IMG-LOGO
Opini

Membincang NU sebagai Organisasi Radikal


Jumat 8 Februari 2019 12:30 WIB
Bagikan:
Membincang NU sebagai Organisasi Radikal
Oleh: Iksan Kamil Sahri

Kata radikal dalam konteks kekinian memang seringkali bermakna negatif. Ia diasosiasikan terhadap gerakan-gerakan radikal Islam seperti ISIS, al-Qaeda, dan organisasi-organisasi sejenis. Pertanyaannya, lalu bagaimana dengan kata radikal pada masa lalu? 

Untuk memulai hal tersebut, penulis ingin mengawali bahwa kata radikal adalah kata yang sangat disukai di Surabaya untuk menyebut gerakan perlawanan terhadap penguasa Rezim Orde Baru Soeharto yang kemudian melahirkan gerakan reformasi. Para bonek (fans Persebaya FC) pun banyak yang menyebut diri sebagai bonek radikal untuk menyebut istilah lain yaitu Bonek Garis Keras.

Lalu bagaimana dengan konteks radikal pada masa Hindia Belanda. Adakah NU adalah organisasi radikal ataukah moderat? Dalam terminologi kolonial, radikal artinya tidak mau bekerja sama dengan pemeritah kolonial atau disebut pula sebagai gerakan yang non-kooperatif. Sekolah-sekolah NU pun saat itu dikategorikan sebagai sekolah liar bukan sebagai sekolah resmi pemerintah Hindia Belanda. Semua sekolah yang bukan sekolah resmi Hindia Belanda dianggap sebagai sekolah liar.

Sedangkan dalam kajian filsafat, istilah radikal justru bermakna positif karena berarti berpikir secara mendalam sampai ke akar-akarnya. Tapi walaupun begitu, memang dalam kajian sosiologi kontemporer kata radikal sering dikonotasikan dalam tindakan intoleran. Dalam konteks inilah, Nahdliyin atau warga NU menolak kata radikal disematkan kepada NU dalam klasifikasi gerakan organisasi.

Tapi akan menjadi ambigu juga jika kemudian NU disebut sebagai organisasi moderat pada masa HIndia Belanda. Karena itu berarti NU mau bekerja sama dengan pemerintahan Hindia Belanda. Padahal kenyataannya tidak. Komunitas NU dan masyarakatnya sering kali menjadi disturbing (pengganggu) pemerintahan Hindia Belanda. Perang Jawa yang digerakkan Pangeran Diponegoro dan didukung secara penuh oleh komunitas Islam tradisional (komunitas dasar NU) pernah menyebabkan VOC berada dalam jurang kebangkrutan.

Hanya mungkin yang perlu dipikirkan ulang adalah bagaimana untuk menyebut gerakan NU pada masa lalu tapi dinarasikan dalam konteks saat ini. Apakah istilah NU sebagai gerakan radikal itu tepat atau tidak? Menurut penulis, istilah organisasi NU sebagai gerakan non-kooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda mungkin lebih tepat untuk menggambarkan gerakan NU pada masa lalu tersebut.

Peneliti pesantren, Pengurus Wilayah Lembaga Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) Jawa Timur.

Bagikan:
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Maulid Akbar dan Doa untuk Keselamatan Bangsa
Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
IMG
IMG