IMG-LOGO
Humor

Internet Syariah

Jumat 15 Februari 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Internet Syariah
Ilustrasi humor
Di sebuah kampung di pedalaman Bogor hidup kiai panutan masyarakat bernama Kiai Tohirin. Ia istiqomah mengisi pengajian harian bakda subuh di masjid.

Dalam kesempatan, Kiai Tohirin menjelaskan bahwa agama Islam telah membawa kemajuan kehidupan yang luar biasa. Bahkan warga dunia merasakan kehadiran Islam yang banyak menghadirkan manfaat dan perdamaian.

Termasuk kemajuan itu, internet dirasakan Kiai Tohirin semakin bernuansa syariah. Atas keterangannya tersebut, seorang santri memberanikan diri untuk bertanya:

“Maaf yai, masa sih? Apa buktinya kalau internet makin bernuansa syariah?”

“Loh, kalau kamu cari sesuatu di sana, kamu pertama kali ngetik apa?” tanya balik sang kiai.

“Saya mula-mula ngetik www.....” jawab santri seketika.

“Nah itu, www....kan singkatan wa’alaikumussalam warohmatullahi wabarakatuh,” kata Kiai Tohirin. (Fathoni)
Tags:
Bagikan:
Kamis 7 Februari 2019 13:0 WIB
Anak dan Ibu saat Nonton Demo Khilafah
Anak dan Ibu saat Nonton Demo Khilafah
Beberapa tahun lalu, suatu hari anak perempuan yang saat ini sedang duduk di bangku SMA bersama ibunya sedang menonton televisi di hari libur.

Kebetulan acara yang sedang mereka tonton soal keriuhan demonstrasi kelompok Hizbut Tahrir Indonesia yang membuat si anak tertarik mengikuti.

“Bu, saya mau gabung dengan Ormas tadi yang demo, boleh gak?” ujar si anak.

“Masa kamu mau jadi orang yang membela kesalahan,” kata sang ibu.

“Kesalahan apa, mak?” tanya si anak.

“Ya segala kesalahan. Mereka kan berteriak-teriak membela kesalahan,” terang si ibu.

“Maksud ibu apa sih?”

“Lah, kamu kan lihat di tivi tadi. Mereka berteriak khilap ah...khilap ah. Khilap itu kan artinya kesalahan,” seloroh sang ibu. (Ahmad)
Kamis 31 Januari 2019 21:33 WIB
Koruptor dan Korupsi
Koruptor dan Korupsi
Ilustrasi humor
Perilaku korup tidak henti-hentinya dilakuan oleh pejabat maupun politisi. Hal itu ditunjukan dengan maraknya oknum yang terkena operasi tangkap tangan (OTT) oleh lembaga anti-rasuah, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Suatu ketika, Sekjen sebuah partai politik diwawancarai oleh sejumlah wartawan untuk memberikan keterangan perihal kadernya yang terjerat kasus korupsi.

Namun, si Sekjen tersebut dengan gagahnya berkata bahwa di dalam partainya tidak ada tempat untuk seorang koruptor.

“Tidak ada tempat bagi KORUPTOR di partai kami!” ucapnya berapi-api.

“Bukannya sedang ada yang diperiksa KPK oknum dari partai Anda?” tanya wartawan.

“Itu kan baru diperiksa,” elak si Sekjen.

“Lalu, yang sudah menjadi tersangka di KPK?” tanya wartawan lain.

“Itu kan baru tersangka, biarkan proses hukum berjalan,” elaknya lagi.

“Tapi kan ada juga yang jadi terdakwa dari partai Anda, pak?” tanya wartawan yang posisinya di belakang kamera sambil menyodorkan alat perekam.

“Sama saja, status mereka masih terdakwa, belum selesai,” ujar si Sekjen ngeles.

“Lalu, bagaimana anggota DPR dari partai Anda yang sudah divonis masuk penjara?” tanya wartawan di samping kanan Sekjen.

“Itu kan terpidana korupsi. Saya di awal tadi bilang, tidak ada tempat buat KORUPTOR, kan,” jawabnya pede. (Ahmad)
Rabu 30 Januari 2019 7:0 WIB
Musibah Bos Partai dan Doa Kiai
Musibah Bos Partai dan Doa Kiai
Ilustrasi humor (via istimewa)
Belakangan ini lembaga anti-rasuah atau anti-korupsi gencar melakukan penangkapan terhadap para politisi dan pejabat yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi.

Hal tersebut membuat salah satu bos partai di sebuah kota mendadak was-was bahkan kerap tidak bisa tidur karena diduga terlibat korupsi.

Hingga suatu malam, bos partai tersebut mengutus salah satu kadernya untuk sowan kepada seorang kiai pesantren di sebuah desa.

Sang kiai agak terheran malam sudah larut ada seorang tamu yang menghampirinya.

“Sampeyan dari mana, kok malam-malam ke pondok?” tanya sang kiai.

“Saya dari kota, Yai,” jawab utusan itu.

“Ada perlu apa jauh-jauh ke desa ini?”

“Minta didoakan Yai, untuk bos partai saya yang lagi kena musibah.”

“Musibah apa?” kiai tanya lagi.

“Diduga terlibat korupsi Yai,” jawab sang utusan bos partai.

“Loh, minta doa saja kok jauh banget. Apa di kota sampeyan sudah tidak ada sekelas kiai yang mau mendoakan si bos?”

“Bukan begitu Yai,” sergah si utusan.

“Lalu?” desak sang kiai.

“Habisnya, sulit cari kiai yang belum menerima sumbangan dari bos saya, jadi khawatir doanya kurang mempan,” seloroh si utusan. (Fathoni)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG