IMG-LOGO
Daerah

Bupati Berpesan Kontingen Pergamanas Asal Brebes Pantang Menyerah

Selasa 19 Februari 2019 22:30 WIB
Bagikan:
Bupati Berpesan Kontingen Pergamanas Asal Brebes Pantang Menyerah
Pelepasan peserta pergamanas asal Brebes, Jateng
Brebes, NU Online
Bupati Brebes Hj Idza Priyanti melalui Wakil Bupati Brebes Narjo berpesan agar para peserta tetap semangat dan pantang menyerah dalam mengikuti berbagai rangkaian kegiatan di Perkemahan Penggalang Ma'arif Nasional (Pergamanas) II yang berlangsung di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta. 

Hal itu disampaikan Bupati saat melepas 71 peserta Pergamanas II asal Brebes di Gedung  Nahdlatul Ulama (NU) Brebes, Senin (18/2) malam.

"Raih manfaat sebanyak-banyaknya, jangan mudah menyerah dalam menghadapi tantangan yang sulit. Kegiatan ini guna menempa pribadi menjadi kader bangsa yang tanggap dan tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan di masyarakat, serta siap sebagai calon pemimpin handal di masa depan," jelasnya.

Dalam sambutan tertulis Bupati Brebes yang dibacakan Wakil Bupati, merasa bangga dengan semangat yang berkobar di jiwa adik-adik penggalang. "Semoga segala persiapan baik fisik, mental, perbekalan maupun penguasaan teknis disiapkan dengan prima. Sehingga ketika berkancah di Cibubur bisa melaksanakan rangkaian kegiatan dengan hasil maksimal," harap Idza.

Pergamanas, kata Idza, merupakan kegiatan yang sangat strategis untuk menanamkan nilai-nilai dan semangat Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) bagi generasi muda NU.

"Kakak yakin, peserta Pergamanas II adalah generasi muda yang tengah haus akan informasi dan pengetahuan serta tengah mencari jati diri yang sejati, lewat Pergamanas itulah bisa didapat berbagai pengetahuan dan informasi serta penempaan jatidiri," urainya.

Menurut Idza, ajang ini bisa menjadi benteng bagi generasi muda agar tidak mudah terhasut oleh pemikiran maupun tindakan yang melanggar norma agama.  "Saya berharap perkemahan tingkat nasional dapat menumbuhkan suasana kebersamaan, rasa senasib sepenanggungan dalam menghadapi tantangan zaman," harapnya.

Ketua PC LP Maarif NU H Robihun melaporkan, Kontingen Pergamanas II merupakan kontingen terbanyak se Jawa Tengah. "Sebanyak 71 peserta terbagi dalam 9 regu, dan menjadi peserta terbanyak se Jawa Tengah," ungkap Robihun.

Dikatakan, pembiayaan pengiriman kontingen dilakukan secara gotong royong dari para orang tua peserta. Tidak ada bantuan dari Pemkab maupun pihak lain. "Ternyata kemandirian sangat mengasyikkan dan menjadi berkah," tuturnya.

Pelepasan ditandai dengan penyerahan bendera kontingen dan pemakaian baret dan topi peserta oleh Wakil Bupati Brebes Narjo.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Kepala Sekretariat Kwarcab 11.29 Brebes Munawir, Pimpinan Sako Maarif NU Brebes Sayidin dan undangan lainnya. (Wasdiun/Muiz)
Bagikan:
Selasa 19 Februari 2019 23:30 WIB
Ziarah ke Pendiri NU Jadi Spirit Jalankan Organisasi
Ziarah ke Pendiri NU Jadi Spirit Jalankan Organisasi
IPNU-IPPU Girimarto, Wonogiri, Jawa Tengah
Wonogiri, NU Online
Pengasuh Pesantren Gani Tirtoasri, Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah  KH Royani Idris merupakan salah satu putra almarhum KH Muhammad Idris berpesan kepada anak muda NU agar dirutinkan melakukan ziarah kepada muassis NU khususnya di Wonogiri.

"Karena ziarah ke pendiri NU bisa menimbulkan semangat dan spirit meneruskan dan merawat perjuangan para ulama dan kiai merawat dan menjalankan organisasi NU di Kabupaten Wonogiri," ujarnya, Ahad (17/2).

Hal itu disampaikan KH Royani Idris saat menerima rombongan wisata ziarah IPNU-IPPNU Girimarto, Wonogiri di Pesantren Gani Tirtoasri. "Tugas awal sebuah organisasi adalah menumbuhkan rasa cinta anggota kepada organisasi, bagaimana caranya pengurus meyakinkan anggota agar organisasi dianggap sebagai pacar yang setiap saat selalu terfikirkan terus,” ujar Kiai Royani.

Mengawali serangkaian kegiatan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri (IPPNU) dan Harlah IPNU-IPPNU, Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Girimarto, Wonogiri, Jawa Tengah mengadakan Ziarah Pelajar.

Kegiatan yang diikuti oleh 22 anggota IPNU-IPPNU Girimarto dengan tujuan makam Ki Ageng Hisyamuddin berlokasi di Gunung Malang, Kismantoro, dan makam pendiri NU KHM Idris di Pesantren Gani Tirtoasri, Tirtomoyo  Kabupaten Wonogiri. 

Selepas ziarah, kegiatan dilanjutkan dengan silahturahim dan sarasehan pelajar dengan PAC IPNU IPPNU Kismantoro di gedung Sekretariat NU Kismantoro.

Sebagaimana rilis yang diterima NU Online, Ketua PAC IPNU Kismantoro Faiz menyambut baik gagasan pra konferancab IPNU-IPPNU Girimarto dengan menggelar ziarah yang diteruskan dengan silaturrahim. “Semoga kegiatan silahturahim ini bisa kita budayakan dalam ranah IPNU-IPPNU di Wonogiri untuk mempererat tali persahabatan,” ujarnya.

Ketua PAC IPNU Girimarto Sulistyo Adi P kepada NU Online, Selasa (19/2) menyampaikan bahwa kegiatan ziarah dan silaturrahim bertujuan untuk menguatkan aqidah, melestarikan tradisi, dan mengharap ridlo para kiai. "Semoga segala proses dalam mengabdi di IPNU-IPPNU mendapat berkah dan manfaat, tambah kuatnya niat belajar, berjuang serta bertaqwa,” pungkasnya. (Red: Muiz)

Selasa 19 Februari 2019 21:30 WIB
Ketua PMII Komisariat Untan Terpilih Bertekad Majukan Organisasi
Ketua PMII Komisariat Untan Terpilih Bertekad Majukan Organisasi
Syahril Hidayat, Ketua Komisariat PMII Untan, Pontianak.
Pontianak, NU Online
Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Universitas Tanjungpura atau Untan, Pontianak, Kalimantan Barat mengadakan rapat tahunan sekaligus pemilihan ketua baru, Senin (18/2). Kegiatan berlangsung di aula Magister Ilmu Sosial dan Ilmu Politik kampus setempat.

Perjalanan Rapat Tahunan Komisariat (RTK) tersebut berjalan lancar dan mendaulat Syahril Hidayat menjadi ketua baru masa khidmat 2019-2020.

Syahril terharu dan senang karena bisa terpilih menjadi ketua komisariat Untan, ia menyampaikan, bahwa cita-citanya memang ingin menjadi pimpinan organisasi. "Saya merasa haru sekaligus senang, karena dari sini saya bisa mewujudkan cita-cita yang memang dari awal ingin menjadi pimpinan organisasi,” katanya.

Semenjak ikut PMII, Syahril sudah menyimpan niatnya dari awal untuk menjadi pemimpin di organisasi yang diikutinya. Dan sebelum pencalonan dimulai pun, dirinya sudah menyiapkan dari awal untuk bisa terpilih menjadi ketua. “Karena niat saya ingin mengabdi di PMII dari melalui visi dan misi,” ungkapnya.

Hal yang sudah disiapkan adalah membangun kader PMII menjadi pribadi Muslim yang berkomitmen. “Juga berintelektual, berwawasan ke-indonesiaan dan berlandaskan ideologi Islam Ahlussunnah wal Jamaah,” jelasnya.

Sedangkan misi yang diangkatnya yaitu reformasi kaderisasi dan administrasi. “Juga berperan aktif dan berpartisipasi dalam dinamika kehidupan di kampus dan di masyarakat sesuai tujuan PMII,” katanya. Sedangkan berikutnya adalah menjalankan dan meningkatkan program kerja, serta meningkatkan budaya silaturahim antar anggota dan kader, lanjutnya.

Dirinya berharap terhadap kader PMII yang ada. “Yakni untuk aktif di berbagai bidang internal kampus dan eksternal kampus juga bisa menjaga amanah untuk kepengurusan,” pungkasnya. (Rokib/Ibnu Nawawi)

Selasa 19 Februari 2019 20:30 WIB
Guru Besar Malaysia Prihatin Punahnya Bahasa Baku di Kalimantan
Guru Besar Malaysia Prihatin Punahnya Bahasa Baku di Kalimantan
James T Collins bersama sejumlah peserta lokakarya.
Pontianak, NU Online
Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah (FUAD) Institut Agama Islam Negeri atau IAIN Pontianak, Kalimantan Barat bekerja sama dengan Institut Alam dan Tamadun Melayu Universiti Kebangsaan Malaysia. 

Yang dilakukan adalah penelitian tentang Pulau Kalimantan atau Borneo dengan menghadirkan James T Collins sebagai pembicara pada lokakarya dengan tema Penelitian Borneo, Senin (18/2).

Acara dihadiri jajaran dosen Program Studi Psikologi Islam FUAD dan jajarannya bersama anggota club menulis IAIN Pontianak sebagai media pengetahuan yang baru dan sumber rujukan penelitian. 

James T Collins mengatakan bahwa kekayaan bahasa, budaya, etnis dan keindahan Sungai Borneo yang terbentang dari ujung ke ujung. “Hal itu membuat banyak peneliti ilmuan orientalis  datang ke Kalimantan Barat untuk meneliti. Jurnal serta hasil penelitian zaman dahulu tentang Borneo banyak dikemas dengan beragam bahasa,” urai guru besar ini. 

Sejak tahun 1773 orang belanda diterima di Pontianak, dan hingga tahun 2007 dikupas tuntasnya. “Buku tentang bahasa suatu suku di Kalimantan Barat, cerita rakyat yang diterbitkan di Belanda mendapatkan apresiasi  dan diminati pembaca,” ungkapnya.

“Dari sekian banyak penelitian yang saya lakukan, bisa disimpulkan penggunaan bahasa ibu atau bahasa dari suku sendiri kini mulai punah. Sebab orang tua dan anak kini sudah lebih banyak menggunakan bahasa Indonesia ketimbang bahasa suku sendiri,” ujarnya. (Linawati/Maulida/Ibnu Nawawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG