IMG-LOGO
Daerah

Pergunu Bandung Gelar Rumah Sehat

Senin 25 Februari 2019 15:0 WIB
Bagikan:
Pergunu Bandung Gelar Rumah Sehat
Bandung, NU Online
Pimpinan Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Kabupaten Bandung, Jawa Barat mengadakan kegiatan rumah sehat, Ahad (24/2). Bekerjasama dengan Mind Healing Technique of Indonesia (MHT), kegiatan berlangsung di Aula Kantor Gedung Ormas Soreang Kabupaten Bandung.

Ketua PC Pergunu Kabupaten bandung, Johan Rojak mengatakan Pergunu sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) diharapkan mampu memberikan kontribusi dan partisipasi aktif dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat, baik dalam pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya.

Menurutnya kesehatan merupakan hal yang penting dan menjadi prioritas dalam kehidupan. Masyarakat diharapkan mampu menjaga lingkungan sekitar, merawat tata hubungan bermasyarakat dan memelihara emosional dan spiritual, karena sebagian besar penyakit timbul dari diri sendiri.

Pengamatan NU Online selama pelaksanaan kegiatan, para peserta terlihat sangat antusias dan semangat. Sekitar 130 peserta yang berasal dari berbagari daerah di Kabupaten Bandung dan setiap perwakilan PAC Pergunu se- Kabupaten Bandung.

"Yang paling utama dalam menjaga kesehatan adalah mampu mengendalikan diri sendiri dan memelihara setiap emosional masing-masing," tutur H Ahmad Jais Asy Syambasi, salah satu narasumber.

Setelah selesai pelaksanaan, para peserta merasa puas dan bangga, karena segala keluhan dan penyakitnya melalui terapi yang berorientasi kepada kekuatan pikiran ini, sangat efektif, dan optimal. (Mohcahya Zq/Kendi Setiawan)
Bagikan:
Senin 25 Februari 2019 23:31 WIB
Pesantren Diharap Bantu Sosialisasi Mudaratnya Pernikahan Dini
Pesantren Diharap Bantu Sosialisasi Mudaratnya Pernikahan Dini
Brebes, NU Online 
Ketua Pengadilan Agama Brebes Abdul Basyir mengungkapkan, sepanjang  tahun 2018, terdapat 72 kasus pengajuan dispensasi pernikahan usia dini. Pada 2019, hingga akhir Februari ini ada 6 kasus. 

"Ada 72 kasus pernikahan usia anak yang maju ke meja PA sepanjang 2018, hingga akhir Februari ini ada 6 kasus," ungkap Basyir saat sosialisasi perlindungan anak dan pencegahan pernikahan usia anak di lingkungan pondok pesantren di ruang rapat OR Setda Brebes, Senin (25/2).

Dari  pengajuan tersebut, kata Basyir, tidak semuanya mendapat persetujuan karena berbagai pertimbangan. 

“Termasuk bila belum terlanjur hamil, maka tidak dikabulkan permohonannya,” ucapnya. 

Basyir menyayangkan, dari banyak kasus dispensasi nikah yang berujung perceraian dikarenakan hanya untuk menyelamatkan sang jabang bayi siapa orang tuanya saja. Namun perjalanan  kehidupan rumah tangganya tidak mulus, tidak harmonis, atau tidak sakinah mawadah warahmah.

Untuk itu, Basyir berharap kepada pengasuh pondok pesantren agar ikut gencar mensosialisasikan mengungkapkan banyak mudaratnya pernikahan dini ketimbang nilai manfaatnya.

Hakikatnya, sebuah pernikahan itu merupakan perjanjian yang meliputi rukun dan syarat serta memiliki keturunan. Ada tatanan dan batasan yang berlaku di negara kita, dengan pembatasan usia perkawinan. Dan pembatasan ini masuk dalam UU Perkawinan, UU tentang Perlindungan Anak dan sebagainya.

“Aturan tersebut antara lain untuk anak yang masih dalam usia 18 sampai 20 tahun harus ada surat ijin dari orang tua dan surat ijin dispensasi dari Pengadilan Agama,” tandasnya.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kelurga Berencana (DP3KB) Kabupaten Brebes BP3KAB Sri Gunadi Parwoko mengatakan, usia anak harus mendapat pendampingan dan pengajaran orang tua. Pengawasan, harus sesuai dengan umur anak karena anak harus dilindungi.

Pengasuh pondok pesantren, seyogyanya gencar melakukan sosialisasi tidak maslahatnya pernikahan dini. Zaman sekarang, era modernisasi yang semua informasi dapat diperoleh dalam genggaman tangan maka sebagai orang tua maupun pengasuh ponpes harus melakukan pengawasan ekstra.

Termasuk banyaknya kekerasan terhadap anak di Kabupaten Brebes perlu kerja sama dalam melindungi anak.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Tiara Kabupaten Brebes Aqilatul Munawaroh menjelaskan, digandengnya Pesanteren, diharapkan  ke depan PPT berbasis komunitas yang berada di pesantren bisa sebagai jejaring PPT di tingkat Kabupaten. Sehingga kasus kasus anak bisa secepatnya terungkap dan tertangani. 

Dengan demikian, pesantren mampu menjaga hak hak anak, melakukan perlindungan anak dan tidak mengalami kasus kekerasan. Dan kalangan pesantren mampu melakukan pencegahan terjadinya kasus kekerasan terhadap anak.

“Apabila terjadi kasus kekerasan yang dialami santri, anak, maka pengurus atau pengasuh mampu melakukan pendampingan sesuai dengan hak-hak anak,” tandasnya.

Dalam hal pencegahan pernikahan usia anak, lanjutnya, diharapkan dari kalangan pesantren bisa melakukan hal-hal pemahaman kepada para santrinya agar tidak melakukan pernikahan di usia anak. Sehingga akan terwujud kualitas hidup perempuan yang lebih baik. 

Kepala bidang Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) DP3KB Kabupaten Brebes Rini Puji Astuti menjelaskan, sosialisasi ini sengaja melibatkan pengasuh pondok pesantren di Kab Brebes. Ada 40 Ponpes yang kami gandeng untuk bersama sama menularkan hasil sosialisasi ini para santri di pondok pesantrennya. 

“Kami yakin, apa yang disampaikan oleh para pengasuh lebih mengena ketimbang dari institusi kami,” pungkasnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Senin 25 Februari 2019 22:0 WIB
Demi Agama dan Negara, Ribuan Banser Brebes Diisi Ilmu Kanuragan
Demi Agama dan Negara, Ribuan Banser Brebes Diisi Ilmu Kanuragan
Brebes, NU Online 
Sebanyak 2500 anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) diisi ilmu kanuragan oleh Kiai Khos Perguruan Pencak Silat Pagar Nusa Abah Suyuthi Al-Ghozali dari Cepu, Jawa Tengah. Kiai Suyuthi memberikan Shalawat Muriddzat yang harus diamalkan peserta sebagai wasilah mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW.

“Hanya ada satu syarat untuk bisa digdaya sebagai seorang Banser, yakni harus meninggalkan molimo sebagaimana yang diajarkan Sunan Ampel,” kata Mbah Suyuthi saat Ijazah Kubro GP Ansor-Banser Kabupaten Brebes, di halaman Islamic Center, Jalan Yos Sudarso Brebes, Ahad (24/2) sore.

Molimo tersebut, kata Mbah Suyuthi, adalah emoh main, artinya tidak mau main judi. Emoh ngumbi, artinya tidak mau minum-minuman yang memabukan.Emoh madat, artinya tidak mau mengisap candu atau ganja. Emoh maling, artinya tidak mau mencuri atau kolusi, dan emoh madon, artinya tidak mau main perempuan yang bukan isterinya (zina). 

“Saya ijazahi kalian, agar seperti Banser 65 yang mampu menumpas PKI dan sakti,” ujar Mbah Suyuti dengan tegas. 

Lebih jauh Mbah Suyuthi menilai, kalau era sekarang banyak orang yang meninggalkan syukur, tidak merasa bahagia, selalu menghujat pemerintah. Padahal pemerintahan kita sudah baik tetapi selalu dicaci maki. 

“Pemerintah kita sudah antikorupsi dan bahkan memberantas korupsi, tapi anehnya selalu dicaci maki,” ujarnya. 

Ketua Pimpinan Wilayah (PW) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Tengah Sholahudin Ali mengatakan, di dalam dunia kemiliteran ada kaidah kalau ingin damai maka siapkanlah perang. Sekarang ini negara-negara di dunia berlomba-lomba meningkatkan alat persenjataan perang dan menggiatkan perang karena ingin hidup tenang dan damai.

"Kita juga sama, hari ini dapat ijazah kubro dan gemblengan karena  ingin bumi Indonesia tenang dan damai," ujar Gus Sholah sapaan akrab ketua Ansor Jawa tengah Sholahudin Ali.

Lebih lanjut,Gus Sholah mengatakan ulama-ulama Nahdlatul Ulama merumuskan bahwa kita bisa mengamalkan ajaran agama dengan baik dan sempurna mana kala kondisi lingkungan di sekitar kita aman. Kader Ansor Banser sebagai penerus semangat para ulama-ulama harus menjaga keamanan, demi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Islam Ahlussunnah waljamaah.

"Sehingga tidak ada lagi yang berani membubarkan amaliah-amaliah NU," tegas Gus Sholah.

Sementara Ketua Pimpinan Cabang (PC) GP Ansor Kabupaten Brebes mengatakan ada dua hal yang harus dipegang teguh oleh kader Ansor Brebes. Pertama menjaga agama dengan melestarikan ajaran Islam Ahlussunnah waljamaah dan kedua menjaga negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

"Saya berharap kader Ansor Banser bisa memegang teguh dan menajalankan dua amanah ulama-ulama kita," ajak Munsip.

Ketua Panitia Ijazah Kubro sekaligus Kasatkorcab Kabupaten Brebes H Muhamad Ikhwan mengatakan kegiatan Ijazah kubro ini diikuti 2500 anggota Ansor Banser perwakilan 17 Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-kabupaten Brebes. Sedangkan pengijazahan dipimpinan langsung oleh Abah Suyuti dewan Khos Pagar Nusa dan Banser Indonesia dari Cepu dan Mbah Mul Densus 99 Asmaul Husna Satkornas Banser.

Turut hadir Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas, Ketua GP Ansor Koordinator Wilayah (Korwil) Jawa Tengah dan DIY Mujiburrohman, Komisi III DPR RI Bahrudin Nasori, Ketua PCNU Kabupaten Brebes HM Aqsho dan Ketua Badan Otonom NU lainnya. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Senin 25 Februari 2019 21:46 WIB
Demi Pondasi Moral, Wagub Sumbar Resmikan Pesantren Jamiatul Mukminin
Demi Pondasi Moral, Wagub Sumbar Resmikan Pesantren Jamiatul Mukminin
Padang Pariaman, NU Online
Berbagai masalah bangsa yang terjadi saat ini, banyak terkait dengan masalah moral masyarakat yang rusak. Harus diakui, menumbuhkan generasi yang bermoral dalam kehidupan berbangsa sangatlah sulit. Penanaman moral tersebut harus dimulai dari rumah tangga atau pendidikan di pesantren.

Demikian diungkapkan Bupati Padang Pariaman Ali Mukhni, Senin (25/2), ketika peresmian Pondok Pesantren Jami'atul Mukminin II di Surau Rimbo Tolang, Korong Toboh Baru Toboh Gadang  Nagari Toboh Gadang Timur, Kecamatan Sintuak Toboh Gadang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Peresmian dihadiri Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit, Pimpinan Pondok Pesantren Jami'atul Mukminin Azwar Tuanku Sidi, para caleg dari berbagai partai dan tingkatan, jamaah dan umat Islam lainnya.

Menurut Ali Mukhni, pembangunan pesantren menjadi perhatian khusus bagi Pemkab Padang Pariaman kaarena menyangkut pembangunan moral generasi masa depan bangsa. Pembangunan pesantren juga sejalan dengan pembangunan karakter bangsa.

"Pembangunan moral ini memang sulit. Butuh waktu dalam keberhasilannya. Besok masyarakat minta bangun jalan, lalu dibangunkan jalan. Selesai segera. Pembangunan fisik dapat dilaksanakan dengan segera dan jelas hasilnya. Sedangkan pembangunan moral tidak bisa. Pembangunan moral butuh waktu dan proses yang panjang. Karena itu, Pemkab Padang Pariaman serius memberikan perhatian terhadap  pembangunan moral melalui pesantren," kata Ali Mukhni, bupati dua periode ini.

Di sinilah pentingnya kehadiran pesantren, kata Ali Mukhni. Pesantren selalu mendidik santrinya dengan karakter yang baik, santun, berintegritas.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit menambahkan, visi pertama dengan Gubernur Sumbar Irwan Prayitno memimpin Sumatera Barat adalah menata kehidupan yang harmonis berdasarkan agama dan budaya dengan berpedoman kepada Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS SBK). Kenapa tidak fisik visi pertama itu, karena di visi itulah terletaknya mewujudkan karakter bangsa.

"Kehadiran pesantren Jami'atul Mukminin yang didirikan oleh Buya Azwar Tuanku Sidi adalah bagian dari meletakkan pondasi karakter tersebut. Karena di pesantren anak-anak dibina supaya memiliki karakter yang baik, seperti memiliki integritas, santun dan sopan dalam kehidupan sehari-hari. Jarang terdengar alumni pesantren menjadi maling," tutur Nasrul Abid.

Pimpinan Pesantren Jamiatul Mukminin Buya Azwar Tuanku Sidi  sebelumnya menyebutkan, peresmian pesantren Jamiatul Mukminin II ini sekaligus memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW.

"Tadi malam (Ahad, 24/2), berhasil dihimpun dana dari bungo lado sebanyak Rp 63.350.000. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan pesantren Jamiatul Mukminin di Rimbo Tolang ini," kata Azwar yang juga mustasyar PCNU Kabupaten Padang Pariaman ini.

Kini pesantren Jamiatul Mukminin sudah memiliki santri 73 orang. Sampai sekarang masih belajar di surau Rimbo Tolang dan bahkan ada yang di teras surau. Pesantren ini dimulai setahun ini. Sedangkan pesantren Jamiatul Mukminin sebelumnya di Nagari Sintuak Kecamatan Sintuak Toboh Gadang tetap menjalankan aktifitas belajar kitab kuning.

"Sesuai dengan perkembangan zaman dan tantangan ke depan, di pesantren Jamiatul Mukminin yang diresmikan ini sistem belajar sudah klasikal, berkelas. Sedangkan di Jamiatul Mukminin di Nagari Sintuak masih sistem halaqah. Dengan peningkatan sistem belajar tersebut, diharapkan pesantren Jamiatul Mukminin II ini bisa lebih berkembang dan banyak diminati santri yang ingin mendalami ilmu agama," tutur Azwar Tuanku Sidi menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Habib Umar bin Hafidz Berkunjung ke PBNU
Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
IMG
IMG
IMG