IMG-LOGO
Risalah Redaksi

Sampah Plastik, Kelestarian Lingkungan, dan Peran Ormas Islam

Ahad 24 Februari 2019 20:30 WIB
Bagikan:
Sampah Plastik, Kelestarian Lingkungan, dan Peran Ormas Islam
Ilustrasi (pri.org)
Plastik merupakan produk teknologi modern. Sebuah bahan yang dapat digunakan untuk banyak fungsi dan dapat diproduksi dengan harga murah. Sayangnya penggunaan yang masif menimbulkan masalah bagi lingkungan karena prosesnya yang panjang untuk bisa diurai secara alamiah. Akibatnya, hal ini menjadi problem bagi kelestarian lingkungan. Sudah banyak kerusakan yang ditimbulkan oleh plastik, termasuk plastik-plastik yang kemudian termakan oleh ikan paus sehingga menyebabkan kematian.

Mengingat ancaman jangka panjang yang timbul dari penggunaan plastik secara berlebihan inilah, Nahdlatul Ulama dalam musyawarah nasional dan konferensi besar (Munas dan Konbes) yang akan berlangsung di Banjar, Jawa Barat, pada 27 Februari-1 Maret salah satunya mengangkat masalah sampah plastik.

Berbagai upaya telah dilakukan banyak pihak untuk mengurangi sampah plastik. Pemerintah menetapkan aturan kantong plastik berbayar jika membeli di toko eceran modern dengan harapan agar konsumen membawa kantong dari rumah. Dengan demikian, diharapkan mengurangi penggunaan kantong plastik yang seringkali hanya dipakai sekali dan kemudian dibuang. Toh, aturan tersebut tidak berjalan dengan baik. Toko eceran yang sebelumnya mengenakan biaya 200 rupiah per kantong, kemudian menggratiskan kembali. 

Aktivis pecinta lingkungan pun tak henti-hentinya mengingatkan bahaya penggunaan plastik secara berlebihan. Toh, hingga kini, suara mereka masuk ke telinga kanan dan keluar telinga kiri. Tak banyak menghasilkan dampak. Kesadaran terhadap bahaya sampah plastik masih lemah.

Tak mudah mensosialisasikan soal pentingnya menjaga lingkungan kepada masyarakat. Apalagi ketika dihadapkan dengan produk murah dan mudah diakses sementara di sisi lain, produk-produk yang dianggap ramah lingkungan memiliki ongkos yang lebih mahal sehingga tidak kompetitif ketika harus bersaing. 

Banyak isu lingkungan harus berhadapan dengan kekuatan besar seperti industri tertentu yang menimbulkan kerusakan lingkungan tetapi memberikan kontribusi besar keuntungan ekonomi. Bahkan negara-negara tertentu menolak menurunkan emisi karbonnya karena hal ini akan menimbulkan dampak peningkatan ongkos produksi yang ujung-ujungnya membuat produk yang dihasilkan menjadi lebih mahal dan tidak bisa bersaing dengan produk murah dari negara tertentu yang abai soal lingkungan. 

Persoalan lingkungan memiliki dampak jangka panjang yang dirasakan oleh semua pihak yang menghuni bumi ini. Bukan hanya mereka yang abai terhadap persoalan lingkungan. Udara bebas bergerak ke mana saja, polusi yang terjadi di satu tempat menyebar ke tempat lainnya dengan gampang. Cuaca ekstrem berupa kekeringan yang kemudian menyebabkan kebakaran atau hujan yang turun secara terus-menerus dan kemudian menyebabkan banjir merupakan efek dari masalah lingkungan. 

Kelompok agama memiliki peran penting untuk memberikan kesadaran kepada para pemeluknya tentang pentingnya menjaga lingkungan. Nahdlatul Ulama telah memiliki badan yang membidani masalah lingkungan, yaitu Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU). Selain memberi bantuan saat terjadi bencana,lembaga tersebut juga menumbuhkan kesadaran untuk menjaga lingkungan. Salah satunya adalah  memiliki Bank Sampah Nusantara (BSN) yang mencoba mendaur ulang beragam sampah.

Tantangan mendakwahkan cinta lingkungan juga tak mudah. Banyak orang, masih menganggap urusan agama masih sebatas urusan-urusan ibadah ubudiyah seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari masyarakat terkait masalah agama masih berkutat pada isu-isu tersebut. Orang dianggap saleh atau salehah kalau rajn shalat berjamaah di masjid, puasa Senin-Kamis, atau menggunakan atribut-atribut yang bernuansa agamis. Upaya melestarikan lingkungan, belum dianggap bagian dari perintah agama.

Karena itu, persoalan yang lebih mendasar yang harus disampaikan kepada masyarakat adalah menumbuhkan kesadaran kepada mereka bahwa urusan agama tidak sekedar masalah ibadah ubudiyah. Bahwa mencintai lingkungan, mencintai kebersihan, mengantri dengan baik, dan banyak hal lain sesungguhnya juga ajaran agama yang harus dilaksanakan.   
  
Dalam banyak hal, Nahdlatul Ulama telah masuk kepada isu-isu besar tersebut dalam beberapa pertemuan tingkat nasional berupa muktamar dan munas-konbes. Hukum halal-haram terhadap sebuah persoalan yang sering ditanyakan oleh jamaah dalam pengajian online dan kemudian dijawab langsung oleh penceramahnya hanya sebagian kecil persoalan yang dibahas dalam munas dan konbes yang terakomodasi dalam Komisi Bahtsul Masail Waqiiyah. Ada masalah lain yang dibahas dalam Komisi Bahtsul Masail Qanuniyah yang membahas masalah perundangan, dan Komisi Bahtsul Masail Maudhuiyah yang fokus pada penjelasan konseptual pada isu-isu tematik. 

Dalam tradisi bahtsul masail NU, pembahasan sebuah masalah dilakukan secara komprehensif. Tidak dengan serta merta langsung merujuk kepada sebuah dalil, berupa Qur’an dan Hadits, lalu diputuskan. Pembahasan menghadirkan pakar dalam materi yang dibahas dan mencari rujukan dari kitab-kitab klasik yang memiliki kredibilitas dan didiskusikan dengan berbagai sudut pandang sebelum akhirnya diputuskan. Bahkan ada situasi ketika tidak ada kesimpulan atau mauquf sehingga tidak dihasilkan hukumnya. 

Semakin ke sini, semakin banyak masalah kemasyarakatan yang dibahas dalam forum nasional NU. Sebelumnya dibahas soal hukum tidak membayar pajak karena adanya penyalahgunaan uang pajak, disabilitas, infotainment, presiden wanita, KB, dan lainnya. Apa yang diputuskan oleh NU banyak memberi pengaruh kepada masyarakat. Itulah bentuk sumangsih NU dalam membangun negeri. (Achmad Mukafi Niam)

Bagikan:
Ahad 17 Februari 2019 20:30 WIB
Usai Pelantikan Gubernur, Saatnya Bahu-membahu Membangun Jawa Timur
Usai Pelantikan Gubernur, Saatnya Bahu-membahu Membangun Jawa Timur
Ilustrasi (wikipedia)
Gubernur baru Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sudah dilantik untuk memimpin provinsi di bagian timur pulau Jawa. Janji-janji yang disampaikan selama kampanye sudah saatnya mulai ditunaikan menjadi kerja nyata yang memberi dampak kepada masyarakat Jatim. Karena memang itulah amanah yang harus dipenuhi sebagai seorang pejabat publik.

Sebagai gubernur, ia memiliki tanggung jawab terhadap seluruh warga Jatim. Ia wajib memberdayakan seluruh warga di sana. Ada sejumlah persoalan mendasar yang masih membutuhkan penanganan di Jatim. Kantong-kantong kemiskinan seperti Madura memerlukan perhatian khusus agar daerah tersebut bisa berkembang setara dengan daerah lain. Madura, merupakan daerah yang sebagian besar penduduknya mengidentifikasi sebagai warga NU.

Khofifah memiliki modal besar untuk mengembangkan Jawa Timur. Sebelumnya ia pernah menjadi anggota parlemen dan menteri negara pemberdayaan perempuan/kepala BKKBN saat era kepresidenan Gus Dur. Terakhir, sebelum mengikuti kontestasi pemilihan gubernur Jatim, ia menjawab sebagai menteri sosial pada Kabinet Kerja. Banyak orang mengapresiasi kinerjanya sebagai menteri sosial. Keterlibatannya dalam masyarakat tak diragukan lagi, yaitu selama hampir 20 tahun memimpin Muslimat NU. 

Keberhasilan dalam memimpin tidak melulu soal banyaknya sumberdaya yang dimiliki, tetapi lebih pada bagaimana mengelola sumberdaya yang dimiliki secara baik. Para pemimpin daerah yang berhasil, terbukti mampu memaksimalkan potensi yang mereka miliki, melakukan inovasi-inovasi baru atas apa yang selama ini sudah dianggap sebagai kewajaran dan tentu saja menggerakkan aparat pemerintah dan masyarakat agar terlibat dalam pengembangan daerahnya. 

Korupsi merupakan persoalan besar di Jatim. Terdapat 12 kepala daerah di Jatim dalam dua tahun ini yang ditangkap KPK karena kasus korupsi. Jika kita menggunakan pendekatan teori gunung es, maka kemungkinan korupsi yang tidak terungkap lebih besar lagi. Tentu warga Jatim yang paling banyak dirugikan atas korupsi tersebut karena dana-dana yang seharusnya digunakan untuk masyarakat ternyata dinikmati sendiri oleh para koruptor. Ini tentu tidak mudah mengatasinya. Ada banyak hal yang harus diselesaikan sebelum mampu menguranginya. Dan sesungguhnya ini persoalan nasional.

Dengan jumlah warga NU yang lebih besar, bahkan tertinggi dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain, maka Nahdlatul Ulama sangat berkepentingan terhadap siapa yang terpilih menjadi gubernur. Ada banyak sekali lembaga dan badan usaha yang berafiliasi dengan NU di Jatim, ribuan pesantren dan sekolah NU bertebaran di wilayah tersebut. Aktivitas warga NU juga sangat beragam. Khofifah sendiri sangat paham tentang dinamika di Jawa Timur karena dia tumbuh dan besar di provinsi tersebut dan dia memimpin Muslimat NU yang memiliki massa terbesar di sana. 

Bahkan, keterpilihannya merupakan representasi dari suara warga NU. Baru kali ini semenjak Indonesia merdeka, Jawa Timur yang merupakan kantong NU memiliki gubernur yang merupakan kader NU yang menapaki pengembangan dirinya melalui organisasi di bawah NU. Bahkan untuk pertama kalinya, kontestasi kali ini dua-duanya melibatkan kader NU terbaik. Rivalnya adalah Syaifullah Yusuf, mantan ketua umum GP Ansor. 

Sebuah kontestasi adalah pertarungan dukungan. Masing-masing kandidat membangun tim sukses sampai ke tingkat paling bawah untuk membantu pemenangan dirinya. Dan biasanya, pertarungan yang paling keras adalah di akar rumput sementara elit-elit yang bertarung di level puncaknya berdiplomasi dengan santun. Jangan sampai energi yang ada dihabiskan dengan hal-hal yang seharusnya sudah selesai. 

Kita bisa belajar dari pilkada di tempat lain yang mana antara kelompok-kelompok yang bersaing dalam pilkada masih dirawat, bahkan terasa nuansa permusuhan antara pihak-pihak yang bersaing. Dan ada upaya untuk menjaga hal tersebut untuk kepentingan politik lain atau untuk mempersiapkannya dalam pertarungan politik berikutnya.  

Ketangguhan Khofifah dalam menghadapi tantangan teruji ketika dia selama dua kali gagal dalam kontestasi pemilihan gubernur di Jatim. Toh dia tetap mencoba untuk yang ketiga yang kini memberinya keberhasilan. Tentu mental seperti ini sangat diperlukan dalam membangun sebuah daerah, yang jumlah penduduk dan wilayahnya lebih luas dari sejumah negara. Kompleksitas persoalan yang dihadapi sebagai gubenur tentu lebih tinggi karena harus memimpin kepala daerah, beragam kelompok kepentingan, dan kondisi sosial ekonomi yang berbeda. Tetapi, itulah tantangan sebagai pemimpin. Keberhasilannya diuji oleh kemampuannya menyelesaikan berbagai persoalan yang ada. 

Sebagai pemimpin nomor satu di sebuah provinsi dengan jumlah penduduk 39,29 juta tentu tanggung jawabnnya sangat besar. Waktunya akan banyak tersita untuk mengurusi masyarakat. Karena itu, penting memikirkan bagaimana posisinya sebagai ketua umum PP Muslimat NU yang sudah didudukinya selama empat periode. Kini sudah banyak kader-kader yang siap melanjutkan kepemimpinannya. Melanjutkan keberhasilannya memimpin organisasi perempuan Islam terbesar di Indonesia ini, karena keberhasilan pemimpin adalah ketika ia menyiapkan pemimpin selanjutnya untuk melanjutkan visi besar organisasi. 

Kita semua, adalah penerima tongkat estafet dari orang sebelumnya yang harus menyerahkan tongkat tersebut kepada orang berikutnya. Harapannya, selama memimpin, tentu meninggalkan warisan-warisan berharga bagi yang kita pimpin.  (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 10 Februari 2019 18:45 WIB
Harapan Baru dari Deklarasi Grand Syekh Azhar dan Paus Fransiskus
Harapan Baru dari Deklarasi Grand Syekh Azhar dan Paus Fransiskus
Pertemuan bersejarah antara Grand Syekh Azhar Ahmed al-Thayeb dan Paus Fransiskus di Uni Emirat Arab (UEA) pada Senin (4/2) yang menandatangani Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan memberi harapan baru atas hubungan antarumat beragama yang sebelumnya mengalami banyak persoalan. Agama-agama yang sesungguhnya mengajarkan perdamaian masih saja ada yang menggunakannya, sekalipun minoritas, sebagai alat pemberi legitimasi dalam melakukan kekerasan. Tindakan tersebut, secara keseluruhan tetap saja mencoreng nama baik agama. 

Satu bagian penting dari deklarasi tersebut berbunyi: “Semua pihak agar menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin Nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Islam dan Nasrani adalah dua agama dengan jumlah pemeluk terbesar di dunia dan ajarannya tersebar paling luas. Keduanya adalah agama samawi atau agama yang diturunkan dari langit yang jejaknya bisa ditelusuri sampai ke nabi-nabi terdahulu. Ada dinamika panjang hubungan antara dua agama ini sejak kelahirannya, di antaranya adalah Perang Salib yang berlangsung lama dan memakan banyak korban nyawa dan harta benda.

Ketika kedua pemimpin yang sangat berpengaruh dalam masing-masing agama tersebut menyatakan kesepakatan, ada harapan besar bahwa hal tersebut juga dapat ditindaklanjuti umatnya masing-masing pada seluruh tingkatan. Paus merupakan pemimpin geraja Katolik yang memiliki struktur organisasi rapi dengan jejaring sampai ke tingkat bawah. Syekh Azhar memiliki pengaruh bukan hanya di Mesir, tetapi juga di dunia Islam Sunni pada umumnya. Pendapatnya menjadi pertimbangan banyak ulama di dunia mengingat otoritas Al Azhar yang sudah mengakar lama dan diakui kredibilitasnya. 

Namun, harus kita sadari bahwa deklarasi saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah yang ada. Kesepakatan tersebut merupakan langkah awal untuk membangun kepercayaan dan tindakan-tindakan selanjutnya. Berapa banyak deklarasi yang sudah ditandatangani oleh para tokoh agama, tetapi kekerasan atas nama agama tetap saja berlangsung. Tingkat kemendesakan untuk mencegah kekerasan semakin tinggi mengingat kekerasan era kini memiliki dampak yang lebih kejam dibandingkan dengan masa lalu seiring dengan kecanggihan mesin perang yang mampu membunuh semakin banyak orang dalam sekejap. Ada sekitar 500 ribu jiwa meninggal karena konflik di Irak. Jumlah yang sama juga terjadi akibat peperangan di Suriah. 

Dampak kekerasan yang ditimbulkannya juga semakin luas ketika dunia semakin menyatu. Konflik yang terjadi di suatu daerah kini menjadi masalah di tempat lain. Negara-negara yang tidak mengalami konflik, ikut menanggung akibatnya dengan banjirnya pengungsi yang berusaha menyelamatkan diri untuk mencari daerah aman. Atau kekerasan yang diakibatkan oleh orang-orang yang berasal dari daerah konflik.

Kesepakatan kedua tokoh agama berpengaruh ini tentunya menjadi angin segar peningkatan hubungan antaragama. Kemudahan transportasi menyebabkan semakin tingginya pluralitas keyakinan. Pada satu komunitas, agama atau keyakinan yang homogen, sebagaimana era-era sebelumnya ketika banyak wilayah masih terisolasi atau menutup diri dari luar, sudah menjadi masa lalu. Di Eropa ada masalah islamophobia yang menyebabkan umat Islam kesulitan mengekspresikan identitas keagamaannya. Mungkin juga di negara-negara Muslim tertentu, umat non-Muslim mengalami hal yang sama.

Dengan deklarasi di UEA tersebut, kini saatnya kerjasama dan saling pengertian antaragama dapat terus ditingkatkan dan secara bersama-sama meningkatkan peran memperjuangkan perdamaian di dunia yang kini semakin kompleks dan rentan dengan berbagai persoalan baru. Banyak persoalan di dunia membutuhkan kerjasama antarpihak yang berkepentingan. Masing-masing pihak tak lagi dapat menganggap bisa bekerja secara individual dengan caranya dan pendekatannya sendiri. 

Bahkan agama bukan hanya perlu bereaksi dengan menyelesaikan persoalan yang sudah ada, tetapi mengantisipasi kemungkinan munculnya persoalan-persoalan baru akibat perkembangan teknologi yang sedemikian cepat ini, yang di satu sisi memudahkan hidup manusia tetapi di sisi lain, mengancam eksistensi manusia ketika banyak peran yang dulu dilakukan pekerja diambil alih oleh mesin. Ada dampak-dampak yang mungkin belum tentu terpikirkan yang mengancam kemanusiaan itu sendiri. Ada banyak poin dalam Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan tersebut yang menunjukkan kompleksitas permasalahan yang di hadapi dunia saat ini.

Masing-masing agama meyakini kebenaran ajaran yang dipeluknya, tetapi bukan berarti atas nama agama tuhan yang diyakininya, bisa membunuh manusia lain. Kita bisa belajar dari masa lalu terkait dengan perang dalam aliran dalam satu agama atau perang antaragama. Saatnya, ketika dunia telah menjadi sebuah desa global, agama mengambil peran lebih persoalan-persoalan yang tidak dapat diselesaikan sendiri. Grand Syekh Azhar Al Thayeb dan Paus Fransiskus telah memulainya. Kini saatnya kita menindaklanjutinya. NU bahkan sebelumnya telah menginisiasi persaudaraan serupa sebagai ukhuwah wathaniyah. Semangat-semangat serupa sesungguhnya juga telah diinisiasi oleh para tokoh agama di banyak tempat di dunia. Saatnya momentum besar tersebut kita rangkai menjadi gerakan bersama menuju dunia yang lebih damai. (Achmad Mukafi Niam)

Ahad 3 Februari 2019 20:30 WIB
Peluang dan Tantangan NU di Era Digital
Peluang dan Tantangan NU di Era Digital
Peringatan hari lahir ke-93 NU pada tanggal 31 Januari 2019 berlangsung meriah. Ini merupakan tanda syukur bahwa dalam usianya yang menjelang 100 tahun, peran-peran yang dilakukan NU kepada bangsa dan umat dalam berbagai persoalan terus dapat dijalankan. Dalam usia 93 tahun ini, sekaligus kita berpikir bagaimana peran-peran NU di masa mendatang di era disrupsi digital dan revolusi industri 4.0. Perubahan teknologi menyebabkan perubahan perangkat untuk menjalankan banyak aktivitas kehidupan, yang mengubah lanskap cara-cara berdakwah dan melayani masyarakat. 

Ceramah pada zaman dahulu selalu dilakukan dari panggung ke panggung. Kini pengajian dan ceramah bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, dengan siaran langsung melalui media sosial seperti Youtube, Facebook, Instagram, atau media sosial lainnya. Apa yang disampaikan secara langsung tersebar ke seluruh penjuru dunia. Sejumlah penceramah kondang yang muncul belakangan ini adalah mereka-mereka yang sebelumnya sukses mengembangkan dakwah di dunia digital. Mereka memiliki kemampuan berbicara yang baik sekalipun kemampuan agamanya belum tentu memadai. Beberapa di antaranya terpaksa minta maaf kepada publik karena melakukan kesalahan dalam menafsirkan Al-Qur’an seperti adanya pesta seks di surga atau pernyataan bahwa Nabi Muhammad pernah sesat

Peluang ini yang juga harus dimanfaatkan oleh komunitas NU. Salah satu yang cukup berhasil adalah KH Musthofa Bisri. Apa yang ia lakukan harusnya menjadi inspirasi bagi generasi muda yang lahir di era digital bahwa usia tidak menghalangi pemanfaatan dakwah di ranah media sosial. Gus Mus adalah seorang pembelajar yang terus memanfaatkan keberadaan teknologi baru sebagai sarana berdakwah. Anak-anak muda NU harusnya lebih mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan teknologi karena merekalah yang hidup di zaman ini dan generasi mereka pulalah yang menjadi pengguna terbesar teknologi.

Teknologi juga telah membuat konsolidasi organisasi menjadi lebih gampang. Komunikasi dan koordinasi yang sebelumnya susah dan memerlukan biaya mahal kini menjadi sangat gampang. Aplikasi WhatsApp (WA), Line, Telegram, Skype dan sejenisnya yang bisa diunduh secara gratis membantu mengoordinasikan berbagai kegiatan dengan gampang. Ada banyak sekali perangkat lunak untuk membantu berbagai kegiatan menjadi lebih mudah.

Ketika teknologi telah tersedia dengan biaya murah, maka yang diperlukan adalah kapasitas menggunakannya dengan baik. Maka di sini, yang berlaku adalah kualitas sumber daya manusia. Prinsipnya adalah man behind the gun atau orang yang menggunakan senjata, bukan senjata itu sendiri. Betapapun canggihnya senjata, tentara yang memegangnya tidak kompeten, maka akan kalah dalam peperangan. 

Banyak orang kini mengalami kecanduan internet. Mereka menghabiskan sebagian besar waktunya berselancar di internet sementara interaksi sosialnya di dunia nyata menjadi sangat berkurang. Hal ini kemudian menimbulkan depresi, kecemasan atau persoalan psikologis lainnya. Saat ongkos komunikasi hampir gratis, ternyata ada masalah lain yang muncul karena ketidakmampuan untuk mengelola secara tepat aktivitas di dunia maya. Berbagai persoalan yang sebelumnya yang menjadi konsumsi pribadi dikeluhkan di dunia maya. 

Orang-orang mengejar popularitas di dunia maya dengan melakukan hal-hal yang kontroversial. Yang dulu menjadi tabu dalam masyarakat kini menjadi biasa dilakukan. Menghina orang lain dengan kata-kata kasar kini dengan gampang ditemui di media sosial. Remaja yang belajar agama hanya di internet membantah pendapat ulama bidang tertentu yang kompeten. 

Penyebaran hoaks merupakan tantangan serius lainnya yang muncul dalam era digital. Berita bohong sudah ada sejak dahulu. Kini, hoaks bisa dengan gampang menyebar dari satu grup ke grup media sosial lainnya, diamplifikasi oleh tokoh tertentu sehingga menimbulkan kepanikan di masyarakat. Literasi digital yang rendah menyebabkan tidak ada upaya pengecekan informasi yang diterima sebelum disebarkan. Informasi yang sesuai dengan pendapatnya, hanya dengan ujung jari sudah menyebar ke mana-mana. Belum ada budaya malu di masyarakat bahwa dirinya telah menyebarkan berita bohong sehingga tidak kehati-hatian dalam menyebarkan informasi.

Publik saat ini banyak membahas revolusi industi 4.0 yang mana peran-peran manusia dalam dunia kerja akan digantikan dengan otomatisasi mesin. Pekerjaan-pekerjaan kasar dan berulang akan digantikan dengan teknologi digital yang lebih akurat dan efisien. Tanpa terasa, sesungguhnya, banyak pekerjaan sudah tergantikan dengan mesin. Di pintu masuk tempat parkir, sudah jarang yang menempatkan penjaga untuk mencatat nomor kendaraan yang masuk. Pengunjung tinggal menekan tombol masuk untuk mendapatkan tiket. CCTV mengurangi kebutuhan penjaga keamanan. Perangkat lunak penerjemah otomatis atau perangkat lunak pengubah suara dari teks juga ada. Itu merupakan bagian-bagian kecil inovasi yang terus tumbuh dan terakumulasi. 

Para inovator di seluruh dunia melalui perusahaan-perusahaan rintisan saling bersaing menemukan hal-hal baru yang ditawarkan kepada masyarakat. Temuan baru yang sangat canggih dalam dua atau tiga tahun kemudian sudah dianggap usang karena kecepatan inovasi tersebut. Semua pihak berusaha saling mengantisipasi perubahan atau menciptakan trend baru, menciptakan aturan baru untuk memenangkan persaingan.

Situasi seperti ini biasa disebut volatility, uncertainty, complexity, and ambiguity (VUCA) atau volatilitas, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas. Jika para inovator harus selalu berpikir keras agar selalu kompetitif terhadap para pesaingnya, bagaimana nasib buruh tani dan petani kecil di daerah-daerah pedesaan. Pengetahuan, akses informasi, dan ketrampilan yang dimiliki terbatas. Tanpa disadari, mereka sesungguhnya korban paling besar dari perubahan dahsyat ini. Saat ini para pedagang konvensional, baik yang berskala besar atau kecil, yang menjajakan dagangannya melalui toko-toko sudah banyak bertumbangan berhadapan dengan mereka yang berjualan di dunia maya. Para petani sejak lama telah termarginalkan dan semakin susah untuk mengatasi persoalan ini tanpa upaya luar biasa dari banyak pihak. 

Menyiapkan diri warga NU dalam menghadapi perubahan teknologi dan revolusi digital yang memberi banyak kemudahan tetapi sekaligus mengancam peran-peran kemanusiaan inilah tantangan yang harus dipikirkan oleh NU. Bagaimana menumbuhkan literasi digital dan menyiapkan jutaan petani, buruh, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan menghadapi perubahan yang semakin meminimalisasi peran-peran mereka. Nasib jutaan orang, tergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Inilah peluang sekaligus tantangan NU yang harus kita siapkan hari ini agar dapat terus berperan di masa mendatang. (Achmad Mukafi Niam)

IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG