IMG-LOGO
Daerah

PCNU Kota Pekalongan: Masjid Harus Jadi Agen Pemberdayaan Umat

Rabu 13 Februari 2019 14:0 WIB
Bagikan:
PCNU Kota Pekalongan: Masjid Harus Jadi Agen Pemberdayaan Umat
Ketua PCNU Kota Pekalongan, H Muhtarom (kanan)
Pekalongan, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan H Muhtarom mengungkapkan, masjid di lingkungan NU khususnya, harus menjadi agen pemberdayaan umat, karena Rasulullah mefungsikan masjid tidak hanya untuk ibadah saja.

Kepada NU Online, Selasa (12/2) Ketua PCNU Kota Pekalongan berharap, pendidikan dan pelatihan (Diklat) manajemen masjid yang diadakan Lembaga Takmir Masjid (LTM) PCNU Kota Pekalongan di Gedung Aswaja, Jumat (8/2) malam bisa meningkatkan peran masjid dalam pemberdayaan umat. 

"Selain sudah menjadi program kerja PCNU, diklat pengurus masjid dinilai sangat penting, karena itu, LTM NU sebagai salah satu lembaga yang dimiliki NU berkewajiban untuk membina atau mengkonsolidasikan potensi yang ada di masjid-masjid bagi warga NU untuk dapat menjadi tempat pemberdayaan umat," ujarnya.

PCNU Kota Pekalongan sendiri memandang bahwa saat ini masih banyak masjid yang belum menjalankan fungsinya dengan baik dan tepat. Bahkan ada masjid yang sepi kegiatannya sehingga terjadi fenomena ‘rebutan’ masjid. Menurutnya, akhir-akhir ini banyak orang yang tiba-tiba kaget karena ‘kehilangan masjid’, sebenarnya ini bukan fenomena baru.

“Kalau masjid tidak telaten kita jaga pasti ada orang lain yang tidak punya tempat dan aset tapi berani untuk ‘ndablek’ masuk dan mengambil alih mengurus masjid. Apa yg telah terjadi selama ini di banyak daerah itu harus menjadi cerminan, jika masjid tidak dijaga maka amaliyah yang turun temurun diamalkan warga NU tiba-tiba disesatkan dan disalahkan,” tuturnya.

Lebih lanjut Muhtarom mengingatkan, agar diklat manajemen masjid yang digelar LTM bisa menjadi langkah konkrit bagi masing-masing pengurus masjid di tiap kelurahan. Menurutnya, yang paling penting dalam acara tersebut adalah dipahami dan dieksekusi.

“Karena jika paham tanpa ada implementasi di lapangan maka masjid tidak akan dapat menjadi pusat pemberdayaan umat. Seperti banyak masjid yang sarana dan prasarananya tidak diperhatikan, bahkan sajadah atau karpet untuk sujud sudah sangat kasar dan tidak layak. Padahal uang yang dimiliki masjid jumlahnya milyaran,” tuturnya.

Ketua Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kota Pekalongan M Fuad Mukhlis menjelaskan, kegiatan yang sudah menjadi agenda PCNU Kota Pekalongan tersebut dalam rangka meningkatkan pemberdayaan dan peran masjid bagi umat Islam khususnya warga NU.

“Harapannya agar masjid-masjid di Kota Pekalongan bisa lebih aktif, baik dari kegiatan shalat lima waktu hingga kegiatan sosial keagamaan lainya. Sehingga warga atau jamaah masjid dapat lebih merasakan peran masjid,” jelasnya.

Dikatakan, pemberdayaan yang diusung LTM PCNU Kota Pekalongan tersebut tidak berputar pada kegiatan ‘ubudiyah’ seperti salat fardhu saja, namun juga pemberdayaan sosial seperti kegiatan dan kesehatan juga mampu diperankan oleh masjid. 

“Nantinya di masjid-masjid milik NU ini kegiatannya dapat lebih aktif dan berkembang. Seperti kegiatan sosial kemasyarakatan dan kesehatan atau yang lainya, di samping melestarikan amaliyah ibadah ahlussunah waljamaah menjadi prioritas,” pungkasnya. (Muiz)

 
Bagikan:
Rabu 13 Februari 2019 23:30 WIB
Indonesia Bukan Negara ‘Darul Harb’
Indonesia Bukan Negara ‘Darul Harb’
Jakarta, NU Online
Sebagian masyarakat Indonesia sampai hari ini masih beranggapan bahwa Indonesia negara yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Bahkan menyebutnya sebagai darul harb, negara musuh. Muhammad Sofi Mubarok, penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah, menjelaskan bahwa ada tiga syarat negara disebut sebagai darul harb sebagaimana yang ia kutip Abdul Qadir Audah.

“Negara tersebut tidak termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam sehingga kekuasaan dipegang orang-orang Non-Muslim, tidak menggunakan hukum Islam sebagai konstitusi, serta orang-orang Islam tidak bisa melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Sofi kepada NU Online pada Selasa (12/2).

Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) itu menjelaskan bahwa darul islam atau darul harb dalam konteks sekarang sudah tidak ada. Pasalnya, dikotomi darul Islam dan darul harb seperti yang ditemukan dalam kitab-kitab fikih dibahas lantaran di masa lalu, wilayah kekuasaan terbagi ke dalam wilayah Islam yang dikenal dengan kekhilafahan dan wilayah Non-Islam. Sementara, lanjutnya, dalam konsep modern yang terjadi hari ini, disparitas keduanya sudah tidak ada bentuknya pasca munculnya gagasan negara kebangsaan (nation-state).

Secara politik, lanjutnya, gagasan negara kebangsaan diartikan sebagai kesetaraan semua golongan dalam mendapatkan hak-hak politik tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. “Mestinya ada istilah baru yang lebih tepat untuk mendefinisikan negara dalam konteks sekarang ini,” terang pria yang pernah mondok di Pesantren Kempek, Cirebon itu.

Lebih lanjut, pria yang pernah mondok di Pesantren Kempek ini juga menjelaskan bahwa umat Islam di Indonesia bebas melaksanakan ajaran agama. Ia menyebut banyak ahli yang duduk di stakeholder atau wilayah legislator misalnya, sudah turut berkontribusi melahirkan kebijakan dan aturan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, meskipun namanya tidak Islami atau kearab-araban.

Sofi mencontohkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan pembubaran BP Migas. Partai-partai yang memiliki platform Islam juga tidak dilarang atau dibubarkan.

“Jadi, di mana letak keabsahan Indonesia dikatakan sebagai darul harb kalau begitu?” katanya mempertanyakan.

Sofi juga menegaskan bahwa konsekuensi darul harbi dapat memerangi Non-Muslim dan pemerintah di satu sisi. Hal itu, menurutnya, tidak bisa dibenarkan mengingat banyak orang Islam juga di dalam pemerintahan sendiri. Bahkan hal tersebut bisa disebut sebagai bughat, pemberontakan. 

“Apa iya pemerintahan mau kita bubarkan dan perangi, padahal banyak diisi orang-orang Islam? Bughat itu namanya,” ucap kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sebagai informasi, pembahasan pandangan yang menetapkan Indonesia sebagai darul harb ini akan masuk dalam bahtsul masail maudluiyah pada Musyawarah Nasional (Munas) 2019 Nahdlatul Ulama yang akan dihelat pada tanggal 27 Februari hingga 1 Maret mendatang di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Rabu 13 Februari 2019 23:0 WIB
Siap dan Semangat, Kunci Generasi Milenial Berwirausaha
Siap dan Semangat, Kunci Generasi Milenial Berwirausaha
Surabaya, NU Online 
Dalam mengembangkan usaha, ada sejumlah persyaratan yang harus dimiliki agar sukses. Apalagi generasi milenial, hendaknya juga adaptasi dengan keadaan dan tantangan yang ada.

Hal tersebut mengemuka pada diskusi mingguan, yang diselenggarakan Pimpinan Ranting (PR) Ansor Wonokosumo, Semampir, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/2).

Kegiatan rutin kali ini diisi dengan kajian bertemakan Kreatif dan Inovatif dalam Berwirausaha dengan menghadirkan Cholilur Rahman.

“Sebagai generasi milenial, kita harus mendesain usaha dengan kreatif. Sebab, dengan berubahnya zaman, pola usaha jauh berbeda akan berubah,” katanya di hadapan peserta.

Menurutnya, bila hendak berwirausaha umumnya harus memiliki lahan. “Tapi, di era mileneal yang sudah terkenal akan kemajuan digitalnya saat ini, dalam berwirausaha bisa dilakukan secara online, lapaknya yakni berada di dunia maya,” urainya.

Oleh sebab itu, dengan semakin mudahnya pola berwirausaha tersebut, anak muda juga harus memanfaatkan kelebihan tersebut. “Sehingga usaha kita menjadi semakin di depan, dan juga dikenal di kalangan umum," jelasnya.

Cholilur menambahkan, dalam berwirausaha harus memilik modal kesiapan dan semangat. “Sebab jika hanya siap, ketika sudah dalam pertengahan pasti ada rasa jenuh. Karenanya harus juga diimbangi dengan semangat,” katanya. 

Semangat, dalam pandangannya memiliki banyak manfaat. “Meskipun di pertengahan jalan mengalami kejenuhan, tidak akan mempengaruhi lama karena sudah memiliki semangat,” pungkasnya. (Hisam Malik/Ibnu Nawawi)

Rabu 13 Februari 2019 22:30 WIB
PMII IAIN Pontianak Ajak Pelajar Tempuh Pendidikan Tinggi
PMII IAIN Pontianak Ajak Pelajar Tempuh Pendidikan Tinggi
PMII Komisariat IAIN Pontianak menggelar PMII Masuk Kampung.
Pontianak, NU Online
Ratusan siswa menerima motivasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat. 

Para siswa adalah dari Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Kejuruan Lembaga Pendidikan Islam Nurul Ulum di Desa Sungai Enau, Kuala Mandor B, Kubu Raya. Jajaran guru dan yayasan pesantren setempat juga turut andil pada kegiatan dengan tema PMII Masuk Kampung ini, Rabu (13/2).

Tiara Sari selaku penyelenggara kegiatan mengajak siswa-siswi tidak berhenti menuntut ilmu dan tidak berhenti hanya di jenjang sekolah menengah saja. Melainkan juga termotivasi dan memotivasi generasi selanjutnya untuk mengenyam pendidikan ke perguruan tinggi. 

“Sebab seperti yang kita ketahui hadits tentang mencari ilmu walau sampai ke negeri Cina,” kata Ketua Komisariat PMII IAIN Pontianak tersebut. 

Menurutnya, faktor utama pendukung pendidikan adalah lingkungan yang baik. “Faktor kedua yaitu keturunan. Sebab, orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya,” jelas dia.

Kiai Abdul Kholis menjelaskan faktor selanjutnya yakni sandaran vertikal. “Yaitu sebagai penguat dari usaha mencari ilmu juga diimbangi dengan doa kepada Sang Pencipta,” kata Pimpinan Pesantren Nurul Ulum saat sambutan.

Sedangkan Arif Sukino selaku narasumber menyampaikan materi terkait model pendidikan agama Islam generasi milenial menuju insan humanis-religius. 

Dalam paparannya, cara pintar generasi milenial adalah dengan memanfaatkan tekhnologi dalam menunjang pendidikan sebagai sarana informasi tercepat dan mudah. 

“Peran lembaga pendidikan sangat besar untuk menggiring peserta didiknya menyeimbangi pendidikan agama dan pendidikan umum kepada generasi milenial,” ungkapnya. Sebab dalam lingkup kehidupan generasi terbilang konsumtif dalam segala bidang baik itu dalam penggunaan teknologi yang rawan dengan informasi radikal, lanjutnya. 

Pendidikan agama menjadi hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan sebagai pedoman generasi milenial dalam bersikap menghadapi era maju untuk kedekatan batin kepada Allah. “Peran manusia sebagai khalifah di muka bumi diberdayakan dengan penguatan ilmu pendidikan agama,” urainya.

Acara dibuka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambutan disampaikan Ketua Komisariat PMII IAIN Pontianak, dan pendiri Pesantren Nurul Ulum. 

Kegiatan dilanjutkan acara utama yaitu seminar pendidikan yang disampaikan senior PMII sekaligus dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Arif Sukino. (Linawati/Ibnu Nawawi)




IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG