IMG-LOGO
Munas-Konbes NU 2019
MUNAS-KONBES NU 2019

PLN Banjar Jamin Kelistrikan Terpenuhi Selama Munas NU

Kamis 7 Februari 2019 19:15 WIB
Bagikan:
PLN Banjar Jamin Kelistrikan Terpenuhi Selama Munas NU
foto: ilustrasi
Kota Banjar, NU Online
Jelang pelaksanaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2019, panitia menyiapkan segala hal untuk sukses kegiatan tersebut. 

Salah satunya dalam segi kelistrikan, karena hal tersebut sangat penting dan harus dipastikan selama acara berlangsung pasokan listrik mencukupi.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Tim Teknis Daerah Panitia Munas dan Konbes NU 2019 Aan Ansori kepada NU Online Kamis (7/2) di Sekretariat Panitia Daerah. 

Dirinya menyampaikan bahwa pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Kota Banjar guna mempersiapkan kelistrikan di lokasi dan PLN menyanggupi dan menjamin pasokan listrik selama kegiatan berlangsung. 

"Saya sudah melakukan koordinasi dengan PLN selaku yang punya kewenangan dalam kelistrikan supaya dapat membantu keandalan daya selama kegiatan berlangsung dapat terpenuhi," terangnya.

Sementara itu, Supervisor Teknik PLN Unit Layanan Pelanggan Kota Banjar Doddy Prastio mengatakan, dirinya sudah melakukan survey ke lokasi guna memperkirakan jumlah daya yang harus disiapkan untuk memasok kelistrikan pada acara. 

"Kami sudah melakukan survey untuk persiapan Munas NU, akan kami persiapkan semaksimal mungkin," katanya.

Melihat pelaksanaan kegiatan yang sudah tidak lama lagi, dirinya akan mengerjakan tugasnya secepat mungkin, sehingga ketika pelaksanaan berlangsung, hal yang mendukung dalam sisi kelistrikan dapat dipastikan aman. 

"Mudah-mudahan kami bisa tarik cepat sebelum pelaksanaan Munas," tuturnya.

Doddy juga menegaskan bahwa pihaknya akan mendukung semaksimal mungkin dalam sisi kelistrikan, supaya kebutuhan listrik selama Munas terpenuhi. Selain itu juga akan melakukan segala antisipasi guna menangkal hal-hal yang tidak diinginkan selama kegiatan berlangsung.

"Kami mendukung semaksimal mungkin dalam sisi kelistrikannya dan akan antisipasi semaksimal mungkin guna antisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," tegasnya. (Wahyu Akanam/Muiz)

Tags:
Bagikan:
Rabu 30 Januari 2019 7:30 WIB
600 Personel Hadrah Siap Sambut Presiden Jokowi di Pembukaan Munas NU
600 Personel Hadrah Siap Sambut Presiden Jokowi di Pembukaan Munas NU
Kota Banjar, NU Online
Berbagai hal untuk memeriahkan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama 2019 terus diupayakan oleh Panitia.

Salah satunya panitia menyiapkan 600 personel hadrah dalam penyambutan Presiden Jokowi yang rencananya akan membuka kegiatan tersebut yang akan berlangsung di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo (PPMAC) Kota Banjar, Jawa Barat pada 27 Februari-1 Maret 2019 mendatang.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Sekretariat Panitia Daerah Munas dan Konbes NU Ma'mun Syarif saat melakukan rapat koordinasi bersama panitia lokal yang berlangsung di PPMAC, Rabu (30/1) dini hari.

Ma'mun yang juga Mantan Ketua GP Ansor Kota Banjar menjelaskan, penyambutan ini merupakan upaya dari tuan rumah guna memeriahkan kegiatan Munas dan Konbes NU. "Di Kota Banjar baru kali ini akan melakukan penyambutan Presiden dengan grup hadrah sebanyak itu," jelasnya.

Sementara itu, Muhsorin Kamil, pegiat seni di Kota Banjar sangat mengapresiasi rencana penyambutan Presiden dengan mementaskan ratusan personel hadrah yang berada di Kota Banjar dan sekitarnya.

"Saya sangat mengapresiasi akan ada penyambutan Presiden dengan menampilkan ratusan personel hadrah," terangnya.

Dirinya yang juga masuk dalam jajaran kepanitiaan lokal Munas dan Konbes NU 2019 akan mengawal seluruh grup yang telah ditentukan oleh panitia supaya pada hari pelaksanaan dapat tampil dengan performa terbaik.

Untuk pematangan akan dijadwalkan mengundang seluruh tim hadrah agar melakukan latihan bersama. "Saya akan memastikan seluruh grup yang ditunjuk untuk tampil dan akan segera dijadwalkan latihan," pungkasnya.

Munas Alim Ulama dan Konbes NU ini mengangkat tema Memperkuat Ukhuwah Wathoniyah untuk Kedaulatan Rakyat. Sejumlah persoalan penting dan strategis akan dibahas, di antaranya RUU Pesantren, sampah plastik, dan kedaulatan rakyat secara umum. (Wahyu Akanam/Fathoni)
Jumat 25 Januari 2019 18:15 WIB
PBNU Matangkan Pembahasan RUU Pesantren sebelum Dibawa ke Munas
PBNU Matangkan Pembahasan RUU Pesantren sebelum Dibawa ke Munas
Jakarta, NU Online
Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mematangkan  pembahasan tentang Rancangan Undang-Undang (RUU) Pesantren melalui Forum Discussion Group (FGD) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (25/1). RUU Pesantren merupakan salah satu agenda pembahasan di komisi rekomendasi Munas-Konbes NU pada akhir Februari 2019.

Dalam pengantarnya, Wakil Sekjen PBNU H Masduki Baidlowi mengemukakan bahwa terjadi perubahan nomenklatur, yakni dari RUU Pesantren dan Pendidikan Keagamaan hanya menjadi RUU Pesantren.

"RUU ini akhirnya dipersingkat. Tidak lagi RUU pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Jadi tidak lagi membicarakan sistem pendidkan keagamaan, tapi hanya berbicara mengenai RUU pesantren," kata Masduki.

Selain itu, pria yang juga menjadi ketua komisi rekomendasi di Munas dan Konbes NU ini menyampaikan tentaang upaya pemerintah dalam mensukseskan RUU Pesantren ini.

"Presiden telah menginstruksikan kepada jajarannya di tujuh kementerian untuk mensukseskan RUU pesantren ini," ucapnya.

Dalam pandangannya, kehadiran RUU pesantren diharapkan dapat menjadi pokok-pokok pikiran sebagai apresiasi negara terhadap pesantren. Hal itu karena negara mempunyai hutang budi yang sangat besar terhadap pesantren.

Menurutnya, pesantren merupakan sistem pendiidkan asli Indonesia, sehingga mestinya, pesantren menjadi mercusuar dalam banyak hal keilmuan daripada sekolahan.

"Mestinya pesantren jadi mercusuar karena lembaga pendidikan yang asli itulah yang dikembangkan oleh negara, tetapi rupanya negara tidak mengembangkan lembaga pendiidkan yang asli ini, tapi mengembangkan lembaga pendidikan yang dibawa oleh belanda," jelasnya.

Padahal, sambungnya, sekolahan telah menunjukkan kegagalan dalam sistem pendidikan. Salah satu bentuk kegagalannya ialah, mayoritas lulusannya bermental pegawai, tidak bermental enterpreneurship seperti di pesantren.

"Jadi dia tidak mempunyai mental entrepreneurship seperti pesantren. Tidak ada lembaga pemberdayaan yang kuat seperti pesantren. Tidak ada lembaga dakwah seperti pesantren. Nah tiga fungsi ini: fungsi keilmuan, fungsi dakwah yang sangat kuat, dan fungsi pemberdayaan terkait dengan kebangkitan ekonomi untuk kelas menengah Islam itu justru ada di pesantren tidak ada di sekolahan," terangnya.

Sehingga menurutnya, ada signifikansi yang sangat kuat agar pesantren bisa menjadi pokok pikiran dari PBNU untuk menjadi bahan rekomendasi dalam Munas NU.

Namun demikian, ia tidak menutup berbagai sisi terkait perkembangan teknologi, seperti kehadiran era industri 4.0 di satu sisi dan penolakan dari sebagian tokoh-tokoh NU, seperti KH Abdurrahman Wahid.

Hadir pada FGD ini Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU Hanief Saha Ghafur, Wasekjen PBNU H Andi Najmi Fuadi dan Sultonul Huda, Direktur SAS Institute M Imdadun Rahmat, Ketua LP Ma'arif NU Pusat, Direktur Pendidikan Diniyah dan Kemenag Ahmad Zayadi. (Husni Sahal/Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG