IMG-LOGO
Nasional

Mahasiswa Sosiologi Unusia Kaji Penanganan Bencana di Era Industri 4.0

Kamis 21 Februari 2019 19:30 WIB
Bagikan:
Mahasiswa Sosiologi Unusia Kaji Penanganan Bencana di Era Industri 4.0
Kuliah umum penanganan bencana era indutri 4.0 di Unusia (21/2)
Jakarta, NU Online
Himpunan Mahasiswa Sosiologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Himasos Unusia) menggelar acara kuliah umum Kamis (21/19).

Dalam kegiatan yang mengangkat tema Proyeksi Mitigasi dan Manajemen Bencana di Era Revolusi Industri 4.0, menghadirkan Guru Besar Universitas Pertahanan, Syamsul Ma'arif. Ia memaparkan bahwa bencana sebenarnya tidak bisa hanya melalui satu perspektif saja.

"Dalam bencana ada tiga mazab kebencanaan, ada mazhab tentang hazard (fisik) bicaranya tentang bendungan, bangunan. Lalu ada mazhab disaster (fenomena sosial). Ketiga adalah perceptiveness atau penyadaran dan edukasi," papar pria yang juga Ketua Pusat Studi Bencana dan Adaptasi Perubahan Iklim Universitas Pertahanan (PSB-API Unhan).

Dalam era industri 4.0, lanjutnya, sangat penting untuk para muda millenial membuat sebuah inovasi baru yang dapat dijadikan pijakan dalam pengurangan risiko bencana. Hal itu berarti bahwa setiap revolusi teknologi dari masa ke masa senantiasa melahirkan cara-cara yang baru bagi manusia untuk berinteraksi dengan manusia lain.

Salah satu respons menghadapi bencana saat ini adalah kumac, yaitu sebuah rumah dengan terobosan inovasi teknologi modern yang dibangun untuk rumah yang kuat dan tahan lama. Kumac dibangun dengan bahan yang tidak mudah terbakar, antijamur, antirayap, anti karap, bisa dibangun dalam keadaan hujan dan hanya membutuhkan waktu empat jam.

"Ini (kumac) merupakan salah satu terobosan terbaru untuk menanggulangi bencana di era industri 4.0," tegasnya.

Selaras dengan Syamsul Ma'arif, M Ali Yusuf, ketua LPBI PBNU mengatakan kajian mengenai resiko bencana sangatlah penting. Seperti halnya mendeteksi letak terjadinya bencana, potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana dalam suatu wilayah yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi kerusakan atau kehilangan harta dan gangguan kegiatan masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi, bencana merupakan sebuah fenomena sosial, ketika masyarakat tanggap, tahu dan siap akan terjadinya bencana maka bencana itu pun tidak akan menyebabkan banyak kerusakan.

"Penanggulangan bencana adalah sebuah upaya yang menyeluruh dalam arti yakni menyeluruh dengan segala macam peraturan yang ada, harus menghargai peraturan daerah yang ada, memberi partispasi, kesetiakawanan, tolong menolong, dan terarah," papar Ali. (Iftihatun Mu'tamaroh/Kendi Setiawan)







Bagikan:
Kamis 21 Februari 2019 23:45 WIB
Suluh Kebangsaan Jadi Media Perajut Kebangsaan
Suluh Kebangsaan Jadi Media Perajut Kebangsaan
dialog kebangsaan
Solo, NU Online
Setelah melewati beberapa kota, kali ini giliran Kota Solo Jawa Tengah yang disinggahi sejumlah tokoh nasional dalam acara kegiatan Suluh Kebangsaan. Acara tersebut diselenggarakan di Stasiun Balapan Kota Solo, Rabu (20/2).

Beberapa tokoh yang hadir antara lain Mahfud MD, Alissa Wahid, Romo Benny, Romo Kardinal, Tokoh NU KH M Dian Nafi', Tokoh Muhammadiyah M Tafsir, Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, dan Walikota Solo FX Rudy.

Dalam sambutannya, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan, Mahfud Md, menerangkan kegiatan Suluh Kebangsaan ini dimaksudkan untuk memupuk rasa berkebangsaan Indonesia bagi masyarakat di berbagai kota di Indonesia melalui pendekatan yang ringan namun kreatif dan membumi.

"Kita ingin mengajak masyarakat di berbagai kota di Indonesia untuk menguatkan dan menyebarluaskan semangat positif kebangsaan Indonesia sesuai nilai-nilai pancasila yang berbhineka, berkeadilan sosial, menjunjung tinggi toleransi dan saling menghargai perbedaan dan keberagaman," terang Mahfud.

Gubernur Jawa Tengah H Ganjar Pranowo  mengajak masyarakat Jawa Tengah (Jateng) untuk tidak mengumbar emosi dan bisa mempertanggungjawabkan ucapannya, sebagai upaya mewujudkan suasana nyaman, tenteram dan damai menjelang Pemilu 17 April mendatang.

Menurut Gubernur Jawa Tengah, perbaikan bangsa bisa dicapai ketika perbaikan sektor terkecil di tingkat warganya berhasil. Sementara, Pemilu yang menjadi proses politik lima tahunan, dapat dikatakan sukses melahirkan pemimpin jika seluruh warganya bisa mempertanggungjawabkan pilihannya.

Sementara itu, Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan yang juga Koordinator Seknas Gusdurian, Alissa Wahid, memaparkan kegiatan yang bekerjasama dengan PT KAI (Kereta Api Indonesia) ini diadakan secara maraton selama 5 hari.

"Acaranya mulai tanggal 18 sampai 22 Februari 2019. Diawali dari Stasiun Merak, kemudian Stasiun Gambir, Stasiun Cirebon, Stasiun Porwokerto, Stasiun Yogyakarta, Stasiun Solo, Stasiun Jombang, Stasiun Surabaya dan berakhir di Stasiun Banyuwangi," ungkapnya.

Gerakan Suluh dan Jelajah Kebangsaan ini juga diharapkan menjadi media untuk mengajak berbagai elemen masyarakat di kota-kota di Indonesia untuk melahirkan ide-ide dan pemikiran kreatif, cerdas dan membangun yang dapat memecahkan berbagai persoalan bangsa Indonesia. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Kamis 21 Februari 2019 22:59 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
NU Bahas Sampah Plastik, Perusahaan Air Minum, hingga Kekerasan Seksual
NU Bahas Sampah Plastik, Perusahaan Air Minum, hingga Kekerasan Seksual
Jakarta, NU Online 
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan akhir bulan ini NU akan membahas tema-tema penting menyangkut kehidupan masyarakat dan negara. Pembahasan tersebut akan berlangsung pada Musyawarah Nasional Alim Ulama di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, Kota Banjar, Jawa Barat mulai 27 Februari hingga 1 Maret 2019. 

Menurut Kiai Said, para kiai akan membahas persoalan-persoalan tersebut di tiga komisi, yaitu waqiaiyah, maudhuiyah, qanuniyah. 

“Bagaimana hukum membuang sampah, terutama sama plastik sembarangan?” katanya pada Konferensi Pers Munas dan Konbes NU di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2) malam. 

Menurut dia, sampah plastik merupakan ancaman bagi keberlangsungan kehidupan di bumi. Para kiai akan mencari jawabannya berdasarkan sumber ajaran Islam, bolehkah pemerintah memberikan sanksi kepada orang yang membuang sampah sembarangan, juga kepada produsen sampah plastik. 

Masalah selanjutnya yang akan dibahas para kiai adalah bagaimana hukumnya perusahaan air mineral yang mengambil air jumlah besar sehingga menyebabkan daerah sekitar itu kekeringan. 

Nabi Muhammad bersabda, tiga hal yang tidak boleh dimonopoli, dinikmati sekelompok orang, satu air. Itu tidak boleh diperjualbelikan. Kedua, energi. Ketiga, rumput dan hutan. Itu sudah diwanti-wanti Rasulullah sejak 14 abad lalu,” jelasnya.  

Terkait hal itu, lanjutnya, para kiai akan mencari jawaban bagaimana perusahaan air mineral yang menyebabkan kekeringan itu mendapat izin pemerintah? Apa perusahaan wajib mengganti air daerah kekeringan itu? Apa pemerintah wajib mencabut izinnya? 

Pada Komisi Bahtsul Masail Maudluiyyah (membahas persoalan tematik), para kiai akan membahas negara, kewarganegaraan, dan hukum negara dan konsep Islam Nusantara.

Di Komisi Bahtsul Masail Qanuniyyah (perundang-undangan negara), para kiai akan membahas RUU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha dan RUU Penghapusan Kekerasan Seksual. (Abdullah Alawi)

Kamis 21 Februari 2019 22:45 WIB
Kiai Said: Kok Tega sih Sebar Hoaks dan Fitnah?
Kiai Said: Kok Tega sih Sebar Hoaks dan Fitnah?

Jakarta, NU Online

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj mengaku heran pada sekelompok orang yang dengan sengaja menyebarkan siar kebencian (hate speech) pada kelompok lain, fitnah hingga hoaks yang pada akhirnya dapat menyebabkan perpecahan.

Keheranan itu timbul karena menurutnya, tidak mudah menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang terlahir dari agama, budaya, bahasa dan adat-istiadat yang beragam.

“Menyebar hoaks, adu domba, fitnah, hate speech. Kok tega banget sih berbuat seperti itu?” tanya kiai Said saat memberi ceramah di acara istighostah di gedung PBNU, Rabu (20/2).

Ia curiga bahwa orang yang gemar melakukan hal buruk yang mengancam persatuan ini tidak terlibat dalam perjuangan memerdekakan dan mempersatukan bangsa Indonesia.

Kelompok ini jelas berbeda dengan NU yang sejak semula terlibat dalam perjuangan, yang menyebabkan banyaknya kiai NU yang berguguran di medan pertempuran. Sehingga warga NU memahami betapa beratnya merebut kemerdekaan dan menjaga persatuan.

“Kemerdekaan negara ini hasil perjuangan bukan pemberian. Kemerdekaan dibangun dengan darah dan nyawa. Banyak sekali kiai NU yang berguguran. KH Hamid Rusdi, dibrondong. Kiai Ilyas yang pangkatnya kapten dibunuh Jepang. KH Hasyim Asyari dipenjara sebulan di Mojokerto karena tidak mau menyembah matahari. Saat keluar dari penjara tangan kanannya tidak bisa bergerak,” kata Kiai Said.

Menurut Kiai Said, orang yang tidak mempedulikan kemaslahatan orang banyak ini kelak akan mendapat balasan. “Barang siapa yang khianat melakukan sesuatu yang merugikan bangsa, membikin pecah belah masyarakat, merusak persatuan dan kesatuan bangsa, maka orang itu berkhianat pada dirinya, jika dia NU dia berkhianat pada NU, tanah airnya dan pada Allah SWT,” pungkasnya. (Ahmad Rozali)

IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG