IMG-LOGO
Trending Now:
Daerah

Siap dan Semangat, Kunci Generasi Milenial Berwirausaha

Rabu 13 Februari 2019 23:0 WIB
Bagikan:
Siap dan Semangat, Kunci Generasi Milenial Berwirausaha
Surabaya, NU Online 
Dalam mengembangkan usaha, ada sejumlah persyaratan yang harus dimiliki agar sukses. Apalagi generasi milenial, hendaknya juga adaptasi dengan keadaan dan tantangan yang ada.

Hal tersebut mengemuka pada diskusi mingguan, yang diselenggarakan Pimpinan Ranting (PR) Ansor Wonokosumo, Semampir, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (12/2).

Kegiatan rutin kali ini diisi dengan kajian bertemakan Kreatif dan Inovatif dalam Berwirausaha dengan menghadirkan Cholilur Rahman.

“Sebagai generasi milenial, kita harus mendesain usaha dengan kreatif. Sebab, dengan berubahnya zaman, pola usaha jauh berbeda akan berubah,” katanya di hadapan peserta.

Menurutnya, bila hendak berwirausaha umumnya harus memiliki lahan. “Tapi, di era mileneal yang sudah terkenal akan kemajuan digitalnya saat ini, dalam berwirausaha bisa dilakukan secara online, lapaknya yakni berada di dunia maya,” urainya.

Oleh sebab itu, dengan semakin mudahnya pola berwirausaha tersebut, anak muda juga harus memanfaatkan kelebihan tersebut. “Sehingga usaha kita menjadi semakin di depan, dan juga dikenal di kalangan umum," jelasnya.

Cholilur menambahkan, dalam berwirausaha harus memilik modal kesiapan dan semangat. “Sebab jika hanya siap, ketika sudah dalam pertengahan pasti ada rasa jenuh. Karenanya harus juga diimbangi dengan semangat,” katanya. 

Semangat, dalam pandangannya memiliki banyak manfaat. “Meskipun di pertengahan jalan mengalami kejenuhan, tidak akan mempengaruhi lama karena sudah memiliki semangat,” pungkasnya. (Hisam Malik/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Rabu 13 Februari 2019 23:30 WIB
Indonesia Bukan Negara ‘Darul Harb’
Indonesia Bukan Negara ‘Darul Harb’
Jakarta, NU Online
Sebagian masyarakat Indonesia sampai hari ini masih beranggapan bahwa Indonesia negara yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Bahkan menyebutnya sebagai darul harb, negara musuh. Muhammad Sofi Mubarok, penulis buku Kontroversi Dalil-dalil Khilafah, menjelaskan bahwa ada tiga syarat negara disebut sebagai darul harb sebagaimana yang ia kutip Abdul Qadir Audah.

“Negara tersebut tidak termasuk ke dalam wilayah kekuasaan Islam sehingga kekuasaan dipegang orang-orang Non-Muslim, tidak menggunakan hukum Islam sebagai konstitusi, serta orang-orang Islam tidak bisa melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Sofi kepada NU Online pada Selasa (12/2).

Wakil Sekretaris Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) itu menjelaskan bahwa darul islam atau darul harb dalam konteks sekarang sudah tidak ada. Pasalnya, dikotomi darul Islam dan darul harb seperti yang ditemukan dalam kitab-kitab fikih dibahas lantaran di masa lalu, wilayah kekuasaan terbagi ke dalam wilayah Islam yang dikenal dengan kekhilafahan dan wilayah Non-Islam. Sementara, lanjutnya, dalam konsep modern yang terjadi hari ini, disparitas keduanya sudah tidak ada bentuknya pasca munculnya gagasan negara kebangsaan (nation-state).

Secara politik, lanjutnya, gagasan negara kebangsaan diartikan sebagai kesetaraan semua golongan dalam mendapatkan hak-hak politik tanpa membedakan suku, agama, dan golongan. “Mestinya ada istilah baru yang lebih tepat untuk mendefinisikan negara dalam konteks sekarang ini,” terang pria yang pernah mondok di Pesantren Kempek, Cirebon itu.

Lebih lanjut, pria yang pernah mondok di Pesantren Kempek ini juga menjelaskan bahwa umat Islam di Indonesia bebas melaksanakan ajaran agama. Ia menyebut banyak ahli yang duduk di stakeholder atau wilayah legislator misalnya, sudah turut berkontribusi melahirkan kebijakan dan aturan yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, meskipun namanya tidak Islami atau kearab-araban.

Sofi mencontohkan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan pembubaran BP Migas. Partai-partai yang memiliki platform Islam juga tidak dilarang atau dibubarkan.

“Jadi, di mana letak keabsahan Indonesia dikatakan sebagai darul harb kalau begitu?” katanya mempertanyakan.

Sofi juga menegaskan bahwa konsekuensi darul harbi dapat memerangi Non-Muslim dan pemerintah di satu sisi. Hal itu, menurutnya, tidak bisa dibenarkan mengingat banyak orang Islam juga di dalam pemerintahan sendiri. Bahkan hal tersebut bisa disebut sebagai bughat, pemberontakan. 

“Apa iya pemerintahan mau kita bubarkan dan perangi, padahal banyak diisi orang-orang Islam? Bughat itu namanya,” ucap kandidat doktor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Sebagai informasi, pembahasan pandangan yang menetapkan Indonesia sebagai darul harb ini akan masuk dalam bahtsul masail maudluiyah pada Musyawarah Nasional (Munas) 2019 Nahdlatul Ulama yang akan dihelat pada tanggal 27 Februari hingga 1 Maret mendatang di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Banjar, Jawa Barat. (Syakir NF/Abdullah Alawi)

Rabu 13 Februari 2019 22:30 WIB
PMII IAIN Pontianak Ajak Pelajar Tempuh Pendidikan Tinggi
PMII IAIN Pontianak Ajak Pelajar Tempuh Pendidikan Tinggi
PMII Komisariat IAIN Pontianak menggelar PMII Masuk Kampung.
Pontianak, NU Online
Ratusan siswa menerima motivasi dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau PMII Komisariat Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pontianak, Kalimantan Barat. 

Para siswa adalah dari Madrasah Tsanawiyah dan Sekolah Menengah Kejuruan Lembaga Pendidikan Islam Nurul Ulum di Desa Sungai Enau, Kuala Mandor B, Kubu Raya. Jajaran guru dan yayasan pesantren setempat juga turut andil pada kegiatan dengan tema PMII Masuk Kampung ini, Rabu (13/2).

Tiara Sari selaku penyelenggara kegiatan mengajak siswa-siswi tidak berhenti menuntut ilmu dan tidak berhenti hanya di jenjang sekolah menengah saja. Melainkan juga termotivasi dan memotivasi generasi selanjutnya untuk mengenyam pendidikan ke perguruan tinggi. 

“Sebab seperti yang kita ketahui hadits tentang mencari ilmu walau sampai ke negeri Cina,” kata Ketua Komisariat PMII IAIN Pontianak tersebut. 

Menurutnya, faktor utama pendukung pendidikan adalah lingkungan yang baik. “Faktor kedua yaitu keturunan. Sebab, orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya,” jelas dia.

Kiai Abdul Kholis menjelaskan faktor selanjutnya yakni sandaran vertikal. “Yaitu sebagai penguat dari usaha mencari ilmu juga diimbangi dengan doa kepada Sang Pencipta,” kata Pimpinan Pesantren Nurul Ulum saat sambutan.

Sedangkan Arif Sukino selaku narasumber menyampaikan materi terkait model pendidikan agama Islam generasi milenial menuju insan humanis-religius. 

Dalam paparannya, cara pintar generasi milenial adalah dengan memanfaatkan tekhnologi dalam menunjang pendidikan sebagai sarana informasi tercepat dan mudah. 

“Peran lembaga pendidikan sangat besar untuk menggiring peserta didiknya menyeimbangi pendidikan agama dan pendidikan umum kepada generasi milenial,” ungkapnya. Sebab dalam lingkup kehidupan generasi terbilang konsumtif dalam segala bidang baik itu dalam penggunaan teknologi yang rawan dengan informasi radikal, lanjutnya. 

Pendidikan agama menjadi hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan sebagai pedoman generasi milenial dalam bersikap menghadapi era maju untuk kedekatan batin kepada Allah. “Peran manusia sebagai khalifah di muka bumi diberdayakan dengan penguatan ilmu pendidikan agama,” urainya.

Acara dibuka menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambutan disampaikan Ketua Komisariat PMII IAIN Pontianak, dan pendiri Pesantren Nurul Ulum. 

Kegiatan dilanjutkan acara utama yaitu seminar pendidikan yang disampaikan senior PMII sekaligus dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), Arif Sukino. (Linawati/Ibnu Nawawi)




Rabu 13 Februari 2019 21:0 WIB
IPNU-IPPNU Komisariat Pesantren Benteng Radikalisme
IPNU-IPPNU Komisariat Pesantren Benteng Radikalisme
Pembentukan komisariat pesantren di Babat Lamongan Jatim
Lamongan, NU Online
Radikalisme dan ekstremisme hingga saat ini masih menjadi masalah serius di Indonesia. Bahkan hal itu sudah masuk ke dunia pelajar, tunas muda bangsa. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) punya peran besar untuk mengatasi persoalan tersebut.

Hal itulah yang diupayakan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU dan PAC IPPNU Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur dengan mendirikan banyak komisariat di pesantren-pesantren sebagai bentuk pembentengan terhadap persoalan itu sekaligus penguatan ke-NU-an.

Melihat hal itu, Ketua Pengurus Cabang Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) Babat Gus Falah berharap agar pimpinan komisariat pondok pesantren tersebut menjadi tonggak baru bagi berkembangnya IPNU-IPPNU di ranah pesantren.

"Saya bersyukur di Kecamatan Babat ini sudah ada tiga pimpinan komisariat pondok pesantren dari beberapa pesantren yang ada, dan semoga pimpinan komisariat pondok pesantren ini bisa merambah ke pesantren lainnya," ucapnya saat dikunjungi pengurus PAC IPNU-IPPNU Babat pada Senin (11/2).

Gus Falah juga berharap IPNU dan IPPNU mampu menjadi rumah bagi seorang pelajar dan santri. Sebab, menurutnya, mencari ilmu tidak hanya di pondok pesantren atau sekolah saja, tetapi bisa banyak pula didapatkan dari berorganisasi.

Ketua IPNU Babat Aan Andri Ardiyansyah kepada NU Online, Selasa (12/2) mengungkapkan bahwa tugas IPNU-IPPNU saat ini cukup berat mengingat tantangan zaman yang dihadapi saat ini seperti yang diungkapkan di atas.

Menurutnya, anggota IPNU-IPPNU dulu fokus penataan organisasi, melestarikan tradisi-tradisi NU dan pembekalan, tapi sekarang harus lebih gesit dan peka dalam membaca hadirnya aliran-aliran yang sesat, sekaligus mencari cara untuk menghadangnya.

"Ini tugas mulia yang wajib dilakukan oleh pengurus IPNU-IPPNU di manapun berada. Arah perjuangan Pimpinan Komisariat Pondok Pesantren harus ditata sejak awal agar tidak terjadi miskomunikasi atau serangan-serangan dari komunitas yang berfaham ideologi radikal," terangnya.

Aan juga menjelaskan bahwa pembentukan pimpinan komisariat di pesantren adalah upaya untuk mengarahkan para pelajar dan santri agar terhindar dari gerakan radikal serta untuk menjadi sarana belajar dan kaderisasi.

"Karena tidak bisa dipungkiri bahwa 20 tahun yang akan datang, kader IPNU-IPPNU yang akan memegang estafet perjuangan NU dan Pemerintahan," pungkasnya. (Syakir NF/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG