::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Gus Sholah: Kaum Terpelajar Juga Terdampak Hoaks

Jumat, 22 Februari 2019 09:30 Nasional

Bagikan

Gus Sholah: Kaum Terpelajar Juga Terdampak Hoaks
foto: istimewa
Jombang, NU Online
KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah dalam acara Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan (Oase Bangsa) di Cafe Kunokini Surabaya, Jawa Timur mengatakan hoaks tidak hanya menyasar masyakarat bawah, bahkan kaum terpelajar dan intelektual juga bisa terkena dampak hoaks.

"Ternyata warga negara yang bergelar tinggi bahkan ada yang profesor belum tentu juga tidak termakan oleh hoaks," jelasnya, Kamis (21/2).

Hal ini menurut Gus Sholah tak lepas dari kurang hati-hatinya seseorang. Melihat ada kabar bombastis dan sesuai dengan hatinya maka langsung dibagikan, apalagi yang berkaitan dengan dukung mendukung pasangan calon tertentu.

Gus Sholah mengimbau agar masyarakat Indonesia tidak mudah untuk percaya hoaks dan menyebarkan begitu saja. Dilihat dan dibaca dulu sebelum membagikan kabar tertentu.

"Di media sosial orang mudah menerima pesan, kemudian dikirim ke yang lain, atau dia terbakar emosinya kemudian membalas," tambah Cucu KH Hasyim Asy'ari.

Gus Solah menjelaskan pernyataan Imam Wahyudi dari Dewan Pers yang mengatakan bahwa hoaks itu kebanyakan dibuat dari luar negeri dengan tujuannya untuk mengadu domba Bangsa Indonesia. Hal ini menandakan hoaks memang disengaja untuk tujuan tertentu.

"Beberapa waktu yang lalu saya main ke rumah anaknya Gus Dur, Anita, anak yang nomer tiga, dia ikut di Masyarakat Anti Fitnah di Indonesia. Katanya mereka lagi memesan alat yang bisa mengidentifikasi hoaks," cerita adik kandung Gus Dur ini.

Gus Sholah menggambarkan, kalangan intelektual dan elit yang termakan hoaks tergambar dengan peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa. 

"Sebuah negara Eropa memengaruhi masyarakat Inggris. Supaya nanti pada waktu referendum memilih keluar dari Uni Eropa Brexit itu. Begitu mereka milih Brexit sampai hari ini bingung. Jadi memang ada yang mengadu domba dari luar, sekarang jangan sampai kita bisa diadu domba," papar Gus Solah.

Pilpres 2019

Pemilu tahun 1955 menurut Gus Solah merupakan pemilu terbaik sepanjang sejarah Islam, karena, di tahun tersebut, partai-partai yang terlibat mewakili ideologi masing-masing. Baik itu ideologi Islam, ideologi Pancasila, ideologi komunis, dan murba. Yang membedakan antara pemilu di tahun tersebut dan masa kini, yaitu tidak adanya politik uang.

"Cuma waktu itu tidak ada politik uang, kecurangan. Sekarang dikit-dikit ribut, debat kemarin kan ribut, setelah debatnya, baru ribut," ungkapnya.

Pengasuh Pesantren Tebuireng ini juga menjelaskan tentang Pilpres 2019. Menurutnya, warga NU boleh memilih calon siapa saja. Bahkan beliau juga membebaskan keluarganya untuk memilih sesuai dengan pilihan mereka. "Di keluarga Tebuireng, keluarga saya. Yang satu dukung Jokowi dan yang satu dukung Prabowo ya silakan saja, mereka punya hak masing-masing," tegasnya.

Namun Gus Sholah meminta masyarakat memilih pemimpin tidak berdasarkan uang. Menurutnya jika diberi uang, boleh diterima, karena itu merupakan sedekah. Yang tidak diperbolehkan, yaitu memilih yang memberikan uang.

"Jadi saya selalu menyampaikan pada (saat) pemilu-pemilu, kalau anda diberi uang diterima atau tidak? Diterima, wong sedekah kok. Cuma, Anda tidak boleh memilih yang memberi uang. Itu anda disuap, kalau dikasih boleh. Jadi, justru Anda tidak boleh memilih yang memberi uang, pilihlah yang lain!," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)