IMG-LOGO
Jelang Muktamar Ke-34 NU

Sejumlah Ulama Timteng Bakal Turut Meriahkan Munas-Konbes NU

Selasa 19 Februari 2019 18:30 WIB
Bagikan:
Sejumlah Ulama Timteng Bakal Turut Meriahkan Munas-Konbes NU
Ketua PBNU H Marsudi Syuhud berkunjung ke MNC Group
Jakarta, NU Online
Munas Alim Ulama-Konferensi Besar Nahdlatul Ulama dihelat sepekan lagi. Perhelatan tersebut digelar di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kujangsari, Banjar, Jawa Barat. Sejumlah Ulama Timur Tengah bakal turut memeriahkan Munas-Konbes NU.

Kabar tersebut disampaikan Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud saat berkunjung ke gedung MNC Group di i-News Tower lantai 4 Jalan Kebon Sirih Raya 17-19 Jakarta, Selasa (19/2) siang.

Menurut Kiai Marsudi, para pembicara internasional dari Timteng yang dijadwalkan hadir antara lain, Prof Dr Musthofa Zahran dari Al-Azhar Mesir. “Beliau akan berbagi pengalaman tentang Islam di sana. Juga melihat seperti apakah model Islam Indonesia menurut ulama Mesir. Sudah bisakah diterima sebagai rujukan untuk warga dunia apa belum,” terangnya.

Kedua, lanjut dia, Syekh Taufiq Ramadhan al-Buthi dari Syiria. Tokoh ini akan bercerita tentang negaranya yang kini hancur karena munculnya paham keagamaan menyimpang yang memicu perang saudara. “Selain itu, ada juga Habib Umar bin Hafidz dari Yaman. Beliau juga akan berbicara tentang tema yang sama,” papar Kiai Marsudi.

Dalam gelaran Munas-Konbes NU yang mengusung tema “Memperkuat Khidmah Wathoniyah untuk Kedaulatan Rakyat” nanti ada tiga sesi atau komisi Bahtsul Masail yang melahirkan hukum-hukum keagamaan. Pertama, mengenai isu kenegaraan. Kedua, soal lingkungan hidup. Ketiga, tentang sosial budaya.

Tiga momen itu, lanjut dia, akan dihadiri ribuan kiai. Oleh karena itu, PBNU mempersilakan media cetak dan elektronik yang tergabung dalam MNC Group turut meliput acara tersebut. “Intinya, kedatangan kami ke sini memberi ruang kawan-kawan yang tergabung dalam MNC Group untuk ikut memeriahkan Munas-Konbes di Kota Banjar pekan depan,” kata Kiai Marsudi.

Dalam pertemuan itu, Wakil Sekjen PBNU Ishfah Abidal Azis memaparkan sejumlah agenda yang akan dibahas pada perhelatan tertinggi kedua setelah Muktamar NU ini. “Rangkaian ini sebenarnya dimulai pada tanggal 24-26 Februari. Munas akan dibuka Presiden Jokowi pada 27/2 ba'da dhuhur. Setelah itu, silaturrahim para ulama dilanjutkan forum mustasyar,” ujarnya.

Kehadiran delegasi PBNU disambut para pejabat teras MNC Group. Antara lain Wijaya Kusuma Subroto (Direktur iNews), Rafael Utomo (CFO iNews), Yadi Hendriana (Pemred iNews), Atika Suri (Pemred RCTI), Rizal Yusacc (Pemred MNCTV), Apreyvita (Pemred GTV), dan Geong Rusdianto (Kadiv News Gathering Integrasi).

“Kami mendukung acara Munas-Konbes ini. Jika perlu, kami akan memasang iklan agar lebih meriah,” kata perwakilan MNC. Pertemuan hampir dua jam ini berlangsung santai dan gayeng. Kiai Marsudi sesekali melempar guyonan khas NU sehingga suasana cair sekaligus menyenangkan. (Musthofa Asrori)

Bagikan:
Selasa 19 Februari 2019 0:0 WIB
MUNAS-KONBES NU 2019
Nahdliyin Pangandaran Siap Sukseskan Munas NU
Nahdliyin Pangandaran Siap Sukseskan Munas NU
Semarak munas NU
Kota Banjar, NU Online
Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat KH Fauzan Aziz Muslim mengatakan bahwa nahdliyin di Kabupaten Pangandaran siap mensukseskan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU).

Hal tersebut dibuktikan dengan pemasangan ribuan bendera NU di berbagai titik di Kabupaten Pangandaran. Dalam pemasangannya melibatkan puluhan pemuda yang tergabung dalam Ansor dan Banser NU.

"Ansor dan Banser bersama-sama melakukan pemasangan Bendera," katanya kepada NU Online di Panngandaran, Senin (18/2).

Tidak hanya di persimpangan jalan raya, pemasangan bendera NU pun sampai dengan Bandara Nusawiru Pangandaran. 

Dirinya mengungkapkan, Bandara tersebut akan digunakan lending pesawat para Kiai yang akan menghadiri Munas dan Konbes NU di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo (PPMAC) Kota Banjar.

"Pemasangan bendera NU tidak hanya sepanjang jalan di Pangandaran namun kita pasang juga sampai Bandara," ungkapnya.

Dikatakan, pemasangan bendera NU di Pangandaran merupakan salah satu bentuk tanggung jawab guna menggelorakan nuansa Munas NU tidak hanya di PPMAC Kota Banjar. "Kami merasa terpanggil dan bagian dari tanggung jawab sukses Munas NU," tuturnya.

Selain itu, dirinya juga menegaskan bahwa ribuan nahdliyin baik yang struktural maupun kultural sudah mengkonfirmasi akan menghadiri pembukaan Munas dan Konbes NU.

"Ribuan nahdliyin Pangandaran siap hadir dalm pembukan Munas NU, dan itu sudah di konfirmasi," tegasnya.

Munas dan Konbes NU yang akan berlangsung di PPMAC Kota Banjar pada tanggal 27 Februari sampai dengan 1 Maret 2019 mengusung tema Memperkuat Ukhuwah Wathoniyah untuk Kedaulatan Rakyat dan dibuka oleh Presiden Joko Widodo. (Wahyu Akanam/Muiz)
Senin 18 Februari 2019 19:45 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Bahtsul Masail NU: Baiq Nuril adalah Korban Kekerasan Seksual
Bahtsul Masail NU: Baiq Nuril adalah Korban Kekerasan Seksual
Baiq Nuril Antara

Jakarta, NU Online

Pimpinan sidang Komisi Qonuniyah bahtsul masail Pra-Munas PBNU KH Syafruddin Syarif mengatakan bahwa yang dialami oleh Baiq Nuril, seorang mantan pegawai honorer SMA Negeri 7 Mataram adalah pelecehan seksual.

“Yang dialami Baiq Nuril adalah termasuk kekerasan seksual juga. Kekerasan seksual tidak hanya perilaku tapi juga perkataan,” kata KH Syafruddin Syarif pada NU Online di Pondok Pesantren Alhasaniyah.

Oleh karena itu, tidak sepatutnya Baiq Nuril justru dijebloskan ke dalam tahanan dan didenda Rp 500 juta. “Semestinya para hakim tanggap, dan mengerti apalagi dia ada rekaman. Sebab tujuan Baiq Nuril merekam itu adalah sebagai bahan untuk pembelaannya,” ujar dia.

Tapi, alih-alih mendapat pembelaan, Baiq Nuril, divonis bersalah oleh Mahkamah Agung atas dakwaan melanggar Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.

Kasus Baiq Nuril merupakan salah satu kasus yang mendorong lahirnya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. Semangat ini lahir dari kekosongan peraturan yang membela Baiq Nuril selaku korban dalam kasus pelecehan seksual.

PBNU, melalui hasil Pra-Munas turut mendorong RUU ini karena sesuai dengan semangat Islam Rahmatan Lil Alamin. Walau begitu dukungan ini bukan tanpa perdebatan. Hal yang diperdebatkan adalah status pemaksaan nikah yang dilakukan Wali Mujbir atau wali perempuan yang diperbolehkan ‘memaksa’ kawin dalam hukum Islam. 

Menurut sebagian peserta musyawarah, status wali mujbir ini perlu dirinci secara lebih jauh sehingga bisa menemukan jembatan antara hukum positif dan hukum Islam.

Selanjutnya catatan bahtsul masail pra-Munas NU ini, nantinya dibawa ke Munas NU yang diselenggarakan pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019 di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. (Ahmad Rozali)

Senin 18 Februari 2019 19:15 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Bagaimana Islam Memperlakuan Pelaku Prostitusi
Bagaimana Islam Memperlakuan Pelaku Prostitusi

Jakarta, NU Online

Di antara perdebatan panjang dalam bahtsul masail pra-munas NU adalah pertanyaan; apakah diperbolehkan untuk menolak keberadaan para pelaku prostitusi itu di desa mereka atau membully mereka atau tidak memperlakukan mereka seperti yang lain?

“Para ulama berpendapat bahwa dalam membully itu tidak boleh. Karena Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar menutupi kesalahan orang lain. Tetapi masyarakat boleh untuk menolak keberadaan pelaku yang tidak jera dengan perbuatannya. Pelaku perzinahan apalagi yang jual atau germonya,” kata KH Syafruddin Syarif pimpinan bahtsul masail Komisi Qonuniyah di Pondok Pesantren Alhasaniyah tangerang akhir pekan lalu.

Alasannya ada dua; yang pertama agar kemaksiatan yang dilakukan tidak menular pada anggota masyarakat yang lain. Yang kedua, supaya ‘sukhtullah’, kebencian allah yang berupa azab itu tidak diturunkan di tempat itu. Karena perzinaan itu sangat mudah menarik murkanya Allah berupa azab.

Namun para musyawirin membedakan perlakukan pada para pekerja seks komersial. “Para wanita atau pria yang diprostitusi atau diperdagangkan ini kami menganggap lebih karena adanya keterpaksaan dalam melakukan itu,” kata KH Syafruddin Syarif.

Oleh karena itu, menurut pengurus PWNU Jawa Timur ini, perlakuan pada PSK harus dibedakan dari yang lain. “Mereka perlu mendapat rehabilitasi dari pemerintah. Jadi ada rehabilitasi, pembinaan, keterampilan dan modal,” katanya.

Dengan diberikan modal berupa keterampilan, pembianaan dan permodalan diharapkan mereka tidak perlu melakukan pekerjaan deikian hina untuk mencukupi kehidupannya.

Selanjutnya catatan bahtsul masail pra-Munas NU ini nantinya akan dibawa ke Munas NU untuk dimusyawarahkan kembali. Munas NU akan diselenggarakan pada 27 Februari hingga 1 Maret 2019 di Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat. (Ahmad Rozali)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG