IMG-LOGO
Daerah

Generasi Milenial Lampung Deklarasi Antihoaks dan Ujaran Kebencian

Rabu 20 Februari 2019 13:0 WIB
Bagikan:
Generasi Milenial Lampung Deklarasi Antihoaks dan Ujaran Kebencian
Lampung, NU Online
Komunitas Milenial Lampung (KML) menyuarakan dekralasi antihoaks dan ujaran kebencian. Deklarasi dan seruan diawali berbarbengan dengan talk show yang mengusung tema Tolak Hoaks dan Ujaran Kebencian demi Kemajuan Lampung untuk Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan pada Rabu (20/02) bertempat di Lembah Dempo Cafe&Resto, Metro, Lampung.

Usai dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, moderator Galih Pangestu mulai menggiring audiens untuk makin penasaran akan pemikiran-pemikiran segar pemateri terkait isu hoaks yang belakang masif di dunia maya.

Pemicu benih kebencian dapat menjatuhkan yang berbeda pandangan hingga merintangi kinerja pemerintah dalam merealisasikan program pembagunan berkelanjutan baik di pusat maupun daerah.

"Dalam Islam bahasa hoaks disebut dengan fitnah. Islam tidak membenarkan hal itu dan menganjurkan bagi penerima berita untuk mencerna  sendiri atau melalui ahli jika dirinya tidak mampu menganlisis sendiri," tutur Muhammad Teguh, komisioner Bawaslu Provinsi Lampung.

Menguatkan statemen Teguh, Diana Ambarwati, dosen Ekonomi IAIN Metro memberikan gambaran bahwa hari ini internet menjadi pasar bagi lalu lalang berita hoaks untuk menyebar kebencian.

"Generasi milenial harus menjadi produsen berita baik sekaligus menjadi penyerang balik atas berita bohong tersebut," ucapnya dibarengi tepuk tangan hadirin.

Sementara Akmal Fatoni, pengurus PW GP Ansor berperan mendorong generasi milenial Lampung untuk menjadi leader penolakan atas hoaks dan ujaran kebencian.

Dalam talk show yang ikuti oleh puluhan generasi milenial Lampung ini, Ketua KML, Ruzi Setiawan memimpin langsung deklarasi  antihoax di depan para anggota komunitas dan tamu undangan.

Berikut ini isi deklarasi tersebut

Bismillahirrohmanirrohim

Kami Generasi Melenial Lampung dengan kesadaran diri dan secara kolektif menyatakan:

1. Menolak segala bentuk hoaks, fitnah dan ujaran kebencian yang mendorong perpecahan bangsa Indonesia

2. Membiasakan budaya tabayyun setiap menerima informasi yang bernuansa negatif

3. Berfikir kritis dan positif dalam membangun ukhwah watoniyah demi pembangunan Indonesia berkelanjutan.

(Siti Nur Syamsiah/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Rabu 20 Februari 2019 23:0 WIB
Makna Dibalik Air Mata Seorang Gadis
Makna Dibalik Air Mata Seorang Gadis
Ilustrasi (Ist.)
Jombang, NU Online
Orang tua yang bijak seharusnya paham kondisi psikis putra-putrinya. Terutama bahasa tubuh dan air mata dari anak perempuannya.

Hal ini diungkapkan KH M Chamim saat Ngaji Tafsir Ayat Ahkam di Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, Rabu (20/2).

“Air mata gadis atau perawan jika panas itu tandanya luapan kesedihan. Menunjukkan pemberontakan hati. Luapan emosi amarah yang terpendam,” katanya.

Kiai Chamim mengatakan, jika ada pria yang melamar anak gadisnya, maka orang tua atau calon orang tua harus memberi tahu sang anak. Setelah itu lihatlah ekspresi sang putrinya. Jika ia bahagia dan tertawa maka langsung tentukan hari akadnya. Namun bila menangis, maka tunggulah terlebih dahulu. 

“Seorang ayah yang bijak, sebaiknya memberikan waktu anaknya menangis. Namun bukan membiarkan saja, harus ada tindakan lanjutan yang lebih halus,” ujarnya.

Menurut Kiai Chamim salah satu tindakan yang bisa diambil kepala keluarga yaitu meminta istrinya melihat sang anak. Bila anaknya masih menangis maka berikan pangkuan dan peluk dia. Setelah itu usap air mata di pipi anak gadisnya. Bila air matanya panas maka itu tandanya menolak.

“Kalau air matanya dingin maka segera tentukan tanggal akadnya. Karena itu luapan kebahagiaan yang tak bisa diungkapkan,” tambahnya.

Pemahaman tentang keadaan anak perempuan ini sangat penting. Hal ini tak lepas dari sifat pernikahan yang sangat sakral. Salah dalam memilih jodoh, maka yang datang bukannya kebahagiaan melainkan justru masalah baru yang lebih besar. Bahkan bisa membuat luka mendalam seumur hidup.

“Jangan salah pilih jodoh, hati-hati. Jangan karena cantik atau gantengnya saja, tapi lihat juga agamanya. Karena itu lebih baik buat masa depan,” tandas Kiai Chamim. (Syarif Abdurrahman/Muhammad Faizin)
Rabu 20 Februari 2019 21:0 WIB
Ketua Muslimat NU Wanasari Kembali Pimpin GOW Brebes
Ketua Muslimat NU Wanasari Kembali Pimpin GOW Brebes
Ketua PAC Muslimat NU Wanasari Hj Aqilatul Munawaroh
Brebes, NU Online
Ketua PAC Muslimat NU Wanasari Brebes, Jawa Tengah Hj Aqilatul Munawaroh kembali terpilih memimpin Gabungan Organisasi Wanita (GOW) Kabupaten Brebes periode 2019-2022. Aqilah dinobatkan sebagai ketua GOW dalam Musyawarah Kerja di Gedung GOW Jl. A Yani Brebes, Rabu (20/2).

Dalam musyawarah yang dihadiri oleh 28 organisasi wanita tersebut, Aqilah terpilih secara aklamasi dengan raihan 18 suara dari 28 suara yang berhak memilih. 

Pada kesempatan tersebut Aqilah berharap adanya kerja sama yang erat antara organisasi wanita yang ada di Kabupaten Brebes untuk mewujudkan program yang telah dibuat oleh masing-masing organisasi.

"Tanpa kerja sama yang apik, program sebagus apapun sulit direalisasikan," katanya.

Aqilah menjelaskan, ada beberapa program yang diputuskan dalam Musker di antaranya di bidang pendidikan, sosial dan kesehatan serta pemberdayaan bidang ekonomi perempuan.

Dalam Musker juga diputuskan komitmen GOW untuk meningkatkan kepedulian perempuan dalam penanganan persoalan sosial masyarakat misalnya dalam perlindungan anak, penanganan lingkungan, termasuk pendidikan politik perempuan.

Musyawarah yang mengusung tema  Mewujudkan Kebersamaan dan Meningkatkan Peran Perempuan dalam Pembangunan di Segala Bidang ini dibuka oleh Asisten II Sekda Brebes Moh Iqbal.

Membacakan amanat Bupati Brebes Hj Idza Priyanti ia berharap GOW Kabupaten Brebes mampu tampil solid dan matang. Ia mengajak GOW untuk terus mewujudkan karya nyata untuk disumbangkan pada daerah. 

"Utamanya, mendorong kemajuan kaum wanita, untuk pada gilirannya akan mampu menghantarkan masyarakat mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik," ujarnya.

Sementara Ketua Panitia Musker Muticho menambahkan bahwa selain pemilihan pengurus, tujuan digelarnya Musyawarah Kerja tersebut juga untuk membahas dan menyelesaikan pertanggungjawaban pengurus GOW Kabupaten Brebes masa jabatan 2015-2018 dan penyusunan program kerja pengurus baru. (Wasdiun/Muhammad Faizin)
Rabu 20 Februari 2019 19:0 WIB
Pegiat Agama Miliki Peran Penting Sukseskan Pemilu
Pegiat Agama Miliki Peran Penting Sukseskan Pemilu
Penyerahan Bantuan kepada Pegiat Agama di Brebes
Brebes, NU Online
Wakil Bupati Brebes, Jawa Tengah, Narjo mengajak para pegiat agama untuk ikut menyosialisasikan dan menyukseskan pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden serta pemilihan anggota legeslatif 2019. 

Pasalnya, ia menilai para pegiat agama memiliki kemampuan atau kharisma yang mulia sehingga mampu mengajak masyarakat dalam menggunakan hak pilih mereka dengan baik pada Pemilu 17 April 2019 mendatang.

Ajakan tersebut disampaikan Narjo saat memberi pembinaan kepada guru ngaji, imam masjid dan mushala, guru madin, dai, pengasuh pesantren, dan hafiz-hafizah se-Kecamatan Banjarharjo, di Gedung KPRI Rukun, Rabu (20/2).

Narjo berharap, para pegiat agama bisa jadi pelopor dengan berperan aktif melalui majelis yang dimiliki dan lingkungan masing-masing untuk mengingatkan sekaligus mengajak masyarakat agar menggunakan hak pilihnya pada pemilu mendatang.

"Mari kita bareng-bareng ajak umat untuk nyoblos, jangan sampai golput pada pemilu mendatang," ajak Narjo.

Dengan peran pegiat agama yang jumlahnya mencapai 1045 orang di Kecamatan Banjarharjo ini diharapkan pelaksanaan Pemilu 2019 di Kabupaten Brebes dapat berjalan lancar dan sukses. Lebih dari itu ia berharap juga Brebes akan tetap kondusif, aman dan damai.

Narjo juga meminta agar pegiat agama tidak lelah dan bosan memberikan Ilmu agamanya kepada seluruh masyarakat Brebes utamanya para generasi muda Brebes. Sehingga kehidupan mereka selalu dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. 

Dengan bekal agama yang kuat maka para generasi muda pun tidak mudah terjerumus kedalam hal buruk, seperti mabuk-mabukan, kecanduan narkotika hingga pergaulan bebas.

Kepala Seksi Agama Dan Sosial Bagian Kesra Setda Brebes Harun, mengatakan jumlah pegiat agama Di Kecamatan Banjarharjo berjumlah 1045 orang dengan rincian 428 imam masjid dan mushala, 442 guru ngaji, 142 guru madin, 15 dai, 19 hafiz-hafizah dan 8 pengasuh pondok pesantren.

Mereka mendapat dana pembinaan dari Pemkab sebesar Rp 600 ribu untuk imam masjid dan mushala, guru ngaji, dan guru madin, dan Rp 750 ribu untuk para hafiz dan hafizah. Sedangkan para dai dan pengasuh pondok pesantren mendapatkan 1 juta rupiah.

“Jumlah tersebut belum dipotong pajak, jadi ketika nanti yang diterimakan adalah besaran yang telah di potong pajak," pungkasnya.(Wasdiun/Muhammad Faizin)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG