IMG-LOGO
Esai

Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (2): Petruk dan Durno Berdebat Soal “Sifat Manusia”

Kamis 21 Februari 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi  (2): Petruk dan Durno  Berdebat Soal “Sifat Manusia”
Oleh Ali Makhrus 

Selanjutnya, ketika Guru Durno merasa kelabakan dengan tanya jawab soal iman, lantas Petruk mengkritik sikap yang ditampilkan oleh Guru Durno yang sudah kehilangan jati diri sebagai orang Jawa (Indonesia) akibat pengaruh dari kebudayaan luar. Durno digambarkan orang yang suka berpakaian jubah serta bawa tasbih kesana kemari, hanya untuk penampilan, namun keropos. Petruk keras mengatakan, bahwa sekarang banyak orang beragama Islam, namun sangat disayangkan mereka menghilangkan jati diri bangsa asal mereka, yang memiliki tradisi dan identitas luhur.

Sekarang giliran Petruk balik bertanya kepada Guru Durno. Petruk bertanya seputar fenomena sosial masyarakat sekarang yang sudah menurun kualitas hidupnya. Lantas terjadi dialog antara mereka.

Petruk: “Sekarang, saya balik bertanya kepada panjenengan, yang katanya mashur sebagai kiai yang menguasai banyak ilmu pengetahuan,  Triguna itu maksudnya apa?”, tanya petruk.

Durno: “Piye?” Durno tanya balik.

Petruk: “Triguna itu apa?“ tegas Petruk.

Durno: “Gampang itu, Triguna itu artinya tri itu tiga, Guna itu berguna, berarti Triguna itu tiga perkara yang berguna bagi manusia”, jawab Durno.

Petruk: “Iya, maksudnya apa Triguna itu? dari tadi tiga terus aja jawabannya, tidak ada bahasa lain apa?" sanggah Petruk.

Durno: “Ya emboh, ndak tahu!” jawabnya ngeles.

Petruk: “Loh, kayak begituan saja tidak bisa, anda hendak menyalahkan guru Anoman yang akan mengkaji Ilmu Sangkan Paraning Dumadi”.

Durno: “Ayo kalau anda memang tahu, apa itu Triguna?”, pinta Durno.

Petruk: “Anda kasih tebakan atau berguru?”

Durno: “Saya kasih tebakan kepada kamu?”

Petruk: “Ok, saya tidak tahu, sekarang saya tanya, apa itu maksud dari Triguna?” goda Petruk.

Durno: “Baiklah, saya berguru kepada anda!”

Petruk: “ Jika anda berguru kepada saya, apa tidak salah dan malu, saya hanya orang biasa, padahal anda adalah seorang kiai yang dikenal luas, berpangkat, kaya raya?”

Durno: “Wow, asem tenan! Dasar, menyusahkan saja jadi orang. Ya sudah, sekarang saya mengaku bahwa saya tidak tahu!”, gerutu Durno.

Petruk: “Baiklah, sebelumnya saya minta maaf. Jadi Triguna maksudnya adalah pengaruh pikiran. Pengaruh pikiran itu ada tiga, yakni Satwam, Rajas dan Tamas. Pertama adalah Satwam kebaikan. Karenanya, jika menjadi seorang kiai atau orang biasa harus suka berbicara baik serta saling menasihati satu sama lain tentang kebaikan. Janganlah jadi orang yang suka iri, dengki dan jahil. Boleh bersaing, asal sehat. Kedua adalah Rajas, artinya berani. Maksudnya adalah berani dalam persoalan kebenaran disertai perhitungan yang matang, tidak asal berani. Kalau berani saja, tidak ada hubungannya dengan persoalan kebenaran dan perhitungan, itu jadinya celaka! Ketiga adalah Tamas. Maksudnya itu malas, bodoh. Artinya orang bodoh mengaku pintar. Makanya, sekarang orang alim itu habis karena kemunculan orang bodoh yang mengaku pintar. Sementara, saat dijadikan pimpinan malah tidak karuan jadinya”.

Triguna tersebut juga merupakan salah satu konsep dalam agama hindu yang menjelas tentang sifat dasar dalam diri manusia. Nilai-nilai ini merupakan ajaran yang ada dalam Bhagawad Gita. Yakni, kisah Arjuna yang masih bimbang dalam melaksanakan perang Baratayuda, sehingga Sri Krisna membeberkan dan menjelaskan sifat-sifat lumrah manusia, yakni Satwam, Rajas, dan Tamas.

Berbeda lagi dengan Ibnu Sina. Dia menggambarkan dengan konsep al-quwwah nabatiyah, al-nafs al-hayawaniah, dan al-nafs al-nathiqah dan masih banyak lagi konsep-konsep tersebut dari para pemikir Islam. Namun demikian, konsep dalam pewayangan Jawa justru lebih akrab dengan tradisi Hindu. Dan ini merupakan salah bentuk dialog nilai yang saling melengkapi.

Dialog kedua ini memberikan pelajaran agar manusia saling mengingatkan satu sama lain. Potensi berbuat baik dan buruk merupakan bawaan lahir manusia. Oleh karena itu, jelas dalam surat al-Ashr, “manusia kebanyakan merugi, hanya mereka orang-orang beriman dan beramal saleh serta saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran yang tidak terjerumus dalam kenistaan”. (Bersambung)

Baca bagian sebelumnya: Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (1): Petruk dan Durno Berdebat Iman


Penulis adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta









Bagikan:
Kamis 21 Februari 2019 21:30 WIB
Ketimpangan Ekonomi, Tantangan Presiden Selanjutnya
Ketimpangan Ekonomi, Tantangan Presiden Selanjutnya
(ILLUSTRATION: DURANTELALLERA/SHUTTERSTOCK)

Ahmad Rozali


Dalam perdebatan Calon Presiden beberapa waktu lalu dua kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Joko Widodo, sama menyoal masalah ketimpangan ekonomi dan kepemilikan lahan. Prabowo mengatakan "salah satu masalah mendasar dalam perekonomian Indonesia, adalah disparitas, di mana segelintir orang kurang dari satu persen menguasai lebih setengah kekayaan kita". Jokowi juga mengiayakan dengan mencontohkan penguasaan lahan Prabowo yang cukup besar "220 ribu hektar di Kaltim dan 120 ribu hektar di Aceh Tengah". 

Terlepas dari konteks politiknya, perdebatan ini menarik karena relevansinya begitu tinggi dengan kondisi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan sejak tahun 1976 hingga 2018, tren ketimpangan ekonomi di tanah air cenderung meningkat. Laporan ini dipertajam oleh temuan World Bank pada tahun 2015 yang menunjukkan bahwa sekalipun sejak tahun 2000  pertumbuhan ekonomi terjadi sangat pesat, pertumbuhan tersebut lebih banyak dinikmati oleh 20 persen masyarakat terkaya saja. 

Melacak penyebab ketimpangan

Mengapa ketimpangan ekonomi terjadi demikian tinggi di Indonesia? Mantan menteri keuangan Muhamad Chatib Basri (2018), menganalisa dan mengumpulkan beberapa hal yang diduga menjadi penyebab peningkatan ketimpangan di Indonesia, yakni: 

  1. Peningkatan penggunaan teknologi yang membutuhkan keahlian khusus yang sayangnya hanya dimiliki oleh sedikit tenaga kerja Indonesia;
  2. Pengaruh UU ketenagakerjaan, seperti penetapan upah minimum, yang satu sisi bisa meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi di sisi lain akan meningkatkan angka pengangguran, karena perusahaan ingin meringankan beban upah pekerja yang dilakukan dengan mengurangi jumlah pekerja
  3. Kemudahan mengakses pasar uang yang hanya dapat dimanfaatkan oleh  kelompok kaya dan pada akhirnya hanya  menguntungkan kelompok ini saja;
  4. Peningkatan harga komoditas utama seperti batu bara yang keuntungannya cuma dirasakan kelompok ekonomi teratas;
  5. Ketimpangan akses pada pendidikan, kesehatan, pelayanan financial dan infrastruktur;
  6. Kualitas infrastruktur yang buruk;
  7. Meningkatnya populasi penduduk berusia tua dalam demografi Indonesia; 
  8. Pengaruh korupsi yang hanya dinikmati oleh kelompok terkaya di Indonesia.

Jika disederhanakan kira-kira bunyinya begini; peningkatan ketimpangan disebabkan oleh karena peningkatan kesejahteraan masyarakat berpendapatan tinggi melesat jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan kesejahteraan yang dinikmati oleh masyarakat kelompok pendapatan rendah. 

Kesimpulan itu didukung Data Survey Sosial Ekonomi Nasional sepanjang tahun 1990 hingga 2017 yang menunjukkan pertumbuhan konsumsi 10 persen kelompok terkaya meningkat 47 persen lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi 1 persen kelompok termiskin. Hal itu menunjukkan ‘kue’ ekonomi lebih banyak dinikmati oleh kelompok terkaya. 

Menurut Direktur Smeru Research Institute, Asep Suryahadi, peningkatan ketimpangan ekonomi di Indonesia dalam kurun 20 tahun belakangan ini merupakan dampak dari pembangunan struktural yang yang lebih banyak dinikmati oleh kelompok ekonomi teratas. Kesimpulan tersebut lahir dari studi dekomposisi peningkatan ketimpangan tahun 1992 hingga 2011. Menurutnya sebesar 84 persen peningkatan ketimpangan di Indonesia pada periode ini dipengaruhi oleh empat faktor struktural, yakni  ketimpangan capaian pendidikan, pergeseran sektor ekonomi dominan dari pertanian menjadi jasa, semakin banyak orang yang tinggal di perkotaan, dan ketidakmerataan kesempatan bekerja di sektor formal.

Konsekuensi dan solusi

Sebagai konsekuensi, ketimpangan ekonomi ini setidaknya melahirkan tiga hal buruk: Pertama peningkatan ketimpangan dalam kurun waktu tertentu akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kedua, Ia juga dapat mengurangi kemampuan pertumbuhan ekonomi dalam menurunkan angka kemiskinan. Ketiga, ketimpangan juga dapat menyeret kita pada permasalahan sosial yang tinggi. Yang terakhir ini berarti jurang pendapatan dan kekayaan yang semakin lebar berpotensi melahirkan ketegangan sosial dan ketidakrukunan yang bisa menjadi ‘bahan bakar’ konflik sosial. 

Mengingat peningkatan ketimpangan diprediksikan masih akan terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan, Asep menekankan perlunya percepatan proses transformasi sosial untuk mencapai tingkat ketimpangan yang rendah dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan pelayanan pendidikan, peningkatan pembangunan perindustrian, memfasilitasi  formalisasi aktivitas-aktivitas ekonomi dan pengembangan kesempatan ekonomi di desa untuk mengurangi disparitas dengan kota. 

Untuk itu, siapapun yang akan terpilih menjadi Presiden setelah pemilu 2019 harus memperhatikan masalah ketimpangan ini. Sebab sebagaimana prediksi di atas, trennya kemungkinan akan mengalami peningkatan. Sehingga apa bila tidak diantisipasi dengan pendekatan program yang tepat sasaran dikhawatirkan akan menimbulkan konflik sosial dalam skala besar. 


Redaktur NU Online 


Rabu 20 Februari 2019 4:0 WIB
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (1): Petruk dan Durno Berdebat Iman
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (1): Petruk dan Durno Berdebat Iman
Ilustrasi: goodnewsfromindonesia.id
Oleh Ali Makhrus 

Dalam dunia pewayangan, kita mengenal empat sosok punokawan yang terdiri dari; Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Empat tokoh tersebut paling familiar di telinga masyarakat. Keempat sosok Punakawan tersebut memiliki peran imajiner yang berbeda satu sama lain. Acapkali, keempat pamomong bangsawan Pandawa ini oleh kebanyakan dalang sering dijadikan ‘lakon’ dalam tema cerita tertentu.

Di sisi lain, Petruk dan kawan-kawan sering diidentikkan sebagai orang biasa yang sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual. Hanya saja, mereka ditampilkan dengan karakter kocak dan bahkan koplak sekaligus. Khusus Petruk, sosoknya mencapai popularitas puncak saat dia menjadi ratu. Pencapaian terakhir ini, sering dibuat analog oleh para politisi dengan kesan underestimate kepada pimpinan yang lahir dari kalangan rakyat jelata.

Pada kesempatan kali ini, peran Petruk ialah sebagai duta (utusan) dari Kiai Semar dan Ratu Anoman. Kedua Guru ini sedang bersatu-padu mendirikan majlis taklim dan padepokan pendidikan bagi rakyat dan generasi yang kualitas ketuhanan dan kemanusiaannya telah terdegradasi atau menceng kiblate (bengkok arahnya). Sehingga, Petruk menganggap perlu menghadap kepada Prabu Kresno Sinayeng Mandelung penguasa Ndorowati guna memohon restu dan doa. 

Pada saat pisowanan, ada Guru Durno, pemilik yayasan Sukolimo dan Prabu Bolodewo, penguasa Manduroko yang sedang kasak-kusuk merespon gerakan Kiai Semar dan Anoman. Semenjak keberadaan majelis atau pondok pesantren Semar dan Anoman, banyak rakyat dan siswa dari Sukolimo, Manduroko dan Ndworowati berbondong-bondong ngangsu kaweruh di tempat Semar dan Anoman. Sehingga, Guru Durno dan Ratu Bolodewo merasa dilecehkan, dan hendak membubarkan kegiatan Piwulang Suci, ilmu sangkan paraning dumadi tersebut.

Petruk dan Anoman sebagai murid Kiai Semar bertanggung jawab dan siap berdebat dengan Guru Durno sebelum melaksanakan niat pembubaran menuju padepokan Klampis Ireng. Karena, Durno meragukan keilmuan Semar dan Anoman, dipandang perlu Durno menguji wawasan pendiri yayasan Klampis Ireng. Terjadi dialog antara Pandito Durno dan Petruk versi bahasa Indonesia. tema kali ini adalah Pawugerane Iman (patokan iman).

Durno : “Patokan iman itu apa?” dengan nada sinis.

Petruk: “Byoh-byoh, patokan iman, apa ya, tidak tahu tuh ?!” tanya Petruk seolah-olah penasaran dan berpura-pura bodoh.

Durno: Howalah, Truk, Petruk, begitu saja tidak tahu. gitu ngaku sebagai murid Kiai Semar, murid Anoman, persoalan begitu saja tidak tahu!” ejek guru Durno. “Ini loh saya guru, Durno yang tahu, hanya Guru Durno yang tahu. Apa Semar dan Anoman itu. Mereka tidak lebih pintar dari saya,” sambungnya ketus kepada Petruk.

Petruk: “Oh, begitu! Apakah anda tahu, wahai guru Durno yang terkenal sakti dan luas ilmunya…?” Petruk tanya balik.

Durno: “Patokan iman ada tiga, Truk! disebut dengan tri kerangka,” jelas Durno merasa di atas angin.

Petruk: “La, terus tiga kerangka itu apa maksudnya?” tegas Petruk minta penjelasan.

Durno: “Pokoke, tri itu tiga, kerangka itu kerangka!” jawab Durno ngeles dan gelagapan memberikan penjelasan.

Petruk: “Iya, maksudnya apa, tri itu tiga, kerangka itu ya kerangka. Dari tadi kok itu saja jawabanya. Bilang saja kalau tidak tahu, tidak usah malu dan tidak usah sok tahu,” sergah Petruk mendesak Durno.

Durno: “Loh, emang kamu tahu, kalau tahu apa dan coba jelaskan?” tanyanya jengkel.

Petruk: “Kalau saya jelas tahu, saya kan muridnya Semar dan Anoman. Tri itu artinya tiga, kerangka artinya wadah. Tri kerangka itu pertama adalah yakin dan ma’rifat kepada Dzat Yang Maha Kuasa, istilah Jowone Tat Twa. Tat Twa yang artinya mengerti tatanan yang mulia.

Kedua adalah susilo alias sopan lan santun. Susilo itu terbagi ke dalam catur guru alias empat guru: guru swadiyaya, guru wasesa, guru rupoko dan guru bakti (ngaji). Guru swadiyaya maksudnya adalah berbakti kepada yang Maha Kuasa lewat agama masing-masing. Semua agama itu baik. Dan yang buruk itu bukan agamanya, namun pelakunya. Makanya, agama tidak boleh dijadikan kedok harta dunia. Kedua guru wasesa artinya, berbakti kepada Negara atau pemerintah. Guru rupoko maksudnya berbakti kepada kedua orang tua sebagai pengukir jiwa dan raga. Makanya, anak tidak boleh sedikit pun durhaka kepada orang tua. Guru bakti itu artinya berbakti kepada semua guru yang telah memberikan piwulang suci meskipun sekelas guru TPQ. 

Ketiga, taqarrub kepada Tuhan. Taqarrub atau dekat Tuhan itu mawacara dan mawasarana sesuai ajaran agama masing-masing.

Konteks narasi cerita di atas, penulis menyoroti peristilahan catur guru yang dibeberkan oleh Petruk. Catur itu empat. Guru itu guru. Ada empat guru yang harus dimengerti dan diberi bakti oleh manusia, agar tumbuh kesopanan dan kesantunan dalam diri manusia.

Guru pertama ialah swadhiyaya, maksudnya berbakti kepada Sang Pencipta. Bisa jadi ini, bagian dari ajaran memahami asal-usul penciptaan manusia yang awalnya dari sesuatu rendahan, yakni tanah, kemudian berevolusi ke sesuatu yang menjijikkan, yakni persatuan air mani dan sel telur. Proses tersebut berlangsung hingga berwujud manusia. Hanya saja, manusia lantas congkak kepada Tuhan. Sebagaimana tersurat dalam Qur’an Surat Yasin ayat 77, yang artinya: “Apakah manusia tidak mengetahui, bahwa sungguh aku menciptakannya dari nuthfah, kemudian secara tiba-tiba, dia berubah menjadi sosok penggugat (suka membantah) yang nyata”.

Guru kedua adalah wasesa. Maksudnya berbakti kepada pemerintah atau ulil amri. Bagaimanapun, pemerintah merupakan pelaksana amanah rakyat. Oleh karena itu, ketaatan dan kebaktian kepada pemimpin negara adalah niscaya, dengan begitu manusia sadar bahwa pemimpin juga merupakan wakil Allah dan Rasulullah. Sebagaimana dalam sebuah ayat surat al-Nisa’ ayat 59, yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan para pemilik urusan (pemimpin)”.

Guru ketiga adalah rupoko, maksudnya manusia juga harus berbakti kepada kedua orang tua. Sebab, mereka adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan jadi perantara manusia lahir ke dunia. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya, “ridla Allah seirama ridla orang tua, murka Allah juga senada murka orang tua” (HR. al-Tirmidzi). Ini menandakan betapa orang tua memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, ada yang bilang, “orang tua adalah tuhan yang kelihatan”.

Guru keempat ialah bakti (pengajian), maksudnya manusia harus hormat kepada orang-orang yang telah memberikan wawasan dan ilmu dalam semua bidang dan sekecil-kecilnya. Karena, tanpa bantuan mereka manusia bisa terperosok dalam jurang ketiadaan ilmu pengetahuan dan kebodohan. Sayyidina Ali kw pernah berkata yang artinya, “Menurut pendapatku, bahwa hak seorang guru harus lebih diindahkan melebihi seluruh hak, dan lebih wajib dijaga bagi setiap muslim. Sehingga sangat layaklah sebagai tanda memuliakan guru; andaikata dia diberi 1000 dirham karena mengajar satu huruf pun”

Konsep catur guru ini merupakan salah satu doktrin dalam agama Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dalam salah satu buku pegangan guru bagi anak-anak Sekolah Dasar kelas 5 agama Hindu terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2014 dengan judul “Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti”. Sebagaimana buku yang penulis peroleh versi pdf., nilai-nilai universal tersebut patut pula direnungkan oleh umat lain atas nama persaudaraan universal. Dalam dunia wayang, dialog nilai lintas agama sangatlah kental terasa, sebagaimana cerita di atas. Semoga harmoni ini terus langgeng. Salam Wayang! (Bersambung)


Penulis adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif HIdayatullah Jakarta
Ahad 17 Februari 2019 14:30 WIB
Ilhan Omar, Muslimah yang Memulai Gelombang Kritik Israel di Amerika Serikat
Ilhan Omar, Muslimah yang Memulai Gelombang Kritik Israel di Amerika Serikat
Foto: Saul Loeb/AFP/Getty Images
Oleh Adam Ganesa Damasky

Terpilihnya Ilhan Omar (36) sebagai anggota Kongres Amerika Serikat (AS) yang ke-116 membuktikan bahwa adanya kesempatan bagi perwakilan warga Muslim yang berada di AS untuk berkarir di dunia politik. Hal ini merupakan hal yang menarik karena mereka merupakan pionir bagi perwakilan wanita Islam dalam Kongres AS.

Berasal dari latar belakang sebagai imigran dari Somalia turut berpengaruh pula bagi arah pandang politiknya. Omar lantang menyuarakan pandangan yang cenderung berbeda dengan Presiden AS Donald Trump terkait persoalan Islam, imigran, Zionisme, dan intervensi Asing.

Semenjak terpilihnya Omar sebagai anggota Kongres, dia aktif melakukan kritik terhadap pemerintah Israel. Dia menuduh pemerintah Israel sebagai pemerintah yang Apartheid (Rasis). Dia juga menyatakan bahwa tindakan yang mereka lakukan di Gaza merupakan  kekejaman. Selain itu, Omar  menyerukan agar dilakukan gerakan BDS (Boikot, Divestasi, dan Sanksi) bagi rezim Israel. Gerakan ini pernah dilakukan di masa lalu oleh berbagai negara untuk menentang rezim Afrika Selatan yang diskriminatif.

Pandangannya tersebut tentu bukanlah pandangan yang populer bagi AS yang sangat dekat dengan Israel. Atas pernyataannya tersebut, Omar mendapatkan kecaman. Tidak hanya di akun media sosial pribadinya, tapi juga di beberapa media massa.

Baru-baru ini pada 11 Februari melalui akun Twitternya, Omar menulis tentang kuatnya kepentingan Benjamin Netanyahu (Perdana Menteri Israel) pada kebebasan berbicara di AS yang mengakibatkan pada kuatnya pelarangan kritik terhadap pemerintah Israel di publik AS. Masih pada kesempatan yang sama, Omar menulis tanggapan bahwa yang membiayai politisi AS untuk terus mendukung Israel adalah AIPAC. AIPAC (American Israel Public Affairs Committee) adalah kelompok lobby yang memperjuangkan kebijakan pro-Israel pada Kongres dan lembaga eksekutif AS.

Rangkaian postingan tersebut kemudian menjadi perbincangan yang terus-menerus bergulir hingga menjadi polemik di publik AS. Kelompok yang kontra dengan pernyataan Omar mengaitkan bahwa ucapannya bersifat anti-semitisme (anti-semit) dan rasis. Baik petinggi partai Demokrat (diantaranya Nancy Pelosi, Steny Hyer, James E. Clyburn, Ben Ray Luyan, Hakeem Jeffries, dan Katherine Clark) maupun dari partai Republik (Kevin Mc Carthy) sama-sama mengecam Omar. Mereka menyatakan tidak akan diam terhadap pernyataan Omar tersebut.

Di lain pihak, banyak juga kelompok yang mendukung pernyataan Omar tentang kuatnya pengaruh Israel -kelompok lobi AIPAC- dalam politik AS. Ssebuah artikel dari The Intercept Selasa (12/2), menyatakan bahwa kritik terhadap AIPAC dan Israel merupakan hal yang tabu dilakukan di AS dan Omar telah memecahkan ketabuan tersebut. Sementara sebuah artikel dari The Nation, Selasa (12/2), menyatakan bahwa apa yang Omar katakan tentang pengaruh AIPAC bagi politik AS adalah nyata.

Menariknya, organisasi pemuda Yahudi progresif seperti Jew Voice for Peace dan If Not Now juga menyatakan akan terus mendukung Omar atas keberaniannya menyuarakan kritik terhadap Israel dan AIPAC.

AIPAC didirikan di Amerika pada1951, sebelumnya bernama American Zionist Committee for Public Affair. AIPAC dalam dinamikanya memiliki pengaruh yang sangat kuat bagi pengambilan kebijakan pemerintah AS untuk menjadi sangat pro-Israel, terutama dalam masalah kebijakan luar negerinya. Seperti kelompok lobi pemerintahan pada umumnya, AIPAC mempengaruhi arah politik AS melalui pendanaan kampanye, pemberitaan melalui media, dan pendekatan kepada politisi AS. AIPAC merupakan salah satu kelompok yang kuat seperti halnya kelompok lobi senjata api dan perusahaan minyak.

Kelompok yang menuduh Ilhan Omar bisa saja adalah mereka yang gagal memisahkan antara apa yang disebut kelompok lobi politik dan mana yang termasuk kelompok etnis (semitik). Dapat dipastikan mereka tidak mampu melihat poin pernyataan Omar tentang kuatnya pengaruh AIPAC bagi AS. Kecaman yang kuat dari petinggi pejabat AS menunjukkan betapa kuatnya pengaruh Israel dalam politik Internal AS, kritik terhadap organisasi AIPAC ataupun Israel akan sangat sulit dilakukan.

Tuduhan anti-semit ini juga sangat mudah dilontarkan kepada Omar karena sikap kritisnya terhadap pemerintah Israel dalam pernyataan-pernyataan sebelumnya dalam kongres dan melalui akun sosial media-nya. Sikap kritis Omar itu tentu dianggap sangat berpotensi mengancam kepentingan Israel di AS.

Atas berbagai kritik terhadap pernyataan Omar, terlebih adanya tekanan dari partai Demokrat -partai dimana Omar bernaung-dan pemimpin House of Representative, secara cepat tanggap Omar langsung menyampaikan pernyataan maafnya:

"Anti-Semitisme adalah hal yang nyata, dan saya berterima kasih pada sahabat Yahudi yang mengajari saya tentang sejarah kelam dan tindakan anti semitisme. Tujuan saya bukan untuk menentang Yahudi Amerika secara keseluruhan. Kita harus siap menerima kritik. Oleh karena itu saya menyatakan permintaan maaf," kata Omar.

"Dalam kesempatan yang sama, saya menegaskan kembali adanya masalah dari kelompok lobi dalam politik di Amerika, entah itu dari AIPAC, NRA, ataupun industri minyak. Hal ini sudah terjadi sejak lama dan perlu dilakukan pembenahan.”

Adanya permintaan maaf tersebut tidak menggoyahkan sikap kritis Omar atas sikap kritisnya. Dia sangat yakin bahwa dirinya tidak menyinggung tuduhan terhadap ras tertentu. Dia menegaskan bahwa mengkritik AIPAC bukanlah tindakan yang anti-semitisme, sama halnya seperti melakukan kritik terhadap asosiasi senjata api dan industri minyak.

Walaupun ditekan oleh berbagai pihak, tetapi kritik Omar tersebut berhasil menjadi pemicu perdebatan dan gelombang kritik akan kuatnya pengaruh Israel dalam politik AS. Bukan tidak mungkin gelombang kritik tersebut akan membuka banyak mata publik AS terhadap arah politik negara Israel yang sesungguhnya.

Penulis adalah alumni Universitas Pertahanan
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG