IMG-LOGO
Trending Now:
Nasional

UAS Silaturahim Habib Luthfi dan Mbah Maimoen

Sabtu 9 Februari 2019 16:15 WIB
Bagikan:
UAS Silaturahim Habib Luthfi dan Mbah Maimoen
Jakarta, NU Online
Ustadz Abdus Shomad, penceramah yang dikenal dengan sebutan UAS, dibaiat menjadi penganut Tarekat Naqsyabandiyyah. Pembaitan dilakukan oleh Maulana Habib Luthfi bin Yahya.

Hal tersebut seperti dinyatakan oleh Ustd Tsauri dalam tulisan yang tersebar di media sosial sejak Jumat (8/2). "Beliau (Habib Luthi) akan membackup Ustadz Abdus Shomad dalam kepengurusan JATMAN," ujar Ustadz Tsauri.

Disebutkan juga bahwa UAS saat silaturahim dengan Habib Luthfi beserta rombongan di antaranya Ustadz Arif Hasanul Muna, Ustadz Afifudin Jombang dll.

Pertemuan yang berlangsung di Pekalongan Jawa Tengah sekitar satu jam. Pada kesempatan itu UAS juga menyampaikan kepada Habib Luthi bahwa sebelumnya sudah pernah melakukan baiat Tarekat Qadiriyah dan Satariyah. 

"Maulana meminta UAS agar memilih antara dua Thariqat itu yang bisa diamalkan secara intens. Maulana menganjurkan Thariqat Satariyah, kecuali jika ada wasiat dari orang tia untuk mengamalkan salah satu dari keduanya," lanjut Ustadz Tsauri.

Ustadz Tsauri meneruskan tampaknya ada wasiat yang kemudian menjadi alasan UAS memilih Tarekat Qadiriyah, dan Habib Luthfi membaiatnya. "Selain itu UAS juga menunjukan lembaran silsilah Thariqah Satariyah. Maulana mengecek sanad, ada 3 nama yang dikoreksi oleh beliau," tulis Ustadz Tsauri. 

Menurut Ustadz Tsauri, Maulana juga menambahkan keterangan bahwa sanad Tarekat Qadiriyah tertua memang berada di Medan. Hal itu menjadi wajar jika UAS berbaiat di sana pertama kali. 

Selama pertemuan itu Habib Luthfi dan UAS berkomunikasi dengan Bahasa Arab. "Semoga kita semua mendapatkan keberkahan dari pertemuan ini," doa Ustadz Tsauri.

Dikabarkan juga setelah berbaiat kepada Habib Luthfi bin Yahya, UAS sowan KH Maimun Zubair. "Semoga keberkahan utk Indonesia yg damai bersama ulama NU yg lembut para ahli tasawuf, moderat," harapnya. (Red: Kendi Setiawan)
Tags:
Bagikan:
Sabtu 9 Februari 2019 22:17 WIB
Ilmu Nusantara dalam Mengatur Negara
Ilmu Nusantara dalam Mengatur Negara
Jakarta, NU Online
Indonesia saat ini terlalu berkiblat ke Barat. Perdebatan amandemen UUD 45  yang boleh berbicara itu adalah sarjana-sarjana hukum yang alumni Eropa. Mereka merujuk revolusi Perancis atau revolusi Amerika.

"Indonesia itu punya sejarah ratusan kesultanan yang usianya sudah ratusan tahun," kata Budayawan Kiai Jadul Maula saat mengisi Tadarus Islam Nusantara, Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Kiai Jadul merasa aneh. Pasalnya, kesultanan yang berusia ratusan tahun itu seakan tak dianggap, seolah tanpa ilmu dalam mengatur tatanan sosial dan kenegaraannya.

"Loh apakah selama ratusan tahun kesultanan kerajaan yang ada di Nusantara itu gak pake ilmu ngaturnya? gak pake tatanan? gak punya sistem? sehingga kita tidak punya pengalaman sekali mengatur negara?" katanya.

Jika demikian adanya, bangsa Indonesia, menurutnya, bangsa paling aneh karena paling anti kepada leluhurnya sendiri. Sementara bangsa lain mendukung kesinambungan dari leluhurnya.

"Kita membuang dan berkiblat ke Barat," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Kiai Jadul menjelaskan bahwa Sultan La Elangi memperbarui tatanan sosial Kesultanan Buton dengan menetapkan konstitusi Martabat Tujuh. "Tahun 1613 merumuskan Undang-Undang Murtabath Tujuh konstitusi," katanya.

Hal ini menurutnya menarik mengingat konsideran pertama Kesultanan Buton adalah adagium man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya. Sementara konsideran keduanya adalah Pobinci bincikikuli, siapa dicubit sakit, jangan mencubit.

"Dua hal ini prinsip ketuhanan yang dikenali melalui pengenalan diri dan soal kemanusiaan," pungkasnya.  

Mendengar pemaparan Kiai Jadul demikian, Gus Ulil mengusulkan pentingnya penulisan Fiqih Siyasah (Fiqih Politik) Islam Nusantara. Pasalnya, Kesultanan Buton dalam pandangannya terlihat egaliter, tidak otoriter atau istifdadiyah mengutip Ibnu Khaldun.

"Mas Jadul mencoba merekonstruksi kira-kira fiqih siyasah yang berasal secara induktif dari sejarah Nusantara. Ini buat saya menarik sekali," kata dosen Pascasarjana Unusia itu. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Sabtu 9 Februari 2019 20:30 WIB
'Khalifatul Khamis' Gelar Sultan Buton
'Khalifatul Khamis' Gelar Sultan Buton
Kiai Jadul Maula (kiri) di Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Jika sultan-sultan di Jawa dan Sumatera punya legitimasi dengan berbagai gelar, maka Sultan Buton pun memiliki gelar guna menguatkan posisi mereka, yakni khalifatul khamis, khalifah kelima.

"Gelar Sultan Buton itu khalifatul khamis," kata Budayawan Kiai Jadul Maula saat menjadi narasumber pada Tadarus Islam Nusantara di Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Istilah itu, jelas Kiai Jadul, sebagai pelanjut atas kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Pasalnya, Sultan Buton memerintah dengan egaliter, tidak otoriter sebagaimana kekhalifahan pascakhulafaur rasyidin, seperti Umayah, Abbasiyah, dan seterusnya.

"Prosesnya (khulafaur rasyidin) terhenti karena munculnya Dinasti Umayah, Kesultanan Buton ini mereka (masyarakat Buton) mengatakan melanjutkan Khulafaur Rasyidin," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Buton, katanya, menghilangkan tradisi Bani Umayah, Abbasiyah, dan seterusnya yang merusak inti pesan kemanusiaan dengan otoriteranismenya itu melalui kesatuan kemanusiaan dan ketuhanan.

Jika melenceng sedikit saja, sultan akan dilengserkan dari posisinya oleh sembilan anggota dewan adat yang telah mengangkatnya. "Menghapus stereotype kesultanan sewenang-wenang, dijaga oleh disiplin moral," kata Kiai Jadul.

Kiai Jadul menyebut ada 12 sultan yang diberhentikan di tengah menjalankan pemerintahannya. Meskipun demikian, peristiwa tersebut tidak menimbulkan pergolakan seperti di kerajaan lain yang sampai berdarah-darah.

"Tanpa pergolakan sosial, role of law-nya sudah jalan," katanya.(Syakir NF/Muiz)
Sabtu 9 Februari 2019 18:15 WIB
Bertemu Mbah Moen, UAS Belajar Ilmu Tawadhu
Bertemu Mbah Moen, UAS Belajar Ilmu Tawadhu
Pertemuan UAS dengan Mbah Moen
Jakarta, NU Online
Setelah melakukan silaturahmi dan baiat menjadi pengamal Tarekat Naqsyabandiyyah kepada Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Ustadz Abdus Shomad (UAS) melanjutkan silaturahminya dengan bertemu KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).

"Awalnya akan silaturrahim ke Pesantren Al-Anwar Sarang, tapi taqdir berkata Iain. Dari Pati pukul 06.00 Shubuh, mesti sampai kediaman Gus Yasin (Wakil Gubernur Jawa Tengah) pukul 08.00, karena Mbah Moen akan ke Jakarta," tulis da'i yang terkenal dengan panggilan UAS ini melalui akun Instagram-nya, Sabtu (9/2).

Pada pertemuannya dengan Mbah Moen, UAS mengaku banyak belajar dari ketawadhuan Mbah Moen. "Belajar ilmu tawadhu' dari beliau, "Saya ini bukan Kiyai, saya ini awam", Masya Allah," ungkapnya.

Ada sembilan foto yang diunggah di Instagram-nya dan terlihat pertemuan yang sangat menyejukkan. Dalam foto tersebut, UAS tampak mencium tangan Mbah Moen. Dia juga tampak membantu Mbah Moen berjalan di rumahnya.

"Rasanya tidak mungkin, tapi barokah KH. DR. Fadholan dan KH. DR. Afifuddin mempertemukan kami dengan Mbah Moen," tulisnya tentang awal mula pertemuan tersebut.

Selain belajar ilmu tawadhu, UAS juga mengungkapkan bahwa ia diberi nasihat oleh Mbah Moen tentang cara membaca hikmah di balik takdir. "Nasihat tentang cara membaca hikmah di balik taqdir, ketetapan Allah itu indah, memohon doa dan barokah," tulisnya.

Silaturahmi UAS kepada dua ulama besar Nahdlatul Ulama ini menjadi viral di media sosial. Silaturahmi UAS ini mendapat banyak respon dan komentar dari para warganet.

Seperti yang diungkapkan @reski.saipullah123 dalam komentarnya. "Alhamdulillah Syekh Abdul Somad Bertemu Guru"ku Tercinta Abah Luthfi dan Mbah Moen... Allahumma Sholli 'alaa sayyidina Muhammad," tulisnya.

Selain komentar, warganet juga ada yang meminta doa seperti akun @innaco. "Masyaallah.. doakan saya ustad agar lebih rajin sholat..biar tambah yakin kalau Allah itu ada..biar iman saya tambah kuat ustadz.. mungkin saya terlalu banyak dosa ustadz, pintu hati saya di tutup.saya beramal tapi tidak masuk di hati rasanya," tulisnya. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG