IMG-LOGO
Esai

Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (3 Habis):Shalat 5 Waktu dan Adab Laki Perempuan

Jumat 22 Februari 2019 3:0 WIB
Bagikan:
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (3 Habis):Shalat 5 Waktu dan Adab Laki Perempuan
Oleh Ali Makhrus 

Dialog guru Durno dan Petruk semakin memanas. Selain, karena Durno kalah debat dan tanya soal ilmu iman, ilmu triguna yang tidak dimengerti oleh
Durno. Durno semakin malu, tidak terima, lantas dia mengajukan pertanyaan.

Durno: “Hayo Petruk, sekarang saya yang bertanya. Apa yang saya bawa?” pintanya emosi.

Petruk: “Tasbih, bukan?

Durno: “Ada berapa jumlahnya?”

Petruk: “Jumlahnya ada 120!”

Durno: “Kalau saya buang separo, sisa berapa?”

Petruk: “Sisa 60 biji!”

Durno: “Ke-60 itu kemana?”

Petruk: “30 ke dewa, 30 ke wuku!”

Durno: “60 biji saya buang 10, sisa berapa?”

Petruk: “Sisa sepuluh!”

Durno: “Yang 50, kemana?”

Petruk: “30 ke aksara Arab, 20 ke aksara Jawa, betul atau tidak?”

Durno: “Iya, memang benar”.

Ternyata, apa yang ditanyakan ke Petruk berhasil terjawab dengan tepat. Durno semakin jengkel. Kemudian, Petruk kembali bertanya kepada Guru

Durno tentang keharusan sebagai seorang muslim sehari semalam. Dengan dialog sebagai berikut:

Petruk: “Sekarang, saya bertanya sekali lagi. Guru Durno, anda sering membawa tasbih, kopiah, jubah dalam setiap penampilan, apa agama yang Anda anut?”

Durno: “Saya menganut agama Islam!”

Petruk: “Baik, lantas Anda menganut agama Islam, ada berapa kali orang Islam menjalankan kewajiban ritual kepada Tuhan sehari semalam?”

Durno: “Lima kali dalam sehari semalam!”

Petruk: “Kapan saja waktunya?”

Durno: “Pertama itu maghrib, kedua isya’, ketiga subuh, keempat dhuhur dan kelima ashar!”

Petruk: “Baiklah, saya balik bertanya lagi. Adanya shalat waktu di waktu maghrib, lantas maghrib itu maksudnya apa? pengertiannya ada dimana? Petunjuknya apa? Sastranya apa? Nabinya siapa? Ada berapa rakaat?"

Durno: “Ya emboh, pokoknya aku tidak nabi-nabian, pokoknya yang lain merunduk, aku merunduk, yang lain sujud, saya ikut sujud, kebutuhanku yang
penting jidatku ngapal dan biar kelihatan hitam, begitu!”

Petruk: “Loh, berarti shalat Anda itu tidak beres!?”

Durno: “Ya wes ben, shalat saya seperti robohnya pisang!”

Petruk: “Loh, seorang kiai shalat asal robohnya pisang. Kalau kiai seperti itu berarti anda mencelakakan orang lain, tapi Anda tidak merasa!”

Durno: “Loh, apa Anda tahu, maghrib itu maksudnya apa? Pengertiannya ada dimana? Petunjuknya apa? Sastranya apa? Nabinya siapa? Ada berapa rakaat?”

Petruk: “Nyuwun sewu, Anda kasih tebakan atau bertanya?”

Durno: “Ya, kali ini saya bertanya sedikit saja,” bisiknya lirih ke telinga Petruk.

Petruk: “Kalau ini tebakan, tidak apa-apa. Hanya saja kalau tidak ada taruhannya kurang seru?”

Durno: “Memang kamu butuh uang berapa?”

Petruk: “Tidak mau, buat apa uang? Bagi Petruk uang tidak penting! begini saja, bagi yang kalah diludahi bagaimana?”

Durno: “Baiklah, kalau memang Anda tahu!” jawabnya jengkel.

Petruk: “Maghrib itu adalah ngauripi (menghidupi)”

Durno: “Pengertian maghrib ada dimana?”

Petruk: “Ada di punggung.”

Durno: “Petunjuk maghrib hari apa?”

Petruk: “Hari senin!”

Durno: “Apa sastra maghrib?”.

Petruk: “Lam!”

Durno: “Nabi maghrib siapa?”

Petruk: "Baginda Nabi Nuh."

Durno: “Ada berapa rakaat?”

Petruk: “Ada tiga rakaat.”

Durno: “Loh, Anda bisa mengatakan maghrib ada tiga, menetapnya ada dimana?”

Petruk: “Ada di ahadiyah, wahdah dan wahidiyah!”

Durno: “Baiklah, sekarang yang kedua, kalau shalat isya, bagaimana!” tanyanya lagi.

Petruk: “Waktu isya’ adalah demang (langgeng/sentosa)”

Durno: “Pengertian isya ada dimana?”

Petruk: “Ada di otak.”

Durno: “Petunjuk isya’ hari apa?”

Petruk: “Hari Kamis!”

Durno: “Apa sastra isya?”

Petruk: “Nun!”

Durno: “Nabi isya siapa?”

Petruk: "Baginda Nabi Isa."

Durno: “Isya’ ada berapa rakaat?”

Petruk: “Ada empat rakaat.”

Durno: “Loh, Anda bisa mengatakan isya ada empat rakaat, menetapnya apa?

Petruk: “Rasa wadi, madi, mani dan maningkem!”

Durno: “Anda bisa mengatakan ada rasa madi, wadi, mani dan maningkem, maksudnya apa biar hati puas?”

Petruk: “Rasa wadi, madi, mani dan maningkem itu berkaitan dengan hubungan antar suami istri, akan melewati rasa madi. Pertama rasa wadi adalah ketika berhubungan suami istri pertama melewati rasa wadi atau malu! Artinya ketika dua insan hendak berhubungan suami istri baiknya di tempat yang tertutup, tidak serta merta halal lantas ugal-ugalan di pinggir jalan. Kemudian kedua rasa madi artinya rasa samar dan khawatir. Khawatir tentang bagaimana kelanjutan kehidupan ekonomi, anak, dst. Ketiga adalah mani artinya rasa enak. Maksudnya adalah ketika suami istri terjadi proses keluarnya itu merupakan kenikmatan yang biasa dirasakan. Keempat adalah rasa maningkem (urip). Artinya, manusia itu harus punya rasa hidup.

Durno: “Iya, baiklah! Sekarang yang ketiga?”

Petruk: “Subuh, maksudnya sawiji tan kena kawoworan. Pengertiannya ada di ngalam tumpak, maksudnya ngalam itu cahaya, tumpak itu pusar, petunjuknya hari Jumat, sastranya Kaf, nabinya baginda Adam as, jumlahnya dua rakaat berupa zat dan sifat! Keempat, waktu dhuhur, maksudnya cahyo, pengertiannya ada di salam, sebelum salam adalah jasad, petunjuknya adalah hari Rabu, sastranya alif, nabinnya baginda Musa as, ada empat rakaat berupa wujud ilmu nur syuhud. Kelima, adalah ashar, maksudnya ma’rifat, petunjuknya qalbu, sebelum qalbu itu fuad, sebelum fuad itu jasad, sebelum jasad itu rasa, sebelum rasa itu puji, tan kena dipegat tan keno diucap, sudah tersimpan di alam samiyat atau sama.

Durno: “Iya, iya, iya saya mengerti!”

Petruk: “Ohya, yang salah tebak-tebakan diludahi kan! juhh, juuhh, juuh! Klomoh pora kowe!?”

Durno: “Aduh biyung, aduh biyung!”

Melalui dialog terakhir ini, kita dapat memperoleh suatu nilai luhur perihal shalat lima waktu yang tidak banyak diketahui orang. Shalat tidak hanya persoalan legal-formal sebuah perintah agama, namun ada nilai historis dan filosofis yang patut direnungkan oleh setiap orang Muslim, dan itu diamanatkan kepada sang Nabi terakhir, Muhammad SAW dan umatnya. Selain itu, pada dialog ketiga ini, kita juga diingatkan perihal jalinan laki-laki dan perempuan yang beradab dan beretika.
Baca bagian sebelumnya: Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (2): Petruk dan Durno Berdebat Soal “Sifat Manusia”

Wallahu a’lamu bis shawab... 


Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Bagikan:
Kamis 21 Februari 2019 21:30 WIB
Ketimpangan Ekonomi, Tantangan Presiden Selanjutnya
Ketimpangan Ekonomi, Tantangan Presiden Selanjutnya
(ILLUSTRATION: DURANTELALLERA/SHUTTERSTOCK)

Ahmad Rozali


Dalam perdebatan Calon Presiden beberapa waktu lalu dua kandidat presiden, Prabowo Subianto dan Joko Widodo, sama menyoal masalah ketimpangan ekonomi dan kepemilikan lahan. Prabowo mengatakan "salah satu masalah mendasar dalam perekonomian Indonesia, adalah disparitas, di mana segelintir orang kurang dari satu persen menguasai lebih setengah kekayaan kita". Jokowi juga mengiayakan dengan mencontohkan penguasaan lahan Prabowo yang cukup besar "220 ribu hektar di Kaltim dan 120 ribu hektar di Aceh Tengah". 

Terlepas dari konteks politiknya, perdebatan ini menarik karena relevansinya begitu tinggi dengan kondisi di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik Indonesia menunjukkan sejak tahun 1976 hingga 2018, tren ketimpangan ekonomi di tanah air cenderung meningkat. Laporan ini dipertajam oleh temuan World Bank pada tahun 2015 yang menunjukkan bahwa sekalipun sejak tahun 2000  pertumbuhan ekonomi terjadi sangat pesat, pertumbuhan tersebut lebih banyak dinikmati oleh 20 persen masyarakat terkaya saja. 

Melacak penyebab ketimpangan

Mengapa ketimpangan ekonomi terjadi demikian tinggi di Indonesia? Mantan menteri keuangan Muhamad Chatib Basri (2018), menganalisa dan mengumpulkan beberapa hal yang diduga menjadi penyebab peningkatan ketimpangan di Indonesia, yakni: 

  1. Peningkatan penggunaan teknologi yang membutuhkan keahlian khusus yang sayangnya hanya dimiliki oleh sedikit tenaga kerja Indonesia;
  2. Pengaruh UU ketenagakerjaan, seperti penetapan upah minimum, yang satu sisi bisa meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi di sisi lain akan meningkatkan angka pengangguran, karena perusahaan ingin meringankan beban upah pekerja yang dilakukan dengan mengurangi jumlah pekerja
  3. Kemudahan mengakses pasar uang yang hanya dapat dimanfaatkan oleh  kelompok kaya dan pada akhirnya hanya  menguntungkan kelompok ini saja;
  4. Peningkatan harga komoditas utama seperti batu bara yang keuntungannya cuma dirasakan kelompok ekonomi teratas;
  5. Ketimpangan akses pada pendidikan, kesehatan, pelayanan financial dan infrastruktur;
  6. Kualitas infrastruktur yang buruk;
  7. Meningkatnya populasi penduduk berusia tua dalam demografi Indonesia; 
  8. Pengaruh korupsi yang hanya dinikmati oleh kelompok terkaya di Indonesia.

Jika disederhanakan kira-kira bunyinya begini; peningkatan ketimpangan disebabkan oleh karena peningkatan kesejahteraan masyarakat berpendapatan tinggi melesat jauh lebih cepat dibandingkan peningkatan kesejahteraan yang dinikmati oleh masyarakat kelompok pendapatan rendah. 

Kesimpulan itu didukung Data Survey Sosial Ekonomi Nasional sepanjang tahun 1990 hingga 2017 yang menunjukkan pertumbuhan konsumsi 10 persen kelompok terkaya meningkat 47 persen lebih tinggi dari pertumbuhan konsumsi 1 persen kelompok termiskin. Hal itu menunjukkan ‘kue’ ekonomi lebih banyak dinikmati oleh kelompok terkaya. 

Menurut Direktur Smeru Research Institute, Asep Suryahadi, peningkatan ketimpangan ekonomi di Indonesia dalam kurun 20 tahun belakangan ini merupakan dampak dari pembangunan struktural yang yang lebih banyak dinikmati oleh kelompok ekonomi teratas. Kesimpulan tersebut lahir dari studi dekomposisi peningkatan ketimpangan tahun 1992 hingga 2011. Menurutnya sebesar 84 persen peningkatan ketimpangan di Indonesia pada periode ini dipengaruhi oleh empat faktor struktural, yakni  ketimpangan capaian pendidikan, pergeseran sektor ekonomi dominan dari pertanian menjadi jasa, semakin banyak orang yang tinggal di perkotaan, dan ketidakmerataan kesempatan bekerja di sektor formal.

Konsekuensi dan solusi

Sebagai konsekuensi, ketimpangan ekonomi ini setidaknya melahirkan tiga hal buruk: Pertama peningkatan ketimpangan dalam kurun waktu tertentu akan memperlambat pertumbuhan ekonomi. Kedua, Ia juga dapat mengurangi kemampuan pertumbuhan ekonomi dalam menurunkan angka kemiskinan. Ketiga, ketimpangan juga dapat menyeret kita pada permasalahan sosial yang tinggi. Yang terakhir ini berarti jurang pendapatan dan kekayaan yang semakin lebar berpotensi melahirkan ketegangan sosial dan ketidakrukunan yang bisa menjadi ‘bahan bakar’ konflik sosial. 

Mengingat peningkatan ketimpangan diprediksikan masih akan terus terjadi dalam beberapa waktu ke depan, Asep menekankan perlunya percepatan proses transformasi sosial untuk mencapai tingkat ketimpangan yang rendah dengan pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan pelayanan pendidikan, peningkatan pembangunan perindustrian, memfasilitasi  formalisasi aktivitas-aktivitas ekonomi dan pengembangan kesempatan ekonomi di desa untuk mengurangi disparitas dengan kota. 

Untuk itu, siapapun yang akan terpilih menjadi Presiden setelah pemilu 2019 harus memperhatikan masalah ketimpangan ini. Sebab sebagaimana prediksi di atas, trennya kemungkinan akan mengalami peningkatan. Sehingga apa bila tidak diantisipasi dengan pendekatan program yang tepat sasaran dikhawatirkan akan menimbulkan konflik sosial dalam skala besar. 


Redaktur NU Online 


Kamis 21 Februari 2019 3:0 WIB
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (2): Petruk dan Durno Berdebat Soal “Sifat Manusia”
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi  (2): Petruk dan Durno  Berdebat Soal “Sifat Manusia”
Oleh Ali Makhrus 

Selanjutnya, ketika Guru Durno merasa kelabakan dengan tanya jawab soal iman, lantas Petruk mengkritik sikap yang ditampilkan oleh Guru Durno yang sudah kehilangan jati diri sebagai orang Jawa (Indonesia) akibat pengaruh dari kebudayaan luar. Durno digambarkan orang yang suka berpakaian jubah serta bawa tasbih kesana kemari, hanya untuk penampilan, namun keropos. Petruk keras mengatakan, bahwa sekarang banyak orang beragama Islam, namun sangat disayangkan mereka menghilangkan jati diri bangsa asal mereka, yang memiliki tradisi dan identitas luhur.

Sekarang giliran Petruk balik bertanya kepada Guru Durno. Petruk bertanya seputar fenomena sosial masyarakat sekarang yang sudah menurun kualitas hidupnya. Lantas terjadi dialog antara mereka.

Petruk: “Sekarang, saya balik bertanya kepada panjenengan, yang katanya mashur sebagai kiai yang menguasai banyak ilmu pengetahuan,  Triguna itu maksudnya apa?”, tanya petruk.

Durno: “Piye?” Durno tanya balik.

Petruk: “Triguna itu apa?“ tegas Petruk.

Durno: “Gampang itu, Triguna itu artinya tri itu tiga, Guna itu berguna, berarti Triguna itu tiga perkara yang berguna bagi manusia”, jawab Durno.

Petruk: “Iya, maksudnya apa Triguna itu? dari tadi tiga terus aja jawabannya, tidak ada bahasa lain apa?" sanggah Petruk.

Durno: “Ya emboh, ndak tahu!” jawabnya ngeles.

Petruk: “Loh, kayak begituan saja tidak bisa, anda hendak menyalahkan guru Anoman yang akan mengkaji Ilmu Sangkan Paraning Dumadi”.

Durno: “Ayo kalau anda memang tahu, apa itu Triguna?”, pinta Durno.

Petruk: “Anda kasih tebakan atau berguru?”

Durno: “Saya kasih tebakan kepada kamu?”

Petruk: “Ok, saya tidak tahu, sekarang saya tanya, apa itu maksud dari Triguna?” goda Petruk.

Durno: “Baiklah, saya berguru kepada anda!”

Petruk: “ Jika anda berguru kepada saya, apa tidak salah dan malu, saya hanya orang biasa, padahal anda adalah seorang kiai yang dikenal luas, berpangkat, kaya raya?”

Durno: “Wow, asem tenan! Dasar, menyusahkan saja jadi orang. Ya sudah, sekarang saya mengaku bahwa saya tidak tahu!”, gerutu Durno.

Petruk: “Baiklah, sebelumnya saya minta maaf. Jadi Triguna maksudnya adalah pengaruh pikiran. Pengaruh pikiran itu ada tiga, yakni Satwam, Rajas dan Tamas. Pertama adalah Satwam kebaikan. Karenanya, jika menjadi seorang kiai atau orang biasa harus suka berbicara baik serta saling menasihati satu sama lain tentang kebaikan. Janganlah jadi orang yang suka iri, dengki dan jahil. Boleh bersaing, asal sehat. Kedua adalah Rajas, artinya berani. Maksudnya adalah berani dalam persoalan kebenaran disertai perhitungan yang matang, tidak asal berani. Kalau berani saja, tidak ada hubungannya dengan persoalan kebenaran dan perhitungan, itu jadinya celaka! Ketiga adalah Tamas. Maksudnya itu malas, bodoh. Artinya orang bodoh mengaku pintar. Makanya, sekarang orang alim itu habis karena kemunculan orang bodoh yang mengaku pintar. Sementara, saat dijadikan pimpinan malah tidak karuan jadinya”.

Triguna tersebut juga merupakan salah satu konsep dalam agama hindu yang menjelas tentang sifat dasar dalam diri manusia. Nilai-nilai ini merupakan ajaran yang ada dalam Bhagawad Gita. Yakni, kisah Arjuna yang masih bimbang dalam melaksanakan perang Baratayuda, sehingga Sri Krisna membeberkan dan menjelaskan sifat-sifat lumrah manusia, yakni Satwam, Rajas, dan Tamas.

Berbeda lagi dengan Ibnu Sina. Dia menggambarkan dengan konsep al-quwwah nabatiyah, al-nafs al-hayawaniah, dan al-nafs al-nathiqah dan masih banyak lagi konsep-konsep tersebut dari para pemikir Islam. Namun demikian, konsep dalam pewayangan Jawa justru lebih akrab dengan tradisi Hindu. Dan ini merupakan salah bentuk dialog nilai yang saling melengkapi.

Dialog kedua ini memberikan pelajaran agar manusia saling mengingatkan satu sama lain. Potensi berbuat baik dan buruk merupakan bawaan lahir manusia. Oleh karena itu, jelas dalam surat al-Ashr, “manusia kebanyakan merugi, hanya mereka orang-orang beriman dan beramal saleh serta saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran yang tidak terjerumus dalam kenistaan”. (Bersambung)

Baca bagian sebelumnya: Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (1): Petruk dan Durno Berdebat Iman


Penulis adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta









Rabu 20 Februari 2019 4:0 WIB
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (1): Petruk dan Durno Berdebat Iman
Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (1): Petruk dan Durno Berdebat Iman
Ilustrasi: goodnewsfromindonesia.id
Oleh Ali Makhrus 

Dalam dunia pewayangan, kita mengenal empat sosok punokawan yang terdiri dari; Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Empat tokoh tersebut paling familiar di telinga masyarakat. Keempat sosok Punakawan tersebut memiliki peran imajiner yang berbeda satu sama lain. Acapkali, keempat pamomong bangsawan Pandawa ini oleh kebanyakan dalang sering dijadikan ‘lakon’ dalam tema cerita tertentu.

Di sisi lain, Petruk dan kawan-kawan sering diidentikkan sebagai orang biasa yang sudah mencapai tingkat kesadaran spiritual. Hanya saja, mereka ditampilkan dengan karakter kocak dan bahkan koplak sekaligus. Khusus Petruk, sosoknya mencapai popularitas puncak saat dia menjadi ratu. Pencapaian terakhir ini, sering dibuat analog oleh para politisi dengan kesan underestimate kepada pimpinan yang lahir dari kalangan rakyat jelata.

Pada kesempatan kali ini, peran Petruk ialah sebagai duta (utusan) dari Kiai Semar dan Ratu Anoman. Kedua Guru ini sedang bersatu-padu mendirikan majlis taklim dan padepokan pendidikan bagi rakyat dan generasi yang kualitas ketuhanan dan kemanusiaannya telah terdegradasi atau menceng kiblate (bengkok arahnya). Sehingga, Petruk menganggap perlu menghadap kepada Prabu Kresno Sinayeng Mandelung penguasa Ndorowati guna memohon restu dan doa. 

Pada saat pisowanan, ada Guru Durno, pemilik yayasan Sukolimo dan Prabu Bolodewo, penguasa Manduroko yang sedang kasak-kusuk merespon gerakan Kiai Semar dan Anoman. Semenjak keberadaan majelis atau pondok pesantren Semar dan Anoman, banyak rakyat dan siswa dari Sukolimo, Manduroko dan Ndworowati berbondong-bondong ngangsu kaweruh di tempat Semar dan Anoman. Sehingga, Guru Durno dan Ratu Bolodewo merasa dilecehkan, dan hendak membubarkan kegiatan Piwulang Suci, ilmu sangkan paraning dumadi tersebut.

Petruk dan Anoman sebagai murid Kiai Semar bertanggung jawab dan siap berdebat dengan Guru Durno sebelum melaksanakan niat pembubaran menuju padepokan Klampis Ireng. Karena, Durno meragukan keilmuan Semar dan Anoman, dipandang perlu Durno menguji wawasan pendiri yayasan Klampis Ireng. Terjadi dialog antara Pandito Durno dan Petruk versi bahasa Indonesia. tema kali ini adalah Pawugerane Iman (patokan iman).

Durno : “Patokan iman itu apa?” dengan nada sinis.

Petruk: “Byoh-byoh, patokan iman, apa ya, tidak tahu tuh ?!” tanya Petruk seolah-olah penasaran dan berpura-pura bodoh.

Durno: Howalah, Truk, Petruk, begitu saja tidak tahu. gitu ngaku sebagai murid Kiai Semar, murid Anoman, persoalan begitu saja tidak tahu!” ejek guru Durno. “Ini loh saya guru, Durno yang tahu, hanya Guru Durno yang tahu. Apa Semar dan Anoman itu. Mereka tidak lebih pintar dari saya,” sambungnya ketus kepada Petruk.

Petruk: “Oh, begitu! Apakah anda tahu, wahai guru Durno yang terkenal sakti dan luas ilmunya…?” Petruk tanya balik.

Durno: “Patokan iman ada tiga, Truk! disebut dengan tri kerangka,” jelas Durno merasa di atas angin.

Petruk: “La, terus tiga kerangka itu apa maksudnya?” tegas Petruk minta penjelasan.

Durno: “Pokoke, tri itu tiga, kerangka itu kerangka!” jawab Durno ngeles dan gelagapan memberikan penjelasan.

Petruk: “Iya, maksudnya apa, tri itu tiga, kerangka itu ya kerangka. Dari tadi kok itu saja jawabanya. Bilang saja kalau tidak tahu, tidak usah malu dan tidak usah sok tahu,” sergah Petruk mendesak Durno.

Durno: “Loh, emang kamu tahu, kalau tahu apa dan coba jelaskan?” tanyanya jengkel.

Petruk: “Kalau saya jelas tahu, saya kan muridnya Semar dan Anoman. Tri itu artinya tiga, kerangka artinya wadah. Tri kerangka itu pertama adalah yakin dan ma’rifat kepada Dzat Yang Maha Kuasa, istilah Jowone Tat Twa. Tat Twa yang artinya mengerti tatanan yang mulia.

Kedua adalah susilo alias sopan lan santun. Susilo itu terbagi ke dalam catur guru alias empat guru: guru swadiyaya, guru wasesa, guru rupoko dan guru bakti (ngaji). Guru swadiyaya maksudnya adalah berbakti kepada yang Maha Kuasa lewat agama masing-masing. Semua agama itu baik. Dan yang buruk itu bukan agamanya, namun pelakunya. Makanya, agama tidak boleh dijadikan kedok harta dunia. Kedua guru wasesa artinya, berbakti kepada Negara atau pemerintah. Guru rupoko maksudnya berbakti kepada kedua orang tua sebagai pengukir jiwa dan raga. Makanya, anak tidak boleh sedikit pun durhaka kepada orang tua. Guru bakti itu artinya berbakti kepada semua guru yang telah memberikan piwulang suci meskipun sekelas guru TPQ. 

Ketiga, taqarrub kepada Tuhan. Taqarrub atau dekat Tuhan itu mawacara dan mawasarana sesuai ajaran agama masing-masing.

Konteks narasi cerita di atas, penulis menyoroti peristilahan catur guru yang dibeberkan oleh Petruk. Catur itu empat. Guru itu guru. Ada empat guru yang harus dimengerti dan diberi bakti oleh manusia, agar tumbuh kesopanan dan kesantunan dalam diri manusia.

Guru pertama ialah swadhiyaya, maksudnya berbakti kepada Sang Pencipta. Bisa jadi ini, bagian dari ajaran memahami asal-usul penciptaan manusia yang awalnya dari sesuatu rendahan, yakni tanah, kemudian berevolusi ke sesuatu yang menjijikkan, yakni persatuan air mani dan sel telur. Proses tersebut berlangsung hingga berwujud manusia. Hanya saja, manusia lantas congkak kepada Tuhan. Sebagaimana tersurat dalam Qur’an Surat Yasin ayat 77, yang artinya: “Apakah manusia tidak mengetahui, bahwa sungguh aku menciptakannya dari nuthfah, kemudian secara tiba-tiba, dia berubah menjadi sosok penggugat (suka membantah) yang nyata”.

Guru kedua adalah wasesa. Maksudnya berbakti kepada pemerintah atau ulil amri. Bagaimanapun, pemerintah merupakan pelaksana amanah rakyat. Oleh karena itu, ketaatan dan kebaktian kepada pemimpin negara adalah niscaya, dengan begitu manusia sadar bahwa pemimpin juga merupakan wakil Allah dan Rasulullah. Sebagaimana dalam sebuah ayat surat al-Nisa’ ayat 59, yang artinya, “wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan para pemilik urusan (pemimpin)”.

Guru ketiga adalah rupoko, maksudnya manusia juga harus berbakti kepada kedua orang tua. Sebab, mereka adalah orang yang ditunjuk oleh Tuhan jadi perantara manusia lahir ke dunia. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang artinya, “ridla Allah seirama ridla orang tua, murka Allah juga senada murka orang tua” (HR. al-Tirmidzi). Ini menandakan betapa orang tua memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Bahkan, ada yang bilang, “orang tua adalah tuhan yang kelihatan”.

Guru keempat ialah bakti (pengajian), maksudnya manusia harus hormat kepada orang-orang yang telah memberikan wawasan dan ilmu dalam semua bidang dan sekecil-kecilnya. Karena, tanpa bantuan mereka manusia bisa terperosok dalam jurang ketiadaan ilmu pengetahuan dan kebodohan. Sayyidina Ali kw pernah berkata yang artinya, “Menurut pendapatku, bahwa hak seorang guru harus lebih diindahkan melebihi seluruh hak, dan lebih wajib dijaga bagi setiap muslim. Sehingga sangat layaklah sebagai tanda memuliakan guru; andaikata dia diberi 1000 dirham karena mengajar satu huruf pun”

Konsep catur guru ini merupakan salah satu doktrin dalam agama Hindu. Hal tersebut dapat dilihat dalam salah satu buku pegangan guru bagi anak-anak Sekolah Dasar kelas 5 agama Hindu terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) tahun 2014 dengan judul “Pendidikan Agama Hindu dan Budi Pekerti”. Sebagaimana buku yang penulis peroleh versi pdf., nilai-nilai universal tersebut patut pula direnungkan oleh umat lain atas nama persaudaraan universal. Dalam dunia wayang, dialog nilai lintas agama sangatlah kental terasa, sebagaimana cerita di atas. Semoga harmoni ini terus langgeng. Salam Wayang! (Bersambung)


Penulis adalah mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif HIdayatullah Jakarta
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG