IMG-LOGO
Munas-Konbes NU 2019

Kenapa Penyebutan Nama Kota Banjar Diikuti Patroman?

Ahad 24 Februari 2019 4:0 WIB
Bagikan:
Kenapa Penyebutan Nama Kota Banjar Diikuti Patroman?
Jakarta, NU Online
Sekretaris Jenderal PBNU H Helmy Faishal Zaini mengatakan beberapa kali ia ditanya pengurus NU tentang tempat Musyawarah Alim (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU 2019 di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Citangkolo, 27 Februari sampai 1 Maret. Pesantren tersebut, berada di Kota Banjar, Jawa Barat. 

“Saya berkali-kali ditanya, kalau menyebut Banjar selalu ditanya, ‘Banjar mana’?” ini (Munas dan Konbes) di Banjar Patroman,” katanya, pada Konferensi Pers Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Gedung PBNU, Kamis (22/2) malam. 

Menurut Wikipedia, Kota Banjar adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota Banjar berada di perbatasan dengan Provinsi Jawa Tengah, yakni dengan Kabupaten Cilacap. Banjar merupakan menjadi pintu gerbang utama jalur lintas selatan Jawa Barat. 

Luas Wilayah Kota Banjar sebesar 13.197,23 Ha, terletak di antara 07°19' - 07°26' Lintang Selatan dan 108°26' - 108°40' Bujur Timur. Berdasarkan undang-undang nomor 27 Tahun 2002 tentang Pembentukan Kota Banjar di Provinsi Jawa Barat kurang lebih 113,49 Km2 atau 11.349 Ha.

Masih menurut Wikipedia, nama kota tersebut, untuk membedakannya dengan Banjarnegara yang berada di Jawa Tengah, kota ini sering disebut juga Banjar Patroman (dari nama asal "Banjar Pataruman"). Nama Pataruman sendiri adalah salah satu kecamatan di kota tersebut.

Dan menurut Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, ketika disebutkan nama kota Banjar, ada pula orang yang menduga Banjarmasin. 

Dalam penelusuran NU Online, sepertinya nama patroman bukan nama resmi kota tersebut karena di website https://banjarkota.go.id/ tidak ditemukan patroman mengikuti nama kota tersebut. Yang ada, selalu Kota Banjar. 

Masa lalu, kota tersebut, menurut Wikipedia yang bersumber dari Zaenuddin HM, Asal usul kota-kota di Indonesia Tempo Doeloe: 
Pada 612 Masehi, putra Prabu Kandiawan dari Kerajaan Kendan mendirikan negara Galuh. Pusat kota ditetapkan di daerah Karangkamulyan, dibentengi oleh Sungai Cimuntur dan Sungai Citanduy. Wilayah ini dilalui sungai Citanduy dan dijadikan bandar yang memiliki banyak pohon tarum. Kemudian, wilayah ini terkenal dengan nama Bandar Tarum, dan berkembang menjadi Banjar Tarum, dan akhirnya menjadi Banjar Patroman.

(Abdullah Alawi) 

  

Bagikan:
Ahad 24 Februari 2019 20:45 WIB
LTM PBNU: Masjid Harus Bersih dari Kotoran dan Perilaku Sampah
LTM PBNU: Masjid Harus Bersih dari Kotoran dan Perilaku Sampah

Jakarta, NU Online
Dalam rangka memeriahkan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul  Ulama  2019 di Banjar,  Jawa Barat 27 Februari - 1 Maret mendatang, PBNU melalui Lembaga Ta'mir Masjid menggelar aksi sosial, yakni memberikan seperangkat peralatan bersih-bersih masjid kepada  puluhan masjid di Jakarta dan Banten, Ahad (24/2). Pembagian peralatan tersebut dipusatkan  di halaman Masjid An-Nahdlah, Jakarta yang dihadiri oleh penerima atau perwakilan masjid bersangkutan.

“LTM (Lembaga Takmir Masjid) PBNU melakukan penyapaan kapada masjid-masjid di Jakarta dan Banten,” tukas Koordinator Nasional  Aksi BBM (Bersih-Bersih Masjid)  Berkah, Ali Sobirin.

Bersamaan dengan itu, LTM PBNU juga meluncurkan program Aksi Bersih-Bersih Masjid secara serentak. Tujuannya adalah agar masyarakat terdorong untuk menjaga kebersihan masjid sehingga memberi kenyamanan bagi orang beribadah.
Namun Ali Sobirin juga mengingatkan bahwa masjid tidak hanya perlu dijaga dari sampah dan kotoran material saja, tapi juga penting  dijaga dari kotoran  perilaku.

“Apalagi di bulan-bulan politik seperti sekarang ini, masjid-masjid harus bersih dari fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian. Masjid harus dijaga dari masuknya para manipulator politik yang bermaksud memanfaatkan masjid sebagai ladang kampanye mereka,” urainya (Aryudi AR).

Ahad 24 Februari 2019 14:45 WIB
MUNAS-KONBES NU 2019
LTM PBNU: Masjid Harus Bersih dari Fitnah, Hoaks, dan Ujaran Kebencian
LTM PBNU: Masjid Harus Bersih dari Fitnah, Hoaks, dan Ujaran Kebencian
Jakarta, NU Online
Lembaga Takmir Masjid Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTM PBNU) kembali meluncurkan gerakan Bersih-Bersih Masjid (BBM) Berkah. Kegiatan yang berlangsung Ahad (24/2) diadakan bersamaan dengan menyambut Munas-Konbes NU 2019.

Koordinasi Nasional BBM Berkah mengatakan kegiatan dilandasi alasan bahwa masjid adalah rumah Allah, tempat di mana umat Islam bermunajat kepada Allah Swt, sekaligus sebagai tempat membangun peradaban yang menjunjung nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin.

"Dengan kata lain, masjid merupakan sarana atau fasilitas untuk terinderanya kasih-sayang di pelataran masyarakat. Masjid adalah tempat perekat umat, bahkan perekat seluruh bangsa. Masjid adalah tempat di mana nilai-nilai persaudaraan dan persatuan ditumbuh-kembangkan, baik itu antar-sesama muslim, antar-sesama warga Negara, maupun antar-sesama manusia," katanya.

Di bulan-bulan politik ini, kata Also panggilan akrabnya, para petualang politik mulai masuk ke masjid, kampanye di dalam masjid, melakukan berbagai manuver dan insinuasi yang memanfaatkan masjid sebagai ladang kampanye mereka. Para petualang politik tidak segan-segan melakukan provokasi dengan berbagai bentuk fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian. Ini tidak bisa dibenarkan, harus dihentikan dan harus dilawan. 

Politik masjid adalah politik kebangsaan, yaitu politik yang mengedepankan cinta dan kasih sayang untuk seluruh elemen bangsa. Oleh karena itu, masjid harus bersih dari berbagai hal yang berurusan dengan politik-kekuasaan atau politik jangka pendek karena itu melanggar fungsi dasar masjid dan mengancam norma-norma ukhuwah (persaudaraan dan persaturan) di tengah-tengah masyarakat.

Oleh karen itu, LTM PBNU mendorong para takmir masjid atau para DKM, juga segenap jamaah masjid dan tokoh masyarakat, untuk berperan aktif mencegah dan melawan masuknya provokasi dan kampanye politik-kekuasaan ke dalam masjid; berani mengingatkan (bahkan menghentikan) para khatib atau da’i yang melakukan provokasi politik-praktis di dalam masjid; menolak politisasi masjid.

"Bahwa, masjid harus bersih dari fitnah, hoaks, dan ujaran kebencian yang diinsinuasi oleh para petualang politik," tegas Ali.

Para takmir masjid juga harus mengintensifkan silaturahim dan tabayun untuk mengatasi segala bentuk insinuasi politik dan manuver politisasi masjid; meramaikan masjid sebagai pusat persaudaraan dan persatuan seluruh umat Islam, serta menghidupkan masjid sebagai pusat distribusi rahmatan lil ‘alamin di tengah-tengah masyarakat. (Kendi Setiawan)
Ahad 24 Februari 2019 11:30 WIB
MUNAS-KONBES NU 2019
TNI Tinjau Lokasi Munas dan Konbes NU 2019
TNI Tinjau Lokasi Munas dan Konbes NU 2019
Danrem 062/Trumanegara di arena Munas-Konbes 2019
Kota Banjar, NU Online
Jelang Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2019 yang akan dilaksanakan pada tanggal 27 Februari sampai dengan 1 Maret 2019, di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar Citangkolo (PPMAC) Kota Banjar, berbagai persiapan terus dilakukan. Karena kegiatan tersebut direncanakan dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

Untuk itu, guna menjaga keamanan dan kelancaran kunjungan kerja Presiden di acara tersebut, Komandan Komando Resort Militer (Korem) 062/Tarumanegara, Kolonel Inf Parwito datang berkunjung ke PPMAC untuk meninjau langsung ke lokasi.

Dalam kunjungannya tersebut, Danrem 062/Tarumanegara, Kolonel Inf Parwito didampingi oleh Kasi Ops Rem 062/Tarumanegara, Letkol Inf Wahyu Alfian, Kasi Log Rem 062/Tarumanegara, Letkol Inf Iwan Purbantoro dan Dandim 0613/Ciamis, Letkol Arm Tri Arto Subagio, Danlanud Wiriadinata Tasikmalaya, Letkol Pnb M. Pandu Adi Subrata, Waka Polresta Banjar, Kompol Ade Najmulloh dan para personel TNI-Polri baik dari Kodim 0613/Ciamis serta Polresta Banjar.

Selain itu, kunjungannya juga sebagai ajang silaturahmi kepada para tokoh agama, tokoh masyarakat dan ulama-ulama ditempat tanggung jawabnya bertugas.

"Karena saya baru dilantik oleh Panglima TNI sejak tanggal 2 Februari 2019 kemarin dan selaku orang baru di wilayah Korem 062/Tarumanegara, sudah selayaknya saya bersilahturahim kepada tokoh masyarakat, tokoh agama, ulama-ulama yang ada di wilayah tanggung jawab saya," tutur Danrem 062/Tarumanegara, Kolonel Inf Parwito kepada NU Online, Sabtu (23/2)

Dijelaskan Kolonel Inf Parwito bahwa pada tanggal 27 Februari 2019 nanti akan dilaksanakan Munas dan Konbes NU yang direncanakan dihadri oleh Presiden. "Kalau menghadirkan bapak Presiden, tentunya akan ada pengamanan VVIP dan itu akan menjadi tanggung jawab Danrem, kita selaku penanggung jawab Dansatgas PAM VVIP ini," jelasnya.

Lebih lanjut, Kolonel Inf Parwito menambahkan, pengamanan sama seperti pengamanan-pengamanan VVIP lainnya dan akan bekerjasama dengan instansi-instansi terkait lainnya. "Kita juga akan menggunakan TNI-Polri, secara bersama-sama untuk pengamanannya. Untuk jalur pengamanan kita melibatkan TNI-Polri, Dinas Perhubungan dan dinas-dinas terkait yang ada di Kota Banjar," pungkasnya.

Satuan Koordinasi Wilayah (Satkorwil) Banser Jawa Barat Muhsorin mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi dengan silaturahmi tersebut, dirinya berharap dapat bersinergi dengan baik antara TNI, Polisi dan Banser. "Kami mengapresiasi atas kunjungan silaturahmi sekaligus pantauan dari jajaran TNI dan Polri," katanya.

Selanjutnya dirinya juga menegaskan bahwa Banser akan selalu berkoordinasi dengan TNI Polri guna terwujudnya keamanan selama Munas dan Konbes NU berlangsung. "Koordinasi kepada TNI, Polri akan selalu dilakukan untuk keamanan Munas dan Konbes NU," pungkasnya. (Wahyu Akanam/Muiz)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG