IMG-LOGO
Pustaka

Meneladani Rasulullah dengan Melindungi Kalangan Lemah

Ahad 10 Februari 2019 6:0 WIB
Bagikan:
Meneladani Rasulullah dengan Melindungi Kalangan Lemah
Dalam kehidupan, selalu terdapat dua kutub berlawanan yang senyatanya saling melengkapi satu sama lain, seperti kuat dan lemah, superior dan inferior, kaya dan miskin, baik dan buruk. Nabi Muhammad meneladankan konsep hidup yang sangat revolusioner. Jika sebelumnya kuat dan lemah adalah persoalan dominasi kekuatan, maka bagi Nabi, keduanya adalah dua hal yang kudu berelasi positif dan saling mengisi. Yang kuat melindungi yang lemah, yang kaya membantu yang papa dan yang mayor melindungi yang minor. 

Prof Dr Raghib al-Sirjani sebenarnya telah mengemas sikap hidup Rasulullah ini dalam teori the Harmony of Humanity-nya. Teori yang menyadarkan semua orang bahwa kesamaan mereka sebagai manusia jauh lebih banyak daripada perbedaan di antara mereka. Sehingga atribut personal seperti Suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA tidak menjadi sekat untuk saling melindungi dan membantu sama lain.

Dalam Nabi Kaum Mustad’afin , penulis  mengurai sekelumit narasi hidup Nabi yang mengejawantahkan pembelaan dan kepedulian kepada kaum lemah, di saat zaman memandang mereka sebelah mata dan pantas dimarginalkan. 

Sebagai seorang pemimpin, kesejahteraan umat adalah perkara krusial yang sangat diperhatikan. Kendati hidup dalam kesederhanaan, Muhammad tidak membiarkan orang fakir begitu saja. Beliau berupaya mengatasi ketidakmampuannya, seperti menyerahkan masalah tersebut kepada sahabatnya yang mampu. Lebih-lebih ketika dalam keadaan mampu, tidak segan-segan harta yang beliau miliki digunakan untuk membantu mereka. 

Saat hendak memerdekakan Salman al-Farisi dari status budak, Muhammad memerlukan 300 pokok kurma dan 4 awqiyah emas (satu awqiyah=40 dirham) sebagai tebusan. Selanjutnya, Nabi memerintah para sahabat menolong nasib Salman. 300 bibit pohon kurma berhasil dikumpulkan dari hasil bahu-membahu para sahabat, sedang Nabi sendiri menyumbang tebusan emas yang dibutuhkan. (hlm. 114)

Nabi sangat melindungi prempuan. Pada masa praislam, martabat kaum Hawa sangat rendah dibanding laki-laki sehingga acap diperlakukan semena-mena. Dengan risalah yang dibawanya, Nabi SAW mengangkat kedudukan perempuan menjadi sedemikian mulia dan terhormat. Dalam kesehariannya pun, Nabi meneladankan untuk menjauhkan perempuan dari beragam kekerasan, baik fisik mau pun psikis. Suatu ketika, Abu Bakar mendengar suara tinggi Aisyah membentak Nabi. Abu Bakar kemudian meraih Aisyah dan hendak menamparnya gara-gara ketidaksopanannya. Namun Nabi segera menghalangi niat tersebut. 

Seringkali istri Nabi melakukan kesalahan di hadapan banyak orang hingga menyulitkannya. Namun Nabi tetap menghargai sikap para istrinya, menyangi kelemahan dan memaafkan kesalahan mereka, serta tidak mudah tersinggung karenanya.

Anas ibn Malik ra meriwayatkan bahwa suatu hari, Nabi tengah berada di rumah salah seorang istrinya. Lalu datang seorang utusan dari istri yang lain untuk mengirim makanan kepada Nabi. Lantaran cemburu, istri Nabi memukul tangan sang  utusan hingga nampan yang dibawanya pecah. Namun Nabi memungut kedua pecahan wadah itu lalu menggabungkannya dan menaruh kembali makanan di atasnya. 

Nabi Muhammad bersabda: “Ibu kalian tengah cemburu, silakan nikmati makanannya.” Mereka pun menyantapnya, sementara beliau tetap memegangi wadah pecah tersebut sampai diganti dengan wadah baru dari rumah istrinya. Nabi kemudian menyerahkan wadah baru kepada sang utusan dan membiarkan wadah yang pecah di rumah istri yang memecahkannya. (hlm. 56-57)

Kaum minoritas merupakan golongan lemah yang juga dilindungi. Piagam Madinah dan peristiwa Fathu Makkah adalah sekelumit peristiwa yang merepresentasikan sikap bijaksana Rasul pada mereka. Kita tahu, di Madinah terdapat ragam suku yang juga berlatar ragam agama. Di bawah panji Islam, Nabi senantiasa menjunjung keadilan dan memperlakukan mereka dengan baik tanpa diskriminasi sedikit pun. Bahkan dalam sutu riwayat, Nabi pernah memiliki dua orang khadam dari kaum Yahudi.

Barangkali kisah-kisah di atas sudah klise didengar. Pengutaraan segenap narasi hidup nabi dalam buku ini lebih serasa satire bagi umat kekinian. Pasalnya, hari ini prinsip-prinsip luhung yang telah dipancangkan Nabi serasa miskin aplikasi. 

Sebagai amsal, mari kita tengok figur pemimpin saat ini. Masihkah di antara mereka ada yang rela hidup sederhana dengan sedikit harta macam Rasulullah? Pertanyaan ini terasa sangat tidak relevan. Karena potret pemimpin saat ini tidak akan jauh dari gelimang duniawi. Beberapa bahkan dengan tega menikung hak-hak rakyat untuk mengisi kantong pribadinya. 

Pun kita tahu, negeri laiknya tanah Madinah dengan rupa-rupa suku dan agamanya, bahkan barangkali lebih majemuk. Pemetakan kubu mayoritas dan minoritas menjadi tak terhindarkan. Sekalipun bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, namun masih saja muncul beberapa kasus diskriminasi terhadap golongan minoritas. 

Demikianlah, buku ini lebih berposisi sebagai instrumen untuk menginstrospeksi keislaman kita. Jika benar mengimani Rasulullah, maka sudah selayaknya apa yang beliau lakukan musti teladani sebaik mungkin. Selamat membaca!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As (Pengurus Perpustakaan PP Annuqayah Lubangsa Selatan, Sumenep, Jawa Timur).

Identitas Buku
Judul Buku: Nabi Kaum Mustad’afin
Penulis: Raghib al-Sirjani
Penerjemah: Tatam Wijaya
Cetakan: I, 2018
Penerbit: Zaman
Tebal: 272 Halaman
ISBN: 978-602-6273-03-1

Bagikan:
Jumat 8 Februari 2019 13:30 WIB
Mencintai Kedamaian Beragama
Mencintai Kedamaian Beragama
Di era kontemporer, media sosial dan digitalime sangat berdampak baik dan buruk sehingga masyarakat mendapatkan hidangan beragam kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan keadaan beragama kita. Kekerasan yang terjadi di masyarakat kita karena faktor cara memahami teks keagamaan yang keliru, cara pandang mereka seringkali digunakan untuk membasmi terhadap pandangan yang berbeda sehingga menimbulkan tindakan kekerasan baik kekerasan wacana maupun kekerasan fisik.

Tidak sedikit kondisi beragama merasa terancam karena adanya peristiwa akhir-akhir ini terjadi, seperti bom bunuh diri, bersikap intorelansi, dan klaim paling suci, yang lain kufur serta pantas masuk neraka. Ajaran agama seharusnya menjadi kedamian untuk manusia, akan tetapi faktanya dalam sejarah agama-agama seringkali terjadi tindak kekerasan dan banyak korban jiwa disebabkan cara memahami keagamaan kurang benar.

Karya buku ini, Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia, bahwa Aksin Wijaya menjelaskan alasan menggunakan tindakan kekerasaan atas nama agama dan Tuhan yakni cara dalam menalar dan nalar Islam yang mengeideologi. Sedangkan cara menalar Islam dengan memahami yang benar, sementara nalar Islam yang mengeideologi membuat sekte dan aliran bagi golongan menyakini sebagai satu-satunya cara memahami Islam yang paling benar.

Tentunya Islam sebagai ajaran agama yang damai berubah menjadi sektarian dan sakral didalam memahami Islam itu sendiri, akhirnya berimplikasi terhadap fanatisme golongan atau menjadi kelompok pemikiran garis keras didalam beragama yang ditandai dengan dirinya yang paling suci dan lain sebagainya. (hlm. XII).

Menalar Islam yang mengideologi akan berdampak terhadap cara penafsiran mereka khususnya penggunakan kata Jihad yang maknanya semakin kabur. Penafsiran mereka atas jihad disesuaikan dengan ideologi mereka sendiri, doktrin kekerasan ditanamkan, keyakinan pemahaman kekerasan mejadi jihad bahkan jihad kekerasan atas nama agama dan Tuhan menjadi perbincangan publik sehingga berdampak terhadap kondisi bangsa dan negara kita. 

Kesalahan berpikir mereka diakibatkan karena doktrinisasi keagamaan jalan pintas tanpa adanya pemahaman agama yang mendalam dan benar, bahkan mereka bersedia menjadi pengantin tindakan kekerasan untuk menyerang generasi muda dengan iming-iming bidadari di surgamaka mereka diberikan label syahid.

Didalam buku ini menyatakan, cara berpikir yang dikotomis akan melahirkan dua kutub perlawan yaitu mengklaim diantara baik-buruk, putih-hitam, benar-salah dan suci-kotor. Artinya cara berpikir mereka berpikir antagonis terhadap sebuah kebenaran tunggal sehingga seringkali mereka menyalahkan dan menyesatkan atau menghabiskan yang dinggap berbeda ideologi, memposisikan musuh yang harus dilawan secara radikal.

Radikalisme muncul karena dari tindakan kekerasan wacana sebagai sebuah pemahaman keagamaan doktriner menjadi ke tindakan kekerasan fisik sebagai bentuk aksi dengan jihad fi sabilillah. Dengan demikian, tructh-claim menjadi pilihan mereka diyakini sebagai pemilik kebenaran absolut yang harus di ikuti oleh pihak musuh.

Perlu diketahui bahwa, ada dua perasaan yaitu perasaan memusuhi yang lahir dari dimensi tanah-jazadnya dan perasaan mencintai yang lahir dari dimensi ruh-ilahiyah. Sedangkan perasaan memusuhi mendorong orang untuk melakukan agresi sehingga melahirkan kekerasan, sementara perasaan mencintai mendorong orang untuk saling mencintai sehingga melahirkan kedamaian. Kedua perasaan manusia itu mengalami pergumulan terus-menerus, dan manusia senantiasa ditarik untuk lebih condong pada salah satu dari kedua perasaan tersebut. (hlm. 166)

Menurut penulis, menolak tindakan kekerasaan apapun demi tegaknya kedamain, baik kekerasaan wacana melalui pernyataan, pengetahuan yang berhubungan dengan kekusaan untuk mengendalikan negara dan masyarakat. Kekerasan fisik dilakukan secara fisik melalui tindakan kekerasan atau menindas,dan pada umumnya dilakukan dua jalur baik jalur ideologi dan budaya.

Refresif bagi penguasa untuk mempertahankan kekuasaan dan kebijakan akan melahirkan tindakan kekerasaan fisik karena masyarakat bertindak kekerasan dalam rangka menuntut-mencari keadilan dan pemerataan sosial-ekonomi. Karena itu, sejatinya Islam lahir ke dunia untuk kedamaian manusia sebagaimanamakna Islam itu sendiri bermakna damai-selamat dan disebutkan didalam teks al-Quran.

Kata Islam identik kata salam bermakna damai dan sebanyak157 kali dengan rincian 79 kali berbentuk kata benda, 50 kali benbentuk kata sifat dan berbentuk kata kerja sebanyak 28 kali. Jadi kata salam bermakna damai dalam bentuk kata benda lebih banyak daripada kata kerja dan kata sifatkarena kata salam menunjukkan untuk menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai Islam didalam kehidupan sosial-politik dan budaya yang pluralistik.


Peresensi adalah Tauhedi As’ad, Mahasiswa Program Doktor IAIN Jember; Tenaga Pengajar di Unej dan IKIP Jember

Judul: Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia.
Penulis: Dr Aksin Wijaya
Penerbit: Mizan
Cetakan: 1 Juni 2018
Tebal: xxx + 262 halaman
ISBN: 978-602-441-067-4
Jumat 1 Februari 2019 19:0 WIB
Mereka Kenang Kiai Aziz Masyhuri Tekun Membaca dan Menulis
Mereka Kenang Kiai  Aziz Masyhuri Tekun Membaca dan Menulis
Ketika disebut nama KH Abdul Aziz Masyhuri, kemungkinan besar orang mengenalnya adalah sebagai orang yang produktif menulis. Ratusan kitab berbahasa Indonesia dan Arab lahir dari tangannya. Ya, ia adalah bagian dari generasi NU yang sambung-menyambung dalam tradisi penulisan. Ia sebagaimana KH Mahfudz Shiddiq, KH Saifuddin Zuhri, KH Wahid Hasyim, Mahbub Djunaidi, hingga KH Abdurrahman Wahid. 

Meski demikian, ia juga ahli dalam beberapa bidang keilmuan di antaranya fiqih, ushul fiqih, hadits, tafsir, tasawuf, dan tarikh. Di antara keahliannya itu, yang paling menonjol adalah pada bidang aqidah. 

Keahlian dalam beragam bidang tersebut, tidak dapat Kiai Aziz Masyhuri dengan cara mudah. Ia belajar keras dan tekun sedari remaja. Salah seorang adik kandungnya, Nurul Huda Masyhuri mengenang Kiai Aziz sebagai anak yang kutu buku sejak kecil. Ia sering membaca atau muthalaah kitab hingga larut malam. Bahkan lewat tengah malam. 

Karena kebiasaannya itu, ibu KH Aziz Masyhuri sering mengingatkan. Ziz wis dalu ndang turu mene ngulang (Ziz, sudah larut malam besok ngajar lagi). (Hal.43) 

Buku ini merupakan kesaksian dari berbagai kalangan yang dibagi ke dalam beberapa bab. Di dalam tiap tersebut memuat kesaksiaan dari beberapa orang:
1. Kenangan dari Keluarga
2. Kenangan dari Ulama atau Kiai
3. Kenangan dari Tokoh Nasional 
4. Kenangan dari Peneliti atau Kolega dari Luar Negeri 
5. Kenangan dari Cendekiawan 
6. Kenangan dari Akademisi
7. Kenangan dari Santri atau Alumni 
8. Kenangan dari Tokoh Muda NU
Ratusan kitab dalam bahasa Indonesia dan puluhan dalam bahasa Arab. Ia merupakan cucu mantu dari Rais Aam KH Bisri Syansuri, pengasuh pesantren Al-Aziziyah,  Ia lahir dari Senori, Tuban. Penulis terkenal SYekh Fadhol Senori merupakan pamannya. Ia meninggal Sabtu 15 April 2017. Lahir tanggal 17 Juli 1942 di Senori Tuban, Jawa Timur dari pasangan KH Masyhuri bin Abdus Sami’ dan Nyai Hj Aminah Syahid. 

Masa kecilnya ia berguru kepada kedua orang tuanya kemudian kepada beberapa kiai di Senori. Kemudian pada masa remaja, ia berguru kepada satu kiai ke kiai lainnya. Ia pernah menjadi santri di Pondok Pesantren Peterongan Jombang, Pondok Pesantren Lasem, Rembang, dan Pondok Pesantren Krapyak. Pada bulan Ramadhan ia sering berkeliling ke pesantren-pesantren untuk menimba ilmu. 

Kemudian sempat belajar nonformal di Makkah saat setelah ia menikah. Dia dikaruniai dua orang putri yaitu hj Bariroh Aziz, hj khoridah Aziz,dan seorang putra, Abdul Muiz Aziz

Ia pernah aktif di IPNU, Lembaga Pendidikan Ma'arif, Persatuan Guru Nahdlatul ulama di Tuban. Untuk tingkat wilayah Jawa TImur ia aktif LP Ma’arif NU, Lembaga Dakwah NU, LKKNU, Wakil Katib Syuriyah PWNU Jatim, Wakil Rais, Ketua RMI, dan pengurus MUI

Di tingkat pusat, Ketua RMINU, pengurus BAZNAS Wakil Ketua Pospenas (Pekan Olahraga dan seni, pondok pesantren tingkat nasional)
A'wan PBNU, Dewan Pengawas P3M, Pengurus MP3A Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama dan Keagamaan.  

Peresensi adalah Abdullah Alawi

Data Buku buku:
Judul buku : Mengenang KH A. Aziz Masyhuri (1942-2017)
Penulis : Fathonah K. Daud (editor)
Penerbit         : Diva Press
Cetakan         : Me1 2018
Tebal : 296 halaman



Sabtu 26 Januari 2019 14:30 WIB
Pemikiran Abu Yusuf soal Ekonomi Negara dalam Kitab Al-Kharaj
Pemikiran Abu Yusuf soal Ekonomi Negara dalam Kitab Al-Kharaj
Nama lengkapnya adalah Abû Yûsuf Ya’qûb ibn Ibrâhîm ibn Habîb ibn Khunais ibn Sa’ad al-Anshârî al-Jalbi al-Kûfî al-Baghdâdî. Beliau lahir di Kûfah, sebuah kota di Irak pada tahun 731 M (113 H) dan wafat pada tahun 798 M (182 H) dalam usia 63 tahun. Nisbah al-Anshâri diperoleh karena ibunya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan kaum Anshâr, Madînah. Bapaknya sendiri berasal dari kabilah Bujailah. 

Abû Yûsuf al-Kûfi (w. 182 H) berasal dari keluarga sederhana dan tumbuh kembang di Kûfah, yang pada masanya merupakan pusat peradaban Islam sehingga banyak cendekiawan Muslim yang berkumpul di sana, salah satunya adalah Imam Abû Hanîfah (w. 148 H) dan Abû Yûsuf (w. 182 H) sendiri tercatat sebagai salah satu santrinya. Ditilik dari tahun kelahiran, Abû Yûsuf hidup di masa peralihan kekuasaan dari Daulah Bani Umayyah ke Daulah Bani Abbasiyah. Sekilas gambaran suasana Kûfah di masa Abû Yûsuf, di era Bani Umayyah, Kûfah merupakan tempat yang sering dipergunakan untuk debat oleh para intelektual Muslim melawan intelektual yang berasal dari Yunâni dan Româwi. Sampai di sini maka bisa dibayangkan, bahwa Kûfah memang sudah berkembang tradisi intelektual dan tradisi pemikiran Muslim kala itu. 

Perjalanan rihlah ilmiah yang pernah dilakukannya antara lain adalah ia berguru kepada Imam Abû Hanîfah selama kurang lebih 17 tahun. Guru beliau yang lain adalah Abu Muhammad ‘Athâ Ibn al-Saib Al-Kûfi, Sulaimân bin Mahram Al-A’mâsy, Hisyâm Ibn Urwah, Muhammad Ibn Abd al-Rahmân Ibn Abî Lailâ, Muhammad Ibn Ishâq Ibn Yassâr Ibn Jabbâr, dan Al-Hajjâj bin Arthâh. Abû Yusuf juga dicatat pernah berguru kepada Imam Mâlik bin Anas (w. 179 H). 

Beberapa karya Abû Yûsuf yang terkenal antara lain antara lain adalah kitab al-Atsâr. Kitab ini syarat dengan paradigma fiqih mazhab Hanâfi, termasuk pemikiran dari Abû Yûsuf sendiri. Kitab ini sekaligus menunjukkan supremasi beliau sebagai seorang yang pantas menyandang qâdli al-qudlât (hakim agung) pada masa Daulah Abbasiyah. Karya lainnya adalah Ikhtilâf Abî Hanîfah wa Ibn Lailâ yang berisikan kitab muqâran (perbandingan pendapat) antara Abû Hanîfah dan Abû Lailâ, yang keduanya sama-sama merupakan guru dari Abû Yûsuf. Kitab Al-Radd ‘ala Siyâr al-Auza’î, berisikan sebuah narasi yang berisi bantahan atas pendapat al-Auzâ’i yang saat itu, al-Auzâ’i adalah seorang qâdlî di Syam (Siria). Adab al-Qadlî berisikan narasi tata krama seorang qâdli, menyerupai kitab adab berfatwanya Imam al-Nawâwi dari kalangan Syafî’iyah.

Sementara itu kitab al-Kharrâj menjelaskan tentang hukum perpajakan dan cukai dan ditulis atas permintaan langsung dari Khalîfah Harûn al-Râsyîd, sebagai kitab pedoman dalam menghimpun pemasukan dan pendapatan negara yang berasal dari kharrâj, ‘usyr dan jizyah. Kitab ini sekaligus merupakan kitab panduan tata kelola keuangan negara yang pertama sebelum Yahya Ibn Adam Al-Qurasyi (w. 203 H) menulis kitab dengan judul yang sama. Kitab al-Jawâmi’ merupakan kitab yang berisi perdebatan tentang kedudukan ra’yu dan rasio (‘aql) dalam penggalian hukum Islam. Asal-asalnya kitab ini merupakan surat yang ditulis dan ditujukan langsung kepada Yahya ibn Khâlid al-Barmâki, Perdana Menteri dari Khalifah Harun al-Râsyîd. 

Karena Abû Yûsuf terkenal sebagai ahli tata kelola keuangan negara, maka dalam kesempatan ini, pembahasan kita spesifikkan ke al-Kharrâj sebagai salah satu kitab karyanya. Di tangan penulis, kitab al-Kharrâj diterbitkan tahun 1979 oleh peneribit Dâr al-Ma’rifah, Beirut, Libanon. Kitab ini tersusun setebal 244 halaman lengkap dengan daftar isi dan indeks kitab. 

Kitab al-Kharrâj merupakan jawaban dari beberapa masalah yang diajukan oleh Khalifah Harûn al-Rasyîd dan beberapa di antaranya adalah masalah yang dibuat sendiri oleh Abû Yûsuf. Di awal muqaddimahnya, Abû Yûsuf menegaskan:

أن أمير الزمنين أيده الله تعالى سألني أن اضع كتابا جامعا يعمل به في جباية الخراج العشور والصدقات والجوالي وغير ذلك مما يجب عليه النظر فيه والعمل به وإنما أراد بذلك رفع الظلم عن رعيته والصلاح لأمرهم

Artinya: “Sesungguhnya Amirul Mukminin - semoga Allah SWT meneguhkannya – telah memintaku untuk menyusun sebuah kitab kumpulan pedoman aplikatif penerapan al-kharaj, al’usyur, shadaqat, jawâli dan semacamnya, yang memuat hal-hal yang wajib untuk diperhatikan dan terapkan. Khalifah menghendaki penyusunan ini guna menghindari tindakan al-dhulm terhadap rakyatnya dan mengupayakan reformasi terhadap urusan mereka.” (Abû Yûsuf, Kitab Al-Kharrâj li al-Qâdli Abû Yûsuf Ya’qûb ibn Ibrâhîm Shâhib al-Imâm Abî Hanîfah, Beirut: Dâr al-Ma’rifah li al-Thabâ’ah wa al-Nasyr, 1979: 3)

Dasar yang dipergunakan untuk berargumen oleh penulisnya adalah sintesa antara ‘aqlî (rasio) dan naqli (wahyu) yang sekaligus menunjukkan perbedaaannya dengan al-Kharrâj yang ditulis oleh Ibn Adam. Ibn Adam hanya memanfaatkan dalil naqli guna mengulas pendapatnya dengan metode tautsiq (penguatan/dokumentasi) terhadap riwayat-riwayat hadits, pendapat sahabat dan tabi’in. Mungkin disebabkan karena saat itu, metode kritik hadits belum berkembang, maka Ibn Adam tidak melakukan kritik sanad dan matannya. Tapi karyanya menjadi bagian dari perbendaharaan kekayaan intelektual Muslim. 

Metode Ibn Adam ini tidak dipergunakan oleh Abû Yûsuf. Beliau lebih memilih upaya merasionalisasikan i’lal al-hadits sehingga hadits-hadits yang dinukil oleh Abû Yûsuf sedikit banyak sudah mendapatkan koreksi dan kritik sehingga al-Kharrâj merupakan kitab hasil seleksi data. A’mâlu al-shahâbi (praktik sahabat) mendapatkan bagian tersendiri dari data yang dipergunakan oleh Abû Yûsuf, jadi seolah bahwa kitab al-Kharrâj ini adalah buah dari hasil studi kasus. 

Menurut pengertian leksikal, sebenarnya al-Kharrâj memiliki arti pajak tanah yang dipungut dari wilayah yang dikuasai oleh Islam. Namun, dalam praktiknya, menurut Abû Yûsuf al-Kharrâj memiliki dua dimensi makna, pertama dipandang sebagai al-amwâl al-‘âmmah (keuangan publik) dan al-amwâl al-khâshah (keuangan khusus). Sumber keuangan publik bagi pemerintahan meliputi: ghanimah, fai’, al-kharaj, al-jizyah, ‘usyr al-tijârah dan shadaqah. Adapun sumber keuangan khusus, dapat diketahui saat beliau mengupas soal sewa tanah atau kompensasi pemanfaatan tanah negara oleh asing. Menilik dua dimensi ini, maka dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan al-Kharrâj menurut Abû Yûsuf adalah kurang lebih sama dengan istilah pajak penghasilan saat ini (common taxation). Kedua dimensi ini merupakan sumber finansial negara. 

Di dalam kitab ini, Abû Yûsuf menjelaskan bahwa sumber perekonomian negara juga bisa diperoleh melalui: (1) pengelolaan sumber daya alam (tanah dan air) dan (2) peningkatan efektivitas lapangan kerja dan penyediaan tenaga kerja. Swakelola sumber daya alam dimaksimalkan melalui pembukaan lahan pertanian, dan pemanfaatan tanah. Sementara untuk meningkatkan efektivitasnya, perlu diupayakan pembuatan sistem irigasi pertanian. 

Persoalan masyarakat kecil kurang mendapat perhatian dari Abû Yûsuf. Sumber penghasilan negara lebih mengedepankan pada jalinan relasi produktif antara umat Islam dengan kaum dzimmi dalam dâr al-islâm atau relasi produktif antara umat Islam dengan komunitas non Muslim dalam dâr al-harb. Untuk penghasilan dari relasi level pertama, diperoleh dari al-kharaj dan jizyah. Sementara penghasilan dari akibat relasi level kedua, diperoleh dari ghanîmah. Cukai ditetapkan oleh pemerintah terhadap para pedagang kâfir harbî (orang kafir yang memerangi umat Islam) yang membawa barang dagangannya ke negara Islam. Sementara itu, umat Islam hanya berkewajiban mengeluarkan zakat sebagai bagian dari membangun solidaritas antara sesama Muslim. 

Menurut Abû Yûsuf, ada tiga pemegang hak kuasa atas diri kaum Muslim di Dâr al-Islâm, antara lain: rakyat, pemimpin (imam) dan lembaga-lembaga negara atau lembaga pemerintahan, seperti Hizb al-jaisy (Departemen Angkatan Bersenjata), Dawâwîn (Para Dewan). Setiap departemen memiliki tugas dan peran masing-masing yang sudah ditetapkan. Job diskripsi secara umum mencakup penetapan rasio jizyah yang boleh diterima, pengelolaan harta ghanîmah dalam perbendaharaan negara, penetapan gaji dan tunjangan bagi khalifah dan seluruh perangkatnya, penetapan hak guna tanah dan hak guna bangunan, membuat saluran irigasi dan reboisasi tanah. 

Konsep kepemilikan dalam negara sudah dibagi menjadi beberapa macam, mencakup banyak aspek di antaranya: kepemilikan permodalan yang juga diatur oleh negara (istighlâl), kepemilikan aktual, kepemilikan individu, kepemilikan khusus terhadap barang bergerak, kepemilikan umum dan kepemilikan bersama. Semua jenis kepemilikan ini bersifat tidak permanen. 

Ada tiga relasi elemen yang mendapat perhatian serius oleh Abû Yûsuf agar semua sistem negara tersebut dapat berjalan dengan baik. Ketiga faktor ini harus saling bekerjasama dalam menjaga dan mewujudkan tujuan negara, yaitu agama (religi), ekonomi dan militer. Tiga faktor ini merupakan penopang kuat atau lemahnya suatu negara. 


Ustadz Muhammad Syamsudin, Pengasuh Pesantren Hasan Jufri Putri P. Bawean dan saat ini menjabat sebagai Tim Peneliti dan Pengkaji Bidang Ekonomi Syariah - Aswaja NU Center PWNU JATIM dan Wakil Sekretaris Bidang Maudlu’iyah LBM PWNU Jatim

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG