IMG-LOGO
Opini

Membangun Kebersamaan di Tahun Politik

Rabu 13 Februari 2019 19:0 WIB
Bagikan:
Membangun Kebersamaan di Tahun Politik
Oleh: Nanang Qosim 

Semua berharap agar elemen bangsa kembali memperkuat tali persaudaraan dan kebersamaan menyongsong Pemilu 2019. Dalam ketermenungan itu kita mencari-cari: di manakah urgensinya? Jelas, kita menemukan alasan kuat bahwa belakangan ini pilar kebersamaan memang tengah digerogoti oleh para provokator yang menyebar virus intoleransi, menularkan anarkisme, membangkitkan separatisme, mengajak praktik politik tidak santun, hingga membisiki kalimat-kalimat hujatan.

Ragam kekerasan itu merefleksikan runtuhnya kebersamaan sehingga semuanya perlu saling mengingatkan dalam bingkai kebaikan kepada semua elemen bangsa untuk menegakkannya kembali. Manakala kebersamaan tegak dan kokoh, diyakini segala manuver provokator bisa diredam bersama. Sebab, kebersamaan mensakralkan kebinekaan. Kebersamaan senantiasa memikirkan setiap tindakan apakah akan merusak diri sendiri atau masyarakat luas. Kebersamaan terbiasa dengan pola pikir reflektif. Setiap tindakan dipertimbangkan dampaknya bagi orang lain, bukan sekadar bagi diri sendiri atau kelompoknya.

Kebersamaan pula yang mampu merawat toleransi. Dalam konteks ini, toleransi yang ditelaah berpengertian sebagai sikap menahan diri, bersikap sabar, menghargai orang lain yang berpendapat beda, berhati lapang dan tenggang rasa terhadap orang yang berlainan pandangan.

Jika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia dituliskan toleransi adalah bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Dalam deklarasi prinsip-prinsip toleransi UNESCO (1995), dinyatakan bahwa toleransi adalah penghargaan, penerimaan dan penghormatan terhadap beragam cara kemanusiaan, bentuk-bentuk ekspresi dan kebudayaan.

Dari beberapa pengertian itu, jelas dibutuhkan keikhlasan untuk memahami perbedaan pada orang lain. Individu tidak eksklusif sebagai homo homini lupus, melainkan terbuka menjadihomo homini sosius, bahwa manusia adalah rekan bagi sesamanya. Homo homini sosius membangun urgensi 'kita', bukan melulu 'aku' atau 'kami'.

Akar Keruntuhan

Dari paparan sekilas itu bisa dicari akar keruntuhan kebersamaan ini. Lawan dari bersama adalah sendiri, sehingga kebersamaan dilawan individualistis, atau 'kita' dirobohkan 'aku'. Di sinilah terdapat akar keruntuhan kebersamaan itu: tatkala orang tidak lagi bicara 'kita', tetapi lebih mendahulukan 'aku', kemudian 'kami'.

Akibat tidak memikirkan 'kita', orang lain menjadi tak penting. Apalagi jika orang lain itu tidak punya ikatan kepentingan. Lebih mengerikan lagi jika orang lain itu dianggap 'lawan' atau 'berbeda' dengan dirinya, maka tak urung akan dilibas. Dalam kondisi individualistis begini, jangan lagi bicara soal toleransi. Justru terjadilah defisit toleransi.

Di tahun politik ini, 'aku' akan lebih kentara, dan 'lawan' atau 'berbeda' terlihat lebih mencolok, tidak samar-samar lagi. Akibatnya, pertarungan individualistis akan lebih marak, apalagi jika dikaitkan dengan teori 'keberjejalan manusia' yang dikenalkan filsuf Erich Fromm.

Istilah 'keberjejalan manusia' bukan sekadar menunjukkan kepadatan penduduk, tetapi penekanannya pada penggambaran pertarungan untuk survive yang didorong perilaku agresi. Dalam pertarungan itu terdapat kecenderungan 'mereka yang kuat berusaha membinasakan yang lemah'. Beberapa indikator 'kuat' itu bisa saja berupa kekuasaan politik, kekuatan uang, kekuatan fisik, hingga kekuatan ideologi.

Mereka yang kalah dalam pertarungan itu berpotensi dihinggapi frustrasi. Manusia adalah volo (aku mau), sebuah titik tolak yang dikenalkan oleh Maine de Biran. Manusia itu mau apa saja, tetapi hasrat terhadap 'apa saja' selalu dibatasi kepantasan-kepantasan maupun kemampuan diri. Pembatas itulah yang kerap membikin frustrasi.

Di tahun politik akan banyak pihak kalah bertarung. Artinya, tidak sedikit yang bakal frustrasi. Celakanya, frustrasi ini dibiarkan menjadi stimuli agresi. Padahal, agresi punya tujuan untuk menghilangkan ancaman dengan cara menghindari ataupun menghancurkan sumber ancaman itu.

Semakin bermaksud menghancurkan, kian tumbuh kedestruktifannya. Kalau sampai destruktif, levelnya meningkat menjadi agresi jahat yang cenderung merugikan orang lain. Maka, persoalan moralitas diabaikan. Kekerasan dianggap halal. Inilah gambaran intoleransi. Ini juga penguat runtuhnya kebersamaan.

Politik Santun

Bagaimana menegakkan kebersamaan yang runtuh itu? Rumusnya sederhana: kembali ke 'kita'. Segenap sudut pandang kehidupan, mestinya, mengacu pada kepentingan bersama, kepentingan 'kita', bukan lagi demi 'aku' atau 'kami'. Meski sederhana, tetapi untuk mewujudkannya susah. Namun begitu, tetap saja harus diupayakan bilamana tidak ingin kasus-kasus intoleransi kian meliar.

Dalam konteks tahun politik, sewajarnya dibuka kembali hakikat tujuan berpolitik. Idealnya politik merupakan pengelolaan ruang publik dalam bentuk kerja sama untuk mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan bersama, dan tujuan utamanya adalah membebaskan manusia dari penderitaan. Atau dalam ungkapan pemikir politik Peter Berger, politik seharusnya memperhitungkan 'biaya-biaya manusia (human costs)'. Tujuan politik seharusnya untuk mengatasi atau paling tidak membatasi penderitaan manusia dalam segala bentuk dan dimensinya.

Selama ini, di negeri kita, politik hanya dimainkan oleh para elite dan aparat negara. Politik yang dipraktikkan oleh kelompok ini cenderung impersonal, tidak peka, dan sering tanpa hati nurani. Politik yang berhati nurani adalah politik yang mengambil inspirasi dari solidaritas kemanusiaan berdasarkan pengalaman langsung saat bergulat dengan penderitaan dan kehidupan yang penuh ketidakpastian.

Inilah wujud politik santun. Karenanya, upaya membangun kebersamaan adalah melalui politik santun tersebut., bersama kita bangun fondasi iklim demokrasi santun, teduh, dan damai. 

Penulis adalah kolomnis dan peneliti, pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kabupaten Demak, Jawa Tengah. 


Bagikan:
Selasa 12 Februari 2019 9:30 WIB
Indonesia Darurat Akal Sehat?
Indonesia Darurat Akal Sehat?
Ilustrasi (via LinkedIn)
Oleh Hanifatul Ummah

Aksi viral pemuda Lampung yang dengan sengaja merusak motor saat ditilang itu seketika mengundang netizen untuk mem-bully-nya. Bahkan akun facebooknya yang diduga telah di¬hack juga mendapat ribuan hujatan netizen. Pasalnya, tindakan pemuda ini sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang pelanggar lalu lintas pada umumnya. Manajemen amarah yang buruk disinyalir menjadi pemicu tindakan ini.

Namun, yang menjadi sorotan bagi saya adalah ketika aksi ini menjadi wajah yang mewaikili sifat pemuda Indonesia saat ini yang kurangpengetahuan, wawasan dan kebijaksanaan. Tak hanya itu, kegilaan yang menjadi undangan gratis untuk membully dirinya di dunia maya ini juga menjadi tampilan wajah netizen Indonesia yang kurang terpuji. Lalu pertanyaannya adalah di mana tata krama, sopan santun dan budi luhur yang selama ini menjadi junjungan masyarakat Indonesia sedari dulu?

Tata krama, sopan santun dan budi luhur pada kenyataannya hanyalah semboyan semata. Baik secara pendidikan maupun agama, belum mampu menyelamatkan Indonesia yang sedang mengalami degradasi moral dan mental. Gelombang hijrah yang akhir-akhir menguasai dunia maya dengan berbagai dalil agama juga tampaknya hanya semacam simbolis agama yang lalu lalang dengan saling menyalahkan tata cara ibadah satu dengan yang lain. Menganggap maulid, pengeras suara adzan dan beberapa tata cara agama lain sebagai bid’ah. Namun, tak menunjukkan sebuah kerukunan beragama dalam tubuh Islam sendiri.

Hijrah memang diperlukan. Untuk mencapai Islam yang sesungguhnya, kita memang harusnya berhijrah. Namun, tidak mengungkung diri dengan cara mengisolasi islam dalam pandangan yang sempit. Dogma-dogma agama yang keliru mampu membentuk radikalisme yang berkedok penyempurnaan agama. Tepat di saat masyarakat Indonesia sangat sensitif dengan masalah agama, muncullah pertarungan politik yang menuntut masyarakat Indonesia untuk memiliki keteguhan, wawasan dan keimanan sehingga mampu membedakan islam yang dipolitisasi atau politik yang diislamisasi.

Masyarakat Indonesia dituntut agar tidak mudah terprovokasi. Namun, mengingat aksi pemuda ngamuk saat ditilang ini menjadi gambaran pemuda Indonesia yang sangat mudah terprovokasi. Begitu pula dengan berbagai hoaks yang menjelma menjadi sarang kepentingan politik.

Islam dan Indonesia

Sebuah pertanyaan dari seorang teman saya muncul beberapa waktu yang lalu. “Kamu adalah orang Indonesia yang beragama Islam atau orang Islam yang tinggal di Indonesia?” Barangkali pembaca juga tidak asing dengan pertanyaan sederhana ini. Namun, cukup membuat saya berpikir seribu kali sebelum menjawab hingga akhirnya saya tidak mampu menjawab sebab khawatir terjebak pada retorika kata. Namun, pertanyaan ini memberikan saya sebuah insight  dimana masyarakat Indonesia sangat mudah terjebak pada fragmen-fragmen istilah yang akhirnya memberikan mereka krisis identitas. Saya rasa, inilah salah satu faktor yang menciptakan masyarakat sumbu pendek.

Saya adalah orang Islam. Saya juga orang Indonesia. Dan saya menerima dua fakta ini dengan tidak menumpangtindihkan keduanya. Dengan demikian saya menerima alquran sebagai kitab suci saya dan pancasila sebagai dasar Negara saya. Tidak ada yang saling melukai antara Islam dan Indonesia. Tidak ada yang kehilangan substansinya ketika saya menerima keduanya.

Sayangnya, banyak masyarakat yang terikat pada retorika kata sehingga menjebak dirinya dalam situasi dimana mereka menuhankan agama, tidak lagi menuhankan Tuhan Yang Maha Esa. Agama bukanlah sesuatu yang semestinya dituhankan. Di sinilah letak akal sehat kita dapat diselamatkan. Kita harus bisa memilah, memilih dan menelusuri batas antara agama dan Tuhan. Menjadi Orang Indonesia bukan berarti memilih neraka dan memilih agama Islam bukan berarti saya kehilangan kewarganegaraan saya.

Tidak ada yang salah dari sebuah hijrah sampai hijrah itu keluar dari jalurnya. Sebuah video viral yang menayangkan seorang anak remaja mencuri sebuah barang yang diyakininya berasal dari perusahaan Yahudi tertangkap oleh pegawai minimarket. Video yang berdurasi singkat itu menuai berbagai komentar netizen yang menertawakan tampang innocent lelaki tersebut.

Lucunya, aksi pemuda ini dibenarkan oleh dirinya sebab barang yang dicurinya adalah milik yahudi dan sesuai dengan apa yang diajarkan oleh gurunya. Munculnya video ini menjadi sebuah gambaran munculnya radikalisasi yang selama ini tidak disadari oleh warga. Dan sayangnya, kita hanya akan bertindak saat muncul sebuah tragedi bom atau sejenisnya lalu membuat tagar tagar #islamagamadamai tanpa menelisik asal muasal semua ideologi ini. Mirisnya, belum ada sebuah penelusuran tentang hal ini.

Beberapa waktu lalu muncul isu tentang kinerja BPIP Badan Pembinaan Ideologi Pancasila yang dipertanyakan. Pasalnya, dengan gaji lebih dari 100 juta, Mahfud MD dan Megawati Soekarno Purtri belum mampu memberikan hasil yang secara fisik signifikan. Dengan adanya elaborasi kondisi ideology pancasila yang surut akibat perdagangan “agama” diharapkan memberikan pandangan bagi masyarakat tentang pentingnya adanya lembaga tersebut.

Upaya preventif harus segera dirilis untuk menghentikan arus radikalisasi. Pencabutan hak berdirinya HTI juga tidak serta merta menghilangkan ideologinya sebab kita bisa membubarkan oragnisasinya namun tidak dapat membubarkan pemikirannya. Ideologi Intoleransi akan terus muncul dan merusak kepribadian bangsa perlahan tapi pasti.

Pendidikan merupakan upaya preventif yang sangat memegang peranan besar dalam menumbuhkan cara berpikir siswa yang tidak merusak, mampu melakukan toleransi dan tidak mudah terprovokasi. Namun, penerapan di lapangan tidak semudah teori. Permasalahannya adalah banyaknya sumber daya manusia tenaga pendidik yang kurang memahami permasalahan ini dan bahkan sebagian telah terpapar sedikit banyak pemikiran intoleransi. Akhirnya permasahalan sopan santun, toleransi dan hal yang berkaitan dengan hal tersebut menjadi sebuah topic tanpa substansi.

Pemilu Memilukan

Lagi-lagi akal sehat masyarakat Indonesia kembali dipertanyakan. Tahun 2019 merupakan tahun politik. Arus yang kuat dari dua kubu menjadi sebuah magnet yang tarik menarik dalam mengambil simpati masyarakat. Mulai dari image agama hingga janji dan kinerja menjadi sebuah daya tarik pasangan calon. Hal ini sangat lumrah terjadi. Namun yang menjadi tidak lumrah adalah sensitifitas masyarakat menjadi tidak terbendung hingga akal sehat kembali digadaikan.

Indonesia kembali jauh dari kata perdamaian. Setiap hal yang berhubungan dengan politik memecah segala bentuk pertemanan, persahabatan dan kekeluargaan. Bahasa verbal yang brutal bukan lagi sebuah hal yang tabu untuk dikonsumsi masyarakat saat menelisik dunia maya yang sedang menjadi panggung politik sesungguhnya. Perang ini tentunya mendidik bangsa Indonesia menjadi bangsa yang tidak dewasa dan kehilangan akal sehatnya. Sopan santun dan tutur bahasa luhur hendaknya dimuseumkan di buku bacaan anak sekolah dasar.

Jangankan berbicara tentang toleransi demi kedaulatan bangsa, toleransi dalam persahabatanpun musnah akibat perbedaan pandangan politik. Perbedaan pandangan agama, suku dan politik masih memicu permasalah moral bangsa. Sampai kapan bangsa kita terus dirongrong oleh pemikiran yang begitu sempit?

Jika kita tarik ke belakang, berapa peperangan antar suku yang pernah terjadi pada bangsa kita? Konflik poso dan sampit hanyalah satu dari ribuan konflik yang ada. Berapa banyak bom yang meledak akibat perbedaan agama? Bom di Surabaya beberapa bulan yang lalu hanyalah satu dari ribuan bom yang menghancurkan masa depan bangsa. Lantas, kali ini berapa banyak persahabatan hancur karena perbedaan pandangan politik?

Bagaimana menyelamatkan Indonesia?

Tidak ada yang mampu menyelamatkan Indonesia. Jawabannya hanyalah kembali pada tiap individu masing-masing. Agar tidak mudah terprovokasi, butuh pendewasaan diri yang hanya dapat dilakukan secara internal individu. Menyelamatkan Indonesia dari kebodohan, radikalisasi dan hilangnya kedaulatan haruslah dimulai dengan merubah mindset masyarakat terlebih dahulu. Sebab, sebuah perbuatan merupakan refleksi dari sebuah pemikiran. Oleh karena itu, kita harus berbenah dalam hal pemikiran.

Revolusi mental tidak hanya dibutuhkan untuk pemerintah dalam membangun birokrasi yang terpercaya. Namun, implementasi revolusi mental sangat dibutuhkan Indonesia detik ini. Namun, hal ini hanya akan menjadi wacana ketika masyarakat hanya sibuk terombang ambing oleh hoaks dan terprovokasi oleh hal- hal yang tidak bersifat substansial.
 
Revolusi mental memang merupakan sebuah produk yang diinisiasi oleh presiden RI Joko Widodo. Namun bukan berarti tidak boleh dikonsumsi oleh publik yang bahkan memihak oposisi. Revolusi mental merupakan sebuah pandangan hidup yang harus disadari warga Indonesia bahwa inilah yang sedang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Gagal tidaknya sebuah revolusi tidak dating dari satu pihak tertentu. Revolusi adalah gubahan sepenuhnya, gerakan yang menyeluruh. Dimulai dari diri sendiri, keluarga dan pendidikan. Kita tidak mampu mengubah dunia tanpa mengubah diri kita.

Tak hanya membumikan Revolusi Mental, tetapi juga memegang teguh agama merupakan cara untuk menyelamatkan Indonesia dari generasi micin  yang emosional dan mudah terpengaruh. Tentu saja, agama yang dipegang bukanlah agama radikal yang hanya merusak NKRI.


Penulis adalah alumnus Young South East Asian Leader Initiative dan Pendidikan Bahasa Inggris dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Ahad 10 Februari 2019 16:30 WIB
Pemetaan Gerakan Feminisme Global (III)
Pemetaan Gerakan Feminisme Global (III)
Oleh Muhammad Syamsudin

Era pasca-Rasulullah SAW dan al-Khulafâ al-Râsyidîn, perlakuan dan penghormatan terhadap nilai-nilai perempuan agak sedikit mengalami penurunan, seiring munculnya banyak aliran dalam Islam. Ruang gerak perempuan menjadi sempit, utamanya dalam kehidupan seksualnya, psikologi dan emosionalnya. Kondisi ini terus bertahan sampai kisaran abad k-18 M. Baru kemudian di akhir abad ke-18, kaum perempuan mulai bisa menerima pendidikan baca-tulis dalam konteks lembaga pendidikan. Di era ini, lembaga pendidikan yang menampung mereka adalah kuttâb, yaitu semacam lembaga pendidikan yang diselenggarakan di masjid dan biasanya hanya diisi oleh anak laki-laki saja untuk belajar membaca dan menulis Al-Qur’an. 

Awal abad ke-19, terjadi perubahan sosial yang cukup fundamental di kawasan Timur Tengah. Munculnya konsep negara-bangsa (nation state), eksploitasi kekayaan alam oleh Barat, serta penguasaan pemerintahan kolonial terhadap kawasan tersebut, baik secara formal maupun informal, telah mempengaruhi orientasi perubahan pada pola pikir di bidang ekonomi dan politik. Bidang ekonomi memiliki pengaruh perubahan yang sangat besar terhadap peran laki dan perempuan. Dampak dari pembahasan bidang ekonomi tersebut, maka wacana poligami saat itu mulai digugat, khususnya di kawasan Timur Tengah. 

Di Mesir, muncul tokoh perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Perancis, misalnya Rifa’ah al-Tahthawi, ia termasuk salah satu dari penggagas ide mewacanakan kembali poligami dilihat dari sudut ekonomi. Tahun 1872, ia menuliskan sebuah kitab yang diberinya judul al-Mursyîd al-Amîn li al-Banât wa al-Banîn. Di dalam kitab ini ia menjelaskan bahwa memperbaiki keadaan perempuan merupakan sebuah hal yang bersifat fundamental. Perempuan ibarat ciptaan Allah yang paling indah, teman bagi laki-laki yang juga berperan membantunya dalam mengurus pemerintahan dan pemeliharaan anak-anaknya. Ia juga menyampaikan dalam kitab itu sebagai berikut:

وجعل لمن قيضه لمغانات المهن الدنيوية والحرف المعاشية كالزراعة والبناء قلوبا قوية وأمزجة غليظة لأن أكثر عمله ببدنه لابعقله وكما أن المحال أن تصلح حاسة السمع للرؤية وحاسة البصر للسمع فمن المحال أيضا أن يكون من خلق للمهنة يصلح للحكمة ومع ذلك فقد جعل الله جل جلاله كل جنس من الفريقين نوعين رفيعا ووضيعا فالرفيع من يتحرى الحذق في صناعته ويقبل على عمله طالبا لمرضات ربه بقدر وسعه وطاقته ويؤدي الأمانة فيما خلق له بقدر جهده واستطاعته قال ابن عطاء الله مشيرا إلى هذا المعنى: من علامة إقامة الحق لك في الشيء إدامته إياك فيه مع حصول النتائج انتهى

Artinya: “Dan telah dijadikan untuk orang yang terbelenggu kepada keindahan-keindahan duniawi, kesibukan-kesibukan bidang pekerjaan seperti bercocok tanam dan membangun dengan hati, sebuah hati yang keras, akal yang terpenjara, beratnya beban hidup, akibat dari seluruh amalnya berorientasi pada fisik dan bukan pada akal. Sebagaimana halnya, muhal mempertajam pendengaran tapi dengan alat penglihatan, atau sebaliknya, mempertajam penglihatan namun dengan alat pendengaran, maka muhal juga jika diciptakan ujian namun dengan hikmah. Oleh karena itulah, maka Allah جل جلاله menjadikan tiap-tiap jenis dari dua hal yang berbeda sebagai keluhuran dan kesederhanaan. Termasuk contoh dari sifat luhur adalah makluk diciptakan untuk mencapai kesuksesan dalam bidang produksi, sukses dalam beramal, semata karena mencari ridla Tuhannya menurut kadar kemampuan yang dimilikinya, sama-sama berupaya menunaikan amanat yang diembannya dengan sungguh-sungguh dan segenap kemampuan. Syeikh Ibnu Athâ al-Lâh memberi isyarah terhadap hal ini sebagaimana qaulnya: “Termasuk bagian dari pertanda tegaknya hak (kebenaran) bagimu adalah dalam suatu hal, adalah Ia meneguhkanmu didalam hal tersebut, sampai terbitnya hasil.” [Rifâah al-Tahtawi, al-Mursyîd al-Amîn li al-Banât wa al-Banîn, Kairo: Dâr al-Kitâb al-Mishr, 2012 M: 16]

Artinya bahwa wanita menurut konsep Rifâ’ah al-Tahtawi di sini adalah ia juga makhluk yang punya orientasi mencapai keluhuran, kesederhanaan, semata karena mengabdi kepada Allah SWT. Pendidikan baginya akan menambah kualitasnya sebagai hamba Allah SWT yang beradab dan kompetn dalam pengetahuan serta layak berbicara dan mengemukakan pendapat yang dimilikinya. Perempuan diciptakan oleh Allah SWT tidak hanya dijadikan sebagai perhiasan rumah dan sarana menghasilkan keturunan saja. Ia diciptakan untuk mendampingi laki-laki dalam membangun masyarakat dengan tanpa harus keluar dari hukum-hukum syariat yang ditetapkan. 

Di dalam kitab tersebut, Rifâ’ah juga menyampaikan sehingga memperjelas sosoknya dalam feminisme yang dibangunnya, yaitu penentangannya terhadap konsep emansipasi perempuan di Barat. Meski ia sendiri adalah seorang alumni Barat. Dalam teks di atas, malah dirinya condong pada teori kesufian yang disampaikan oleh Syeikh Ibn Athâ-i al-Lâh al-Iskandâry. Emansipasi perempuan dalam Islam menurutnya harus tetap dalam bingkai ajaran ketundukan terhadap nash. Hanya saja, ia seolah menyarankan agar diulangnya interpretasi nash yang cenderung melemahkan posisi kaum hawa yang dipandangnya sebagai menyalahi konsep ia diciptakan oleh Allah SWT. Sebagai penghargaan atas kiprah dan pemikirannya, banyak lembaga pendidikan yang menampung perempuan di Mesir, termasuk Al-Azhâr University.

Sebenarnya masih ada tokoh lain, yang menyerukan hal yang hampir mirip dengan pemikiran feminisme dalam Islam. Misalnya adalah Qâsim Amin lewat karyanya yang fenomenal, yaitu tahrîr al-mar-ah. Untuk tokoh terakhir ini banyak mempersoalkan jilbab bagi perempuan, kebutuhan membatasi hak suami dalam thalaq dan kritiknya terhadap poligami. Kesimpulan yang diambilnya bahwa perempuan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari doktrin agama. 

Tahun 1911, muncul tokoh baru Hafni Nashif. Sebuah statemen yang masyhur darinya dan terkenal saat itu bahkan sampai ke Riyadl, adalah: “Ilmu dan agama adalah untuk dua jenis manusia dan bukan untuk salah satu dari keduanya.” Sebenarnya pernyataannya ini juga tidak jauh beda dengan pemikirannya Rifâ’ah Amîn, bahwasanya perempuan adalah sama-sama makhluk Allah SWT. Ia tidak hanya ditugaskan pada seputar urusan dapur-kasur-sumur saja. Ia juga berhak mengenyam pendidikan dan berhak memperdalam persoalan agama. 

Sepeninggal Mâlika Hafni Nashîf, muncul Huda Sya’rawi. Ia memotivasi perempuan-perempuan mesir agar ikut serta dalam gerakan-gerakan nasional dengan segala kemampuannya di berbagai bidang yang ia kuasai. Berikutnya Munîrah Tsâbit Musa yan memusatkan perhatiannya pada persamaan hak antara perempuan dan laki-laki untuk duduk dalam bidang politik. Perempuan menurutnya juga punya hak vote (memilih) atau dipilih agar bisa duduk di parlemen. Munîrah Tsâbit Musa ini memiliki sebuah buku karya, yaitu al-Huqûq al-Siyâsiyah li al-Mar-ah dan pernah ia kirimkan secara langsung ke parlemen Mesir, yaitu kurang lebih tahun 1924. 

Paruh abad ke-20 kemudian muncul banyak tokoh perempuan lain di Mesir yang terknal hingga sekarang, dan sepertinya juga diadopsi oleh banyak aktifis perempuan muslim saat ini. Di antara tokoh yang terkenal adalah Nawal al-Sa’dawi, Inji Aflatun, keduanya dari Mesir. Fatimah Mernissi dari Maroko. Riffat Hassan dari Pakistan, Assia Djebar dari Al-Jazair, Furugh Farrukhzad dari Iran, Huda Na’mani, Ghadah Samman dan Hanan al-Syaikh dari Lebanon, Fauziah Abul Kholid dari Saudi Arabia, Amina Wadud Muhsin dari Malaysia, Wardah Hafizh, Nurul Agustina dan Siti Ruhaini Zuhayatin dari Indonesia dan tidak ketinggalan seorang feminis Muslim laki-laki dari India yaitu Asghar Ali Engineer. 

Di antara tokoh-tokoh ini yang paling mempersoalkan historioritas ajaran Islam adalah Asghar Ali Engineer, Riffat Hassan, dan Amina Wadud. Maksud dari historioritas ini adalah bahwa hendaknya Al-Qur’an tidak layak untuk ditafsirkan dari sisi asbab al-nuzûl. Jika ditilik dari asbab al-nuzul, maka berikutnya yang terjadi adalah memandang inferior kaum perempuan dibanding kaum laki-laki. Laki-laki dan perempuan menurut mereka adalah setara dalam pandang Allah SWT. Oleh karena dasar pemikiran inilah, maka tidak heran bila kemudian muncul teori Imam sholat perempuan dari Amina Wadud. Bahkan Riffat Hassan mengajukan wacana agar dilakukan bedah pemikiran ulang produk-produk fikih dan hukum Islam sejak masa salaf. 

Berdasarkan uraian ini kita dapat menyimpulkan bahwa pemikiran tentang posisi dan kedudukan kaum perempuan dalam Islam, dari zaman ke zaman, telah mengalami pergeseran. Masing-masing dari mereka memiliki basis pemikiran sendiri-sendiri. Berdasar keberbedaan basis inilah, kita selayaknya bersikap dalam memilah dan memilih mana yang patut dijadikan pedoman dan mana yang harus ditinggalkan. Namun tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengadili satu per satu dari tokoh-tokoh tersebut. Sidang pembacalah yang harus melakukan seleksi wacana pemikiran mereka. Wallahu a’lam bish shawab


Penulis adalah Pimpinan Forum Kajian Fikih Kewanitaan, PP Hasan Jufri Putri, P. Bawean

Ahad 10 Februari 2019 9:0 WIB
Optimisme Seabad NU
Optimisme Seabad NU
Peringatan Harlah ke-93 NU di JCC.
Oleh: HM Syarbani Haira

Peringatan Hari Lahir NU—sering disingkat dengan Harlah NU dan tak ada penggunaan kamus milad (yang ada maulid atau maulud) dalam tradisi NU—tahun 2019 ini sangat meriah. Diselenggarakan di Jakarta Convention Center (JCC), dihadiri PWNU dan PCNU se-Indonesia. Hadir pula sejumlah undangan pejabat negara, duta besar, dan politisi lintas partai.

Sebelumnya, Muslimat NU menyelenggarakan kegiatan yang mirip di Gelora Bung Karno (GBK). Rombongan ibu-ibu berdatangan dari mana-mana di seluruh Indonesia, termasuk dari Kalimantan Selatan. Kaum ibu-ibu ini lebih hebat, karena datang dengan biaya mandiri. Barakallah buat mereka semuanya.

Jika kedua event tersebut dicermati lebih dalam, apa sesungguhnya yang akan terjadi tahun 2026 yang akan datang? Karena tahun itu, NU akan memperingati hari lahirnya dengan usia satu abad, dilihat dari tahun Masehi. Ya, kita tinggal menunggu waktu momen 'Satu Abad NU' tahun 2026 yang akan datang.

Ada banyak prediksi tentang Satu Abad NU tersebut. Mereka yang terbiasa berpikir optimistik, meyakini satu abad NU, NU akan memasuki puncak kejayaannya. Tetapi sebaliknya, mereka yang terbiasa berpikir pesimistik, menilai NU akan jebol oleh arus globalisasi dan menurunnya semangat ber-NU. Terlebih oleh merebaknya gerakan kaum transnasional dan paham-paham keagamaan lain yang tak sepaham dengan NU.

Dua model berpikir itu menjadi terasa jika kita amati arus bawah dan elitnya warga NU hari ini. Fenomena Pilpres 2019 ini boleh jadi menjadi logika rasional tentang kelompok yang pesimistik ini. 

Lihat saja anak-anak santri kelompok tertentu hari ini sudah ada yang berani melecehkan ulama NU, hanya karena berbeda pilihan politiknya. Namun demikian, saya pribadi termasuk orang yang tetap optimistik. Dalam banyak kesempatan saya selalu menyatakan optimisme NU ini. Saya meyakini, Satu Abad NU tahun 2026 mendatang sangat memungkinkan mencapai puncak kejayaannya. Saat NU berusia satu abad tersebut, insyaallah kejayaan NU akan semakin menjadi kenyataan.

Menurut hemat saya, di era tersebut NU selain tetap fokus di bidang dakwah, syiar keagamaan Islam Ahlussunnah, sesuai misi awalnya berdiri, juga akan masuk ke wilayah lainnya seperti bidang ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan dan teknologi, dan sebagainya.

Pada era tersebut ulama-ulama NU yang menguasai kitab kuning tentu akan semakin banyak, dan karenanya mereka akan menjadi rujukan bagi masyarakat luas di bidang agama Islam Ahlussunnah. Kenapa bisa demikian? Karena pesantren-pesantren NU semakin berkembang pesat dan mengikuti dinamika zaman.

Sedangkan kelompok lainnya hanya akan mengandalkan ilmu-ilmu sekuler, yang jika harus membaca Al-Qur'an cuma bisa menggunakan tafsir dan terjemahnya. Demikian juga jika harus membaca hadits cuma bangga dengan menyebut nomornya, yang tak lupa menyebut pentashihnya, ulama kebanggaan mereka seperti al-Bani dan lainnya. 

Pada saat Satu Abad NU tahun 2026 itu para ilmuan NU banyak bergelar Profesor Doktor, pertumbuhannya juga akan semakin membludak. Anak-anak muda NU yang kuliah di sejumlah perguruan tinggi terkemuka dalam dan luar negeri akan terus meningkat. Mereka bisa saja mendapatkan fellowship seperti Program LPDP dalam dan luar negeri, Program Budi, dan lain sebagainya.

Program 5.000 doktor yang dicanangkan oleh Kementerian Agama dalam lima tahun terakhir tentu juga akan lebih menguntungkan warga NU. Kerja sama yang dibangun oleh LPTNU dengan pemerintah Jepang, Korea, Tiongkok, Taiwan dan yang lainnya sangat luar biasa manfaatnya bagi NU.

Berdirinya sejumlah PTNU di seluruh Indonesia pun, serta merta juga akan menghasilkan generasi terdidik yang berkomitmen untuk NU. Fenomena ini pernah diamati dengan baik oleh mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Din Syamsuddin saat hadir dalam peresmian Gedung UMB dan kemudian ceramah di Masjid Al Jihad tahun 2018 lalu.

Jika memang demikian, dan jika nanti berhasil, itulah anomalinya NU. Walau pernah teraniaya di zaman Orde Baru di bawah rezim Soeharto, Satu Abad NU sungguh luar biasa, dan mudah-mudahan menjadi kenyataan. Insyaallah...

Hari ini saja, seperti bisa kita cermati baik-baik, generasi terdidik NU sudah ada yang jadi menteri, Dubes, rektor, gubernur, bupati, wali kota, kepala dinas, Kakanwil, dan sebagainya. Generasi penerus NU juga bisa duduk di eselon I dan II, sesuatu 'hil yang mustahal 'di era Orde Baru tempoe doeloe bisa terjadi.

Sejalan dengan itu, kita songsong Satu Abad NU 2026 mendatang dengan semangat optimisme. Semua elemen NU bisa bergerak, dan Universitas NU pun semakin berkembang. 

Kita juga berharap semoga warga NU diberikan kekuatan dan hidayah oleh Allah Swt, bisa mengabdi buat agama, bangsa dan negara ini secara tulus dan istiqomah. 

Penulis adalah Ketua PWNU Kalsel 2007-2017 dan Badan Pengelola UNU Kalsel.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG