IMG-LOGO
Nasional

Menaker Dukung Pembuatan Kartu Peduli Buruh untuk Korban Bencana

Sabtu 9 Februari 2019 18:0 WIB
Bagikan:
Menaker Dukung Pembuatan Kartu Peduli Buruh untuk Korban Bencana
Jakarta, NU Online
Menteri Ketenakerjaan M Hanif Dhakiri mendukung langkah Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia  (KSPSI) membuat kartu 'KSPSI Peduli' untuk menggalang dana sosial bagi pekerja atau buruh anggota KSPSI yang terkena musibah bencana. 

"Terobosan positif dari Komite sosial KSPSI untuk membantu pekerja yang terkena bencana yang patut didukung. Ini bisa meningkatkan perlindungan dan kesejahteraan para pekerja," ujar Menaker Hanif saat menerima audiensi KSPSI di kantor Kemnaker, Jakarta, Jumat (8/2). 

Menurut Menaker, pembuatan kartu KSPSI Peduli merupakan upaya serikat pekerja atau serikat buruh untuk meningkatkan perlindungan mensejahterakan anggota melalui cara-cara baru yang positif.  

"Upaya  mensejahterakan anggota serikat pekerja bukan lagi hanya melalui demo. Serikat pekerja dan serikat buruh juga memikirkan kepentingan pekerjanya sesuai perkembangakan era digital," kata Menaker didampingi Dirjen PHI Jamsos Haiyani Rumondang dan Direktur Kelembagaan dan Kerja sama Hubungan Industrial (KKHI) Kemnaker Aswansyah. 

Ketua KSPSI Jusuf Rizal menyatakan menyambut positif dukungan Menaker tersebut. Komite sosial merupakan suatu lembaga di bawah naungan KSPSI yang bergerak di bidang kegiatan-kegiatan sosial maupun program pemberdayaan dari serikat pekerja/buruh.  

Mengenai Program digital (kartu) KSPSI Peduli, Jusuf Rizal menyatakan pihaknya akan mengembangkan KSPSI smart. Kartu bisa menjadi wadah e-commerce (transaksi online) dan bisa dilakukan pembayaran dan promosi dari seluruh jaringan KSPSI di seluruh Indonesia. 

"Kartu KSPSI Peduli yakni kartu yang akan dibagikan kepada seluruh anggota KSPSI sebagai donatur tetap untuk menerima korban bencana alam maupun musibah lainnya," kata Jusuf seraya berharap seluruh anggota KSPSI bisa menjadi komite sosial. Selain menjadi anggota, pekerja juga nantinya juga bisa mengembangkan kegiatan sosialnya dan memperoleh manfaat ekonominya. 

Selain itu, dalam kesempatan ini Jusuf Rizal  juga berharap Pemerintah mendukung salah satu rencana KSPSI yakni membuat Balai Latihan Kerja (BLK) seluas 1.114 meter persegi yang berlokasi di Cibubur, Jakarta Timur. "Kita akan membuat training centre Balai Latihan Kerja yang dikelola oleh komite sosial KSPSI," katanya. (Red: Kendi Setiawan)
Bagikan:
Sabtu 9 Februari 2019 22:17 WIB
Ilmu Nusantara dalam Mengatur Negara
Ilmu Nusantara dalam Mengatur Negara
Jakarta, NU Online
Indonesia saat ini terlalu berkiblat ke Barat. Perdebatan amandemen UUD 45  yang boleh berbicara itu adalah sarjana-sarjana hukum yang alumni Eropa. Mereka merujuk revolusi Perancis atau revolusi Amerika.

"Indonesia itu punya sejarah ratusan kesultanan yang usianya sudah ratusan tahun," kata Budayawan Kiai Jadul Maula saat mengisi Tadarus Islam Nusantara, Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Kiai Jadul merasa aneh. Pasalnya, kesultanan yang berusia ratusan tahun itu seakan tak dianggap, seolah tanpa ilmu dalam mengatur tatanan sosial dan kenegaraannya.

"Loh apakah selama ratusan tahun kesultanan kerajaan yang ada di Nusantara itu gak pake ilmu ngaturnya? gak pake tatanan? gak punya sistem? sehingga kita tidak punya pengalaman sekali mengatur negara?" katanya.

Jika demikian adanya, bangsa Indonesia, menurutnya, bangsa paling aneh karena paling anti kepada leluhurnya sendiri. Sementara bangsa lain mendukung kesinambungan dari leluhurnya.

"Kita membuang dan berkiblat ke Barat," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Kiai Jadul menjelaskan bahwa Sultan La Elangi memperbarui tatanan sosial Kesultanan Buton dengan menetapkan konstitusi Martabat Tujuh. "Tahun 1613 merumuskan Undang-Undang Murtabath Tujuh konstitusi," katanya.

Hal ini menurutnya menarik mengingat konsideran pertama Kesultanan Buton adalah adagium man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, siapa yang mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya. Sementara konsideran keduanya adalah Pobinci bincikikuli, siapa dicubit sakit, jangan mencubit.

"Dua hal ini prinsip ketuhanan yang dikenali melalui pengenalan diri dan soal kemanusiaan," pungkasnya.  

Mendengar pemaparan Kiai Jadul demikian, Gus Ulil mengusulkan pentingnya penulisan Fiqih Siyasah (Fiqih Politik) Islam Nusantara. Pasalnya, Kesultanan Buton dalam pandangannya terlihat egaliter, tidak otoriter atau istifdadiyah mengutip Ibnu Khaldun.

"Mas Jadul mencoba merekonstruksi kira-kira fiqih siyasah yang berasal secara induktif dari sejarah Nusantara. Ini buat saya menarik sekali," kata dosen Pascasarjana Unusia itu. (Syakir NF/Muhammad Faizin)
Sabtu 9 Februari 2019 20:30 WIB
'Khalifatul Khamis' Gelar Sultan Buton
'Khalifatul Khamis' Gelar Sultan Buton
Kiai Jadul Maula (kiri) di Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Jika sultan-sultan di Jawa dan Sumatera punya legitimasi dengan berbagai gelar, maka Sultan Buton pun memiliki gelar guna menguatkan posisi mereka, yakni khalifatul khamis, khalifah kelima.

"Gelar Sultan Buton itu khalifatul khamis," kata Budayawan Kiai Jadul Maula saat menjadi narasumber pada Tadarus Islam Nusantara di Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia), Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 5, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Istilah itu, jelas Kiai Jadul, sebagai pelanjut atas kekhalifahan Khulafaur Rasyidin. Pasalnya, Sultan Buton memerintah dengan egaliter, tidak otoriter sebagaimana kekhalifahan pascakhulafaur rasyidin, seperti Umayah, Abbasiyah, dan seterusnya.

"Prosesnya (khulafaur rasyidin) terhenti karena munculnya Dinasti Umayah, Kesultanan Buton ini mereka (masyarakat Buton) mengatakan melanjutkan Khulafaur Rasyidin," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Buton, katanya, menghilangkan tradisi Bani Umayah, Abbasiyah, dan seterusnya yang merusak inti pesan kemanusiaan dengan otoriteranismenya itu melalui kesatuan kemanusiaan dan ketuhanan.

Jika melenceng sedikit saja, sultan akan dilengserkan dari posisinya oleh sembilan anggota dewan adat yang telah mengangkatnya. "Menghapus stereotype kesultanan sewenang-wenang, dijaga oleh disiplin moral," kata Kiai Jadul.

Kiai Jadul menyebut ada 12 sultan yang diberhentikan di tengah menjalankan pemerintahannya. Meskipun demikian, peristiwa tersebut tidak menimbulkan pergolakan seperti di kerajaan lain yang sampai berdarah-darah.

"Tanpa pergolakan sosial, role of law-nya sudah jalan," katanya.(Syakir NF/Muiz)
Sabtu 9 Februari 2019 18:15 WIB
Bertemu Mbah Moen, UAS Belajar Ilmu Tawadhu
Bertemu Mbah Moen, UAS Belajar Ilmu Tawadhu
Pertemuan UAS dengan Mbah Moen
Jakarta, NU Online
Setelah melakukan silaturahmi dan baiat menjadi pengamal Tarekat Naqsyabandiyyah kepada Maulana Habib Luthfi bin Yahya, Ustadz Abdus Shomad (UAS) melanjutkan silaturahminya dengan bertemu KH Maimoen Zubair (Mbah Moen).

"Awalnya akan silaturrahim ke Pesantren Al-Anwar Sarang, tapi taqdir berkata Iain. Dari Pati pukul 06.00 Shubuh, mesti sampai kediaman Gus Yasin (Wakil Gubernur Jawa Tengah) pukul 08.00, karena Mbah Moen akan ke Jakarta," tulis da'i yang terkenal dengan panggilan UAS ini melalui akun Instagram-nya, Sabtu (9/2).

Pada pertemuannya dengan Mbah Moen, UAS mengaku banyak belajar dari ketawadhuan Mbah Moen. "Belajar ilmu tawadhu' dari beliau, "Saya ini bukan Kiyai, saya ini awam", Masya Allah," ungkapnya.

Ada sembilan foto yang diunggah di Instagram-nya dan terlihat pertemuan yang sangat menyejukkan. Dalam foto tersebut, UAS tampak mencium tangan Mbah Moen. Dia juga tampak membantu Mbah Moen berjalan di rumahnya.

"Rasanya tidak mungkin, tapi barokah KH. DR. Fadholan dan KH. DR. Afifuddin mempertemukan kami dengan Mbah Moen," tulisnya tentang awal mula pertemuan tersebut.

Selain belajar ilmu tawadhu, UAS juga mengungkapkan bahwa ia diberi nasihat oleh Mbah Moen tentang cara membaca hikmah di balik takdir. "Nasihat tentang cara membaca hikmah di balik taqdir, ketetapan Allah itu indah, memohon doa dan barokah," tulisnya.

Silaturahmi UAS kepada dua ulama besar Nahdlatul Ulama ini menjadi viral di media sosial. Silaturahmi UAS ini mendapat banyak respon dan komentar dari para warganet.

Seperti yang diungkapkan @reski.saipullah123 dalam komentarnya. "Alhamdulillah Syekh Abdul Somad Bertemu Guru"ku Tercinta Abah Luthfi dan Mbah Moen... Allahumma Sholli 'alaa sayyidina Muhammad," tulisnya.

Selain komentar, warganet juga ada yang meminta doa seperti akun @innaco. "Masyaallah.. doakan saya ustad agar lebih rajin sholat..biar tambah yakin kalau Allah itu ada..biar iman saya tambah kuat ustadz.. mungkin saya terlalu banyak dosa ustadz, pintu hati saya di tutup.saya beramal tapi tidak masuk di hati rasanya," tulisnya. (Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG