IMG-LOGO
Nasional

Gus Sholah: Kaum Terpelajar Juga Terdampak Hoaks

Jumat 22 Februari 2019 9:30 WIB
Bagikan:
Gus Sholah: Kaum Terpelajar Juga Terdampak Hoaks
foto: istimewa
Jombang, NU Online
KH Salahuddin Wahid atau Gus Solah dalam acara Obrolan Aktual Seputar Kebangsaan (Oase Bangsa) di Cafe Kunokini Surabaya, Jawa Timur mengatakan hoaks tidak hanya menyasar masyakarat bawah, bahkan kaum terpelajar dan intelektual juga bisa terkena dampak hoaks.

"Ternyata warga negara yang bergelar tinggi bahkan ada yang profesor belum tentu juga tidak termakan oleh hoaks," jelasnya, Kamis (21/2).

Hal ini menurut Gus Sholah tak lepas dari kurang hati-hatinya seseorang. Melihat ada kabar bombastis dan sesuai dengan hatinya maka langsung dibagikan, apalagi yang berkaitan dengan dukung mendukung pasangan calon tertentu.

Gus Sholah mengimbau agar masyarakat Indonesia tidak mudah untuk percaya hoaks dan menyebarkan begitu saja. Dilihat dan dibaca dulu sebelum membagikan kabar tertentu.

"Di media sosial orang mudah menerima pesan, kemudian dikirim ke yang lain, atau dia terbakar emosinya kemudian membalas," tambah Cucu KH Hasyim Asy'ari.

Gus Solah menjelaskan pernyataan Imam Wahyudi dari Dewan Pers yang mengatakan bahwa hoaks itu kebanyakan dibuat dari luar negeri dengan tujuannya untuk mengadu domba Bangsa Indonesia. Hal ini menandakan hoaks memang disengaja untuk tujuan tertentu.

"Beberapa waktu yang lalu saya main ke rumah anaknya Gus Dur, Anita, anak yang nomer tiga, dia ikut di Masyarakat Anti Fitnah di Indonesia. Katanya mereka lagi memesan alat yang bisa mengidentifikasi hoaks," cerita adik kandung Gus Dur ini.

Gus Sholah menggambarkan, kalangan intelektual dan elit yang termakan hoaks tergambar dengan peristiwa keluarnya Inggris dari Uni Eropa. 

"Sebuah negara Eropa memengaruhi masyarakat Inggris. Supaya nanti pada waktu referendum memilih keluar dari Uni Eropa Brexit itu. Begitu mereka milih Brexit sampai hari ini bingung. Jadi memang ada yang mengadu domba dari luar, sekarang jangan sampai kita bisa diadu domba," papar Gus Solah.

Pilpres 2019

Pemilu tahun 1955 menurut Gus Solah merupakan pemilu terbaik sepanjang sejarah Islam, karena, di tahun tersebut, partai-partai yang terlibat mewakili ideologi masing-masing. Baik itu ideologi Islam, ideologi Pancasila, ideologi komunis, dan murba. Yang membedakan antara pemilu di tahun tersebut dan masa kini, yaitu tidak adanya politik uang.

"Cuma waktu itu tidak ada politik uang, kecurangan. Sekarang dikit-dikit ribut, debat kemarin kan ribut, setelah debatnya, baru ribut," ungkapnya.

Pengasuh Pesantren Tebuireng ini juga menjelaskan tentang Pilpres 2019. Menurutnya, warga NU boleh memilih calon siapa saja. Bahkan beliau juga membebaskan keluarganya untuk memilih sesuai dengan pilihan mereka. "Di keluarga Tebuireng, keluarga saya. Yang satu dukung Jokowi dan yang satu dukung Prabowo ya silakan saja, mereka punya hak masing-masing," tegasnya.

Namun Gus Sholah meminta masyarakat memilih pemimpin tidak berdasarkan uang. Menurutnya jika diberi uang, boleh diterima, karena itu merupakan sedekah. Yang tidak diperbolehkan, yaitu memilih yang memberikan uang.

"Jadi saya selalu menyampaikan pada (saat) pemilu-pemilu, kalau anda diberi uang diterima atau tidak? Diterima, wong sedekah kok. Cuma, Anda tidak boleh memilih yang memberi uang. Itu anda disuap, kalau dikasih boleh. Jadi, justru Anda tidak boleh memilih yang memberi uang, pilihlah yang lain!," pungkasnya. (Syarif Abdurrahman/Muiz)
Bagikan:
Jumat 22 Februari 2019 21:10 WIB
Sebanyak 15.986 Orang Akan Mendapat Pelatihan Pencegangan Narkoba dari Balai Kemendes-BNN
Sebanyak 15.986 Orang Akan Mendapat Pelatihan Pencegangan Narkoba dari Balai Kemendes-BNN
Balai Kemendes PDTT - BNN beri pelatihan pencegahan narkoba kepada 15.986 orang. (Foto: Kemendes PDTT)
Banjarmasin, NU Online
Tahun 2019 ini sebanyak 15.986 orang dari seluruh balai yang dimiliki Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) akan dilatih bersama Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk pencegahan narkoba. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Balilatfo Kemendes PDTT Jajang Abdullah pada saat acara Rapat Kerja Teknis Bidang Pelatihan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Se-Wilayah Kalimantan Tahun 2019 di Banjarmasin pada Rabu (20/2/2019).

"Jajaran Kemendes PDTT sudah tes narkoba dari mulai Menteri sampai pegawai. Kita sudah membuat MoU, kita lanjutkan ke Perjanjian Kerja Bersama (PKB) sebagai payung hukum. Aksinya, tahun ini Kemendes PDTT akan melatih sebanyak 15.986 orang seluruh balai yang ada di Indonesia. Banjarmasin sendiri tahun 2019 ini akan melatih sebanyak 1680 peserta, itu yang terbagi dalam beberapa jenis pelatihan, ada 40 angkatan di tahun 2019," terangnya.

Ia melanjutkan, ketika ada pelatihan akan mengundang dari BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) dan BNNK (Badan Narkotika Nasional Kabupaten) untuk memberikan materi-materi dan pemahaman bahaya narkoba kepada para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan para kader di desa.

"Kita ada pelatihan di balai dan pelatihan yang langsung di desa. Jadi kalau pelatihannya langsung di desa, ini wilayah BNN kabupaten mana, sehingga tiap kabupaten sangat efisien. Makanya kami mengundang MoU ini semua BNN yang diwilayah kabupaten," ujarnya.

Dirinya berharap tindaklanjut dari peserta pelatihan ini tergerak hatinya karena merasa tanggung jawab menjadi penggiat.

"Saya sarankan kepala-kepala balai BLM Banjarmasin untuk buat sekretariat sebagai wadah nanti pertemuan para alumni penggiat narkoba nanti kita bersinergi dengan BBNP atau BNN pusat untuk masukan atau strategi pencegahan," pesannya.

Sejalan dengan hal tersebut, Deputi Pemberdayaan Masyarakat BNN mengatakan bahwa ini tindak lanjut MoU yang sudah dilakukan BNN dengan Kemendes PDTT. Balai Latihan yang sudah ada di Kemendes PDTT akan dioptimalkan manfaatnya dalam rangka melatih masyarakat desa. BNN sudah punya program desa bersinar (desa bersih narkoba).

"Salah satu actionnya bagaimana melatih komunitas desa itu supaya imun terhadap penyalahgunaan dan pengedaran gelap narkoba. Materi yang sudah ada di BLM itu sudah setle, kita tinggal menambahkan konten tentang narkoba," terangnya.

Ketika ada kader masyarakat yang dididik di balai masyarakat ini akan diberikan pengajaran bahaya narkoba, sehingga saat mereka kembali ke desa sudah menjadi penggiat.

Kemendes PDTT dan BNN memiliki gerakan desa bersinar yang ditindaklanjuti dalam Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Balai Latihan Masyarakat Banjarmasin dengan 5 BNN Provinsi dan 12 BNN Kabupaten.

Acara ini dihadiri juga oleh Kepala BNN Provinsi, Kabupaten di wilayah Kalimantan, Kepala BLM Jayapura, Ambon, Makassar, Pekanbaru, dan BBLM Yogyakarta. Juga, kadis PMD Banjarmasin, BPMPD, P3MD, pengurus BUMDes. (Red-Zunus)
Jumat 22 Februari 2019 18:0 WIB
TWEET TASAWUF
KH Luqman Hakim: Jangan Lepas untuk Berdzikir
KH Luqman Hakim: Jangan Lepas untuk Berdzikir
KH M. Luqman Hakim (istimewa)
Jakarta, NU Online
Pakar Tasawuf KH M. Luqman Hakim menegaskan bahwa manusia jangan lepas untuk selalu berdzikir kepada Allah SWT. Menurutnya, menghadirkan hati setiap berdzikir memang penting. Tetapi jangan sampai gara-gara tak bisa menghadirkan hati lantas lepas dzikir.

“Jangan lepas dzikir. Apalagi gara-gara hatimu tidak bisa hadir di hadapan-Nya,” ujar Kiai Luqman dikutip NU Online, Jumat (22/2) lewat twitternya.

Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Raudhatul Muhibbin Caringin, Bogor, Jawa Barat ini mengatakan, orang yang tidak mau berdzikir lebih berbahaya dibanding dzikir tapi belum bisa menghadirkan hati.

“Karena tidak berdzikir sama sekali lebih berbahaya dibanding dzikir tanpa hadirnya hati. Siapa tahu Allah menaikkan derajatmu di tahap dzikir dengan kesadaran hadir di hadapan-Nya,” tutur penulis buku Filosofi Dzikir ini.

Menurut Kiai Luqman, tingkatan dzikir manusia pertama, dzikir makhluk pada makhluk. Ia menuturkan, orang ini ketika berdzikir merasa bisa dzikir dan tujuannya makhluk bukan Khaliq. Contoh biar laris dagangan, biar dapat surga, biar naik derajat dunia atau biar disebut ahli dzikir.

“Dzikir model ini tidak akan bertemu Sang Khaliq,” tegasnya.

Kedua, dzikir makhluk kepada Khaliq. Menurut Kiai Luqman, tingkatan dzikir orang ini merasa bisa berdzikir dengan tujuan  pada Sang Khaliq. Ia merasa bahwa dzikirnya telah sampai pada Sang Khaliq.

“Dzikir model ini juga tidak akan bertemu Sang Khaliq,” ungkap Direktur Sufi Center Jakarta ini.

Ketiga, dzikir khaliq kepada makhluk. Level ini berdzikir dengan menyadari bahwa dzikir seorang hamba akibat Allah mengingatnya. Karena ia tidak pernah merasa mampu berdzikir.

“Inilah tahap fana' dalam berdzikir. Allah yang menjadi Penyebab dia berdzikir. Bukan dia yang mampu berdzikir,” jelas Kiai Luqman.

Keempat, Allah Maha Berdzikir kepada Diri-Nya Sendiri. Kiai Luqman menerangkan, sang hamba ketika berdzikir hanyalah efek dari Dzikirnya Allah pada DiriNya. Ini merupakan tahap baqa' dalam berdzikir. (Fathoni)
Jumat 22 Februari 2019 15:30 WIB
Selamat Hari Bahasa Ibu, Berbahasa adalah Nikmat Allah
Selamat Hari Bahasa Ibu, Berbahasa adalah Nikmat Allah
Jakarta, NU Online 
Bahasa ibu merupakan bahasa pertama kali yang dipelajari atau digunakan seseorang. Misalnya anak Aceh atau Papua, pertama kali menggunakan yang otomatis mempelajari dalam bahasa tersebut, maka anak itu berbahasa ibu Aceh atau Papua. Anak itu kemudian disebut penutur asli bahasa itu. 

Karena berbagai faktor, ketahanan bahasa ibu di berbagai daerah di Indonesia semakin terdesak oleh bahasa-bahasa lain. Mulai dari bahasa Indonesia sendiri dan bahasa asing, misalnya Inggris atau Arab. Keterdesakan itu, jika dibiarkan, lama kelamaan menyebabkan bahasa itu hilang.

Terkait bahasa ibu yang biasa diperingati tiap 21 Februari, NU Online pernah mewawancarai budayawan dan agamawan Sunda, Usep Romli HM. Ia berpendapat, kondisi bahasa ibu di Indonesia ada yang bertahan, ada yang mengalami kemunduran. Yang bertahan, antara lain bahasa Sunda, Jawa, Bali, dan Lampung.

"Itu ditunjukkan dari lahirnya karya-karya tulis dalam bahasa itu yang tiap tahun mendapat hadiah dari Yayasan Rancage, baik untuk karya sastra maupun jasa terhadap bahasa dan sastra. Hadiah Yayasan Rancage yang digagas Ajip Rosidi sudah berlangsung lebih 25 tahun," katanya. 

Ketika ditanya apa pentingnya menjaga dan melindungi bahasa ibu, Usep mengatakan bahwa bahasa ibu mengandung filosofi, kearifan dan pandangan hidup masyarakat penggunanya. Untuk menjaga semua itu, bahasa ibu diperlukan hidup dan berkembang. Firman Allah dalam Q S Ar Rum ayat 22. Dan beberapa hadits yang menyangkut “antum a’lamu bi umurid dunyakum”. 

Menurut dia, pesantren lembaga pesantren masih utuh dan murni berdasarkan prinsip tafwidz (hanya Allah yang merancang), bahasa daerah terpelihara. Hingga tahun 1960-an, santri di Tatar Sunda masih mengaji kitab dengan bahasa Jawa, karena ajengannya ngaji di Jawa Tengah atau Jawa Timur. Sekarang pesantren telah berubah menjadi lembaga pendidikan umum, yang menganut prinsip tadbir (menggantungkan kepada subsidi), bahasa daerah nyaris hilang dalam kegiatan formal.Kecuali dalam pergaulan sehari-hari yang amat terbatas. 

Selama ada yang menggunakan dan memperjuangkan, insya Allah, akan tetap ada. Jika diabaikan, ya nikmat bahasa itu dicabut oleh pemiliknya, Allah SWT. Dia tidak akan mencabut anugrah nikmat-Nya dari suatu kaum, jika kaum itu tidak mengabaikan nikmat tersebut dengan sikap kufur nikmat (tafsir Ath Thabari, Jalalain, Khozin, atas ayat 11 S.Ar Ra’du Innallaha laa yughoyyiru ma bi qowmin hatta yughoyyiru ma bi anfusihim.

"Para mufasir mengkategorikan ayat ini sebagai ayat syukur dan kufur nikmat. Para ulama Orde Baru menganggap ayat ini sebagai ayaat pembangunan),” jelasnya.  

Jika bahasa Ibu hilang, kerugian buat kita adalah kerugian yang ditimpakan Allah SWT kepada bangsa kufur nikmat. Dijerumuskan ke “negara kebinasaan” (Q,s.Ibrahim : 28). Manusia kufur nikmat mendapat azab pedih (Q.s.Ibrahim : 7). Bahasa Ibu adalah nikmat Allah. Orang yang mensyukurinya dengan memelihara, memajukan, memperjuangkan kelanggengannya, akan ditingkatkan nikmatnya (Q.S.Ibrahim : 7). (Abdullah Alawi)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG