::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

JIHAD PAGI

Raih Derajat Tinggi dengan Syukur dan Introspeksi Diri

Ahad, 10 Februari 2019 11:00 Daerah

Bagikan

Raih Derajat Tinggi dengan Syukur dan Introspeksi Diri
Gus Mubalighin Adnan, Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung
Pringsewu, NU Online
Jika kita ingin menggapai kedudukan tinggi di sisi Allah SWT, hendaknyalah kita selalu melakukan introspeksi diri (meneliti diri) apakah kita telah melakukan hukum-hukum serta menjalankan apa yang telah ditentukan oleh Allah SWT.

Kita juga harus bermuhasabah apakah anggota badan, mata, kaki, tangan dan lisan kita telah melaksanakan sesuatu yang diperintahkan Allah? Bila kita menilai kita telah melakukannya dengan benar, maka bersyukurlah dengan tidak merasa sudah baik.

Sebaliknya, jika kita merasa banyak dosa dan kesalahan maka dianjurkan bagi kita untuk segera beristighfar dan menyesalinya.

Pemaparan ini dijelaskan Wakil Rais Syuriyah PCNU Pringsewu, Lampung Gus Mubalighin Adnan saat kajian Kitab Minahussaniyah karya Sayyid Abd al-Wahab as-Sya’roni pada Jihad Pagi (Ngaji Ahad Pagi) di aula gedung PCNU Pringsewu, Ahad (10/2).

Muhasabah atau introspeksi diri ini menjadi bagian yang sangat penting untuk menjaga keistiqomahan kita agar tetap dalam jalur yang sudah digariskan oleh Allah. Instropeksi diri akan menjadi modal untuk melanjutkan proses kehidupan ke arah yang lebih baik.

"Kita harus berhitung setiap hari apa yang sudah kita lakukan khususnya kewajiban kita sebagai hamba Allah. Apakah sudah memaksimalkan nikmat yang diberi untuk beribadah?," tanya Gus Balighin yang juga Pengasuh Pesantren Mathlaul Huda Ambarawa ini.

Mengutip hadits Nabi, Gus Balighin mengingatkan bahwa pada hari kiamat nanti, setiap individu akan mempertanggungjawabkan semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT.

"Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan," jelasnya tentang hadits riwayat Imam Turmudzi ini.

Selain bermuhasabah, setiap individu harus senantiasa mewujudkan rasa syukur terhadap nikmat yang dianugerahkan baik dengan lisan maupun perbuatan. Jika nikmat yang diberikan berupa materi maka rasa syukur dapat dilakukan dengan bersedekah atas kelebihan materi tersebut.

"Kalau mau bersyukur atas nikmat ruhani semisal kesehatan dan hal-hal lain yang bersifat bathiniyah, maka dapat dilakukan dengan memanfaatkan nikmat yang diberi tersebut untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah," terangnya.

Ini menurutnya merupakan manifestasi kepatuhan dan keyakinan umat Islam terhadap janji dan ancaman Allah terkait bersyukur atas anugerah nikmat.

Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur'an Surat Ibrahim ayat 7: Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (Muhammad Faizin)