IMG-LOGO
Esai

Andai Neno Warisman Baca ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’-nya Gus Dur

Senin 25 Februari 2019 23:40 WIB
Bagikan:
Andai Neno Warisman Baca ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela’-nya Gus Dur
Ilustrasi Neno Warisma (Mojok.co)

Ahmad Rozali

Setiap kali ada orang yang menakut-nakuti orang lain, atau memaksa orang lain untuk melakukan sesuatu yang cenderung bertentangan dengan norma agama dengan dalil agama, saya selalu teringat dengan sosok KH Abdurrahman Wahid atau umum dipanggil Gus Dur, lebih spesifiknya teringat pada salah satu artikelnya 'Tuhan Tidak Perlu Dibela'.

Seperti kali ini, saat Neno Warisman menyeret-nyeret nama Tuhan dengan nada ancaman “Jika kami dibiarkan kalah, kami khawatir tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu”, saya tergoda untuk kembali membuka artikel yang diterbitkan Tempo tahun 1982 yang lalu kemudian dibukukan oleh LKiS itu.

Inti tulisan Gus Dur dalam ‘Tuhan yang tak perlu dibela’ dituangkan secara singkat beberapa paragraf terakhirnya yang digambarkan dalam tulisan sebagai perkataan seorang guru tarekat. “Allah itu maha besar. Ia tidak memerlukan Pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apa pun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-NYa”.

“Al-Hujwiri mengatakan: Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau ‘Ia menyulitkan’ kita. Juga tak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya”

Banyak yang berpendapat tulisan-tulisan Gus Dur masih sangat relevan hingga saat ini. Buktinya, 40 tahun setelah Gus Dur menulis itu, Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb dan Paus Fransiskus berjumpa untuk menandatangani sebuah dokumen bersejarah, yaitu 'Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama'. Dokumen itu dideklarasikan dalam sebuah Pertemuan Persaudaraan Manusia Manusia di Uni Emirat Arab (UEA) beberapa waktu lalu.

Dalam dokumen itu ditulis: “Semua pihak agar menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin Nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Menurut pendapat singkat saya, ada dua hal yang menjadi penyebab mengapa relevansi tulisan Gus Dur begitu tinggi: Pertama, Gus Dur adalah sosok yang futuristik dan visioner. Artinya, saat menulis, Gus Dur mampu memprediksi masalah-maslah yang akan terjadi di masa yang akan datang. Ini menggembirakan, karena kita bisa memiliki orang yang begitu cerdas di masa lalu yang bisa kita contoh.

Penyebab kedua tidak semenyenangkan yang pertama; yakni memang masalah sosial kita tak beranjak dari dulu hingga saat ini. Artinya masalah yang ada sejak jaman Gus Dur masih ada hingga sembilan tahun pasca wafatnya, kita masih berputar dalam lingkaran yang sama. Kita belum beranjak dari perdebatan ganjil mengenai sisi tidak produktif dalam masalah agama. Kita masih saja suka menjadikan agama sebagai tameng dari kepentingan kita. Kita masih berputar di situ-situ saja selama puluhan tahun ini.

Namun begitu saya yakin bahwa sebagian besar dari kita ingin perdebatan itu selesai dan mulai beranjak lebih banyak membicarakan kemajuan zaman, penelitian termutakhir, dan sibuk berlomba dalam kebaikan. Sayangnya, segelintir orang seperti Neno Warisman orang masih ‘doyan’ menarik-narik kita ke masalah-masalah masa lalu yang tak menguntungkan sama sekali. Saya jadi berangan-anak, andai saja Neno membaca dan mengilhami tulisan ‘Tuhan Tidak Perlu Dibela'-nya Gus Dur, mungkin tak begini jadinya. Wallahu A’lam

Penulis adalah redaktur NU Online

Bagikan:
Ahad 24 Februari 2019 18:25 WIB
MUNAS KONBES NU 2019
Munas NU: Tentang Masalah Sosial dan Ajang Silaturrahmi Warga NU
Munas NU: Tentang Masalah Sosial dan Ajang Silaturrahmi Warga NU
Kegiatan Pramunas di Tangerang

Oleh Ahmad Rozali

Beberapa waktu lalu, Kiai Said Aqil Siraj, Ketum PBNU menegaskan bahwa acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas-Konbes NU) 2019 yang akan digelar di Kota Banjar beberapa hari mendatang (27 Februari -1 Maret 2019) tidak terkait dengan situsi politik baik Pilpres maupun Pileg.

"Jadi (Munas-Konbes NU) tidak ada kaitannya dengan Pilpres. Tidak sama sekali," kata Kiai Said Kamis (21/2) lalu. Apa yang dikatakan Kiai Said bukan tak berdasar. Jika ditengok dari ‘menu’ yang akan dibahas selama Munas 27 Februari -1 Maret 2019 mendatang tak ada satu forum pun yang akan membahas masalah politik, apalagi sampai menentukan sesuatu yang bertentangan dengan Khittah NU sebagai sebuah organisasi yang tidak berpolitik praktis.

Masalah kontemporer, hukum negara hingga rancangan undang-undang

Alih-alih NU membahas masalah lima tahunan, NU lebih tertarik membahas setumpuk masalah yang dirasakan oleh masyarakat dan pemerintah, baik dari aspek sosial, ekonomi, hingga keagamaan. Sehingga selama tiga hari mendatang para ulama dan warga NU akan membahas kepentingan bangsa dan negara. Berikut daftar pembahasan dalam Munas: 

  1. Bahaya sampah plastik
  2. Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) yang menyebabkan sumur warga kering
  3. Masalah niaga perkapalan
  4. Bisnis money game (seperti MLM)
  5. Legalitas syariat bagi peran pemerintah
  6. Perniagaan Online yang tidak membayar pajak
  7. Negara, kewarganegaraan, dan hukum negara
  8. Konsep Islam Nusantara
  9. RUU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha
  10. RUU Penghapusan Kekerasan Seksual 

Tentang Munas dan warga NU yang doyan silaturrahmi

Dasar penyelenggaraan Munas juga tidak berhubungan dengan agenda politik nasional. Dasar pelaksanaannya tertuang dalam AD/ART NU Pasal 74; Munas merupakan forum permusyawaratan tertinggi setelah Muktamar yang dipimpin dan diselenggarakan oleh Pengurus Besar.

Pasal itu juga mengatur bahwa Munas membicarakan masalah-masalah keagamaan yang menyangkut kehidupan umat dan bangsa. Peserta Munas terdiri dari alim ulama, pengasuh pondok pesantren dan tenaga ahli, baik dari dalam maupun dari luar pengurus Nahdlatul Ulama sebagai peserta.

Oleh karenanya, biasanya dalam Munas seperti ini warga NU yang memiliki kemampuan khusus dalam bidang-bidang yang dibahas akan hadir untuk urun sumbang pemikiran.

Ambil saja contoh pembahasan RUU Penghapusan Kekerasan. Dalam pembahasan ini, warga NU yang menjadi aktivis perempuan dan HAM, baik dalam organisasi non-pemerintahan maupun pemerintah akan terlibat dalam pembahasan sejak awal pembahasan hingga acara Pra-Munas beberapa waktu lalu. Sebut saja aktivis Komnas Perempuan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Fatayat, Muslimat, Lakpesdam NU, dan yang lain.  Demikian juga warga NU yang memiliki perhatian dalam masalah lain yang akan dibahas dalam forum tersebut.

Oleh karena itu, forum ini selain menjadi ajang pembahasan masalah kebangsaan, bagi kalangan keluarga besar NU, forum semacam ini akan dimaknai sebagai forum silaturrahmi yang akan menyedot ribuan warga NU baik untuk ikut pembahasan atau hanya sekedar temu kangen. Tapi yang jelas, forum ini tidak akan melahirkan rekomendasi atau keputusan politik praktis seperti forum ulama yang lain. 

Penulis adalah Redaktur NU Online

Ahad 24 Februari 2019 17:15 WIB
Muhasabah Kebangsaan: Cinta itu Menggerakkan
Muhasabah Kebangsaan: Cinta itu Menggerakkan
Al-Zastrouw
(Catatan Haul Gus Dur ke 9 di Solo-2)

Puluhan ribu orang dari pelosok desa dan kota se Solo Raya hadir memadati stadion Sriwedari Solo. Stadion bersejarah yang menjadi tempat pelaksanaan PON pertama itu tidak mampu menampung jamaah hingga meluber ke jalan-jalan di seputar stadion. Jalan-jalan protokol solo macet karena menjadi tempat parkir kendaraan para jamaah. Beberapa tokoh dan pejabat hadir diantaranya KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Prof Mahfud MD, Prof Oman Abdurrahman (Staf Ahli Menag), Mbak Yeni Wahid (putri Gus Dur), Gus Yasin (Wagub Jateng), Pangdam IV Diponegoro, Kapolda Jateng, Wali Kota Solo dan Wakilnya. Mereka hadir dengan bekal dan biaya sendiri sebagai wujud kecintaan pada Gus Dur dan para ulama. Mereka hadir untuk memperingati haul Gus Dur ke-9. Acara yang digagas dan dikordinir oleh mas Husen Syifa' ini berlangsung meriah tapi tetap khusyu'.

Sebelum acara puncak, pengajian akbar, pagi hari dilaksanakan dialog kebangsaan dengan tema "mBabar Pitutur Kamangnusan Gus Dur" dengan nara sumber Dr Muh AS Hikam, Gus Dian Nafi' dan Wahyu Muryadi. Siang hari dilaksanakan Kirab Kebangsaan yang diikuti oleh berbagai lapisan masyarakat lintas iman lintas agama dengan start dari Stadion Manahan dan finish di stadion Sriwedari. Kirab dengan tema "Berjuta warna satu Indonesia" ini juga diikuti oleh Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, mbak Yeni Wahid dan beberapa tokoh lain yang melibatkan puluhan ribu massa.

Perhelatan Haul Gus Dur ke-9 di Solo ini benar-benar menampilkan wajah Indonesia yang beragam dan menjadi bentuk aktualisasi semangat persaudaraan antar manusia sebagai cerminan dari ajaran agama yang rahmatan lil'alamin. Tak ada caci maki, provokasi, hujatan dan kebencian. Semua yang hadir merasakan kesejukan, kedamaian dan ketenteraman.

Ini semua terjadi karena jamaah dan para tokoh yang hadir benar-benar hanya ingin mendapat berkah dan siraman rohani, bukan untuk berebut kekuasaan atau menunjukkan kekuatan dan kebesaran diri dan kelompoknya. Mereka hanya ingin menghormati, meneladani dan menggali jejak perjuangan Gus Dur melalui mauidlah dan testimoni yang disampaikan oleh para ulama dan sahabat Gus Dur.

Menarik apa yang disampaikan Gus Mus saat memberikan tausiyah, bahwa Gus Dur sebenarnya adalah seorang 'habib sejati'. Ciri-ciri habib adalah penebar cinta dan kasih sayang. Dia mencintai dan dicintai. Kalau ada seseorang yang hanya mau dicintai tapi tidak mau mencintai maka dia belum layak disebut sebagai seorang habib. Buah cinta yang diterbarkan Gus Dur pada siapa saja adalah kekuatan yang menggerakkan hati setiap pecinta untuk hidup damai dan bersaudara seperti yang terlihat pada malam itu.

Pernyataan Gus Mus ini memperkuat apa yang disampaikan mbak Yeni saat memberikan sambutan atas nama keluarga. Mbak Yeni menyatakan, Gus Dur sering mengutip pernyataan imam Ghozali bahwa Hidup ini adalah cinta dan ibadah. Melalui haul ini, mbak Yeni mengajak para jamaah menebarkan cinta kepada sesama manusia, bangsa dan dunia sebagai bentuk pengabdian kepada Allah.

Selain sebagai habib, menurut Gus Mus, gus Dur adalah seorang wali. Mengutip QS Yunus ayat 62 Gus Mus menjelaskan bahwa ciri seorang wali adalah mampu melampaui dan menaklukkan rasa takut dan tidak ada rasa sedih dalam hidupnya. Menurut Gus Mus, Gus Dur adalah sosok yang mampu melampaui rasa takut dan tak pernah sedih. Ini dibuktikan dengan sikap Gus Dur yang tidak takut menghadapi apapun untuk membela siapapun yang didhalimi, tak gentar menghadapi fitnah dan caci maki, bahkan tidak sedih melepas kekuasaan. Semua dihadapi dan diterima dengan tenang dan ikhlas.

Sikap seperti ini bisa terjadi karena Gus Dur menganggap semua persoalan hidup ini kecil. Tak ada yang lebih besar daripada Allah. Jabatan, kekuasaan, Pilpres semua urusan kecil. Oleh karenanya tak perlu mempertaruhkan segalanya demi kekuasaan dan politik apalagi sampai membawa bawa Tuhan dalam Pilpres karena ini hanya urusan kecil. Demikian sindir Gus Mus pada orang-orang yang selalu membawa nama Tuhan dalam politik. Sebagai dzat yang maha besar tak layak untuk diteriakkan di jalanan apalagi menjadi komando untuk menebar permusuhan.

Jika cinta mampu menggerakkan manusia untuk hidup damai dan bersaudara lalu mengapa kita mesti menebar kebencian dan caci maki yang membuat manusia saling menista. Sebagaimana cinta, kebencian juga memiliki kekuatan untuk menggerakkan. Namun gerakan yang didorong oleh kebencian akan berdampak destruktif dan meresahkan. Meski atas nama Tuhan dan agama kebencian tetap saja menimbulkan keresahan, permusuhan dan perpecahan.

Di tengah kobaran kebencian yang bertebaran di mana-mana, cinta menjadi sesuatu yang berarti. Di sinilah perjuangan Gus Dur menebar cinta pada sesama menemukan relevansinya. Dan inilah yang menggerakkan umat untuk datang pada acara haul Gus Dur malam itu. Gus Dur telah menggali telaga cinta yang.mengalirkan kedamaian dan persaudaraan. Dan kini masyarakat merasakan indahnya suasana yang bersumber dari mata air cinta.

Para jamaah yang hadir di acara haul Gus Dur seperti musafir yang sedang menimba air dari telaga cinta yang digali Gus Dur untuk membasuh kebencian yang terus dikobarkan oleh mereka yang sedang berburu kenikmatan dunia dan haus kekuasaan. Semoga kita mampu menjaga dan merawat telaga cinta yang telah digali Gus Dur agar tetap bisa mengalirkan kesejukan dan kedamaian pada sesama. Cinta adalah kekuatan dan benteng untuk menahan virus kebencian dan keserakahan. Lahu Al-Fatihah (habis).
Ahad 24 Februari 2019 16:50 WIB
Muhasabah Kebangsaan: Jejak-Jejak Perjuangan Kemanusiaan Gus Dur
Muhasabah Kebangsaan: Jejak-Jejak Perjuangan Kemanusiaan Gus Dur
Al - Zastrouw

(Catatan Haul ke 9 Gus Dur di Solo)

Siang itu suasana Pendopo Pesantren Al-Muayyad Solo dipadati oleh pengunjung yang ingin mendengar dan menggali pemikiran Gus Dur yang ada dalam Buku "Gus Dur, Islam Nusantara dan Kewarganegaraan Bineka" yang ditulis Ahmad Suaedy. Meski sudah ditambah tratag (tenda) di halaman masjid namun tetap saja tempat itu tak mampu menampung jamaah yang datang.

Acara bedah buku yang merupakan rangkaian Haul ke 9 Gus Dur di Solo ini tak hanya dihadiri para santri, kiai dan umat muslim, tapi juga umat dari agama dan kelompok lain. Di antara yang datang adalah pemimpin gereja beserta umat Kristen dan Katholik, komunitas Tiong Hoa, komunitas Fox Populi dan para aktivis gerakan sosial lainnya. Mereka antusias mendengarkan paparan penulis buku; Ahmad Suaedy dan para narasumber: Dian Nafi' dan Inayah Wahid.

Menyelesaikan konflik dengan cinta

Dalam buku itu Suaedy menjelaskan bahwa Gus Dur telah memberikan paradigma baru dalam menyelesaikan konflik dengan kaum separatis. Tidak seperti kaum konservatif yang menganggap kelompok separatis sebagai musuh negara yang harus ditumpas, Gus Dur justru melihat mereka sebagai bagian dari masyarakat sipil (civil society) yang sedang melakukan kritik atas negara. Untuk itu mereka harus diajak dialog secara terbuka dengan mengedepankan pendekatan kemanusiaan.

Pandangan ini tidak hanya berbentuk pemikiran normatif, tetapi Gus Dur rela merealisasikannya dalam laku hidup. Dia memanggil para pemimpin separatis Papua dan Aceh untuk diajak dialog. Melalui pendekatan ini, menurut Suaedy Gus Dur mampu membangun sikap empati dan saling percaya yang selama ini menjadi pemicu timbulnya konflik. Hal ini diperkuat oleh Dian Nafi' yang menyatakan pendekatan politik Melanesia yang digagas dan dijalankan Gus Dur. Pendekatan ini mampu mengangkat harkat dan martabat ras Melanesia karena disejajarkan dengan warga bangsa Indonesia lainnya. Mereka tidak lagi dianggap sebagai warga bangsa kelas dua.

Gus Dur melakukan ini tidak sekedar basa basi politik, pencintraan atau sekedar menarik simpati publik. Semua itu dilakukan Gus Dur secara tulus sebagai wujud komitmen terhadap nilai dan ajaran agama yang diyakini . Hal ini dibuktikan dengan keberanian Gus Dur mengambil resiko terburuk dan terberat dari keputusannya ini. Sebagaimana dinyatakan Inayah Wahid, bahwa cinta Gus Dur kepada rakyat Papua, Aceh dan bangsa Indonesia melebihi cintanya kepada keluarga dan kelompoknya. Semua ini dilakukan Gus Dur sebagai cerminan dari spirit keislaman yang diyakini.

Sumbernya kitab kuning

Dari diskusi ini terlihat secara jelas, politik kemanusian Gus Dur dalam menyelesaikan konflik Aceh dan Papua sebenarnya berakar dari khazanah pemikiran kitab-kitab klasik seperti ilmu fiqh, ushul fiqh, tasawwuf. Gus Dur telah merealisasikan dan mengaktualisasikan kaidah dan konsep klasik tersebut dalam kebijakan dan laku hidup. Bagi gus Dur berbagai konsep pemikiran Islam klasik pesantren bukan sekedar ajaran normatif yang abastrak dan bersifat kognitif. Sebaliknya berbagai konsep dan pemikiran kitab klasik itu adalah instrumen praktis dalam menjawab persoalan sosial, politik.


Hal menarik lainnya yang muncul dalam diskusi siang itu adalah, apa yang dilakukan Gus Dur merupakan bentuk nyata sumbangan pesantren dengan segenap nilai dan khazanah keilmuannya dalam dunia politik kontemporer. Dan sumbangan ini ternyata memiliki peran yang sangat penting dalam menjawab problem kebangsaan yang sedang terancam perpecahan akibat kuatnya tarikan formalisme dan fundamentalisme agama (Islam) yang menggerus rasa keadilan dan kemanusiaan.

Melalui kaidah dan pemikiran keislaman pesantren Gus Dur berhasil mengembangkan pendekatan kemanusiaan dan mengaktualisasikan spirit persaudaraan sebangsa yang melampaui sekat-sekat perbedaan. Melalui pendekatan kemanusiaan yang bersumber dari kitab klasik Gus Dur mampu menampilkan wajah Islam yang simpatik yang mampu membuat semua orang merasa damai dan tenteram berada di dalamnya, bukan wajah Islam yang garang dan keras yang membuat kelompok lain ketakutan dan harus selalu mengalah karena tertekan.

Sampai saat ini jejak perjuangan kemanusiaan Gus Dur ini masih terlihat jelas sebagaimana yang terjadi pada siang itu, ketika semua orang yang berbeda agama, ras keyakinan dan latar belakang sosial bisa kumpul bersama secara bahagia. Kami tak tahu sampai kapan jejak ini akan terus terasakan, karena jejak-jejak ini akan hilang jika kita tak pandai menjaga dan merawatnya.
IMG
IMG
IMG
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

Seminar Internasional Bersama Ulama Lebanon
Rapat Pleno PBNU 2018
Imam Besar Masjidil Haram Kunjungi PBNU
Kunjungan Grand Syekh Al-Azhar ke PBNU
Peresmian Perluasan Gedung II PBNU
Peresmian Bank Wakaf Mikro di Banten Oleh Presiden RI
IMG
IMG