IMG-LOGO
Nasional

PBNU Minta Pertubuhan NU Malaysia Kembangkan Bahtsul Masail

Sabtu 23 Februari 2019 6:0 WIB
Bagikan:
PBNU Minta Pertubuhan NU Malaysia Kembangkan Bahtsul Masail
Jakarta, NU Online
Ketua Umum PBNU KH Said Aqil meminta kepada Pertubuhan Nahdlatul Ulama Malaysia agar mentradisikan dan mengembanhkan kajian ilmiah keagamaan yang dalam tradisi NU disebut bahtsul masail. 

“Penting itu, bahtsul masail itu mencerdaskan,” katanya kepada pra pengurus Pertubuhan NU Malaysia saat bersilaturahim di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2) malam. 

“Pak Sekjen, mohon kalau ada bahtsul masail NU, ini diundang,” kata Kia Said kepada Helmy Faishal Zaini yang juga turut hadir menemui mereka. Helmy Faishal pun mengiyakan. 

BacaUstadz-ustadz Asli Penduduk Malaysia Dirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama
Baca: Selain Pertubuhan NU Malaysia, NU Afghanistan Didirikan Penduduk Pribumi
Kiai Said juga menceritakan cara pandang NU terhadap tanah air dan negara. Menurut dia, Rasulullah SAW telah mencontohkan sebagai seorang yang mencintai tanah airnya, yaitu Makkah. 

Menurut pengasuh Pondok Pesantren Al-Tsaqofah CIganjur, Jakarta Selatan ini, Rasulullah pernah mengatakan bahwa seandainya aku tidak terusir dari Makkah, maka aku tidak akan meninggalkannya. 

Karena itulah, lanjutnya, ketika Rasulullah telah memiliki kekuatan dalam bentuk pasukan kaum Muslimin, berusaha merebut kembali Makkah. Di dalam sejarah hal itu disebut Fathu Makkah. 

“Itulah yang menjadi dasar Nahdlatul Ulama mencintai tanah airnya,” kata kiai yang pernah menjadi santri di Kempek, Lirboyo dan Krapyak, serta menimba ilmu 13 tahun di Arab Saudi ini. 

Baca: Ngefans Ketum PBNU, Ustadz Asli Malaysia Ini Namakan Anaknya Aqil Siradj
Di Nahdlatul Ulama populer kalimat hubbul wathan minal iman. Artinya cinta tanah air sebagai bagian dari iman. 

“Itu bukan hadits nabi, tapi qaul ulama, tapi menjadi pegangan NU karena sesuai dengan Rasulullah yang mencintai tanah airnya,” pungkasnya. 

Pada pertemuan itu, hadir Sekretaris Jenderal Pertubuhan NU Malaysia Sekretaris Jenderal Pertubuhan NU Malaysia Ustadz Ahmad Rijal dan Ketua Bidang Dakwahnya Ustaz Ahmad Faiz Hafizuddin. Mereka ke PBNU didampingi beberapa Pengurus Cabang Istimewa NU Malaysia dan Ketua Pimpinan Cabang Istimewa GP Ansor Malaysia Nur Alamin.

Pertubuhan NU Malaysia telah mendapatkan legalitas dari negaranya berdasarkan keputusan Kementerian Dalam Negeri Malaysia sejak tahun 2012. (Abdullah Alawi)
 
 

 

Bagikan:
Sabtu 23 Februari 2019 23:0 WIB
Gus Muwafiq Semarakkan Konfercab PCINU Australia-New Zealand
Gus Muwafiq Semarakkan Konfercab PCINU Australia-New Zealand

Jakarta, NU Online

Rangkaian acara Konferensi Cabang (Konfercab) VII Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia-New Zealand tahun ini terasa lebih special dari Konfercab sebelum-sebelumnya. Pasalnya, panitia Konfercab bekerja sama dengan University of Queensland Indonesian Student Association (UQISA) sukses menyelenggarakan acara Dialog Kebangsaan dengan tema “Tantangan Nasionalisme di Era Post-Truth” dengan menghadirkan kiai kondang KH Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal luas dengan Gus Muwafiq.

Dalam keterangannya, Ketua Tanfidziyah PCI NU ANZ terpilih Tufel Musyadad menjelaskan besarnya antusiasme Warga Negara Indonesia (WNI) setempat. “Sambutan mahasiswa UQ dan warga Indonesia sekitarnya begitu luar biasa. Ratusan orang mulai dari orang tua, pemuda pemudi, hingga anak-anak dari berbagai latar belakang komunitas dan agama hadir dalam acara tersebut,” kata Tufel dalam keterangan yang diterima NU Online, Sabtu (23/2). 

Ia menjelaskan dialog diawali dengan Sholat Maghrib berjamaah dan makan malam bersama dengan menu masakan khas Indonesia berupa Nasi Padang.

Acara dialog ini dibuka dengan sambutan dari ketua UQISA, Arimbi Mardila Ashany (yang akrab disapa Bea). Dalam sambutannya, Bea sangat mengapresiasi panitia Konfercab yang melibatkan UQISA sebagai penyelenggara acara dialog. Bea juga menyambut positif tema dialog yang diusung dan sangat relevan dengan kondisi kebangsaan masyarakat Indonesian saat ini.

Sementara itu, Rois Syuriah PCI NU ANZ, Prof. Nadirsyah Hosen (Gus Nadir) dalam sambutannya mengingatkan kembali tentang pentingnya menjaga nilai-nilai yang menjadi identitas bangsa Indonesia yakni keramahtamahan, keragaman, dan kebersamaan.

Saat orasi ilmiah oleh Gus Muwafiq telah tiba, para hadirin tampak sangat antusias dan memenuhi ruangan acara. Gus Muwafiq hadir di tengah-tengah peserta dengan mengenakan pakaian serba putih yang menjadi identitas beliau saat mengisi ceramah di berbagai daerah di Nusantara.

Layaknya para kyai NU, beliau mengawali orasi ilmiahnya dengan melemparkan candaan tentang istilah “post” yang menjadi kata kunci dalam tema dialog tersebut. Selama lebih dari satu jam, hadirin disuguhkan dengan pemaparan yang menarik, mendalam, dan segar dari Gus Muwafiq tentang kondisi aktual sosio-politik bangsa dan sejarahnya.

Dalam pemaparannya, Gus Muwafiq menyoroti kondisi keagamaan di Indonesia yang semakin mundur di tengah laju modernisasi dunia. Sesekali kiai asal Yogyakarta ini melontarkan candaan yang mencontohkan adanya beberapa orang Islam yang sangat bersemangat menegakkan syariat Islam dengan cara yang salah, seperti lebih memilih meminum air kencing onta sebagai obat daripada obat-obat yang teruji secara medis.

“Beliau juga mencontohkan betapa umat Islam masih saja berkutat pada perdebatan masalah ubudiyah di media sosial tanpa menyadari bahwasannya pemilik media sosial adalah pihak yang paling diuntungkan dalam perdebatan tersebut,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Gus Muwafiq juga menekankan tentang pentingnya untuk bersyukur menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Kiai alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini memaparkan tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi dunia.

Sejarah kehebatan bangsa-bangsa yang bersatu dalam naungan NKRI juga tidak luput dari pemaparannya. “Beliau menekankan bahwa nilai-nilai identitas NKRI yaitu rukun dan kebersamaan adalah modal utama demi tercapainya negara yang adil, aman, dan makmur,” kata Tufel.

Selepas orasi, para hadirin terlihat sangat antusias untuk berdialog bersama Gus Muwafiq. Hingga tak terasa hampir dua jam orasi dan sesi tanya jawab berlangsung yang memaksa panitia harus menghentikan acara. 

“Salah satu hadirin berujar bahwa baru kali ini acara dialog keagamaan di kampus dilangsungkan hingga jam sepuluh malam, padahal izin penggunaan ruangan hanya sampai jam sembilan malam,” pungkasnya.  (Ahmad Rozali)

Sabtu 23 Februari 2019 22:45 WIB
Yenny Wahid Terharu Masyarakat Antusias Hadiri Haul Gus Dur di Solo
Yenny Wahid Terharu Masyarakat Antusias Hadiri Haul Gus Dur di Solo
foto: istimewa
Solo, NU Online
Mewakili keluarga Gus Dur Yenny Wahid mengatakan, acara Haul ke-9 Gus Dur di Kota Solo, Jawa Tengah sangat luar biasa. Masyarakat sangat antusias yang datang dari berbagai elemen. Meski acara serupa juga digelar di banyak daerah. Namun menurutnya, acara di Solo berbeda dari tempat lainnya.

"Entah kenapa saya terharu sekali bapak ibu kerso rawuh (bersedia hadir). Tadi hujan-hujan ikut kirab, sampai hadir malam ini. Semoga Allah membalas kebaikan saudara dengan kebaikan yang berlimpah," kata Yenny.

Dia juga mengaku baru saja memimpikan Gus Dur yang sedang tersenyum. Menurutnya, Gus Dur senang karena haulnya akan dihadiri orang banyak.

"Saya kerawuhan dalam mimpi, Gus Dur seperti biasa, beliau senyum-senyum, mungkin tahu keikhlasan bapak ibu datang malam hari ini," ujarnya.

Peringatan Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur digelar di Stadion Sriwedari, Solo, malam ini dimulai sekitar pukul 20.00 WIB dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Namun puluhan ribu peserta telah mulai memadati Stadion Sriwedari sejak sekitar waktu magrib, Sabtu (23/2).

Peserta terlihat memenuhi seluruh bagian stadion, baik di tribun maupun di tengah lapangan. Karena kondisi lapangan yang becek, para peserta duduk di atas tikar plastik.

Tampak layar LED besar menjadi latar belakang di panggung utama. Ditampilkan petikan kata-kata yang pernah disampaikan Gus Dur, seperti 'Gitu Aja Kok Repot' dan 'Tuhan Tidak Perlu Dibela, Karena Dia yang Maha Kuasa'.

Di atas panggung, terlihat beberapa tokoh yang turut hadir. Di antaranya ibunda Presiden Joko Widodo Hj Sujiatmi Notomiharjo, Yenny Wahid, Wakil Gubernur Jateng Taj Yasin, Wali Kota Surakarta FX Hadi Rudyatmo, Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono dan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Mochamad Effendi. (Ajie Najmuddin/Muiz)
Sabtu 23 Februari 2019 22:30 WIB
PCI NU Australia-New Zealand Sukses Gelar Konferensi Cabang ke-7
PCI NU Australia-New Zealand Sukses Gelar Konferensi Cabang ke-7

Jakarta, NU Online

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia-New Zealand telah sukses mengadakan Konferensi Cabang (Konfercab) dua tahunan ketujuh. Kali ini acara tersebut digelar di Brisbane, Queensland, Australia.

 

Ketua Tanfidziyah PCI NU ANZ terpilih Tufel Musyadad menerangkan bahwa acara yang digelar selama 16-17 Februari 2019 digelar dengan tajuk “The Challenge of Nationalism and Populism in the Post-Truth Era”. Tak hanya menghadirkan Warga Negara Indonesia setempat, namun juga beberapa tokoh, baik dari Australia maupun dari Indonesia.

 

Acara ini diawali dengan sambutan dari perwakilan masyarakat asli suku Aborigin di Australia, Aunty Betty McGrady lalu disambut dengan menyanyikan lagu mars “Ya Lal Wathan”oleh para peserta.

 

Rois Syuriah PCI NU Australia-New Zealand, Prof. Nadirsyah Hosen atau yang lebih akrab dipanggil Gus Nadir kemudian memberikan sambutan dan penjelasan mengenai karakter Nahdlatul Ulama: Tawassuth, Tawazun, I’tidal dan Tasamuh dalam sambutannya, yang diawali dengan menghadiahkan bacaan surat Al-Fatihah untuk para pendiri dan ulama Nahdlatul Ulama nusantara.

 

Acara ini dibuka langsung oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia Sydney, Heru Subolo. Dalam kesempatan tersebut Heru Subolo menegaskan kembali pentingya nilai kemanusiaan dan nasionalisme yang harus dijaga antara Indonesia dan Australia.

 

Dalam acara tersebut hadir pula penerima penghargaan “Australian Muslim Women of The Year 2006”, Dr. Nora Amath, yang didapuk menjadi Keynote Speaker. Dalam kesempatan tersebut ia memberikan pidato tentang peranan Islam dalam nasionalisme di era post-truth dewasa ini.

 

Tidak hanya melakukan orasi akademik, pembukaan Konferensi Cabang Australia-New Zealand juga menampilkan parade kebudayaan Indonesia yang kemudian ditutup dengan doa Bersama oleh Imam Mubarak Muslim Omo selaku Muastasyar PCI NU Australia-New Zealand.

 

Rangkaian acara Konferensi Cabang (Konfercab) VII Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia-New Zealand tahun ini terasa sangat spesial. Pasalnya, panitia Konfercab bekerja sama dengan University of Queensland Indonesian Student Association (UQISA) sukses menyelenggarakan acara Dialog Kebangsaan dengan tema “Tantangan Nasionalisme di Era Post-Truth”.

 

Acara semakin spesial dengan kehadiran KH Ahmad Muwafiq atau yang lebih dikenal luas dengan Gus Muwafiq, ulama dan juga cendikiawan muda NU sebagai pembicara utama. (Ahmad Rozali)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG