IMG-LOGO
Internasional

Di Malaysia Ada Cabang Istimewa NU, Muslimat, Fatayat, Pagar Nusa, dan GP Ansor

Sabtu 23 Februari 2019 8:0 WIB
Bagikan:
Di Malaysia Ada Cabang Istimewa NU, Muslimat, Fatayat, Pagar Nusa, dan GP Ansor
Jakarta, NU Online 
Warga NU yang berada di negeri jiran Malaysia tidak bisa meninggalkan sepenuhnya kebiasaan di kampung halamannya di Indonesia seperti tahlilan, barzanjian, dan amaliyah Ahlussunah wal Jamaah lain. Termasuk dalam berorganisasi yang mewadahi kebiasaan tersebut. Maka berdirilah NU Cabang Istimewa dan beberapa badan otonomnya.  

Menurut Pimpinan Cabang Istimewa Gerakan Pemuda Ansor Malaysia Nur Alamin, PCINU telah ada sejak 1999, PCI Fatayat NU sejak tahun 2005, PCI Muslimat NU tahun 2014, PCI Pagar Nusa sejak tahun 2016, dan PCI GP Ansor sejak tahun 2018.

“Ketua PCINU dengan Tanfidziyah Ustadz Ihyaul Lazib dan Syuriyah Kiai Liling Sibromilisi, Ketua PCI Muslimat NU Malaysia Ibu Mimin mintarsih, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiyah, Ketua Pagar Nusa NU Bapak Zakky dan Ketua PCI GP Ansor Malaysia saya sendiri, Nur Alamin,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2) malam.

Menurut dia, jika melihat Undang-undang di negara Malaysia saat ini, organisasi penduduk asing yang tinggal di negara tersebut tidak mungkin mendapatkan legalitas dari pemerintah sehingga tidak mungkin melakukan kegiatan sebagaimana NU beserta lembaga dan banomnya di Indonesia. 

“Bisa melakukan kegiatan, tapi tidak mungkin sebesar yang dilakukan di Indonesia. Akhir tahun 2018 lalu, GP Ansor mengadakan Pelatihan Kepemimpinan Dasar,” katanya. 

Namun, lanjutnya, belakangan penduduk asli Malaysia justru mendirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama Malaysia yang mendapatkan legalitas dari Kementerian Dalam Negeri Malaysia. Saat ini pertubuhan tersebut baru dikembangkan di Kuala Lumpur dan Selangor. 

“Pada perkembangan selanjutnya mulai ada juga di Kedah dan Perak dan Johor,” katanya, “sebagaimana organisasi keagamaan Pertubuhan diinisiasi oleh para tokoh agama,” katanya.  

Hingga saat ini, menurut dia, antara Pertubuhan NU Malaysia dan Pengurus Cabang Istimewa NU beserta banomnya tidak ada hubungan secara struktural. Yang ada adalah hubungan kultural, saling mengenal, karena sama-sama Ahlussunah wal Jamaah. (Abdullah Alawi)

Bagikan:
Sabtu 23 Februari 2019 3:0 WIB
Selain Pertubuhan NU Malaysia, NU Afghanistan Didirikan Penduduk Pribumi
Selain Pertubuhan NU Malaysia, NU Afghanistan Didirikan Penduduk Pribumi
Logo NU Afghanistan
Jakarta, NU Online 
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini mengatakan, kepengurusan NU telah ada di 36 negara. Sebanyak 26 negara telah mendapat Surat Keputusan dari PBNU. Sisanya merupakan persiapan seperti di negara Rusia. Namun, kepengurusannya sudah ada. Hanya saja, syarat-syarat lainnya belum terpenuhi. 

“Ada dua negara yang penduduk aslinya berinisiatif mendirikan organisasi NU, yaitu Afghanistan dan Malaysia,” katanya pada Konferensi Pers Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama atau disingkat Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2) malam. 
Baca: Ustadz-ustadz Asli Penduduk Malaysia Dirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama
Ia menjelaskan PCINU atau pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama adalah cabang NU di luar negeri dengan pengurus penduduk Indonesia yang berada di negara tersebut. Sementara di Afghanistan dan Malaysia adalah penduduk asli yang mendirikan organisasi yang mirip dengan NU dan berkoordinasi dengan NU. 

“NU di Afghanistan bernama Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), sementara NU Malaysia adalah Pertubuhan NU Malaysia (belum ada singkatan resminya, red.),” katanya.

Ia menjelaskan NU Afghanistan memiliki logo sendiri yang berbeda dengan Nahdlatul Ulama. Sementara NU Malaysia menggunakan nama, logo, dan warna yang sama. Tentang hal ini menjadi pembicaraan di tingkat pengurus. 

Baca: Ngefans Ketum PBNU, Ustadz Asli Malaysia Ini Namakan Anaknya Aqil Siradj
NU di Afghanistan dimulai pada tahun 2013 ketika ulama-ulama tersebut ke Jakarta dan bertemu dengan kiai dan pengurus PBNU. Setelah pertemuan itu, 6 bulan kemudian terbentuk NU Afghanistan. 

Sementara Pertubuhan NU Malaysia, dimulai sejak 2012 dan telah mendapatkan legalitas dari Kementerian Dalam Negeri negara tersebut. Namun tidak terlalu berkembang dengan baik. Baru tahun ini, pertubuhan tersebut akan digerakkan kembali. (Abdullah Alawi) 
Jumat 22 Februari 2019 18:19 WIB
Ustadz-ustadz Asli Penduduk Malaysia Dirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama
Ustadz-ustadz Asli Penduduk Malaysia Dirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama
Jakarta, NU Online 
Sejumlah ustadz di Malaysia mendirikan Pertubuhan Nahdlatul Ulama, sebuah organisasi keagamaan sebagaimana NU di Indonesia. Bahkan logo dan namanya pun sama. Para ustadz itu menyampaikan demikian kepada Ketua Umum KH Said Aqil Siroj dan Sekjen Helmy Faishal Zaini di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2).

Pada pertemuan itu, ustadz-ustadz yang berasal dari wilayah Selangor, Kuala lumpur, Kelantan, Kedah, dan Perak yang berjumlah 14 orang itu mendirikan NU di Malaysia sebagai upaya memperkuat Islam Ahlussunah wal Jamaah.

Sekretaris Jenderal Pertubuhan NU Malaysia Ustadz Ahmad Rijal mengatakan tujuan datang ke PBNU adalah memberitahukan bahwa di negaranya ada organisasi NU yang didirikan warga asli Malaysia. Mereka juga meminta persetujuan PBNU untuk menggunakan nama dan logo Nahdlatul Ulama.  

“Kami melihat NU itu mantap,” katanya kepada NU Online saat ditanya alasannya, “NU menjadi contoh terbaik tidak hanya untuk Indonesia sebenarnya, tapi seluruh dunia. Kita ingin proses (persetujuan dari PBNU, red.) ini cepat. Kita tidak ingin terlambat,” jelasnya.  

Ia menyampaikan, pertubuhan itu juga akan meminta persetujuan mengadopsi mekanisme yang selama ini dijalankan NU. 

Kalau sudah mendapatkan persetujuan, lanjutnya, logo dan nama organisasi ini akan segera disosialisasikan di Malaysia. 

Sementara Ketua Bidang Dakwah Pertubuhan NU Malaysia Ustadz Ahmad Faiz Hafizuddin mengatakan, NU tidak hanya sekadar organisasi, tapi ada nilai barakahnya karena didirikan para ulama yang bersih jiwanya. 

“Saya berpendapat NU bukan semata-mata organisasi, tapi barokah para masyaikh para pendiri yang betul-betul ikhlas dengan istikharah dan irsyad para ulama yang dulu-dulu yang jiwaya emas, jiwanya mukhlasin hingga kekal sampai hampir seratus tahun,” jelas pengasuh Pondok Pesantren Rumi Sufi Jawi di daerah Sungai Buluh, Selangor ini. (Abdullah Alawi)

Jumat 22 Februari 2019 2:32 WIB
PCINU Korea Selatan Dapatkan Legalitas dari Pemerintah
PCINU Korea Selatan Dapatkan Legalitas dari Pemerintah
Jakarta, NU Online 
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini mengatakan, pada bulan ini Pengurus Cabang Istimewa Korea Selatan telah mendapatkan legalitas dari negaranya. Sehingga PCINU Korea Selatan bisa melakukan apa pun asal tidak melanggar Undang-Undang negara tersebut. 

"Alhamdulillah PCINU Koreas Selatan telah mendapatkan legalitas dari pemerintahnya," katanya selepas Konferensi Pers Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama atau disingkat Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Gedung PBNU, Jakarta, Kamis (21/2) malam.

Dengan legalitas tersebut, lanjutnya, keberadaan PCINU Korea Selatan dilindungi undang-undang negara tersebut. Bahkan melakukan usaha pun, semacam travel ibadah haji, mereka bisa melakukannya.

"Hal serupa sedang dilakukan PCINU Jepang. Semoga mereka berhasil," katanya.

kepengurusan NU telah ada di 36 negara. Sebanyak 26 negara telah mendapat Surat Keputusan dari PBNU. Sisanya merupakan persiapan seperti di negara Rusia. Namun, kepengurusannya sudah ada. Hanya saja, syarat-syarat lainnya belum terpenuhi. 

“Ada dua negara yang penduduk aslinya berinisiatif mendirikan organisasi NU, yaitu Afghanistan dan Malaysia,” katanya. 

Ia menjelaskan PCINU atau pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama adalah cabang NU di luar negeri dengan pengurus penduduk Indonesia yang berada di negara tersebut. Sementara di Afghanistan dan Malaysia adalah penduduk asli yang mendirikan organisasi yang mirip dengan NU dan berkoordinasi dengan NU. 

“NU di Afghanistan bernama Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA), sementara NU Malaysia adalah Pertubuhan NU Malaysia (belum ada singkatan resminya, red.),” katanya.

Lebih lanjut ia menjelaskan NU Afghanistan memiliki logo sendiri yang berbeda dengan Nahdlatul Ulama. Sementara NU Malaysia menggunakan nama, logo, dan warna yang sama. Tentang hal ini menjadi pembicaraan di tingkat pengurus. 

NU di Afghanistan dimulai pada tahun 2013 ketika ulama-ulama tersebut ke Jakarta dan bertemu dengan kiai dan pengurus PBNU. Setelah pertemuan itu, 6 bulan kemudian terbentuk NU Afghanistan. 

Sementara Pertubuhan NU Malaysia, dimulai sejak 2012 dan telah mendapatkan legalitas dari Kementerian Dalam Negeri negara tersebut. Namun tidak terlalu berkembang dengan baik. Baru tahun ini, pertubuhan tersebut akan digerakkan kembali. (Abdullah Alawi) 
 

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG