IMG-LOGO
Opini

NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (1)

Ahad 17 Februari 2019 23:0 WIB
Bagikan:
NU Peduli di Daerah Terdampak Bencana (1)
Pembangunan masjid oleh NU Peduli di Desa Lendang Galuh, Lombok Utara
Oleh Dwi Winarno 

Tidak banyak organisasi sosial-kemasyarakatan yang bertahan berbulan-bulan hingga fase pasca bencana (pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi). Di bawah bendera NU Care (Peduli), Lazisnu, LPBI-NU, dan LKNU menjadi ujung tombak pelibatan NU di daerah terdampak. Gambaran ini terlihat jelas di Lombok, setelah mengalami guncangan gempa hebat bertubi-tubi, hingga bulan ketujuh (Februari 2019) pasca bencana masih beroperasi.

Dalam pengamatan penulis terdapat tiga faktor kunci yang menjadi kekuatan. Pertama, kekenyalan mental mereka yang terlibat di dalam NU-Care di  pusat maupun daerah terdampak bencana. Di daerah, nyaris tidak satupun yang punya pengetahuan teoritik terkait manajemen bencana dan pengalaman. Hanya bermodal semangat untuk terus mau belajar dalam menghadapi dinamika dan berbagai tantangan yang membuat mereka sejauh ini terlihat berhasil. Kisah ini bersama kisah lainnya akan dimuat dalam tulisan berikutnya.

Kedua, terjadinya gerakan penggalangan bantuan (filantropi) kemanusiaan secara massif di tingkat pusat maupun daerah. Tercatat donasi yang terkumpul dan tersalurkan di NTB dan Sulawesi Tengah lebih dari 18 milyar rupiah. Layak dideklarasikan sebagai kebangkitan tahun filantropi NU.

Ketiga, kerelaan untuk saling bahu-membahu seluruh lembaga dan badan otonom (Ansor, Muslimat, Fatayat, IPNU-IPPNU, dan lain-lain) di lingkungan NU yang bersedia terkoordinasi di bawah bendera “NU Peduli”. Perkara masih ada yang gerasa-gerusu adalah soal kebutuhan waktu belajar yang terus berjalan.  

Gotong Royong
Saat saya mendengar presentasi bu Baiq Mulianah (Ketua Tim Relawan NU Peduli Lombok) dalam acara Sarasehan Kebencanaan Region Sumatera di Bandar Lampung 4 Februari lalu, hati saya bergetar. Selain bu Baiq yang mewakili NTB terdapat juga beberapa narasumber lain dari Sulteng, Lampung, dan Banten. Dua daerah terakhir baru saja terkena dampak tsunami Desember tahun lalu.

Apa yang membuat saya bergetar? Soal semangat juang dan kemauan untuk terus mendidik dan bergerak bersama masyarakat korban bencana.

Di fase transisi dari tanggap bencana dan rekonstruksi, Bu Baiq dan kawan-kawan terus berada di lapangan. Berupaya melakukan yang terbaik dan tetap membuat korban punya semangat melanjutkan hidup. Berupaya mengurangi sikap lemah. 

Fenomena ini terlihat misalnya dari keterlibatan masyarakat untuk mau membangun tempat tinggal maupun fasilitas publik seperti madrasah, masjid, maupun MCK. Ia mengumpulkan masyarakat di mana di situ akan dibangun hunian sementara maupun hunian tetap. Ia berkata, “Orang jauh saja bisa beramal jariyah di tempat ini, kenapa kita tidak? Ini bukan proyek.” Ia meminta masyarakat yang masih sanggup mengorbankan tenaganya untuk mau bergotong-royong. Membangun atau merenovasi tiap rumah dan fasilitas publik secara bersama-sama. “Itulah yang membuat masyarakat tersentuh. Prinsipnya love, care, and share.”

Mengapa ia melakukan hal demikian? “Kalau kita hanya bangun, mereka tidak akan bangkit. Tidak akan ada sense (rasa kepemilikan),” ujarnya. Karena itulah masyarakat mau bergotong-royong dan punya kesadaran yang tinggi. Misalnya, meski terdapat beragam material yang disediakan untuk membangun hunian, masyarakat hanya mengambil apa yang dibutuhkan. Tidak ada yang saling berebut dan mengambil apa yang sudah dimiliki.

Upaya itulah yang akhirnya membuat penggunaan dana menjadi sangat optimal, melebihi harapan dari anggaran yang dialokasikan. Dana yang dialokasikan untuk membangun hunian adalah 7.5 juta/unit yang mestinya hanya bisa membangun 256 unit hunian di satu lokasi. Tapi karena semangat gotong-royong maka hunian yang dibangun mencapai 355 unit. 

Sampai dengan akhir Januari 2019, di luar penanganan pada fase tanggap darurat, NU Peduli Lombok total telah membangun 655 unit hunian, lalu sejumlah masjid permanen, MCK, madrasah, dan sumur bor yang berimplikasi langsung bagi 13.534 penduduk. 


Penulis adalah dosen Pengampu Sosiologi Bencana, Unusia, Jakarta


Bagikan:
Ahad 17 Februari 2019 13:0 WIB
Meluruskan Tesis Muhaimin AG tentang Silsilah Tarekat Syatariyah Buntet Pesantren
Meluruskan Tesis Muhaimin AG tentang Silsilah Tarekat Syatariyah Buntet Pesantren
Oleh: Syakir NF

Cirebon dikenal sebagai salah satu kota pusat Tarekat Syatariyah. Mengutip Mahrus El Mawa, Cirebon disebut sebagai melting pot Tarekat Syatariyah di Nusantara. Pasalnya, tarekat ini sudah kali pertama dianut oleh Sunan Gunung Jati.

Martin van Bruinessen mengutip kitab Sajarah Banten Rante-rante dan Babad Cirebon menyatakan dalam bukunya Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat bahwa lingkungan istana telah mengenal tarekat Syattariyah, Naqsyabandiyah, dan Kubrawiyah melalui seorang atau lebih murid al-Syinnawi atau penggantinya, mungkin orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji ataupun orang luar yang datang ke Indonesia.

Lepas dari Sunan Gunung Jati, Tarekat Syatariyah juga menyebar di Cirebon dari Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan, sebelum ia menyebarkannya ke Priangan Selatan. Ia merupakan murid dari Syekh Abdul Rauf Singkel, seorang ulama Aceh.

Muhaimin AG menulis dalam bukunya yang berjudul Islam dalam Bingkai Lokal: Potret dari Cirebon, bahwa Tarekat Syatariyah di Buntet tidak memilki hubungan dengan Syekh Muhyi atau dengan Abdul Rauf Singkel karena Syatariyah masuk ke Buntet melalui sumber yang berbeda. Hal ini perlu diluruskan bahwa sebenarnya pendiri Buntet Pesantren sendiri, yakni Mbah Muqoyim, mengambil Tarekat Syatariyah dari jalur Syekh Abdul Muhyi. Hal ini dibuktikan dengan sebuah manuskrip yang disimpan oleh Raden Raffan Hasyim. Berikut silsilahnya dari Rasulullah hingga ke bawah.

 
1.      Rasulullah saw
2.      Sayidina Ali kw
3.      Sayidina Husein al-Syahid
4.      Sayidina Zainal Abidin
5.      Imam Muhammad Baqir
6.      Imam Ja'far al-Shadiq
7.      Sultan Arifin Abi Yazid al-Busthami
8.      Syekh Muhammad Maghrib
9.      Quthb Abi Mudlaffar Maulana Rumi Thusi
10.  Quthb Abi Hasan al-Hirqani
11.  Syekh Hadaqili Maawara al-Nahari
12.  Sayid Muhammad Asyiq
13.  Syekh Muhammad al-Syathari
14.  Syekh Hidayat Sarmusun
15.  Syekh Hudluri
16.  Syekh Sayid Muhammad Ghauts bin Syekh Khathir al-Din
17.  Sayid Wajhu al-Din Alawiy
18.  Shibghat Allah bin Sayid Ruhu Allah
19.  Sayidina Abi Mawahib Abd Allah Ahmad bin Ali Abbas al-Syinawi
20.  Syekh Ahmad bin Muhammad Madinah (Syekh Qusyasyi)
21.  Syekh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili
22.  Syekh Haj al-Muhyi Safarwadi
23.  Kiai Thalab al-Din (Penghulu Batang)
24.  Kiai Muqoyim Cirebon
25.  Kiai Mas Arifin Tuk
26.  Kiai Haj Syarqawi Majalengka
27.  Kiai Bulqini Cirebon.

Namun, memang silsilah ini sepertinya terputus hingga Mbah Muqoyim, tidak turun ke anak cucunya. Pasalnya, sanad Tarekat Syatariyah dua cucunya, yakni Kiai Soleh Zamzami yang mendirikan Pondok Pesantren Benda Kerep dan Kiai Abdul Jamil yang meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren tidak bersambung kepada kakeknya.

Muhaimin AG dalam bukunya juga mencatat bahwa Mbah Muqoyim merupakan mursyid Tarekat Syatariyah keraton meskipun tidak merekrut pengikut di Buntet atau setidaknya jika pun dilakukan itu tidak secara terbuka. Walakin, dalam buku yang dihasilkan dari disertasinya di Universitas Nasional Australia (ANU) itu, Muhaimin tidak menyebutkan sanad tarekat Mbah Muqoyim.

Adanya sebuah kertas fotokopi yang pernah penulis dapatkan dari Mursyid Tarekat Syatariyah Buntet Pesantren, yakni KH Ade Nasihul Umam saat sowan pada tahun lalu, menjadi bukti sanad tarekat Kiai Soleh dan Kiai Abdul Jamil tidak bersambung kepada Mbah Muqoyim. Menantu KH Abdullah Abbas itu menemukan kertas tersebut dari sebuah kitab mertuanya, secarik kertas yang berisi pengangkatan KH Mushlih Jepara sebagai mursyid Tarekat Syatariyah.

Dalam silsilah tersebut, disebutkan bahwa Kiai Abbas mengambil sanad Tarekat Syatariyah dari ayahnya, yakni Kiai Abdul Jamil. Lalu, Kiai Abdul Jamil dibaiat oleh kakaknya, yakni Kiai Soleh Zamzami. Kiai Soleh dibaiat Kiai Anwaruddin Kriyani. Berikut selengkapnya

1.      Kiai Abbas
2.      Kiai Abdul Jamil
3.      Kiai Soleh Zamzami
4.      Mbah Kriyan
5.      Kiai Asy'ari Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah
6.      Syekh Muhammad
7.      Sayid Madani
8.      Sayid Ibrahim Thahir
9.      Syekh Mulla Ibrahim
10.  Syekh Ahmad Qusyasyi
11.  Syekh Sanawi
12.  Sayid Shibghat Allah
13.  Sayid Wajih al-Din
14.  Sayid Ghauts
15.  Syekh Hadlari
16.  Syekh Hadiyatullah dan seterusnya sampai Syekh Abu Yazid al-Busthami terus hingga Rasulullah saw.

Ayah Kiai Soleh dan Kiai Abdul Jamil, yakni Kiai Mutaad, juga merupakan salah satu penganut Tarekat Syatariyah meskipun penulis belum mengetahui sanadnya dari mana. Akan tetapi, Kiai Mutaad, sebagaimana diungkapkan oleh Zainul Milal Bizawie dalam bukunya Laskar Ulama-Santri dan Resolusi Jihad, adalah salah seorang pasukan Diponegoro saat Perang Jawa 1825-1830 M.

Keterlibatan Buntet Pesantren melalui Kiai Mutaad itu ditandai dengan adanya pohon sawo di dekat Masjid Agung Buntet Pesantren sebagai tanda bahwa terdapat seorang pasukan Pangeran Diponegoro di daerah tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa Pangeran Diponegoro juga merupakan pengamal Tarekat Syatariyah mengikuti nenek buyutnya, yakni Ratu Ageng, sebagaimana disampaikan Prof Oman Fathurahman, mengutip Rizal Mumazziq di NU Online, berdasarkan penelitian terhadap naskah Jav. 69 (Silsilah Syattariyah) dari koleksi Colin Mackenzie di Perpustakaan British (British Library), London, Inggris.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Ahad 17 Februari 2019 7:0 WIB
Kisah Qabil-Habil dalam Mata Ali Syariati
Kisah Qabil-Habil dalam Mata Ali Syariati
Ilustrasi (alfahmu).
Oleh Ali Makhrus

Kebanyakan kita memahami Qabil dan Habil sebagai sosok anak Adam yang tidak rukun hanya gegara “rebutan perempuan”. Jika cerita tersebut ditinjau dari kebijakan politik-ekonomi seorang pimpinan, terdapat distribusi aset yang terkesan tidak adil. Sebagai pemimpin, Adam seakan tidak adil dalam menjodohkan anaknya melalui perputaran kembaran perempuan Qabil yang lebih menawan dan anggun untuk dijodohkan dengan Habil. Sementara, Qabil mendapatkan jodoh kembaran Habil yang memiliki sifat sebaliknya. 

Penulis menilai kisah tersebut bias gender, karena perempuan dijadikan sebagai aset. Meski begitu, ada nilai kemanusiaan yang luar biasa yang dapat diambil dari kisah Qabil dan Habil tersebut.

Adanya distribusi aset yang tidak seimbang yang dilakukan oleh Adam selanjutnya memicu perlawanan anaknya. Menghadapi kebijakan Adam, sebagai kepala pemerintah atau negara juga kepala keluarga yang dianggap tidak tepat, Qabil melakukan protes kepada Adam, dengan berkata: "

انا احق بها, وهو احق بأخته, وليس هذا من الله تعالى, وإنما هو رأيك"

 Aku lebih berhak terhadapnya, dan dia lebih berhak terhadap saudaranya, tidaklah ini dari ketentuan Allah Taala, melainkan pendapat mu sendiri.

Sebagai kepala keluarga, Adam memberikan solusi untuk menyelesaikan konflik tersebut dengan membuat kebijakan adanya perintah untuk berkurban oleh kedua anaknya. Siapa yang kurbannya diterima, berhak menikah dengan perempuan yang lebih cantik (kembaran Qabil). Ar-Razi menerangkan dalam tafsirnya, korban jagung jelek Qabil tidak terlalap api, sementara kurban kambing (versi Ali Syariati Onta) Habil dilalap habis. Disebutkan pula, waktu itu api adalah simbol Tuhan. Dengan dilalap api maka dipercaya bahwa kurbannya diterima tuhan dimana tuhan hadir memberkati. 

Dalam versi lain dikatakan, Qabil adalah seorang petani. Sementara Habil adalah seorang peternak. Sudah menjadi kebiasaan, mereka menjalankan rutinitas kurban secara periodik. Saat ritual kurban menjadi cara memutuskan masalah, hasilnya malah memicu dendam Qabil. Karena tidak terima dengan hasil tersebut, Qabil membunuh Habil dalam posisi Habil tidak melakukan perlawanan sama sekali (al-Maidah 27-28). 

Namun, belum sempat menikah, Habil sudah mati dibunuh oleh Qabil. Kejadian buruk ini ditengarai karena Qabil tidak terima akan perpindahan kepemilikan dari Qabil (kembarannya) ke Habil, dan dari Habil ke Qabil, dengan kualitas aset yang tidak setara. Qabil melunasinya dengan aksi konspirasi secara sembunyi-sembunyi dengan membunuh Habil tanpa sepengetahuan Adam secara langsung.

Pada kisah di atas didapati sosok Qabil yang tidak menghargai kesepakatan, dan cenderung melindungi asetnya dengan berbagai macam cara. Menurut keterangan dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib karya Muhammad ar-Razi, “saat itu Adam dan istrinya memiliki kebiasaan melahirkan kembar (bebarengan), satu laki-laki dan satu perempuan. Adam menerapkan kebijakan menikahkan silang antar kehamilan”. 

Jika peristiwa tersebut dikaitkan dengan era sekarang, maka sesungguhnya yang terjadi adalah ada hukum berkeluarga dan bernegara pada konteks itu yang ditentang oleh Qabil. Dalam menentang ketetapan yang diberikan, Qabil mengajukan gugatan pra peradilan ke MA yang dalam hal ini adalah Adam, sehingga keputusan berakhir dengan pelaksanaan kurban. Klausul pasal yang dikeluarkan berbunyi, “barangsiapa yang kurbannya terbakar api dari langit, maka berhak menikah dengan kembaran Qabil”.

Kisah Qabil dan Habil, bagi Ali Syariati, (1933-1977), merupakan kisah manusia dalam lintasan sejarah panjang yang dialektis-antagonistik, serta penuh nilai-nilai kemanusiaan bagi generasi zaman now. Mengapa demikian? Sebab, bagi Ali Syariati, skandal terbunuhnya Habil bukan sekadar kehilangan satu manusia, melainkan juga kehilangan sistem kemanusian. Selain itu terbunuhnya Habil juga menyebabkan perubahan dari sistem perekonomian kolektif (collective ownership) menuju individual-ownership (lihat lebih lanjut dalam buku On the Sociology of Islam.

Sosok Qabil diprofilkan sebagai manusia feodal yang sirik kepada Tuhan atau disebut mustakbirin. Sementara, Habil digambarkan sebagai sosok manusia bertauhid namun berada dalam situasi yang tidak menguntungkan (mustadhafin). Dari mana Ali Syariati mengambil kesimpulan bahwa Qabil sebagai seorang feodalistik, sementara Habil sebagai marjinal? Bukankah keduanya sama-sama memiliki hak untuk bertarung atau berkompetisi? Lantas, dimana posisi bapak Adam dalam konteks ini? Apakah ada yang berperan sebagai konglomerat-borjouis atau penguasa-aristokratis atau Feodal-Oligarkis?

Menurut Syariati, kesimpulan itu berangkat dari realitas land-ownerisme (pemilik lahan) yang direpresentasikan oleh Qabil, dan pastoralisme (penggembala) yang pada masa itu direpresentasikan oleh Habil. Habil dijadikan Ali Syariati sebagai simbol sosialisme masa itu, yakni sosok manusia yang menikmati sumber daya alam secukupnya, tanpa ada kepemilikan pribadi. Sebagai penggembala, Habil hanya menikmati hasil alam secukupnya. Dia mengambil rumput secukup makanan gembalanya. Lahan tempat dia mencari rumput tidak diaku sebagai miliknya pribadi, namun dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh siapa pun. Disini berlaku konsep bahwa sumber daya alam yang ada menjadi milik bersama (collective ownership) dan dimanfaatkan secara bersama-sama (prinsip sosialisme).

Sementara, Qabil, sebagai petani, dia memiliki tanah dan memiliki penguasaan aset sumber dayanya secara pribadi. Tanah tidak lagi menjadi milik bersama, namun dipetak-petakkan. Dari sini muncullah konsep kepemilikan pribadi (individual-ownersip) yang menjadi prinsip dasar kapitalisme.

Terbunuhnya Habil dinilai Ali Syariati menjadi penanda berakhirnya paham sosialisme. Sistem dimana orang menjadi seperti penggembala yang mengedepankan akses dan eksploitasi alam secukupnya, berubah menjadi sistem dimana orang menjadi seperti petani yang mengedepankan penguasaan lahan secara pribadi. Qabil yang terus hidup menjadi simbol menyebarnya prinsip kapitalisme, yakni prinsip dimana orang melakukan segala cara untuk menjaga asetnya, juga prinsip dimana orang berusaha menguasai sumber daya alam yang ada untuk menjadi milik pribadinya.

Kisah di atas berakhir dengan hikmat yang luar biasa dari Habil, “Sungguh jika engkau menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, maka aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu, sungguh aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam” (al-Maidah-28). Kelegowoan Habil patut direnungkan oleh kita semua. Persoalan ekonomi dan kapital memang penting, namun persoalan kemanusiaan jauh lebih penting.

Kisah Qobil-Habil diatas mengingatkan kita bagaimana eksploitasi dan dominasi kapital dapat mengakibatkan banyak kerusakan, bahkan pembunuhan terhadap manusia yang tidak bersalah. Keserakahan manusia untuk menguasai sumber daya alam sudah seharusnya dikurangi bahkan dihentikan. Sebagai Khalifah fil ardh, manusia seharusnya memperlakukan alam dengan ramah dan secukupnya.

Penulis adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif HIdayatullah Jakarta

Sabtu 16 Februari 2019 12:9 WIB
KH Maimoen Zubair dan Politik Tanah Air
KH Maimoen Zubair dan Politik Tanah Air
KH Maimoen Zubair (Dok. NU Online)
Oleh Fathoni Ahmad

Pertengahan Januari 2017 lalu, tepatnya 15 Januari 2017 penulis dengan beberapa rombongan sowan di kediaman ulama besar KH Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah dalam kegiatan Anjangsana Islam Nusantara. Kebersahajaan luar biasa senantiasa ditunjukkan kiai kelahiran 28 Oktober 2018 setiap menerima tamu yang berkunjung ke Sarang.

Publik mungkin hanya mengetahui ulama besar, pejabat, dan tokoh nasional saja yang kerap mengunjungi untuk meminta restu dan doanya. Karena kunjungan tersebut mudah sekali mendapatkan sorotan media, kemudian viral. Namun di balik itu, Mbah Maimoen yang merupakan tokoh panutan masyarakat juga tidak jarang menerima kunjungan dari masyarakat bawah. Mereka datang dari berbagai daerah.

Terkait pelbagai macam jenis tamu tersebut, penulis teringat cerita KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Putra sulung KH Wahid Hasyim itu merupakan salah seorang tokoh yang banyak disambangi tamu setiap harinya. Tamu dari berbagai latar belakang semua diterima oleh Gus Dur. Suatu ketika, Gus Dur bercerita bahwa tamu yang datang kepadanya ada dari kalangan masyarakat kecil, menengah, dan atas. Ada juga dari kalangan politisi dan pejabat.

Mereka datang sowan kepada Gus Dur dengan berbagai maksud dan tujuan. Hebatnya, ketika rakyat kecil yang datang, mereka justru memberi. Gus Dur mengungkapkan, hal ini berbeda ketika para politisi yang datang. Mereka justru meminta.

“Kalau orang kecil yang datang, mereka pasti akan memberikan doa panjang umur, memudahkan kesulitan, dan lainnya. Tapi jika tokoh politik atau pejabat yang datang, mereka pasti meminta jabatan,” ucap Gus Dur.

Begitulah kenyataannya, keteduhan dan kesejukan yang memancar dari wajah Mbah Maimoen Zubair menjadi berkah tersendiri bagi masyarakat umum yang berkesempatan menyambangi Sarang. Keberkahan tersebut mendatangkan timbal balik berupa doa-doa dari masyarakat bawah itu. Tentu saja hal ini menjadi harapan masyarakat secara umum agar keberadaan Mbah Maimoen selalu menjadi penenteram dan penyejuk di tengah kekisruhan sosial dan konflik politik kepentingan.

Politik tanah air merupakan dunia yang tidak asing bagi Mbah Maimoen karena beliau sudah malang melintang dan makan asam garam di bidang tersebut. Namun, tentu saja bukan semata politik kepentingan, bukan pula politik kekuasaaan yang diperjuangkan Mbah Maimoen, melainkan kemaslahatan politik. Ini menunjukkan bahwa walaupun dirinya seorang ‘alim, tetapi tidak anti terhadap politik. Justru dinamika politik harus diisi oleh orang-orang yang baik dan benar, paham dan mengerti.

Politik bagi kiai yang saat ini menginjak usia 91 tahun tersebut bukan tujuan, tetapi hanya perantara untuk mencapai tujuan tersebut. Yakni tujuan menyejahterakan umat, memberikan rasa keadilan, kenyamanan, dan keamanan, serta memajukan negara dan bangsanya. Secara umum, Nahdlatul Ulama mempraktikkan politik kebangsaan, politik kerakyatan, politik yang menjunjung nilai-nilai dan etika.

Sudah lazim di negeri ini dalam setiap perhelatan pemilihan umum, baik pilkada, pileg, maupun pilpres, ulama besar menjadi tempat berkunjung meminta restu. Namun, Mbah Maimoen tidak ingin membeda-bedakan para tamu yang berkunjung ke kediamannya. Karena ulama-ulama kesohor yang pernah bertamu di rumahnya tak terhitung. Sebut saja Mufassir Muhammad Quraish Shihab, almarhum Habib Mundzir Al-Musawa (Pendiri Majelis Rasulullah), dan beberapa ulama-ulama mancanegara. Pertalian sanad tarekat memang menjadikan ulama-ulama tersebut berkunjung kepada Mbah Maimoen selain tentu menimba ilmu dari sang syaikhona.

Saat ini, bisa dikatakan bahwa Mbah Maimoen Zubair merupakan ulama yang komplet. Beliau cukup tersohor di antara ulama-ulama thariqah dunia. Pemandangan akrab dan hangat terlihat ketika Mbah Maimoen berbincang dengan para mufti dunia dalam kegiatan konferensi ulama internasional di Pekalongan pada 27-29 Juli 2016 lalu. Mereka berbincang menggunakan bahasa Arab, bahasa yang juga digunakan oleh Mbah Maimoen ketika kedatangan tamu ulama di rumahnya.

Kealiman Mbah Maimoen juga ditunjukkan oleh karya-karya kitab yang telah berhasil ia tulis. Beliau tercatat telah menulis sejumlah kitab di antaranya: Tuhfatul Ahbab, Nushushul Akhyar, Tarajim Masyayikh Al-Ma’ahid Ad-Diniyah bi Sarang Al-Qudama’, Al-Ulama’ Al-Mujaddidun, Kifayatul Ashhab, Maslakuk Tanasuk, Taqrirat Badil Amali, dan Taqrirat Mandzumah Jauharut Tauhid.

Meskipun usia boleh terbilang senja, namun penglihatan, suara, dan pembicaraannya masih lantang. Di saat orang-orang sebayanya memakai kaca mata tebal, beliau masih mampu membaca kitab dengan mata telanjang, tanpa kacamata. Tentu saja ingatannya pun masih sangat tajam. Termasuk membaca dan mengisahkan sejarah-sejarah masa lalu. Hal itu ditunjukkannya ketika penulis dan rombongan Anjangsana Islam Nusantara bermaksud menelusuri sanad dan jejaring keilmuan Islam di Nusantara melalui Mbah Maimoen. 

Mbah Maimoen masih terang dalam berujar dan penuh dengan humor dalam beberapa penuturan dan obrolannya. Siapa pun tamunya, yang tadinya agak sedikit kikuk seketika langsung mencair melihat senyum dan tawa Mbah Maimoen yang khas. 

Dalam persoalan menimba ilmu, Mbah Maimoen menyatakan bahwa ilmu itu harus didatangi oleh manusia, karena ia tidak mendatangi. Sebab itu, kedatangan rombongan Tim Anjangsana dengan maksud memperkokoh keilmuan merupakan langkah yang tepat. Apalagi sekaligus menelusuri sanadnya sehingga ilmu itu nyambung hingga ke pucuk sumber yang shahih, yaitu Nabi Muhammad.

“Al-ilmu yu'ta wa la ya'tii. Ilmu itu didatangi bukan mendatangi dirimu,” tutur Mbah Maimoen Zubair dengan penuh kehikmatan menerangkan kepada para tamu. Beliau mengumpamakan air di dalam sumur yang harus ditimba. “Sebagaimana kita menginginkan air di dalam sumur, kita harus menimbanya,” ujar Mbah Maimoen.

Tak hanya terkait dengan esensi ilmu yang manusia harus terus menerus menimba dan belajar, tetapi juga berbagai persoalan bangsa maupun penjelasan sejarah meluncur deras dari mulutnya sehingga para tamu nampak makin khidmat dalam menyimak paparan-paparan Mbah Maimoen.

Terkait dengan persoalan kebangsaan dan politik yang terus mengalami turbulensi, Mbah Maimoen berpesan agar tidak semua orang ikut larut dalam permasalahan sehingga melupakan tugas terdekatnya sebagai manusia. Hal ini akan berdampak pada ketidakseimbangan hidup dan kehidupan itu sendiri.

Mbah Maimoen juga berpesan kepada santri dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya untuk menjaga tali silaturrahim, utamanya kepada guru-guru dan kiai-kiai sepuh dalam menyikapi setiap persoalan bangsa maupun konflik yang sering terjadi di tubuh organisasi.


Penulis adalah anggota Tim Anjangsana Islam Nusantara 2017 Pascasarjana UNUSIA Jakarta; Redaktur NU Online
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG