IMG-LOGO
Esai

Ilhan Omar, Muslimah yang Memulai Gelombang Kritik Israel di Amerika Serikat

Ahad 17 Februari 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Ilhan Omar, Muslimah yang Memulai Gelombang Kritik Israel di Amerika Serikat
Foto: Saul Loeb/AFP/Getty Images
Oleh Adam Ganesa Damasky

Terpilihnya Ilhan Omar (36) sebagai anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang ke-116 membuktikan bahwa adanya kesempatan bagi perwakilan warga Muslim yang berada di AS untuk berkarir di dunia politik. Hal ini merupakan hal yang menarik karena mereka merupakan pionir bagi perwakilan wanita Islam dalam Kongres AS.

Berasal dari latar belakang sebagai imigran dari Somalia turut berpengaruh pula bagi arah pandang politiknya. Omar lantang menyuarakan pandangan yang cenderung berbeda dengan Presiden AS Donald Trump terkait persoalan Islam, imigran, Zionisme, dan intervensi Asing.

Semenjak terpilihnya Omar sebagai anggota Kongres, dia aktif melakukan kritik terhadap pemerintah Israel. Dia menuduh pemerintah Israel sebagai pemerintah yang Apartheid (Rasis). Dia juga menyatakan bahwa tindakan yang mereka lakukan di Gaza merupakan  kekejaman. Selain itu, Omar  menyerukan agar dilakukan gerakan BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi) bagi rezim Israel. Gerakan ini pernah dilakukan di masa lalu oleh berbagai negara untuk menentang rezim Afrika Selatan yang diskriminatif.

Pandangannya tersebut tentu bukanlah pandangan yang populer bagi AS yang sangat dekat dengan Israel. Atas pernyataannya tersebut, Omar mendapatkan kecaman. Tidak hanya di akun media sosial pribadinya, tapi juga di beberapa media massa.

Baru-baru ini pada 11 Februari melalui akun Twitternya, Omar menulis tentang kuatnya kepentingan Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel) pada kebebasan berbicara di AS yang mengakibatkan pada kuatnya pelarangan kritik terhadap pemerintah Israel di publik AS. Masih pada kesempatan yang sama, Omar menulis tanggapan bahwa yang membiayai politisi AS untuk terus mendukung Israel adalah AIPAC. AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) adalah kelompok lobby yang memperjuangkan kebijakan pro-Israel pada Kongres dan lembaga eksekutif AS.

Rangkaian postingan tersebut kemudian menjadi perbincangan yang terus-menerus bergulir hingga menjadi polemik di publik AS. Kelompok yang kontra dengan pernyataan Omar mengaitkan bahwa ucapannya bersifat anti-semitisme (anti-semit) dan rasis. Baik petinggi partai Demokrat (diantaranya Nancy Pelosi, Steny Hyer, James E. Clyburn, Ben Ray Luyan, Hakeem Jeffries, dan Katherine Clark) maupun dari partai Republik (Kevin Mc Carthy) sama-sama mengecam Omar. Mereka menyatakan tidak akan diam terhadap pernyataan Omar tersebut.

Di lain pihak, banyak juga kelompok yang mendukung pernyataan Omar tentang kuatnya pengaruh Israel -kelompok lobi AIPAC- dalam politik AS. Ssebuah artikel dari The Intercept Selasa (12/2), menyatakan bahwa kritik terhadap AIPAC dan Israel merupakan hal yang tabu dilakukan di AS dan Omar telah memecahkan ketabuan tersebut. Sementara sebuah artikel dari The Nation, Selasa (12/2), menyatakan bahwa apa yang Omar katakan tentang pengaruh AIPAC bagi politik AS adalah nyata.

Menariknya, organisasi pemuda Yahudi progresif seperti Jew Voice for Peace dan If Not Now juga menyatakan akan terus mendukung Omar atas keberaniannya menyuarakan kritik terhadap Israel dan AIPAC.

AIPAC didirikan di Amerika pada1951, sebelumnya bernama American Zionist Committee for Public Affair. AIPAC dalam dinamikanya memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi pengambilan kebijakan pemerintah AS untuk menjadi sangat pro-Israel, terutama dalam masalah kebijakan luar negerinya. Seperti kelompok lobi pemerintahan pada umumnya, AIPAC mempengaruhi arah politik AS melalui pendanaan kampanye, pemberitaan melalui media, dan pendekatan kepada politisi AS. AIPAC merupakan salah satu kelompok yang kuat seperti halnya kelompok lobi senjata api dan perusahaan minyak.

Kelompok yang menuduh Ilhan Omar bisa saja adalah mereka yang gagal memisahkan antara apa yang disebut kelompok lobi politik dan mana yang termasuk kelompok etnis (semitik). Dapat dipastikan mereka tidak mampu melihat poin pernyataan Omar tentang kuatnya pengaruh AIPAC bagi AS. Kecaman yang kuat dari petinggi pejabat AS menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Israel dalam politik Internal AS, kritik terhadap organisasi AIPAC ataupun Israel akan sangat sulit dilakukan.

Tuduhan anti-semit ini juga sangat mudah dilontarkan kepada Omar karena sikap kritisnya terhadap pemerintah Israel dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya dalam kongres dan melalui akun sosial media-nya. Sikap kritis Omar itu tentu dianggap sangat berpotensi mengancam kepentingan Israel di AS.

Atas berbagai kritik terhadap pernyataan Omar, terlebih adanya tekanan dari partai Demokrat -partai dimana Omar bernaung-dan pemimpin House of Representative, secara cepat tanggap Omar langsung menyampaikan pernyataan maafnya:

"Anti-Semitisme adalah hal yang nyata, dan saya berterima kasih pada sahabat Yahudi yang mengajari saya tentang sejarah kelam dan tindakan anti semitisme. Tujuan saya bukan untuk menentang Yahudi Amerika secara keseluruhan. Kita harus siap menerima kritik. Oleh karena itu saya menyatakan permintaan maaf," kata Omar.

"Dalam kesempatan yang sama, saya menegaskan kembali adanya masalah dari kelompok lobi dalam politik di Amerika, entah itu dari AIPAC, NRA, ataupun industri minyak. Hal ini sudah terjadi sejak lama dan perlu dilakukan pembenahan.”

Adanya permintaan maaf tersebut tidak menggoyahkan sikap kritis Omar atas sikap kritisnya. Dia sangat yakin bahwa dirinya tidak menyinggung tuduhan terhadap ras tertentu. Dia menegaskan bahwa mengkritik AIPAC bukanlah tindakan yang anti-semitisme, sama halnya seperti melakukan kritik terhadap asosiasi senjata api dan industri minyak.

Walaupun ditekan oleh berbagai pihak, tetapi kritik Omar tersebut berhasil menjadi pemicu perdebatan dan gelombang kritik akan kuatnya pengaruh Israel dalam politik AS. Bukan tidak mungkin gelombang kritik tersebut akan membuka banyak mata publik AS terhadap arah politik negara Israel yang sesungguhnya.

Penulis adalah alumni Universitas Pertahanan
Bagikan:
Jumat 8 Februari 2019 8:0 WIB
Pengajian Karya-karya Ulama Betawi di Jakarta
Pengajian Karya-karya Ulama Betawi di Jakarta
(Foto: @shutterstock)
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Karya-karya ulama Betawi menjadi lestari karena terus dikaji dan dan diajarkan di majelis-majelis taklim dan halaqah, khususnya di wilayah Jakarta. Dari hasil riset berjudul Peta Halaqah dan Majelis Taklim Kitab di Jakarta Tahun 2017 yang dilakukan oleh Jakarta Islamic Centre dijelaskan bahwa karya-karya Habib Utsman bin Yahya masih diajarkan di beberapa majelis taklim kitab.

Karya Sayyid Utsman diajarkan di antaranya di Majelis Taklim Sulamul Mubtadi. Majelis Taklim Sulamul Mubtadi merupakan majelis yang dipimpin dan diampu oleh Ustadz Abdul Ghofur. Majelis ini berada di Jalan Matraman Dalam II, RT 08/08 Nomor 16, Jakarta Pusat. Materi yang diajarkan di majelis ini adalah masalah Tauhid dengan kitab Sifat Dua Puluh sebagai sumber rujukannya.

Selain Tauhid, Ustadz Ghofur juga mengajarkan kitab Irsyadul Anam karya Habib Utsman bin Yahya. Sanad Ustadz Abdul Ghofur dalam mengajarkan kitab-kitab itu bermula dari gurunya, Habib Abdurrahman Assegaf, dan Habib Abdurrahman sampai kepada Habib Husain bin Muksin Al-Attas. 

Karya Habib Utsman dipelajari di Majelis Taklim Al-Issa. Majelis taklim ini berada di Jalan Tanah Tinggi, RT 001/006, Kelurahan Tanah Tinggi Sawah, Kecamatan Johar Baru, Jakarta Pusat. KH Baihaqi adalah pimpinan dan pengajar di majelis ini. Gurunya KH. Baihaqi adalah KH Syaifuddin Amsir, figur yang membuat sanad keilmuanya tersambung dan tali menali. Di majelis ini, KH Baihaqi menggunakan Sifat Dua Puluh sebagai bahan pengantar pengajian.

Karya Habib Utsman juga diajarkan di Majelis Taklim Khoirun Nisa yang merupakan majelis taklim kaum ibu pimpinan Ustadz Jalaludin Rais terletak di Buaran 1 RT 003/08 Jatinegara, Jakarta Timur.

KH. Rizki Zulkarnaen sebagai guru dari majelis tersebut memilihkan kitab untuk dikaji bersama dengan para Ibu yang berjumlah 30 orang selama 1 jam, yaitu Kitab Irsyadul Anam. Kitab yang diajarkan ini memiliki sanad yang menyambung kepada KH Saifuddin Amsir dengan sanad menyambung kepada Muallim KH M Syafi’i Hadzami dan Kitab Qami’ut Tughyan dengan sanad menyambung Sayyid Shalahuddin At-Tijani yang menyambung sanadnya sampai Syekh Yasin Al-Fadani.

Kitab Safinatun Naja karya Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami diajarkan di antaranya:  Pertama, di Majelis Taklim Masjid Jami Matraman pimpinan Ustadz Abdurrahman di Jalan Matraman Dalam Nomor 1 Jakarta Pusat yang diasuh oleh KH Muhammad Munir Mugni. Kedua, Majelis Taklim Al-Husnah yang berada di Jalan Pembangunan I Dalam  Nomor 32, RT 05/01 Kelurahan Petojo Utara, Gambir, Jakarta Pusat pimpinan Ustadz M Tajuddin Salman dengan pengasuh Ustadzah Hj Siti Husnah.

Ketiga, Majelis Taklim Syiar Islam yang berada di Jalan Duri Barat RT 003/08 Duri Pulo, Gambir, Jakarta Pusat yang dipimpin dan diasuh oleh Ustadz Ilyas Hasyim. Keempat, Majelis Taklim Al-Hidayah di Jalan Budi Mulia RT 015/008 Pademangan Barat Jakarta Utara pimpinan Muhammad Mualif dengan Ustadz Aminullah sebagai pengasuhnya yang mendapatkan sanad langsung dari gurunya, yaitu Habib Abdurrahman Assegaf, dari Habib Ali Kwitang.

Kitab Misbahuz Zhulam karya Syekh Muhammad Muhadjirin Amsar Ad-Darry diajarkan di Majelis Taklim Ash-Shodriyah 9, Jakarta Timur dengan pengajar KH Fachruddin. Kitab Al-Imamus Syafi`i fi Madzahibil Qadim wal Jadid karya Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi diajarkan di Majelis Al-Bahtsi wat Tahqiq As-Salam sejak 1993 M sampai sekarang.

Kitab Sullamun Nayrain karya Guru Manhsur Jembatan Lima diajarkan oleh KH Ahmad Syafi'ie di  Lajnah Falakiyah Mahad Al-Husiniyah, Tipar Cakung, Jakarta Utara. Sedangkan Kitab Taysirul Musykilat fi Qiratil Ayat karya KH Abdul Hanan Said diajarkan oleh KH Abdul Mafahir di Rawa Belong, Jakarta Barat.

Penutup
Karya tulis ulama Betawi dapat terus lestari dengan adanya regenerasi ulama Betawi yang terus ada dan terus mengajarkan karya-karya ulama Betawi terdahulu. Namun, tidak sedikit khazanah ulama Betawi yang kini hanya tersimpan di rumah ahli waris, rak-rak buku, di perpustakaan atau di tempat arsip karena belum diajarkan kembali.

Ini tentu menjadi ”pekerjaan rumah” kita bersama. Selain itu, karya ulama Betawi juga dapat terus lestari jika ada upaya untuk mereproduksinya. Di sisi lain, produktivitas ulama Betawi dalam menulis kitab, risalah atau artikiel, yang saat ini dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.

Tentu menjadi persoalan tersendiri yang harus dijawab oleh para ulama Betawi generasi sekarang terlebih tantangan dan persoalan umat saat ini tidak sedikit, bahkan lebih rumit dan beragam, dibandingkan zaman ulama Betawi terdahulu. Ini perlu banyak dijawab dengan karya tulis yang berbobot dari para ulama Betawi generasi saat ini.


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU dan Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre.
Kamis 7 Februari 2019 10:0 WIB
Mengenal Karya Tulis Ulama Betawi
Mengenal Karya Tulis Ulama Betawi
Oleh Rakhmad Zailani Kiki
Hari Rabu malam, 30 Januari 2019, bertempat di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Pusat, Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, saya menjadi narasumber Studium General Islam di Nusantara dengan tema Menguak Khazanah Ulama Betawi yang diselenggarakan oleh Ma`had Ali Sa`iidusshiddiqiyah Jakarta.

Pada kesempatan tersebut saya menjelaskan bahwa khazanah ulama Betawi dalam bentuk karya tulis cukup banyak. Dari hasil kegiatan saya menjadi asisten peneliti dan narasumber kegiatan Inventarisasi Karya Ulama di Lembaga Keagamaan di DKI Jakarta pada tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Kementerian Agama RI  untuk membantu kegiatan penelitian dua orang peneliti, yaitu Nur Rahmah dan Puji Astuti, terhimpun 160 karya yang merupakan buah karya intelektual 26 ulama Betawi yang hidup di abad ke-19 dan ke-20 M.

Kecenderungan karyai ntelektual tersebut berada pada bidang fiqih. Sedangkan yang masih belum terhimpun masih banyak, seperti karya Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi, yang berjumlah ratusan.

Bagi saya, jumlah ratusan karya ulama Betawi ini, khususnya yang diterbitkan pada masa prakemerdekaan, menimbulkan kekaguman tersendiri buat saya. Sebab sensus pada tahun 1930  (Lance Castles, 2007) menunjukkan bahwa wilayah Jakarta merupakan salah satu wilayah terbelakang dalam pendidikan umum. Prosentasi melek-huruf di Batavia (11,9%) merupakan angka yang rendah bagi daerah perkotaan. Sebagai contoh bandingkan dengan Bandung, yaitu 23,6%.

Selain itu, mereka yang melek huruf hampir bisa dipastikan bukan orang Betawi. Jadi, karya-karya ulama Betawi yang banyak diterbitkan pada masa itu hadir di tengah-tengah masyarakat Betawi yang kebanyakan masih buta huruf. Ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para ulama Betawi untuk mengajarkan karya-karyanya di tengah-tengah masyarakat.

Karya tulis ulama Betawi tidak hanya didominasi oleh ulama pria, tetapi juga oleh ulama perempuan. Untuk ulama perempuan Betawi, terdapat nama Ustadzah Khadijah Jamali yang memiliki karya tulis berjudul Al-Mawaa`iz Al-`Usfuriyah dan Wirid dan Tahlil. Lalu Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir, putri dari KH Thohir Rohili, pendiri Perguruan Ath-Thahiriyah, telah menghasilkan 27 karya tulis di bidang akhlak, fiqih, tauhid dan ulumul Qur`an yang ditulis dalam bahasa Arab saja atau bahasa Arab dengan bahasa Indonesianya.

Sepanjang yang saya ketahui, Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir adalah ulama perempuan Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini. Disusul kemudian  dengan Ustadzah Hj Tutty Alawiyah.

Ustadzah Hj Tutty Alawiyah adalah putri dari KH Abdullah Syafi`ie, ulama Betawi yang dijuluki singa podium dan pendiri Perguruan Asy-Syafi`iyyah, dikenal sebagai mubalighah kondang.

Ia juga dikenal sebagai pendiri dan Ketua Umum Pusat Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) serta Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di era Presiden Soeharto dan Presiden BJ Habibie. Namun tidak banyak yang tahu jika ia juga seorang ulama Betawi perempuan yang produktif menulis.

Ada 16 karyanya yang berhasil diinventarisasi di bidang fiqih, akhlak, sejarah, aqidah, ulumul Qur`an dan dakwah yang ditulis dalam bahasa Arab, Indonesia dan Arab-Indonesia. 

Jika Ustadzah Hj Siti Suryani Tahir adalah ulama perempuan Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini, maka Habib Utsman bin Yahya, Mufti Betawi, adalah ulama laki-laki Betawi yang paling banyak mempunyai karya tulis sampai saat ini yang saya ketahui.

Data yang saya dapatkan menyebutkan bahwa karya Habib Utsman bin Yahya (lahir di daerah Pekojan,Tambora, Jakarta Barat pada tanggal 17 Rabiul Awal 1238 H/1822 M dan wafat Ahad, 19 Januari 1914 dikuburkan di Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur) berjumlah 116 buah. Ada pula yang menyebutkan sebanyak 114 buah.

Habib Ali Yahya, mantan Wapemred Majalah Al-Kisah, menyebutkan kepada saya bahwa karya Habib Utsman bin Yahya ada sekira 150-an buah dan ia memiliki daftarnya. Sedangkan salah seorang ulama yang masih menyimpan hampir semua karya tulis Habib Utsman bin Yahya adalah KH Tubagus Ahmad Bakri yang akrab dipanggil Mama Sempur Plered karena tinggal di daerah Sempur, Plered, Purwakarta.

Karya tulis-karya tulis Habib Utsman bin Yahya masih dibaca dan dijadikan rujukan oleh umat Islam sampai hari ini, bukan hanya di Indonesia, bahkan di berbagai negara di Asia Tenggara. Dua karyanya yang masih populer di masyarakat adalah Irsyaadul Anaam, Adabul Insaan dan Sifat Dua Puluh.

Untuk sebaran karya tulis ulama Betawi yang sampai ke luar Indonesia, selain karya tulis Habib Utsman bin Yahya, juga karya tulis dari Syekh Salim bin Sumair Al-Hadhrami penulis Kitab Safinatun Najah Fi Ma Yajibu `ala Abdi li Maulah (Perahu Keselamatan di dalam Mempelajari Kewajiban Seorang Hamba kepada Tuhannya).

Selain itu, ada pula Guru Manshur Jembatan Lima dengan karya di bidang ilmu falak yang berjudul Sullamun Nayrain. Kitab falak ini banyak digunakan bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di beberapa negara. 

Ada pula Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi, yang karyanya bahkan telah mendunia, yaitu yang berjudul Al-Imamus Syafi`i fi Madzabihil Qadim wal Jadid. Karya tulisnya ini, menurut Prof Syakh Abdul Ghani Abdul Khaliq, Guru Besar Universitas Al-Azhar Kairo, merupakan karya yang monumental, luar biasa, dan sangat bermanfaat. Karya ini membahas semua aspek yang berkaitan dengan Imam Syafi`i.

Di samping itu, analisisnya pun sangat tajam, mendalam, terpercaya, detail, dan komprehensif. Bahkan, tidak berlebihan, jika dikatakan bahwa karya tulis ini adalah satu-satunya karya ilmiah yang paling sempurna yang pernah ada di zaman sekarang ini yang membahas tentang Imam Syafi`i.

Sedangkan menurut KH Saifuddin Amsir, salah seorang Rais Syuriyah PBNU dan pengurus MUI Pusat, menyatakan bahwa tidak ada satu karya yang membahas Imam Syafi`i di dunia Islam yang selengkap karya ini.

Begitu berbobotnya kitab ini, nyaris tidak ada satu pun penulis tentang mazhab Syafi`i, khususnya di Indonesia, yang tidak menjadikan kitab ini sebagai refrensinya. Luar biasanya, kitab ini dikarang oleh orang Indonesia, seorang ulama Betawi, yang dengan kitabnya tersebut ia memperoleh gelar doktor perbandingan mazhab dari Universitas Al-Azhar, Kairo.

Karya tulis Syekh Ahmad Nahrawi Abdus Salam Al-Indunisi ini telah diterjemahkan oleh Jakarta Islamic Centre dan diterbitkan bersama penerbit Hikmah pada tahun 2008 dengan judul  Ensiklopedia Imam Syafi`i. Selain dijadikan bacaan dan referensi akademik, karya tulis ini juga dijadikan kitab kajian di Majelis Al-Bahtsi Wat Tahqiq As-Salam sejak tahun 1993.

Ulama Betawi lain yang memiliki banyak karya tulis adalah KH Muhammad Ali Al-Hamidi Matraman. Semasa hidupnya (lahir 20 September 1909 dan wafat 22 Agustus 1985), KH Muhammad Ali Alhamidi merupakan penulis produktif. Beberapa karya tulisnya adalah Godaan Setan, Jalan Hidup Muslim, Hidayatullah, Islam dan Perkawinan, Manasik Haji, Ruhul Mimbar dan lain sebagainya.

Hampir semua karyanya diterbitkan oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung, terkecuali di antaranya kitab Ruhal-Mimbar. Kitab ini dia tulis sendiri dengan tulisan tangan, kemudian dia cetak sendiri (karena punya alat cetak stensil sendiri) dan dijahit sendiri serta dipasarkan sendiri dengan jumlah yang sangat terbatas.

Sampai hari ini, Kitab Ruhal-Mimbar (ditulis dalam aksara Arab Melayu sebanyak 10 jlid) belum dicetak ulang oleh penerbit lain. Kendati ia disinyalir berpaham Persis atau sepaham dengan Persis, tetapi banyak juga para ustadz dan ulama Betawi yang berpaham NU menjadikan kitab Ruhul Mimbar dan karya-karyanya yang lain sebagai bahan referensi untuk berkhutbah. Bahkan karya-karyanya beredar hingga ke Sumatera dan Kalimantan.

Karenanya, Abuya KH Saifuddin Amsir, mengutip pernyataan Muallim Ramli yang tinggal di Gang Murtadho, menyatakan bahwa teks-teks khutbah Jumat yang ditulis KH Muhammad Ali Alhamidi sesuai dengan Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah tetapi orang yang menulisnya tidak (berpaham Ahlussunnah Wal Jama`ah Asy-Syafi`iyyah).

Ulama Betawi yang juga memiliki banyak karya tulis adalah Syekh KH Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary (lahir 10 November 1924 dan wafat 31 Januari 2003). Karya kitab dan risalahnya ada 34 buah, bahkan diperkirakan lebih dari itu. Kitab karangannya yang terkenal adalah Mishbahuz Zhulam syarah Bulughil Maram yang penulisannya dibantu oleh KH Mahfudz Asirun dan dipelajari di beberapa pesantren, halaqah dan majelis taklim di Jakarta maupun di luar Jakarta.

Selain itu, ulama Betawi yang juga memiliki banyak karya tulis adalah Mu`allim KH M Syafi`i Hadzami (lahir 31 Januari 1931 dan wafat 7 Mei 2006). Ia adalah seorang allamah, pakar di bidang fiqih.

Ia memilki karya tulisdi bidang qira`at, ushul fiqih, dan fiqih di mana karya-karyanya diakui kualitasnya sampai ke negeri tetangga. Paling tidak, ada delapan karya tulisnya, yaitu Taudhihul Adillah (7 jilid), Sullamul `Arsy fi Qira`atil Warsy, Qiyas Adalah Hujjah Syar`iyyah, Qabliyah Jum`at, Shalat Tarawih, Ujalah Fidyah Shalat, Mathmahur Ruba fi Ma`rifatir Riba, dan Al-Hujajul Bayyinah.


Penulis adalah peneliti dan penulis Genealogi Intelektual Ulama Betawi. Ia kini diamanahi sebagai Sekretaris RMI NU dan Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre.
Rabu 6 Februari 2019 4:0 WIB
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Belajar Toleran dari Pedagang di Pasar Tradisional
Foto: SoksiNews
Oleh Muhammad Azam Multazam

Pasar tradisional merupakan tempat berkumpulnya para pedagang dari berbagai macam kasta. Dari pedagang yang kaya sampai pedagang yang tidak kaya. Begitupun dengan pembelinya. Mereka berbaur menjadi satu. Guyub rukun antar pedagang dengan pedagang, pedagang dengan pembeli, pembeli dengan pembeli.

Kehidupan antar pedagang di pasar tradisional yang katanya rawan perselisihan dan kebencian ternyata hanya fiktif belaka. Nyatanya, mereka hidup berdampingan dengan penuh canda tawa, tak jarang mereka saling tolong menolong sesama pedagang. Meskipun secara ilmu pasar, mereka bersaingan dalam berdagang.

Seperti contoh pedagang yang ada di depan toko Ibu saya, Mbah Narti dan Mbah Lasmi, mereka berdua merupakan pedagang bumbu dapur yang berdampingan. Dan dalam kesehariannya mereka berdua hidup penuh cinta dalam kehidupan pasar. Keduanya tidak ada sikap saling membenci meskipun dagangan mereka secara bisnis adalah pesaing.

Iya betul. Mereka adalah bersaing. Tetapi bersaing dengan sportif. Tidak pernah mereka menebar fitnah untuk menjatuhkan pesaingnya. Seperti halnya membisiki pembeli dengan memberikan informasi dengan dibumbui fitnah yang beraroma kebencian.

“Heh.. Heh.. Yuk, tak kandani, ojo tuku lombok nang gone Yu Lasmi. Lomboke ora pedes. Bedo karo nang gonku, lomboke pedes, apik-apik.”

Strategi seperti itu ternyata nihil dalam kehidupan antarpedagang pasar tradisional. Di antara mereka tidak pernah ada niatan untuk membuat pesaingnya sepi pembeli, lalu gulung tikar dengan cara menyebar hoaks dan fitnah. Sama sekali tidak pernah. Karena di hati dan otak mereka berdua diisi dengan sikap toleransi, saling menghargai.

Mereka berdua tidak berambisi mengejar dunia dengan menjatuhkan kawannya, menghalalkan berbagai macam cara untuk menjadi terlaris. Mereka berdua tidak terlalu egois, nyatanya mereka berdua saling membantu. Dan pemandangan yang ciamik ini tidak hanya pada di pedagang bumbu dapur saja, namun pemandangan luar biasa ini mendominasi isi kehidupan pasar tradisional.

Selain itu, pemandangan yang menakjubkan yang ada di pasar tradisional adalah dari kalangan kaya dan tidak kaya berbaur menjadi satu cinta. Tidak ada diskriminasi di antara mereka. Mereka saling menyapa, bersalaman. Dari Bu Carik, Bu Lurah, Bu Guru, Bu Nyai, Pembantu rumah tangga, bakul ompreng, bakul ikan, bakul sayur mereka saling menyapa. 

Kehidupan harmonis inilah yang perlu dijadikan ibrah dan ditiru dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, di dalamnya ada sebuah ajaran tasamuh, tawassuth dan tawazun. Sebuah ajaran yang diwariskan oleh para Ulama yang alim dan sanad ilmunya sampai dengan Rasulullah SAW. Ajaran yang menjadi ikon Ahlussunah wal Jamaah, khususnya di Nahdlatul Ulama.

Oh iya, dirgahayu Nahdlatul Ulama yang ke 93. Tetap jaya dalam berkhidmah untuk NKRI dan semoga semakin berkah.


IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG