::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Panas Jelang Pilpres, Ini Komentar Wapres Jusuf Kalla

Senin, 18 Februari 2019 17:30 Nasional

Bagikan

Panas Jelang Pilpres, Ini Komentar Wapres Jusuf Kalla
Wakil Presiden M Jusuf Kalla di acara NU
Jakarta, NU Online
Menjelang Pemilihan Umum 2019, suhu politik kian panas. Meski demikian, panasnya suasana mendekati Pemilu khususnya Pilpres sangat berbeda dengan di negara lain yang panas karena adu fisik. Di Indonesia panasnya hanya lantaran adu komentar, perang tagar, atau kritik tajam.

Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla saat diwawancarai presenter kondang Najwa Shihab dalam program Catatan Najwa yang tayang di kanal YouTube Najwa Shihab, Jumat (15/2).

“Mendekati 17 April pasti akan tambah panas. Saya kira ini wajar. Alhamdulillah kita di sini sedikit panas karena hanya perang komentar. Di semua Pemilu memang begitu,” kata JK.

Dibandingkan dengan lima tahun silam pada Pilpres 2014, lanjut JK, tentu berbeda. Suasana tidak terlalu panas sebab tidak ada petahana (incumbent). “Dua pasangan waktu itu baru semua. Artinya, tidak ada pihak yang diserang. Nah, sekarang ini ada petahana,” tandasnya.

Menurut pria kelahiran Makassar Sulsel ini, posisi capres petahana biasanya memaparkan prestasi pemerintahan yang dipimpinnya. Sedangkan sang penantang bakal mengkritik kebijakan tersebut sembari menawarkan strategi baru jika mendapat mandat dari rakyat.

“Jadi, memang ada perbedaan mendasar dalam kampanye Pilpres sekarang dibanding lima tahun lalu,” terang JK.

Saat ditanya Najwa tentang gaya petahana yang tampak mulai menyerang, Mustasyar PBNU ini mengatakan, Presiden Jokowi belajar dari kekalahan Hillary Clinton pada Pilpres AS yang lebih cenderung bertahan daripada menyerang. JK mengaku setuju gaya menyerang tersebut.

“Jadi, harus seimbang (antara bertahan dan menyerang). Selama ini petahana selalu diserang, karena memang konsekuensi pemerintah mendapat kritikan. Nah, semua kontestan baik petahana maupun penantang kan sama-sama ingin menang. Jadi, wajar saja sesekali menyerang,” jelasnya. 

Menurut Wapres 2004-2009 dan 2014-2019 ini, politik itu ibarat bermain badminton. Jika kita melakukan smash (menyerang) itu poin untuk kita. Namun jika terkena net, maka itu poin lawan. “Oleh karenanya, dalam politik pun pertahanan terbaik itu menyerang,” tandas JK. (Musthofa Asrori)