::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Ma’ruf Amin: Penyebaran Hoaks Secara Massal Lahirkan Bangsa Pembohong

Kamis, 21 Februari 2019 13:30 Nasional

Bagikan

KH Ma’ruf Amin: Penyebaran Hoaks Secara Massal Lahirkan Bangsa Pembohong
Makassar, NU Online
Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin mengatakan bahwa penyebaran hoaks memiliki dampak mafsadat luar biasa. Penyebaran hoaks mengancam peradaban bangsa Indonesia. Penyebaran hoaks pada gilirannya dapat membentuk karakter ketidakjujuran anak bangsa.

“Hoaks atau bohong kalau sudah menjadi karakter bangsa tidak dapat dibenarkan meski tujuannya benar,” kata Kiai Ma’ruf Amin dalam dialog nasional bertema Pengarusutamaan Dakwah Islam Wasathiyah, Menyikapi Bahaya Hoaks dan Fitnah bagi Kehidupan Keagamaan dan Kebangsaan di Hotel Claro, Makassar, Rabu (20/2) malam.

Kiai Ma’ruf menyayangkan peredaran hoaks yang begitu marak dan cepat belakangan ini. Peredaran hoaks bertentangan dengan semangat pendidikan dan pembentukan karakter anak bangsa.

“Bagaimana dengan penyebaran hoaks belakangan ini? Ini kan paradoks di tengah pembangunan karakter bangsa,” kata Kiai Ma’ruf.

Ia menambahkan bahwa kalau orang-orang tua mengajari kebohongan dan hoaks, maka anak-anak dan generasi berikutnya akan menjadi pembohong. Penyebaran hoaks ini kalau dilakukan secara massal dapat menjadi persoalan nasional.

“Kalau bangsa sudah jadi pembohong, maka mengembalikannya lagi susah,” kata Kiai Ma’ruf yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) di hadapan 200 peserta dialog.

Ia menceritakan contoh hoaks kecil bahwa seorang ibu berpesan kepada anaknya untuk mengatakan bahwa ibunya tidak di rumah jika ada orang datang menagih utang.

“Ini contoh kecil bagaimana orang tua mengajarkan anaknya menjadi pembohong. Padahal anaknya mengerti jelas bahwa ibunya ada di rumah,” kata Kiai Ma’ruf dalam dialog yang berlangsung Rabu-Jumat (20-22/2). (Alhafiz K)