IMG-LOGO
Daerah

Ma’arif NU Bondowoso Ingatkan Tantangan Lembaga Pendidikan Saat Ini

Ahad 24 Februari 2019 14:30 WIB
Bagikan:
Ma’arif NU Bondowoso Ingatkan Tantangan Lembaga Pendidikan Saat Ini
Ujian dengan menggunakan andoroid.
Situbondo, NU Online
Saat ini, tantangan di lembaga pendidikan demikian berat. Tidak semata menyediakan sarana dan prasarana, juga kesiapan menghadapi perubahan zaman dengan teknologi informasi, serta sumber daya manusia yang mumpuni.

Hal itu disampaikan Mohammad Marzuki seusai melaksanakan rapat koordinasi pengurus bersama kepala sekolah dan guru di bawah naungan Pengurus Cabang (PC) Lembaga Pendidikian  (LP) Ma'arif Nahdlatul Ulama Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu (23/2).

Menurut Ketua PC LP Ma’arif NU Bondowoso tersebut, kepala sekolah dan guru harus mampu menjawab tatangan. Karenanya, mereka harus menguasai teknologi digital dan teknologi informasi (IT) sebagai  perangkat pembelajaran. “Juga memanfaatkan IT untuk pengembangan pendidikan di sekolah atau madrasah,” katanya. 

Dalam pandangannya, jika sejumlah hal tersebut tidak dilakukan, maka yang terjadi akan semakin tertinggal. "Jika tidak menguasai teknologi digital dan IT, maka justru akan semakin tertinggal,"ungkapnya.

Karenanya, Ma'arif NU Bondowoso berupaya memecahkan sejumlah persoalan pada rapat koordinasi yang diselenggarakan di salah satu hotel di Situbondo tersebut. “Untuk menformulasikan program-program ke depan, agar LP Ma'arif NU di Bodowoso lebih cepat mengalami perubahan-perubahan yang signifikan dan semakin maju,” ungkapnya.

Dirinya tidak menampik hingga kini lembaga pendidikan di bawah LP Ma'arif NU masih banyak kekurangan dan kelemahan, baik dalam sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana. “Tidak hanya tentang ujian online berbasis komputer, sekolah atau madrasah kita masih banyak yang belum siap mandiri dan tentu hasilnya pun belum maksimal,” terangnya.

Hal tersebut disebabkan antara lain karena dalam keseharian siswa jarang bergelut dengan komputer yang disebabkan kepemilikan terbatas, namun di akhir tahun harus mengikuti ujian secara online berbasis komputer.

Dirinya mengingatkan dalam hal pembelajaran saat ini sudah mulai merambah digitalisasi dengan aplikasi dan program apakah melalui internet ataupun android. Hal ini juga harus ditangkap sebagai perubahan yang merupakan sebuah keniscayaan dan harus diikuti. 

"Karenanya, sumber daya manusia yakni guru saat ini juga wajib memiliki kompetensi di bidang IT dan digitalisasi, di samping empat kompetensi wajib guru profesional,"ungkapnya.

Pendidikan memiliki tantangan yang lebih berat, utamanya pendidikan LP Ma'arif NU. Di samping tugas pembentukan karakter dan kepribadian yang utuh, juga harus mampu menangkap dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan digital. 

"Jika kemampuan di atas tidak dikuasai, maka akan ditinggalkan oleh masyarakat dan tidak diminati," tegasnya. Karenanya, kepala sekolah dan guru harus banyak inisiatif, kreatif dan berinovasi untuk mendongkrak ketinggalan dan keterbelakangan managemen dan pembelajaran menuju sekolah atau madrasah ideal dan dapat diandalkan, lanjutnya.

Dari hasil rapat tersebut diharapkan mampu menyusun program LP Ma'arif NU demi menjawab tantangan dan menghasilkan rencana program prioritas. “Yakni program strategis dan rencana program visioner yang mampu memberikan manfaat kepada lembaga pendidikan, sehingga  LP Ma'arif NU akan terus berupaya memberikan kemanfaatan dan berupaya bersinergi,” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)

Bagikan:
Ahad 24 Februari 2019 23:45 WIB
Ikhtiar LTNNU Jatim Sebar Konten Positif dan Aswaja
Ikhtiar LTNNU Jatim Sebar Konten Positif dan Aswaja
Magetan, NU Online
Lembaga Ta'lif Wan Nasyr (LTN) PWNU Jawa Timur mengadakan kerja sama dengan Jaringan Radio Komunitas Indonesia dan Asosiasi Swasta Lokal Indonesia. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan di sela Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) di Aula PWNU Jawa Timur ini, Sabtu (23/2). Penandatanganan  ini dihadiri Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz, Ketua LTNNU Jawa Timur Ahmad Najib AR serta Pengurus LTN PWNU dan LTN PCNU se-Jawa Timur dan  Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Daerah Jawa Timur Afif Amrullah.

Kerja sama ini merupakan ikhtiar LTN PWNU untuk memproduksi konten positif, baik konten keagamaan, tradisi dan budaya NU, Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja) secara profesional untuk disiarkan ke daerah-daerah se-Jawa Timur.

“LTN harus secara aktif dan masif aktif memproduksi konten positif, menanggapi arus media dan isu-isu di masyarakat. MoU ini merupakan upaya penyiaran dan penyebaran konten positif, konten-konten NU secara profesional,” kata Ketua LTN PWNU, Ahmad Najib, AR.

Data yang dihimpun KPI pada Desember 2018, ada sebanyak 399 TV dan Radio di Jawa Timur. 85 TV dan 314 Radio.

“Dari sebanyak media TV dan Radio ini, sebagian besar bukan dikelola NU. Sebagian besar media masih kesulitan memproduksi konten. Khususnya religi. Nah kalau tidak diisi NU, maka ya diisi orang lain. Mereka siap orangnya, kontennya bahkan dananya,” kata ketua KPID Jawa Timur, Afif Amrullah.

Lebih lanjut Afif menyampaikan NU secara penguasaan agama sangat mumpuni tapi belum banyak yang terjun di wilayah (media,red) ini.

“Orang NU atau pesantren belum banyak yang terjun di wilayah TV dan Radio komersial atau mungkin juga belum mampu secara camera face tampil di publik ini”, tambahnya.

Maka melalui MoU ini, Afif mengapresiasi langkah positif LTN PWNU ini. Menjelang bulan Ramadhan, harapannya pengurus dan warga NU sudah dapat mengisi acara-acara di TV dan Media komersial. Sehingga prinsip-prinsip NU berupa ASWAJA dapat disebarluaskan pada masyarakat luas di seluruh daerah di Jawa Timur. Langkah ini merupakan upaya jemput bola dalam mengambil konten positif, menangkal konten negatif serta informasi sesat, adu domba dan berita hoaks.

Wakil Sekretaris PWNU Jawa Timur KH. Abdul Hakim Mahfudz yang hadir pada penandatanganan ini menyatakan sebagai bagian dari NU, LTNNU harus bekerja bersama-sama dengan keahlian masing-masing.

“Sama seperti perang itu perlu strategi, kerja-kerja NU juga perlu strategi. Teknologi itu produk akal. Ayo gunakan dengan baik dan bertanggungjawab.” terangnya. (Dewi/Abdullah Alawi)

Ahad 24 Februari 2019 22:45 WIB
Dukung Pemilu 2019 Damai, Ribuan Santri Zaha Genggong Deklarasi Antihoax
Dukung Pemilu 2019 Damai, Ribuan Santri Zaha Genggong Deklarasi Antihoax
Probolinggo, NU Online
Dalam rangka mendukung Pemilu tahun 2019 damai, ribuan santri Pondok Pesantren  Zainul Hasan (Zaha) Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo melakukan Deklarasi Antihoax, Jumat (22/2) sore.

Dalam kesempatan itu, para santri diajak untuk menangkal berita hoaks atau bohong serta meminta para santri tidak langsung membagikan suatu berita yang didapatnya, melainkan harus tabayun atau mencari kebenarannya terlebih dahulu.

"Kami mengajak agar para santri Genggong bukan cuma menolak tetapi tidak menyebarkan berita hoax juga," kata pengasuh Pondok Pesantren  Zainul Hasan Genggong Gus Haris Damanhuri Ramli.

Ia mengingatkan pentingnya untuk bertanya dulu sebelum menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Artinya, ketika mendapatkan sebuah berita harus dikroscek terlebih dahulu sebelum membagikannya.

"Saya mengajak para santri Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong untuk menjaga keamanan dan ketertiban menjelang Pemilu tahun 2019," jelasnya.

Melalui kegiatan semacam ini, Gus Haris mengharapkan agar dapat membantu para santri lebih memahami bahaya berita bohong. Para santri lebih bisa memilah dan memilih mana berita yang benar serta mana berita bohong.

"Intinya para santri kami harapkan jangan sampai terprovokasi berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya," harapnya. (Dewi Agustina/Abdullah Alawi)

Ahad 24 Februari 2019 22:45 WIB
Sah Jadi Kader Ansor-Banser Lebak, 380 Pemuda Siap Mengabdi di NU
Sah Jadi Kader Ansor-Banser Lebak, 380 Pemuda Siap Mengabdi di NU
Lebak, NU Online 
Tiga ratus delapan puluh pemuda siap mengabdi di Nahdlatul Ulama Kabupaten Lebak-Banten. Pengabdian dilakukan para pemuda dengan mengikuti Diklat Terpadu Dasar (DTD) yang dilaksanakan Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Lebak. 

DTD IV yang diikuti pemuda dari seluruh perwakilan kecamatan yang ada di Kabupaten Lebak tersebut dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Farhan Cipanas Labupaten Lebak Banten sejak Jumat (22/2) dan berakhir pada Ahad (24/2) sore. 

Pembukaan dihadiri 800 kader Ansor dari seluruh wilayah di Kabupaten Lebak. Hadir pada kegiatan tersebut Pimpinan Pondok Pesantren Al Farhan, KH Holil Abd Kholik, Wakil Ketua PW NU Banten KH Khozinul Asror, Ketua PC NU Lebak Kiai Saefudin As Syadzily, Ketua PW Ansor Banten, Ahmad Nuri, Ketua FSPP Lebak, Ade Bujhaerimi, Sekretaris PGRI Lebak, Abdul Waseh HS,  Ketua DPRD Lebak, Junaedi Ibnu Jarta, seluruh unsur Muspimda Kecamatan Cipanas dan warga setempat. 

Seluruh peserta antusias menjalani pelatihan yang sudah direncanakan panitia bersama tim instruktur. DTD digelar sebagai langkah awal para pemuda berkhidnat di Ansor.  Kegiatan itu diharapkan menjadi kekuatan baru Ansor dalam mengawal NKRI dan Ahlusunnah wal Jamaah di Kabupaten Lebak.

Ketua PC Ansor Kabupaten Lebak Deden Z Farhan  mengatakan DTD tersebut adalah DTD pertama di era kepengurusannya. Terlaksananya kegiatan DTD, kata Deden dalam rangka menjalankan amanah organisasi yang sudah disepakati pada Rapat Kerja Daerah (Rakerda). 

Ia mengungkapkan,  kehadiran Ansor-Banser menjadi sangat penting. Sebab Ansor-Banser adalah aset besar yang dimiliki Nahdlatul Ulama. Terutama untuk meneruskan perjuangan NU kedepan. 

"Oleh karena itu saya mohon doa dan support kepada semuanya agar kami senantiasa di berikan kekuatan dan keistiqomahan dalam melaksanakan visi kami ini, kader Ansor dan banser menjadi penting karena GP Ansor warosatul NU, artinya Ansor dan Banserlah yang melanjutkan kepemimpinan NU, jika kader terbatas maka kemungkinan kedepan potensi SDM terbaik untuk melanjutkan NU juga akan terbatas," ujarnya saat dihubungi NU Online, Ahad(24/2).

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Lebak, Junaedi Ibnu Jarta, mengatakan sebagai generasi muda dirinya bangga bisa menjadi bagian daripada NU. Nahdlatul Ulama, kata dia, adalah organisasi Islam yang mengajarkan nilai nilai moderat dan nilai nilai kerukunan umat beragama di masyarakat.

"Termasuk soal konsep Islam Nusantara, Islam nusantara jangan di fahami sebagai aliran tapi ciri khas berislam orang Nusantara, contoh saya di Kampung saya di Kec.Sobang kami memakai pakaian adat hitam-hitam ditambah igel (ikat kepala) tapi kami tetap sholat berjama'ah di masjid artinya ritual ibadah kami tidak di batasi oleh pakaian sepankang tidak bertentangan dengan aturan agama," katanya. (Abdul Rahman Ahdori/Kendi Setiawan)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG