbini, pendiri pesantren itu.

Kontroversi di Kalangan Ustadz Muda
Dalam masa hidupnya, Kiai Ali merupakan sosok yang kontroversial, utamanya di kalangan ustadz-ustadz muda yang baru keluar dari pesantren ketika itu. Banyak hal dari Kiai Ali yang mungkin dinilai para ‘ustadz muda’ itu sebagai tindakan nyeleneh dari kebiasaan kiai pada umumnya. Bahkan sering saya mendengar atau bahkan melihat sendiri perdebatan antara kiai Ali dengan para ustadz muda itu. Tema-tema perdebatannya bermacam-macam, tapi seringnya adalah masalah bagaimana seharusnya sikap hidup di masyarakat.

Pernah juga Kiai Ali ditentang ramai-ramai oleh para ustadz karena Kiai Ali selalu menjelaskan masalah keutamaan ‘setiap malam’ dari malam bulan Ramadhan sebagaimana dalam Kitab Durratun Nasihin. Kiai Ali ditentang ramai-ramai para ustadz karena dinilai memfatwakan sesuatu dari hadits yang lemah. Beliau juga ditentang karena ungkapan: “kalau waktu sahur, hendaknya kamu bangun meskipun kamu tak mau shalat subuh.”

Memang salah salah satu kebiasaan Kiai Ali adalah memberikan pengumuman melalui pengeras suara di mushalanya kepada masyarakat mengenai keutamaan setiap malam pada bulan Ramadhan.

“Keutamaan, dan pahala malam pertama di bulan Ramadhan, orang yang melaksanakan Shalat Tarawih di malam pertama ini ia akan diampuni semua dosanya dan menjadi suci layaknya bayi baru lahir.” Demikianlah kira-kira pengumumannya. Jika ada yang salah, itu adalah kesalahan saya dalam mengutip perkataan Kiai Ali.

Demikian pula ketika waktu sahur, ia memberikan pengumuman pula lewat pengeras suara di Isinya kurang lebih demikian:

“Sahur…. Sahur saudara-saudara sahur….!!! Bangun semuanya bangun…!!!, bagi semua yang hendak puasa bangun dan sahurlah kalian! Meskipun kalian ndak mau puasa besok bangun dan sahurlah ndak apa-apa. Meskipun kalian tak mau Shalat Subuh, sahur dan bangunlah,” katanya dengan lantang.

Pernyataan-pernyataan seperti itu, utamanya pernyataan yang terakhir sontak mendatangkan kontroversi yang menyebabkan Kiai Ali harus menghadapi perdebatan kiai yang lain utamanya para ustadz muda. Pernah juga bahkan seorang ustadz muda yang baru lulus dari pesantren mendatangi mushalanya dan berdiskusi. Bahkan ia pernah pula dinyatakan sebagai ‘terjatuh pada kekafiran’ oleh para ustadz muda itu.

Dalam menghadapi kritik dan itu, penulis melihat sendiri bahwa Kiai Ali tidak pernah gentar sedikit pun menghadapinya. Ia tetap saja menjalankan apa yang diyakininya. Bahkan sering terlihat bahwa ia duduk berdekatan dengan ustadz yang menentangnya dalam suatu undangan acara hajatan masyarakat.

Kitab Kuning sebagai kitab andalan
Bertahun-tahun belajar di pesantren, Kiai Ali ternyata telah belajar kepada banyak guru dan ustadz di pesantrennya. Gurunya yang utama adalah Kiai Jamaluddin Rahbini, sang pendiri pesantren, juga ia pernah belajar kepada putra-putra Kiai Jamaluddin, kepada para ustadz di sana. 

Ia mengaku guru kepada semua yang pernah mengajarinya dan bahkan meskipun secara usia beberapa tahun di bawahnya.

Adalah suatu yang mengherankan bahwa selama bertahun-tahun belajar di pesantren ia mengaku hanya mengaji beberapa kitab saja. Kitab tersebut adalah: Ibnu Aqil sebagai ilmu alat, Tafsir Jalalain, Riyadhus Shalihin, Fathul Qarib dan Durratun Nasihin. 

Ia menjelaskan bahwa hanya kelima kitab itulah yang di dalaminya selama belajar di pesantren. Namun mengenai kitab-kitab tersebut ia mengaku telah belajar kepada banyak kiai dan banyak ustadz di pesantrennya.

“Selama saya mondok, saya hanya mengaji Jalalain, Riyadus Shalihin, Fathul Qarib dan Ibnu Aqil saja juga Durratun Nashihin.” Tuturnya kepada penulis saat ditemui di mushalanya.

Jadi demikianlah, mengaji hanya beberapa kitab, akan tetapi didalami selama beberapa tahun dan mendapatkan penjelasan dari berbagai guru. Ini bagi penulis adalah suatu hal yang luar biasa. Ini pulalah yang dalam pandangan penulis menyebabkan ia menjadi radikal dalam moderatisme. Radikal dalam arti bahwa ia memahami dan menghayati secara mendalam kitab-kitab tersebut. Moderat dalam arti ia luwes dalam menghadapi masyarakat awam.

“Nak, kalau kamu mengaji Durratun Nasihin, imbangilah juga dengan mengaji Riyadhus Shalihin,” katanya dalam perbincangan pribadi dengan penulis di mushala-nya sekitar setahun yang lalu.

Dalam hal mengenai fatwa dari hadits yang lemah di Riyadhus Shalihin, sempat juga penulis tanyakan kepada beliau dalam suatu kesempatan. Juga mengenai keharusan bangun sahur meskipun tak shalat subuh. Ia menjawab:

Ndak apa-apa mereka menentang, karena mereka tak paham, maka dari itu tak berani melakukannya. (fatwa dengan Durratun Nasihin, red.).” Katanya

“Kalau mereka yang sudah alim, maka apa yang saya kutip dari Durratun Nasihin ndak perlu. Tapi bagaimana dengan mereka yang awam, yang untuk melaksanakan puasa saja sulit? Setidaknya dengan saya beritahu pahala mereka jadi semangat tarawih,” tambahnya.

“Masalah bangun sahur meskipun tak mau puasa dan shalat subuh, setidaknya kalau ia mau bangun untuk makan sahur selama 30 hari bulan puasa ia sudah latihan membiasakan diri bangun waktu subuh. Untuk supaya mereka mau shalat subuh bisa kita lanjutkan mauidlah hasanah. Yang penting terbiasa bangun subuh dulu,” jelasnya lagi.

Jadi, tampaknya Kiai Ali sudah memperhatikan bagaimana kondisi masyarakat sekitarnya. Ia dalam pergaulannya yang dekat dengan mereka sangatlah mengerti dan memahami berbagai aspek kehidupan para tetangganya itu.

Berkhidmah kepada Masyarakat
Di satu sisi ia sering mendapatkan penentangan dari para ustadz muda, di sisi lain Kiai Ali sering mendapatkan kunjungan dari masyarakat awam di kediaman atau mushalanya. Berbagai macam hal diadukan masyarakat kepadanya, mulai dari keperluan berobat, masalah keluarga sampai dengan masalah konsultasi usaha. 

Bahkan kiai Ali mengizinkan pula mushalanya untuk dijadikan tempat penampungan hasil panen pertanian masyarakat. Pada musim tembakau, bisa saja mushala yang tadinya dibuat shalat lima waktu itu lalu disulap sebagai gudang penyimpanan sementara tembakau mereka. Malam harinya, halaman mushalanya dapat giliran sebagai tempat merajang tembakau-tembakau itu. dengan secara tak langsung maka dapat dikatakan mushala kecil tersebut telah menjadi pusat kegiatan agama, sosial dan ekonomi masyarakat.

Bagi Kiai Ali, janganlah bertanya masalah hukumnya dulu, masyarakat ini memerlukan dakwah yang dibingkai bentuk santun dan mengayomi. Mereka belum mengerti dan harus perlahan untuk diberi pengertian.

Kai Ali sangat peduli akan masyarakat kecil. Ia tak segan-segan langsung mendatangi masyarakat yang membutuhkan sesibuk apa pun dia. Rata-rata yang ia layani adalah masyarakat kecil dan miskin di desanya.

“Kiai, itu anak saya di rumah disengat ular waktu cari kayu di tegalan. Kakinya bengkak,” kata seorang perempuan dengan tergesa-gesa suatu ketika saat kiai Ali sedang asik berbincang dengan penulis.

“Baik kalau begitu saya akan segera ke sana,” kata Kiai Ali langsung. Ia pun memutus perbincangan dengan saya dan segera bergegas.

Demikianlah Kiai Ali ia menjadi pengayom masyarakat. Penampilannya pun tak tampak sebagai Kiai. Kehidupannya sederhana. Baju yang ia pakai seringnya lusuh dan mangkak. Rupanya ia berpakaian sebagaimana masyarakat kecil yang sering mengunjunginya berpakaian. Namun siapa yang menyangka bahwa ia pengamal tarekat Naqsyabandiyah. Siapa yang menyangka pula bahwa ia pengikut setia dan aktivis Partai Nahdlatul Ulama di tahun 1971 (setidaknya untuk tingkat desa) mengikuti gurunya yang juga aktivis NU di tingkat Kabupaten Pamekasan.

Sekitar dua tahun yang lalu. Setelah hari Raya Idul Fitri, terdengar kabar bahwa ia telah wafat berpulang ke rahmatullah. Ia wafat setelah selama beberapa bulan lamanya sakit pada bagian lambungnya.

Banyak masyarakat melayat ketika kewafatannya. Mereka merasa kehilangan. Bahkan para ustadz muda yang dulu menentangnya (dan sekarang sudah semakin tua) juga ikut tahlil selama 7 (tujuh) hari kewafatannya.

Teruntuk, Kiai Ali bin Kiai Mushafa, Al-Fatihah….


Penulis adalah Nahdliyin, tinggal di Malang

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG