IMG-LOGO
Nasional

Gus Nadir dan Tufel kembali Pimpin PCINU Australia-New Zealand

Ahad 24 Februari 2019 0:10 WIB
Bagikan:
Gus Nadir dan Tufel kembali Pimpin PCINU Australia-New Zealand
Gus Nadir, Gus Muwafiq Ustadz Mubarok Omo dan Tufel
Jakarta, NU Online
Konferensi Cabang (Konfercab) VII Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Australia-New Zealand tahun 2019 kembali memutuskan Prof. Nadirsyah Hosen dan Tufel Musyadad sebagai Rais Syuriyah dan Ketua Tanfidziyah PCI NU ANZ 2019-2021. 

Dalam keterangannya, Ketua Tanfidziyah PCI NU ANZ terpilih Tufel Musyadad menjelaskan bahwa Konfercab kali ini terasa lebih istimewa dari sebelumnya. Selain karena memilih kembali Gus Nadir dan dirinya sebagai Syuriah dan Tanfidiyah, namun juga karena dihadiri dan “ditunggui” langsung oleh tokoh sekaliber Gus Muwafiq dari awal sampai akhir. 

Sebagai agenda pertama dalam Konfercab adalah pleno mengenai tata tertib Konfercab. Dalam pleno tersebut, PCINU menekankan dibentuknya Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) yang akan bertugas untuk memilih Rais Syuriah, yang mana sesuai dengan AD/ART PBNU. 

Dalam pleno pemilihan Ahwa, peserta Konfercab secara mufakat memilih Gus Muwafiq (Jogja), Kyai Mubarok Omo (Perth), Syeikh Sabil (Adelaide), Syeikh Anshori (Perth), dan Gus Nadir (Melbourne). “Selanjutnya anggota Ahwa bermusyawarah secara terbatas dan memutuskan bahwasannya Gus Nadir untuk berkenan menjadi Rois Syuriah PCI NU ANZ untuk yang kesekian kalinya,” kata Tufel.

Selepas terpilihnya Rais Syuriyah, pleno dilanjutkan dengan agenda pemilihan Ketua Tanfidziyah. Setiap perwakilan state dan territory yang hadir mengusulkan satu nama calon yang nantinya nama-nama tersebut disetujui oleh Rois Syuriah dan akan dipilih secara musyawarah mufakat. 

Dari kelima wilayah terdapat lima calon yang diusulkan, yakni Dodi Adibrata (Perth), Mohamad Anshori Chusnurrofik (Perth), M. Nazil Iqdami (Melbourne), Yusdi Maksum (Sydney), dan Tufel Musyadad (Adelaide). Melalui skema musyawarah mufakat akhirnya forum sepakat memilih Tufel Musyadad untuk kembali untuk memimpin roda organisasi PCI NU ANZ.

Selain pemilihan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah, Konfercab VII juga membahas tentang laporan pertanggungjawaban dari pengurus sebelumnya masa bakti 2016-2018. Dalam laporannya, pengurus terdahulu menyampaikan program-program kerja yang tercapai dan tidak tercapai serta tantangan-tantangannya. 

Beberapa program kerja yang tercapai termasuk mengadakan Safari Ramadan tahunan, Gus Dur Memorial, dan Peringatan Hari Santri. Sementara itu, tantangan yang dihadapi selama tahun 2016-2018 meliputi kendala dalam hal pembiayaan kegiatan dan kaderisasi.

Selanjutnya, penyelenggaraan Konfercab VII juga melahirkan rekomendasi program kegiatan ke depan, arah PCINU ANZ dalam menyikapi isu-isu global dan nasional, serta problematika seputar fiqih keseharian. 

“Secara keseluruhan, penyelenggaraan Konfercab ketujuh berlangsung dengan khidmat dan diliputi dengan rasa kekeluargaan. Di akhir rangkaian pleno, Kyai Mubarok Omo memimpin doa dengan harapan seluruh pengurus PCI NU ANZ diberi kekuatan dan keberkahan dalam mengemban amanah organisasi Lii’lai Kalimatillah. Acara pun ditutup dengan mushafahah peserta Konfercab ketujuh dengan Gus Muwafiq, Gus Nadir, dan Ustadz Mubarok Omo,” pungkasnya. (Ahmad Rozali) 
Bagikan:
Ahad 24 Februari 2019 23:30 WIB
Polri: Ada Peran Ulama Sepuh saat Pendirian Indonesia
Polri: Ada Peran Ulama Sepuh saat Pendirian Indonesia
Direktur Sosbud Baintelka Polri, Brigjend Merdiamsyam (kiri)
Boyolali, NU Online
Direktur Sosbud Baintelka Polri, Brigjend Merdiamsyam, mengungkapkan Indonesia adalah rumah kita bersama yang harus dijaga.  Berdirinya Indonesia ada peran ulama sepuh di dalamnya. 

"Untuk itu harus ada sinergitas yang kuat antara pemerintah dan ulama. Sehingga, terwujudnya Indonesia yang aman dan damai," kata Merdiamsyam saat menjadi narasumber seminar nasional di Muspimnas PMII di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah, Ahad (24/2).

Pernyataan tersebut merespons masih adanya masyarakat Indonesia yang mempersoalkan dasar negara. Ia mengatakan, Indonesia didirikan oleh funding father dengan kekuatan peran kiai sepuh seperti Kiai Hasyim Asy'ari. 

"Beliau-beliau sudah memikirkan bahwa Indonesia ini berdiri bukan pada satu golongan saja. Bukan untuk satu agama saja. Itulah pemikiran sepuh kita yang mendirikan negara Indonesia," katanya.

Ia menjelaskan, Indonesia yang memiliki 14 ribu pulau lebih, tujuh ribu suku atau bangsa dan memiliki banyak aliran agama adalah sumber kekuatan dalam mendirikan Indonesia dahulu kala. Untuk itu agar persatuan dan kesatuan tetap terjalin harus ada kekuatan yang besar yang dimiliki masing masing komponen. 

"Di kita berbeda dengan negara lain. Kalau di kita,  TNI-Polri berasal dari masyarakat biasa. Ibu kandung TNI Polri adalah masyarakat," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
Ahad 24 Februari 2019 23:15 WIB
Pramuka NU Jateng Juara Umum Pergamanas 2019
Pramuka NU Jateng Juara Umum Pergamanas 2019
Jakarta, NU Online
Sako Ma'arif NU Jawa Tengah berhasil menjadi Juara Umum dalam perhelatan Perkemahan Penggalang Ma'arif Nasional (Pergamanas) II tahun 2019. 
Panitia menyerahkan hadiah pada Sabtu malam (23/2) oleh Ketua PP LP Ma'arif NU KH Z. Arifin Junaidi.

Kiai yang biasa disapa Arjuna ini mengucapkan selamat kepada Sakoma NU Jateng yang berhasil menjadi Juara Umum pada Pergamanas II tahun 2019. "Selamat, semoga menjadi semangat untuk menghidupkan Sako Ma'arif," katanya.

Dari hasil kejuaraan, panitia Pergamanas II 2019 mengumumkan, untuk Bidang Olimpiade Aswaja dan ke-NU-an Putra Juara 1. Regu Kirin (Lumajang), Juara 2. Regu Singa (NTB), Juara 3. Abdullah Rosyid Dzulhilmi Regu Lebah (Kudus). Sementara Harapan 1 Regu Garuda (Banyumas), Harapan 2 Regu Garuda (Jepara), Harapan 3 Regu Garuda (Demak).

Untuk Putri Bidang Olimpiade Aswaja dan ke-NU-an, Juara 1. Regu Anggrek Bulan (Banyumas), Juara 2. Regu Sakura (Tangerang), Juara 3. Regu Tulip (Kab. Mojokerto). Sedangkan Harapan 1 Regu Kamboja (Magelang), Harapan 2 Regu Mawar (Pekalongan), dan Harapan 3 Regu Mawar (Babat).

Untuk Bidang Pentas Seni, Juara 1. Jawa Tengah, Juara 2. Jawa Timur, dan Juara 3. Banten. Sementara Harapan 1 Bali, Harapan 2 Lampung, dan Harapan 3 Kalimantan Timur.

Untuk Bidang Kuliner Nusantara, Juara 1. Bandung, Juara 2. Temanggung, dan Juara 3. Surabaya. Sementara Harapan 1 Jepara, Harapan 2 Kendal, dan Harapan 3 Ternate.

Bidang Karnaval Juara 1. Jember, Juara 2. Semarang Juara 3. Tasikmalaya, Harapan 1 Banten, Harapan 2 Kalimantan Barat, dan Harapan 3 Wonosobo.

Perlombaan Bidang Yel-Yel, Juara 1 Jember, Juara 2 Jogjakarta, dan Juara 3 NTB, Harapan 1 Depok, Harapan 2 Temanggung, serta Harapan 3 Bengkulu.

Untuk Bidang Tapak Kemah Putra, Juara 1. Jepara, Juara 2. Bengkulu, dan Juara 3. Blitar, Harapan 1 Balekambang Jepara, Harapan 2 Semarang, serta Harapan 3 Banyumas. Untuk Tapak Kemah Putri Juara 1. Temanggung, Harapan 1 Wonosobo, Harapan 2 Kudus, dan Harapan 3 Semarang.

Juara Umum adalah Jawa Tengah, Juara Favorit Jawa Timur, dan Kontingen Tergiat Maluku Utara, sedangkan Kontingen Terbanyak adalah Jawa Tengah.

Wakil Ketua LP Ma'arif NU Jateng Fakhrudin Karmani, mengatakan bahwa hasil Juara Umum tersebut menjadi bukti kerja keras semua elemen. "Ini adalah hasil dari semangat dan kerja keras para kontingen dan tim Sako Pramuka Ma'arif Jateng yang secara maksimal mempersiapkan para adik-adik untuk tampil membanggakan," katanya, Ahad (24/2/2019).

Dan untuk pengurus LP Ma'arif NU Jateng, lanjut dia, tentunya ini awal prestasi yang bagus sebagai pengurus baru di Ma'arif.

Secara terpisah, Ketua LP Ma'arif NU Jateng mengapresiasi perolehan prestasi tingkat nasional tersebut. "Satu keraguan sudah terjawab atas kerja keras kita bersama. Selamat, semoga berkah untuk kita semua. Kita lanjutkan kesuksesan ini di Porsema Jateng," tegas dia.

Karena itu, pihaknya memastikan Panitia Porsema segera bergerak. "Siapkan segala keperluan dengan sematang-matangnya. Karena keberhasilan kita adalah ketika mereka merasa nyaman dan puas atas pelayanan kita. "Mumpung waktu masih panjang, kita gunakan untuk menyiapkan segala sesuatu, agar hasilnya maksimal," tutup dia. (Hamidulloh Ibda/Abdullah Alawi)

Ahad 24 Februari 2019 23:5 WIB
Kiai Nuril Huda: PMII Didirikan untuk Membela Aswaja Sepanjang Masa
Kiai Nuril Huda: PMII Didirikan untuk Membela Aswaja Sepanjang Masa
KH Nuril Huda (tengah)
Boyolali, NU Online
Salah satu pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) KH Nuril Huda memberikan arahan di Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) PMII di Gedung Asrama Haji Donohudan,  Boyolali-Jawa Tengah, Ahad (24/2). Di hadapan ribuan kader PMII Kiai asal Lamongan, Jawa Timur itu menceritakan pengalamannya termasuk suka duka saat mendirikan PMII tahun 1960 silam. 

Ia menuturkan, tujuan didirikannya PMII adalah untuk membela Ahlusunah wal Jamaah sepanjang masa. Dirinya sempat puasa sunah sebelum ia dan 12 sahabatnya mendirikan PMII. 

Ia menjelaskan, hal itu dilakukan semata mata agar mendapat keberkahan para ulama dan kebermanfaatan PMII dimasa yang akan datang.

"Selama saya hidup saya berjuang untuk Aswaja. Dan PMII saya dirikan untuk membela Aswaja sepanjang masa. Sekarang banyak sekali orang gak belajar, oleh karena yang pinter harus yang muda. Makanya yang muda harus dekat sama orang tua, tua ilmunya tua usianya," katanya.

Ia mengungkapkan pelajaran yang paling utama untuk kader PMII adalah soal kejujuran. Jujur, kata Kiai Nuril Huda salah satu unsur penting yang harus dimiliki kader PMII agar kelak tidak melakukan hal yang tercela seperti korupsi dan hal lainya. 

Pria yang pernah menjabat sebagai Sekretaris di Depag Lampung tersebut mengimbau kepada kader PMII untuk tidak main main dengan korupsi.  Sebab, kata dia, dalam ajaran Islam jika ingin memiliki keturunan yang hebat maka jangan pernah dinafkahi dengan yang haram. 

"Adik adik, kita ini masih belajar, belajar yang penting jujur, jujur, jujur. Kalau kamu jadi Walikota harus jujur," ucapnya. 

Ia juga memberikan petuah betapa pentingnya hidup dalam lingkungan pesantren. Hanya di pondok pesantren budi pekerti diajarkan sampai tuntas. Bahkan, ujar dia, kiai di pondok pesantren setiap malam berdoa agar santrinya bisa menjadi orang yang baik dan berguna. 

"Dua belas tahun saya di Lampung. Selama di Lampung, saya kalau diminta ceramah saya tidak pernah minta apa-apa. Karena kata Allah yang mati-matian berjuang untuk Allah akan diluruskan hidupnya," ujarnya. (Abdul Rahman Ahdori)/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG