IMG-LOGO
Esai

Pengajian Karya-karya Ulama Betawi di Jakarta

Jumat 8 Februari 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Pengajian Karya-karya Ulama Betawi di Jakarta
(Foto: @shutterstock)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Karya-karya ulama Betawi menjadi lestari karena terus dikaji dan dan diajarkan di majelis-majelis taklim dan halaqah, khususnya di wilayah Jakarta. Dari hasil riset berjudul Peta Halaqah dan Majelis Taklim Kitab di Jakarta Tahun 2017 yang dilakukan oleh Jakarta Islamic Centre dijelaskan bahwa karya-karya Habib Utsman bin Yahya masih diajarkan di beberapa majelis taklim kitab.

Karya Sayyid Utsman diajarkan di antaranya di Majelis Taklim Sulamul Mubtadi. Majelis Taklim Sulamul Mubtadi merupakan majelis yang dipimpin dan diampu oleh Ustadz Abdul Ghofur. Majelis ini berada di Jalan Matraman Dalam II, RT 08/08 Nomor 16, Jakarta Pusat. Materi yang diajarkan di majelis ini adalah masalah Tauhid dengan kitab Sifat Dua Puluh sebagai sumber rujukannya.

Selain Tauhid, Ustadz Ghofur juga mengajarkan kitab Irsyadul Anam karya Habib Utsman bin Yahya. Sanad Ustadz Abdul Ghofur dalam mengajarkan kitab-kitab itu bermula dari gurunya, Habib Abdurrahman Assegaf, dan Habib Abdurrahman sampai kepada Habib Husain bin Muksin Al-Attas. 

Karya Habib Utsman dipelajari di Majelis Taklim Al-Issa. Majelis taklim ini berada di Jalan Tanah Tinggi, RT 001/006, Kelurahan Tanah Tinggi Sawah, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. KH Baihaqi adalah pimpinan dan pengajar di majelis ini. Gurunya KH. Baihaqi adalah KH Syaifuddin Amsir, figur yang membuat sanad keilmuanya tersambung dan tali menali. Di majelis ini, KH Baihaqi menggunakan Sifat Dua Puluh sebagai bahan pengantar pengajian.

Karya Habib Utsman juga diajarkan di Majelis Taklim Khoirun Nisa yang merupakan majelis taklim kaum ibu pimpinan Ustadz Jalaludin Rais terletak di Buaran 1 RT 003/08 Jatinegara, Jakarta Timur.

KH. Rizki Zulkarnaen sebagai guru dari majelis tersebut memilihkan kitab untuk dikaji bersama dengan para Ibu yang berjumlah 30 orang selama 1 jam, yaitu Kitab Irsyadul Anam. Kitab yang diajarkan ini memiliki sanad yang menyambung kepada KH Saifuddin Amsir dengan sanad menyambung kepada Muallim KH M Syafi’i Hadzami dan Kitab Qami’ut Tughyan dengan sanad menyambung Sayyid Shalahuddin At-Tijani yang menyambung sanadnya sampai Syekh Yasin Al-Fadani.

Kitab Safinatun Naja karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami diajarkan di antaranya:  Pertama, di Majelis Taklim Masjid Jami Matraman pimpinan Ustadz Abdurrahman di Jalan Matraman Dalam Nomor 1 Jakarta Pusat yang diasuh oleh KH Muhammad Munir Mugni. Kedua, Majelis Taklim Al-Husnah yang berada di Jalan Pembangunan I Dalam  Nomor 32, RT 05/01 Kelurahan Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat pimpinan Ustadz M Tajuddin Salman dengan pengasuh Ustadzah Hj Siti Husnah.

Ketiga, Majelis Taklim Syiar Islam yang berada di Jalan Duri Barat RT 003/08 Duri Pulo, Gambir, Jakarta Pusat yang dipimpin dan diasuh oleh Ustadz Ilyas Hasyim. Keempat, Majelis Taklim Al-Hidayah di Jalan Budi Mulia RT 015/008 Pademangan Barat Jakarta Utara pimpinan Muhammad Mualif dengan Ustadz Aminullah sebagai pengasuhnya yang mendapatkan sanad langsung dari gurunya, yaitu Habib Abdurrahman Assegaf, dari Habib Ali Kwitang.

Kitab Misbahuz Zhulam karya Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Darry diajarkan di Majelis Taklim Ash-Shodriyah 9, Jakarta Timur dengan pengajar KH Fachruddin. Kitab Al-Imamus Syafi`i fi Madzahibil Qadim wal Jadid karya Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi diajarkan di Majelis Al-Bahtsi wat Tahqiq As-Salam sejak 1993 M sampai sekarang.

Kitab Sullamun Nayrain karya Guru Manhsur Jembatan Lima diajarkan oleh KH Ahmad Syafi'ie di  Lajnah Falakiyah Mahad Al-Husiniyah, Tipar Cakung, Jakarta Utara. Sedangkan Kitab Taysirul Musykilat fi Qiratil Ayat karya KH Abdul Hanan Said diajarkan oleh KH Abdul Mafahir di Rawa Belong, Jakarta Barat.

Penutup
Karya tulis ulama Betawi dapat terus lestari dengan adanya regenerasi ulama Betawi yang terus ada dan terus mengajarkan karya-karya ulama Betawi terdahulu. Namun, tidak sedikit khazanah ulama Betawi yang kini hanya tersimpan di rumah ahli waris, rak-rak buku, di perpustakaan atau di tempat arsip karena belum diajarkan kembali.

Ini tentu menjadi ”pekerjaan rumah” kita bersama. Selain itu, karya ulama Betawi juga dapat terus lestari jika ada upaya untuk mereproduksinya. Di sisi lain, produktivitas ulama Betawi dalam menulis kitab, risalah atau artikiel, yang saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Tentu menjadi persoalan tersendiri yang harus dijawab oleh para ulama Betawi generasi sekarang terlebih tantangan dan persoalan umat saat ini tidak sedikit, bahkan lebih rumit dan beragam, dibandingkan zaman ulama Betawi terdahulu. Ini perlu banyak dijawab dengan karya tulis yang berbobot dari para ulama Betawi generasi saat ini.


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU dan Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre.
Bagikan:
Kamis 7 Februari 2019 10:0 WIB
Mengenal Karya Tulis Ulama Betawi
Mengenal Karya Tulis Ulama Betawi
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Hari Rabu malam, 30 Januari 2019, bertempat di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, saya menjadi narasumber Studium General Islam di Nusantara dengan tema Menguak Khazanah Ulama Betawi yang diselenggarakan oleh Ma`had Ali Sa`iidusshiddiqiyah Jakarta.

Pada kesempatan tersebut saya menjelaskan bahwa khazanah ulama Betawi dalam bentuk karya tulis cukup banyak. Dari hasil kegiatan saya menjadi asisten peneliti dan narasumber kegiatan Inventarisasi Karya Ulama di Lembaga Keagamaan di DKI Jakarta pada tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI  untuk membantu kegiatan penelitian dua orang peneliti, yaitu Nur Rahmah dan Puji Astuti, terhimpun 160 karya yang merupakan buah karya intelektual 26 ulama Betawi yang hidup di abad ke-19 dan ke-20 M.

Kecenderungan karyai ntelektual tersebut berada pada bidang fiqih. Sedangkan yang masih belum terhimpun masih banyak, seperti karya Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi, yang berjumlah ratusan.

Bagi saya, jumlah ratusan karya ulama Betawi ini, khususnya yang diterbitkan pada masa prakemerdekaan, menimbulkan kekaguman tersendiri buat saya. Sebab sensus pada tahun 1930  (Lance Castles, 2007) menunjukkan bahwa wilayah Jakarta merupakan salah satu wilayah terbelakang dalam pendidikan umum. Prosentasi melek-huruf di Batavia (11,9%) merupakan angka yang rendah bagi daerah perkotaan. Sebagai contoh bandingkan dengan Bandung, yaitu 23,6%.

Selain itu, mereka yang melek huruf hampir bisa dipastikan bukan orang Betawi. Jadi, karya-karya ulama Betawi yang banyak diterbitkan pada masa itu hadir di tengah-tengah masyarakat Betawi yang kebanyakan masih buta huruf. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama Betawi untuk mengajarkan karya-karyanya di tengah-tengah masyarakat.

Karya tulis ulama Betawi tidak hanya didominasi oleh ulama pria, tetapi juga oleh ulama perempuan. Untuk ulama perempuan Betawi, terdapat nama Ustadzah Khadijah Jamali yang memiliki karya tulis berjudul Al-Mawaa`iz Al-`Usfuriyah dan Wirid dan Tahlil. Lalu Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir, putri dari KH Thohir Rohili, pendiri Perguruan Ath-Thahiriyah, telah menghasilkan 27 karya tulis di bidang akhlak, fiqih, tauhid dan ulumul Qur`an yang ditulis dalam bahasa Arab saja atau bahasa Arab dengan bahasa Indonesianya.

Sepanjang yang saya ketahui, Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir adalah ulama perempuan Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini. Disusul kemudian  dengan Ustadzah Hj Tutty Alawiyah.

Ustadzah Hj Tutty Alawiyah adalah putri dari KH Abdullah Syafi`ie, ulama Betawi yang dijuluki singa podium dan pendiri Perguruan Asy-Syafi`iyyah, dikenal sebagai mubalighah kondang.

Ia juga dikenal sebagai pendiri dan Ketua Umum Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era Presiden Soeharto dan Presiden BJ Habibie. Namun tidak banyak yang tahu jika ia juga seorang ulama Betawi perempuan yang produktif menulis.

Ada 16 karyanya yang berhasil diinventarisasi di bidang fiqih, akhlak, sejarah, aqidah, ulumul Qur`an dan dakwah yang ditulis dalam bahasa Arab, Indonesia dan Arab-Indonesia. 

Jika Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir adalah ulama perempuan Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini, maka Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi, adalah ulama laki-laki Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini yang saya ketahui.

Data yang saya dapatkan menyebutkan bahwa karya Habib Utsman bin Yahya (lahir di daerah Pekojan,Tambora, Jakarta Barat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H/1822 M dan wafat Ahad, 19 Januari 1914 dikuburkan di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur) berjumlah 116 buah. Ada pula yang menyebutkan sebanyak 114 buah.

Habib Ali Yahya, mantan Wapemred Majalah Al-Kisah, menyebutkan kepada saya bahwa karya Habib Utsman bin Yahya ada sekira 150-an buah dan ia memiliki daftarnya. Sedangkan salah seorang ulama yang masih menyimpan hampir semua karya tulis Habib Utsman bin Yahya adalah KH Tubagus Ahmad Bakri yang akrab dipanggil Mama Sempur Plered karena tinggal di daerah Sempur, Plered, Purwakarta.

Karya tulis-karya tulis Habib Utsman bin Yahya masih dibaca dan dijadikan rujukan oleh umat Islam sampai hari ini, bukan hanya di Indonesia, bahkan di berbagai negara di Asia Tenggara. Dua karyanya yang masih populer di masyarakat adalah Irsyaadul Anaam, Adabul Insaan dan Sifat Dua Puluh.

Untuk sebaran karya tulis ulama Betawi yang sampai ke luar Indonesia, selain karya tulis Habib Utsman bin Yahya, juga karya tulis dari Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami penulis Kitab Safinatun Najah Fi Ma Yajibu `ala Abdi li Maulah (Perahu Keselamatan di dalam Mempelajari Kewajiban Seorang Hamba kepada Tuhannya).

Selain itu, ada pula Guru Manshur Jembatan Lima dengan karya di bidang ilmu falak yang berjudul Sullamun Nayrain. Kitab falak ini banyak digunakan bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara. 

Ada pula Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi, yang karyanya bahkan telah mendunia, yaitu yang berjudul Al-Imamus Syafi`i fi Madzabihil Qadim wal Jadid. Karya tulisnya ini, menurut Prof Syakh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar Universitas Al-Azhar Kairo, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat. Karya ini membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi`i.

Di samping itu, analisisnya pun sangat tajam, mendalam, terpercaya, detail, dan komprehensif. Bahkan, tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa karya tulis ini adalah satu-satunya karya ilmiah yang paling sempurna yang pernah ada di zaman sekarang ini yang membahas tentang Imam Syafi`i.

Sedangkan menurut KH Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriyah PBNU dan pengurus MUI Pusat, menyatakan bahwa tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi`i di dunia Islam yang selengkap karya ini.

Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi`i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya. Luar biasanya, kitab ini dikarang oleh orang Indonesia, seorang ulama Betawi, yang dengan kitabnya tersebut ia memperoleh gelar doktor perbandingan mazhab dari Universitas Al-Azhar, Kairo.

Karya tulis Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi ini telah diterjemahkan oleh Jakarta Islamic Centre dan diterbitkan bersama penerbit Hikmah pada tahun 2008 dengan judul  Ensiklopedia Imam Syafi`i. Selain dijadikan bacaan dan referensi akademik, karya tulis ini juga dijadikan kitab kajian di Majelis Al-Bahtsi Wat Tahqiq As-Salam sejak tahun 1993.

Ulama Betawi lain yang memiliki banyak karya tulis adalah KH Muhammad Ali Al-Hamidi Matraman. Semasa hidupnya (lahir 20 September 1909 dan wafat 22 Agustus 1985), KH Muhammad Ali Alhamidi merupakan penulis produktif. Beberapa karya tulisnya adalah Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Hidayatullah, Islam dan Perkawinan, Manasik Haji, Ruhul Mimbar dan lain sebagainya.

Hampir semua karyanya diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung, terkecuali di antaranya kitab Ruhal-Mimbar. Kitab ini dia tulis sendiri dengan tulisan tangan, kemudian dia cetak sendiri (karena punya alat cetak stensil sendiri) dan dijahit sendiri serta dipasarkan sendiri dengan jumlah yang sangat terbatas.

Sampai hari ini, Kitab Ruhal-Mimbar (ditulis dalam aksara Arab Melayu sebanyak 10 jlid) belum dicetak ulang oleh penerbit lain. Kendati ia disinyalir berpaham Persis atau sepaham dengan Persis, tetapi banyak juga para ustadz dan ulama Betawi yang berpaham NU menjadikan kitab Ruhul Mimbar dan karya-karyanya yang lain sebagai bahan referensi untuk berkhutbah. Bahkan karya-karyanya beredar hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Karenanya, Abuya KH Saifuddin Amsir, mengutip pernyataan Muallim Ramli yang tinggal di Gang Murtadho, menyatakan bahwa teks-teks khutbah Jumat yang ditulis KH Muhammad Ali Alhamidi sesuai dengan Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah tetapi orang yang menulisnya tidak (berpaham Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah).

Ulama Betawi yang juga memiliki banyak karya tulis adalah Syekh KH Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary (lahir 10 November 1924 dan wafat 31 Januari 2003). Karya kitab dan risalahnya ada 34 buah, bahkan diperkirakan lebih dari itu. Kitab karangannya yang terkenal adalah Mishbahuz Zhulam syarah Bulughil Maram yang penulisannya dibantu oleh KH Mahfudz Asirun dan dipelajari di beberapa pesantren, halaqah dan majelis taklim di Jakarta maupun di luar Jakarta.

Selain itu, ulama Betawi yang juga memiliki banyak karya tulis adalah Mu`allim KH M Syafi`i Hadzami (lahir 31 Januari 1931 dan wafat 7 Mei 2006). Ia adalah seorang allamah, pakar di bidang fiqih.

Ia memilki karya tulisdi bidang qira`at, ushul fiqih, dan fiqih di mana karya-karyanya diakui kualitasnya sampai ke negeri tetangga. Paling tidak, ada delapan karya tulisnya, yaitu Taudhihul Adillah (7 jilid), Sullamul `Arsy fi Qira`atil Warsy, Qiyas Adalah Hujjah Syar`iyyah, Qabliyah Jum`at, Shalat Tarawih, Ujalah Fidyah Shalat, Mathmahur Ruba fi Ma`rifatir Riba, dan Al-Hujajul Bayyinah.


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU dan Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre.
Rabu 6 Februari 2019 4:0 WIB
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Foto: SoksiNews
Oleh Muhammad Azam Multazam

Pasar tradisional merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai macam kasta. Dari pedagang yang kaya sampai pedagang yang tidak kaya. Begitupun dengan pembelinya. Mereka berbaur menjadi satu. Guyub rukun antar pedagang dengan pedagang, pedagang dengan pembeli, pembeli dengan pembeli.

Kehidupan antar pedagang di pasar tradisional yang katanya rawan perselisihan dan kebencian ternyata hanya fiktif belaka. Nyatanya, mereka hidup berdampingan dengan penuh canda tawa, tak jarang mereka saling tolong menolong sesama pedagang. Meskipun secara ilmu pasar, mereka bersaingan dalam berdagang.

Seperti contoh pedagang yang ada di depan toko Ibu saya, Mbah Narti dan Mbah Lasmi, mereka berdua merupakan pedagang bumbu dapur yang berdampingan. Dan dalam kesehariannya mereka berdua hidup penuh cinta dalam kehidupan pasar. Keduanya tidak ada sikap saling membenci meskipun dagangan mereka secara bisnis adalah pesaing.

Iya betul. Mereka adalah bersaing. Tetapi bersaing dengan sportif. Tidak pernah mereka menebar fitnah untuk menjatuhkan pesaingnya. Seperti halnya membisiki pembeli dengan memberikan informasi dengan dibumbui fitnah yang beraroma kebencian.

“Heh.. Heh.. Yuk, tak kandani, ojo tuku lombok nang gone Yu Lasmi. Lomboke ora pedes. Bedo karo nang gonku, lomboke pedes, apik-apik.”

Strategi seperti itu ternyata nihil dalam kehidupan antarpedagang pasar tradisional. Di antara mereka tidak pernah ada niatan untuk membuat pesaingnya sepi pembeli, lalu gulung tikar dengan cara menyebar hoaks dan fitnah. Sama sekali tidak pernah. Karena di hati dan otak mereka berdua diisi dengan sikap toleransi, saling menghargai.

Mereka berdua tidak berambisi mengejar dunia dengan menjatuhkan kawannya, menghalalkan berbagai macam cara untuk menjadi terlaris. Mereka berdua tidak terlalu egois, nyatanya mereka berdua saling membantu. Dan pemandangan yang ciamik ini tidak hanya pada di pedagang bumbu dapur saja, namun pemandangan luar biasa ini mendominasi isi kehidupan pasar tradisional.

Selain itu, pemandangan yang menakjubkan yang ada di pasar tradisional adalah dari kalangan kaya dan tidak kaya berbaur menjadi satu cinta. Tidak ada diskriminasi di antara mereka. Mereka saling menyapa, bersalaman. Dari Bu Carik, Bu Lurah, Bu Guru, Bu Nyai, Pembantu rumah tangga, bakul ompreng, bakul ikan, bakul sayur mereka saling menyapa. 

Kehidupan harmonis inilah yang perlu dijadikan ibrah dan ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, di dalamnya ada sebuah ajaran tasamuh, tawassuth dan tawazun. Sebuah ajaran yang diwariskan oleh para Ulama yang alim dan sanad ilmunya sampai dengan Rasulullah SAW. Ajaran yang menjadi ikon Ahlussunah wal Jamaah, khususnya di Nahdlatul Ulama.

Oh iya, dirgahayu Nahdlatul Ulama yang ke 93. Tetap jaya dalam berkhidmah untuk NKRI dan semoga semakin berkah.


Ahad 3 Februari 2019 18:30 WIB
Belajar Ber-NU ala Kiai Masbuhin Faqih
Belajar Ber-NU ala Kiai Masbuhin Faqih
KH Masbuhin Faqih (kanan) bersama KH Miftahul Achyar (kiri)
Oleh Abdul Rouf Hanif

KH Masbuhin Faqih merupakan salah satu kiai kharismatik di Jawa Timur. Pengasuh Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin tersebut merupakan sosok kiai yang masyhur dengan laku tawadhu-nya. Saya bersyukur dapat menimba ilmu secara langsung kepada beliau serta mencecap keberkahan ilmu di pesantren yang didoakan oleh Almaghfurlah Kiai Utsman Al-Ishaqi sebagai sumbernya orang yang shalih.

Di usianya yang semakin uzur tak mengurangi semangatnya sedikit pun untuk istiqomah mengajar ngaji pada santri-santri beliau yang jumlahnya ribuan. Santri-santri beliau pun tersebar di seantero Indonesia. Ragam profesi dari Pejabat negara, petani, guru, pengusaha dll semuanya ada, namun satu hal yang sama yakni semuanya menjadi warga Nahdliyin baik struktural maupun kultural. Beliau selalu mewanti-wanti pada para santri dan alumni agar jangan sampai meninggalkan ajaran Ahlussunnah wal jama'ah An-nahdliyah. Sebab aqidah merupakan sumber keselamatan duniawi dan ukhrowi.

Ketakdiman beliau pada guru-gurunya begitu luar biasa yang menjadikan santrinya sangat ta'dim pada beliau.Diceritakan semasa beliau nyantri di Langitan, tak pernah sekalipun berani lewat di depan rumah kiai Abdul Hadi Zahid sebagai wujud ta'dzim pada kiai. Sampai hari ini pun, jika haul masayikh, Langitan beliau tak pernah mau duduk di panggung sebagai tamu agung. Beliau selalu memilih duduk di bawah bersama para santri dan alumni yang lain.

Khidmatnya pada kiai dan habaib juga luar biasa, beliau selalu meletakkan akhlaqul karimah lebih tinggi derajatnya ketimbang ilmu pengetahuan. Saat Yaman dilanda konflik, Habib Baharun selaku rektor menawarkan pada pesantren di Indonesia yang siap menampung mahasiswa universitas Al-Ahqof untuk dipindahkan belajar di pesantrennya. Sang Kiai dengan senang hati bersedia menampung dan menerima tawaran dari Habib Baharun. Sungguh kecintaannya pada ahlul bait begitu luar biasa, terlebih negara Yaman merupakan negara para wali sembilan yang jasanya dalam islamisasi dan meletakkan pondasi Aswaja di nusantara sangat besar.

Kini di usia ke-71, beliau masih dengan ikhlas berkhidmat pada Nahdlatul Ulama dengan menjadi syuriah PCNU Kabupaten Gresik. Kecintaannya pada Ahlussunnah sebagai akidah dan Nahdlatul Ulama sebagai jamiyah tidak bisa diragukan lagi.

Pada satu kesempatan saat saya sowan, beliau berpesan, "Jangan Sampai meninggalkan Ahlussunnah wal jamaah, bila ingin dikumpulkan denganku dan para ulama di akhirat kelak." Pesan tersebut yang membuat saya dan keluarga sampai hari ini tetap bangga dan berkhidmat pada Nahdlatul Ulama. Sebab NU bagi saya bukan sekedar akidah, manhaj, tarekat dan siyasah  melainkan wasilah gandolan  kepada para alim ulama, para sahabat hingga rasulullah Saw.

Seperti halnya Sang Kiai yang selalu takdim dan menurut pada guru-gurunya, demi amanah Maha Guru saya berikrar hingga anak cucu akan setia berkhidmat di Nahdlatul Ulama baik secara jamaah maupun jamiyah. Selamat harlah NU, 93 tahun mengabdi untuk agama dan bangsa.

Tabik.

Penulis adalah Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus, Lampung.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG