IMG-LOGO
Pustaka

Kembali ke Khittah Rohaniah

Kamis 21 Februari 2019 10:30 WIB
Bagikan:
Kembali ke Khittah Rohaniah
Sisi rohani merupakan ruang di mana manusia bisa memperkuat karakter religiusitas yang transenden kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Hubungan vertikal manusia kepada Tuhannya tidak semata-mata untuk kepentingan pribadi, tetapi juga harus berdampak pada kehidupan sosial dan kemanusiaan secara umum. Ini yang dinamakan keseimbangan antara nalar dan naluri, kecerdasan sosial dan kecerdasan spiritual.

Secara hakikat, agama ada sebagai jalan hidup bagi manusia. Kedalaman rohani membantu manusia menyeimbangkan perilaku terhadap kehidupan sehari-hari sehingga tercipta kesejahateraan lahir dan batin. Lebih dari itu, penguatan rohani yang bermuara pada akhlak luhur menjadikan kebahagiaan masyarakat semakin mantap.

Quraish Shihab dalam bukunya Yang Hilang dari Kita: Akhlak (2017) menyebut, akhlak dan budi pekerti yang luhur sangat dibutuhkan untuk mengisi kehidupan masyarakat. Akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Semakin luhur akhlak seseorang, maka semakin mantap kebahagiaannya. Demikian juga dengan masyarakat, semakin kompak anggota-anggotanya secara bersama-sama melaksanakan nilai-nilai akhlak yang disepakati bersama, maka semakin bahagia masyarakat tersebut.

Tujuan-tujuan kemanusiaan dan peradaban itu tidak terlepas dari penyucian batin melalui perbuatan-perbuatan baik dan penguatan rohani lewat asupan-asupan kalam hikmah yang bisa dipelajari setiap Muslim. Dalam hal ini, Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam yang ditulis Ulil Abshar Abdalla menjadi salah satu rujukan penting untuk mengisi relung-relung hati dan ruang-ruang rohani manusia.

Buku yang diterbitkan alif.id ini berupaya menerjemahkan kalam-kalam hikmah Syekh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam. Ulil Abshar Abdalla memberikan syarah 50 kalam hikmah Ibnu Athaillah melalui metode ‘am (umum) dan khos (khusus). Integrasi dua metode syarah kitab tersebut semakin memudahkan dan memperluas perspektif pembaca dalam memahami makna aforisma-aforisma sufistik abad ke-13 itu.

Upaya kontekstualisasi juga dilakukan oleh Ulil Abshar Abdalla dalam menerjemahkan setiap kalam hikmah Ibnu Athaillah. Hal itu terlihat terhadap judul yang diberikan dalam setiap kalam hikmah. Dengan kata lain, pembaca bisa langsung memahami makna kalam Ibnu Athaillah dari setiap judul yang disajikan penulis.

Misalnya di halaman 14, penulis buku menyajikan judul Manusia Kamar atau Manusia Sosial? Judul tersebut untuk menerjemahkan kalam: “Kehendakmu untuk tajrid (mengisolir diri, tidak melakukan usaha), sementara Tuhan menempatkanmu pada maqam seorang yang harus berusaha, itu adalah sebentuk syahwat atau kesenangan nafsu yang tersembunyi. Sebaliknya, kehendakmu untuk ikut-ikutan berusaha, padahal Tuhan memberimu maqam sebagai orang yang seharusnya tajrid, itu adalah sebentuk kemerosotan kelas.”

Dari upaya kontekstualisasi dan penerjemahan atas kalam ke dalam judul yang lebih mudah dipahami pembaca, Ulil Abshar Abdalla lalu men-syarahi ke dalam makna dan pengertian umum dan pengertian khusus. Pemahaman yang luas terhadap berbagai literatur klasik dan penguasaan bahasa Arab penulis membuat Al-Hikam mudah dipahami dalam buku ini. Proses men-syarahi merupakan aktivitas intelektual para ulama terdahulu. Tradisi akademik ini merupakan salah satu proses penting terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Sajian tasawuf dalam buku ini memberikan peranan penting untuk menjadi manusia rohani seutuhnya di tengah krisis kemanusiaan dan kemerosotan akhlak. Hal ini menunjukan bahwa keseimbangan syariat dan hakikat penting sehingga adab tetap terjaga di tengah kehidupan. Sebab, tak sedikit orang yang berpengetahuan tetapi kurang berakhlak dalam praktik kehidupan sehari-hari.

Inilah pentingnya memahami tasawuf akhlaqi yang dicetuskan oleh hujajatul Islam Imam Al-Ghazali, penulis kitab masyhur Ihya’ Ulumiddin. Di zamannya, Al-Ghazali juga mengkritik para sufi, ahli hikmah (hukama) yang menjauhkan diri dari syariat. Begitu juga para fuqaha (ahli fiqih) yang menafikan ilmu-ilmu hakikat. Hal ini tidak terlepas dari pemisahan satu sama lain sehingga Al-Ghazali melakukan integrasi antara syariat dan hakikat.

Syariat tanpa hakikat kehilangan ruh. Manusia tidak akan mudah terhubung dengan Tuhannya dalam memperkuat rohani yang terdapat dalam ilmu-ilmu tasawuf. Begitu pula hakikat tanpa syariat akan kehilangan jalan karena walau bagaimana pun, memahamkan agama kepada orang lain memerlukan jalan keilmuan yang kokoh. Dua entitas syariat dan hakikat saling melengkapi sehingga dakwah Islam di Nusantara pada masa-masa awal berhasil dilakukan oleh para Wali Songo.

Pada masa-masa awal perjuangan NU, para kiai dihadapkan pada potensi perpecahan umat Islam karena perbedaan pandangan keagamaan yang memunculkan khilafiyah. Bahkan, perbedaan tersebut kerap memunculkan perdebatan yang hebat di beberapa daerah antar masing-masing organisasi Islam. Padahal, saat ini bangsa Indonesia sedang terjajah sehingga konflik antarumat Islam tentu tidak ideal. Ini baru perbedaan pandangan keagamaan, belum lagi jika menilik keragaman atau kemajemukan bangsa Indonesia.

Dalam pandangan KH Achmad Siddiq, Rais ‘Aam PBNU yang hidup dalam kurun waktu 1926-1991, pendekatan kesufian atau rohani bisa menjadi solusi canggih dalam menyelesaikan konflik tersebut. Sebab, kesufian bisa merangkul semua umat manusia tanpa melihat dan membeda-bedakan asal-usul, suku, ras, warna kulit, golongan, atau bahkan agamanya. (Menghidupkan Ruh Pemikiran KH Achmad Siddiq, 1999)

Dalam tasawuf atau dunia kesufian, semua makhluk dipandang sama. Manusia dalam diskursus tasawuf merupakan makhluk baik tanpa ada prasangka yang sifatnya ideologis, teologis, atau pandangan diskriminatif. Perbedaan agama, suku, bangsa, warna kulit hanyalah perbedaan artifisial yang tidak boleh menghambat persaudaraan manusia.

Hadirnya buku ini bukan hanya memperkuat pemberadaban (civilizing) bangsa seperti yang dikatakan penulisnya, Ulil Abshar Abdalla, tetapi juga mengembalikan sisi-sisi kemanusiaan manusia. Kembali pada ‘Khittah Rohaniah’ menjadi jalan strategis manusia, bukan hanya untuk mempertegas dan memperkuat nilai-nilai kemanusiaan, tetapi juga memanusiakan diri Anda sebagai manusia. Selamat membaca! (Fathoni Ahmad)

Identitas buku:
Judul: Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Athaillah dalam Kitab Al-Hikam
Penulis: Ulil Abshar Abdalla
Penerbit: alif.id dan el-Bukhori Institute
Cetakan: I, Januari 2019 
Tebal: xxi + 292 halaman
ISBN: 978-602-53634-2-9
Tags:
Bagikan:
Rabu 20 Februari 2019 21:30 WIB
Yang Hilang dari Diri Kita: Akhlak!
Yang Hilang dari Diri Kita: Akhlak!
“Innama buitstu liutamima makarimal akhlak”, sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Begitulah bunyi salah satu hadits Nabi Muhammad SAW. Sabda Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa akhlak yang baik atau akhklakul karimah menjadi pondasi penting orang-orang beragama.

Akhlak ini berbasis nilai. Nilai merupakan sesuatu yang bersifat universal. Sehingga pada dasarnya, akhlak yang baik ada pada diri setiap orang beragama, setiap manusia. Apalagi ajaran Rasulullah penuh dengan teladan-teladan akhlak yang baik di tengah masyarakat.

Membahas persoalan akhlak, globalisasi yang disertai dengan perubahan sosial yang begitu cepat salah satunya berdampak pada pergeseran nilai sekaligus mendegradasi akhlak manusia. Tidak terhitungnya jumlahnya krisis kemanusiaan dan kemerosotan akhlak dalam kehidupan sehari-hari menjadi perhatian Pakar Tafsir Prof Dr Muhammad Quraish Shihab untuk menulis buku Yang Hilang dari Kita: Akhlak.

Dalam buku setebal 303 halaman itu, Quraish Shihab tidak hanya memaparkan epistemologi akhlak, tetapi juga memberikan teladan sehari-hari tentang akhlak berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits. Dalam Islam, akhlak menjadi disiplin ilmu tersendiri yang kadang diintegrasikan tasawuf dan filsafat karena terkait erat dengan konsep etika, dan lain-lain.

Akhlak dan budi pekerti yang luhur sangat dibutuhkan untuk mengisi kehidupan masyarakat. Buku ini menjelaskan bahwa akhlak luhur merupakan keniscayaan dari kedudukan manusia sebagai makhluk sosial. Semakin luhur akhlak seseorang, maka semakin mantap kebahagiaannya. Demikian juga dengan masyarakat, semakin kompak anggota-anggotanya secara bersama-sama melaksanakan nilai-nilai akhlak yang disepakati bersama, maka semakin bahagia masyarakat tersebut.

Dalam buku terbitan Lentera Hati ini, Quraish Shihab juga menjelaskan Akhlak secara filosofis. Ia mengemukakan sejumlah konsep etika dan nilai dari para filsuf Yunani dan filsuf Barat. Tentu saja penguatan ilmu akhlak banyak ia kutip dari Al-Qur’an, Hadits, dan kitab-kitab klasik para ulama. Secara historis, para filsuf Yunani kuno sangat menjunjung tinggi etika dan kemanusiaan. Langkah-langkah kaki mereka tidak pernah berhenti mencari ruang-ruang kehidupan manusia, dimana akhlak, etika, dan kemanusiaan dihidupkan.

Dalam buku ini juga dijelaskan terkait konsep Nurani. Nurani sangat terkait dengan perkembangan akhlak luhur pada diri manusia. Layaknya pelita yang selalu menerangi, nurani merupakan pencerah hati dan perasaaan manusia sehingga memungkinkan dirinya terhindar dari hal-hal negatif. Namun demikian, hati nuarani bukan hasil dari pemikiran teoritis akliah. Tetapi ia lahir dari kerja perasaaan yang bisa jadi tidak mudah untuk didefinisikan substansinya. Namun, setiap orang dapat merasakan hati nurani dan tidak mudah untuk mengabaikannya. 

Akhlak juga berkaitan dengan kebaikan dan keburukan/kejahatan. Keburukan atau kejahatan adalah lawan dari kebaikan. Ia mencakup dua hal pokok, pertama, sakit/perih, baik jasmani maupun rohani, seperti musibah kebakaran atau tenggelam. Kedua, adalah yang mengantar pada sakit atau perih seperti kebodohan dan kedurhakaan. Keburukan dan kejahatan itu bisa jadi bersumber dari pihak lain dan bisa juga akibat ulah yang mengalaminya sendiri.

Quraish Shihab mengungkapkan salah satu doa yang diamalkan dan diajarkan Rasulullah ketika akan keluar rumah, ialah: “Ya Allah, kami memohon perlindungan-Mu sehingga kami tidak sesat, tidak juga disesatkan, tidak tergelincir atau digelincirkan, tidak menganiaya tidak juga dianiaya, serta tidak berbuat jahil (picik), tidak juga kami diperlakukan dengan picik.” (Halaman 57). Doa tersebut mengisyaratkan potensi terjadinya keburukan dan kejahatan akibat ulah pihak lain maupun ulah kita sendiri.

Dalam konteks keterbukaan informasi  dan perkembangan teknologi digital, Quraish Shihab juga menekankan akhlak bertabayun atau melakukan kroscek kebernaran terhadap informasi dan berita yang beredar melalui media cetak, website, maupun media sosial. Dalam hal ini, Allah SWT dalam QS Al-Hujurat [49] ayat 6 memerintahkan manusia untuk senantiasa melakukan tabayyun atau check and richeck.

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka bersungguh-sungguhlah mencari kejelasan agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa pengetahuan yang menyebabkan kamu atas perbuatan kamu menjadi orang-orang yang menyesal.” (QS Al-Hujurat: 6)

Tanpa upaya bertabayun terlebih dahulu, tidak terhitung orang-orang yang aktif di media sosial termakan oleh berita-berita palsu dan bohong. Agaknya pasar netizen yang mudah dibohongi makin marak, dampaknya seolah kebohongan dalam bentuk informasi menjadi sebuah industri. Lagi-lagi, di sinilah akhlak luhur harus dikedepankan. Jika sebelum era digital langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, saat ini akhlak juga harus dijunjung tinggi ketika berinteraksi di media sosial.

Quraish Shihab dalam buku ini mengisahkan bahwa pada masa Rasulullah SAW, ada sekelompok orang yang menyebarkan rumor tentang istri Nabi SAW, Aisyah ra yang cukup meresahkan Nabi dan sahabat-sahabat karib beliau. Setelah sebulan rumor itu berkembang, baru Allah SWT ayat-ayat yang membantah rumor tersebut sambil memberi pengajaran kepada umat bagaimana langkah yang harus ditempuh jika tabayyun tidak menghasilkan apa yang diharapkan atau bila rumor itu menyangkut orang yang selama ini dikenal baik.

Allah berpesan dalam QS An-Nur [24]: 12 yang maksudnya antara lain menyatakan bahwa mestinya sewaktu kamu mendengar rumor itu, kamu selaku orang-orang mukmin dan mukminah bersangka baik terhadap yang dicemarkan namanya karena yang dicemarkan namanya itu adalah bagian kamu sesama orang beriman. Pada ayat 24 dalam surat di atas, Allah dengan jelas memperingatkan bahwa orang-orang yang senang tersebarnya berita-berita yang mencemarkan dalam masyarakat Islam, mereka itu akan ditimpa siksa yang pedih.

Krisis akhlak yang semakin akut terutama di kalangan generasi muda, menjadikan buku ini penting untuk dibaca, dipahami, dan dilaksanakan dalam kehidupan sehari. Bangsa Indonesia, terutama umat Islam perlu memperhatikan tradisi keilmuan dan pendidikan di pesantren yang integratif antara akhlak, ilmu, dan amal. Bahkan, pengembangan adab dan budi pekerti luhur sangat ditekankan di pesantren sehingga lembaga pendidikan asli Indonesia tersebut mampu menjadi benteng moral bagi generasi bangsa sejak berabad-abad lalu hingga saat ini. (Fathoni Ahmad)

Identitas buku:
Judul: Yang Hilang dari Kita: Akhlak
Penulis: Muhammad Quraish Shihab
Penerbit: Lentera Hati
Cetakan: II, Februari 2017
Tebal: xvi+303 halaman
ISBN: 978-602-7720-48-0
Ahad 17 Februari 2019 6:32 WIB
Kenangan Kiai Hasyim Muzadi Sebagai Pembelajaran Umat
Kenangan Kiai Hasyim Muzadi Sebagai Pembelajaran Umat
Kiai yang satu ini lahir di Desa Bangilan, Tuban, Jawa timur, 8 Agustus 1944, setahun sebelum Indonesia merdeka. Namanya Ahmad Hasyim Muzadi. Lebih populer dengan nama Hasyim Muzadi saja. Ia berasal dari keluarga yang sederhana. Ayahnya pedagang tembakau, sedangkan ibunya berjualan roti dan kue kering di kampungnya. Anak ketujuh dari delapan bersaudara ini, sejak kecil, mendapatkan pendidikan agama dari orang tuanya. Ayah dan ibunya memang bercita-cita: kelak, semua anaknya, tumbuh menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat bagi umat. 

Hasyim disekolahkan di madrasah, tapi ia tidak belajar sungguh-sungguh karena pelajarannya terlalu mudah baginya. Maklum pelajaran agama makanan sehari-harinya. Ia pun meminta dipindahkan ke sekolah (SR) Bangilan. Semua siswa SR dinyatakan tidak ada yang lulus, kecuali Kiai Hasyim. Keluarganya kaget bercampur gembira. Sang ayah pun merancang masa depan Hasyim dengan lanjut sekolah di SMP 1 Tuban. 

Hasyim belajar hanya 1,5 tahun di SMP 1 Tuban. Ia lantas melanjutkannya ke Pesantren Gontor, mengikuti keputusan ayahnya. Di pesantren itu ia masuk pada umur 12 tahun. Ia  dikenal cerdas dan meremehkan pelajaran dan doyan tidur. Meski demikian, ia santri yang berprestasi dan selalu naik kelas. Bahkan juara di kelasnya. 

Selain menimba ilmu di Gontor, sempat mengenyam pendidikan pesantren Senori, di Tuban, dan pesantren Lasem, di jawa tengah. Kiai Hasyim berkelana ke Malang. Di Malang, selain kuliah, ia juga aktif di pergerakan Mahasiswa Islam indonesia (PMII) organisasi mahasiswa yang rata-rata berlatar belakang NU.

Saat menjadi mahasiswa, ia dikenal memiliki banyak penggemar, terutama dari kalangan aktivis perempuan. Namun yang bisa menaklukan hatinya hanya Mutammiah, gadis 21 tahun yang juga saudara sepupunya sendiri. Kemudian mereka menikah dengan proses yang sangat cepat. Di dalam berkeluarga ia selalu mengantar kemana pun istrinya pergi, termasuk ke pasar.

Menjadi Ketua Umum PBNU
Kiai Achmad Hasyim Muzadi, memimpin NU. Umumnya yang memimpin NU lahir dari keluarga kiai yang punya nama besar. Namun tidak begitu dengan aktivis NU Jawa Timur yang akrab disapa Kiai Hasyim “cak”. Banyak pihak kaget ketika Muktamar ke-30 NU Lirboyo, kediri, tahun 2000, memutuskan memilih beliau sebagai ketua Umum Pengurus Besar NU. Ia menggantikan KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, yang memimpin NU selama tiga periode: 1984-1989, 1989-1994, dan 1994-1999. 

Momentum bersejarah naiknya tokoh kampung menjadi pemipin tertingi NU. Namun setelah lima tahun berlalu. Gus Dur dan kiai Hasyim berada di posisi yang dihadapkan pada Muktamar ke-31 NU di Donohudan, Boyolali, Jawa tengah, tahun 2004. Pada Muktamar ke-32 NU di Makassar, kiai Hasyim resmi meninggalkan jabatan ketua Umum Pengurus Besar NU.

Jauh sebelum Muktamar NU digelar, keluarga besar Kiai Hasyim Muzadi menggelar rapat besar di pondok Pesantren Al-Hikam Depok jawa barat, yang dipimpin oleh Mbah Muchit. Purna tugas sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU, Kiai Hasyim berkonsentrasi pada pembangunan pesantren Al-Hikam, di Depok, Jawa Barat, adalah pesantren pengembangan dari pesantren pertama, yang juga nama Al-Hikma, yang dirintis di Malang, Jawa Timur.

Kiai Hasyim, menjadi sekjen di Internatinonal Conference for Islamic Scholar (ICIS), Organisasi para ulama sedunia diprakasainya pada tahun 2004, organisasi itu memiliki anggota yang tersebar di 67 negara. ICIS didirikan di Jakarta 24 Februari 2004 atas prakaraisanya kiai Hasyim bersama Hasan Wirajuda, Menteri Luar Negri Republik Indonesia kala itu. ICIS ditandatangani presiden Megawati Soekarno Putri. ICIS adalah organisasi swadaya masyarakat, non politik , non etnik, yang bekerja untuk membangun dialog dan kerja antar ulama dan cendekiawan muslim seluruh dunia menuju tatanan masyarakat yang damai, Entitas Islam sebagai Rahmatan lil’alamin mengakui eksistensi pluralitas, karena islam memadang pluralitas sebagai sunnatullah, yaitu pungsi pengujian Allah kepada manusia, faktor sosial, dan rekayasa sosial (social engineering) kemajuan umat maunusia.

Kiai Hasyim mendamaikan NU dan Muhamamdiyah, NU Dengan Muhammadiyah sempat memanas setelah persiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan pada tahun 2001. Tokoh Muhamadiyyah, Amien Rais, oleh orang NU dianggap sebai salah satu biang penggulingan Gus Dur. Saat itu, Amien Rais menjabat sebagai ketua Majelis Pemusyawaratan Rakyat ( MPR) dan ia pula yung memimpin Sidang Istimewa MPR. Selain itu, sudah menjadi rahasia umum. Ketika itu Kiai Hasyim menjadi ketua PBNU, Melalui peroses yang panjang Kiai Hasyim bersama swadaya masyarakat partnership (Kemenitraan), NU dan Muhamadiyah pada tahun 2002, menadatangani nota kesepahaman untuk bersama memerangi korupsi di Indonesia. Kerja sama itu terjadi karena kegelisahan bersama bahwa korupsi dan pemberaatasannya di indonesia masih ruwet. Lilitannya tidak hanya di pemerintahan pusat tetapi juga menjalar ke daerah-daerah. NU dan Muhamaddiyah, 1,5 tahun sebelum pembentukan (KPK) dibentuk, sudah sudah membentuk gerakan moral korupsi,

CELAKET 10 IBARAT prasasi bagi sejarah hidup Kiai Hasyim. Celaket dahulu markas utama Kiai Hasyim dan kawan-kawan pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dikota Malang. Celeket terletak dijalan Celaket Nomor 10, Kota Malang, Jawa Timur. Jalan itu sekarang berganti nama menjadi jalan Agung Suprapto. Celaket 10 adalah titik tolak perjalanan hidup yang paling dikenang. Mula-mula sebagai Gerakan Pemuda Asor tingkat desa sampai mencapai puncak Ketua Umum PBNU.

Data Resensi:
Judul: Biografi A. Hasyim Muzadi

Penerbit: Keira Publishing

Penulis: Ahmad Milah Hasan

Cetakan: Pertama, Maret 2018

Peresensi: Kamil Maulana Yusuf (Aktivis penyebar virus NU di Media Sosial)


Ahad 17 Februari 2019 5:0 WIB
Semangat Juang dalam Kesatria Kuda Putih
Semangat Juang dalam Kesatria Kuda Putih
Buku karya Ahmad Sufiatur Rahman ini merupakan buku sejarah yang diramu dan disajikan dengan menggunakan gaya bahasa sastra yang akrab disebut novel. Oleh karena karya sastra, saya ingin membaca kembali dengan menggunakan pendekatan struktural yang berdasar pada teori strukturalisme A.J. Greimes. 

Dalam suatu cerita terdapat beberapa peran dan pelaku yang menjadi kesatuan tak terpisahkan dalam membentuk makna. Satuan peran atau pelaku dalam sebuah novel oleh Greimes disebut sebagai aktan. 

Untuk melakukan analisis aktan, Greimes membagi enam fungsi aktan yang terdiri dari: sender, objek, penerima. Pembantu, subjek, penentang. Dalam novel kesatria kuda putih, terdiri dari beberapa aktan dan fungsinya.

Aktan 

 Pemuda (pengirim) -----> surat (objek) ------>  Kiai As’ad (penerima)


Yusuf (penolong) -----> pemuda (subjek) <------  Emak Yusuf (penghalang) 

Seorang pemuda berusia tiga puluh tahun sebagai pengirim dan sekaligus subjek yang bertugas mentransformasikan sebuah pesan yang tersimpan dalam surat sebagai objek kepada KHR. As’ad Syamsul arifin sebagai penerima atau sasaran utama dalam penyampaian pesan. Guna memperlancar dan mempercepat proses pengiriman pesan, pengirim memilih salah satu santri KHR. As’ad bernama Yusuf untuk menjadi penolong (helper) dalam menyampaikan Surat. 

Usaha Yusuf sebagai wasilah mengalami hambatan atau gangguan dari sikap emaknya yang berusaha mengaburkan dan melemahkan semangat perjuangan dengan melarangnya menjadi pejuang pembela negara.

“Emak tak berniat mengirimmu ke pesantren untuk menjadi tentara.”

Perkatan senada disampaikan oleh tetangganya.

“Hanya orang nekat dan bodoh yang mau ikut perang, Cong.” 

Pelbagai perkataan dan cemooh, tidak membuat Yusuf gelisah, ragu dan patah semangat, melainkan semakin mantap dan yakin bahwa dirinya berjihad di jalan Allah. 

“Doakan saja anakmu ini, Bu, agar berguna bagi agama dan bangsa.” 

Permohonan doa inilah yang semakin membakar semangat juang dan mengawali langkah Yusuf untuk segera menemui KHR. As’ad. Keinginan tersebut terwujud, bertemu dia sembari menyerahkan pipa besi yang berisi surat dengan berkata.

”Belanda di pasir putih.” 

Menerima berita tersebut, Kiai As’ad menegosiasikan beberapa ide untuk melahirkan sebuah strategi dan solusi. Berita tersebut didialogkan bersama Kiai Khudori sebagai pengurus pesantren, pelopor sebagai pejuang yang setia kepada Kiai As’ad, dan Yusuf sebagai pemuda yang haus akan perjuangan. 

Negosiasi tersebut melahirkan kesepakatan bahwa penjajah Belanda harus dilawan dengan kekuatan dan strategi laten yaitu “mege’ kalemmar seta’ lekkoa. Strategi yang dimaksud adalah massa yang banyak, senjata yang cukup, kekebalan dan perlindungan fisik melalui hizb dan asma. Strategi yang dimaksud adalah kecerdasan intelektual secara kontekstual. 

Berdasar pada aktan di atas, ada dua makna yang bisa diungkap dan diterjemahkan dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang. Pertama, makna muatan (actual meaning). Aktan tersebut berisi pesan bahwa seorang intelektual, (santri, pelajar) bukan hanya bertugas menggali pengetahuan untuk dirinya, bukan hanya pembelajaran yang hanya terpusat di lingkup lembaga (sekolah, pondok) melainkan mengabdi dan berjuang untuk bangsa dan negara, belajar membaca realitas kehidupan yang beraneka ragam melalui tindakan dan pengalaman. 

Kedua, makna niatan (intentional meaning). Pesan yang hendak dikata dalam aktan tersebut adalah setiap perjuangan akan menghadapi tantangan dan rintangan. Keberhasilan perjuangan membutuhkan keberanian, kesabaran, kecerdasan, pengorbanan dan melibatkan tuhan dalam berjuang. 

Beberapa pesan penyemangat perjuangan yang terdapat dalam novel, bukanlah pahatan patung patung yang tak bernyawa dan tak bergerak, melainkan sebagai nilai yang harus diperbaharui dan diterapkan sesuai dengan laju zaman bagaikan sebuah air yang mampu menyuburkan tanaman, menyegarkan badan, dan mampu mewujud ke dalam pelbagai jenis minuman. 

Bentuk perjuangan yang relevan dengan konteks zaman yang bercorak modern, berbasis teknologi global adalah melalui tulisan dan kekuatan ekonomi. Hal ini telah lama diprediksi oleh Bung Hatta bahwa “perjuangan masa depan pasca proklamasi akan semakin terjal dan rumit melalui pena dan pasar”. Perjuangan berbasis tulisan inilah yang juga menjadi cita cita Yusuf sebagai pejuang sejati. Merdeka.

Sampai kapan kau sibuk dengan kenikmatan diri. Padahal setiap langkahmu akan ditanya (Imam al Bushairy)


Peresensi: Achmad Nur, Ketua Lakpesdam NU Situbondo

Data Buku
Judul : KHR. As’ad Syamsul Arifin: Kesatria Kuda PUTIH
Penulis : Ahmad Sufiatur Rahman
Penerbit: Tinta Medina
Cetakan : I, 2015
Tebal: xxxviii, 210 hlm
ISBN: 978-602-72129-7-8 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG