IMG-LOGO
Trending Now:
Pustaka

Semangat Juang dalam Kesatria Kuda Putih

Ahad 17 Februari 2019 5:0 WIB
Bagikan:
Semangat Juang dalam Kesatria Kuda Putih
Buku karya Ahmad Sufiatur Rahman ini merupakan buku sejarah yang diramu dan disajikan dengan menggunakan gaya bahasa sastra yang akrab disebut novel. Oleh karena karya sastra, saya ingin membaca kembali dengan menggunakan pendekatan struktural yang berdasar pada teori strukturalisme A.J. Greimes. 

Dalam suatu cerita terdapat beberapa peran dan pelaku yang menjadi kesatuan tak terpisahkan dalam membentuk makna. Satuan peran atau pelaku dalam sebuah novel oleh Greimes disebut sebagai aktan. 

Untuk melakukan analisis aktan, Greimes membagi enam fungsi aktan yang terdiri dari: sender, objek, penerima. Pembantu, subjek, penentang. Dalam novel kesatria kuda putih, terdiri dari beberapa aktan dan fungsinya.

Aktan 

 Pemuda (pengirim) -----> surat (objek) ------>  Kiai As’ad (penerima)


Yusuf (penolong) -----> pemuda (subjek) <------  Emak Yusuf (penghalang) 

Seorang pemuda berusia tiga puluh tahun sebagai pengirim dan sekaligus subjek yang bertugas mentransformasikan sebuah pesan yang tersimpan dalam surat sebagai objek kepada KHR. As’ad Syamsul arifin sebagai penerima atau sasaran utama dalam penyampaian pesan. Guna memperlancar dan mempercepat proses pengiriman pesan, pengirim memilih salah satu santri KHR. As’ad bernama Yusuf untuk menjadi penolong (helper) dalam menyampaikan Surat. 

Usaha Yusuf sebagai wasilah mengalami hambatan atau gangguan dari sikap emaknya yang berusaha mengaburkan dan melemahkan semangat perjuangan dengan melarangnya menjadi pejuang pembela negara.

“Emak tak berniat mengirimmu ke pesantren untuk menjadi tentara.”

Perkatan senada disampaikan oleh tetangganya.

“Hanya orang nekat dan bodoh yang mau ikut perang, Cong.” 

Pelbagai perkataan dan cemooh, tidak membuat Yusuf gelisah, ragu dan patah semangat, melainkan semakin mantap dan yakin bahwa dirinya berjihad di jalan Allah. 

“Doakan saja anakmu ini, Bu, agar berguna bagi agama dan bangsa.” 

Permohonan doa inilah yang semakin membakar semangat juang dan mengawali langkah Yusuf untuk segera menemui KHR. As’ad. Keinginan tersebut terwujud, bertemu dia sembari menyerahkan pipa besi yang berisi surat dengan berkata.

”Belanda di pasir putih.” 

Menerima berita tersebut, Kiai As’ad menegosiasikan beberapa ide untuk melahirkan sebuah strategi dan solusi. Berita tersebut didialogkan bersama Kiai Khudori sebagai pengurus pesantren, pelopor sebagai pejuang yang setia kepada Kiai As’ad, dan Yusuf sebagai pemuda yang haus akan perjuangan. 

Negosiasi tersebut melahirkan kesepakatan bahwa penjajah Belanda harus dilawan dengan kekuatan dan strategi laten yaitu “mege’ kalemmar seta’ lekkoa. Strategi yang dimaksud adalah massa yang banyak, senjata yang cukup, kekebalan dan perlindungan fisik melalui hizb dan asma. Strategi yang dimaksud adalah kecerdasan intelektual secara kontekstual. 

Berdasar pada aktan di atas, ada dua makna yang bisa diungkap dan diterjemahkan dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang. Pertama, makna muatan (actual meaning). Aktan tersebut berisi pesan bahwa seorang intelektual, (santri, pelajar) bukan hanya bertugas menggali pengetahuan untuk dirinya, bukan hanya pembelajaran yang hanya terpusat di lingkup lembaga (sekolah, pondok) melainkan mengabdi dan berjuang untuk bangsa dan negara, belajar membaca realitas kehidupan yang beraneka ragam melalui tindakan dan pengalaman. 

Kedua, makna niatan (intentional meaning). Pesan yang hendak dikata dalam aktan tersebut adalah setiap perjuangan akan menghadapi tantangan dan rintangan. Keberhasilan perjuangan membutuhkan keberanian, kesabaran, kecerdasan, pengorbanan dan melibatkan tuhan dalam berjuang. 

Beberapa pesan penyemangat perjuangan yang terdapat dalam novel, bukanlah pahatan patung patung yang tak bernyawa dan tak bergerak, melainkan sebagai nilai yang harus diperbaharui dan diterapkan sesuai dengan laju zaman bagaikan sebuah air yang mampu menyuburkan tanaman, menyegarkan badan, dan mampu mewujud ke dalam pelbagai jenis minuman. 

Bentuk perjuangan yang relevan dengan konteks zaman yang bercorak modern, berbasis teknologi global adalah melalui tulisan dan kekuatan ekonomi. Hal ini telah lama diprediksi oleh Bung Hatta bahwa “perjuangan masa depan pasca proklamasi akan semakin terjal dan rumit melalui pena dan pasar”. Perjuangan berbasis tulisan inilah yang juga menjadi cita cita Yusuf sebagai pejuang sejati. Merdeka.

Sampai kapan kau sibuk dengan kenikmatan diri. Padahal setiap langkahmu akan ditanya (Imam al Bushairy)


Peresensi: Achmad Nur, Ketua Lakpesdam NU Situbondo

Data Buku
Judul : KHR. As’ad Syamsul Arifin: Kesatria Kuda PUTIH
Penulis : Ahmad Sufiatur Rahman
Penerbit: Tinta Medina
Cetakan : I, 2015
Tebal: xxxviii, 210 hlm
ISBN: 978-602-72129-7-8 

Bagikan:
Ahad 17 Februari 2019 6:32 WIB
Kenangan Kiai Hasyim Muzadi Sebagai Pembelajaran Umat
Kenangan Kiai Hasyim Muzadi Sebagai Pembelajaran Umat
Kiai yang satu ini lahir di Desa Bangilan, Tuban, Jawa timur, 8 Agustus 1944, setahun sebelum Indonesia merdeka. Namanya Ahmad Hasyim Muzadi. Lebih populer dengan nama Hasyim Muzadi saja. Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya pedagang tembakau, sedangkan ibunya berjualan roti dan kue kering di kampungnya. Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini, sejak kecil, mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya. Ayah dan ibunya memang bercita-cita: kelak, semua anaknya, tumbuh menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat bagi umat. 

Hasyim disekolahkan di madrasah, tapi ia tidak belajar sungguh-sungguh karena pelajarannya terlalu mudah baginya. Maklum pelajaran agama makanan sehari-harinya. Ia pun meminta dipindahkan ke sekolah (SR) Bangilan. Semua siswa SR dinyatakan tidak ada yang lulus, kecuali Kiai Hasyim. Keluarganya kaget bercampur gembira. Sang ayah pun merancang masa depan Hasyim dengan lanjut sekolah di SMP 1 Tuban. 

Hasyim belajar hanya 1,5 tahun di SMP 1 Tuban. Ia lantas melanjutkannya ke Pesantren Gontor, mengikuti keputusan ayahnya. Di pesantren itu ia masuk pada umur 12 tahun. Ia  dikenal cerdas dan meremehkan pelajaran dan doyan tidur. Meski demikian, ia santri yang berprestasi dan selalu naik kelas. Bahkan juara di kelasnya. 

Selain menimba ilmu di Gontor, sempat mengenyam pendidikan pesantren Senori, di Tuban, dan pesantren Lasem, di jawa tengah. Kiai Hasyim berkelana ke Malang. Di Malang, selain kuliah, ia juga aktif di pergerakan Mahasiswa Islam indonesia (PMII) organisasi mahasiswa yang rata-rata berlatar belakang NU.

Saat menjadi mahasiswa, ia dikenal memiliki banyak penggemar, terutama dari kalangan aktivis perempuan. Namun yang bisa menaklukan hatinya hanya Mutammiah, gadis 21 tahun yang juga saudara sepupunya sendiri. Kemudian mereka menikah dengan proses yang sangat cepat. Di dalam berkeluarga ia selalu mengantar kemana pun istrinya pergi, termasuk ke pasar.

Menjadi Ketua Umum PBNU
Kiai Achmad Hasyim Muzadi, memimpin NU. Umumnya yang memimpin NU lahir dari keluarga kiai yang punya nama besar. Namun tidak begitu dengan aktivis NU Jawa Timur yang akrab disapa Kiai Hasyim “cak”. Banyak pihak kaget ketika Muktamar ke-30 NU Lirboyo, kediri, tahun 2000, memutuskan memilih beliau sebagai ketua Umum Pengurus Besar NU. Ia menggantikan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang memimpin NU selama tiga periode: 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999. 

Momentum bersejarah naiknya tokoh kampung menjadi pemipin tertingi NU. Namun setelah lima tahun berlalu. Gus Dur dan kiai Hasyim berada di posisi yang dihadapkan pada Muktamar ke-31 NU di Donohudan, Boyolali, Jawa tengah, tahun 2004. Pada Muktamar ke-32 NU di Makassar, kiai Hasyim resmi meninggalkan jabatan ketua Umum Pengurus Besar NU.

Jauh sebelum Muktamar NU digelar, keluarga besar Kiai Hasyim Muzadi menggelar rapat besar di pondok Pesantren Al-Hikam Depok jawa barat, yang dipimpin oleh Mbah Muchit. Purna tugas sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU, Kiai Hasyim berkonsentrasi pada pembangunan pesantren Al-Hikam, di Depok, Jawa Barat, adalah pesantren pengembangan dari pesantren pertama, yang juga nama Al-Hikma, yang dirintis di Malang, Jawa Timur.

Kiai Hasyim, menjadi sekjen di Internatinonal Conference for Islamic Scholar (ICIS), Organisasi para ulama sedunia diprakasainya pada tahun 2004, organisasi itu memiliki anggota yang tersebar di 67 negara. ICIS didirikan di Jakarta 24 Februari 2004 atas prakaraisanya kiai Hasyim bersama Hasan Wirajuda, Menteri Luar Negri Republik Indonesia kala itu. ICIS ditandatangani presiden Megawati Soekarno Putri. ICIS adalah organisasi swadaya masyarakat, non politik , non etnik, yang bekerja untuk membangun dialog dan kerja antar ulama dan cendekiawan muslim seluruh dunia menuju tatanan masyarakat yang damai, Entitas Islam sebagai Rahmatan lil’alamin mengakui eksistensi pluralitas, karena islam memadang pluralitas sebagai sunnatullah, yaitu pungsi pengujian Allah kepada manusia, faktor sosial, dan rekayasa sosial (social engineering) kemajuan umat maunusia.

Kiai Hasyim mendamaikan NU dan Muhamamdiyah, NU Dengan Muhammadiyah sempat memanas setelah persiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan pada tahun 2001. Tokoh Muhamadiyyah, Amien Rais, oleh orang NU dianggap sebai salah satu biang penggulingan Gus Dur. Saat itu, Amien Rais menjabat sebagai ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat ( MPR) dan ia pula yung memimpin Sidang Istimewa MPR. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum. Ketika itu Kiai Hasyim menjadi ketua PBNU, Melalui peroses yang panjang Kiai Hasyim bersama swadaya masyarakat partnership (Kemenitraan), NU dan Muhamadiyah pada tahun 2002, menadatangani nota kesepahaman untuk bersama memerangi korupsi di Indonesia. Kerja sama itu terjadi karena kegelisahan bersama bahwa korupsi dan pemberaatasannya di indonesia masih ruwet. Lilitannya tidak hanya di pemerintahan pusat tetapi juga menjalar ke daerah-daerah. NU dan Muhamaddiyah, 1,5 tahun sebelum pembentukan (KPK) dibentuk, sudah sudah membentuk gerakan moral korupsi,

CELAKET 10 IBARAT prasasi bagi sejarah hidup Kiai Hasyim. Celaket dahulu markas utama Kiai Hasyim dan kawan-kawan pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikota Malang. Celeket terletak dijalan Celaket Nomor 10, Kota Malang, Jawa Timur. Jalan itu sekarang berganti nama menjadi jalan Agung Suprapto. Celaket 10 adalah titik tolak perjalanan hidup yang paling dikenang. Mula-mula sebagai Gerakan Pemuda Asor tingkat desa sampai mencapai puncak Ketua Umum PBNU.

Data Resensi:
Judul: Biografi A. Hasyim Muzadi

Penerbit: Keira Publishing

Penulis: Ahmad Milah Hasan

Cetakan: Pertama, Maret 2018

Peresensi: Kamil Maulana Yusuf (Aktivis penyebar virus NU di Media Sosial)


Ahad 10 Februari 2019 6:0 WIB
Meneladani Rasulullah dengan Melindungi Kalangan Lemah
Meneladani Rasulullah dengan Melindungi Kalangan Lemah
Dalam kehidupan, selalu terdapat dua kutub berlawanan yang senyatanya saling melengkapi satu sama lain, seperti kuat dan lemah, superior dan inferior, kaya dan miskin, baik dan buruk. Nabi Muhammad meneladankan konsep hidup yang sangat revolusioner. Jika sebelumnya kuat dan lemah adalah persoalan dominasi kekuatan, maka bagi Nabi, keduanya adalah dua hal yang kudu berelasi positif dan saling mengisi. Yang kuat melindungi yang lemah, yang kaya membantu yang papa dan yang mayor melindungi yang minor. 

Prof Dr Raghib al-Sirjani sebenarnya telah mengemas sikap hidup Rasulullah ini dalam teori the Harmony of Humanity-nya. Teori yang menyadarkan semua orang bahwa kesamaan mereka sebagai manusia jauh lebih banyak daripada perbedaan di antara mereka. Sehingga atribut personal seperti Suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA tidak menjadi sekat untuk saling melindungi dan membantu sama lain.

Dalam Nabi Kaum Mustad’afin , penulis  mengurai sekelumit narasi hidup Nabi yang mengejawantahkan pembelaan dan kepedulian kepada kaum lemah, di saat zaman memandang mereka sebelah mata dan pantas dimarginalkan. 

Sebagai seorang pemimpin, kesejahteraan umat adalah perkara krusial yang sangat diperhatikan. Kendati hidup dalam kesederhanaan, Muhammad tidak membiarkan orang fakir begitu saja. Beliau berupaya mengatasi ketidakmampuannya, seperti menyerahkan masalah tersebut kepada sahabatnya yang mampu. Lebih-lebih ketika dalam keadaan mampu, tidak segan-segan harta yang beliau miliki digunakan untuk membantu mereka. 

Saat hendak memerdekakan Salman al-Farisi dari status budak, Muhammad memerlukan 300 pokok kurma dan 4 awqiyah emas (satu awqiyah=40 dirham) sebagai tebusan. Selanjutnya, Nabi memerintah para sahabat menolong nasib Salman. 300 bibit pohon kurma berhasil dikumpulkan dari hasil bahu-membahu para sahabat, sedang Nabi sendiri menyumbang tebusan emas yang dibutuhkan. (hlm. 114)

Nabi sangat melindungi prempuan. Pada masa praislam, martabat kaum Hawa sangat rendah dibanding laki-laki sehingga acap diperlakukan semena-mena. Dengan risalah yang dibawanya, Nabi SAW mengangkat kedudukan perempuan menjadi sedemikian mulia dan terhormat. Dalam kesehariannya pun, Nabi meneladankan untuk menjauhkan perempuan dari beragam kekerasan, baik fisik mau pun psikis. Suatu ketika, Abu Bakar mendengar suara tinggi Aisyah membentak Nabi. Abu Bakar kemudian meraih Aisyah dan hendak menamparnya gara-gara ketidaksopanannya. Namun Nabi segera menghalangi niat tersebut. 

Seringkali istri Nabi melakukan kesalahan di hadapan banyak orang hingga menyulitkannya. Namun Nabi tetap menghargai sikap para istrinya, menyangi kelemahan dan memaafkan kesalahan mereka, serta tidak mudah tersinggung karenanya.

Anas ibn Malik ra meriwayatkan bahwa suatu hari, Nabi tengah berada di rumah salah seorang istrinya. Lalu datang seorang utusan dari istri yang lain untuk mengirim makanan kepada Nabi. Lantaran cemburu, istri Nabi memukul tangan sang  utusan hingga nampan yang dibawanya pecah. Namun Nabi memungut kedua pecahan wadah itu lalu menggabungkannya dan menaruh kembali makanan di atasnya. 

Nabi Muhammad bersabda: “Ibu kalian tengah cemburu, silakan nikmati makanannya.” Mereka pun menyantapnya, sementara beliau tetap memegangi wadah pecah tersebut sampai diganti dengan wadah baru dari rumah istrinya. Nabi kemudian menyerahkan wadah baru kepada sang utusan dan membiarkan wadah yang pecah di rumah istri yang memecahkannya. (hlm. 56-57)

Kaum minoritas merupakan golongan lemah yang juga dilindungi. Piagam Madinah dan peristiwa Fathu Makkah adalah sekelumit peristiwa yang merepresentasikan sikap bijaksana Rasul pada mereka. Kita tahu, di Madinah terdapat ragam suku yang juga berlatar ragam agama. Di bawah panji Islam, Nabi senantiasa menjunjung keadilan dan memperlakukan mereka dengan baik tanpa diskriminasi sedikit pun. Bahkan dalam sutu riwayat, Nabi pernah memiliki dua orang khadam dari kaum Yahudi.

Barangkali kisah-kisah di atas sudah klise didengar. Pengutaraan segenap narasi hidup nabi dalam buku ini lebih serasa satire bagi umat kekinian. Pasalnya, hari ini prinsip-prinsip luhung yang telah dipancangkan Nabi serasa miskin aplikasi. 

Sebagai amsal, mari kita tengok figur pemimpin saat ini. Masihkah di antara mereka ada yang rela hidup sederhana dengan sedikit harta macam Rasulullah? Pertanyaan ini terasa sangat tidak relevan. Karena potret pemimpin saat ini tidak akan jauh dari gelimang duniawi. Beberapa bahkan dengan tega menikung hak-hak rakyat untuk mengisi kantong pribadinya. 

Pun kita tahu, negeri laiknya tanah Madinah dengan rupa-rupa suku dan agamanya, bahkan barangkali lebih majemuk. Pemetakan kubu mayoritas dan minoritas menjadi tak terhindarkan. Sekalipun bersemboyan Bhinneka Tunggal Ika, namun masih saja muncul beberapa kasus diskriminasi terhadap golongan minoritas. 

Demikianlah, buku ini lebih berposisi sebagai instrumen untuk menginstrospeksi keislaman kita. Jika benar mengimani Rasulullah, maka sudah selayaknya apa yang beliau lakukan musti teladani sebaik mungkin. Selamat membaca!

Peresensi adalah Muhammad Faiz As (Pengurus Perpustakaan PP Annuqayah Lubangsa Selatan, Sumenep, Jawa Timur).

Identitas Buku
Judul Buku: Nabi Kaum Mustad’afin
Penulis: Raghib al-Sirjani
Penerjemah: Tatam Wijaya
Cetakan: I, 2018
Penerbit: Zaman
Tebal: 272 Halaman
ISBN: 978-602-6273-03-1

Jumat 8 Februari 2019 13:30 WIB
Mencintai Kedamaian Beragama
Mencintai Kedamaian Beragama
Di era kontemporer, media sosial dan digitalime sangat berdampak baik dan buruk sehingga masyarakat mendapatkan hidangan beragam kejadian dan peristiwa yang berhubungan dengan keadaan beragama kita. Kekerasan yang terjadi di masyarakat kita karena faktor cara memahami teks keagamaan yang keliru, cara pandang mereka seringkali digunakan untuk membasmi terhadap pandangan yang berbeda sehingga menimbulkan tindakan kekerasan baik kekerasan wacana maupun kekerasan fisik.

Tidak sedikit kondisi beragama merasa terancam karena adanya peristiwa akhir-akhir ini terjadi, seperti bom bunuh diri, bersikap intorelansi, dan klaim paling suci, yang lain kufur serta pantas masuk neraka. Ajaran agama seharusnya menjadi kedamian untuk manusia, akan tetapi faktanya dalam sejarah agama-agama seringkali terjadi tindak kekerasan dan banyak korban jiwa disebabkan cara memahami keagamaan kurang benar.

Karya buku ini, Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia, bahwa Aksin Wijaya menjelaskan alasan menggunakan tindakan kekerasaan atas nama agama dan Tuhan yakni cara dalam menalar dan nalar Islam yang mengeideologi. Sedangkan cara menalar Islam dengan memahami yang benar, sementara nalar Islam yang mengeideologi membuat sekte dan aliran bagi golongan menyakini sebagai satu-satunya cara memahami Islam yang paling benar.

Tentunya Islam sebagai ajaran agama yang damai berubah menjadi sektarian dan sakral didalam memahami Islam itu sendiri, akhirnya berimplikasi terhadap fanatisme golongan atau menjadi kelompok pemikiran garis keras didalam beragama yang ditandai dengan dirinya yang paling suci dan lain sebagainya. (hlm. XII).

Menalar Islam yang mengideologi akan berdampak terhadap cara penafsiran mereka khususnya penggunakan kata Jihad yang maknanya semakin kabur. Penafsiran mereka atas jihad disesuaikan dengan ideologi mereka sendiri, doktrin kekerasan ditanamkan, keyakinan pemahaman kekerasan mejadi jihad bahkan jihad kekerasan atas nama agama dan Tuhan menjadi perbincangan publik sehingga berdampak terhadap kondisi bangsa dan negara kita. 

Kesalahan berpikir mereka diakibatkan karena doktrinisasi keagamaan jalan pintas tanpa adanya pemahaman agama yang mendalam dan benar, bahkan mereka bersedia menjadi pengantin tindakan kekerasan untuk menyerang generasi muda dengan iming-iming bidadari di surgamaka mereka diberikan label syahid.

Didalam buku ini menyatakan, cara berpikir yang dikotomis akan melahirkan dua kutub perlawan yaitu mengklaim diantara baik-buruk, putih-hitam, benar-salah dan suci-kotor. Artinya cara berpikir mereka berpikir antagonis terhadap sebuah kebenaran tunggal sehingga seringkali mereka menyalahkan dan menyesatkan atau menghabiskan yang dinggap berbeda ideologi, memposisikan musuh yang harus dilawan secara radikal.

Radikalisme muncul karena dari tindakan kekerasan wacana sebagai sebuah pemahaman keagamaan doktriner menjadi ke tindakan kekerasan fisik sebagai bentuk aksi dengan jihad fi sabilillah. Dengan demikian, tructh-claim menjadi pilihan mereka diyakini sebagai pemilik kebenaran absolut yang harus di ikuti oleh pihak musuh.

Perlu diketahui bahwa, ada dua perasaan yaitu perasaan memusuhi yang lahir dari dimensi tanah-jazadnya dan perasaan mencintai yang lahir dari dimensi ruh-ilahiyah. Sedangkan perasaan memusuhi mendorong orang untuk melakukan agresi sehingga melahirkan kekerasan, sementara perasaan mencintai mendorong orang untuk saling mencintai sehingga melahirkan kedamaian. Kedua perasaan manusia itu mengalami pergumulan terus-menerus, dan manusia senantiasa ditarik untuk lebih condong pada salah satu dari kedua perasaan tersebut. (hlm. 166)

Menurut penulis, menolak tindakan kekerasaan apapun demi tegaknya kedamain, baik kekerasaan wacana melalui pernyataan, pengetahuan yang berhubungan dengan kekusaan untuk mengendalikan negara dan masyarakat. Kekerasan fisik dilakukan secara fisik melalui tindakan kekerasan atau menindas,dan pada umumnya dilakukan dua jalur baik jalur ideologi dan budaya.

Refresif bagi penguasa untuk mempertahankan kekuasaan dan kebijakan akan melahirkan tindakan kekerasaan fisik karena masyarakat bertindak kekerasan dalam rangka menuntut-mencari keadilan dan pemerataan sosial-ekonomi. Karena itu, sejatinya Islam lahir ke dunia untuk kedamaian manusia sebagaimanamakna Islam itu sendiri bermakna damai-selamat dan disebutkan didalam teks al-Quran.

Kata Islam identik kata salam bermakna damai dan sebanyak157 kali dengan rincian 79 kali berbentuk kata benda, 50 kali benbentuk kata sifat dan berbentuk kata kerja sebanyak 28 kali. Jadi kata salam bermakna damai dalam bentuk kata benda lebih banyak daripada kata kerja dan kata sifatkarena kata salam menunjukkan untuk menerapkan dan mengamalkan nilai-nilai Islam didalam kehidupan sosial-politik dan budaya yang pluralistik.


Peresensi adalah Tauhedi As’ad, Mahasiswa Program Doktor IAIN Jember; Tenaga Pengajar di Unej dan IKIP Jember

Judul: Dari Membela Tuhan ke Membela Manusia.
Penulis: Dr Aksin Wijaya
Penerbit: Mizan
Cetakan: 1 Juni 2018
Tebal: xxx + 262 halaman
ISBN: 978-602-441-067-4
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG