IMG-LOGO
Nasional

Kasatkornas: Banser Gunakan Tangan Untuk Kemanusiaan

Kamis 14 Februari 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Kasatkornas:  Banser Gunakan Tangan Untuk Kemanusiaan
Basada (Ilustrasi)
Jakarta, NU Online
Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) H Alfa Isnaeni menegaskan, tangan Banser sebagai kader inti GP Ansor wajib digunakan untuk kegiatan kemanusiaan.

Fenomena menggunakan tangan untuk swafoto saat ada musibah atau kecelakaaan di jalan yang  terjadi di sebagian masyarakat saat ini, pantang diikuti oleh Banser.

"Banser harus bisa bertindak cepat, membantu sesama jika ada musibah atau kecelakaan di jalan raya. Jangan mengambil gambar orang mengalami kecelakaan di jalan karena secara etika dan aturan berlaku itu tidak dibenarkan," tegas dia, di Jakarta, Kamis (14/2).

Jika terjadi hal semacam itu di jalan, lanjut Kasatkornas, Banser harus sigap, turun tangan untuk membantu sesama.

"Hal itu bisa terjadi jika kita mau belajar sehingga sanggup memberi pertolongan pertama pada kecelakaan. Termasuk jika ada musibah," kata dia lagi.

Selain Banser Siaga Bencana (Bagana) dan satuan khusus lain, Banser juga memiliki Banser Husada (Basada).

Basada adalah satuan khusus Banser yang dibentuk mulai pusat sampai kecamatan.

Tugasnya mengemban tugas bantuan kemanusiaan di bidang kedokteran, kesehatan, dan norma hidup sehat bagi masyarakat khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama, GP Ansor dan masyarakat.

Terkait Basada ini GP Ansor akan menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Khusus (Diklatsus) dan Training of Trainer (TOT) Nasional Basada Regional Sumatera pada Kamis-Ahad, 7-10 Maret 2019.

Kasatkornas menyeru seluruh Kasatkorwil di Sumatera pada khususnya untuk mendorong tumbuhnya profesionalitas kader dengan mengirim utusan.

"Banser di manapun berada sudah selayaknya menjunjung sikap profesionalitas sebagai wujud pembaharuan di tubuh organisasi demi menyikapi tugas yang kian kompleks di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang majemuk ini," kata Alfa.

Ia menegaskan, profesionalitas tumbuh dengan keberanian belajar.

"Jika ingin semakin baik, harus berubah dan berbenah. Yang tidak dan kurang mampu harus didorong untuk belajar. Profesionalitas tidak bisa ditunggu dan dilarang, tapi harus dijemput dengan kemauan dan pengorbanan. Satsusnas Basada memfasilitasi itu dengan menggelar Diklatsus dan TOT untuk disambut sahabat Banser di Sumatera," ujarnya.

Kegiatan dimaksud akan digelar di Gedung PCNU Kabupaten Pringsewu, Jalan Lintas Barat Gumukrejo Kecamatan Pagelaran, Pringsewu Lampung. Kontribusi peserta Rp 300 ribu.

Pendaftaran online: https://goo.gl/forms/SIvwRha6SJ2sp9M73. Informasi  Agung Rahadi Hidayat 085292997583 dan Feri Alfianto 085768785351. (Gatot Arifianto/Muhammad Faizin)
Bagikan:
Kamis 14 Februari 2019 18:14 WIB
14 Februari, Harlah KH M Hasyim Asy'ari
14 Februari, Harlah KH M Hasyim Asy'ari
Hadratusy Syekh M Hasyim Asy'ari
Tak banyak yang tahu jika 14 Februari yang sering diperingati sebagai Hari Valentine itu merupakan Hari Lahir (Harlah) Hadratusy Syekh, sang maha guru. Ya, Kiai Haji Muhammad Hasyim Asy’ari dilahirkan di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, 14 Februari 1871. Tanggal tersebut bertepatan dengan Selasa Kliwon, 24 Dzul Qo’dah 1287 H.
 
Galibnya, tiap 14 Februari, mayoritas muda-mudi di seantero dunia, khususnya negara-negara Barat, memperingati Valentine Day (Hari Kasih Sayang). Hari itu, para kekasih dan mereka yang sedang dilanda asmara menyatakan cintanya. Banyak kisah kasih sepasang manusia ditorehkan pada tanggal ini. Sayangnya, aksi-aksi tersebut juga mewabah hingga negeri ini. Padahal di tanggal itu kita memiliki sejarah penting.

Jika kita menelisik sejarah republik ini, 14 Februari merupakan hari bersejarah bagi rakyat Indonesia, khususnya kalangan kaum pesantren dan Nahdliyin (sebutan warga NU). Mengapa demikian? Jawabnya sederhana. Pasalnya, tercatat dalam sejarah, tokoh sentral pendiri NU sekaligus pendiri Pesantren Tebuireng Jombang, Hadratusy Syekh Hasyim Asy’ari lahir pada 14 Februari 1871 M. Dengan kata lain, 148 tahun silam lahir sang inspirator sejati di kalangan santri dan anak negeri. 

Baca juga:
KH Hasyim Asyari dan Embusan Napas Terakhirnya 
Kebesaran Jiwa dan Sikap Toleran KH Hasyim Asy’ari
Kakek Gus Dur ini wafat di daerah yang sama pada 21 Juli 1947 yang bertepatan dengan 3 Ramadhan 1366 H dalam usia 76 tahun. Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama, organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, bahkan di dunia, makam Besan KH Bisri Syansuri yang juga pendiri NU ini yang berada di kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang, diziarahi ribuan orang tiap harinya.
 
Tidak diragukan lagi, peran Mbah Hasyim penting sekali bagi perkembangan Islam di Nusantara. Ayahanda Menteri Agama fenomenal, KH A Wahid Hasyim, ini mendirikan Pesantren Tebuireng pada 1899 M. Hampir sebagian besar pesantren di Jawa dan Sumatera lahir dari rahim Pesantren Tebuireng. Para kiainya juga pernah menjadi santri Mbah Hasyim.

Selain itu, Hadratusy Syekh juga berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Beliau mengajak para santrinya untuk berjuang melawan penjajah. Menurut Mbah Hasyim, berjuang melawan penjajah hukumnya fardlu ‘ain, wajib bagi setiap kaum muslimin Indonesia.

Sebagaimana diriwayatkan dalam film nasional berjudul Sang Kiai, pada 22 Oktober 1945, Mbah Hasyim mengeluarkan fatwa jihad. Isinya, hukum membela negara dan melawan penjajah adalah fardlu ‘ain alias wajib bagi setiap mukallaf (orang dewasa) yang berada dalam radius 88 kilometer. Jadi, pahala perang melawan penjajah setara jihad fi sabilillah. Oleh karena itu, orang Islam yang gugur dalam peperangan itu dihukumi syahid.

Fatwa jihad ini kemudian dikenal dengan istilah Resolusi Jihad. Perjuangan Hadratusy Syekh dalam membela Tanah Air menginspirasi lahirnya film Sang Kiai, sebuah film perjuangan yang diproduksi Rapi Films pada 2013. Tak berlebihan kiranya jika pemerintah Indonesia menahbiskan Mbah Hasyim sebagai salah satu pahlawan nasional.

Wal hasil, sebagai kaum muslimin Indonesia khususnya warga Nahdliyin, tidak patut larut dalam perayaan hari valentine. Karena di samping tidak ada manfaatnya bagi kita, justru dikhawatirkan menggerus keimanan dan ketakwaan. Sebaliknya, alangkah baiknya kita merayakan 14 Februari sebagai Harlah Hadratusy Syekh dengan ragam cara yang lebih inovatif. (Musthofa Asrori)

*Tulisan diolah dari berbagai sumber

Kamis 14 Februari 2019 11:30 WIB
Soal Valentine, Gus Yusuf: Islam Punya Perayaan Sendiri
Soal Valentine, Gus Yusuf: Islam Punya Perayaan Sendiri
KH Yusuf Chudlori (Foto: Ist.)
Magelang, NU Online
Setiap tanggal 14 Februari, selalu saja muncul pembahasan mengenai perayaan Hari Valentine. Hal itu bisa diamati dengan munculnya tagar #ValentineBukanBudayaKita yang ramai dibicarakan di Twitter.

Menyikapi hal ini, KH Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) melalui video yang diunggah di akun Instagram pribadinya menyampaikan pendapatnya. Menurutnya, perayaan valentine yang ramai diperbincangkan ini adalah untuk memperingati hari meninggalnya pendeta Santo Valentino.

“Yang saya tahu dari beberapa referensi adalah memperingati meninggalnya pendeta Santo Valentino yang waktu itu dia membela hak sepasang kekasih yang ingin menikah. Karena dilarang oleh penguasa, dia dihukum mati,” jelas Pengasuh Pesantren API Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah ini.

“Maka, bagi teman-teman Katolik, Nasrani, saya rasa wajar memperingati pemuka agamanya. Silakan, kita menghargai yang merayakan Valentine,” imbuhnya.

Gus Yusuf juga mengajak generasi muda Islam untuk merayakan berbagai perayaan Islam yang sangat banyak ragamnya, seperti Maulid Nabi, haul, dan lain sebagainya.

“Tapi untuk generasi muda Islam, kita udah banyak kok. Peringatan Maulid Nabi, ada Isra Miraj. Kalau mau haul, haul Syaikh Abdul Qodir Al-Jailani,” bebernya.

Atas dasar itu, ia menyatakan bahwa umat Islam dirasa tidak perlu untuk ikut merayakan peringatan hari Valentine.

“Jadi saya rasa, tidak perlu bagi umat Islam untuk ikut merayakan valentine,” pungkasnya. (Hanan/Muhammad Faizin)
Rabu 13 Februari 2019 23:45 WIB
BUMDes di Indonesia Capai 42.000
BUMDes di Indonesia Capai 42.000
Ketua Forum Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Febby Datuak Bangso. Foto. Antara
Pariaman, NU Online
Ketua Forum Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Febby Datuak Bangso mengatakan badan usaha desa di Indonesia telah mencapai 42.000 unit yang bergerak di pelbagai bidang usaha.

"Dari jumlah tersebut telah banyak BUMDes yang pendapatannya naik signifikan," kata Febby saat sambutan pada rapat koordinasi BUMDes se-Kota Pariaman di Pariaman, Sumatera Barat (Sumbar) Rabu (13/2).

BUMDes tersebut yaitu di antaranya Desa Kutuh di Bali dan Desa Ponggok di Klaten, Jawa Tengah yang bergerak di bidang pariwisata, serta badan usaha desa lainnya yang bergerak di bidang pertanian.

Selain itu, lanjutnya pihaknya juga menilai salah satu BUMDes di Sawahlunto, Sumbar yang bergerak di bidang pengelolaan rempah-rempah juga sudah mulai menunjukkan perkembangan.

"Agar BUMDes di sini semakin berkembang, maka kami akan menjadikan sembilan BUMDes di Sumbar sebagai percontohan nasional," ujarnya.

Ia menyebutkan BUMDes yang akan dikembangkan menjadi percontohan nasional tersebut yaitu di antaranya BUMDes bersama di Pesisir Selatan yang bergerak di bidang parwisata.

Lalu BUMDes Kembayau di Sawahlunto yang bergerak di bidang pengelolaan rempah-rempah, BUMDes Pekandangan Emas di Padang Pariaman yang bergerak dalam berbagai usaha, serta BUMDes di Batu Sangkar yang mengurus pasar.

Pihaknya akan ikut campur untuk membantu mengembangkan BUMDes percontohan tersebut sehingga badan usaha tersebut lebih berkembang.

Sedangkan untuk Kota Pariaman, lanjutnya pihaknya menunggu desa dan pemerintah setempat untuk membuat BUMDes bersama agar pihaknya dapat ikut campur dalam hal membantu pengelolaan badan usaha tersebut.

Sementara itu, Wali Kota Pariaman, Genius Umar mengatakan pihaknya membuat surat keputusan pengembangan kawasan guna membangun BUMDes bersama.

"Kami berharap upaya ini disokong oleh Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi," ujar dia.

Ia menyampaikan pada 2018, sepuluh BUMDes di Pariaman mendapatkan bantuan dana senilai Rp50 juta per unit badan usaha.

"Mudah-mudahan tahun ini BUMDes bersama juga dibantu oleh pihak terkait," ujarnya.

Pihaknya menyebutkan hingga saat ini di kota itu telah terbentuk 32 unit BUMDes dari 50 desa yang mana dari jumlah tersebut 19 unit badan usaha desa aktif. (Red-Zunus) 
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG